HOME arrow KHOTBAH arrow Khotbah Renungan Leksionari Tahun C arrow KHOTBAH MINGGU ADVEN I, 29 NOPEMBER 2009
KHOTBAH MINGGU ADVEN I, 29 NOPEMBER 2009 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Tuesday, 03 November 2009

Renungan Minggu, 29 Nopember 2009 

Tahun C: Advent I

Warna: Ungu

KEDATANGAN KRISTUS MEMBAWA PEMBAHARUAN HIDUP
Yer. 33:14-16; Mzm. 25:1-10; I Tes. 3:9-13; Luk. 21:25-36

Pengantar
   
 Jemaat Kristen mengawali kalender gerejawinya dengan merayakan melalui masa Adven. Arti Adven, dari kata “adventus” berarti menantikan kedatangan Kristus. Dengan demikian kehidupan anggota jemaat dan umat manusia pada hakikatnya berada di antara 2 kedatangan Kristus, yaitu kedatangan Kristus yang pertama melalui diri Yesus dari Nazaret dan kedatangan Kristus yang kedua melalui diri Kristus yang telah wafat dan dimuliakan.

Kedatangan Kristus yang pertama merupakan peristiwa inkarnasi Firman Allah yang telah menjelma menjadi diri Yesus dari Nazaret. Dan kedatangan Kristus yang kedua merupakan wujud kedatangan Kristus yang adalah Firman Allah untuk menghakimi umat manusia di hadapan takhtaNya. Melalui kedatangan Kristus yang pertama, Kristus datang untuk membawa keselamatan dan penebusan dosa melalui kurban pendamaian di atas kayu salib. Sehingga melalui kedatangan Kristus yang pertama umat manusia  dipanggil untuk hidup kudus sebagai anak-anak Allah. Yang mana tujuan kedatangan Kristus yang pertama pada hakikatnya membawa transformasi hidup sehingga umat manusia dipanggil untuk menerapkan pola dan nilai-nilai Kerajaan Allah yang telah dinyatakan dalam karya keselamatan Kristus. Jika demikian, melalui kedatangan Kristus yang kedua umat manusia akan mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dan tindakannya di hadapan takhta Allah. Jadi inti dari kedatangan Kristus yang pertama dan kedua adalah bagaimana melalui karya keselamatan Kristus, Allah menghadirkan kualitas hidup dan keselamatan yang wajib dipertanggungjawabkan umat manusia dalam kehidupan riel masa kini dan kehidupan di masa mendatang.   Dengan kedatanganNya yang pertama, Tuhan Yesus telah menghadirkan realitas Kerajaan Allah di masa kini yang kemudian akan diwujudkan secara paripurna dengan kedatangan Kerajaan Allah di masa mendatang.

    Masa Adven mengingatkan setiap umat manusia, apakah kita telah hidup dalam sistem dan nilai-nilai Kerajaan Allah yang telah dinyatakan dalam kehidupan Kristus. Dan apakah sistem dan nilai-nilai Kerajaan Allah tersebut tetap bertahan sampai pada akhirnya sehingga umat manusia mampu mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya pada saat kedatangan Kristus yang kedua dalam kemuliaanNya. Melalui masa Adven umat manusia khususnya umat percaya dipanggil untuk hidup menurut sistem nilai yang telah ditentukan oleh Allah. Sebab bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita lebih cenderung untuk hidup menurut pola dan sistem nilai  manusiawi yang bersifat daging? Karena itu dengan sikap “duniawi” tersebut kita sering menempatkan posisi diri kita sebagai para musuh Kristus. Walaupun kita telah percaya dan melayani Kristus, namun kehidupan kita ternyata lebih didominasi oleh sistem dan nilai-nilai yang bertentangan dengan realitas Kerajaan Allah. Makna iman dan kesediaan untuk melayani Tuhan sering hanya diberlakukan dalam kehidupan beribadah, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita lebih terampil  menerapkan pola dan nilai-nilai yang duniawi. Itu sebabnya kehidupan rohani kita sering bias dan kontradiktif, yaitu beragama tetapi jauh dari sikap spiritualitas. Di satu sisi kita antusias beribadah tetapi kita cenderung bersikap fasik dalam kehidupan sehari-hari. Percaya kepada kedatangan Kristus yang pertama, tetapi kita tidak peduli dengan tanggungjawab untuk menyambut kedatangan Kristus yang kedua. Bersikap menerima dan percaya akan karya penebusan Kristus dalam kedatanganNya yang pertama, tetapi kita tidak mampu mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya dalam menyambut kedatangan Kristus yang kedua.  Problem utama kita dalam menghayati makna kedatangan Kristus yang pertama dan kedua sebenarnya bersangkut-paut dengan masalah sikap integritas. Padahal tanpa integritas diri yang ditampakkan dalam pembaharuan hidup tidaklah mungkin bagi kita untuk menghayati makna kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua. Tanpa integritas diri  dalam sikap pembaharuan hidup, makna kedatangan Kristus hanyalah menjadi suatu pengharapan utopia yang tidak bermakna apa-apa.

Kedatangan Mahluk Alien?
   
Konsep kehidupan manusia modern pada masa kini dipenuhi oleh kisah fiktif kedatangan mahluk alien.  Kisah-kisah fiktif tersebut juga mengungkapkan “keyakinan” manusia modern akan serangan dan intervensi mahluk angkasa luar yang disebut dengan alen. Kedatangan mahluk asing tersebut tentunya sama sekali tidak diharapkan. Sebab mahluk asing dari luar angkasa tersebut digambarkan sebagai mahluk yang berbahaya dan menyerang untuk menghancurkan kehidupan dan peradaban umat manusia. Para  mahluk alien tersebut memiliki pengetahuan dan teknologi yang lebih canggih. Sehingga kedatangan mereka dapat membawa kehancuran dan malapeta.  Sebenarnya kisah fiktif kedatangan mahluk alien merupakan simbol kehidupan manusia modern yang sedang merasa terancam. Manusia modern mengalami multi-krisis dan ketidakpastian hidup. Sebab para mahluk angkasa luar tersebut dilukiskan  akan datang bukan dengan misi untuk membawa perdamaian, keselamatan dan kesejahteraan bagi umat manusia. Karena itu makna menantikan kedatangan Kristus sama sekali berbeda secara esensial dengan kedatangan mahluk alien. Kedatangan Kristus justru bertujuan untuk membawa misi keselamatan (syaloom) yang utuh dan menyeluruh  dalam kehidupan umat manusia. Sehingga pengajaran tentang kedatangan Kristus pada masa kini seharusnya justru diharapkan oleh orang-orang yang hidup benar di hadapan Allah. Namun pada sisi yang lain, kedatangan Kristus sebenarnya memiliki kemiripan dengan kedatangan mahluk alien. Sebab kedatangan Kristus yang kedua juga seperti kedatangan para mahluk alien akan membawa malapetaka berupa hukuman yang menghancurkan dan membinasakan.   Bedanya kedatangan mahluk alien dalam kisah fiktif manusia modern semata-mata akan membawa malapetaka bukan bertujuan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, tetapi melakukan suatu invasi untuk menguasai kehidupan umat manusia dengan cara menghancurkan dan membinasakan. Tetapi tidaklah demikian misi dari kedatangan Kristus yang kedua. Kristus datang bukan semata-mata untuk menghancurkan kehidupan umat manusia, tetapi Dia akan mengadili seluruh umat manusia untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya.

    Di kitab Yer 33:14-16, Allah menyampaikan firman yang menubuatkan kedatangan MesiasNya dari keturunan Daud. Kedatangan Mesias selalu direncanakan dan diharapkan, sehingga makna kedatangan sang Mesias ditempatkan dalam sistem iman dan spiritualitas umat percaya yang transformatif. Sebaliknya kedatangan mahluk alien lebih tepat sebagai proyeksi ketakutan umat manusia yang sedang kehilangan pijakan spiritualitasnya. Ketakutan manusia modern terhadap mahluk alien sebenarnya merupakan  ekspresi krisis yang menggoyahkan nilai-nilai iman dan eksistensi hidupnya yang telah menjauh dari relasi personal dengan Allah yang hidup. Mereka terjebak dalam sekulerisme yang atheistis, sehingga manusia modern kehilangan sikap iman yang percaya akan pemeliharaan dan pertolongan Allah dalam kehidupan riel. Keberlangsungan kehidupan dipandang oleh manusia modern sebagai hasil dan prestasi manusia dalam membangun peradaban dan fasilitas-fasilitas pendukungnya. Yang mana pada masa kini seluruh bangunan peradaban dan fasilitas-fasilitas pendukung tersebut semakin goyah karena terus-menerus diterpa oleh berbagai krisis moral, rasa tidak aman dan  konflik. Karena itu pergumulan umat manusia pada masa kini adalah ke mana kita harus pergi menyelamatkan diri jikalau di planet bumi ini tidak ada lagi memiliki tempat yang aman untuk berteduh dan tempat untuk menghayati makna kehidupan. Dalam konteks pergumulan yang demikian, yang dipikirkan oleh manusia modern bukan berlindung dalam nama Allah, tetapi mereka berusaha mencari tempat yang aman di planet lain. Keberadaan Allah disingkirkan dalam kehidupan manusia modern. Karena itu pola pemikiran manusia modern adalah bagaimana memperoleh keselamatan tanpa pertolongan Allah. Makna keselamatan dan keberlangsungan kehidupan dipahami secara sempit yaitu sebagai suatu tindakan “migrasi” tempat tinggal ke tempat yang aman. Sebaliknya iman Kristen menghayati bahwa makna keselamatan dan keberlangsungan kehidupan yang kekal akan terwujud apabila manusia mampu menghayati kehadiran dan pertolongan Allah di tempat tinggal atau lokus hidupnya. Keselamatan Allah yang kekal tidak pernah mendorong manusia untuk melarikan diri dari realitas hidupnya, tetapi umat dimampukan oleh Allah untuk mengubah realitas hidupnya menjadi tempat tinggal yang lebih bermakna dan sejahtera.

Melaksanakan Keadilan Dan Kebenaran Di Negeri
   
Janji keselamatan Allah dalam kedatangan Kristus yang pertama dan kedua tidak pernah bermaksud memindahkan eksistensi manusia dari kehidupan riel di muka bumi ini. Juga janji keselamatan Allah tidak pernah mendorong manusia untuk melarikan diri ke dunia akhirat yang eskatologis dengan mengabaikan kehidupan riel di masa kini. Kehidupan masa kini  memiliki arti yang sangat penting dan menentukan makna kehidupan kekal di masa mendatang. Untuk itu dalam kehidupan di masa kini yang berada di antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedua, umat percaya dipanggil untuk menghayati iman kepada Kristus secara otentik dan  bertanggungjawab. Umat percaya dipanggil untuk memberlakukan keadilan dan kebenaran di negeri di mana mereka tinggal. Di Yer. 33:15, Allah berfirman: “Pada waktu itu dan pada masa itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri”. Kedatangan Kristus sebagai wujud Tunas Daud dinubuatkan akan hadir untuk memberlakukan keadilan dan kebenaran di negeri orang-orang hidup. Dengan demikian, kedatangan Kristus selalu terkait erat dengan konteks dan sejarah hidup umat. Kedatangan Kristus tidak pernah bermaksud untuk menjauhkan manusia dari realita hidup, tetapi sebaliknya Dia terus menerus memperdalam spiritualitas manusia untuk menghayati kehadiran dan karya Allah di masa kini. Dalam hal ini betapa sering kita selaku gereja berbicara mengenai kebenaran dan keadilan yang terlepas dengan konteks hidup yang riel. Sikap tersebut mengesankan seakan-akan kebenaran dan keadilan sangat muskil untuk  diwujudkan pada masa kini. Makna kebenaran dan keadilan sering dihayati di luar kehidupan riel yaitu berada dalam dunia masa mendatang yang serba abstrak. Akibatnya kita selaku gereja tidak pernah memperjuangkan makna kebenaran dan keadilan secara serius, sepenuh hati dan konsisten di masa kini. Kalau kita kemudian berbicara dengan antusias mengenai kebenaran dan keadilan secara serius umumnya ketika menyangkut kepentingan diri atau kelompok kita. Tetapi ketika kita berhadapan dengan ketidakadilan dan ketidakbenaran yang menimpa sesama, kita lebih memilih untuk bersikap diam. Dengan sikap yang demikian, kita selaku gereja tidak mampu menghadirkan diri sebagai media yang membawa perubahan yang kualitatif dalam kehidupan umat manusia. Kita sering gagal untuk menjadi garam dan terang dunia yang efektif dan transformatif  di masa kini.

    Kegagalan kita untuk menjadi pelaku pembaharuan yang efektif bukan saja menyangkut masalah kesungguhan hati. Mungkin hampir sebagian besar umat Kristen ingin menjadi garam dan terang dunia untuk memberlakukan kebenaran dan keadilan Allah. Tetapi kesungguhan hati saja tidaklah cukup jikalau secara substansial tidak didukung oleh pembaharuan diri secara internal. Sebab tidaklah mungkin bagi kita untuk membaharui realitas negeri yang lebih luas, jika tidak didasari oleh pembaharuan domestik. Segala upaya untuk membaharui realitas kehidupan yang eksternal akan gagal, jikalau kita mengabaikan pembaharuan internal diri. Stephen  Covey dalam “7 habits” menegaskan bahwa kemenangan publik akan terwujud jikalau kita berhasil terlebih dahulu memperoleh kemenangan pribadi. Dengan demikian betapa penting setiap umat percaya terlebih dahulu mencapai kemenangan pribadi dengan mampu menghayati bagaimana kuasa penebusan Kristus yang mendamaikan secara menyeluruh dimensi kehidupan pribadi bersama dengan Allah dan sesama. Setelah umat mencapai kemenangan pribadi, barulah umat percaya akan mampu berperan secara efektif untuk memberlakukan kebenaran dan keadilan dalam lingkup yang lebih luas. Sebab bagaimana mungkin jika kita masih hidup dalam konflik-konflik batin, jauh dari sikap benar dan adil terhadap diri sendiri mampu menjadi pembela bagi sesama yang lemah dan tertindas. Demikian juga bagaimana kita dapat menyambut kedatangan Kristus yang kedua jika kita gagal memberi respon yang tepat dan utuh terhadap kedatangan Kristus yang pertama. Itu sebabnya pemazmur menegaskan kebutuhannya untuk memperoleh rahmat Tuhan agar dia dapat mengenal jalan kebenaran. Mzm. 25:4-5 berkata: “Beritahukanlah jalan-jalanMu kepadaKu, ya Tuhan; tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaranMu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari”.

Bertambah Dan Berkelimpahan Dalam Kasih
  
Pemaknaan hidup bagi umat percaya bukanlah sekedar karena mereka memiliki kesadaran lingkup kelahiran sampai kematian. Lingkup tersebut terlalu umum sebab pembahaman tersebut juga dihayati pula oleh umat yang tidak percaya. Karena itu penghayatan kita selaku umat percaya terhadap “nilai waktu” perlu ditempatkan dalam lingkup yang lebih luas namun bersifat khusus, yaitu menghayati iman di antara 2 kedatangan Kristus. Dengan demikian, selaku umat percaya kita diajak untuk menghayati  kehidupan masa kini dengan merefleksikan karya Kristus dalam kedatanganNya yang kedua dan juga panggilan untuk menantikan kedatangan Kristus yang kedua di akhir zaman.  Penghayatan iman yang demikian akan lebih memampukan kita untuk menghayati karya keselamatan Allah secara lebih utuh. Makna kehidupan kita selaku umat prcaya tidak hanya menghayati batas kefanaan antara kelahiran sampai kematian. Tetapi juga kita telah diberi karunia untuk menghayati kekayaan rahmat atau kasih-karunia Allah yang terentang dalam kedatangan Kristus yang pertama sampai kedatangan Kristus yang kedua. Pada satu pihak kita perlu memahami kefanaan diri yang berada di antara waktu kelahiran dan waktu kematian. Kesadaran kefanaan diri tersebut dapat mengajar kita untuk selalu rendah-hati karena kita hidup dalam waktu yang sangat terbatas. Tetapi pada pihak lain kita diajak untuk memahami keagungan kasih Allah yang dinyatakan dalam kedatangan Kristus yang pertama dan tetap kontinyu sampai kedatanganNya yang kedua. Dengan 2 pola penghayatan yang demikian, yaitu kesadaran akan kefanaan hidup di antara waktu kelahiran-kematian dan keagungan kasih Allah di antara waktu kedatangan Kristus yang pertama-kedua,  selaku umat percaya kita dimampukan memaknai peran khusus agar mampu terus bertambah dan berkelimpahan dalam kasih. Kesadaran akan kefanaan hidup mengingatkan kita akan kedudukan kita sebagai seorang ciptaan yang berasal dari debu belaka. Dan keagungan kasih Allah mengingatkan bahwa di dalam karya penebusan Tuhan Yesus, kita telah dijadikan sebagai anak-anak Allah. Selaku ciptaan kita diingatkan bahwa tidak ada yang dapat dibanggakan sebab kita hanyalah terbuat dari debu tanah, namun selaku umat yang telah ditebus oleh Kristus kita dilimpahi oleh rahmat kasihNya. Pemahaman teologis ini akan memampukan kita untuk menghayati makna hidup ini secara seimbang dan utuh. Kefanaan hidup tidak akan membuat kita bersikap pesimistis dan menganggap hidup ini sebagai suatu kesia-siaan sebab hidup kita ditopang oleh rahmat dan penebusan Kristus. Sebaliknya pula rahmat Allah yang begitu besar dengan pengorbanan Kristus tidak boleh sampai membuat kita merasa begitu istimewa sampai kita melupakan hakikat keberadaan kita yang fana.

    Sebagaimana diketahui bahwa kekuatan kasih akan melemah saat kita menyikapi hidup ini secara pesimistis. Saat kita bersikap pesimistis dan menganggap hidup ini sia-sia belaka sebab segala sesuatu akan berakhir dengan kematian, maka kita juga akan menganggap kesia-siaan untuk melakukan kasih kepada sesama. Demikian pula saat kita merasa diri begitu istimewa menjadi anak-anak Allah sampai kita melupakan kodrat kefanaan kita sebagai seorang mahluk, maka kita juga akan gagal untuk  memberlakukan kasih. Sebab melupakan kodrat kefanaan diri dengan sikap yang bermegah atas pemilihan dan penebusan Kristus akan menyebabkan kita menjadi sombong. Yang mana dengan sikap sombong tidaklah mungkin bagi kita untuk memberlakukan kasih Allah. Sebaliknya rahmat kasih  Allah  akan dapat kita alami apabila kita selalu mampu bersikap rendah-hati dan tidak menganggap realitas hidup kita sebagai kesia-siaan. Kasih Allah akan dapat kita alami semakin penuh apabila kita mampu menghayati kepenuhan penebusan Kristus. Di surat I Tesalonika 3:12 rasul Paulus menaikkan doa agar jemaat Tesalonika memperoleh rahmat Allah sehingga mereka dimampukan untuk semakin bertambah dan berlimpah dalam kasih, yaitu: “Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu”. Jadi menghayati makna kedatangan Kristus pada hakikatnya bertujuan mendorong setiap umat Tuhan untuk memiliki perspektif hidup yang seimbang, yaitu menyadari kefanaan sekaligus rahmat Allah. Dengan sikap spiritualitas yang demikian, kehidupan umat percaya akan dipenuhi oleh kuasaNya untuk terus dipenuhi dan dilimpahi oleh kasih Kristus. Sehingga dalam masa menantikan kedatangan Kristus yang kedua, umat percaya semakin dipanggil memberlakukan kasih Kristus yang tanpa syarat.

Pembaharuan Kosmis
  

Namun sebagaimana dipahami, begitu banyak orang yang saat ini masih terbelenggu oleh kuasa dosa. Mereka tidak mau menyadari makna kefanaan hidup mereka dan lebih memilih untuk mengeraskan diri terhadap rahmat keselamatan Kristus. Sehingga mereka hidup dalam berbagai kejahatan dan dosa. Hidup mereka jauh dari sikap kasih. Sebaliknya mereka menyebarkan penderitaan dan kesusahan bagi sesamanya. Saat ini kita berada dalam dunia yang penuh dengan berbagai kekerasan, kebencian, keserakahan dan  dendam. Lingkaran dosa tersebut sangat sulit diputuskan, sebab para pelaku kejahatan dan dosa tersebut menganggap bahwa apa yang dilakukannya “benar”. Anehnya mereka yang melakukan berbagai kejahatan tersebut umumnya  juga sangat khidmat saat beribadah. Tampaknya perubahan atau pembaharuan dalam kehidupan ini tidak akan terjadi hanya karena umat  bersikap khidmat dan  didorong antusiasme religius  untuk melaksanakan ibadah dalam agama mereka. Agama-agama dengan sistem dan ajarannya pada masa kini semakin terlihat tidak memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan umat manusia yang terbelenggu oleh kuasa. Hanya kuasa Kristus saja yang mampu membawa pembaharuan hidup dalam kehidupan umat manusia. Untuk itu pada akhir zaman, Kristus akan datang untuk melakukan pembaharuan total dalam kehidupan kosmis ini. Apabila dalam kedatanganNya yang pertama, Kristus datang dengan berinkarnasi dan perendahan diri sebagai seorang manusia; maka dalam kedatanganNya yang kedua, Kristus akan datang dengan kemuliaanNya sebagai seorang Raja dan Hakim. Sehingga dengan kedatanganNya yang kedua, Kristus akan datang dengan kuasaNya untuk membaharui seluruh kosmis. Dia akan datang dengan menghancurkan tatanan dan kuasa-kuasa alam. Di Luk. 21:25, Tuhan Yesus berkata: “Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut”. Saat terjadi kehancuran kosmis yang begitu mengerikan, maka pada saat itu juga Kristus selaku Hakim akan datang dengan kemuliaanNya untuk mengadili umat manusia (Luk. 21:27).

    Kehancuran kosmis yang sering disebut dengan “kiamat” dalam iman Kristen bukanlah suatu peristiwa yang sekedar destruktif.  Sebab istilah “kiamat” dalam pengertian iman Kristen juga dapat berarti sesuatu peristiwa yang konstruktif. Kehancuran kosmis dalam peristiwa “kiamat” dalam pemahaman Alkitab merupakan peristiwa yang mengawali kedatangan Kristus dalam kemuliaanNya. Dengan demikian makna “kiamat” dalam iman Kristen lebih tepat dipahami sebagai awal dari karya pembaharuan Allah yang menyeluruh. Yang mana karya pembaharuan Allah tersebut bertujuan untuk memulihkan kehidupan umat manusia yang telah dirusak oleh kuasa dosa. Sehingga seluruh mahluk dan umat manusia melalui kedatangan Kristus dengan kemuliaanNya mampu memberlakukan nilai-nilai dan prinsip Kerajaan Allah secara penuh.  Jadi tujuan utama dari kedatangan Kristus yang kedua adalah untuk menciptakan langit dan bumi yang baru (Why. 21:1), sehingga umat manusia dapat mengecap syaloom Allah. Dengan hadirnya langit dan bumi yang baru, Allah di dalam Kristus berkarya memulihkan seluruh aspek kehidupan.  Yang mana seluruh umat dan mahluk “diciptakan ulang” (recreation) oleh Allah untuk mengalami pembaharuan hidup yang menyeluruh.

    Sikap umat dalam menghadapi kedatangan Kristus yang akan diawali dengan kehancuran kosmis  tidak boleh ditempuh dengan cara melarikan diri dari kenyataan hidup dan tugas panggilannya. Umat juga tidak diperbolehkan hanya menanti kedatangan Kristus dengan sikap pasif atau dirongrong oleh perasaan takut atau ngeri. Sikap tersebut tidak akan dapat membawa perubahan atau pembaharuan hidup yang signifikan. Sikap yang tepat dalam menantikan kedatangan Kristus dengan kemuliaanNya apabila umat sungguh-sungguh bersikap pro-aktif dalam menghadirkan tanda-tanda “langit dan bumi yang baru”. Tepatnya karya kasih Allah tidak mungkin diwujudkan dengan sikap yang reaktif, yaitu sikap kasih yang dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal atau dorongan emosi “religius” yang sesaat. Tindakan kasih yang reaktif umumnya bersifat insidentil, tanpa perencanaan dan pertimbangan yang masak sehingga tidak pernah mencapai suatu pembaharuan hidup sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Padahal suatu tindakan kasih yang didasarkan kepada karya penebusan Kristus pada hakikatnya bertujuan untuk menghadirkan perubahan budi dalam kehidupan umat manusia.

Panggilan
  
Nilai kehidupan kita bukan hanya dibatasi oleh waktu kelahiran sampai kematian, tetapi juga berada dalam perspektif yang lebih luas yaitu berada di antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua. Dengan perspektif yang lebih luas tersebut kita diajak untuk memahami makna kefanaan dan rahmat Allah dalam karya penebusan Kristus. Sehingga seharusnya selaku umat percaya kita  memiliki ruang yang lebih luas untuk memberlakukan kasih Allah. Panggilan kita untuk memberlakukan kasih bukan karena hidup kita akan berakhir dengan kematian, tetapi juga kita wajib memberlakukan kasih karena kehidupan kita ditopang oleh rahmat penebusan Kristus. Kasih Kristus itulah yang akan memampukan kita untuk mengalami pembaharuan hidup sehingga kita dimampukan untuk memberlakukan kebenaran dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Dari pada kita berupaya untuk “mempertobatkan” sesama, lebih baik kita mengalami proses pertobatan diri yang menyeluruh sehingga kehidupan kita menjadi kehidupan yang menjadi berkat. Setelah itu barulah kita dapat dipakai Allah untuk membawa perubahan, pertobatan dan pembaharuan hidup dalam skala yang lebih luas. Bagaimanakah kehidupan saudara? Apakah kehidupan saudara kini terarah kepada makna penantian akan kedatangan Kristus secara positif dan pro-aktif, sehingga kita mampu memaknai kehidupan ini dengan kuasa kasihNya? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

www.yohanesbm.com

Last Updated ( Sunday, 29 November 2009 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday122
mod_vvisit_counterYesterday1499
mod_vvisit_counterThis week6737
mod_vvisit_counterThis month61614
mod_vvisit_counterAll2419401

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2547 hits)
Firman Hidup 50   (2434 hits)
Firman Hidup 55   (2408 hits)
Cyber GKI   (2199 hits)
The Meaning of Worship   (2002 hits)
TextWeek   (1917 hits)
Contact YBM   (1867 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::