HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun B arrow KHOTBAH MINGGU, 8 MARET 2009
KHOTBAH MINGGU, 8 MARET 2009 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Tuesday, 17 February 2009

RENUNGAN MINGGU, 8 MARET 2009
TAHUN C: PRA-PASKA II
WARNA: UNGU

YANG MENYELAMATKAN NYAWA AKAN KEHILANGAN NYAWA
Kej. 17:1-7, 15-16; Mzm. 22:23-32; Rom. 4:13-25; Mark. 8:31-38

Pengantar
 Naluri untuk menyelamatkan nyawa bukanlah hasil latihan dan didikan lingkungan, tetapi sesuatu yang sudah diberikan (“be given”) dari yang memberi hidup, yaitu Allah. Saat menghadapi suatu bahaya  apapun kita akan segera refleks untuk melindungi dan menyelamatkan nyawa. Apabila kita tidak mampu melawan, karena kalah kuat ya kita akan segera memilih untuk melarikan diri. Saat kita terluka, maka kita akan segera mencari upaya untuk segera menghentikan luka tersebut.

Saya ingat bagaimana seseorang yang paru-parunya mulai tidak berfungsi bersedia menjual apapun yang dimiliki agar dapat memiliki alat pacu untuk paru-parunya. Waktu itu saya memperoleh informasi bahwa harga alat pacu tersebut mencapai 1 milyar rupiah yang setiap hari harus dikontrol oleh beberapa orang dokter dan beberapa orang perawat. Saya tidak tahu biaya pengeluaran untuk operasional peralatan tersebut setiap bulan. Pasti keluarga tersebut harus mengeluarkan dana rutin di atas 50 juta rupiah setiap bulan agar dapat menjaga kelangsungan hidup dari orang yang mereka kasihi. Bahkan setiap mahluk hidup seperti hewan pada umumnya juga memiliki naluri yang sangat tinggi untuk menyelamatkan   nyawanya. Untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka bersedia mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan yang ada, apakah dengan cara berlari sekencang-kencangnya, melakukan perlawanan yang sengit, mengeluarkan senjata berupa racun atau bisa yang dapat mematikan lawan atau menyembunyikan diri selama berminggu-minggu. Jika naluri menyelamatkan merupakan suatu karunia dari Tuhan agar setiap mahluk hidup khususnya manusia dapat tetap hidup, mengapa Tuhan Yesus justru berkata: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya”  (Mark. 8:35).

                Ajaran dan perkataan Tuhan Yesus sepertinya bertentangan dengan naluri yang telah diberikan oleh Allah kepada setiap umatNya. Bukankah kita justru mengecam orang-orang yang membiarkan nyawanya terancam tanpa ada upaya sama sekali, misalnya: tidak segera menghindar saat bahaya maut menerpa mereka, mengabaikan kesehatan dengan cara terlalu bekerja keras, sikap yang terlalu berani tanpa perhitungan, sengaja menempatkan diri dalam bahaya,  atau tindakan yang dapat mengarah kepada bunuh diri? Bukankah nilai kehidupan ini begitu berharga? Nyawa setiap orang sangat berharga sehingga sistem keselamatan kerja dalam suatu seluruh bidang pekerjaan mutlak diberlakukan. Negara-negara maju telah  menerapkan sistem asuransi kesehatan dan kecelakaan bagi setiap warga-negaranya agar mereka dapat memperoleh pelayanan medis yang baik saat mereka mengalami gangguan kesehatan atau mengalami musibah. Pada intinya disadari betapa berharganya nilai suatu kehidupan, sehingga perlu diperjuangkan dan dijaga  secara bertanggungjawab. Itu sebabnya pasar alat kesehatan di Amerika Serikat tahun 2005 mencapai 80,3  miliar dollar, dan pada tahun 2010 akan mencapai angka 100 juta miliar dollar. Kemudian pasar global untuk alat-alat kedokteran implant mikroelektrik adalah 11,9 miliar dolar pada tahun 2004 diperkirakan akan meningkat rata-rata 22,1 persen per-tahun sehingga pada tahun 2009 ini akan mencapai 32,3 miliar dollar. Semua data tersebut mau menyatakan perlunya menjaga dan menyelamatkan nyawa sebagai suatu karunia Tuhan dengan sikap yang bertanggungjawab. Jika demikian, apa relevansinya ajaran dan perkataan Tuhan Yesus tersebut dalam kehidupan kita?  Tentunya yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus dengan makna “menyelamatkan nyawa” tidak terkait dengan tugas kewajiban dan tanggungjawab kita untuk menjaga keselamatan nyawa saat kita menghadapi suatu bahaya sebagaimana diuraikan di atas. Sebab kewajiban dan tanggungjawab untuk menjaga keselamatan nyawa telah menjadi suatu hukum alam yang perlu diwujudkan dalam suatu sistem dan pola kehidupan yang lebih beradab, sehingga setiap orang tanpa terkecuali juga bertanggungjawab atas keselamatan nyawa sesamanya.          

Memperoleh Dunia
Ungkapan “nyawa” jelas menunjuk kepada esensi yang paling fundamental dalam kehidupan manusia. Dalam konteks ini pengertian “nyawa” diidentiikan dengan “roh” yang pada hakikatnya menunjuk kepada keseluruhan diri atau hakikat dari kepribadian manusia. Sehingga sikap berkorban dengan mempertaruhkan nyawa (put life on the line) berarti memberikan   sesuatu yang paling berharga atau segala-galanya dari keseluruhan diri. Tidak ada yang lebih tinggi dari pada sikap mau berkorban dengan rela kehilangan nyawa untuk keselamatan orang lain. Pemahaman inilah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ketika Dia menyampaikan misi kedatanganNya ke dunia ini, yaitu untuk memenuhi ketetapan Ilahi yang harus menanggung banyak penderitaan, ditolak oleh para pemimpin agama lalu dibunuh tetapi bangkit sesudah tiga hari (Mark. 8:31). Tetapi bagi para murid, khususnya Petrus sikap Tuhan Yesus tersebut sungguh mengejutkan. Mereka percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Messias Allah, tetapi sulit bagi mereka untuk menerima kenyataan apabila Dia harus menderita lalu dibunuh. Bagi mereka, seorang Messias senantiasa ditandai oleh kemenangan demi kemenangan, kesuksesan demi kesuksesan dan tentunya memiliki kuasa untuk memiliki apa yang dia kehendaki. Tepatnya Messias yang mereka harapkan adalah seorang Messias pembebas dan penakluk yang memiliki kuasa politik dan militer yang hebat sehingga kuasa penjajahan dari bangsa Roma dapat dipatahkan. Itu sebabnya ketika mereka melihat kuasa Ilahi yang dinyatakan dalam diri Tuhan Yesus, timbullah pengharapan dan kerinduan yang semakin menguat bahwa Dia dapat menjadi seorang Messias yang mampu mengalahkan atau menaklukkan kekuasaan dan penjajahan bangsa Romawi. Bahkan di dalam diri Yesus, mereka mengharapkan peran sebagai Messias yang mampu menaklukkan seluruh kerajaan dunia di bawah kekuasaan militer atau politik dari kerajaan yang didirikanNya. Sehingga dengan gambaran Messias demikian, para murid Yesus mengharapkan bahwa Tuhan Yesus dapat memperoleh seluruh dunia dan kekuasaannya. Jadi inti pengharapan para murid Yesus pada prinsipnya didasarkan kepada pemahaman bahwa kekuasaan yang besar dapat dipakai untuk memperoleh kekayaan dunia yang sebesar-besarnya.

                Kita sering memaknai arti menyelamatkan nyawa dengan pola berpikir/pengertian para murid Yesus. Semakin kita diserahi atau dapat memiliki kekuasaan yang besar, maka kita merasa berhak untuk memperoleh kekayaan dunia yang sebesar-besarnya. Tidaklah mengherankan jikalau kekuasaan dalam berbagai bentuk seringkali dikejar dengan cara apapun agar kita dapat memanfaatkan kekuasaan tersebut untuk kepentingan duniawi. Begitu banyak orang yang bersedia  mempertaruhkan nyawa mereka agar mereka mencapai kekuasaan atau posisi yang sebesar-besarnya. Mereka menjadi orang-orang yang sangat ambisius, mabuk kekuasaan dan kerap tidak segan untuk menghalalkan segala macam cara. Seakan-akan apabila mereka dapat menguasai dan memperoleh banyak hal dari dunia ini, mereka berhasil menyelamatkan nyawanya. Arti “nyawa” dalam konteks ini dihayati sebagai kekuatan yang dihidupi oleh berbagai dorongan ambisi dan dilengkapi oleh berbagai macam strategi untuk meraih banyak hal. Sehingga arti “menyelamatkan nyawa” identik dengan kemampuan untuk meraih semua hal yang diinginkan. Akibatnya apabila ada orang yang merasa tidak berhasil meraih semua hal yang diinginkan, maka dia menganggap dirinya tidak berhasil “menyelamatkan nyawanya”.  Dia menganggap dirinya telah kalah atau gagal meraih kemenangan dalam kehidupan ini. Itu sebabnya orang-orang dengan filosofi demikian berupaya untuk selalu merebut, mengambil, dan merampas apa saja yang dia inginkan walaupun dengan konsekuensi banyak sesama yang akan menjadi korbannya. Mereka mencoba untuk membangun kebahagiaan dan kemenangan palsu di atas penderitaan dan ketidakberdayaan orang lain. Nyawa orang yang demikian lebih tepat disebut sebagai nyawa orang serakah sebab hatinya tidak pernah puas dan mensyukuri berkat Tuhan yang telah dia terima. Karena dia tidak pernah mensyukuri berkat Tuhan yang ada, maka dia ingin selalu merebut berkat Tuhan yang telah dimiliki oleh sesamanya. Padahal semua ambisi dan keserakahan tersebut justru merupakan tanda dari kemiskinan hatinya atau nyawa yang telah binasa sebab telah menjauhkan diri dari rahmat dan keselamatan Allah. Sehingga sangatlah tepat ketika Tuhan Yesus berkata: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? “ (Mark. 8:36-37). 

Menyangkal Diri
Panggilan Kristus untuk menyangkal diri sangatlah bertolak belakang dengan upaya untuk memperoleh isi dan kuasa dunia. Sebab makna “menyangkal diri” justru secara bersengaja menolak untuk bersikap serakah, tidak haus kekuasaan, mampu mengendalikan hawa-nafsu, mencukupkan diri dengan berkat yang dimiliki dan mengutamakan kehendak Allah di atas segala-galanya. Dengan demikian ciri kehidupan umat beriman seharusnya ditandai oleh sikap penyangkalan diri. Semakin  kita mampu menyangkal diri, maka kita dimampukan untuk menyelamatkan nyawa dalam arti yang sesungguhnya. Sebab   “nyawa” kita berhasil dikendalikan sedemikian rupa sehingga orientasi dari “nyawa” kita tersebut tetap terarah kepada Allah. Di  kitab Kej. 17:1-2, Allah menyatakan diriNya kepada Abraham dengan suatu perjanjian kekal, yaitu: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak". Abraham dipanggil oleh Allah untuk hidup di hadapanNya dengan tidak bercela atau sempurna (Ibr “tamim”: perfect, complete) sebagai syarat terwujudnya ikatan perjanjian kekal. Di sini muncul suatu hubungan ide antara sikap menyangkal diri dengan hidup yang tidak bercela. Sebab bukankah salah satu tujuan utama dari penyangkalan diri adalah pola hidup yang benar, yaitu hidup yang tidak bercela di hadapan Allah dan sesama? Pada pihak lain suatu pola hidup yang tidak bercela tidaklah mungkin diwujudkan tanpa sikap penyangkalan diri. Kedua aspek sikap etis-moril tersebut ditempatkan di bawah otoritas Allah sebagai Yang Mahakuasa. Sebagaimana diketahui bahwa dalam penyataan kepada Abraham, Allah menyebut diriNya sebagai “Yang Mahakuasa”  אל שדי )  ), “El Shaddai” yang berarti “to overpower” dan juga “to destroy”. Allah pada hakikatnya adalah Yang Mahakuasa dan yang mampu membinasakan setiap orang yang hidup bercela. Sehingga mereka yang tidak mau menyangkal diri, maka pastilah akan berhadapan dengan Allah Yang Mahakuasa. Dengan demikian makna menyangkal diri merupakan suatu panggilan yang mutlak, apabila manusia ingin tetap hidup dalam ikatan perjanjian kekal dengan Allah. Dengan arti yang sama, Tuhan Yesus juga menempatkan sikap menyangkal diri sebagai syarat utama untuk mengikut Dia: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”  (Mark. 8:34).

                Di tengah-tengah zaman yang serba bebas dan modern ini kita sering mencoba untuk melunakkan makna menyangkal diri. Sebab kita sering mengalami kesulitan untuk hidup benar atau tanpa cela sebagai wujud dari sikap  penyangkalan diri. Untuk itu makna penyangkalan diri sering terbatas pada upaya “membatasi” suatu kegemaran tertentu saja seperti: merokok, menonton film yang tidak senonoh, mengurangi makanan daging dan lemak, minuman yang beralkohol, pola hidup yang royal, dan sebagainya. Tentunya beberapa upaya “diet” yang bersengaja untuk membatasi diri tersebut di  atas sangat positif dan bermanfaat. Tetapi perlu dipahami pula bahwa makna menyangkal diri lebih luas dan dalam dari pada sekedar upaya “diet” fisik dan “diet” rohaniah. Sebab tidak secara otomatis mereka yang memberlakukan “diet” fisik dan rohaniah mampu hidup benar dan tidak bercela di hadapan Allah. Kita mungkin berhasil hidup sehat secara jasmaniah dan rohaniah, tetapi justru sering gagal untuk mengendalikan hawa-nafsu dan keserakahan yang secara substansial lebih berbahaya dari pada sekedar tidak menonton film yang cabul atau hidup yang berhemat. Misalnya: tidak suka menonton film cabul tetapi suka mempraktekkan perzinahan, tidak suka royal dalam berbelanja tapi suka merebut hak milik orang lain, tidak suka minuman beralkohol tetapi suka menipu sesama, tidak suka merokok tetapi suka menyebar fitnah, tidak makan daging dan lemak tapi suka melampiaskan kemarahan. Sikap penyangkalan diri lebih terkait dengan kesediaan untuk terus mengendalikan seluruh elemen kepribadian yang cenderung dan menyukai apa yang bercela atau yang duniawi. Karena itu sikap penyangkalan diri senantiasa merupakan respon iman yang selalu bersedia untuk menilai keadaan diri sendiri secara jujur dan obyektif agar semakin tersedia ruang yang leluasa bagi karya pembaharuan Allah. Hasilnya adalah karya pembaharuan Allah yang akan memampukan kita untuk hidup benar di hadapanNya. Yang mana pola hidup benar tersebut kita lakukan berdasarkan panggilan iman, dan bukan karena ketaatan legalistik kepada hukum-hukum Allah. Dengan demikian pola kehidupan kita seperti yang dilakukan  oleh Abraham, yang senantiasa dilandasi oleh iman yang kokoh kepada Allah. Rasul Paulus berkata: “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan”  (Rom. 4:20-21).

Belajar Dari Iman Abraham
Bapa Abraham sangat diberkati dengan kasih karunia Allah yang istimewa, tetapi pada pihak lain dia tidak segera memperoleh apa yang diinginkan. Sesungguhnya Abraham sejak dia menikah telah sangat merindukan kehadiran seorang anak yang dilahirkan oleh Sara. Tetapi sampai dia dan Sara berusia uzur, Allah belum mengaruniakan seorang anak.   Padahal Abraham waktu itu telah berusia 99 tahun dan Sara berusia sekitar 89 tahun. Secara  medis tidaklah mungkin seorang wanita dapat melahirkan dalam usia 80 tahun lebih, karena proses persalinannya akan sangat berbahaya. Juga tidaklah mungkin, dalam usia lanjut seorang wanita dapat melahirkan karena pastilah dia telah mati haid. Apa yang tidak mungkin terjadi secara manusiawi, secara khusus dalam kasus ini menjadi suatu kemungkinan. Padahal nama Abram yang artinya: bapa yang mulia/luhur diubah oleh Allah menjadi “Abraham” yang artinya: bapa orang banyak. Tetapi  ternyata dia dan Sara dalam usia yang sangat lanjut tetap belum memiliki seorang anak. Selama proses penantian yang begitu panjang tentunya merupakan proses yang sangat sulit, berat, kadang timbul rasa bimbang, kuatir dan putus-asa. Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah dalam diri Abraham adalah sikap iman dan kesetiaannya. Proses “penyangkalan diri” Abraham untuk melawan semua kebimbangannya atau rasa kuatirnya sebagai seorang manusia bukanlah suatu perkara yang gampang. Ritme imannya dapat “naik-turun”. Tetapi yang luar biasa Abraham tidak pernah kehilangan kesetiaan kepada Allah yang telah berjanji akan mengaruniakan keturunan yang banyaknya seperti bintang di langit (Kej. 15:5). Itu sebabnya rasul Paulus menyatakan: “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah” (Rom. 4:19-20).  Tepatnya Abraham dalam menantikan janji Allah menjelang usia lanjut senantiasa dipenuhi oleh pergumulan yang sangat berat untuk melawan dan menyangkal kehendak dirinya untuk segera memperoleh seorang keturunan dari rahim Sara. Tetapi proses penyangkalan diri yang dilakukan oleh Abraham tersebut tidak didasarkan kepada kekuatan dan kemampuan dirinya, tetapi didasarkan kepada imannya yang percaya penuh kepada janji Allah di depan.

                Dalam sikap penyangkalan diri untuk mengikut Kristus seharusnya kita mau meneladani sikap iman Abraham. Abraham tetap percaya kepada janji Allah di depan, walau dia sering dipenuhi oleh berbagai pergumulan dan ketidakpastian, rasa kuatir dan bimbang. Kegagalan kita untuk menyangkal diri disebabkan karena kita sering kehilangan   perspektif iman ke depan. Masa depan sering kita anggap serba kelabu dan kelam, sehingga kita merasa tidaklah mungkin dapat mengalami realisasi dari janji Allah. Akibatnya kita kehilangan iman dan kesetiaan kepada Kristus. Penyangkalan diri bukanlah sekedar suatu upaya pembebasan diri dari belenggu dan godaan atau pencobaan di masa kini, tetapi juga suatu langkah untuk merealisasikan sikap iman yang selalu siap untuk menyambut uluran janji keselamatan Allah di depan. Itu sebabnya gambaran dari orang yang menyangkal diri dan mengikut salib tidak pernah ditempatkan di depan Tuhan Yesus, tetapi berada di belakang Tuhan Yesus.  Kita seharusnya berjalan dengan iman di belakang Tuhan Yesus. Bahkan tepatnya Tuhan Yesus adalah manifestasi dari masa depan tersebut. Sehingga ketika Kristus berjalan menuju salib, maka seharusnya kita berjalan mengikuti Dia. Tetapi realitanya sikap kita seperti Petrus yang segera menegor Tuhan Yesus (Mark. 8:32).  Kita menghendaki agar Kristus mau menjauh dari salib dan kematian agar Dia semakin leluasa untuk memperoleh kuasa dunia.  Sehingga kalau Kristus memiliki seluruh kuasa dunia ini, bukankah kita juga beruntung sebab dapat memperoleh kuasa dunia tersebut? Pola pikir kita sering hanya memikirkan keinginan manusiawi, tetapi mengabaikan apa yang dipikirkan dan dikehendaki oleh Allah. Tetapi tidaklah demikian sikap Abraham, dia tetap mengedepankan sikap iman dan kesetiaannya agar seluruh kehendak dan rencana Allah terwujud sesuai dengan janjiNya.

Panggilan
Proses pengujian untuk menyangkal diri sangat nyata ketika harapan dan keinginan kita tidak terpenuhi dalam waktu yang singkat. Karena umumnya kita menghendaki dalam waktu singkat dapat meraih banyak hal dalam kehidupan ini. Itu sebabnya kita sering tidak sabar saat menantikan janji Allah yang kadang begitu lama perwujudannya.  Mengikut Kristus  membutuhkan kesabaran dan kerelaan untuk dipimpin ke arah yang Dia kehendaki. Bagi dunia, salib dan penderitaan merupakan cela. Tetapi bagi Allah, salib merupakan wujud dari dimensi kasih Allah yang membenarkan setiap orang percaya. Melalui salib Kristus, Allah menganugerahkan keselamatan agar umat hidup dalam perjanjian dan keselamatan kekal. Ini terjadi karena Kristus mau menyerahkan nyawaNya bagi kita. Jika demikian, bagaimanakah sikap kita: apakah kita lebih memilih mempertahankan nyawa; atau kita mau menyerahkan nyawa kita untuk kemuliaanNya? Selain itu apakah hidup kita terus terarah ke depan yaitu kepada Kristus yang menguasai seluruh kehidupan manusia? Ataukah hidup kita lebih terarah untuk merebut banyak hal agar kita merasa diri lebih kaya dan aman? Tuhan Yesus berkata: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mark. 8:35). Bagaimanakah jawaban saudara? Amin.

 

 

Last Updated ( Tuesday, 17 February 2009 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday190
mod_vvisit_counterYesterday1499
mod_vvisit_counterThis week6805
mod_vvisit_counterThis month61682
mod_vvisit_counterAll2419469

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2547 hits)
Firman Hidup 50   (2434 hits)
Firman Hidup 55   (2408 hits)
Cyber GKI   (2199 hits)
The Meaning of Worship   (2002 hits)
TextWeek   (1917 hits)
Contact YBM   (1867 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::