Latest Article
Manusia dalam Perspektif Iman Kristen

Manusia dalam Perspektif Iman Kristen

Pengantar

Berita inti dari Alkitab adalah karya keselamatan Allah dalam sejarah dan kehidupan umat manusia. Untuk melaksanakan karya keselamatan-Nya, Allah menyatakan diri-Nya. Ia menyingkapkan diri-Nya sehingga dapat dikenali oleh manusia. Allah memakai bahasa, budaya, adat-istiadat dan pola pemikiran manusia pada zaman itu agar Ia dapat dikenali. Semua cara yang dipakai Allah adalah agar tujuan karya keselamatan-Nya dapat terwujud. Karena itu manusia dalam perspektif iman Kristen adalah tujuan utama misi keselamatan Allah. Tanpa memahami dan menempatkan manusia sebagai tujuan dari misi keselamatan Allah, maka sia-sialah manusia berbicara tentang Allah. Sebab keberadaan manusia bukan sekadar pelengkap ciptaan-Nya yang sempurna. Sebaliknya manusia dijadikan Allah sebagai mahkota ciptaan-Nya. Mazmur 8:5-6 menyatakan: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” Manusia diciptakan Allah dengan kemuliaan dan kehormatan karena itu setiap orang memiliki harkat dan martabat.

Namun manusia yang diciptakan dalam kemuliaan dan kehormatan tersebut ternyata memilih sebagai pihak yang menolak Allah. Manusia memberontak kepada Allah sehingga jatuh di dalam dosa. Dalam kondisi tersebut, manusia tidak dapat menyelamatkan diri dengan kekuatan dan kesalehannya. Keberdosaan menjadi bagian dari hakikat dan keberadaannya. Seluruh upaya terbaiknya tidak dapat mencapai kebenaran dan keselamatan. Manusia membutuhkan penyelamatan dari Allah. Karena itu karya keselamatan Allah adalah bagian yang hakiki. Melalui karya keselamatan Allah, manusia memperoleh anugerah pengampunan dan pembaruan hidup.

Makna “Baiklah Kita”

Di Kejadian 1:26, Allah berifirman: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Ucapan Allah tersebut ditempatkan dalam konteks penciptaan langit dan bumi. Setelah Allah menciptakan segala sesuatu, maka pada hari keenam Allah menciptakan manusia dengan diawali kalimat, “Baiklah Kita menjadikan manusia…” Penciptaan manusia diawali dengan kalimat yang berbeda dengan proses penciptaan yang lain. Apabila dalam penciptaan hari pertama sampai kelima, Kitab Kejadian memakai ungkapan: “Berfirmanlah Allah…” maka untuk penciptaan manusia pada hari keenam Allah memakai ungkapan: “Baiklah Kita….”

Ada beberapa penafsiran terhadap pernyataan Allah dalam penciptaan hari keenam yang menggunakan kata “Kita” yaitu:

  1. Pluralis-majestatis (plural keagungan) yaitu: suatu ungkapan yang dipakai oleh seseorang berkedudukan tinggi atau pemimpin eksekutif. Secara bersengaja seseorang yang berkedudukan tinggi tersebut memakai kata “plural” untuk dirinya. Misalnya: “Sebagai negara yang demokratis, kami akan memperhatikan dan mempertimbangkan dengan saksama masukan yang telah Saudara sampaikan.” Kasus penggunaan “pluralis majestatis” termasuk dalam kelompok Nosisme (bahasa Latin: nos yang berarti kita/kami), yaitu: praktik penggunaan pronomina (kata ganti) persona pertama jamak untuk menyebut pronomina persona pertama tunggal. Dalam bentuk nosisme menggunakan kata “kami/kita” untuk menyebut diri sendiri (aku/saya).
  2. Etsah Elohim (sidang Allah) yaitu: Takhta Allah dikelilingi bala-tentara sorgawi, sehingga makna kata “Kita” menunjuk pada pengucapan Allah di depan persidangan mahluk sorgawi. Makna “etsah Elohim” adalah Dewan Musyawarah. Allah. Kata “etsah” dipakai dalam Yeremia 23:18, yaitu: “Sebab siapakah yang hadir dalam dewan musyawarah Tuhan, sehingga ia memperhatikan dan mendengar firman-Nya? Siapakah yang memperhatikan firman-Nya dan mendengarnya? Kata “dewan musyawarah” di sini dipakai kata “etsah.” Beberapa ayat yang memakai gagasan makna “etsah” (dewan persidangan ilahi) dapat kita jumpai dalam 1 Raja-raja 22:19 yaitu: “Sebab itu dengarkanlah firman Tuhan: Aku telah melihat Tuhan sedang duduk di atas takhta-Nya dan segenap tentara sorga berdiri di dekat-Nya, sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya.” Bala-tentara” sorgawi disebut dengan istilah: Adonai Zebaot (kadang diterjemahkan: Tuhan semesta alam).
  3. Trinitaris (Allah yang memiliki satu hakikat dengan Tiga Pribadi), yaitu: Allah yang kekal dan esa memiliki kejamakan dalam diri-Nya yaitu YHWH (Adonai), Dabar (Firman) dan Ruakh (Roh). Dalam iman Kristen ketiga diri Allah (Adonai, Dabar dan Ruakh) disebut dengan nama: Bapa-Anak-Roh Kudus. Karena itu ucapan Allah yang menyebut diri-Nya dengan kata “Kita” menunjuk pada percakapan YHWH (Adonai) dengan Dabar (Firman) besama Ruakh (Roh).

Makna Kata “Gambar” dan “Rupa” Allah

Dalam konteks Kejadian 1:26, kita menjumpai dua kata yang dipakai, yaitu “gambar” (tselem) dan “rupa” (demut). Kata “tselem” dalam Perjanjian Lama dipakai sebanyak 17 kali. Makna kata “gambar” (tselem) adalah menunjuk pada replika suatu bentuk atau bayangan dari bentuk aslinya. Kata “tselem” berasal dari kata “tsal” yang artinya: bayangan. Makna manusia yang diciptakan menurut “gambar” (tselem) menunjuk pada karya Allah yang menciptakan manusia menurut “Gambar diri-Nya.” Keberadaan dan hakikat manusia diciptakan berdasarkan pola dasar dari Allah. Manusia hanyalah “replika” tetapi bukan “Gambar” Allah itu sendiri.

Kata “rupa” (demut) sebenarnya berasal dari akar kata “darah” atau damah (דם). Karena itu makna kata demut dipakai untuk menunjuk keturunan berdasarkan darah, sebab seseorang yang lahir dari suatu keturunan akan memiliki watak yang mirip. Anak mewarisi watak ayah atau ibunya karena itu ia memiliki kesamaan atau kemiripan dalam bentuk tubuh, wajah dan tingkah-lakunya. Demikian pula manusia yang diciptakan Allah menurut rupa-Nya seharusnya juga memiliki bentuk dan perilaku yang sesuai dengan Sang Pencipta-nya. Salah satu watak yang utama dari Allah adalah kasih, adil, dan kudus. Karena itu seharusnya setiap umat memiliki watak Allah yaitu cinta-kasih, keadilan dan kekudusan. Dengan sikap kasih, adil dan kudus seseorang mampu berdamai dengan diri sendiri sebab ia memberlakukan kasih, keadilan dan kekudusan kepada dirinya sendiri.

Keberadaan manusia yang diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah” tersebut ditempatkan dalam tugasnya, yaitu: “supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kej. 1:27). Makna kata “berkuasa” adalah terjemahan dari kata rada, yang artinya: memerintah atau berkuasa. Manusia mendapat mandat dari Allah untuk memerintah dan berkuasa atas seluruh mahluk hidup. Namun makna “berkuasa” dalam konteks ini bukanlah untuk mengeksploitasi, merusak dan memanfaatkan alam dan seluruh isinya untuk kepentingan pribadi. Manusia diberi mandat seperti seorang raja. Karena itu manusia harus memerintah dengan bijaksana dan adil. Kekuasaan raja dilukiskan seperti air hujan yang membasahi dan memberi kehidupan. Di Mazmur 72:6 menyatakan: “Kiranya ia seperti hujan yang turun ke atas padang rumput, seperti dirus hujan yang menggenangi bumi.” Kata “turun” dalam konteks hujan memakai kata yarad, dan kata yarad berasal dari akar kata rada. Dengan demikian jelas, bahwa makna mandat Allah kepada manusia untuk berkuasa (rada) dalam untuk menjaga, melindungi, dan merawat sehingga seperti air hujan yang turun untuk memberi daya kehidupan ke tanah yang tandus.

Di Kejadian 1:27 menyatakan: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Teks Kejadian 1:27 di satu pihak menyatakan sebutan “laki-laki dan perempuan” dengan kata “dia” (kata ganti orang ketiga tunggal), dan pada pihak lain juga menyebut laki-laki dan perempuan dengan kata “mereka” (kata ganti orang ketiga jamak). Umumnya kata ganti orang ketiga tunggal memakai kata “ia, dia, beliau.” Tetapi di Kejadian 1:27 menyatakan bahwa saat Allah menciptakan “laki-laki dan perempuan” justru dipakai kata ganti orang ketiga tunggal, yaitu kata “dia.” Sebab seharusnya sebutan “laki-laki dan perempuan” menunjuk bentuk plural/jamak. Makna dari Kejadian 1:27: bahwa pada hakikatnya manusia “laki-laki dan perempuan” yang diciptakan Allah menurut gambar-Nya adalah “tunggal.” Hakikat manusia adalah senantiasa dalam relasi (person-in-relation), sekaligus dalam relasi manusia adalah personal (relation-in-person). Dengan demikian Kejadian 1:27 menyatakan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan senantiasa setara, setingkat, dan sederajat. Namun pada pihak lain laki-laki dan perempuan merupakan dua individu yang berbeda dalam keunikannya. Manusia laki-laki berbeda dengan manusia perempuan. Karena itu di Kejadian 1:27 juga memakai kata ganti orang ketiga jamak, yaitu kata “mereka.” Perhatikanlah kata “laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Laki-laki dan perempuan yang berbeda secara kodrati adalah satu-kesatuan yang personal dalam dua individu, sehingga keduanya ditentukan Allah untuk saling berelasi dan saling melengkapi.

Makna “Menurut Gambar dan Rupa Allah”

Keberadaan manusia dinyatakan: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa….” Kata penting yang perlu diperhatikan dalam konteks ayat ini adalah kata “menurut gambar dan rupa Kita” (kidmutenu). Teks lengkap Ibrani Kejadian 1:26 adalah: “Na’aseh adam b’tzal’menu kidmutenu” (Baiklah Kita menjadi manusia menurut gambar dan rupa Kita). Kata b’tzal’menu dari akar kata “tselem” yang artinya: gambar/rupa, bayangan. Sedangkan dalam kata kidmutenu dari akar kata “demut” yang menunjuk pada makna “damah” (darah), sehingga arti “demut” secara harafiah adalah: warisan sifat-sifat yang diturunkan melalui hubungan darah. Dengan demikian kata kunci untuk memahami makna teks Kejadian 1:26 adalah kata: “…. menurut” (kid) untuk menunjuk bahwa dalam karya penciptaan manusia, Allah mamakai “Gambar Diri-Nya.” Manusia bukanlah Gambar Diri Allah, sebab Gambar Diri Allah adalah Allah itu sendiri. Allah memiliki dan menggunakan “design” (rancangan, pola) dari diri-Nya saat Ia menciptakan manusia.

Di Kolose 1:15 Rasul Paulus berkata: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Kata “gambar Allah” adalah terjemahan dari kata Yunani: eikon tou Theou. Makna kata eikon (Yunani) sejajar dengan kata tselem (Ibrani), yang bermakna “Gambar.” Dengan jelas makna “Gambar Allah” yang dimaksud dalam Kolose 1:15 adalah Kristus. Jadi Kristus adalah Gambar Allah yang sesungguhnya. Deskripsi Kristus selaku Gambar Allah dinyatakan dengan keberadaan diri-Nya yang “tidak kelihatan” untuk menunjuk bahwa Ia dalam keberadaan-Nya sebagai Anak Allah adalah Ilahi dan Roh yang tidak kelihatan, yang sulung (terkemuka dan tiada bandingnya), lebih utama (superior dan tidak tertandingi).

Kristus, Sang Gambar Allah

Kristus selaku “Gambar Allah” dinyatakan dalam Kolose 1:16 adalah: “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa, segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Dari teks Kolose 1:16 eksistensi Kristus selaku Anak Allah yang adalah Gambar Allah memiliki peran sebagai pribadi ilahi yang menciptakan. Dalam pemahaman Israel dan agama-agama monoteistik menegaskan bahwa Allah menciptakan seluruh semesta dan isinya dengan Firman-Nya. Di Ibrani 11:3 menyatakan: “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yagn tidak dapat kita lihat.” Firman Allah (Dabar Adonai) adalah keberadaan diri Sang Firman sebelum Ia berinkarnasi menjadi manusia. Sang Firman bersama dengan Adonai (Bapa) dan Ruakh (Roh Kudus) menciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa, segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Dengan demikian teks Surat Kolose 1:15-16 menjadi sesuai dan sinambung dengan Kejadian 1:26 ketika Allah berfirman: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita….”

Dalam konteks ucapan Allah yang berkata: “Baiklah Kita…” menunjuk pada dialog antara YHWH (Adonai) dengan Dabar (Firman) bersama Ruakh (Roh Allah). Karena itu Allah menciptakan manusia “menurut Gambar Sang Firman” yaitu Kristus. Frasa dari Kolose 1:16 menjadi sinambung dengan Kejadian 1:26, yaitu: “Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Kristus Sang Firman Allah (Dabar Adonai) adalah yang menciptakan segala sesuatu bersama dengan YHWH (Bapa) dan Ruakh (Roh Kudus). Karena itu segala ciptaan diciptakan untuk Kristus. Dengan demikian Kristus adalah Sumber dan Tujuan dari seluruh penciptaan.

Pemahaman teologis tentang karya penciptaan pada hakikatnya dilakukan oleh Allah, yaitu Bapa-Anak-Roh Kudus. Gereja tidak memahami karya penciptaan hanya dilakukan oleh Allah dalam diri Bapa saja, karya penyelamatan hanya dalam diri Sang Firman yaitu Kristus saja, dan karya pengudusan hanya dalam diri Roh Kudus saja. Ketiga-Nya yang esa itu tidak terpisahkan dalam berkarya. Ketiga Pribadi dalam Satu Allah yang bersama-sama melakukan karya: menciptakan, menyelamatkan dan menguduskan. Jadi seluruh karya Allah adalah karya Bapa-Anak-Roh Kudus. Ketiga pribadi Allah tersebut tidak terpisahkan, sekaligus tidak melebur. Karena itu seluruh karya Allah Trinitas yang tak terpisahkan disebut dengan “opera trinitatis ad extra sunt indivisa.” Arti kata opera Trinitatis ad extra sunt indivisa adalah: “dalam karya Allah yang operatif, Bapa-Anak-Roh Kudus senantiasa saling mengisi dan mendiami, sehingga tidak terpisahkan.” Di Yohanes 5:17 Yesus berkata: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Allah dan Kristus bekerja bersama secara kontinyu, sehingga seluruh ciptaan terus berlangsung dalam ketertibannya.

Dasar argumentasi pemikiran di atas adalah: Pertama, dalam memahami makna Alkitab perlu ditempatkan dalam kesinambungan ide teologis. Makna teks Kejadian 1:26-27 perlu dilihat keterkaitannya dengan Kolose 1:15-16. Penafsiran teks dalam kesaksian Alkitab memiliki “benang-merah” teologis yang saling mengisi dan melengkapi. Tentunya prinsip tersebut tetap ditempatkan dalam konteks latar-belakang, sejarah pemikiran, dan ide dalam pemikiran pada waktu firman dituliskan. Karena itu harus diakui tidak senantiasa setiap teks (ayat-ayat Alkitab) harus dicari padanan (kesesuaiannya) antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi untuk berita atau bagian yang menentukan, misalnya tentang karya keselamatan dan hakikat keberadaan diri Allah perlu memperhatikan kesinambungan gagasan dan makna teologis. Bagian-bagian tertentu dari Perjanjian Lama mengandung nubuat yang kelak digenapi oleh Kristus. Makna narasi Kejadian 1:26-27 tentang ucapan Allah yaitu “Baiklah Kita…” tidak kita ditafsirkan menurut gagasan agama Yudaisme yang menolak Kristus selaku Mesias dan Juru-selamat dunia. Agama Yudaisme cenderung menafsirkan makna Kejadian 1:26 tentang ucapan Allah yaitu “Baiklah Kita” dalam pengertian “pluralis majestatis” (pluralis agung) atau “Etsah Elohim” (sidang ilahi Allah).

Kedua, apabila makna “Baiklah Kita” dipahami sebagai “pluralis majestatis” saja timbul pertanyaan: “Mengapa ucapan tersebut hanya dikenakan dalam penciptaan manusia saja?” Dalam karya penciptaan hari pertama sampai hari kelima kitab Kejadian pasal 1 hanya menyebut “Berfirmanlah Allah” (wayyomer Elohim). Seharusnya secara konsisten Kitab Kejadian pasal 1 memakai kata “Berfirmanlah Allah” saat Ia menciptakan manusia pada hari keenam. Dengan demikian apabila disebutkan saat Allah menciptakan manusia dengan perkataan “Baiklah Kita” berarti dalam penciptaan manusia, Allah berbicara secara khusus dengan Pribadi-Nya yang “Lain” yaitu Sang Firman bersama dengan Roh Kudus. Sebab Allah akan menciptakan manusia menurut “Gambar-Nya” yaitu Sang Firman Allah (Kristus).

Ketiga, hal yang sama apabila disebutkan makna kata “Baiklah Kita” ditempatkan dalam pengertian Etsah Elohim (persidangan ilahi Allah). Apabila konsisten pastilah sejak awal penciptaan (Kej. 1:3) akan senantiasa memakai makna yang tersirat atau kata yang tersurat dari etsah Elohim. Dalam kekekalan-Nya, Allah (Bapa-Anak-Roh Kudus) berada dan bersama dengan bala-tentara sorgawi (Adonai Zebaot). Gagasan yang sama juga dikemukakan oleh Yesus tentang bala-tentara sorgawi sebagai bagian dari Etsah Elohim. Di Matius 25:31 Yesus berkata: “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.” Perhatikan kalimat “semua malaikat bersama-sama dengan Dia” menunjuk pada balatentara sorgawi (Adonai Zebaot). Tetapi apabila makna Kejadian 1:26 tentang ucapan Allah “Baiklah Kita” hanya dihubungkan dengan “balatentara sorgawi” maknanya akan menjadi kabur. Sebab tujuan dari teks Kejadian 1:26-27 menekankan aspek penciptaan manusia menurut “Gambar Allah.” Para malaikat Allah tidak pernah disebutkan diciptakan Allah menurut “Gambar dan Rupa-Nya.” Karena itu tafsiran makna “Baiklah Kita” dalam pengertian etsah Elohim tidak terlalu kuat alasannya.

Jadi jelas bahwa makna Kejadian 1:26 lebih menunjuk pada keberadaan Allah secara Trinitaris, yaitu Bapa-Anak-Roh Kudus. Allah yang Trinitaris itulah yang secara khusus menciptakan manusia menurut “Gambar/Rupa-Nya” sebab keberadaan manusia diciptakan menurut “Gambar Allah” yaitu Kristus. Karena itu dasar dan tujuan hidup seluruh umat manusia dari zaman ke zaman adalah menyerupai Kristus (imitatio Christi). Manusia pada dasarnya diciptakan Allah menurut sifat-sifat, dan karakter Kristus. Karena itu tujuan hidup manusia adalah tertuju dan serupa dengan Kristus. Diri Kristus itulah Yesus dari Nazaret yang telah wafat dan bangkit, serta naik ke sorga.

Dosa: Kerusakan Gambar Allah

Di Kejadian pasal 3 mengisahkan secara simbolik kejatuhan manusia sebagai Gambar Allah. Manusia memilih untuk mendengarkan nasihat si Ular untuk makan “buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.” Keberdosaan manusia dalam narasi Kejadian 3 memiliki tiga aspek, yaitu:

Pertama, inti keberdosaan manusia bukan hanya karena ia melanggar makan buah yang pohon yang dilarang oleh Allah, tetapi utamanya adalah “manusia ingin menjadi seperti Allah.” Dosa manusia bukan sekadar melanggar perintah Allah tetapi utamanya manusia berambisi menjadi seperti Allah. Di Kejadian 3:4-5 mengisahkan: “Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Manusia tidak puas dengan keberadaan dirinya yang telah diciptakan menurut Gambar Allah. Karena itu manusia dengan ambisi berkuasanya berusaha mencapai kedudukan yang lebih tinggi sejajar dengan Allah. Ambisi untuk menyamai kedudukan Allah Yang Mahatinggi! Kecenderungan “menyamai Allah” merupakan kerusakan hakikat manusia yang telah diciptakan menurut gambar Allah. Sebab dengan kecenderungan dan ambisi untuk menyamai Allah, sesungguhnya manusia ingin menyingkirkan Allah dalam kehidupannya. Manusia ingin menggantikan posisi Allah sebagai pencipta dan penguasa atas seluruh semesta. Penaklukan, imperialisme, kolonialisme, dan genosida dilatarbelakangi ambisi manusia untuk menunjukkan kuasa atau superioritasnya.

Kedua, dalam merespons akan kesalahan dan keberdosaannya manusia memilih untuk meghindar dan melarikan diri dari hadapan Allah. Di Kejadian 3:8 menyatakan: “…. Bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.” Manusia tidak memilih datang kepada Allah untuk mengakui dosa dan kesalahannya, tetapi menyembunyikan dirinya. Sikap manusia yang menyembunyikan diri hendak menyatakan bahwa ia mengabaikan Allah yang Mahatahu (omniscience) dan Mahahadir (omnipresent). Mazmur 90:8 menyatakan: “Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu.” Jadi sikap manusia yang menyembunyikan diri hendak menyatakan bahwa manusia menganggap Allah seperti dirinya yang dapat menutupi kesalahan yang terjadi dalam batinnya.

Ketiga, manusia memilih untuk menyalahkan pasangannya daripada mengakui kesalahannya secara jujur. Allah bertanya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon yang Kularang engkau makan itu?” (Kej. 3:11). Ternyata respons manusia adalah ia menyalahkan pasangannya. Adam menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan” (Kej. 3:12). Dosa manusia tidak dapat dipulihkan karena ia merespons kesalahannya dengan mencari “kambing-hitam” kepada orang lain. Sebab dalam kesalahan dan keberdosaannya ternyata manusia berargumen bahwa dirinya benar, tanpa salah. Manusia cenderung melakukan pembenaran diri yang begitu kuat, sehingga senantiasa mencari rasionalisasi agar ia tampak benar atau tidak bersalah. Dengan tindakan yang rasionalisasi, manusia mengembangkan suatu mekanisme pertahanan diri (defence of mechanism) dengan jawaban yang dianggap masuk akal agar ia dapat menghindari penjelasan yang sebenarnya.

Protoevangelicum

Dosa mendatangkan murka Allah. Di Kejadian 3:16-17 Allah menyatakan hukuman-Nya kepada manusia dalam bentuk kesakitan dan kesulitan saat perempuan melahirkan dan tanah menjadi terkutuk sehingga manusia harus bersusah-payah mencari rezeki seumur hidupnya, setelah itu manusia akan kembali menjadi debu. Tetapi di samping murka dan hukuman Allah tersebut di Kejadian 3:15, Allah menjanjikan keselamatan. Di Kejadian 3:15 menyatakan: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Firman Allah di Kejadian 3:15 ditujukan kepada si Ular (simbol dari Iblis).

Bandingkan dengan kesaksian Wahyu 12:9, yaitu: “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.” Penafsiran inilah yang saya pakai untuk memaknai simbol dari Kejadian 3:1 tentang si Ular. Jika demikian, firman Allah di Kejadian 3:15 dalam konteks percakapan Allah dengan si Ular hendak menyampaikan suatu nubuat bahwa keturunan perempuan (Hawa) akan meremukkan kepala si Ular. Narasi Kejadian 3:15 menyatakan: “Aku (Allah) akan mengadakan permusuhan antara engkau (ular) dan perempuan ini, antara keturunanmu (keturunan si ular) dan keturunannya (keturunan perempuan); keturunannya (keturunan perempuan) akan meremukkan kepalamu (kepala si ular), dan engkau (ular) akan meremukkan tumitnya (keturunan perempuan).”

Berita Kejadian 3:15 merupakan kabar baik yang pertama tentang rencana keselamatan Allah kepada manusia. Kabar baik atau Injil (evangelicum) yang paling awal (protos) sebagai berita anugerah Allah di tengah-tengah keberdosaan manusia. Keselamatan Allah kelak dinyatakan melalui keturunan perempuan, yaitu Kristus. Ia yang akan meremukkan kepala si Ular melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Di Surat Roma Rasul Paulus berkata: “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus” (Rm. 5:15). Melalui manusia pertama yaitu Adam seluruh umat manusia jatuh di dalam dosa, tetapi melalui Yesus Kristus yang adalah Adam kedua semua manusia diselamatkan.

Pemulihan manusia yang diciptakan “menurut gambar Allah” terjadi di dalam karya penebusan Kristus. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya dari kuasa maut, Kristus membarui seluruh ciptaan dan manusia. Sebagaimana dosa merusak kodrat dan hakikat manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, maka hanya Gambar Allah yaitu Kristus yang dapat memulihkan manusia untuk kembali menjadi ciptaan menurut gambar-Nya.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono