HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun B arrow KHOTBAH MINGGU, 16 AGUSTUS 2009
KHOTBAH MINGGU, 16 AGUSTUS 2009 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 08 July 2009
Renungan Minggu, 16 Agustus 2009
Tahun B: Minggu Biasa XV
Warna: Hijau

HIKMAT HIDUP
I Raj. 2:10-12, 3:3-14; Mzm. 34:9-14; Ef. 5:15-20; Yoh. 6:51-58

Pengantar
    Salah satu doa yang menyentuh hati dan mengungkap bagaimana seseorang harus hidup bijaksana  (berhikmat) adalah doa yang ditulis oleh Reinhold Niebuhr. Doa Reinhold Niebuhr yang dimaksud adalah “The Serenity Prayer” (Doa Kedamaian), yaitu:

God grant me the serenity
to accept the things I cannot change;
courage to change the things I can;
and wisdom to know the difference.
(Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kedamaian, untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah; keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah; dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya).

    Hikmat merupakan karunia rohaniah yang memampukan setiap orang yang memilikinya untuk mampu membedakan berdasarkan penilaian secara benar, tepat dan adil sehingga keputusannya menghasilkan kedamaian serta keselamatan bagi sesamanya. Tanpa kuasa hikmat, maka setiap aspek kehidupan akan berada dalam kekacauan, ketidakadilan, pertikaian dan penderitan serta kematian. Karena tanpa kuasa hikmat, setiap orang akan kehilangan kemampuan untuk membuat pertimbangan yang jujur dan obyektif. Juga tanpa kuasa hikmat setiap orang akan mengedepankan hawa-nafsu, keinginan dan kepentingannya sendiri. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau hikmat sejak awal kehidupan umat manusia selalu memiliki nilai rohaniah yang terdepan. Melalui hikmat pula umat manusia berupaya membangun suatu peradaban yang lebih manusiawi. Sehingga semakin roh hikmat merata dan terkondisi dalam kehidupan suatu bangsa, maka semakin tinggi pula kualitas peradaban yang dibangunnya. Demikian pula sebaliknya. Semakin roh hikmat terbelenggu sehingga semakin sedikit orang yang memilikinya, maka semakin rendah pula kualitas peradaban yang dibangun oleh masyarakat tersebut. Hikmat menentukan nilai dan kualitas kehidupan. Dengan demikian perdamaian, kesejahteraan dan keselamatan hidup bersama hanya menjadi suatu kenyataan manakala dibangun di atas dasar hikmat.

    Namun kenyataannya, mengapa umat manusia sepanjang sejarah sering gagal untuk menghadirkan hikmat? Berbagai bangsa memang berhasil membangun peradaban yang tinggi dan mengagumkan, tetapi sering peradaban tersebut diwarnai oleh kekerasan  dan kekejaman. Makna peradaban sering hanya dipahami sebatas pada tingginya nilai kesenian, kekuatan militer yang hebat, pendidikan yang tinggi, bangunan yang kokoh dan ekonomi yang stabil. Padahal esensi peradaban yang utama adalah apakah para anggota masyarakatnya sungguh-sungguh beradab. Apakah para anggota masyarakat tersebut telah menerapkan nilai-nilai etis dan moralitas yang luhur, sehingga mereka jauh dari berbagai bentuk kekerasan dan kejahatan?  Sebab apa artinya kita berhasil membangun suatu kehidupan dengan berbagai fasilitas yang megah, mewah dan canggih tetapi moral merosot. Nilai hikmat berkaitan dengan tegaknya nilai-nilai etis-moril, sehingga umat manusia hidup dalam kebenaran dan kepastian akan keadilan. Peradaban layak disebut peradaban jikalau umat yang hidup di dalamnya beradab. Itu sebabnya kuasa hikmat secara umum berkaitan dengan nilai-nilai: “knowledge” (pengetahuan), “understanding” (pemahaman), “discretion” (kearifan), “intuitive understanding” (pengertian yang intuitif), dan “experience” (pengalaman). Aspek-aspek tersebut tidak pernah boleh terlepas, tetapi harus terintegrasi , yaitu saling menopang dan memperlengkapi. Yang mana daya pengikat agar tetap terintegrasi  dengan solid adalah sikap iman kepada Allah, sehingga hikmat atau kebijaksanaan mampu menghasilkan sikap kasih dan pengharapan. Apapun namanya “peradaban”, jikalau jauh dari sikap kasih bukanlah peradaban. Tepatlah firman Tuhan berkata: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan” (Amsal 1:7).

 Salomo: “Yang Dikaruniai Hikmat”
   
Hikmat perlu terus-menerus dicari, diperjuangkan dan dilatih. Karena itu hikmat sering berkaitan dengan kemampuan intelegensi. Walaupun harus dicatat bahwa kemampuan intelegensi tidaklah identik dengan hikmat. Sebab roh hikmat selalu melebihi dan melampaui daya kapasitas intelegensi atau kemampuan intelektual seseorang. Hikmat merupakan pengertian dan kemampuan untuk menimbang yang dikaruniakan Allah. Sehingga hikmat mampu menggunakan kemampuan intelektualitas secara utuh, tepat dan  membuka/mencelikkan kesadaran bagi banyak orang. Karunia inilah yang diminta oleh Salomo saat Allah menampakkan diri kepadanya di Gibeon. Di kitab I Raj. 3:9 Salomo memohon kepada Allah, yaitu: “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"  Yang diminta oleh Salomo adalah hati yang paham untuk menimbang suatu perkara pada saat dia menghakimi umat yang bersengketa atau menghadap suatu permasalahan, sehingga dengan jitu Salomo mampu membedakan apa yang baik dan yang jahat. Dengan demikian Salomo membutuhkan pengertian atau pengetahuan intelektualitas untuk mendeskripsikan dan menganalisis suatu kasus; dan pada pihak lain dia membutuhkan ketajaman spiritualitas dari Allah untuk membedakan secara tepat nilai-nilai yang baik dan yang buruk dengan tujuan mampu mengambil keputusan yang adil. Yang mana karunia hikmat dengan tekanan anugerah spiritualitas dari Allah tersebut sangat dibutuhkan oleh Salomo dengan suatu kesadaran bahwa “siapakah yang sanggup menghakimi umatMu yang besar ini?”  Salomo sangat membutuhkan hikmat yang besar karena dia menyadari betapa besar tanggungjawab yang sedang diembannya sebagai seorang raja.

    Dengan demikian daya lingkup dan kapasitas hikmat senantiasa sejalan dengan kualitas kesadaran akan tanggungjawab yang sedang atau yang akan diemban oleh seseorang. Semakin ringan tanggungjawab yang diemban seseorang, maka semakin kecil pula kapasitas hikmat yang diperlukan. Sebaliknya semakin besar kesadaran akan tanggungjawab seseorang sebagai seorang pemimpin, maka dia akan semakin membutuhkan pertolongan Allah berupa karunia hikmat yang lebih besar. Karena itu latar- belakang permohonan hikmat dari Salomo telah dinyatakan dalam I Raj. 3:8, yaitu: “Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya”. Kebutuhan Salomo akan hikmat yang besar dari Allah lahir dari kesadarannya akan realitas hidup yang sedang dihadapinya. Hikmat yang diminta oleh Salomo bukanlah suatu kuasa hikmat yang lepas dari realitas dan konteks hidup, yaitu umat Allah. Sebaliknya Salomo merindukan suatu realitas kehidupan yang senantiasa dijiwai oleh hikmat Allah. Sebab melalui karunia hikmat dari Allah, Salomo dapat mentransformasikan realitas kehidupan umat Israel menjadi realitas yang lebih bermakna dan berkenan di hadirat Allah. Hikmat merupakan karunia Allah yang mampu memaknai realitas kehidupan. Selain itu hanya  dengan hikmat Allah saja yang mampu membawa umat kepada suatu tujuan hidup yang lebih bermakna. Namun ternyata kesadaran dan kebutuhan akan hikmat ini dalam kenyataan hidup masih jauh dari harapan. Karena begitu banyak orang yang justru merasa tidak membutuhkan hikmat Allah. Orientasi mereka bukan kesadaran akan tanggungjawab yang besar terhadap kepentingan umat atau sesama, tetapi keinginan untuk memperoleh keuntungan materiil belaka. Jadi yang mereka perlukan adalah “hikmat” mencari uang atau “hikmat” untuk memperoleh profit dalam jumlah yang sebesar-besarnya. Hikmat dalam pengertian ini identik dengan suatu spiritualitas duniawi yang landasan etis-morilnya berupa sikap serakah. Jadi hikmat  dari Allah hanya dimungkinkan manakala kita bebas dari sikap egoistis dan serakah. Hikmat Allah hanya lahir dari hati yang tulus dan bening.

Hati Yang Bening
    Kualitas hati yang bening akan teruji, ketika dalam kehidupan ini kita memperoleh kesempatan untuk mengajukan suatu permintaan yang dianggap paling penting. Dalam penyataanNya di Gibeon, disaksikan Allah menawarkan kepada Salomo, yaitu: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu" (I Raj. 3:5). Tawaran Allah yang tampaknya sederhana itu, sesungguhnya tidak  mudah untuk dijawab oleh Salomo atau siapapun juga. Setiap orang akan cenderung menyampaikan jawaban dan permohonan yang dianggapnya paling baik. Bagi orang yang hidup serba kekurangan, mungkin dia akan meminta kekayaan yang berlimpah-limpah. Bagi orang yang sedang marah dan dendam terhadap lawannya, maka yang dia minta adalah penderitaan dan kematian bagi lawannya. Bagi orang yang sakit dan sulit tersembuhkan, yang dia kehendaki adalah kesehatan yang prima dan umur yang panjang.  Bagaimana jika seseorang telah kaya-raya? Apa yang akan dia mohonkan? Mungkin yang akan dia minta adalah kekuasaan yang tanpa batas. Bagi orang yang sangat sehat mungkin dia akan meminta popularitas. Pokoknya setiap orang akan cenderung menyampaikan permohonan doa yang tanpa batas untuk memenuhi apa yang belum dimilikinya. Sebab suatu permohonan yang telah dipenuhi akan terus melahirkan permohonan yang lebih tinggi atau mengajukan suatu permohonan terhadap sesuatu yang belum dimiliki. Ilustrasi berikut mengisahkan:

Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota.
Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja.
 Hakim memulai percakapan,
“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”
Nasrudin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukumlah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”
Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”
Nasrudin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”
Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”
Nasrudin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”
Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”
Dan Nasrudin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”


    Dalam teori Abraham Maslow (hidup: 1 April 1908 – 8 Juni 1970) pada prinsipnya menyatakan bahwa manusia memilki kebutuhan  dasar yang bertingkat seperti hierarki, berturut-turut dari bawah ke atas adalah: (1) kebutuhan fisiologis, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dan sebagainya; (2) kebutuhan akan rasa aman; (3) kebutuhan untuk dicintai; (4) kebutuhan untuk dihargai.  Sedangkan kebutuhan tumbuh di bagian  atas hierarkhi dari bawah ke atas: (5) kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (belajar); (6) kebutuhan keindahan; (7) kebutuhan aktualisasi diri. Perlu diperhatikan bahwa kebutuhan yang berada di hierarki lebih tinggi baru akan dirasakan apabila kebutuhan yang berada di hierarki lebih bawah telah terpenuhi. Jadi pada dasarnya manusia tidak akan pernah terpuaskan, bahkan setelah dia mencapai kebutuhan aktulisasi diri. Manusia akan selalu berusaha mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi dan seterusnya. Tentu ada hal-hal yang positif dan konstruktif terhadap upaya  pemenuhan kebutuhan-kebutuhan secara hierarkhis tersebut. Namun di sisi lain juga terdapat peluang bahaya keserakahan yang sangat berbahaya dan merusak. Itu sebabnya Allah sangat berkenan saat Salomo hanya meminta hikmat. Di I Raj. 3:11-12, Allah berfirman: "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum, maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian”. Dengan demikian, roh hikmat hanya lahir dari pilihan yang berkualitas. Roh hikmat dari Allah tidak mungkin lahir dari sekedar upaya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusiawi termasuk pula kebutuhan aktualisasi diri. Tanpa roh hikmat dari Allah, maka segala upaya pemenuhan kebutuhan dalam hierarki model Maslow hanya mampu memuaskan hasrat inderawi dan kebutuhan rohaniah yang dangkal. Sebaliknya dengan roh hikmat Allah, maka setiap orang dimampukan untuk memaknai setiap kebutuhan yang telah dicapainya dengan ucapan syukur. Jadi hikmat Allah akan memampukan setiap orang untuk mentransendensikan realitas kebutuhan yang telah dia capai untuk sesuatu yang lebih luhur, yaitu pola kehidupan yang mempermuliakan Allah.

Peka Dengan Kehendak Allah
    Hikmat yang murni hanya lahir dari hati yang mau memahami kehendak Allah. Dia selalu belajar untuk peka mendengar gema suara Allah di relung hatinya di tengah-tengah berbagai gema suara dunia. Karena itu tidaklah mudah bagi kita untuk mendengar dan memahami kehendak Allah. Dalam kehidupan sehari-hari kita mendengar begitu banyak suara dunia berupa berbagai ide, pendapat, ajaran dan gaya hidup yang simpang siur dan  berinteraksi dalam kehidupan kita. Hanya hati yang bening atau jernih saja yang akan mampu mendengar suara Allah dan kehendakNya. Kesulitan atau halangan kita untuk mendengar kehendak Allah dapat  diumpamakan seperti arloji seorang pria yang terjatuh di tengah-tengah tumpukan balok kayu saat dia duduk di atasnya. Dia berusaha memasukkan tangannya di sela-sela balok kayu tersebut. Beberapa kali dengan susah payah dia berusaha mengangkat balok kayu. Tetapi usahanya sia-sia.  Kemudian datanglah seorang anak kecil yang tergerak untuk menolong pria tersebut. Yang menarik, anak kecil tersebut tidak mau langsung membongkar tumpukan balok kayu atau memasukkan tangannya di sela-sela kayu tersebut. Tetapi dia terlebih dahulu duduk berdiam diri cukup lama.  Dia ingin terlebih dahulu mendengar bunyi jarum di arloji tersebut. Setelah itu barulah dia sedikit menggeser dan memasukkan tangannya di sela-sela balok kayu tersebut. Ternyata dia berhasil memperoleh arloji yang terjatuh karena dia terlebih dahulu mendengar suara bunyi yang begitu halus dari arloji tersebut. Demikian pula halnya sikap kita  untuk memahami maksud dari kehendak Allah. Kita perlu senantiasa memiliki hati yang bening dan jeli di tengah-tengah hiruk-pikuk suara dunia ini. Kita tidak mungkin dapat mendengar kehendak Allah dan berlaku bijaksana manakala hati kita sedang resah, gelisah, bingung dan panik. Itu sebabnya saat hati kita penuh gejolak, cenderung sensitif, kesal dan emosional maka yang kita hasilkan adalah berbagai tindakan yang bodoh. Sebab saat itu kita kehilangan kemampuan untuk menganalisis dan membuat pertimbangan yang obyektif terhadap permasalahan yang sedang dihadapi. Di surat Efesus rasul Paulus memberi nasihat: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” (Ef. 5:15).

     Sikap orang bebal adalah sikap yang tidak cermat dan kritis dalam memperhatikan nilai-nilai yang menjadi pola hidupnya. Mereka selalu menganggap kebebalannya sebagai suatu “kebenaran”. Kedangkalan pikirannya justru dianggap sebagai suatu “kepandaian”. Sebab yang mereka dengar adalah pandangan-pandangan atau pemikiran-pemikirannya sendiri yang tidak pernah teruji, terasah dan terukur.  Mereka tidak mau menggunakan waktu yang tersedia sebagai suatu kesempatan untuk menguji dan memproses pertumbuhan spiritualitas serta iman mereka. Tepatnya sikap bebal justru menutup pintu hati mereka rapat-rapat untuk menerima teguran firman Tuhan dan sesama di sekitar mereka. Itu sebabnya mereka tidak mampu pula menggunakan waktu yang tersedia secara bijaksana. Waktu yang tersedia justru dipakai untuk semakin mengkristalisasi pembenaran-pembenaran diri dan memuaskan hawa-nafsu duniawi. Di Ef. 5:16-17 rasul Paulus berkata: “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan”.  Tidaklah demikian sikap hidup orang yang berhikmat. Mereka selalu cermat dan kritis untuk memperhatikan nilai-nilai yang menjadi pola hidupnya. Mereka tidak pernah menganggap pengetahuan dan kepandaian yang dimiliki sebagai sesuatu yang “final”, tetapi dihayati sebagai suatu proses pembelajaran yang terus digeluti tanpa henti. Sehingga mereka selalu menggunakan waktu yang tersedia secara produktif untuk membangun diri dan lingkungannya. Dengan demikian sikap orang berhikmat selalu terbuka dan siap untuk dikoreksi. Sebab orientasi dan tujuan hidup mereka adalah selalu fokus untuk mencari kebenaran dalam kehendak Allah.

Berelasi Dengan Inkarnasi Sang Hikmat
    Hikmat Salomo yang penuh dengan roh pengertian semata-mata tidak berasal dari dirinya sendiri. Hikmat Salomo dianugerahkan oleh Allah. Berbeda dengan hikmat Budha yang semata-mata diperoleh dari upaya dirinya. Demikian pula sikap hidup orang beriman  dalam menghayati hikmat Allah. Mereka menyadari bahwa upaya manusiawi tidaklah cukup. Bahkan upaya manusiawi untuk memperoleh hikmat hanya menghasilkan kebebalan di hadapan Allah. Hikmat membutuhkan ketajaman iman untuk menyadari kehadiran inkarnasi sang Hikmat yang sesungguhnya. Karena itu hikmat akan tumbuh dan memiliki landasannya yang kokoh saat seseorang bersedia membuka dirinya terhadap Kristus. Dalam teologi Alkitab khususnya Injil Yohanes menyaksikan bahwa Kristus adalah inkarnasi dari Firman Allah. Yang mana hakikat sang Firman Allah sering diidentikkan dengan sang Hikmat Allah. Di Amsal 8:30-32, sang Hikmat Allah menyebut dirinya dengan kata “aku” (orang ganti pertama), yaitu: “aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya;  aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku. Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena berbahagialah mereka yang memelihara jalan-jalanku”. Sang Hikmat Allah tersebut berperan sebagai sang Anak Allah dan yang hadir dalam karya penciptaan dan pemeliharaanNya. Sehingga kebahagiaan dan keselamatan akan dianugerahkan Allah manakala umat percaya bersedia mengikuti jalan yang diajakan Kristus.

    Di Yoh. 6:51, Tuhan Yesus berkata: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia".  Sebagaimana roti atau nasi setiap hari dibutuhkan untuk menghasilkan enersi dan daya hidup, demikian pula manusia membutuhkan diri Kristus.   Manusia membutuhkan diri Kristus karena Dialah sumber hidup. Di Yoh. 1:4 menyaksikan: “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia”. Sangat menarik Kristus di sini disebut sebagai sumber hidup yang dihubungkan pula dengan terang. Kristus sang sumber hidup juga memiliki kuasa untuk memberi terang dalam kehidupan manusia. Jadi Kristus sebagai roti hidup berhubungan erat dengan hikmatNya yang menerangi kehidupan manusia. Sehingga iman kepada Kristus akan membuka anugerah Allah yang memungkinkan kita menjalin relasi  secara personal dengan Dia, dan juga memampukan kita untuk memperoleh anugerah hikmatNya yang menerangi perjalanan hidup kita. Tanpa Kristus selaku roti hidup dan sang hikmat, maka kehidupan manusia akan berakhir dengan kesia-siaan. Sama seperti umat Israel yang hanya makan roti manna, mereka semua akhirnya mati di padang gurun (Yo. 6:49).  Dengan demikian bahaya terbesar bagi umat manusia adalah kebebalan yang menutup pintu hatinya bagi Kristus. Mereka tidak mau menggunakan waktu yang tersedia untuk membuka hati dan menjalin relasi secara personal dengan Kristus. Hati mereka dipalingkan kepada “kebijaksanaan dunia” dan tidak cermat secara kritis terhadap berbagai pengajaran agama yang ujung-ujungnya mempermuliakan dirinya sendiri dan jauh dari sikap kasih. Manakala telah diakui secara umum bahwa Kristus adalah inkarnasi sang Firman Allah dan Hikmat Allah, mengapa manusia masih mencari kebenaran di luar Kristus?  Manusia cenderung menganggap dirinya berhikmat, tetapi sering bebal untuk melihat suatu kebenaran Allah yang telah tampak secara jelas.

Panggilan
    Hidup yang bermakna hanya mungkin jikalau kita memiliki roh hikmat. Untuk itu kita perlu memperdalam iman kepada Kristus selaku sumber hidup dan hikmat. Atas dasar relasi personal dengan Kristus, kita dipanggil untuk mampu menggunakan waktu yang  tersedia secara bijaksana. Kita dipanggil untuk mengisi setiap kesempatan untuk mempermuliakan Allah dan mengasihi sesama. Karena inti dari seluruh rahasia hikmat adalah mempermuliakan sang Khalik dan memberlakukan kasih kepada setiap orang di sekitar kita. Dengan demikian tujuan dari hidup yang berhikmat adalah kesediaan untuk mentransformasikan diri terus-menerus agar kita dimampukan Allah untuk mentransformasikan sesama dan lingkungan di sekitar kita. Bukankah hasil transformasi diri dan lingkungan akan menghasilkan suatu peradaban yang benar-benar beradab, yaitu suatu kehidupan lebih manusiawi, adil dan penuh kasih.  Jika demikian, apakah kehidupan kita selaku umat Kristen telah berhikmat? Ataukah justru kehidupan kita masih ditandai oleh berbagai kebebalan dan kekerasan hati sehingga kita lebih cenderung untuk selalu membenarkan diri? Rasul Paulus berkata: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,  dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Ef. 5:15-16). Bagaimana respon saudara? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
Last Updated ( Tuesday, 14 July 2009 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1824
mod_vvisit_counterYesterday3224
mod_vvisit_counterThis week16006
mod_vvisit_counterThis month5048
mod_vvisit_counterAll2441774

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2553 hits)
Firman Hidup 50   (2439 hits)
Firman Hidup 55   (2410 hits)
Cyber GKI   (2203 hits)
The Meaning of Worship   (2009 hits)
TextWeek   (1922 hits)
Contact YBM   (1870 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::