HOME arrow KHOTBAH arrow Perkawinan Gerejawi arrow PERKAWINAN SEBAGAI MEDIA KARYA KESELAMATAN ALLAH
PERKAWINAN SEBAGAI MEDIA KARYA KESELAMATAN ALLAH PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Tuesday, 18 December 2007


Mat. 1:1 – 17

 

 

Dalam daftar silsilah yang disaksikan oleh Injil Matius, kita dapat melihat catatan tentang deretan peristiwa perkawinan para tokoh Alkitab, sehingga kelak lahirlah diri Tuhan Yesus. Itu sebabnya di Mat. 1:1 dinyatakan dengan ungkapan: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham”. Dengan demikian silsilah Tuhan Yesus menurut Injil Matius pada prinsipnya bersumber pada 2 tokoh utama, yaitu tokoh Abraham dan tokoh Daud. Tokoh Abraham menunjuk kepada lahirnya para keturunan yang menjadi umat Allah. Sedang penyebutan nama tokoh Daud menunjuk secara khusus bagaimana relasi silsilah, kedudukan, martabat dan nubuat para nabi tentang Messias yang kini terpenuhi secara sempurna di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian jabatan keMessiasan Yesus pada hakikatnya memiliki keabsahan dan legalitas secara biologis dan teologis, sebab Dia bukan hanya keturunan dari Abraham yang memang menurunkan umat Israel dan bangsa-bangsa Arab; tetapi lebih spesifik Yesus sebagai keturunan dari raja Daud yang mana Allah telah berjanji bahwa salah seorang dari keturunannya kelak akan memiliki takhta kerajaan yang kokoh untuk selama-lamanya (II Sam. 7:12-13).

 

                Ini berarti melalui tokoh Abraham dan Daud, Allah memilih secara khusus salah seorang dari keturunan mereka untuk menjadi seorang Juru-selamat yaitu Tuhan Yesus Kristus. Walaupun harus kita akui bahwa dalam perjalanan silsilah Tuhan Yesus tidak berarti Dia berasal dari tokoh-tokoh yang serba positif dan terpuji. Di Mat. 1:3-7 muncul pula tokoh-tokoh “antagonis” seperti tokoh Tamar, Rahab, Rut dan Batsyeba (istri Uria). Kita mengetahui  tokoh-tokoh tersebut umumnya dipandang negatif karena peran mereka dalam melakukan dosa seksual. Namun dari peristiwa perkawinan dari para tokoh tersebut, Allah berkenan menggunakan perkawinan mereka, baik tokoh-tokoh yang positif maupun tokoh-tokoh negatif sebagai suatu media untuk memenuhi janjiNya. Melalui semua tokoh tersebut kelak lahirlah Kristus. Melalui Kristus, Allah menyatakan keselamatanNya kepada umat manusia. Sehingga melalui Kristus, Allah berkenan menjangkau semua orang berdosa agar mereka dibebaskan dari kuasa dosa. Di dalam Kristus, Allah berkenan pula menjadi “Imanuel” yang artinya: Allah menyertai kita. Dengan demikian, kesaksian Alkitab menjadi makin jelas bahwa melalui perkawinan yang terjadi di dalam sejarah umatNya, sesungguhnya Allah berkarya, Dia ikut berperan, mengarahkan, menyeleksi dan yang menentukan agar tujuan perkawinan tersebut dapat mencapai maksud atau rencanaNya yang menyelamatkan.

 

                Dengan demikian makna perkawinan menurut Alkitab bukan sekedar untuk melanjutkan keturunan dan nama keluarga. Kita mengetahui bahwa di Indonesia nama keluarga atau nama suku sangatlah penting. Sebab dalam perkawinan yang hanya dipahami sebagai proses untuk meneruskan keturunan atau silsilah sebenarnya hanyalah keinginan dan harapan  membentuk suatu “pohon keluarga” yang harum bagi dirinya sendiri.  Dalam beberapa kelompok masyarakat, makna perkawinan hanya boleh dilakukan untuk menjaga “darah biru” pohon keluarga. Mereka ingin agar perkawinan yang terjadi tetap menunjukkan nilai kebangsawanan atau ciri keluarga “priyayi”. Itu sebabnya dalam masyarakat yang berbudaya Jawa, prinsip perkawinan haruslah memenuhi standar: “bibit, bebet, bobot”. Arti dari “bibit” berarti pihak orang tua ingin memastikan bahwa sang calon menantu berasal dari sebuah keluarga yang baik. Pengertian baik di sini lebih menunjuk kepada keluarga yang telah mampu memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Pendidikan di sini diharapkan tidak hanya bertumpu pada sisi akademis saja, tetapi juga dalam hal moralitas dan keteladanan. Para orang tua Jawa mempercayai bahwa anak yang baik adalah sebuah produk dari keluarga yang baik, dan bukan sebaliknya! Arti dari “bebet” adalah untuk menunjuk kondisi kemampuan finansial bagi calon menantu, yang diharapkan juga mampu menanggung seluruh kebutuhan kehidupan rumah tangga mereka. Bukankah kemampuan finansial mutlak diperlukan bagi setiap calon mempelai yang akan segera membangun rumah tangga yang baru? Sedang arti dari “bobot”, adalah konsepsi tentang kualitas yang mampu ditunjukkan oleh sang calon menantu. Hal ini lebih berkaitan dengan kualitas dirinya sendiri sebagai seorang manusia.

 

                Sayangnya dalam praktek hidup falsafah hidup yang sebenarnya bertujuan baik tersebut seringkali menyimpang. Sebab makna ”bibit” sering lebih diarahkan kepada ukuran seberapa banyak kekayaan dari keluarga sang calon menantu. Sedang makna ”bebet” sering diarahkan kepada ukuran banyaknya materi yang dimiliki oleh sang calon menantu. Kemudian makna ”bobot” dimengerti sebagai penghargaan apabila calon menantu tersebut telah memiliki gelar pendidikan yang tinggi. Itu sebabnya kini falsafah ”bibit, bebet, bobot” menjadi sangat subyektif dan maknanya tergantung dari masing-masing karakter orang-tua atau keluarga yang menafsirkannya. Sehingga tidak mengherankan jikalau falsafah ”bibit, bebet. bobot” sering mengandung penekanan kepada nilai-nilai materialisme, kemampuan ekonomis, dan sikap feodalisme. Mereka ingin membentuk pohon keluarga dengan ukuran duniawi yaitu seberapa banyak jumlah materi yang dimiliki dan kehormatan diri secara sosiologis. Dengan pemahaman demikian, mereka ingin menunjukkan bahwa dalam pohon keluarga mereka yang terdiri dari ”akar, batang, dahan, ranting” – semuanya ”berkualitas tinggi” menurut ukuran yang sebenarnya sangat duniawi seperti: ukuran banyaknya materi yang dimiliki, dan sikap ”kebangsawanan” yang feodalistis. Padahal ukuran-ukuran materialisme dan kebangsawanan secara sosiologis bersifat semu. Mereka melupakan aspek martabat dan kebangsawanan yang sesungguhnya, yaitu martabat diri sebagai citra Allah dan ”kebangsawanan secara spiritual”, yaitu menjadi umat yang takut dan mengasihi Allah serta sesamanya.  

 

                Pada sisi lain, kita juga dapat belajar hikmat dan kebijaksanaan ketika kita mempelajari ”pohon keluarga” yang menunjuk kepada susunan silsilah atau daftar keturunan dari keluarga kita. Sebab dengan mengetahui ”pohon keluarga” maka kita dapat mengenali dan memahami bagaimanakah garis keturunan yang telah membentuk keluarga dan kehidupan pribadi kita. Sehingga kita dapat mengetahui bagaimana latar-belakang kisah kehidupan mereka, sifat-sifat dan karakter dari para leluhur, kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, kegagalan dan keberhasilan yang pernah mereka alami. Semua latar-belakang dari para leluhur kita tersebut perlu kita pahami agar kita kemudian dapat merefleksikan secara kritis dengan kehidupan kita di masa kini. Sebab sifat-sifat, karakter, kecenderungan, kebiasaan dan berbagai perilaku kita sering tanpa kita sadari mengulang kembali dari apa yang pernah kita wariskan dari para leluhur kita; termasuk dalam hal ini adalah  berbagai hal yang sangat buruk dan negatif. Apabila kita dapat mengenali dan memahami garis-besar atau prinsip dasar karakter dan kepribadian dari para leluhur kita, maka kita dapat menyeleksi dan belajar lebih bijaksana untuk tidak mengulang berbagai watak atau sifat yang kurang terpuji dari para leluhur kita. Dalam terang iman Kristen, kita dapat memiliki dasar berpijak yang lebih faktual tentang latar-belakang atau situasi kehidupan kita dan keluarga, sehingga kita dapat lebih membuka diri terhadap karya Allah yang mentransformasikan kita dalam kuasa penebusan Kristus.

 

                Sebagaimana dalam daftar silsilah keluarga Tuhan Yesus yang tidak selalu baik dan sempurna, maka demikian pula dengan kehidupan kita masing-masing. Kita semua tidak pernah memiliki latar-belakang dari leluhur yang semuanya serba baik. Justru para leluhur kita semua adalah orang-orang berdosa. Sebagaimana yang disaksikan oleh rasul Paulus, yaitu: ”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom. 3:23). Sehingga jika kita pelajari secara cermat dan kritis, semua tokoh dalam daftar silsilah keluarga kita sebenarnya tidak ada yang patut dicontoh dan diteladani secara spiritual dan etis-moral. Mereka semua penuh dengan cacat cela sebagai seorang manusia yang berada di bawah kuasa dosa. Tetapi satu hal yang indah dan memberi pengharapan iman adalah bahwa Allah mengasihi para leluhur kita dan melalui mereka kita dilahirkan untuk kemudian dapat percaya dan menerima Kristus sebagai Juru-selamatnya. Dengan kata lain ”pohon keluarga” yang kita  miliki tidak semuanya mampu berdiri tegak sebagai pohon yang tinggi, indah dan mulia. Mungkin pohon keluarga kita begitu buruk, tidak memiliki pertumbuhan yang diharapkan dan hina. Tetapi Allah berkenan menjadikan pohon keluarga kita sebagai bagian dari keluarga Allah. Pohon keluarga kita tersebut dikuduskan dan dihisabkan dalam persekutuan jemaat, sehingga kita diperkenankan oleh Allah menjadi umatNya. Dalam iman kepada Kristus, kita diangkat sebagai bagian dari Tubuh Kristus.

 

                Jika demikian, dalam menghayati suatu peristiwa perkawinan pada satu pihak kita perlu selektif sehingga kita tidak sembarangan saja menikah dengan siapa saja yang kita suka. Kita perlu memperhatikan nilai dan makna filosofis ”bibit, bebet, bobot” dalam pengertian yang tidak materialistis dan feodalistik. Tetapi makna ”bibit, bebet. bobot” perlu dipahami sebagai suatu kualitas ”kebangsawanan” secara rohani; atau sebagai wujud dari martabat diri yang berakar dalam sikap iman dan kasih. Itu sebabnya rasul Paulus mengingatkan kita, yaitu: ”Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap” (II Kor. 6:14).  Tetapi pada sisi lain, kita juga mampu menerima dan menyadari berbagai hal yang buruk dari para leluhur kita, agar kita yang telah ditebus oleh Kristus dapat memiliki sikap yang lebih berhikmat setelah kita bersikap kritis dengan seluruh latar-belakang yang membentuk kita secara langsung ataupun tidak langsung. Dalam  hal ini kita tidak boleh mengulang kembali ”kesalahan-kesalahan sama” sebagaimana yang telah dilakukan, diteruskan dan diturunkan oleh para leluhur kita. Sebab dalam iman kepada Kristus, Allah berkenan mentransformasi dan mengubah kehidupan kita menjadi ciptaan yang baru.

 

                Kita harus akui bahwa tidaklah mudah mewujudkan prinsip Alkitabiah tentang makna perkawinan sebagai media dari karya keselamatan Allah. Sebab keluarga kita seringkali memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk mengartikan filosofi ”bibit, bebet, bobot” dalam pengertian yang sangat duniawi. Juga kita sendiri yang akan memutuskan untuk menikah dengan seseorang juga sering dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dan keinginan yang duniawi. Akibatnya perkawinan yang kita lakukan pada hakikatnya sering tidak mempermuliakan nama Allah di dalam Kristus. Sebaliknya sering terjadi bahwa perkawinan kita sebenarnya ingin mempermuliakan keluarga dan diri kita. Tentunya perkawinan yang demikian tidak berkenan bagi Allah. Sebab apa artinya kita telah memenuhi ukuran atau parameter ”bibit, bebet, bobot”, tetapi secara faktual kita tidak pernah menunjukkan kasih kita yang sungguh-sungguh kepada Allah dan sesama kita. Dengan demikian perkawinan yang diberkati oleh Allah adalah ketika perkawinan yang kita laksanakan pada hakikatnya untuk kemuliaan namaNya. Dengan rendah hati kita perlu terus memohon agar Allah senantiasa campur-tangan dalam kehidupan keluarga kita, sehingga melalui kehidupan perkawinan kita tersebut dapat dipakai oleh Allah sebagai media untuk mewujudkan karya keselamatanNya dalam lingkup yang lebih luas.

 

 

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Last Updated ( Tuesday, 18 December 2007 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1011
mod_vvisit_counterYesterday1711
mod_vvisit_counterThis week9337
mod_vvisit_counterThis month64214
mod_vvisit_counterAll2422001

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2550 hits)
Firman Hidup 50   (2436 hits)
Firman Hidup 55   (2409 hits)
Cyber GKI   (2201 hits)
The Meaning of Worship   (2003 hits)
TextWeek   (1919 hits)
Contact YBM   (1868 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::