HOME arrow HISTORY arrow Misiologi arrow PERTUMBUHAN GEREJA DENGAN PEKABARAN INJIL
PERTUMBUHAN GEREJA DENGAN PEKABARAN INJIL PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 12 December 2007
Tugas pemberitaan Injil bukanlah sekedar suatu pelengkap dari tugas gereja. Sebab gereja pada dirinya bersifat missioner. Di I Kor. 9:16, rasul Paulus berkata: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”. Jadi pemberitaan Injil merupakan bagian yang hakiki dari kehidupan dan eksistensi gereja. Karena selain melalui pemberitaan Injil, gereja menyampaikan berita keselamatan Allah di dalam Tuhan Yesus, juga melalui pemberitaan Injil gereja mengalami proses pertumbuhan. Dengan demikian, pertumbuhan gereja sangat ditentukan oleh Pemberitaan Injil. Ini berarti gereja-gereja yang secara faktual mengalami proses pertumbuhan, tetapi tidak memberitakan Injil dapat dipertanyakan, apakah pertumbuhannya disebabkan karena aspek lokasi strategis, ikatan kekeluargaan, kesukuan, iming-iming materi, daya tarik pemimpin/ key-person, dan sebagainya. Namun yang jelas tugas Pemberitaan Injil tidaklah ditentukan oleh faktor-faktor tersebut.


Pemberitaan Injil pada hakikatnya memiliki misi dan visi yang khusus, yaitu menyampaikan tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah yang mentransformasi kehidupan agar umat manusia memperoleh pengampunan, penebusan, pemulihan dan rekonsiliasi yang menyeluruh secara vertikal dan horisontal. Itu sebabnya pemberitaan Injil dalam konteks ini bukan untuk mengubah orang lain untuk memeluk agama Kristen. Tetapi mengubah pola pikir dan nilai-nilai yang ada di dunia ini agar sesuai dengan pola pikir dari kehendak Allah, dan hidup sesuai nilai-nilai yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dengan pemahaman yang demikian, tugas pemberitaan Injil berjuang untuk mentransformasi kehidupan ini dengan pendekatan sosial-budaya, sastra, musik, pendidikan, dan politik.

Namun tidaklah cukup bagi kita tugas pemberitaan Injil hanya berada dalam lingkup mentransformasi nilai-nilai dan pola pikir dunia ini. Karena usaha mentransformasi nilai-nilai dan pola pikir ini akan efektif dan mencapai tujuannya, apabila gereja mengalami proses pertumbuhan. Dengan kata lain, gereja yang tidak bertumbuh tidak akan pernah menjadi gereja yang mentransformasi nilai-nilai dan pola pikir dunia ini. Jadi tugas pemberitaan Injil yang memiliki misi dan visi untuk mentransformasi nilai-nilai dan pola pikir dunia ini perlu dilakukan seiring dengan proses pertumbuhan gereja. Ini berarti usaha mentransformasi nilai-nilai dan pola pikir dunia agar sesuai dengan iman Kristen sangat ditentukan oleh keadaan faktual sejauh mana gereja kita telah bertumbuh. Dengan demikian, pertumbuhan gereja pada hakikatnya menentukan arah dan dinamika misi/visi untuk mentransformasi nilai-nilai dan pola pikir dunia ini agar seluruh umat manusia hidup dalam karya penebusan Kristus.

George Barna, dalam bukunya yang berjudul: “Marketing the Church” menyampaikan gagasannya, bahwa pertumbuhan gereja akan terjadi jikalau gereja secara tepat mampu memasarkan, sehingga gereja tersebut menjadi berkembang secara pesat. Selama ini kita kerapkali berpikir, bahwa yang kita utamakan dalam kehidupan gereja kita hanya kualitas. Tentu tujuan tersebut sangatlah benar, agar dalam kehidupan gereja kita tercipta suatu kehidupan yang bermutu. Kita merindukan agar para anggota jemaat kita bermutu dalam iman, kasih, spiritualitas dan pelayanan gerejawi. Tetapi apa artinya suatu kualitas yang seringkali tidak terukur, apabila jemaat yang kita anggap telah berkualitas tersebut ternyata tidak mengalami proses pertumbuhan yang kuantitatif. Itu sebabnya George Barna berkata, “Makin berhasil suatu gereja dalam memenuhi kebutuhan umatnya, makin besar pula peluang gereja itu untuk bertumbuh. Jadi kuantitas merupakan akibat dari kualitas. Sejalan dengan itu pula, suatu gereja yang sudah memiliki pelayanan yang berkualitas, tetapi tidak bertumbuh, sangat besar kemungkinannya ialah bahwa gereja itu sedang mengalami masalah pemasaran yang kurang layak atau kurang tepat”.

Penggunaan istilah “memasarkan gereja” sekilas agak duniawi, karena gereja dianggap sebagai lahan bisnis. Padahal yang dimaksud oleh George Barna dengan pemasaran gereja, adalah bahwa gereja tidak dapat menutup mata dengan realita di sekelilingnya. Ia berkata, “Gereja itu berada di tengah lingkungan yang sifatnya bersaing. Gereja setempat bersaing dengan organisasi-organisasi lain untuk merebut waktu, perhatian, uang, kesetiaan – singkatnya menarik hati- orang banyak. Persaingan itu sesungguhnya bukanlah dengan gereja lain melainkan dengan organisasi, kesempatan, dan filsafat lain yang dapat menjadi alternatif untuk kehidupan Kristen”. Dengan kata lain gereja tidak dapat bersandar pada asumsi-asumi teologis belaka, atau pada perasaan dan nalurinya saja. Suatu gereja akan berkembang apabila gereja itu mendasarkan segala rencana dan taktiknya pada informasi yang cermat dan mutakhir. Karena itu pengelolaan data yang diperoleh dari survey yang cermat dan mutakhir dari para anggota jemaat sangat diperlukan agar dapat “memasarkan gereja” secara efektif, sehingga seluruh kebijakan dan strategi pertumbuhan gereja didasarkan pada data-data yang faktual dan valid. Perhatikan nasihat Tuhan Yesus di Luk. 14:28-30 tentang makna dan manfaat dari suatu perencanaan!

Perencanaan dalam tugas pemberitaan Injil agar dapat mencapai tujuan perlu memperhatikan keadaan/alamat si penerima (latar-belakang), yaitu kontekstualisasi. Lihat I Kor. 9:19-23, yang mana rasul Paulus untuk memenangkan banyak orang menempuh cara dengan memahami dan mengidentifikasi orang-orang yang ditujunya. Di sinilah Pekabaran Injil sering gagal, karena kita kurang memperhatikan keadaan faktual dan latar-belakang orang-orang yang sedang kita tuju. Itu sebabnya program pembekalan agar para anggota jemaat dapat melaksanakan pemberitaan Injil secara benar wajib diberlakukan, seperti pengetahuan budaya, adat-istiadat, pemahaman teologis yang dia miliki dari agama yang dianutnya, dan keadaan kepribadian/karakter yang bersangkutan.Jadi usaha pemberitaan Injil dengan memperhatikan kontekstualisasi, akhirnya sangat ditentukan oleh sejauh mana gereja tersebut mampu memberdayakan para anggota jemaat untuk ambil peran dalam seluruh tugas gerejawi yang pada saat yang sama mereka diperlengkapi sesuai dengan karunia yang mereka miliki (Ef. 4:11-12). Itu sebabnya tugas pemberitaan Injil senantiasa diikuti dengan berbagai usaha pembinaan diri, pelatihan, pembekalan, pendampingan, bimbingan, dan kaderisasi dalam berbagai bidang sesuai dengan minat dan panggilannya masing-masing. Di sini faktor komunikasi, relasi atau hubungan personal sangat menentukan keberhasilan tugas pemberitaan Injil dan pertumbuhan gereja.

 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2064
mod_vvisit_counterYesterday4925
mod_vvisit_counterThis week16658
mod_vvisit_counterThis month80546
mod_vvisit_counterAll2517272

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2567 hits)
Firman Hidup 50   (2456 hits)
Firman Hidup 55   (2423 hits)
Cyber GKI   (2214 hits)
The Meaning of Worship   (2028 hits)
TextWeek   (1934 hits)
Contact YBM   (1880 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::