HOME arrow ABOUT ME arrow Biografi Singkat
Biografi Singkat

SEKILAS TENTANG

PDT. YOHANES BAMBANG MULYONO

 Yohanes Bambang Pdt. Yohanes Bambang Mulyono terlahir dengan nama: Tan Hok Gie, enam bersaudara. Lahir di kota sejuk Malang pada tanggal 19 Oktober 1960.   Dorongan untuk studi teologia dan menjadi pelayan Tuhan karena dipengaruhi oleh buku-buku rohani yang diberikan oleh Omanya. Khususnya saat dia membaca dan mengikuti drama seri radio kisah Sadhu Sundar Singh, hamba Tuhan dari India. Sehingga sejak kelas III SD,  dia selalu haus membaca berbagai bacaan rohani dan kerinduan melayani Tuhan menjadi hambaNya. Saat studi di SMA tahun 1978 - 1981 dia sempat mengikuti  Kuliah Malami di Seminari Alkitab Asia Tenggara dengan dispensasi oleh alm. Pdt. Matius Sie. Setelah itu  Yohanes Bambang Mulyono melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Theologia DUTA WACANA (kini Fakultas Teologi DUTA WACANA) Jogyjakarta dari tahun  1981 - 1986.  Pada tahun 1984, sempat mengikuti lomba penulisan ilmiah tentang Pendidikan Anak Cacat yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Orthopaedagogik Indonesia. Untuk lomba karya ilmiah terebut dia  berhasil menjadi Juara II.  Naskah ilmiahnya berjudul: "Pendidikan Seumur Hidup Bagi Penyandang Cacat Di Indonesia".  Masa calon vikariat dilakukan di dua tempat, yaitu GKI Mojokerto dan GKI Blimbing Malang.  Sempat menjadi dosen di Universitas Merdeka Malang selama 5 tahun. Kemudian Yohanes Bambang Mulyono kemudian ditahbiskan menjadi pendeta pada tanggal 7 Juni 1993 di GKI Blimbing Malang. Dia menikah dengan Sri Haryati yang berasal dari GKI Kediri pada tanggal 10 Januari 1989.   Kini telah dikaruniai oleh Tuhan  3 orang anak, yaitu Bram Kristofer, Dicky Kristianto  dan Inge Kristianti.   Karya tulis berupa buku yang telah diterbitkan adalah:

  1. Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja, diterbitkan oleh penerbit Kanisius, Yogyakarta tahun 1983 (cetak ulang ke-14).
  2. Kenakalan Remaja, diterbitkan oleh penerbit Yayasan ANDI, Yogyakarta, tahun 1986 (cetak ulang ke-4).
  3. Teologia Ketabahan, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, Jakarta, tahun 1993
  4. Firman Hidup Nomor 50,diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, Jakarta, tahun 1993 (cetak ulang ke-6)
  5. Firman Hidup Nomo 55, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, Jakarta, tahun 1996  (cetak ulang ke-5)
  6. Buku Katekesasi GKI, “Tuhan, Ajarlah Aku” diterbitkan oleh Sinode GKI Wilayah Jawa Timur, tahun 1992.
Tulisan teologis yang diterbitkan oleh Jurnal Penuntun GKI Wilayah Jawa Barat berjudul: "Ajaran Trinitaris dan Unitaris" (Jurnal Penuntun Vol. 6, No. 21, 2005).

Kini dia melayani di GKI Perniagaan, Jakarta. Yang mana peneguhannya sebagai Pendeta dengan basis pelayanan di GKI Perniagaan  dilaksanakan pada tanggal  16 Agustus 2004.

Tugas pelayanan dalam lingkup yang lebih luas yang pernah diemban selama ini adalah:

  1. Ketua Komisi Rancangan Khotbah dan Bahan PA – GKI
  2. Sekretaris Komisi Rancangan Khotbah dan Bahan PA - GKI
  3. Anggota BPMS – GKI (2001-2005)
  4. Anggota Komisi Liturgi GKI
  5. Anggota Komisi Konfesi GKI
  6. Ketua Klasis Madiun,  kemudian juga menjadi Ketua  Klasis Banyuwangi Sinode Wilayah GKI Wilayah Jawa Timur
  7. Ketua Komisi Teologia Sinode Wilayah GKI Wilayah Jawa Timur.

    Pengalaman Internasional:

    1. People Forum yang dikoordinir oleh Christian Conference of Asia di Chiang May Thailand tanggal 24 - 31 Maret 2005.
    2. Mengikuti The 12 th Christian Conference of Asia General Assembly di Lotus Hotel (Oabg Suan Kaew) di Chiang May, Thailand pada tanggal 31 Maret - 6 Apri 2005l.
    3. Mengikuti Studi Advanced Leadership yang dilaksanakan oleh Haggai Institute tanggal 24 Juli - 17 Agustus 2007 di Hawaii, Amerika Serikat. 

Pemikiran, refleksi teologis dan pendirian teologisnya juga dapat diikuti di website dengan alamat: www.yohanesbm.com

 

*********

PROFIL:

PDT. YOHANES BAMBANG MULYONO

 

(Redaksi Majalah Bentara berasal dari GKI Perniagaan Jakarta, yang mana kali ini mewawancarai Pdt. Yohanes Bambang Mulyono sebagai berikut:)

 

Redaksi Bentara (RB):

Kapan dan dasar panggilan apakah yang mendorong bapak menjadi seorang Pendeta?

YBM: Saya ingin menjadi seorang hamba Tuhan ketika saya masih kelas III SD yang mana saya  sangat gemar mendengar program-program iman Kristen khususnya kesaksian dari Sadhu Sundar Singh dari India yang dipancarkan oleh radio “Suara Imanuel” di Malang.. Saya sangat terkesan dengan kesederhanaan sikap, semangat, keberanian, daya tahan menghadapi penderitaan dan kasih Sundar Singh saat memberitakan Kristus. Saat itu saya minta dibelikan buku-buku rohani dan iman Kristen. Tetapi panggilan untuk menjadi hamba Tuhan tersebut menguat ketika saya masuk SMP Katolik. Saya aktif sebagai seorang Legioner Maria yang sering mengkoordinir teman-teman untuk mengikuti doa Rosario dan Novena, juga melatih teman-teman untuk menjadi seorang “putra altar” (misdinar). Karena begitu menggebu-gebunya hati saya untuk melayani Tuhan, saya lakukan tugas sebagai “putra altar” hampir setiap hari. Tetapi menjelang kelas III SMP muncullah berbagai pertanyaan kritis, karena saya waktu itu mendapat hadiah dari nenek saya sebuah Alkitab yang sampai saat ini saya gunakan.Sayang sekali, pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut tidak mendapat jawaban yang memadai dari para pembimbing rohani saya. Karena itu saya mengikuti berbagai kursus Alkitab tertulis untuk mengetahui kebenaran Alkitab. Dari berbagai lembaga kursus Alkitab tertulis itu, saya mendapat 32 sertifikat. Kemudian menjelang kelas I SMA, saya mendapat dispensasi oleh alm. Pdt. Matius Sie untuk mengikuti kuliah malam di MAAT (sekarang “SAAT”) Malang yang dapat saya selesaikan sampai kelas III SMA. Di tengah-tengah studi SMA itu juga saya mendapat kesempatan sekitar 3 tahun untuk menjadi guru Sekolah Minggu di beberapa kelas GKI Malang. Saya sangat senang mengajar dan memberitakan firman kepada anak-anak.

RB: Apakah orang-tua dan keluarga mendukung keinginan bapak untuk menjadi seorang hamba Tuhan waktu itu?

YBM: Keluarga saya dari keluarga yang sangat sederhana yang mana kami 6 bersaudara harus hidup dengan prihatin. Sehingga dapat saya mengerti ketika orang-tua tidak mendukung saya untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Tetapi untunglah, pendeta saya (Pdt. B.A. Abednego) datang ke rumah untuk memberi pengertian dan pemahaman kepada orang-tua sehingga akhirnya beliau mengizinkan saya masuk sekolah teologia di Sekolah Tinggi Theologia (sekarang fakultas Theologia) DUTA WACANA, Yogyakarta. Saya masuk sekolah theologia tahun 1981 dan lulus tahun 1986.

RB: Setelah lulus, apakah bapak langsung melayani di jemaat?

YBM: Setelah saya lulus saya dipanggil melayani di GKI Mojokerto Bajem Mojosari. Sebenarnya jemaat Bajem Mojosari merupakan jemaat kecil namun termasuk tertua di Jawa Timur. Setelah itu saya dipanggil untuk melayani di Blimbing, Malang. Saya diberi tugas untuk mempersiapkan dan mendewasakan jemaat GKI Tumapel Bajem Blimbing. Setelah didewasakan/dilembagakan menjadi GKI Blimbing Malang tahun 1992, saya kemudian ditahbiskan sebagai pendeta pada tanggal 7 Juni 1993. Peristiwa penahbisan sebagai pendeta waktu itu begitu mengesankan dan mengharukan hati saya.

RB: Pelayanan-pelayanan apakah yang bapak rasa sangat menempa sebagai seorang pelayan Tuhan?

YBM: Di jemaat GKI Blimbing Malang, saya waktu itu tidak mempunyai rekan pendeta. Jadi saya “single fighter”. Karena itu saya belajar banyak bagaimana mengkoordinir dan memotivir orang-banyak termasuk para Penatua untuk terlibat dalam pelayanan. Justru di jemaat yang demikian, saya boleh belajar di semua bidang pelayanan. Saya merasa Tuhan menolong dan memberkati sehingga jemaat tersebut dapat berkembang dengan baik. Selain itu saya mendapat kesempatan untuk menjadi pendeta Konsulen di 3 jemaat, yaitu di GKI Jombang, GKI Madiun dan GKI Denpasar. Di aras/tingkat Klasis dan Sinode GKI wilayah Jawa Timur serta pelayanan di sinode GKI, saya banyak belajar tentang prinsip-prinsip kepemimpinan dan karakter anggota jemaat, paradigma teologis dan ekklesiologi GKI. Tentunya dalam proses itu saya sering “jatuh-bangun”. Saya merasa sangat dikuatkan oleh firman Tuhan, khususnya di Fil. 1:29, yaitu: “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”. Pengalaman yang begitu menempa saya adalah ketika jemaat saya GKI Blimbing Malang digugat oleh massa di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Surabaya tahun 2001.

RB: Apakah bapak bisa ceritakan secara singkat bagaimana pengalaman bapak ketika jemaat GKI Blimbing Malang digugat di PTUN?

YBM: Waktu itu gedung gereja jemaat saya mulai bermasalah karena sudah tua, sehingga Majelis Jemaat memutuskan untuk merenovasi. Akhirnya izin renovasi berupa izin prinsip dan IMB diberikan oleh Walikota Malang. Namun ketika kami mau membangun, ternyata tetangga yang baru saja kontrak rumah sebelah mempersoalkan dan berkeberatan dengan rencana renovasi tersebut. Tampaknya beliau mampu mempengaruhi masyarakat sekeliling dengan isue “kristenisasi”. Karena dari sudut kuantitas, jemaat saya berkembang begitu pesat dan jumlah kendaraan yang diparkir semakin banyak. Karena gagal untuk menghentikan renovasi tersebut, maka mereka membawa jemaat saya kepada PTUN Surabaya. Di saat kritis itulah saya banyak belajar tentang peradilan dan hukum serta bagaimana mewakili gereja dan bersaksi di depan pengadilan. Di tingkat I, jemaat saya dikalahkan. Tetapi ketika kami naik banding di pengadilan Tinggi; GKI Blimbing dapat dimenangkan. Atas dasar penetapan pengadilan Tinggi itu, kami merencanakan untuk melaksanakan kebaktian kembali di tempat itu. Tetapi apa yang terjadi? Pada waktu anggota jemaat mulai berdatangan untuk melaksanakan kebaktian Minggu, kami dikepung oleh massa dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam gedung gereja. Saat itu saya bertekad untuk tidak memenuhi tuntutan mereka. Akhirnya kami mengadakan kebaktian di jalan raya yang dijaga ketat oleh petugas keamanan dan dihadiri oleh massa. Sehingga secara tidak langsung mereka (non-Kristen) juga ikut kebaktian Minggu GKI Blimbing Malang.

RB: Kami pernah mendengar bahwa bapak pernah dianiaya oleh beberapa massa?

YBM: Benar, sebelum itu saya pernah dipaksa oleh massa untuk menanda-tangani surat pernyataan yang isinya bersedia menghentikan kebaktian di tempat itu selama-lamanya. Saya tidak bersedia menanda-tangani surat pernyataan tersebut. Sehingga akhirnya saya dianiaya oleh mereka. Tetapi sangat ajaib, satu demi satu dari mereka yang pernah menganiaya saya itu kemudian datang minta maaf; dan salah seorang pemimpin mereka minta didoakan ketika isterinya mau melahirkan. Mereka bahkan mendoakan saya dan jemaat GKI Blimbing agar dapat menang di tingkat Mahkamah Agung. Saya yakin peristiwa tersebut merupakan karya Roh Kudus yang menyebabkan hati mereka diubahkan dari musuh menjadi sahabat, serta mmbuat mereka menjadi insyaf untuk melihat secara positif sikap/ajaran iman Kristen.

RB: Bagaimana pandangan bapak dengan proyeksi pelayanan di GKI Perniagaan?

YBM: Secara yuridis-formal, jemaat kita telah dimulai tahun 1889 dengan penetapan dari pemerintah Hindia Belanda berupa “Evangelische Chineesche Gemeente tot Uitbreiding van Gods Koninkrijk”, maka usia jemaat kita telah mencapai 117 tahun. Biasanya jemaat tua menghadapi kendala berupa “beban sejarah” yang sangat berat. Karena itu daya progresif dan pembaharuan yang seharusnya ada, menjadi agak tersendat-sendat. Kita perlu memperhatikan apa yang dikatakan oleh Martin Luther, yang berkata: “Ecclesia reformata, ecclesia semper reformanda”. Artinya: gereja reformatoris adalah gereja yang terus-menerus bersedia untuk membaharui dirinya. Pada sisi lain, karena jemaat kita merupakan jemaat GKI maka kita perlu sinergis dengan derap penyatuan dan identitas GKI. Kita sebagai jemaat dengan identitas GKI perlu dengan rasa syukur melihat bahwa ketiga sinode dari wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dapat menyatukan diri sebagai jemaat GKI. Bagi saya, penyatuan tersebut merupakan karya Roh Kudus dan perwujudan doa Tuhan Yesus “supaya mereka menjadi satu” (Yoh. 17:21). Roh ekumenis ini perlu kita sebarkan agar jemaat Tuhan yang kini masih terpecah-pecah itu dapat menjadi jemaat Tuhan Yesus yang esa. Dalam hal ini jemaat GKI Perniagaan dapat menjadi motivator/ penggeraknya, karena jemaat kita juga merupakan salah satu pelopor dan penggerak tumbuhnya jemaat GKI di wilayah Jawa Barat. Jadi mari kita terlebih dahulu melayani Tuhan secara internal-sinergis, agar kita dapat menjadi kekuatan sinergis yang menyatukan bagi gereja-gereja di sekeliling kita. Kekuatan internal-sinergis tersebut tentunya bersumber pada kasih Tuhan Yesus. Dengan kekuatan kasih Kristus, kita harus saling bergandengan tangan, saling melengkapi, saling mengingatkan dan menasihati sehingga kita selaku jemaat GKI Perniagaan dapat bertumbuh bersama.


Buku-buku yang telah diterbitkan

Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono:

BooksDetails


Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja, diterbitkan oleh penerbit Kanisius, Yogyakarta tahun 1983 (cetak ulang ke-14).

Kenakalan Remaja, diterbitkan oleh penerbit Yayasan ANDI, Yogyakarta, tahun 1986 (cetak ulang ke-4).

Teologia Ketabahan, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, Jakarta, tahun 1993 (cetak ulang ke-2)

Firman Hidup Nomor 55, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, Jakarta, tahun 1996 (cetak ulang ke-2)

Firman Hidup Nomor 50,diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, Jakarta, tahun 1993 (cetak ulang ke-2)
 Buku Katekesasi GKI, “Tuhan, Ajarlah Aku” diterbitkan oleh Sinode GKI Wilayah Jawa Timur, tahun 1992.

 


This Category is currently empty

Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday63
mod_vvisit_counterYesterday325
mod_vvisit_counterThis week1159
mod_vvisit_counterThis month3227
mod_vvisit_counterAll342980

Login Form

Weblinks

Contact YBM   (766 hits)
Cyber GKI   (445 hits)
Yohanes B.M.   (441 hits)
Firman Hidup 55   (339 hits)
The Meaning of Worship   (336 hits)
TextWeek   (322 hits)
Firman Hidup 50   (259 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::