HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun B arrow KHOTBAH MINGGU KRISTUS RAJA, 22 NOPEMBER 2009
KHOTBAH MINGGU KRISTUS RAJA, 22 NOPEMBER 2009 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Monday, 19 October 2009
Renungan Minggu, 22 Nopember 2009
Tahun B: Minggu Kristus Raja
Warna: Putih

KRISTUS ADALAH RAJA
Dan. 7:9-10, 13-14; Mzm. 93; Why. 1:4b-8; Yoh. 18:33-37

Pengantar
    Gelar Yesus yang paling akrab dalam penghayatan iman Kristen adalah Tuhan dan Juru-selamat. Yang mana kedua gelar Yesus  sebagai Tuhan dan Juru-selamat tersebut telah menjadi rumusan kredo (pengakuan iman). Di Rom. 10:9, rasul Paulus berkata: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan  dan percaya  dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati  maka kamu akan diselamatkan”. Dalam konteks ini rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan akan dianugerahkan Allah kepada setiap orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan yang telah dibangkitkan Allah dari orang mati. Iman kepada tindakan atau karya Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati adalah iman yang percaya bahwa Kristus adalah Juru-selamat. Pertanyaan yang muncul adalah jika anugerah keselamatan telah cukup dinyatakan dengan mengimani bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru-selamat, maka untuk apa kita membahas gelar Kristus adalah Raja? Bukankah pembahasan tentang gelar Yesus sebagai Raja dapat menjadi pengulangan dengan pembahasan gelar Yesus sebagai Tuhan? Dalam hal ini kita harus mengakui bahwa pembahasan gelar Yesus sebagai Raja kadang-kadang mirip dengan substansi pembahasan Yesus sebagai Tuhan. Sebab makna gelar Yesus sebagai “Tuhan” (Kurios) menunjuk pada pengertian: tuan, guru, majikan atau pemilik.  Dengan demikian gelar Kristus sebagai Tuhan (Kurios) juga menunjuk kepada suatu pengakuan bahwa Kristus adalah sang pemilik seluruh kehidupan umat manusia. Bukankah gelar Yesus sebagai raja juga menunjuk suatu pengakuan dan sikap pengabdian seseorang kepada tuan atau majikan dan pemilik hidupnya?  Semakin terlihat bahwa gelar Yesus sebagai Tuhan memiliki kemiripan dengan gelar Yesus sebagai Raja. Sebab saat manusia berhadapan  dengan Allah yang bergelar Tuhan atau Raja, maka setiap orang wajib datang merendahkan diri dan menyembahNya dengan khidmat. Jika demikian, apa kekhususan gelar Yesus sebagai Raja? Mengapa gelar Yesus sebagai Raja senantiasa dirayakan secara khusus sebelum umat percaya memasuki masa Advent?

Konteks Kitab Daniel
    Kesaksian kitab Daniel pasal 7 patut mendapat perhatian dalam menyikapi pengakuan umat percaya bahwa Yesus adalah Raja. Sebab di kitab Daniel pasal 7, kita dapat melihat bagaimana Daniel memperoleh karunia berupa penyataan Allah yang menyingkapkan berbagai peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Di Dan. 7:1 dimulai dengan suatu kesaksian, yaitu: “Pada tahun pertama pemerintahan Belsyazar, raja Babel, bermimpilah Daniel dan mendapat penglihatan-penglihatan  di tempat tidurnya.    Lalu dituliskannya mimpi itu”.  Dengan demikian para penguasa atau raja yang akan tampil sesuai dengan mimpi yang dialami oleh Daniel telah dimulai dari kerajaan Babel. Keempat penguasa atau para raja yang dilihat oleh Daniel dalam mimpinya dinyatakan dalam bentuk binatang yang keluar dari air laut. Dalam pemahaman Apokaliptis Yahudi,  laut dimaknai sebagai tempat kediaman kuasa kegelapan (bdk. Why. 13:1). Bandingkan pula dengan keadaan bumi yang belum berbentuk, kosong dan kacau serta ditutupi oleh air. Keadaan menjadi berubah, saat Roh Allah melayang-layang di atas air dan Allah berfirman: “Jadilah terang!” (Kej. 1:2-3). Jika Roh Allah tidak menaklukkan laut, maka laut menjadi tempat kuasa kegelapan. Karena itu para penguasa atau raja yang muncul dari laut secara simbolis menunjuk kepada tempat penguasa kegelapan. Secara bersengaja pula karakter para penguasa dari kuasa kegelapan tersebut digambarkan oleh kitab Daniel atau kitab Wahyu dengan simbol binatang. Sehingga keempat penguasa dan kerajaan yang akan muncul tersebut  menampilkan diri sebagai para tiran yang memberlakukan kekerasan dan kekejaman. Daniel melihat binatang pertama yang muncul adalah seekor singa dan memiliki sayap burung rajawali. Binatang kedua adalah seekor beruang. Binatang ketiga adalah seekor macan tutul yang memliki empat sayap burung pada punggungnya. Binatang keempat adalah seekor binatang yang dahsyat dan menakutkan yang memiliki gigi besar dari besi serta juga memiliki tanduk sepuluh.

Keempat Penguasa Atau Keempat Kerajaan
  
 Karena para penguasa atau raja tersebut digambarkan dengan binatang, maka tidaklah mudah  bagi para ahli tafsir untuk menebak secara persis siapa yang dimaksudkan Allah dalam mimpi Daniel tersebut. Secara umum para ahli tafsir Alkitab menafsirkan bahwa keempat binatang yang dilihat oleh Daniel dalam mimpinya menunjuk kepada keempat kerajaan besar yang mempengaruhi sejarah kehidupan umat manusia, yaitu kerajaan: Babel, Medi-Persi, Yunani dan Romawi. Dengan demikian binatang pertama yaitu seekor singa dan memiliki sayap burung rajawali menunjuk kekuasaan kerajaan Babel. Binatang kedua yaitu beruang menunjuk kepada kekuasaan kerajaan Medi-Persi. Binatang ketiga yaitu macan tutul yang memliki empat sayap burung pada punggungnya menunjuk kepada kerajaan Yunani. Dan binatang ketiga yaitu binatang yang dahsyat dan menakutkan yang memiliki gigi besar dari besi serta juga memiliki tanduk sepuluh menunjuk kepada kerajaan Romawi.

    Kriteria yang dipakai untuk menentukan bahwa binatang tersebut menunjuk kepada suatu kerajaan atau raja selain didasari oleh urutan kronologis peristiwa sejarah, juga didasarkan kepada sifat atau karakter dari binatang tersebut. Binatang pertama yaitu singa  yang memiliki sayap burung rajawali menunjuk kepada kerajaan Babel sebab sifat dari kerajaan Babel sepert seekor singa yang ganas, kuat dan memiliki kekuasaan yang absolut. Dalam hal ini raja Nebukadnezar dari Babel memiliki kecepatan yang luar biasa dalam menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya seperti seekor singa yang memiliki sayap burung rajawali. Binatang kedua  adalah beruang yang dianggap menunjuk kepada kerajaan Medi-Persi. Tentunya beruang lebih lemah dibandingkan dengan singa, karena itu kekuasaan dan wilayah kerajaan Medi-Persi lebih lemah dibandingkan kerajaan Babel. Kerajaan Medi-Persi tidak mampu untuk menaklukkan semua kerajaan di bumi. Karena itu simbol hewan beruang itu di antara giginya terdapat 3 buah tulang rusuk sebab dia tidak dapat melumatnya. Simbol binatang ketiga yaitu seekor macan tutul yang memiliki sayap burung di punggungnya menunjuk kepada kerajaan Yunani sebab penguasa mereka yaitu Aleksander Agung terkenal dengan kekejaman, kelicikan dan kecepatan yang luar biasa sehingga dalam waktu singkat dia dapat menaklukkan kerajaan Syria, Mesir, India dan beberapa kerajaan lainnya. Apabila disebutkan bahwa macan tutul tersebut juga memiliki 4 kepala, karena setelah Aleksander Agung wafat pada tanggal 10 Juni 323 sM kekuasaannya dilanjutkan oleh 4 orang jenderal, yaitu: Seleucus Nicanor, Perdiccas, Antigonus, Cassander dan Ptolomeus. Sedang binatang keempat yaitu binatang yang dahsyat dan menakutkan yang memiliki gigi besar dari besi serta juga memiliki tanduk sepuluh menunjuk kepada kerajaan Romawi sebab kerajaan Roma mampu tampil sebagai suatu kerajaan yang luar biasa kuat dan berhasil menaklukkan 10 kerajaan besar di dunia yaitu: Italia, Perancis, Spanyol, Jerman, Inggris, Sarmatia, Pannonia, Asia, Yunani, dan Mesir.

Misteri “Anak Manusia” Dalam Penglihatan Kitab Daniel
    Setelah keempat kerajaan atau para penguasa tersebut, Daniel melihat suasana sorgawi di mana Allah bertakhta dengan  kemuliaanNya. Bersama dengan para malaikatNya, Allah menggelar suatu pengadilan sorgawi di mana keempat binatang tersebut dibinasakan. Kekuasaan mereka sebagai penguasa dicabut. Lalu tak lama kemudian Daniel melihat bagaimana dengan awan-awan dari langit datanglah seorang seperti anak manusia menghampiri “Yang Lanjut Usia” (menunjuk kepada diri Allah). Kepada orang yang seperti “anak manusia” tersebut, Allah mengaruniakan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan sebagai seorang raja (Dan. 7:13-14). Dengan demikian penglihatan yang dialami oleh Daniel tersebut sangat kontras. Semula Daniel melihat keempat binatang yang keluar dari laut, tetapi kini dia melihat seorang seperti “anak manusia” yang datang dari sorga. Bila keempat binatang yang keluar dari laut menunjuk kepada para penguasa yang kejam dan menyombongkan diri, maka si penguasa “yang seperti anak manusia” dari sorga tersebut memperlihatkan karakter ilahi. Sehingga kitab Dan. 7:14 menyatakan: “Lalu diberikan kepadanya kekuasaan  dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya.  Kekuasaan penguasa yang seperti anak manusia ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan  yang tidak akan musnah”. Karena kekuasaan  rajawi dari sang anak manusia tersebut tidak dilandasi oleh karakter para binatang (“para tiran”) dan “laut” sebagai simbolisasi dari kuasa kegelapan.  Sebaliknya kekuasaan sang anak manusia yang datang dari sorga itu ditandai oleh sifat-sifat Allah yaitu kasih, keadilan dan pengampunan. Itu sebabnya kekuasaan sang anak manusia tersebut tidak akan pernah musnah dan tetap kekal selama-lamanya.

    Penglihatan Daniel tentang tokoh sang anak manusia walau telah sangat jelas mengarah kepada seorang pribadi yang berasal dari sorga dengan kualitas kasih ilahi sebagai ciri karakternya, namun sering maknanya diselewengkan kepada tokoh-tokoh penakluk dunia yang dianggap berkuasa. Seakan-akan tokoh sang anak manusia yang dilihat oleh nabi Daniel tersebut menunjuk kepada seorang tokoh pendiri agama tertentu atau tokoh sejarah yang mampu menaklukkan dunia. Padahal tokoh agama atau para penakluk dunia tersebut terbukti secara faktual menggunakan kekerasan senjata dan tindakan yang kejam.  Dasar anggapan  mereka adalah tokoh penakluk tersebut dianggap terbukti mampu menguasai sebagian besar umat manusia dengan pengikut dan ajarannya. Padahal yang ditekankan oleh penglihatan dalam kitab Daniel, bahwa tokoh tersebut sesungguhnya bukan berasal dari “laut” (kuasa kegelapan) dan juga bukan dari “bumi” (bdk. Why. 13:1, 11); tetapi dari sorga, yaitu Dia berasal dan sehakikat dengan Allah.  Dengan demikian tokoh sang “anak manusia” dalam kitab Daniel menunjuk kepada “mahluk sorgawi yang mulia”. Jadi tokoh sang anak manusia tersebut jelas tidak pernah menunjuk tokoh pendiri agama atau seorang nabi yang dianggap sebagai “nabi zaman akhir”.  Karena tokoh sang “Anak Manusia” tersebut mampu menghampiri takhta Allah secara langsung. Padahal dalam kesaksian Alkitab menyatakan bahwa tidak ada seorang manusiapun yang dapat hidup saat dia berhadapan dengan kekudusan Allah.  Jadi untuk menjawab permasalahan ini, kita dapat menyatakan kesaksian Alkitab, yaitu:

1. Tokoh sang Anak Manusia yang dilihat oleh Daniel sesungguhnya menunjuk kepada diri Yesus Kristus, sebab hanya Dia yang datang dari Allah, dan hanya Dia pula yang telah melihat Allah (Yoh. 6:46). Eksistensi Kristus datang dari sorga. Tuhan Yesus berkata: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Yoh. 6:51).

 2. Berulangkali Yesus menyebut diriNya sebagai “Anak Manusia”. Dalam keempat Injil terdapat sekitar 85 lebih pernyataan Yesus sebagai “Anak Manusia”. Gelar inilah yang paling disukai oleh Yesus, sekaligus suatu gelar yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menyingkapkan misteri tokoh sang “Anak Manusia” dalam kitab Daniel. Itu sebabnya saat Tuhan Yesus diadili di depan Kayafas, Dia memberi pernyataan yang tegas tentang jati-diriNya, yaitu: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa  dan datang di atas awan-awan di langit” (Mat. 26:64).

3. Gambaran tokoh sang “Anak Manusia” dalam kitab Daniel disebutkan akan datang dengan awan-awan untuk memperlihatkan kekuasaan dan kemuliaanNya sebagai seorang Raja. Sangat menarik di Mat. 25:31-32, Tuhan Yesus menyebut diriNya sebagai Anak Manusia yang kelak akan datang kembali dengan awan-awan, yaitu: "Apabila Anak Manusia datang  dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta  kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan  mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing”.  Dengan demikian tokoh sang Anak Manusia dalam penglihatan Daniel jelas menyatakan kemuliaan Kristus sehingga Dia memiliki wewenang untuk mengadili semua bangsa. Gambaran ini sangat sesuai dengan konteks kehadiran sang Anak Manusia dalam suasana pengadilan ilahi (Dan. 7:9-13). Kebenaran tersebut juga dikuatkan dengan kesaksian dari kitab Wahyu yang menunjuk kepada diri Kristus, yaitu: “Lihatlah, Ia datang  dengan awan-awan   dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia.  Dan semua bangsa di bumi akan meratapi  Dia. Ya, amin”  (Why. 1:7). Jadi identitas sang Anak Manusia yang datang dalam awan-awan menyatakan keberadaan otentik Yesus Kristus dari sorga untuk membedakan secara tajam dengan keberadaan dari para penguasa dunia atau para penakluk dalam bidang: politik, agama, ekonomi dan ideologi.

Identitas Yesus Sebagai Raja
    Identitas tokoh sang Anak Manusia yang hadir dalam diri Tuhan Yesus pada satu segi menyatakan eksistensiNya berasal dari sorga, tetapi pada satu segi yang lain penampilan lahiriahNya sebagai manusia sama sekali tidak memperlihatkan kekuasaan seorang Raja. Lebih tepat jabatan Kristus sebagai Raja ditampilkan sebagai seorang raja sorgawi yang menyamar (the hidden king). Pilatus bertanya kepada Yesus perihal dugaan dan tuduhan para pemimpin agama Yahudi, yaitu: “Engkau inikah raja orang Yahudi?” (Yoh. 18:33). Sebenarnya para pemimpin agama Yahudi dan Pilatus sama-sama melihat kemungkinan jabatan Kristus sebagai Raja sorgawi. Tetapi para pemimpin agama Yahudi ternyata lebih memilih untuk menolakNya, bahkan menganggap Yesus telah menghujat Allah. Terhadap pertanyaan dan keragu-raguan para pemimpin agama Yahudi dan Pilatus, Tuhan Yesus kemudian memberi jawaban dan pernyataan yang sangat penting, yaitu: "Kerajaan-Ku  bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi,   akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini” (Yoh. 18:36).  Memang selama hidupNya yang relatif singkat, Kristus sama sekali tidak pernah mengenakan atribut atau tanda-tanda seorang raja duniawi. Dia tidak pernah memiliki suatu istana kerajaan, mahkota dan para prajurit sebagai simbol kekuasaanNya. Bahkan kematian yang dialami oleh Kristus begitu hina dan tragis. Tetapi di balik semua “ketersembunyianNya”, jabatan Kristus sebagai seorang Raja sorgawi yang mampu menguasai hati umat manusia sepanjang zaman tidak mungkin dapat disembunyikan. Misteri ini pernah menjadi pertanyaan yang mendalam di dalam diri saya, dan secara lembut Allah pula membimbing saya kepada suatu jawaban dan pengakuan iman bahwa Kristus adalah Tuhan dan Raja. Khususnya secara tidak sengaja saat saya merenungkan kisah penyaliban Yesus, justru saat itulah iman saya semakin diteguhkan akan kemuliaanNya sebagai Raja. Walaupun Kristus tidak pernah memiliki mahkota seorang raja, tetapi kuasa kasihNya telah menjadi mahkota yang bertakhta di hati banyak orang. Kuasa kasih dan pengorbananNya yang membuat Dia berkuasa atas seluruh hidup umat manusia dan para penguasa sepanjang zaman. Itu sebabnya di Why. 1:5-6, rasul Yohanes memberi kesaksian saat Dia melihat kemuliaan Kristus sebagai seorang Raja, yaitu: “dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia,  yang pertama bangkit dari antara orang mati  dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita  dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam  bagi Allah, Bapa-Nya, bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin”. Kerajaan dan jabatanNya sebagai Raja sorgawi justru diungkapkan melalui kematian dan darah yang ditumpahkan, sehingga umat percaya dijadikan warga KerajaanNya.  

    Namun apakah mata rohani kita cukup peka untuk melihat kemuliaan Allah di balik berbagai hal yang tampaknya sederhana dan hina? Betapa sering mata rohani kita seperti sikap para pemimpin agama Yahudi yang sering menegarkan hati sehingga kita tidak mampu melihat kehadiran Kristus dalam kehidupan sesama di sekitar kita. Di tengah-tengah dunia yang dikuasai oleh materialisme  dan konsumenisme ini, kita sering mengukur martabat dan kemuliaan sesama berdasarkan barang yang dipakainya. Apabila sesama mengenakan berbagai barang atau perhiasan yang sangat mahal, kita memberi sikap hormat. Tetapi apabila sesama kita tidak mengenakan sesuatu yang berarti secara ekonomis, kita sering memandang dia dengan sikap yang meremehkan. Pola pikir atau filosofi hidup kita seperti orang-orang duniawi yang mengukur segala sesuatu dari nilai-nilai yang fana seperti: jumlah pengikut yang banyak, kekuatan fisik dan senjata, harta-milik, dan prestasi meraih kemenangan dalam perang. Padahal dari sudut duniawi dapat dikatakan perjuangan Tuhan Yesus tidak pernah memperlihatkan kemenangan dalam perang. Singkatnya, Kristus justru mengalami kekalahan dengan kematianNya di atas kayu salib. Tetapi dari sisi yang lain, melalui kematian dan kekalahanNya Kristus justru memenangkan pertempuran yang paling mendasar yaitu kuasa dosa dan maut. Bahkan lebih dalam lagi, Kristus memperlihatkan jati-diriNya yang paling otentik sebagai pribadi yang esa dan sehakikat dengan Allah. Sehingga di Why. 1:8, Tuhan Yesus menyatakan diriNya sebagai: "Aku adalah Alfa dan Omega  firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang,  Yang Mahakuasa”. Kristus bukan hanya seorang Juru-selamat, tetapi juga Dia adalah yang awal dan yang akhir: “yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang,  Yang Mahakuasa”.

Orientasi Hidup Yang Utama
    Makna kuasa Kristus sebagai yang awal dan yang akhir (alpha dan omega) pada hakikatnya bertujuan untuk memanggil setiap manusia untuk menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupannya. Sehingga yang utama dalam kehidupan ini adalah bagaimana Kristus  harus menjadi dasar utama kehidupan setiap umat percaya dan juga Kristus sebagai tujuan akhir.  Spiritualitas umat percaya pada satu sisi dilandasi oleh karya penebusan Kristus yang mendamaikan dengan Allah dan sesama, dan pada sisi yang  lain mendorong umat percaya untuk menempatkan ziarah imannya secara eskatologis. Pondasi iman Kristen bukan berpijak di tempat yang vakum atau kosong secara historis dan eksistensial. Iman Kristen berpijak kepada peristiwa karya penebusan Kristus yang riel dalam sejarah hidup manusia. Walaupun demikian iman Kristen tidak hanya terarah kepada peristiwa karya penyelamatan Allah di masa lampau. Sebaliknya karya keselamatan Allah tersebut justru memampukan setiap umat percaya untuk memaknai realitas hidupnya saat ini dan kemudian menjadikan ziarah imannya untuk terus bergerak ke masa depan yang telah dijanjikan oleh Allah. Dengan demikian orientasi ziarah iman atau spiritualitas umat percaya selalu bersifat dinamis. Umat percaya dipanggil untuk selalu mampu menghayati kekinian hidupnya secara berarti karena dilandasi oleh karya penebusan Kristus, dan pada saat yang sama umat percaya juga mampu melihat penyertaan dan kehadiran Allah di depan. Singkatnya iman umat percaya seharusnya dihayati dengan penuh makna pada masa kini dan selalu mau membuka diri untuk ditarik ke masa depan yaitu ke arah Kristus yang telah menang. Dengan demikian, iman kita kepada Kristus adalah iman yang eksistensial sekaligus bersifat eskatologis.

    Dengan penghayatan iman yang eksistensial sekaligus bersifat eskatologis tersebut, umat percaya akan dimampukan untuk selalu bersikap proaktif. Pola pikir mereka akan selalu memperoleh pencerahan Roh Kudus, sehingga mereka memiliki daya inisiatif dan hikmat untuk melakukan sesuatu yang berarti dan benar. Dengan demikian, mereka tidak pernah bingung atau panik saat menghadapi berbagai perubahan yang begitu cepat dan ketidakpastian yang mendera realita kehidupan ini. Mereka mengetahui dengan tepat apa yang harus mereka lakukan. Sebab hidup mereka digerakkan oleh nilai-nilai Kristus. Pola yang mereka miliki adalah pola Kerajaan Allah. Dengan demikian kehadiran dan peran mereka bertujuan untuk menegakkan pemerintahan Kerajaan Allah. Tentu saja kehadiran dan peran mereka tersebut tidak terelakkan akan berhadapan dan  berbenturan dengan kuasa dunia. Sebagaimana Yesus Kristus juga berhadapan dengan kuasa dunia yaitu arogansi kerajaan Romawi yang menjajah umat Israel dan pejabat Sanhedrin Yahudi, demikian pula kehidupan kita selaku umat percaya. Namun sejauh umat percaya berlaku setia dan konsisten mempermuliakan Kristus, maka pastilah kita akan menjadi para pemenang dalam mewujudkan kasih, keadilan dan Allah.

Panggilan
    Kita sering lupa bahwa para penguasa yang paling berpengaruh dalam kehidupan kita sebenarnya tidaklah jauh. Karena para penguasa tersebut dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Penguasa dari kuasa kegelapan dapat hadir di tengah-tengah keluarga  yaitu menjadi sosok dari para orang-tua yang suka menganiaya anggota keluarganya. Perhatikan pula kasus-kasus kekerasan dalam rumah-tangga. Juga penguasa dari kuasa kegelapan dapat hadir di tengah-tengah jemaat melalui para pribadi atau pelayan-pelayan yang menyalahgunakan wewenang dan jabatannya. Selain itu para penguasa juga dapat hadir di tengah-tengah masyarakat melalui berbagai profesi termasuk pula pejabat yang suka bertingkah atau para preman yang unjuk gigi. Semua penyalahgunaan wewenang dan peran tersebut tidak mempermuliakan nama Kristus walau mereka mengaku percaya kepada Kristus. Sesungguhnya mereka tidak menempatkan Kristus sebagai Tuhan dan Raja, tetapi egoisme diri mereka sendiri.  Jika demikian, bagaimana sikap kita selaku umat Tuhan yang akan memasuki masa Advent? Apakah kita masih menempatkan diri sebagai para penguasa dari kuasa kegelapan yang digambarkan oleh kitab Daniel dalam bentuk para binatang yang keluar dari dalam laut?  Segala bentuk kekuasaan yang demikian akan segera runtuh dan kita akan dibinasakan oleh Kristus yang adalah Raja. Tetapi berbahagialah saudara jika saudara sungguh-sungguh menempatkan karakter Kristus dalam seluruh sikap dan tingkah-laku saudara. Karena orang-orang yang rendah-hati dan mempermuliakan Kristus akan dikaruniai keselamatan kekal. Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
 
Last Updated ( Monday, 19 October 2009 )
 
Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday558
mod_vvisit_counterYesterday1541
mod_vvisit_counterThis week6639
mod_vvisit_counterThis month41413
mod_vvisit_counterAll2207448

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2490 hits)
Firman Hidup 50   (2378 hits)
Firman Hidup 55   (2353 hits)
Cyber GKI   (2157 hits)
The Meaning of Worship   (1950 hits)
TextWeek   (1869 hits)
Contact YBM   (1818 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::