HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun A arrow RENUNGAN MINGGU PRA-PASKAH VI
RENUNGAN MINGGU PRA-PASKAH VI PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 05 March 2008

RENUNGAN MINGGU 16 MARET 2008
TAHUN A: MINGGU PRA-PASKAH  VI  (MINGGU PALEM)

SEPERTI YESUS, BUKAN YUDAS
Yes. 50:4-9; Mzm. 31:8-16; Fil. 2:5-11; Mat. 26:14-25

Di antara para murid Tuhan Yesus, dapat dikatakan bahwa Yudas Iskariot memiliki tempat yang sangat  unik. Karena hanyalah Yudas Iskariot sebelum Tuhan Yesus makan malam terakhir (the last supper) bersama para muridNya yang pergi bersekongkol dengan imam-imam kepala dengan berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” (Mat. 26:14). Lalu imam-imam kepala membayar tiga puluh uang perak kepada Yudas agar dia menyerahkan Yesus untuk ditangkap. Dari kesaksian Injil tersebut, gereja perdana dan umat Kristen menyimpulkan Yudas Iskariot sebagai seorang murid yang tega mengkhianati Tuhan Yesus demi ambisi pribadinya untuk memperoleh uang yang banyak.

Menurut Injil Lukas, uang yang diterima oleh Yudas Iskariot bukanlah motif satu-satunya untuk menyerahkan Yesus. Sebab menurut Injil Lukas, pengkhianatan Yudas Iskariot tersebut merupakan alat di tangan Iblis. Setelah Iblis gagal mencobai Tuhan Yesus di padang gurun ketika Ia berpuasa,  maka disebutkan: “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari padaNya dan menunggu waktu yang baik” (Luk. 4:13). Menjelang hari Paskah, Iblis kemudian menemukan saat yang baik itu. Itu sebabnya Iblis segera merasuki diri Yudas Iskariot (Luk. 22:3). Motif utama peran Yudas untuk menyerahkan Yesus adalah karena dia bersedia untuk menjadi alat di tangan Iblis. Walaupun demikian kesaksian Injil Matius dan Injil Lukas  pada prinsipnya “satu nada”, yaitu mereka sepakat menyatakan bahwa Yudas Iskariot merupakan sosok pribadi yang berperilaku buruk yaitu seorang pengkhianat yang menyerahkan Tuhan Yesus kepada imam-imam kepala dengan kemungkinan motif serakah untuk memperoleh uang yang banyak, dan dan motif yang bersedia untuk dikuasai oleh rencana Iblis.

 

 Namun setelah penemuan naskah salinan “Injil Yudas” yang kemudian disebut dengan kodeks Tchacos dalam bahasa Koptik di Jebel Qarara Mesir Tengah, maka dunia dikejutkan dengan isi kesaksian yang sangat berbeda dengan kitab Injil. Sebab dalam salinan “Injil Yudas” tersebut dinyatakan bahwa Yudas Iskariot bukanlah seorang pengkhianat. Sebaliknya sesungguhnya Yudas Iskariot seorang pribadi yang memantulkan dalam dirinya sesuatu yang mulia dan seorang yang mampu berdiri di hadapan Tuhan Yesus. Injil Yudas menyatakan: “Tetapi roh mereka (para murid) tidak berani berdiri di hadapanNya, kecuali Yudas Iskariot. Yudas mampu berdiri di hadapanNya, tetapi tidak dapat menatap mataNya, dan dia memalingkan wajahNya”. Gambaran tersebut sebenarnya mau menyatakan bahwa hanya tokoh Yudas Iskariot memiliki kekuatan untuk berdiri di depan Yesus, tetapi tetap dengan rendah hati dan hormat sehingga dia tidak berani menatap mata Yesus; itu sebabnya dia lalu “memalingkan wajahnya” saat bertatapan dengan mata Yesus.  Selain itu hanya Yudas Iskariot saja yang mengetahui tempat asal Tuhan Yesus, yaitu tempat di mana tidak ada kematian. Injil Yudas menyaksikan ucapan Yudas Iskariot demikian: “Aku tahu siapa engkau sesungguhnya dan dari mana asalmu. Engkau berasal dari alam yang tak mengenal kematian, tempat kediaman Barbelo. Dan aku tak pantas untuk mengucapkan nama Dia yang telah mengutusmu”. Menurut Injil Yudas, hanya Yudas Iskariot saja yang mengetahui tempat asal Yesus yang sesungguhnya, yaitu “alam Barbelo”.  Selain itu tokoh Yudas Iskariot  diberi karunia untuk mengetahui rahasia alam yang tiada batas, sehingga dia dijanjikan oleh Yesus menjadi yang paling besar dari para semua muridNya. Alasan dari janji Yesus tersebut adalah karena hanya Yudas Iskariot sajalah yang mampu membebaskan diri Yesus dari raga atau tubuh jasmaniahNya. Di Injil Yudas, Yesus berkata kepada Yudas: “Tetapi engkau akan lebih besar dari pada mereka semua, karena engkau akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku”. Artinya dengan tindakan Yudas Iskariot menyerahkan Yesus kepada Imam-Imam Kepala sehingga Yesus disalibkan dan mati, sebenarnya Yudas Iskariot telah melakukan perbuatan yang sangat luhur dan patut diteladani. Yudas Iskariot sesungguhnya telah membantu Yesus melepaskan diri dari tubuh jasmaniahNya. Dia sama sekali tidak mengkhianati Yesus, tetapi  Yudas Iskariot melakukan yang diminta oleh Yesus sendiri. Yudas Iskariot telah menunjukkan sikap kesetiaan dan pengabdiannya yang besar kepada Yesus.

 

                Dari penelitian terhadap Injil Yudas tersebut, kita dapat mengetahui dengan pasti bahwa Injil Yudas jelas bukan ditulis oleh tokoh Yudas Iskariot sendiri atau penulis Kristen dari gereja perdana di awal abad Masehi. Tetapi naskah Injil Yudas ditulis oleh seorang penulis dari golongan Gnostik sekitar abad III atau IV Masehi untuk membela ajarannya. Mereka menulis seakan-akan Tuhan Yesus berbicara dengan menyuruh Yudas Iskariot untuk menyerahkan Dia agar Dia dapat dibunuh, sehingga Yesus dapat segera meninggalkan tubuh jasmaniahNya dan RohNya dapat kembali ke alam Barbelo, yaitu “alam yang tidak mengenal kematian”. Sebab dalam pemikiran Gnostik, tubuh jasmaniah dianggap sebagai sumber kejahatan. Itu sebabnya dalam pemikiran Gnostik, Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk menyelamatkan manusia secara utuh (tubuh, jiwa dan roh) dari kuasa dosa; tetapi Tuhan Yesus datang ke dunia untuk memberi “pengetahuan” (gnosis) agar manusia mampu melepaskan diri dari dunia fisik dan dapat menyatu dengan “dunia roh”. Dengan demikian, sangat jelas mengapa kesaksian “Injil Yudas” tidak dapat diterima oleh gereja sebab tujuan utama dari Injil Yudas adalah untuk menegakkan pengajaran dari aliran Gnostik yang sebenarnya baru muncul sekitar abad III Masehi. Justru kita makin dapat melihat kesaksian kitab Injil tentang pengkhianatan Yudas sebagai suatu kesaksian yang lebih orisinil, historis, riel dan teologis. Melalui kitab-kitab Injil terlihat nyata yaitu bahwa Yudas Iskariot telah dikendalikan oleh Iblis untuk mencapai tujuannya dan seorang yang bersifat serakah untuk memperoleh uang yang banyak demi kepentingannya sendiri. Bukankah suatu karakter yang “kurang baik” merupakan media yang paling baik untuk dipengaruhi oleh Iblis sehingga dia dapat menjadi alat yang efektif untuk mencapai tujuan yang jahat? Bisa saja Yudas Iskariot tidak hanya memiliki karakter serakah atau rakus akan uang, tetapi juga kemungkinan dia memiliki karakter buruk lainnya seperti: suka menghalalkan cara dengan memperalat Tuhan Yesus demi suatu tujuan yang sangat duniawi. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan” (Mat. 26:24b).

 

                Kita sering melihat diri Yudas sebagai satu-satunya pengkhianat yang pernah menjual diri Kristus. Padahal dia bukanlah satu-satunya. Yudas hanyalah salah satu dari para pengkhianat dalam kehidupan umat Kristen. Sebab kitapun juga sering berlaku dan bersikap seperti Yudas. Betapa banyak orang Kristen yang dikuasai oleh nafsu serakah dalam berbagai hal, yaitu serakah akan uang, serakah untuk menguasai milik orang lain, rakus makan, rakus seks, dan tidak mampu menguasai diri. Karena kita dikuasai oleh nafsu serakah (greedy), maka tak jarang pula kita mau menghalalkan cara untuk mencapai tujuan yang kita ingini. Sehingga akhirnya kita rela mengkhianati teman atau saudara  agar kita dapat memperoleh keuntungan duniawi. Pernah diberitakan di salah satu surat kabar, seorang anak yang tega mengadukan dan berhasil memenjarakan ayah dan ibunya karena soal pembagian harta warisan. Kita tidak dapat membayangkan kesedihan dan perasaan yang sangat terluka dari orang-tua yang dipenjarakan karena anaknya tersebut ingin memperoleh harta warisan yang lebih banyak dari pada saudara-saudaranya yang lain. Kita juga tidak dapat membayangkan pengkhianatan seorang suami dengan berselingkuh; atau tega menjual isterinya kepada seorang germo agar dia dapat memperoleh uang yang diingini. Kita juga dapat menyaksikan kasus seorang ayah yang sangat tega menjual anak gadisnya untuk dijadikan seorang pelacur agar dia dapat memperoleh penghasilan. Atau orang tua yang tidak memiliki hati nurani “menjual” anak-anaknya untuk dijadikan pengemis di jalan. Jadi kita dapat melihat manifestasi pengkhianatan dan keserakahan “yudas” dalam berbagai bentuk atau cara yang selalu abadi dalam perjalanan kehidupan manusia. Sikap serakah dan rela  mengkhianati kepada orang-orang yang sebenarnya sangat mencintai dan menghormati kita dapat terjadi dalam semua lingkup atau aras kehidupan ini; baik di rumah, tempat pekerjaan, hubungan antar teman maupun dalam kehidupan jemaat.  Praktek serakah dan pengkhianatan tidak pernah mengenal tempat, umur, warna kulit dan kedudukan seseorang. Itu sebabnya di gerejapun juga dimungkinkan. Pernah terjadi seorang pejabat gerejawi melaporkan gerejanya kepada suatu kelompok massa agar dikepung dan diberhentikan ibadahnya hanya karena dia sakit hati sebab dia tidak dipilih kembali menjadi penatua. Sehingga tidak mengherankan dalam setiap motif yang didorong oleh keserakahan akan melahirkan pengkhianatan; dan kemudian pola pengkhianatan tersebut akan dilaksanakan secara licik dan politis. Bukankah Yudas Iskariot juga melakukan “modus operandi” yang sama, yaitu secara licik dia datang secara sembunyi menghadap imam-imam kepala dan mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Tuhan Yesus agar Dia ditangkap dan dibunuh?

 

                Apabila Yudas bersikap serakah, sehingga dia ingin memperoleh sebanyak-banyaknya suatu keuntungan.  Tidak demikian  sikap Tuhan Yesus! Justru Tuhan Yesus telah membuktikan memberikan seluruh milik dan kehidupanNya kepada umat manusia agar mereka dapat memperoleh keselamatan dan hidup yang berkelimpahan dengan anugerah Allah. Sebab ciri khas utama dari hidup Kristus adalah kerendahan hati, tetap taat dan menyangkal atau mengosongkan diriNya. Di Fil 2:6-8, rasul Paulus mengungkapkan rahasia kehidupan Tuhan Yesus, yaitu: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya  sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. Makna Kristus “yang walaupun dalam rupa Allah” sebenarnya menunjuk keberadaan diriNya sebagai manifestasi diri Allah. Penggunaan kata “huparkhein” yang diterjemahkan dengan “keberadaan” (being) sebenarnya untuk menunjuk suatu hakikat yang tidak pernah dapat berubah. Jadi rasul Paulus mau menyatakan bahwa Tuhan Yesus memiliki hakikat yang tidak pernah berubah sebagai Allah. Itu sebabnya Tuhan Yesus tidak pernah berusaha merenggut atau merampas suatu kemuliaan ilahi agar Dia dapat setara dengan Allah. Sebab Kristus dalam hakikatnya tetap Allah yang ilahi dan tidak pernah berubah. Sebaliknya Tuhan Yesus kemudian bersedia menanggalkan kedudukanNya yang sangat mulia itu, dengan cara rela mengosongkan diriNya, sehingga Dia mau mengenakan kemanusiaan dalam arti yang seutuhnya. Tuhan Yesus bersedia meninggalkan seluruh hakikat ke-Allah-anNya, lalu Dia berinkarnasi menjadi manusia seutuhnya dan bersedia taat secara total kepada seluruh kehendak Allah sampai Dia wafat di atas kayu salib.  Ketaatan dan pengosongan diri Kristus bukanlah dimaksudkan supaya Dia diagung-agungkan sebagai sebagai Tuhan, sebab pada hakikatnya Kristus adalah Tuhan yang tidak pernah dapat diubah. Hakikat Kristus tetap agung, mulia dan kudus walaupun Dia dinistakan oleh manusia. Sikap ketaatan dan pengosongan diri Kristus sampai mati bertujuan agar Dia dapat memberikan seluruh hidupNya agar seluruh umat manusia yang telah hidup dalam kuasa dosa dapat dipulihkan dalam kelimpahan anugerah keselamatan Allah.

 

                Sikap serakah atau rakus yang dinyatakan dalam pengkhianatan atau mau menghalalkan segala macam cara sebenarnya  menandakan seseorang yang sangat “miskin” begitu rupa, sehingga dia berupaya untuk mengambil, merampas dan merebut sebanyak-banyaknya dari orang lain. Sebaliknya sikap merendahkan diri dengan mengosongkan diri sebagaimana yang dilakukan oleh Kristus menandakan dari seseorang yang telah memiliki segala hal dan kaya dalam spiritualitas serta nilai-nilai kehidupan, sehingga dia tidak pernah takut untuk dinistakan dan ikhlas berkorban bagi orang lain. Dengan demikian sikap Yudas yang serakah dengan cara mengkhianati Tuhan Yesus menandakan dia sebagai seorang yang sangat miskin secara rohani dan miskin terhadap nilai-nilai kehidupan, sehingga dia tega menjual guru dan Tuhannya. Beda secara total sikap Tuhan Yesus yang justru mau memberikan hidupNya; karena Dia telah memiliki keagungan, kemuliaan, dan kekayaan ilahi yang tidak pernah dapat berubah. Karena itu makna mengikut Tuhan Yesus tidak bisa tidak (harus) ditandai oleh spiritualitas kerendahan hati, ketaatan dan penyangkalan diri serta kesediaan berkorban bagi orang lain. Artinya manakala kita tidak mau rendah hati, tidak taat, tidak mau menyangkal diri dan tidak mau berkorban bagi orang lain; maka kita tidak layak menyandang predikat sebagai seorang pengikut Kristus. Bahkan kita juga tidak layak menyebut diri sebagai umat Allah. Tetapi manakala  kita mau merendahkan diri dan mengosongkan diri, maka kita akan ditinggikan oleh Allah. Di Mat. 23:12, Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan; dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.

 

                Kita sering merasa sulit untuk memberikan kehidupan kita bagi orang lain atau kita merasa tidak memiliki sesuatu yang cukup berharga untuk diberikan kepada sesama. Dalam hal ini kita merasa sangat miskin, sehingga kita terdorong untuk selalu menerima dari orang lain. Kalau kita tidak dapat memperoleh pemberian atau belas-kasihan dari  orang lain, maka kita akan berusaha untuk menuntut, merebut dan merampasnya secara paksa. Kemiskinan rohani atau spiritualitas tersebut dapat terjadi karena kita sering menyembunyikan berbagai karunia yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita; sehingga kita terus-menerus merasa diri selalu serba “kurang”, “miskin” dan “patut dikasihani” oleh orang-orang di sekitar kita. Tetapi keadaan akan berubah, ketika kita belajar untuk memberi (to share) kepada orang lain dari apa yang kita miliki. Misalnya kita belajar memberi keramahan (hospitality) kepada sesama. Dalam hal ini pastilah tidak ada orang yang merasa tidak mampu untuk memberi keramahan, sebab keramahan tidak pernah mengenal status kaya dan miskin; tinggi dan pendek; gemuk dan kurus; kulit kuning atau hitam. Proses pengosongan diri juga dapat dilakukan dengan belajar bersikap tulus, tidak berpura-pura atau tidak berlaku licik kepada orang lain. Selain itu sikap merendahkan diri atau pengosongan diri juga dapat dinyatakan dengan sikap yang rajin bekerja. Dalam hal ini kita belajar untuk tidak merasa “jatuh harga” atau merasa menjadi manusia yang hina ketika kita harus melakukan pekerjaan yang dirasa kasar; sebab kita tahu pekerjaan yang terhormat adalah ketika dilakukan secara etis dan dihayati dengan penuh sukacita. Hati kita dapat tersentuh ketika kita menyaksikan seorang pemulung yang ulet bekerja, rajin, ramah dan penuh sukacita dari pada seorang pimpinan yang bekerja tidak sepenuh hati, selalu bermuram-durja dan bersikap kasar kepada orang lain.

 

                Jika demikian kualitas dan spiritualitas hidup yang menjadi faktor pembeda yang sangat signifikan antara Yudas dengan Tuhan Yesus. Semakin hidup kita berkualitas dengan spiritualitas yang murni, kita akan terus memberi dan membagi kepada sesama tanpa pernah mengharapkan pamrih atau balasan. Sebab kita telah diperkaya oleh Tuhan dengan tindakan yang mau memberi dengan tulus kepada sesama. Seballiknya kita tidak pernah  diperkaya oleh apa yang kita tuntut atau rebut dari orang lain. Jika demikian, mengapa kita membiarkan diri dikuasai oleh nafsu keserakahan, sikap rakus dan ingin merebut atau merampas hak milik orang lain? Mengapa kita membiarkan diri untuk menghalalkan segala macam cara termasuk pula pengkhianatan kepada orang lain, anggota keluarga dan teman hanya karena kita ingin memperoleh sesuatu yang lebih? Karena itu marilah kita bersikap seperti Kristus, bukan seperti Yudas. Marilah kita selaku umatNya  senantiasa belajar merendahkan diri, bersikap taat, mengosongkan diri dan berkorban bagi orang lain sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Amin.

 

 

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Last Updated ( Thursday, 13 March 2008 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday188
mod_vvisit_counterYesterday2454
mod_vvisit_counterThis week21780
mod_vvisit_counterThis month91540
mod_vvisit_counterAll2781818

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2616 hits)
Firman Hidup 50   (2506 hits)
Firman Hidup 55   (2473 hits)
Cyber GKI   (2254 hits)
The Meaning of Worship   (2129 hits)
TextWeek   (1954 hits)
Contact YBM   (1907 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::