HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun B arrow KHOTBAH MINGGU, 18 JANUARI 2009
KHOTBAH MINGGU, 18 JANUARI 2009 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Tuesday, 06 January 2009

Renungan Minggu, 18 Januari 2009
Tahun B: Epifani II

Warna: Hijau

Dipanggil Untuk Menyatakan Kemuliaan Allah
I Sam. 3:1-10; Mzm. 139:1-6, 13-18; I Kor. 6:12-20; Yoh. 1:43-51

Pengantar
 Motivasi seseorang untuk dibaptis dan mengaku percaya kepada Kristus pada prinsipnya memiliki alasan dan latar-belakang yang berbeda-beda. Namun satu hal yang sangat mendasar dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis dari berbagai motivasi tersebut  apabila baptisan dan sidi dilakukan karena kesadaran akan panggilan Kristus. Memang benar, menjadi umat percaya sesungguhnya karena panggilan Kristus. Kita mengikut Kristus bukan semata-mata karena keinginan atau cita-cita manusiawi diri sendiri.

Pada tataran iman disadari bahwa Kristus memanggil dia walaupun sesungguhnya dia semula enggan untuk meresponNya. Namun panggilan Kristus tersebut begitu kuat, menyentuh hati dan membuka suatu kesadaran rohaninya. Saat itulah kita mengalami  pencerahan berupa “spiritual awareness” (kesadaran rohani).  Sehingga akhirnya kita bersedia mengikut Kristus   dengan segala konsekuensinya. Namun sayang sekali kesadaran rohani tersebut sering tertutup dan terhambat. Karena orang-tua telah beragama Kristen, maka anak-anak mereka sering dipaksa untuk mengikuti katekesasi dan mengaku percaya. Seharusnya anak-anak kita dibimbing untuk mengenali iman Kristen dari lubuk hatinya yang paling dalam. Mereka perlu dibimbing dengan penuh kasih untuk mengenal Kristus secara pribadi dan bukan sekedar diajar mengenal seperangkat ajaran atau doktrin Kristen. Sehingga pada waktu yang tepat, mereka dengan kesadaran rohani yang cukup matang dapat merespon panggilan dari Kristus. Jadi tanpa kesadaran rohani yang dihayati sebagai panggilan Kristus, seseorang tidak akan berani menanggung segala konsekuensi untuk mengikut Kristus. Dia hanya dapat secara formal menjadi anggota jemaat, tetapi sesungguhnya dia tidak dapat mengikut Kristus. Bukankah sangat menyedihkan jikalau mayoritas anggota jemaat kita ternyata hanya menghayati kekristenan sebagai keanggotaan organisasi gereja, tetapi mereka tidak mengikuti panggilan Kristus secara pribadi? Jadi betapa bermaknanya kata sebuah “panggilan” dalam kehidupan kita. Tanpa dilandasi oleh dimensi spiritual “panggilan”, maka sesungguhnya kehidupan kita hanya berada di level rohani yang sangat dangkal. Tepatnya kehidupan kita sebatas hadir di tingkat permukaan saja!

                Sebaliknya semakin kita mau membuka diri untuk menerima panggilan yang ilahi yaitu Kristus, maka kehidupan kita akan terus-menerus bergerak ke arah “kedalaman” (in depth). Kita dapat menemukan makna hidup yang otentik.  Orientasi hidup kita tidak lagi terarah kepada hal-hal yang sifatnya fisik, ekonomis dan menguntungkan secara duniawi. Sebab mata  batin kita makin terbuka untuk mengalami “spiritual awareness” (kesadaran rohani) yang mendorong kita untuk melakukan karya Allah. Kesadaran rohani tersebut bukan sekedar suatu dorongan dari perasaan religiusitas, tetapi suatu dorongan untuk melakukan tindakan yang diyakini dikehendaki oleh Allah; yaitu panggilan hidup yang diyakini sungguh suci. Itu sebabnya makna “panggilan” yang tepat bukan diterjemahkan dengan istilah “calling”. Seharusnya panggilan hidup lebih tepat diterjemahkan sebagai “vocation”, yang sebenarnya berasal dari perkataan “vocare” dari bahasa Latin yang artinya: “suara yang memanggil”. Dalam Longman Dictionary of Contemporary English, pengertian “vocation” diterjemahkan dengan: 1). A job which one does because one thinks one has a special fitness or ability to give service to other people, 2). A special call from, or choosing by, God for the religious life.  Namun sayangnya pengertian “vocation” dalam sehari-hari sering dipersempit sekedar untuk menunjuk suatu lapangan pekerjaan yang sifatnya khusus, misal pekerjaan di bidang apoteker, dokter, desain interior, pengacara, hakim, pendeta, pedagang, musikus, dan sebagainya.  Padahal di balik pekerjaan yang bersifat khusus tersebut sesungguhnya terkandung makna sebuah “panggilan dari Allah”.  Tepatnya karena kita tersentuh dan terdorong karena panggilan dari yang Ilahi, maka kita bersedia untuk melakukannya dengan tekun, rajin dan setia bahkan rela menanggung segala risikonya. Jadi karena dihayati sebagai panggilan dari Kristus, maka kita akan rela untuk mempertaruhkan nyawa demi sesuatu yang suci yaitu karya keselamatan Allah. Itu sebabnya seorang yang “terpanggil” untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu akan bersedia melakukannya dengan segenap hati. Dia tidak pernah memperhitungkan untung dan rugi dalam melaksanakan suatu pekerjaan, atau parameter yang sifatnya ekonomis dan materialistis.

Peka Dan Sigap Merespon
Kepribadian seorang pemimpin umumnya terbentuk oleh proses waktu dan pengalaman. Pernyataan tersebut tidaklah keliru. Tetapi kepribadian atau karakter seorang pemimpin juga terlihat sejak awal sebagai benih-benih potensi rohani yang kelak dapat mendukung proses pembentukannya. Di kitab I Sam. 3 mengisahkan pemanggilan Allah kepada Samuel yang masih   belia. Saat Samuel tidur, Allah memanggil namanya: “Samuel, Samuel!”. Dengan sigap Samuel segera berlari ke arah imam Eli karena dia menyangka dipanggil oleh imam Eli.  Tetapi imam Eli menjawab bahwa dia tidak memanggil Samuel. Sampai 3 kali Allah mengulang panggilanNya kepada Samuel, dan 3 kali pula Samuel selalu sigap memberi respon dengan datang dan bertanya kepada imam Eli walau telah dijawab bahwa imam Eli tidak memanggil dirinya. Barulah imam Eli mengetahui bahwa Allah yang memanggil Samuel, karena itu dia memberitahu Samuel, apabila Allah memanggil namanya kembali, dia harus memberi jawab: “Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar" (I Sam. 3:9).  Sikap Samuel yang selalu sigap memberi respon dengan bertanya kepada imam Eli, “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" (I Sam. 3:5,6) menunjukkan Samuel seorang yang memiliki kepekaan diri yang sangat tinggi. Walau dia dalam keadaan tertidur lelap, dia tetap peka dengan suara yang memanggil dirinya. Bandingkan saat kita tertidur pulas, umumnya kita tidak lagi mampu mendengar suara orang yang memanggil dan menggerak-gerakkan tubuh kita.  Samuel bukan sekedar peka dan terbangun dari tidurnya, tetapi kepekaan diri tersebut senantiasa diikuti dengan sikap yang sigap bertindak agar tidak ada tugas yang terlalai.  Jelas sekali Samuel tidak membuat “tafsiran” sendiri dengan hanya membuat perkiraan subyektif, tetapi dia lebih memilih segera bertanya kepada imam Eli kebenarannya. Jadi dalam peristiwa ini telah terlihat bakat Samuel untuk menjadi seorang pendengar yang baik dan taat, sehingga sepanjang hidupnya Samuel  terbukti selalu belajar mendengar suara dan kehendak Allah untuk dilakukannya dengan setia.

                Panggilan Allah sesungguhnya juga terjadi dalam setiap kehidupan kita. Tetapi belum tentu kita memiliki sikap yang peka dan sigap seperti Samuel. Mungkin berulangkali Allah memanggil kita, namun kita sering lebih memilih tidak peduli dan mengeraskan hati. Kita sering lebih disibukkan dengan berbagai pikiran dan perasaan kita dari pada kesediaan diri untuk selalu mau terbuka dan peka dengan panggilan Allah. Itu sebabnya yang paling dominan dan berpengaruh dalam  seluruh langkah kehidupan kita adalah pendapat, pikiran dan kemauan kita sendiri. Tetapi kehendak dan rencana Allah sering terabaikan. Atau yang kerap terjadi adalah sepertinya kita melakukan kehendak dan rencana Allah, tetapi intinya kita sedang memaksakan kehendak dan kemauan kita sendiri.  Kita sering menyebut-nyebut sedang melakukan kehendak dan rencana Allah, tetapi semua ungkapan tersebut kita pakai hanya untuk membenarkan diri kita sendiri. Kita sering cukup lihai dan taktis untuk mempermanis sesuatu yang sebenarnya sarat dengan berbagai ambisi dan kepentingan diri. Bukankah lebih indah apabila kita menyebut “mempermuliakan Allah” padahal sebenarnya kita sedang mempermuliakan diri sendiri. Sangatlah saleh saat kita menyebut sedang melakukan “pelayanan”, padahal kita sedang getol memperbesar ambisi-ambisi diri yang terselubung. Lebih mengesankan saat kita menyatakan kepada orang banyak bahwa hidup ini kita “persembahkan” kepada Kristus padahal sebenarnya kita sedang memanipulasi nama Kristus untuk menutupi berbagai kepentingan diri yang egoistis. Semua sikap tersebut terjadi karena kita kurang peka, tidak mau mendengar dan melakukan panggilan Allah. Tepatnya kesadaran rohani (spiritual awareness) kita kurang berfungsi sebagaimana seharusnya.  Sehingga walaupun Allah telah memanggil kita berulang-ulang, kita selalu mengabaikan suaraNya sampai akhirnya ajal menjemput kita. Akibatnya selama hidup kita belum pernah melakukan apa yang menjadi kehendak dan rencana Allah. Betapa vital dan berharganya makna kepekaan hati-nurani dan iman, karena tanpa kepekaan hati-nurani dan iman kita akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keselamatan dan membagikan keselamatan kepada orang-orang di sekitar kita. 

Sikap Etis Menyadari Kehadiran Tuhan
Bagi umat percaya kita mengimani kehadiran Allah yang tak terbatas dan senantiasa melingkupi segala sesuatu. Allah adalah maha-hadir (omnipresent), sekaligus Dia adalah Allah yang maha-tahu (omniscient).  Keyakinan iman itulah juga  yang dialami oleh pemazmur di Mzm. 139. Dia berkata: “Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN” (Mzm. 139:2-4). Allah yang maha-hadir pada hakikatnya berada di semua tempat baik yang sifatnya fisik maupun non-fisik (mental), sehingga Dia selalu mengetahui segala jalan dan isi pikiran kita. Allah yang maha-tahu telah mengetahui terlebih dahulu apa yang akan kita katakana atau ucapkan. Itu sebabnya di hadapan Allah tidak ada yang tertutup dan tersembunyi. Seluruh aspek kehidupan kita terbuka secara jelas dan transparan di hadapanNya. Karena itu manusia tidak mungkin dapat lari dan bersembunyi dari  hadapan Allah.  Namun dalam realita hidup sehari-hari  kita sering mencoba berdusta dan menyembunyikan segala kesalahan dan dosa kita di hadapanNya. Tepatnya manusia memiliki kecenderungan untuk membangun “benteng” diri setinggi mungkin agar dosa-dosanya terlindung dan tidak diketahui oleh siapapun termasuk Allah. Kita sering  tanpa sadar mencoba untuk mendustai Allah dengan menganggap Dia tidak “maha-tahu”. Tetapi tidaklah demikian sikap pemazmur. Itu sebabnya di Mzm. 139:2, dia berkata: “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku”. Pemazmur justru mohon agar Allah berkenan untuk menyelidiki dan mengenal dirinya yang paling dalam. Dia menempatkan kemaha-tahuan Allah pada tempat yang seharusnya, dengan tujuan etis yaitu  agar Allah menerobos dan menguduskan seluruh kegelapan dosa yang terdapat  di dalam dirinya. Bukankah sikap pemazmur tersebut mencerminkan sikap kerendahan-hati seorang yang beriman? Dia tidak mencoba untuk menutup-nutupi dosanya, tetapi justru membuka dan menyingkapkan diri apa adanya. Sikap spiritualitas pemazmur tersebut justru akan membawa dia kepada kesadaran rohani (spiritual awareness) yang semakin jernih dan mendalam. Dia makin dimampukan untuk lebih peka terhadap seluruh keberadaannya di hadapan Tuhan. Jadi sikap pemazmur tersebut makin menunjukkan bahwa dia seorang yang peka secara etis akan makna kehadiran Allah yang maha-tahu dan maha-hadir dalam kehidupan ini.

                Kebanyakan kita selaku anggota jemaat juga mampu mengamini kemaha-hadiran dan kemaha-tahuan Allah. Namun seringkali keyakinan tersebut sekedar suatu kepercayaan doktrinal belaka, sebab gagal  kita wujudkan dalam tindakan etis-moril. Kita percaya Allah adalah maha-tahu dan maha-hadir, tetapi sering kehidupan kita tetap duniawi.  Keyakinan akan kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah tersebut ternyata sering tidak disertai oleh rasa takut akan Allah, sehingga hidup   kita tetap mengikuti keinginan daging dan hawa-nafsu duniawi. Di I Kor. 6 rasul Paulus menjumpai bahwa beberapa anggota jemaat ternyata tetap hidup dalam percabulan dan perzinahan. Sebagai anggota jemaat, mereka tentunya orang-orang yang percaya akan kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah; tetapi ternyata mereka tidak berusaha menjauh dari dosa seksual tersebut. Mereka lebih memilih untuk mengikuti kebiasaan orang-orang Korintus yang pada waktu itu menganggap hubungan seks secara bebas merupakan hal yang biasa.  Sehingga mereka juga melupakan satu aspek teologis yang sangat mendasar bahwa Kristus telah menebus dosa-dosa mereka dengan harga yang lunas di atas kayu salib. Mereka tampaknya hanya disadarkan akan kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah secara umum, tetapi mereka mengabaikan kehadiran Allah yang khusus dan sungguh-sungguh nyata di dalam Kristus yang telah menyelamatkan diri mereka dari kuasa dosa. Tepatnya karya keselamatan Allah di dalam penebusan Kristus tidak dihargai oleh  beberapa jemaat Korintus secara etis-moril.  Padahal di dalam iman kepada Kristus, tubuh mereka kini bukanlah milik mereka sendiri tetapi milik Allah. Sebab karya keselamatan Allah di dalam Kristus telah berkenan menjadikan tubuh mereka sebagai Bait Roh Kudus (I Kor. 6:19). Bukankah sikap anggota jemaat Korintus tersebut menunjukkan ketidakpekaan mereka terhadap makna “kebertubuhan” dirinya sebagai tempat atau bait dari Roh Kudus? Sikap ketidakpekaan anggota jemaat Korintus tersebut juga menyiratkan bahwa mereka telah gagal mengintegrasikan secara etis makna keyakinan akan kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah dengan kehadiran Allah di dalam penebusan Kristus.

Peka Dalam Mengikut Yesus
Saat Tuhan Yesus berangkat ke Galilea, Dia berjumpa dengan Filipus. Perjumpaan tersebut ternyata mengubah perjalanan hidup Filipus, karena dia merespon saat Tuhan Yesus berkata: “Ikutlah Aku” (Yoh. 1:43). Sama seperti Samuel yang dipanggil  oleh Allah dan memberi respon yang positif, demikian pula Filipus saat dia dipanggil oleh Kristus. Tampaknya peristiwa perjumpaan dan pengalaman hidup saat Filipus mengikut Kristus begitu mengesankan, sehingga ketika Filipus berjumpa dengan Natanael dia segera memberi kesaksian: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret" (Yoh. 1:45).  Dasar kesaksian Filipus yang dikemukakan kepada Natanael adalah bahwa dia telah menemukan Messias sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh Musa dan kitab para nabi. Karena di Ul. 18:15 dinyatakan oleh Musa, yaitu: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan”. Salah satu tolok ukur untuk menilai Messias yang dijanjikan Allah adalah Messias tersebut memiliki ciri-ciri kehidupan seperti Musa yang melakukan karya keselamatan dan kuasa Allah melalui berbagai perbuatan mukjizat. Apabila Musa dipanggil oleh Allah untuk membebaskan umat Israel dari kuasa perbudakan Mesir, maka Messias yang dijanjikan oleh Allah tersebut akan membebaskan umat manusia dari kuasa perbudakan dosa. Selama Filipus mengikut Kristus, dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah telah menunjukkan kuasaNya yang begitu besar di dalam diri Tuhan Yesus. Itu sebabnya saat dia bertemu dengan Natanael, dia segera mengajak Natanael untuk mengikut Kristus. Tetapi tampaknya Natanael seorang yang memiliki sikap kritis dan tidak mudah begitu saja percaya, apalagi disebutkan bahwa Yesus sang Messias berasal dari kota Nazaret. Pertanyaan yang muncul dalam diri Natanael adalah bagaimana mungkin dari kota yang tak ternama seperti Nazaret dapat muncul seorang yang disebut Messias. Itu sebabnya dia berkata kepada Filipus: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (Yoh. 1:46).

                Namun sangat menarik justru Tuhan Yesus tidak menganggap Natanael sebagai seorang yang tidak peka atau buta secara rohaniah. Justru Tuhan Yesus berkata: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" (Yoh. 1:47). Ini berarti sikap kritis yang membuat seseorang tidak mudah percaya tidaklah senantiasa identik dengan sikap orang yang tidak peka dengan kehadiran Kristus. Dalam kasus Natanael, sikap kritisnya justru memperlihatkan jati-diri dari  seseorang  yang tidak memiliki kepalsuan atau keyakinan iman yang munafik. Sebab yang menjadi landasan spiritualitas dari  orang-orang yang seperti Natanael adalah kegairahan untuk mencari kebenaran dan keselamatan yang sejati. Manakala mereka pada akhirnya dapat menemukan kebenaran dan keselamatan Allah yang dinyatakan dalam diri Kristus, maka mereka akan secara total mempersembahkan hidup mereka kepada Allah. Itu sebabnya hanya kepada Natanael, Tuhan Yesus berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia" (Yoh. 1:51). Tuhan Yesus menegaskan bahwa Natanael kelak akan melihat langit terbuka dan para malaikat Allah turun-naik kepada Anak Manusia, yaitu Dia sendiri. Natanael akan melihat kemuliaan Allah yang dinyatakan di dalam Kristus seperti yang pernah dialami oleh Yakub saat dia tertidur dan bermimpi di Betel (Kej. 28:12). Dengan demikian makna bersikap peka dalam mengikut Kristus bukanlah identik dengan orang-orang yang mudah dipengaruhi secara doktriner. Sebab orang-orang yang mudah dipengaruhi secara doktriner memang kelihatannya mudah sekali dibawa kepada pengertian akan ajaran tentang Kristus, tetapi tidak berarti mereka memiliki pola hidup yang lurus dan benar di hadapan Allah. Sebaliknya makna dari seseorang yang peka dalam mengikut Kristus adalah senantiasa mampu bersikap kritis, menguji segala sesuatu dan mau mencari kebenaran dengan segenap hatinya serta mempraktekkan secara konsisten dalam seluruh aspek kehidupannya. Tepatnya makna peka mengikut Kristus akan mendorong seseorang untuk selalu mendengar isi hati dan kehendak dari Allah yang dibarengi dengan sikap yang kritis. Kepekaan seorang beriman untuk mendengar denyutan hati Allah (“heartbeat of God”) tidak menutup fungsi hati-nurani yang selalu dibimbing oleh akal-budi.

Panggilan
Anak-anak imam Eli yakni Hofni dan Pinehas hidup di tengah-tengah kehidupan dan komunitas yang sarat secara rohani, tetapi mereka tidak pernah belajar peka mendengar dan mentaati firman Tuhan. Berbeda dengan sikap Samuel yang masih muda. Dia senantiasa peka dan sigap untuk melakukan tugas panggilannya. Itu sebabnya seluruh kehidupan Samuel ditandai oleh karakter yang tidak bercela. Dia selalu menjaga kehidupannya agar tetap etis dan berintegritas. Demikian pula panggilan hidup kita selaku umat percaya. Kita bukan hanya mampu mengamini kemaha-tahuan dan kemaha-hadiran Allah, tetapi juga harus mampu mewujudkannya dengan hidup yang kudus. Sebab tubuh kita telah ditebus oleh Kristus dan dijadikan  sebagai  Bait Roh Kudus. Jika demikian, apakah kehidupan kita selalu peka dalam mengikut Kristus? Apakah kita hanya mudah terkesan oleh pengajaran tentang Kristus secara doktrinal saja, tetapi kita gagal untuk menyatakan kemuliaan Allah dalam kehidupan kita? Dalam hal ini kita perlu memiliki sikap peka yang dibarengi dengan sikap kritis, khususnya sikap kritis terhadap diri sendiri. Amin.

 

 

Last Updated ( Sunday, 11 January 2009 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1521
mod_vvisit_counterYesterday3898
mod_vvisit_counterThis week5420
mod_vvisit_counterThis month91540
mod_vvisit_counterAll2681371

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2594 hits)
Firman Hidup 50   (2489 hits)
Firman Hidup 55   (2460 hits)
Cyber GKI   (2241 hits)
The Meaning of Worship   (2093 hits)
TextWeek   (1948 hits)
Contact YBM   (1896 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::