HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun B arrow KHOTBAH MINGGU, 1 FEBRUARI 2009
KHOTBAH MINGGU, 1 FEBRUARI 2009 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Thursday, 15 January 2009

Renungan Minggu, 1 Februari 2009
Tahun B: Epifani IV
Warna: Hijau

KUASA TERBESAR
Ul. 18:15-20; Mzm. 111; I Kor. 8:1-13; Mark. 1:21-28

Pengantar
 Dalam Alkitab Perjanjian Lama terdapat begitu banyak nubuat tentang kedatangan Messias. Salah satunya adalah kitab Ulangan (Deuteronomi). Tetapi nubuat di kitab Ulangan pasal 18:15-20 sebenarnya memiliki tempat yang khusus. Nubuat di kitab Ulangan bukanlah janji tentang kedatangan seorang raja Israel atau seorang penguasa seperti Daud, tetapi kedatangan seorang “Musa Baru”. Di Ul. 18:15, Musa menyampaikan nubuatnya tentang seorang nabi seperti dia, yaitu: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan”. 

Sang “Musa Baru” tersebut akan dibangkitkan oleh Allah dari tengah-tengah umat Israel. Ciri atau karakter dari sang “Musa Baru” disebut oleh Musa secara eksplisit yaitu” “sama seperti aku”. Dengan demikian terdapat persamaan ciri dan karakter antara nabi Musa yang membawa umat Israel dari perhambaan bangsa Mesir dengan sang “Musa Baru” yang kelak dibangkitkan oleh Allah. Sang “Musa Baru” tersebut tidak lain adalah Yesus Kristus. Apabila Musa dipakai oleh Allah untuk  menjadi penyelamat yang membebaskan umat Israel dari cengkeraman dan perbudakan  bangsa Mesir, maka Yesus Kristus menjadi penyelamat yang membebaskan umat manusia dari cengkeraman dan perbudakan dosa. Sangat menarik bahwa kisah kelahiran Musa memiliki persamaan dengan kisah kelahiran Kristus. Kelahiran Musa ditandai dengan  peristiwa pembunuhan massal bayi laki-laki Israel dengan cara melempar mereka ke sungai Nil, dan kelahiran Kristus ditandai pula oleh pembunuhan bayi laki-laki yang dilakukan oleh Herodes. Selain itu Musa harus mengalami kematian di gunung Nebo menjelang  umat Israel ke tanah terjanji, dan Yesus juga harus mengalami kematian di bukit Golgota dalam usia yang relatif sangat muda. Satu hal lagi sebagai ciri khusus yang menandakan persamaan antara Musa dengan Kristus sang “Musa Baru” yaitu hubungan atau relasi personalnya yang sangat khusus dan intim dengan Allah. 

                Sebagaimana dipahami bahwa hanya Musa saja yang diperkenankan oleh Allah melihat “wajahNya”. Di Kel. 33:11a menyaksikan:  “Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya”. Padahal tidak seorangpun mampu memandang wajah Allah dan berdiri di hadapanNya. Mereka pasti mati! Itu sebabnya Musa tidak sampai mampu memandang wajah Allah dalam arti yang sebenarnya. Allah melindungi diri Musa  dengan tanganNya, sehingga Musa hanya dapat melihat “bagian belakang” diri Allah (Kel. 33:22-23). Apapun bentuk perjumpaan Musa dengan Allah tetap menyaksikan sesuatu yang sangat unik, istimewa dan luar-biasa. Betapa hebatnya kasih-karunia Allah kepada Musa sehingga Allah memperkenankan seorang mahluk ciptaan dapat melihat Ke-diri-anNya.  Kasih-karunia Allah yang dialami oleh Musa tersebut memposisikan dirinya lebih dari pada sekedar seorang “nabi”. Kalaupun kesaksian Alkitab tetap menyebut Musa sebagai seorang “nabi”, maka dialah sang nabi yang diperkenankan menerima penyataan diri Allah secara khusus, personal dan langsung.  Dengan demikian ciri yang paling khusus dari sang “Musa Baru” adalah Dia memiliki hubungan atau relasi yang sangat intim, personal dan esa dengan Allah. Sang “Musa Baru” tersebut dinyatakan sebagai inkarnasi dari sang Firman Allah. Sehingga hubungan antara Allah dengan sang “Musa Baru” tersebut merupakan relasi Allah dengan FirmanNya yang menjadi manusia di dalam diri Yesus. Injil Yohanes menyaksikan: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”  (Yoh. 1:1).  Itu sebabnya tidak mengherankan jikalau Yesus Kristus memiliki kuasa ilahi yang luar-biasa. Bukan hanya proses kelahiranNya yang sangat unik dan melampaui akal, tetapi juga kuasa mukjizatNya. Jadi sebagaimana kehidupan Musa ditandai oleh berbagai kuasa mukjizat Allah, demikian pula diri Yesus Kristus. Mereka berdua disaksikan memiliki pengalaman langsung memandang wajah Allah, tetapi satu hal yang sangat membedakan dari keduanya adalah: hanya Yesus Kristus duduk di pangkuan Allah. Itu sebabnya Yoh. 1:18 berkata: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”. Metafor “duduk di pangkuan Bapa” mau menunjukkan suatu hubungan Allah dengan Yesus yang esa dan tiada  taranya. Jadi kuasa terbesar dari Yesus Kristus adalah keesaanNya dengan Allah.

Pengajaran Yang Penuh Kuasa
Berulangkali kitab Injil-Injil memberi kesaksian tentang pengajaran Yesus yang disampaikan dengan penuh kuasa. Orang banyak menjadi sangat takjub sebab: “Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Mat. 7:28-29).  Demikian pula saat Yesus pergi ke Kapernaum dan mengajar di sinagoge, Injil Markus memberi   kesaksian: “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mark. 1:21-22).  Pengertian “berkuasa” (exousia) menunjuk kepada arti: power (kuasa), authority (otoritas), weight (berbobot).  Dengan perkataan lain, pengajaran Tuhan Yesus senantiasa mampu memperlihatkan daya kuasa firman Allah yang menyentuh dan membaharui setiap orang yang mendengarNya. Makna daya kuasa firman Allah dalam konteks ini bukan sekedar pengajaran yang penuh hikmat (“kebijaksanaan”) sebagaimana yang diperlihatkan oleh Salomo. Sebab Yesus menegaskan bahwa Dia lebih besar dari pada Salomo (Mat. 12:42). Lebih tepat makna daya kuasa firman Allah yang dinyatakan dalam pengajaran Tuhan Yesus menunjuk kepada otoritasNya selaku sang Firman Allah: dipenuhi oleh  daya kreatif ilahi yang menghidupkan. Jadi daya kuasa firman Allah yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus tersebut identik dengan kuasa firman Allah saat Dia menjadikan langit dan bumi, sehingga daya-daya perusak dan kegelapan dapat dikendalikan. Itu sebabnya perkataan Yesus selalu mengandung kuasa yang menghidupkan dan menyelamatkan. Dalam kisah para murid yang diterjang badai saat mereka naik perahu, disebutkan bahwa Yesus segera menegur angin dan badai sehingga laut kembali tenang (Mat. 8:27).

                Daya kuasa firman Allah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus juga berkaitan dengan prinsip-prinsip etis-moril yang didasarkan pada nilai-nilai Kerajaan Allah. Di satu pihak Tuhan Yesus tetap berpegang kepada pengajaran hukum Taurat, namun di sisi lain Dia memperdalam Taurat, sehingga menghasilkan esensi etis-moril yang baru.  Misalnya arti membunuh bukan hanya suatu perbuatan jahat yang membinasakan hidup orang lain, tetapi juga kemarahan dipahami oleh Tuhan  Yesus sebagai sumber dari kejahatan (Mat. 5:22). Dengan sikap yang otoritatif, Yesus berkata: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan …..  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang …….”.  Dalam hal ini Tuhan Yesus sama seperti Musa yang mengajarkan firman Allah yang terkandung dalam hukum Taurat. Tetapi  pada sisi lain sebenarnya Tuhan Yesus mengajak umat untuk lebih memahami nilai-nilai etis-moril sebagai warga Kerajaan Allah.  Tepatnya kedatangan Tuhan Yesus semata-mata bukan untuk mengajar hukum Taurat; tetapi Dia datang untuk mengajar nilai-nilai terdalam dari Kerajaan Allah yang secara harafiah telah dinyatakan oleh hukum Taurat. Karena itu nilai-nilai etis-moril yang diajarkan oleh Tuhan Yesus bertujuan memanggil setiap orang untuk hidup sebagai anak-anak Allah.  Jadi yang utama dalam pengajaran etis-moril Tuhan Yesus adalah terciptanya relasi personal antara manusia dengan Allah sebagai Bapa, yaitu dengan mentaati firmanNya. Di sinilah letak perbedaan  antara Yesus dengan Musa. Sebab Musa lebih mengedepankan ketaatan kepada hukum Taurat sebagai sumber keselamatan, sedangkan Tuhan Yesus lebih mengedepankan relasi dan pendamaian dengan Allah melalui ketaatan iman kepada diriNya - sang Firman Allah.

                Di Ul. 18:18, Musa menubuatkan bahwa Allah telah meletakkan seluruh firmanNya di dalam mulut sang “Musa Baru” sehingga melalui Dia, umat manusia dapat mengetahui seluruh kehendak dan firman Allah. Dengan nubuat tersebut Musa mau menyatakan bahwa melalui sang “Musa Baru” yaitu Yesus Kristus, Allah telah menyatakan seluruh firmanNya secara menyeluruh sehingga yang diucapkan oleh sang “Musa Baru”adalah berasal dari Allah. Dengan pengertian ini  Injil Yohanes menyatakan Yesus sebagai “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh. 14:6). Sebab Yesus bukan sekedar berperan sebagai: “penunjuk jalan, penunjuk kebenaran dan penunjuk kehidupan”. Tetapi Dialah sang Penyata (Penyingkap) diri Allah. Itu sebabnya Musa berkata: “Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban” (Ul. 18:19). Daya kuasa firman Allah yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus tidak hanya meliputi dimensi etis-moril saja, tetapi juga menyangkut keselamatan dan hidup kekal. Sehingga apabila manusia mengabaikan firman yang diucapkanNya, Allah akan menuntut pertanggungjawaban.

Pertanggungjawaban Etis
Wujud pengabaian terhadap firman Kristus bukan hanya secara vertikal saja yaitu kepada Allah, tetapi juga secara horisontal. Sesungguhnya nilai-nilai etis yang diajarkan oleh Tuhan Yesus berkaitan langsung dengan sikap kita kepada sesama. Apakah kita cukup peka dengan keadaan orang lain? Betapa sering karena kita merasa telah memiliki “pengetahuan” tentang kebenaran Allah, kita bersikap  takabur dan sewenang-wenang sehingga kita melukai sesama yang memiliki hati-nurani yang lemah. Di  surat I Kor. 8:1-13 rasul Paulus mengingatkan anggota jemaat Korintus agar mereka tanggap secara etis dengan  masalah makan daging persembahan. Sebab pada zaman itu daging yang telah dipersembahkan kepada para dewa dapat dijual bebas. Bahkan mereka dapat membeli dan makan daging tersebut di kuil tertentu. Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa tidak ada berhala dan hanya ada satu Allah saja (I Kor. 8:4-5). Beberapa anggota jemaat di Korintus juga mengamini satu-satunya Allah yang hidup di dalam Kristus, sehingga mereka merasa bebas makan daging yang telah dipersembahkan berhala sebab dalam hati mereka tidak mengakui kuasa para dewa. Dari satu sudut tentunya tindakan mereka benar. Sebab makanan tidak akan pernah dapat mempengaruhi iman atau relasi kita dengan Allah (I Kor. 8:8). Tetapi mereka sering mengabaikan efek/dampak dari tindakan mereka, khususnya kepada anggota jemaat yang memiliki hati-nurani yang lemah. Akibatnya tindakan beberapa orang anggota jemaat tersebut menjadi batu sandungan. Mereka yang memiliki hati-nurani yang lemah segera mengikuti jejak dari anggota jemaat yang makan daging yang telah dipersembahkan kepada dewa. Itu sebabnya rasul Paulus memberi nasihat dan teguran: “Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus”  (I Kor. 8:12).

                Sikap takjub kita terhadap pengajaran Kristus yang berkuasa dan penuh otoritas dapat membuat kita lengah dengan menganggap semua orang berpikir seperti kita berpikir. Dengan “pengetahuan” kita yang cukup mendalam terhadap kebenaran Kristus dapat membuat kita dangkal dalam memahami kondisi riel sesama, sehingga kita tidak bersikap arif dalam memberlakukan “kebebasan” kita. Padahal pengetahuan yang mendalam terhadap kebenaran Kristus seharusnya ditandai oleh kepekaan dan ketajaman nurani kita kepada perasaan atau hati-nurani orang lain.  Nilai-nilai etis Kerajaan Allah yang  telah diajarkan oleh Kristus wajiblah dikomunikasikan secara benar agar dapat terwujud dalam kehidupan bersama dengan sesama. Tetapi dalam kehidupan nyata ternyata tidaklah selalu demikian. Anehnya nilai-nilai etis Kristus yang begitu menakjubkan  kita tersebut justru kadang-kadang makin membutakan mata rohani kita sehingga kita merasa boleh bertingkah-laku sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Seharusnya kita mau belajar kepada Tuhan Yesus, yang walaupun Anak Allah dan  inkarnasi dari sang Firman, Dia bersedia menyembunyikan kemuliaanNya agar umat manusia dapat berelasi dengan Dia.  Itu sebabnya Tuhan Yesus menggunakan kata-kata yang  selalu dapat dimengerti oleh orang banyak. Ilustrasi atau contoh-contoh yang dipakai oleh Tuhan Yesus bukan berasal dari pengalamanNya di sorga, tetapi dari pengalamanNya di bumi. Selain itu walaupun Dia Anak Allah, Tuhan Yesus tetap menjaga sikapNya agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Misalnya Tuhan Yesus mengajar bahwa makanan tidak dapat menajiskan orang, tetapi hati yang jahat akan menajiskan seseorang – tidak pernah mendorong Tuhan Yesus makan suatu makanan yang dinajiskan oleh hukum  Taurat. Tepatnya walaupun Tuhan Yesus mengajarkan bahwa semua makanan halal, tetapi Dia sendiri tidak pernah makan suatu makanan yang dilarang oleh Musa. Di sini terlihat bahwa pengetahuan kebenaran seharusnya diberlakukan dengan sikap hormat kepada sesama yang mungkin belum memiliki “pengetahuan kebenaran”. Jadi “pengetahuan kebenaran” dari Kristus menjadi benar secara etis-iman ketika kita berhasil memberi pencerahan iman yang membebaskan dan menyelamatkan orang lain di sekitar kita.

Pemulihan dan Pengudusan
Kuasa terbesar yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus bukan hanya dalam bentuk pengajaran tentang nilai-nilai etis Kerajaan Sorga, tetapi juga dinyatakan dalam firmanNya yang penuh kuasa untuk menghardik dan mengusir roh jahat yang merasuki seseorang. Saat Yesus melihat seorang yang sedang dirasuk oleh roh jahat, Dia berkata: “Diam, keluarlah dari padanya!” (Mark. 1:25). Padahal kalau kita simak, justru roh jahat tersebut mengenali jati-diri Yesus yang sesungguhnya sebagai Anak Allah. Roh jahat tersebut membuat suatu pernyataan: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau   datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah" (Mark. 1:24). Orang-orang yang berjumpa dengan Yesus pada saat itu tidak pernah tahu jati-diri Yesus yang sesungguhnya. Tetapi roh jahat tersebut segera mengenali Yesus sebagai “yang kudus dari Allah” dan memiliki otoritas untuk membinasakan roh-roh jahat. Dengan kata lain, roh jahat tersebut mengenali dengan baik kuasa ilahi Tuhan Yesus sebagai Anak Allah. Mereka tahu bahwa Tuhan Yesus memiliki kuasa Allah yang tak terbatas. Tetapi tidak berarti Tuhan Yesus kemudian menjadi bersimpati dan membiarkan roh jahat tersebut menguasai manusia.  Dengan perkataan lain walau para setan memiliki pengetahuan yang benar tentang diri Yesus selaku Anak Allah,  Tuhan Yesus tidak membenarkan segala tindakan dan perilaku roh jahat tersebut. Sebab apa artinya seseorang memiliki pengetahuan yang benar dan cukup lengkap tentang diri Yesus, tetapi dipakai untuk membelenggu dan menguasai orang lain? Pengertian “kerasukan setan” menunjuk kepada situasi di mana roh jahat berhasil mengikat dan membelenggu jiwa dan kesadaran seseorang, sehingga dia tidak dapat bertindak secara bebas sesuai dengan hati-nurani dan pikiran yang sehat. Karena itu kita tidak pernah mendengar istilah “kerasukan Roh Kudus”, tetapi lazim disebut oleh Alkitab: “dipenuhi oleh Roh Kudus”. Karena arti “dipenuhi oleh Roh Kudus” tidak pernah meniadakan kebebasan, kesadaran, hati-nurani dan identitas diri seseorang. Sebab peran dari Roh Kudus adalah menguduskan setiap kesadaran, hati-nurani dan identitas diri kita sehingga dapat benar di hadapan Allah dan sesama. Jika demikian, apakah kehadiran dan pengetahuan kita tentang kuasa kebenaran Kristus juga membawa efek yang membebaskan dan memulihkan sesama?

                Makna kebenaran kuasa Kristus yang penuh otoritas perlu kita realisasikan dalam karya yang memulihkan dan menguduskan, sehingga sesama dapat  melihat kuasa Kristus yang hidup dalam karya dan pelayanan kita. Apabila mereka dapat melihat kehidupan Kristus yang penuh kuasa dalam diri kita, maka mereka akan mempermuliakan Allah dan mau percaya kepadaNya. Sebaliknya apabila kita hanya mampu memperlihatkan pengetahuan kebenaran tentang Kristus, tetapi hidup kita jauh dari Kristus maka sesama akan tersandung untuk mengenal dan mengasihi Kristus. Penyebab utama diri kita jauh dari Kristus karena pengetahuan kebenaran tentang Kristus tersebut hanya berhenti sampai di tingkat kognitif saja, tetapi tidak berhasil mentransformasi hati dan spiritualitas kita. Pemazmur mengungkapkan kesaksian imannya yang dilandasi oleh  hati dan jiwa yang diperbaharui oleh karya keselamatan Allah, yaitu: “Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya” (Mzm. 111:1-2). Kesaksian iman yang dinyatakan oleh  pemazmur tersebut dilakukan dengan segenap hati dan segenap jiwanya. Perbuatan atau karya Allah yang besar tidak hanya dipahami oleh pemazmur secara akaliah belaka, tetapi diresponnya dengan iman yang terbuka; yaitu iman yang terus dipulihkan dan dikuduskan. Jadi kita akan dimampukan untuk melakukan karya keselamatan Allah yang memulihkan dan menguduskan sesama di sekitar kita, manakala kita mengalami secara pribadi pemulihan dan pengudusan Allah dalam kehidupan kita.

                Pergumulan dan permasalahan yang berat sering membuat daya tahan spiritualitas kita menjadi lemah. Itu sebabnya kita mudah “dirasuki” oleh roh-roh dunia. Kita tidak mungkin dapat  mengusir roh-roh dunia dengan “pengetahuan kebenaran” tentang Kristus, tetapi kita akan dapat mengalahkan kuasa roh-roh jahat yang merasuki diri kita ketika hidup kita diperbaharui oleh kebenaran hidup Kristus.

Panggilan
Kristus adalah sang “Musa Baru”. Sayangnya nubuat Musa tersebut sering dipakai untuk menjauhkan manusia dari Kristus dengan mengasumsikan: sang “Musa Baru” bukanlah Kristus tetapi menunjuk kepada “tokoh atau nabi lain”. Padahal kesamaan Yesus Kristus dengan Musa adalah relasi personal yang sangat khusus dengan Allah. Lebih dari pada itu hanya Yesus Kristus saja yang memiliki hubungan intim dan tiada taranya dengan Allah sehingga diungkapkan dengan metafor “duduk di pangkuan Bapa” (Yoh. 1:18). Karena itu pengetahuan kita tentang kebenaran Kristus tidak boleh berhenti sampai di tingkat kognitif belaka, tetapi seharusnya membawa pembaharuan  yang menyeluruh terhadap spiritualitas dan kepribadian kita. Jikalau pengetahuan kebenaran tentang Kristus  hanya berhenti di tingkat intelektualitas, maka kehidupan kita masih rentan untuk dirasuki oleh roh-roh jahat dalam dunia ini. Jika demikian, bagaimanakah relasi kita dengan Kristus? Apakah kuasa Kristus masih sebatas kepada perasaan takjub akan pengajaranNya yang berkuasa? Ataukah kehidupan kita telah diubahkan oleh hidupNya yang berkuasa? Amin.

 

 

Last Updated ( Thursday, 15 January 2009 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2342
mod_vvisit_counterYesterday5039
mod_vvisit_counterThis week12579
mod_vvisit_counterThis month12579
mod_vvisit_counterAll2583337

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2573 hits)
Firman Hidup 50   (2460 hits)
Firman Hidup 55   (2431 hits)
Cyber GKI   (2220 hits)
The Meaning of Worship   (2045 hits)
TextWeek   (1938 hits)
Contact YBM   (1885 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::