HOME arrow HISTORY arrow Misiologi arrow PENGINJILAN DAN KEBUDAYAAN
PENGINJILAN DAN KEBUDAYAAN PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 12 December 2007
1. Arti dan Tujuan Penginjilan

Secara etimologis, Injil berasal dari kata Yunani, yaitu kata “euaggelion” yang artinya kabar baik. Sebagai kabar baik, Injil menyaksikan kabar gembira yang diberikan Allah kepada umat manusia karena di dalam diri Tuhan Yesus, Firman Allah berkenan menjadi manusia dan berkarya untuk menyelamatkan manusia.

Tujuan Pemberitaan Injil
Tujuan pemberitaan Injil pada hakikatnya didasarkan pada nubuat nabi Yesaya yang diamini oleh Tuhan Yesus sebagai yang menggenapi nubuat tersebut. Di Luk. 4:18-19, disaksikan, “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”.

Dari nubuat nabi Yesaya tersebut, kita dapat melihat bahwa pemberitaan Injil sebagai kabar baik ditujukan kepada:
a. Orang-orang miskin, tersingkir, lemah, tak berdaya, minoritas, kelompok marginal.
b. Pemberitaan yang membebaskan orang-orang tawanan, mereka yang terbelenggu, yang tertindas.
c. Memberikan penglihatan, pencerahan, pemahaman, pengertian, kesadaran.
d. Pemberitaan tahun rahmat: anugerah Allah, belas-kasihan, kerahamin dan kemurahan Allah.

Secara prinsipial fungsi Injil sebagai kabar baik bertujuan untuk mentransformasikan kehidupan manusia seutuhnya berdasarkan kasih Allah agar dalam kehidupan umat manusia tercipta syalom yaitu damai-sejahtera dan keselamatan (eirene). Yang mana lingkup keselamatan dan damai-sejahtera (syalom) tersebut meliputi seluruh dimensi hidup yaitu secara vertical (syalom dengan Allah), horizontal (syalom dengan sesama), kosmos (syalom dengan alam) dan internal diri (syalom dengan diri sendiri). Ini berarti tujuan pemberitaan Injil adalah terciptanya keutuhan ciptaan (integration of creation) yang dapat hidup dalam damai-sejahtera dan keselamatan Allah.

Jikalau demikian, tujuan pemberitaan Injil bukanlah sekedar suatu upaya orang-orang Kristen untuk melakukan “penanaman gereja” secara fisik. Juga pemberitaan Injil bukanlah sekedar suatu upaya untuk “mengkristenkan” orang lain padahal setelah menjadi Kristen mereka tetap tidak berubah dan tetap mempertahankan prinsip-prinsip kehidupan dan ajaran lamanya. Sebaliknya pemberitaan Injil bertujuan agar melalui iman kepada Tuhan Yesus kita dapat mengalami perubahan dan pembaharuan orientasi hidup (transformasi) sehingga secara konsisten kita hidup dalam nilai-nilai iman Kristen (Rom. 12:2).

Jikalau kita memperhatikan misi dari Tuhan Yesus, yang pertama-tama dikemukakan dalam seluruh khotbah dan ajaranNya adalah Ia menghadirkan Kerajaan Allah. Penggunaan istilah kerajaan Allah (basileia tou Theou) dalam seluruh Injil mencapai 150 kali, padahal kata “ekklesia” di Injil Matius hanya disebut 2 kali saja (Mat. 16:18; 18:17)! Makna kerajaan Allah pada hakikatnya adalah untuk menghadirkan pemerintahan Allah di atas muka bumi ini yang terjadi di dalam kehidupan dan karya Tuhan Yesus. Sehingga manakala kita melaksanakan pemberitaan Injil, kita dipanggil untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah yang diwujudkan dalam perubahan pola pikir dan nilai-nilai duniawi agar kehidupan umat manusia sesuai dengan pola pikir kehendak Allah. Sikap demikian yang menjadi dasar bagi manusia untuk mengekspresikan pengakuan imannya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru-selamat.

Namun tidaklah cukup bagi kita tugas pemberitaan Injil hanya berada dalam lingkup mentransformasi nilai-nilai dan pola pikir dunia ini. Karena usaha mentransformasi nilai-nilai dan pola pikir ini akan efektif dan dapat mencapai tujuannya, apabila gereja mengalami proses pertumbuhan. Jadi suatu gereja yang tidak bertumbuh tidak akan pernah menjadi gereja yang transformatif. Dengan demikian suatu gereja yang bertumbuh secara kualitatif dan kuantitatif secara efektif dapat menjadi suatu gereja yang transformatif: yaitu yang membaharuni dunia. Tugas pemberitaan Injil pada prinsipnya merupakan karya Allah, bukan karya manusia (I Kor. 1:27-29, Ef. 2:8-9). Sehingga tidaklah tepat dan berbahaya sebab menjadi kesombongan rohani jikalau kita menganggap bahwa “pertobatan” dari PI tersebut ditentukan oleh usaha dan perbuatan manusia. Dalam Alkitab sangatlah jelas bahwa Allah yang bertindak memilih manusia (lihat Mat. 22:14, Yoh. 15:16, Ef. 1:4). Jadi Allah yang memiliki otoritas yang menentukan pertumbuhan iman seseorang (I Kor 3:5-7). Kita prihatin, jikalau ada kecenderungan sikap mengklaim bahwa metode PI tertentu lebih manjur dan efektif dibandingkan metode PI yang lain. Kalau kita sendiri tidak hidup dalam kerendahan hati, sangatlah sulit bagi kita untuk mengubah dunia. Karena untuk mengubah diri sendiri saja kita tidak mampu.


2. Bagaimana Memberitakan Injil.
Hasil keputusan Konsili Vatikan II (1963-1965) menegaskan bahwa liturgi gereja boleh memakai bahasa setempat. Sikap tersebut didasarkan pada pemahaman bahwa kebudayaan dipakai oleh Allah sehingga kebudayaan bukan sekedar alat bantu, tetapi menjadi lahan yang subur untuk menerima Injil dan mengekspresikan kekayaan iman. Karena itu ditegaskan fungsi Injil di tengah-tengah kebudayaan adalah untuk: “Terus menerus membaharui, memurnikan dan mengangkat, memperkuat, menyempurnakan, memugar kehidupan dan kebudayaan manusia serta adat-isiadat bangsa-bangsa”. Itu sebabnya gereja perlu melakukan inkulturasi atau kontekstualisasi. Sehingga dengan inkulturasi atau kontekstualisasi tersebut, gereja dimampukan untuk “mengingkarnasikan Tuhan Yesus ke ruang dan waktu tertentu serta memperkenankan Ia dilahirkan kembali ke dalam kehidupan kita”. Dengan keberhasilan Marcopolo, kemudian mendorong para pater Fransiskan untuk memberitakan Injil ke wilayah yang jauh. Para pater tersebut menterjemahkan Alkitab atau ajaran gereja dalam bahasa setempat. Padahal pola tersebut sudah dilakukan oleh Martin Luther sejak reformasi gereja tahun 1517.

Pendekatan inkulturasi atau konstektualisasi dapat kita lihat dari pola pemberitaan Injil yang dilakukan Sadhu Sundar Singh dari India yang tetap menggunakan sorban bangsa Sikh dan tampil sebagai seorang Sannyasi. Pola inkulturasi juga dilakukan oleh Coenrad Laurens Collen, seorang Eropa peranakan yang memberitakan Injil di Ngoro (kebun seluas 1.420 ha). Collen sangat memperhatikan alam pikir budaya dan adat-istiadat Jawa. Selain itu pekabaran Injil yang dilakukan oleh Dr. Albert C. Kruyt tahun 1862 dan Dr. N. Andriani sejak tahun 1895 mempelajari bahasa daerah Toraja, sehingga sejak tahun 1900 suku Toraja dapat menerima Tuhan Yesus. Sangat menarik jika kita memperhatikan kisah pertobatan dari Ang Boen Swi yang semula memeluk “agama Tionghoa”. Akhirnya ia bertemu dengan Pdt. J.A.W. Krol dan ia diberi Alkitab PB bahasa Jawa sehingga kelak lahirlah kekristenan di kalangan orang Tionghoa.


3. Sikap Gereja di Tengah-Tengah Kebudayaan
Kebudayaan merupakan ekspresi pola hidup dari suatu suku atau bangsa dan karena itu tidak terelakkan pemberitaan Injil di tengah-tengah berbagai kebudayaan berhadapan dengan keanekaragaman, dan konflik-konflik yang menyangkitkan. Realita keanekaragaman dan konflik-konflik tersebut secara detail menyangkut budaya, agama, adat-istiadat, pola pikir, kebiasaan, dan karakter orang-orang yang hidup di dalamnya. Keadaan ini dapat kita lihat dari sejarah GKI Perniagaan yang dimulai tahun 1856 dengan kedatangan penginjil Gwan Kwee dari Amoy. Dia sangat memperhatikan penggunaan bahasa, adat-isitiadat dan latar-belakang agama orang Tionghoa. Jikalau kita kurang tepat menempatkan strategi gereja dalam suatu kebudayaan dapat kita lihat contoh dari GKJ yang sebenarnya paternalistis tetapi memilih model “presbiterial”, atau HKBP yang memiliki kebudayaan demokratis tetapi memilih model “episkopal”. Apabila dilihat keadaan kebudayaannya, seharusnya GKJ memilih model bergereja yang sifatnya episkopal, sedangkan HKBP seharusnya memilih model bergereja yang presbiterial.


4. Pemberitaan Injil yang Efektif
Dalam realita sejarah Pemberitaan Injil, sering terjadi bahwa pemberitaan Injil justru menjadi bumerang bagi gereja, sehingga gereja makin ditolak dan mendapat respon yang antipati dari masyarakat sekitar. Dalam hal ini para pemberita Injil perlu menterjemahkan alam pemikiran (world-view) seseorang dalam konteks budaya dan agama lamanya. Di sini tugas hermeneutik yang tepat sangat dibutuhkan Pemberitaan Injil bukanlah sekedar menterjemahkan istilah-istilah kebudayaan atau memindahkan konsep-konsep “import” denominasi gereja lain. Robert J. Schreiter dalam “Listening to A Culture” berkata, “Supaya kita dapat memperhatankan keterbukaan dan kepekaan terhadap situasi setempat secara memadai, hendaknya modus penginjilan dan pengembangan gereja dilaksanakan dalam sikap menemukan Kristus dalam situasi, dari pada kita memaksakan Kristus ke dalam situasi”. Di sini kita dapat melihat bahwa hubungan/nisbah Injil dengan kebudayaan sering menjadi problem. Tetapi yang memprihatinkan gereja sering tidak mau belajar dari sejarah, sehingga gereja terus-menerus bersikap menolak kebudayaan. Sikap penolakan tersebut dapat terlihat dari sikap Paus pada masa penginjilan Matteo Ricci. Sikap Paus pada intinya menolak seluruh adat-istiadat orang Tionghoa baik dalam hal penyebutan Allah, kehidupan moral dan kebiasaan orang Tionghoa. Akibatnya pekabaran Injil di Tiongkok ditiadakan dan dihentikan oleh kaisar Cina selama 2 abad. Atau justru sebaliknya sikap gereja terlalu membuka diri sehingga gereja terjebak dalam sikap sinkrestisme. Kita dapat melihat pola pekabaran Injil dari Kyai Sadrakh yang mencampur Injil dengan kebatinan Jawa. Padahal fungsi Injil adalah untuk menerangi, kritis, mentransformasikan dan membimbing kehidupan dan kebudayaan agar memuliakan Allah.

Karena itu kita selaku gereja Tuhan di masa modern ini perlu senantiasa bergerak secara progresif untuk membangun sistem iman (teologi) dan pemberitaan Injil secara hidup agar pemberitaan Injil makin menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Sebab bagaimanapun juga Injil bukan sekedar berita atau kesaksian, tetapi hakikat dari Injil itu adalah kesaksian dari kehidupan yang telah ditebus oeh Allah dalam karya Tuhan Yesus. Untuk itu kita dipanggil untuk menempatkan pemberitaan Injil dari pola-pola yang sifatnya dokriner dan ideologis. Sebab Injil merupakan ekspresi kesaksian hidup orang percaya. Perhatikanlah firman Tuhan, “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (II Kor. 4:10).

 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1095
mod_vvisit_counterYesterday2991
mod_vvisit_counterThis week8331
mod_vvisit_counterThis month86944
mod_vvisit_counterAll2770683

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2614 hits)
Firman Hidup 50   (2503 hits)
Firman Hidup 55   (2471 hits)
Cyber GKI   (2252 hits)
The Meaning of Worship   (2124 hits)
TextWeek   (1953 hits)
Contact YBM   (1905 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::