HOME
KHOTBAH MINGGU, 31 JANUARI 2010 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Thursday, 14 January 2010

Renungan Minggu, 31 Januari 2010
Tahun C: Epifani IV
Warna: Hijau

MENGHAYATI PANGGILAN TUHAN
Yer. 1:4-10; Mzm. 71:1-6;  I Kor. 13:1-13; Luk.4:21-30

Pengantar
                 Panggilan Tuhan? Ungkapan tersebut secara spontan membawa kita kepada suatu gambaran religius bahwa Allah telah memanggil seseorang untuk meninggalkan pekerjaan yang semula duniawi menjadi hambaNya dalam suatu tugas khusus. Gambaran tersebut tidaklah salah. Berulangkali dalam perjalanan sejarah Allah memanggil orang-orang yang semula bekerja di suatu bidang yang sekuler untuk menjadi para pelayanNya penuh waktu berkecimpung dalam dunia rohaniah.

Kita dapat menyaksikan ribuan orang di seluruh dunia yang bersedia menyerahkan diri kepada Kristus untuk menjadi para biarawan-biarawati, para penginjil dan para pendeta. Mereka rela meninggalkan pekerjaan yang mungkin semula sangat prestisius dan menghasilkan banyak uang agar mereka dapat melayani Allah dengan lebih khusus. Salah satu motif panggilan khusus tersebut adalah memenuhi perkataan Tuhan Yesus yang berkata: “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat. 19:29). Karena itu kita selaku gereja harus mempersiapkan dengan sebaik-baiknya umat yang rindu dan terpanggil untuk menjadi seorang pelayan Tuhan. Yang mana panggilan Tuhan tersebut harus didukung oleh pembaharuan hidup yang signifikan, kemampuan intelektual, kecerdasan emosi dan sosial yang tinggi agar mereka dapat melaksanakan tugas panggilan yang mulia tersebut secara efektif. Untuk itu gereja tidak boleh terlalu mudah memberi rekomendasi kepada umat yang hanya ingin studi teologia tetapi tidak memiliki kualitas rohani dan intelektualitas yang memadai. Kita tidak menginginkan para calon pemimpin gereja dilayani oleh orang-orang yang tidak memiliki kualitas rohani dan tidak didukung oleh kompetensi yang diharapkan.

                Tetapi perlu diingat pula bahwa makna menghayati panggilan Tuhan tidaklah benar apabila hanya dibatasi pada panggilan untuk menjadi seorang penginjil, pendeta atau biarawan-biarawati saja. Panggilan Tuhan yang setara dan memiliki kualitas yang sama mulianya juga terwujud dalam seluruh aspek pekerjaan. Bahkan setiap pekerjaan yang dijalani dengan hati yang tulus, rajin, berdedikasi tinggi dan membawa manfaat kepada banyak orang merupakan wujud dari panggilan Tuhan yang suci. Sehingga para penginjil, pendeta, biarawan dan biarawati yang hidupnya selalu bersungut- sungut, tidak mampu bersyukur, tidak mampu melaksanakan tugas, disiplin kerja yang rendah dan tidak mampu membawa berkat bukanlah wujud dari panggilan Tuhan.  Mungkin mereka masih melayani Tuhan dari tahun ke tahun. Tetapi sesungguhnya spiritualitas dan pelayanan mereka telah kehilangan esensinya yang paling utama yaitu kasih dan iman yang tulus. Sehingga pelayanan mereka justru menjadi beban dan persoalan bagi umat yang dilayaninya. Karena itu seseorang yang tidak memiliki panggilan Tuhan yang sangat kuat, signifikan, dan didukung oleh kemampuan rohani serta intelektual yang memadai jangan sekali-kali direkomendasi gereja untuk mengikuti studi teologia. Lebih baik lagi jika gereja mampu memperoleh setiap umat yang berkualitas tinggi secara rohani dan intelektual. Jelasnya gereja perlu memberi rekomendasi dan mendukung umat dengan kualitas demikian untuk menempuh studi teologia sebagai persiapan menjadi pelayan Tuhan. Namun apabila umat tidak terpanggil ke bidang pelayanan khusus, namun mereka memiliki kemampuan rohani dan intelektualitas yang tinggi di bidang sekuler – gereja juga terpanggil untuk memberi dukungan yang konkret sehingga mereka dapat menjadi pelayan Tuhan di suatu bidang pekerjaan tertentu, misalnya: guru, dosen, musikus, peneliti, ahli hukum, ekonom, dan sebagainya. Sebab Tuhan juga memanggil umat untuk menjadi para pelayanNya di berbagai bidang kehidupan. Yang mana melalui pelayanan yang berdedikasi tinggi, kreatif, dan mampu meningkatkan harkat hidup banyak orang maka nama Tuhan juga akan dipermuliakan. Tepatnya setiap umat yang percaya dipanggil untuk mempermuliakan Tuhan dalam bidang pekerjaan atau profesi dan pelayanan yang ditekuninya. Karena setiap umat telah dilengkapi dengan karunia atau kompetensi dan talenta yang berbeda-beda agar mereka masing-masing saling melengkapi dan menopang menjadi pelayanan yang sinergis dalam mempermuliakan nama Tuhan.

Nabi Allah Di Setiap Bidang
Panggilan Allah yang dianugerahkan di setiap bidang kehidupan bukan hanya agar umat dapat memperoleh kesejahteraan ekonomis, tetapi juga agar umat dapat menjadi seorang nabi Allah di setiap bidang pekerjaannya. Sayangnya paradigma pekerjaan atau profesi sering masih dipahami umat sebagai suatu media untuk memperoleh penghasilan yang cukup dan jaminan masa depan. Karena itu kita sering berlomba-lomba untuk mencari pekerjaan yang mampu menghasilkan cukup banyak uang dan berbagai fasilitas yang mewah. Namun kita sering kehilangan idealisme dan visi spiritual yang nilai- nilainya sama sekali lepas dari iming-iming materi. Sehingga saat kita tidak memperoleh tingkat kesejahteraan tertentu dan fasilitas yang mewah, maka kita enggan untuk bekerja dengan sepenuh hati. Penggerak dan pengendali hidup kita sering ditentukan oleh keuntungan (profit) yang sifatnya materiil. Akibatnya kita tidak lagi mampu memahami dan menghayati setiap pekerjaan sebagai suatu panggilan Tuhan yang bersifat kudus. Saat makna pekerjaan dipahami hanya sekedar suatu media untuk mencari nafkah, maka tidaklah mungkin bagi kita untuk menempatkan pekerjaan sebagai media penyataan Allah yang membebaskan. Kita tidak akan berani menyuarakan “suara kenabian” yang kuat namun lemah-lembut  untuk menyampaikan sesuatu yang baik dan benar. Karena itu kita akan lebih cenderung untuk mempertahankan rasa aman diri sedemikian rupa agar kita tidak pernah terusik dengan segala hal yang terjadi di sekeliling kita. Dalam kondisi yang demikian kita lebih suka bungkam diri selama ketenteraman dan kepentingan diri tidak terganggu. Padahal kita juga terpanggil untuk menyuarakan kebenaran dengan baik, persuasif dan penuh kasih. Sebab belum tentu suara kebenaran harus selalu dibenci dan ditolak oleh banyak orang. Yang sering ditolak oleh banyak orang adalah suara kebenaran yang disampaikan tanpa motif yang benar dan kasih yang suci.

                Di tengah-tengah dunia yang kompleks ini setiap umat wajib berperan sebagai para nabi Allah yang berkarya di setiap bidang kehidupan. Sehingga di bidang ekonomi muncullah umat yang menjadi nabi di bidang ekonomi, di bidang hukum muncullah umat yang menjadi umat di bidang hukum, dan sebagainya. Apabila di setiap bidang kehidupan muncul setiap umat yang berperan sebagai nabi Allah maka kita masih memiliki harapan dan masa depan yang lebih baik. Tetapi apabila hanya kehidupan keagamaan saja yang mengalami pembaharuan hidup, maka agama tidak akan mampu menjadi kekuatan yang transformatif bagi masyarakat sekitarnya. Panggilan Allah kepada nabi Yeremia bukanlah sekedar panggilan  untuk membenahi kehidupan keagamaan atau ibadat umat Israel saja. Tetapi Allah memanggil Yeremia sebagai nabi agar dia mampu berperan sebagai nabi bagi bangsa-bangsa. Firman Tuhan: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa" (Yer. 1:5). Lingkup kenabian Yeremia bukanlah hanya mengurusi kehidupan internal umat Israel, tetapi juga menyampaikan kabar keselamatan Allah yang membebaskan bagi seluruh bangsa. Sayangnya kehidupan gereja-gereja Tuhan di Indonesia masih terbelenggu oleh masalah-masalah internal. Kita masih jumpai begitu banyak tenaga, dana dan waktu yang dicurahkan untuk kepentingan intern tetapi tidak mampu membawa suatu perubahan yang berarti. Kadang-kadang timbul suatu pertanyaan, bukankah mereka adalah umat yang telah menerima keselamatan Allah? Tetapi di antara mereka masih begitu banyak yang tidak dewasa dalam menyikapi persoalan dan pergumulan hidup berjemaat. Dalam kehidupan umat, kita dapat jumpai suatu komisi yang selalu memaksa agar program mereka dengan dana yang cukup besar untuk disetujui oleh Majelis Jemaat. Tetapi isi program tersebut lebih banyak ke arah rekreasi. Begitu banyak umat yang belum mampu menyangkal diri dan merespon suatu permasalahan dengan jiwa seorang nabi Allah. Dengan spiritualitas yang demikian tidak mengherankan jikalau umat juga tidak terlatih untuk menjadi seorang nabi Allah di rumah-tangga dan di tempat kerjanya. Apabila kita tidak mampu menjadi seorang pemenang di lingkungan internal kita, maka tidaklah mungkin kita mampu menjadi seorang pemenang di lingkungan eksternal kita. Artinya menjadi seorang nabi Allah selalu ditandai oleh spiritualitas yang mampu mengalahkan diri, sehingga dia dapat menjadi seorang yang mampu mengalahkan kelemahan dan kejahatan orang lain. Ciri kharisma spiritualitas seorang nabi sangat solid dan memancar keluar, sebab lahir dari integritas dan imannya yang suci.

Terhambat Oleh Kekurangan Diri
Pola pendidikan kita masih sering berorientasi kepada kekurangan dan kelemahan diri seseorang. Bila seseorang tidak sanggup melakukan sesuatu, maka dia akan sering dianggap bodoh. Misalnya bila seorang anak gagal menempuh ujian matematika atau fisika, maka umumnya dia akan dipandang tidak cerdas. Padahal kini ilmu psikologi dan pendidikan modern  kini telah dapat membuktikan bahwa setiap anak pada hakikatnya memiliki kelebihan dan keunikan sesuai dengan personalitasnya. Kekurangan di bidang fisika atau matematika bukanlah ukuran untuk menyatakan seorang anak tergolong bodoh atau kurang. Dia memiliki kemampuan di bidang lain yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keberhasilan dalam hidup ini tidak ditentukan oleh orang-orang yang hanya pandai dalam bidang matematika dan fisika. Kita dapat melihat orang-orang yang berhasil atau sukses besar dalam bidang musik, seni lukis, filsafat, hukum, psikologi, teologi, bisnis dan sebagainya. Sehingga fokus yang perlu kita kembangkan dalam proses pendidikan adalah mengembangkan secara optimal setiap kemampuan, kekuatan, kelebihan dan bakat seseorang dari pada sikap yang cenderung mempersoalkan kekurangan atau kelemahannya. Kita tidak mungkin dapat memperbaiki kualitas hidup seseorang hanya dengan mempersoalkan kekurangan atau kelemahannya. Tetapi sebaliknya saat kita mendukung, melatih dan mengembangkan kekuatan atau kelebihan seseorang secara optimal maka kita akan melihat suatu perubahan mental yang luar-biasa. Sebab seluruh kemampuan, potensi, bakat dan daya kreatif seseorang akan mengalir dengan deras. Dengan demikian prestasi seseorang akan tercapai dengan baik apabila dia mampu mengenali diri dan mengembangkan kekuatan dan kelebihan yang telah dimiliki. Prestasi tidaklah mungkin dicapai seseorang jika dia tidak mampu mengenali kekuatan dan kelebihannya. Atau sebaliknya dia akan selalu mengalami kegagalan karena dia hanya mengetahui kekurangan dan kelemahannya.

                Hambatan utama kita untuk melaksanakan panggilan Tuhan adalah kita sering tidak mengenali diri sendiri secara baik. Kita hanya mengenal diri dari anggapan orang-orang di sekitar. Yang mana penilaian mereka tidak selalu benar dan obyektif.  Sebab orang-orang di sekitar kita belum tentu memiliki motif dan kemampuan yang memadai untuk menilai jati-diri kita. Sehingga ketika kita tidak mampu menyaring setiap anggapan tersebut, maka kita  akan memiliki gambar atau konsep diri yang buruk. Sikap ini terlihat saat Allah memanggil Yeremia sebagai nabi yaitu: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku  tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda" (Yer. 1:6). Yeremia menolak panggilan Allah sebab dia menganggap diri tidak pandai bicara. Mungkin saja anggapan tersebut dikondisikan oleh lingkungan yang terlanjur menilai bahwa Yeremia tidak mampu menyampaikan atau mengajar secara komunikatif. Yeremia dipandang sebelah mata oleh lingkungannya karena dia masih muda. Lingkungan mungkin sering berkata kepada Yeremia: “Kamu masih terlalu hijau, apa yang kamu ketahui? Pastilah kamu tidak dapat berbicara seperti orang-orang yang lebih tua”.  Masyarakat kita masih memiliki mentalitas yang suka meremehkan orang lain sebab mereka telah terkondisi untuk diremehkan oleh orang lain. Namun sayangnya mereka tidak mampu mengubah anggapan yang salah tersebut menjadi sesuatu yang positif. Dalam hal ini kita sering lebih percaya terhadap anggapan dan penilaian orang lain dari pada penilaian Allah atas diri kita. Umumnya kita sering bersikap seperti Yeremia yang berkata: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda" (Yer. 1:6), maka Allah justru berkata sebaliknya. Allah tidak pernah melihat kekurangan dan kelemahan kita sebagai suatu hambatan untuk melakanakan tugas pengutusanNya. Tetapi Allah lebih menuntut sikap iman yang mau percaya, bahwa perkataan atau firmanNya adalah benar. Itu sebabnya Allah berfirman kepada Yeremia, yaitu: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan” (Yer. 1:7).  Tugas pengutusan Allah tidak pernah mampu kita laksanakan dengan baik selama kita menganggap dan menilai diri selalu penuh dengan kekurangan. Sebab sikap kita tersebut akan menjadi sesuatu yang kontra-produktif. Di satu pihak kita percaya bahwa pengutusan atau panggilan Allah sebagai sesuatu yang mulia, tetapi di lain pihak kita menganggap diri kita sendiri secara negatif. Bagaimana mungkin sesuatu yang mulia dan suci dapat dicapai dengan konsep diri yang buruk? Prinsip teologis yang berlaku kepada setiap pengutusan dan panggilan Tuhan adalah bilamana Allah mengutus, maka Dia akan memperlengkapi dan memampukan para hambaNya. Karena itu kita harus selalu fokus kepada Allah yang mengutus, maka Dia akan memperlengkapi kita dengan berbagai karunia sehingga kita dimampukan untuk  melaksanakan tugas dan panggilanNya. 

Kasih Sebagai Landasan Utama
Panggilan Tuhan dalam kehidupan setiap umat adalah wujud dari kasih dan anugerahNya. Setiap umat dipanggil oleh Tuhan untuk melaksanakan tugas dan pengutusanNya. Ini berarti tidak ada umat yang tidak dikasihi Allah. Juga tidak ada umat yang tidak memperoleh panggilan dan pengutusan Allah yang bermakna dalam kehidupan ini. Penciptaan Allah atas setiap kehidupan umat bukanlah ciptaan yang tidak memiliki tujuan. Setiap orang dipandang Allah dengan penuh arti dan  kepadanya diletakkan suatu tujuan hidup untuk direalisasikan. Namun kita sering menganggap bahwa hidup kita sekedar suatu kesia-siaan, penuh ke-sial-an dan malang. Sehingga kita tidak mampu melihat dengan jeli berbagai karunia, potensi dan bakat yang telah dianugerahkan Allah dalam kehidupan kita. Di balik lubuk hati yang terdalam banyak orang yang membenci dan menolak dirinya sendiri. Mereka menyimpan dan mengembangkan akar kepahitan terhadap nasib dan kehidupan yang berat yang sedang dijalaninya. Sehingga segala kegiatan dan pekerjaan yang mereka lakukan senantiasa menghasilkan kepahitan dan penderitaan bagi banyak orang. Akar pahit akan menghasilkan buah kepahitan. Sebaliknya ketika kita semakin menghayati kasih-karunia Allah maka hidup kita akan dipenuhi oleh rasa syukur dan pandangan hidup yang positif. Kepribadian kita akan dipenuhi oleh jalinan akar kasih yang dianugerahkan Allah. Sehingga hidup kita akan berbuah kasih. Karena tugas pengutusan yang kita laksanakan bertujuan untuk menghasilkan karya keselamatan Allah yang membebaskan. Karya keselamatan Allah yang membebaskan bertujuan untuk memberlakukan kasih Allah (“agape”). Itu sebabnya nilai kasih Allah merupakan tujuan utama seluruh kehidupan umat manusia. Rasul Paulus di I Kor. 14:4 menyatakan: “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku”.  Tanpa dilandasi oleh kasih, maka segala tindakan dan perbuatan yang bernilai mulia menjadi tidak mulia dan sia-sia belaka.

                Dengan demikian setiap bidang kehidupan bersifat unik dan panggilan Tuhan juga unik. Keunikan panggilan Tuhan tersebut harus diwujudkan dalam wujud kasih. Apapun profesi, pekerjaan, usaha dan pelayanan yang dilakukan oleh setiap orang nilai hakikinya wajib diukur oleh kasih. Sehingga setiap profesi atau pekerjaan apapun yang tolok-ukurnya bukan dilandasi oleh kasih, maka akan menjadi suatu kesia-siaan belaka. Mungkin profesi tersebut sangat terhormat seperti profesi seorang dokter, perawat, guru, pendeta, penginjil, pengacara, hakim, jaksa atau presiden sekalipun akan menjadi kesia-siaan belaka jikalau tidak dilandasi oleh kasih. Di I Kor. 13:15-16 rasul Paulus mendefinisikan kasih sebagai berikut: “Ia tidak  melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran”. Penjelasan arti kasih bukanlah sekedar suatu sikap yang lemah-lembut atau baik secara moral. Makna kasih juga mengandung suatu ketegasan dan sikap kritis  secara etis-moral. Tindakan kasih selalu berani menentang ketidakadilan tanpa perasaan benci dan dendam. Dia berani untuk  meruntuhkan apa yang jahat, tetapi tidak pernah menistakan pribadi sesamanya. Demikian pula panggilan Allah kepada nabi Yeremia tetap dalam konteks kasih, yaitu kasih yang menjunjung kebenaran dan keadilan. Sehingga nabi Yeremia diutus oleh Allah untuk meruntuhkan atau mencabut hal-hal yang jahat, tetapi juga wajib menanam dan membangun hal-hal yang benar dan mulia. Allah berfirman: “Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam" (Yer. 1:10).  Selama motivasi utama atau landasan moril kita adalah kasih, maka makna dari tindakan yang “meruntuhkan” akan menjadi sesuatu yang konstruktif. Sebaliknya bila hidup kita tidak dilandasi oleh kasih, maka makna dari tindakan “membangun” atau “menanam” justru dapat menjadi pengembangan segala hal yang jahat. Karena itu kita tidak boleh berlindung dengan mengenakan topeng “panggilan Tuhan” yang mengklaim melakukan suatu pelayanan yang membangun kepentingan jemaat, padahal tujuannya adalah untuk mengeruk keuntungan diri sendiri.

Penghargaan Yang Tulus
Kasih Allah yang dinyatakan Kristus memiliki enersi rohaniah yang konstruktif dan transformatif bagi setiap orang yang mengalaminya. Apabila Tuhan Yesus datang untuk membawa kasih Allah, yaitu kabar baik dan pembebasan kepada orang yang tertindas (Luk. 4:18-19), maka sebaliknya orang-orang Nazaret sekampungNya justru memberi respon yang negatif. Mereka menolak Tuhan Yesus dengan alasan Dia hanyalah anak Yusuf (Luk. 4:22). Orang-orang Nazaret tidak percaya dan menolak Yesus karena menganggap mereka telah mengetahui latar-belakang keluargaNya. Sehingga Tuhan Yesus  mengingatkan mereka dengan berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk. 4:24). Dalam hal ini kita sering bersikap seperti orang-orang Nazaret. Kita meremehkan atau memandang rendah seseorang karena kita mengetahui latar-belakang kehidupan keluarganya. Tampaknya rasa hormat lebih mudah kita berikan kepada orang asing atau “jauh” dari pada orang-orang yang  kita kenal dan berada di sekitar kita. Untuk itu kita wajib mengubah paradigma atau “mind-set” kita yaitu dengan mempraktekkan sikap yang menghargai lebih intensif dan tulus kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Apabila kita mampu memberi penghargaan yang tulus dan edukatif, maka kita akan memberdayakan banyak orang yang semula merasa diri tidak berharga dan lemah. Kita juga akan dimampukan untuk melihat berbagai kelebihan, keunikan dan kemampuan seseorang dari pada kekurangan atau kelemahannya. Sehingga paradigma spiritualitas kita akan bergerak ke arah yang lebih positif dan manusiawi. Yang mana dengan sikap yang demikian, kita tidak akan cenderung menghakimi atau menyudutkan orang lain karena dianggap tidak sesuai dengan ukuran yang kita miliki.  Sebab bukankah orang yang suka menghakimi orang lain karena dia memiliki begitu banyak hal yang buruk dan mengalami kegagalan secara etis-moril?

Panggilan
Makna dan lingkup panggilan Tuhan seluas aspek kehidupan umat manusia. Yang mana nilai kemuliaan dan kekudusan panggilan Tuhan tidak lagi hanya dibatasi pada panggilan dan pelayanan rohaniah. Apapun panggilan dan pekerjaan setiap orang pada hakikatnya adalah kudus dan mulia sejauh dilakukan untuk kemuliaan nama Allah dan meningkatkan harkat atau martabat sesamanya. Dengan demikian setiap orang adalah pelayan Tuhan. Karena itu sebagai para pelayan Tuhan, setiap orang wajib melakukan panggilannya sesuai dengan anugerah dan talenta yang dipercayakan Allah  kepadanya. Apabila setiap orang melaksanakan tugasnya sesuai dengan anugerah dan talentanya, maka setiap orang akan  mampu  memberikan kontribusi yang optimal sehingga kualitas kehidupan umat manusia semakin terwujud dalam hidup bersama. Setiap orang akan berperan sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Sehingga dalam konteks yang telah kondusif dan edukatif, tidak ada lagi orang yang dapat mencerca akan kekurangan atau kelemahan sesamanya. Sebab setiap orang hanya melihat hal-hal yang positif berupa kelebihan dan kemampuan yang dimiliki oleh sesamanya. Dengan situasi yang demikian, kita telah mempraktekkan apa yang dihayati Tuhan Yesus sebagai misi utamaNya, yaitu: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk. 4:18-19). Dalam hal ini kita telah menjadi kawan sekerja Kristus untuk menyatakan karya keselamatan Allah. Dan dalam situasi tertentu, kita akan berperan menjadi para nabi Allah yang berani untuk menegakkan hal yang benar dan adil. Namun semua tugas panggilan tersebut kita laksanakan atas dasar anugerah kasih Allah.  Jika demikian, bagaimanakah sikap saudara dalam menghayati panggilan Tuhan? Apakah saudara lakukan atas dasar kasih Allah ataukah kepentingan diri sendiri? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com

 

 

 

  

 

Last Updated ( Thursday, 14 January 2010 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday69
mod_vvisit_counterYesterday325
mod_vvisit_counterThis week1165
mod_vvisit_counterThis month3233
mod_vvisit_counterAll342986

Login Form

Who's Online

We have 25 guests online

Weblinks

Contact YBM   (766 hits)
Cyber GKI   (445 hits)
Yohanes B.M.   (441 hits)
Firman Hidup 55   (339 hits)
The Meaning of Worship   (336 hits)
TextWeek   (322 hits)
Firman Hidup 50   (259 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::