SEKILAS TENTANGPDT. YOHANES BAMBANG MULYONO
Kini dia melayani di GKI Perniagaan, Jakarta. Yang mana peneguhannya sebagai Pendeta dengan basis pelayanan di GKI Perniagaan dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2004. Tugas pelayanan dalam lingkup yang lebih luas yang pernah diemban selama ini adalah:
Pemikiran, refleksi teologis dan pendirian teologisnya juga dapat diikuti di website dengan alamat: www.yohanesbm.com
*********
PROFIL:PDT. YOHANES BAMBANG MULYONO
(Redaksi Majalah Bentara berasal dari GKI Perniagaan Jakarta, yang mana kali ini mewawancarai Pdt. Yohanes Bambang Mulyono sebagai berikut:)
Redaksi Bentara (RB): Kapan dan dasar panggilan apakah yang mendorong bapak menjadi seorang Pendeta? YBM: Saya ingin menjadi seorang hamba Tuhan ketika saya masih kelas III SD yang mana saya
RB: Apakah orang-tua dan keluarga mendukung keinginan bapak untuk menjadi seorang hamba Tuhan waktu itu? YBM: Keluarga saya dari keluarga yang sangat sederhana yang mana kami 6 bersaudara harus hidup dengan prihatin. Sehingga dapat saya mengerti ketika orang-tua tidak mendukung saya untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Tetapi untunglah, pendeta saya (Pdt. B.A. Abednego) datang ke rumah untuk memberi pengertian dan pemahaman kepada orang-tua sehingga akhirnya beliau mengizinkan saya masuk sekolah teologia di Sekolah Tinggi Theologia (sekarang fakultas Theologia) DUTA WACANA, Yogyakarta. Saya masuk sekolah theologia tahun 1981 dan lulus tahun 1986.
RB: Setelah lulus, apakah bapak langsung melayani di jemaat? YBM: Setelah saya lulus saya dipanggil melayani di GKI Mojokerto Bajem Mojosari. Sebenarnya jemaat Bajem Mojosari merupakan jemaat kecil namun termasuk tertua di Jawa Timur. Setelah itu saya dipanggil untuk melayani di Blimbing, Malang. Saya diberi tugas untuk mempersiapkan dan mendewasakan jemaat GKI Tumapel Bajem Blimbing. Setelah didewasakan/dilembagakan menjadi GKI Blimbing Malang tahun 1992, saya kemudian ditahbiskan sebagai pendeta pada tanggal 7 Juni 1993. Peristiwa penahbisan sebagai pendeta waktu itu begitu mengesankan dan mengharukan hati saya.
RB: Pelayanan-pelayanan apakah yang bapak rasa sangat menempa sebagai seorang pelayan Tuhan? YBM: Di jemaat GKI Blimbing Malang, saya waktu itu tidak mempunyai rekan pendeta. Jadi saya “single fighter”. Karena itu saya belajar banyak bagaimana mengkoordinir dan memotivir orang-banyak termasuk para Penatua untuk terlibat dalam pelayanan. Justru di jemaat yang demikian, saya boleh belajar di semua bidang pelayanan. Saya merasa Tuhan menolong dan memberkati sehingga jemaat tersebut dapat berkembang dengan baik. Selain itu saya mendapat kesempatan untuk menjadi pendeta Konsulen di 3 jemaat, yaitu di GKI Jombang, GKI Madiun dan GKI Denpasar. Di aras/tingkat Klasis dan Sinode GKI wilayah Jawa Timur serta pelayanan di sinode GKI, saya banyak belajar tentang prinsip-prinsip kepemimpinan dan karakter anggota jemaat, paradigma teologis dan ekklesiologi GKI. Tentunya dalam proses itu saya sering “jatuh-bangun”. Saya merasa sangat dikuatkan oleh firman Tuhan, khususnya di Fil. 1:29, yaitu: “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”. Pengalaman yang begitu menempa saya adalah ketika jemaat saya GKI Blimbing Malang digugat oleh massa di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Surabaya tahun 2001.
RB: Apakah bapak bisa ceritakan secara singkat bagaimana pengalaman bapak ketika jemaat GKI Blimbing Malang digugat di PTUN? YBM: Waktu itu gedung gereja jemaat saya mulai bermasalah karena sudah tua, sehingga Majelis Jemaat memutuskan untuk merenovasi. Akhirnya izin renovasi berupa izin prinsip dan IMB diberikan oleh Walikota Malang. Namun ketika kami mau membangun, ternyata tetangga yang baru saja kontrak rumah sebelah mempersoalkan dan berkeberatan dengan rencana renovasi tersebut. Tampaknya beliau mampu mempengaruhi masyarakat sekeliling dengan isue “kristenisasi”. Karena dari sudut kuantitas, jemaat saya berkembang begitu pesat dan jumlah kendaraan yang diparkir semakin banyak. Karena gagal untuk menghentikan renovasi tersebut, maka mereka membawa jemaat saya kepada PTUN Surabaya. Di saat kritis itulah saya banyak belajar tentang peradilan dan hukum serta bagaimana mewakili gereja dan bersaksi di depan pengadilan. Di tingkat I, jemaat saya dikalahkan. Tetapi ketika kami naik banding di pengadilan Tinggi; GKI Blimbing dapat dimenangkan. Atas dasar penetapan pengadilan Tinggi itu, kami merencanakan untuk melaksanakan kebaktian kembali di tempat itu. Tetapi apa yang terjadi? Pada waktu anggota jemaat mulai berdatangan untuk melaksanakan kebaktian Minggu, kami dikepung oleh massa dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam gedung gereja. Saat itu saya bertekad untuk tidak memenuhi tuntutan mereka. Akhirnya kami mengadakan kebaktian di jalan raya yang dijaga ketat oleh petugas keamanan dan dihadiri oleh massa. Sehingga secara tidak langsung mereka (non-Kristen) juga ikut kebaktian Minggu GKI Blimbing Malang.
RB: Kami pernah mendengar bahwa bapak pernah dianiaya oleh beberapa massa? YBM: Benar, sebelum itu saya pernah dipaksa oleh massa untuk menanda-tangani surat pernyataan yang isinya bersedia menghentikan kebaktian di tempat itu selama-lamanya. Saya tidak bersedia menanda-tangani surat pernyataan tersebut. Sehingga akhirnya saya dianiaya oleh mereka. Tetapi sangat ajaib, satu demi satu dari mereka yang pernah menganiaya saya itu kemudian datang minta maaf; dan salah seorang pemimpin mereka minta didoakan ketika isterinya mau melahirkan. Mereka bahkan mendoakan saya dan jemaat GKI Blimbing agar dapat menang di tingkat Mahkamah Agung. Saya yakin peristiwa tersebut merupakan karya Roh Kudus yang menyebabkan hati mereka diubahkan dari musuh menjadi sahabat, serta mmbuat mereka menjadi insyaf untuk melihat secara positif sikap/ajaran iman Kristen.
RB: Bagaimana pandangan bapak dengan proyeksi pelayanan di GKI Perniagaan? YBM: Secara yuridis-formal, jemaat kita telah dimulai tahun 1889 dengan penetapan dari pemerintah Hindia Belanda berupa “Evangelische Chineesche Gemeente tot Uitbreiding van Gods Koninkrijk”, maka usia jemaat kita telah mencapai 117 tahun. Biasanya jemaat tua menghadapi kendala berupa “beban sejarah” yang sangat berat. Karena itu daya progresif dan pembaharuan yang seharusnya ada, menjadi agak tersendat-sendat. Kita perlu memperhatikan apa yang dikatakan oleh Martin Luther, yang berkata: “Ecclesia reformata, ecclesia semper reformanda”. Artinya: gereja reformatoris adalah gereja yang terus-menerus bersedia untuk membaharui dirinya. Pada sisi lain, karena jemaat kita merupakan jemaat GKI maka kita perlu sinergis dengan derap penyatuan dan identitas GKI. Kita sebagai jemaat dengan identitas GKI perlu dengan rasa syukur melihat bahwa ketiga sinode dari wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dapat menyatukan diri sebagai jemaat GKI. Bagi saya, penyatuan tersebut merupakan karya Roh Kudus dan perwujudan doa Tuhan Yesus “supaya mereka menjadi satu” (Yoh. 17:21). Roh ekumenis ini perlu kita sebarkan agar jemaat Tuhan yang kini masih terpecah-pecah itu dapat menjadi jemaat Tuhan Yesus yang esa. Dalam hal ini jemaat GKI Perniagaan dapat menjadi motivator/ penggeraknya, karena jemaat kita juga merupakan salah satu pelopor dan penggerak tumbuhnya jemaat GKI di wilayah Jawa Barat. Jadi mari kita terlebih dahulu melayani Tuhan secara internal-sinergis, agar kita dapat menjadi kekuatan sinergis yang menyatukan bagi gereja-gereja di sekeliling kita. Kekuatan internal-sinergis tersebut tentunya bersumber pada kasih Tuhan Yesus. Dengan kekuatan kasih Kristus, kita harus saling bergandengan tangan, saling melengkapi, saling mengingatkan dan menasihati sehingga kita selaku jemaat GKI Perniagaan dapat bertumbuh bersama. Buku-buku yang telah diterbitkanOleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono:
|
|||||||||||||||
|
This Category is currently empty |
|||||||||||||||