HOME
KHOTBAH MINGGU, 7 FEBRUARI 2010 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Sunday, 17 January 2010

Renungan Minggu, 7 Februari 2010
Tahun C: Epifani V
Warna: Hijau

MELEPAS MASA LALU, HIDUP SECARA BARU
Yes. 6:1-13; Mzm. 138; I Kor. 15:1-11; Luk. 5:1-11

Pengantar
 Kehidupan kita sekarang pada hakikatnya merupakan produk dari kehidupan masa lalu. Melalui setiap masa lalu yang telah kita lewati, kita telah dibentuk untuk menjadi seorang pribadi. Sehingga apapun masa lalu kita, seharusnya kita mampu mengucap syukur. Karena tanpa masa lalu tidaklah mungkin kita hidup di masa sekarang. Problem psikologis terjadi saat kita berupaya untuk mengingkari atau menolak masa lalu kita. Sebab saat kita mengingkari masa lalu, kita akan cenderung bersikap marah terhadap hal-hal yang pernah kita alami sampai kita melupakan hal-hal yang positif dan berharga.

               

Penolakan terhadap masa lalu membawa akibat penolakan terhadap masa kini kita, bahkan juga mempengaruhi sikap kita terhadap masa depan. Begitu banyak orang yang tidak bahagia di masa kini karena mereka tidak mampu menyikapi secara arif kehidupannya di masa lalu. Singkatnya mereka masih terbelenggu oleh kehidupan masa lalunya yang tidak bahagia. Atau mungkin mereka masih terbelenggu oleh masa lalu yang penuh dengan perbuatan dosa, sehingga sampai pada masa  kini mereka terus melanjutkan dan mengembangkan perbuatan-perbuatan dosa tersebut. Apabila kita tidak berhasil melepas masa lalu yang penuh dengan dosa, maka hidup kita akan menjadi masalah dengan sesama di sekitar kita. Lebih mendalam lagi, kita tidak hidup secara etism-moral di hadirat Allah. Sehingga segala perbuatan ibadah atau pelayanan menjadi tidak berarti. Bukankah saat kita tidak hidup di hadirat Allah, segala tindakan religius akan menjadi suatu kesia-siaan belaka? Karena itu betapa pentingnya memaknai secara benar kehidupan kita di masa lalu. Juga betapa pentingnya kita mampu melepas segala kepahitan, luka-luka batin dan dosa di masa lalu agar kita dapat hidup bahagia di hadirat Allah di masa kini.  Dengan demikian hidup secara baru akan menjadi suatu kenyataan apabila kita di masa kini mampu hidup di hadirat Allah. Sebab hidup di hadirat Allah, berarti kita menyadari kekudusan dan pengampunanNya sehingga kita mampu hidup dalam pengharapan dan kasih-karuniaNya.

Hidup Di Hadirat Allah
Seluruh rangkaian waktu kehidupan manusia berada dalam kendali Allah. Sehingga setiap kepahitan, luka-luka batin dan dosa kita yang terjadi di masa lalu perlu ditempatkan dalam relasi kita dengan Allah. Kita tidak mungkin dapat melakukan suatu terapi terhadap masa lalu kita yang buruk dengan menyesali atau meratapinya. Tetapi keadaaan akan berubah saat kita saat ini mau berdiam diri dengan rendah hati di hadapan Allah. Seluruh penderitaan, kegagalan, dosa-dosa dan  kepahitan masa lalu kita akan menjadi luruh saat berada di hadirat Allah. Sebab selain Allah kita berdaulat dan pengatur kehidupan, Dia juga Allah yang pengasih dan penyayang serta peduli dengan penderitaan dan pergumulan kita. Selama pengalaman-pengalaman kita yang buruk di masa lalu  hanya terkubur di alam bawah sadar, maka kehidupan kita di masa kini akan terus terusik. Apakah pengalaman-pengalaman tersebut muncul dalam bentuk perasaan bersalah, gelisah, takut, marah dan benci. Jadi sesungguhnya setiap diri kita membutuhkan pemulihan dan pengampunan dari Allah. Nabi Yesaya mengalami suatu pengalaman yang sangat mendalam dan mempengaruhi seluruh perjalanan hidupnya saat dia melihat penyataan Allah. Saat nabi Yesaya berada di Bait Allah mengikuti suatu ibadah, dia menyaksikan bagaimana kemuliaan Allah dinyatakan. Allah menghadirkan diriNya di tengah-tengah ibadah umatNya.  Yang mana dengan pandangan rohaninya, nabi Yesaya melihat takhta dan jubah Allah memenuhi seluruh ruang Bait Allah, dan  para serafim (malaikat) menyanyikan “trishagion”, yaitu: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"  (Yes. 6:3). Pengalaman teofani Allah tersebut membuka dan menyadarkan nabi Yesaya bahwa dia sedang berhadapan dengan Allah yang kudus dan mulia. Kesadaran rohani tersebut sungguh mempesona nabi Yesaya tetapi sekaligus sangat menakutkan. Nabi Yesaya terpesona dengan keagungan dan kemuliaan Allah yang memenuhi seluruh ruang Bait Allah, tetapi juga dia sadar bahwa dirinya tidaklah layak. Kemuliaan dan kekudusan Allah yang mempesona dapat berubah menjadi api yang menghanguskan dirinya yang berdosa dan cemar. Seluruh dosa, kesalahan dan kegagalannya tersingkap secara jelas di hadapan Allah tanpa mampu disembunyikan oleh nabi Yesaya. 

                Namun kecenderungan manusiawi kita yang berdosa sering bersikap sebaliknya. Kita justru berupaya untuk membangun benteng pertahanan diri dalam bentuk “defence of mechanism”. Saat kita mengetahui berbagai kesalahan yang telah kita buat sebagai kebiasaan buruk - bukannya kita mau menyadari dan mengakuinya, sebaliknya kita sering membenarkan diri atau menimpakan kesalahan ke pihak lain. Kita sering gemar mengenakan topeng atau wajah palsu dari pada sikap  kerendahan hati yang berani mengaku dosa dan sikap yang bertobat. Sehingga dengan sikap “defence of  mechanism” tersebut kita memposisikan diri seakan-akan sebagai “korban” masa lalu dan kesewenang-wenangan orang di sekitar kita. Tetapi kita melupakan aspek tanggungjawab diri kita sebagai pribadi yang harus mengambil keputusan etis dalam berbagai situasi dan peristiwa yang terjadi di masa lalu dan di masa kini.  Dengan sikap “defence of mechanism” tersebut mata rohani kita akan terhalang melihat kehadiran Allah yang kudus. Sebab yang menjadi pusat perhatian kita adalah kebenaran diri sendiri. Kekudusan Allah tidaklah mungkin dilihat oleh umat yang merasa dirinya benar, saleh dan telah berkenan kepada Allah. Padahal secara internal, kehidupan pribadi mereka penuh dengan berbagai kejahatan dan pikiran-pikiran yang duniawi. Hanya bagi orang yang berani melepaskan sikap “defence of mechanism” atau pembenaran diri sendiri saja yang mampu berubah dan dibaharui untuk menyambut kehadiran Allah yang penuh dengan kasih-karunia.

Perasaan Bersalah Atau Kesadaran akan Kesalahan
Proses pembaharuan hidup selain akan gagal ditempuh melalui sikap yang mencari pembenaran diri juga disebabkan sikap yang salah dalam menyikapi suatu kesalahan dan dosa. Kita lebih banyak mengembangkan perasaan bersalah (guilty feeling) dari pada “kesadaran tentang kesalahan”. Sikap perasaan bersalah menyebabkan kita selalu dikejar-kejar selalu oleh rasa bersalah atau perasaan berdosa sehingga melumpuhkan sikap iman, pengharapan dan kasih. Dalam perasaan bersalah, kita akan merasa diri begitu kotor sampai tidak mampu melihat anugerah dan kasih Allah. Walaupun kita berulangkali telah  mendengar anugerah dan kasih Allah, tetapi kita tetap tidak pernah yakin akan pengampunan Allah.  Sehingga kita lebih  cenderung mengembangkan sikap yang terus menghukum dan mengadili diri sendiri. Sikap yang mengembangkan perasaan bersalah pada suatu tingkat tertentu dapat berubah menjadi penyakit jiwa (neurosis). Tidaklah mengherankan orang-orang yang semula religius namun hidup dalam perasaan bersalah terus-menerus akan mengalami penyakit neurosis. Sebagai salah satu jenis penyakit kejiwaan, neurosis sangat sulit disembuhkan. Yang mana fenomena penyakit jiwa neurosis bagaikan sosok Iblis yang bersarang dalam jiwa seseorang yang terus-menerus merongrong, menuntut dan mengadili setiap perbuatan yang sebenarnya sudah diampuni Allah. Dia terus didakwa akan kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu. Itu sebabnya mereka yang hidup dalam perasaan bersalah menempatkan diri dalam posisi yang bermusuhan dengan Allah. Mereka tidak dapat menikmati damai-sejahtera dan keselamatan dari Allah. Mungkin mereka tetap beribadah, tetapi batin mereka selalu tertekan sebab mereka memposisikan diri sebagai seorang terdakwa di hadapan tiran ilahi yang bernama Allah. Karena itu seorang yang dikejar oleh perasaan bersalah tidaklah mungkin mampu mengalami penyataan Allah (theofani). Saat seseorang terbelenggu oleh perasaan bersalah, yang dia lihat hanyalah kesalahan diri secara destruktif dan terpisah dari kasih Allah.  Jadi seseorang yang dikejar oleh rasa bersalah membutuhkan sentuhan kasih Allah dan pengertian bahwa kasih-karunia Allah pada hakikatnya telah menutupi setiap kesalahan dan dosa-dosanya. Saat dia membuka hati terhadap kasih Allah, maka darah penebusan Kristus akan memulihkan dia dari perasaan bersalah.

                Sebaliknya saat kita tidak mengembangkan perasaan bersalah, tetapi lebih mengembangkan “kesadaran akan dosa” - kita akan dimampukan untuk mengalami kehadiran Allah. Nabi Yesaya menyadari keberdosaannya saat dia berhadapan dengan diri Allah yang kudus. Di Yes. 6:5, nabi Yesaya mengungkapkan kesadaran dirinya selaku orang yang berdosa, yaitu: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam". Seharusnya setiap umat percaya senantiasa mampu menyadari keberdosaan dirinya secara positif. Arti dari kesadaran diri tentang dosa secara positif adalah  seseorang dimampukan untuk melihat secara kontras kekudusan Allah dengan kecemaran dirinya. Kontras tersebut membuka mata rohani umat bahwa mereka hanyalah ciptaan yang fana dan berdosa, sehingga pada  sisi yang lain mampu mendorong mereka untuk mengaku percaya bahwa Allah adalah sang  Pencipta yang kudus dan kekal.  Kesadaran akan dosa secara positif akan melahirkan sikap pengakuan iman. Sebaliknya perasaan bersalah secara negatif akan melahirkan sikap yang selalu meragu-ragukan kasih Allah dengan disertai tindakan yang menghukum diri sendiri. Itu sebabnya arti “melepas belenggu kesalahan di masa lalu” akan terwujud apabila kita mengembangkan sikap yang mau menyadari realitas dosa secara positif. Semakin kita mengembangkan perasaan bersalah, semakin kusut pula rajutan konsep diri kita yang negatif. Bahkan kesadaran nabi Yesaya akan dosa bukan hanya berkaitan dengan dirinya sendiri, tetapi juga dosa seluruh umat.  Semakin mata rohani kita jernih, maka semakin tajam untuk melihat realitas dosa sebagai suatu struktur dan sistem yang berhasil merusak pondasi etis-moral setiap pribadi yang hidup di dalamnya. Kemudian pada tingkat rohani yang lebih tinggi, kita  akan dimampukan untuk melihat bahwa kasih-karunia Allah ternyata lebih besar dan melampaui realitas keberdosaan umat yang komunal maupun personal. Sehingga kemudian nabi Yesaya berkata: “namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam".

Ditahirkan Kasih-Karunia Allah
Pengalaman buruk yang menyakitkan hati khususnya dosa dan kesalahan di masa lalu sering disebut sebagai suatu hutang. Walaupun mungkin kita telah melupakan berbagai pengalaman yang menyakitkan hati dan kesalahan yang pernah dibuat, tetapi alam bawah sadar kita ternyata tetap aktif. Sebab luka-luka batin yang pernah kita alami akibat pengalaman buruk dan dosa tersebut menimbulkan stigma dalam kepribadian kita. Untuk pemulihan diri, tidaklah cukup bilamana kita hanya mengenali luka-luka batin secara psikologis, tetapi juga harus berani mengakui di hadapan Tuhan dan sesama yang pernah  kita lukai.  Jadi upaya  untuk melepas masa lalu yang penuh dengan kesalahan dan dosa, lebih utama lagi jika kita bersedia dengan tulus berdamai dengan Allah dan sesama yang pernah kita sakiti. Mungkin dosa atau kesalahan kita akan diampuni. Tetapi harus diingat bahwa setiap dosa atau kesalahan yang pernah kita lakukan pada hakikatnya tetap meninggalkan bekas luka di hati sesama kita. Seperti setiap paku yang pernah menancap di sebuah papan, walaupun paku tersebut sudah dicabut tetap menimbulkan bekas lubang yang dalam. Demikian pula dosa atau kesalahan yang pernah kita lakukan kepada Allah. Setiap dosa atau kesalahan kita juga menimbulkan “lubang-lubang di hati” Allah. Itu sebabnya kita tidak bisa memulihkan luka-luka di hati Allah hanya dengan menjalankan hukum dan ritual keagamaan. Sebab perbuatan baik, amal atau kesalehan kita tidaklah mampu menebus setiap kesalahan dan dosa kita. Di Yes. 6:6-7 menyaksikan bagaimana kasih-karunia Allah pada hakikatnya selalu mendahului perbuatan baik atau kesalehan seseorang, yaitu: “Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni". Mungkin dari sudut pandang keagamaan boleh saja para pemimpin sangat getol dan intensif untuk mendorong umat melakukan berbagai perbuatan baik atau amal. Tetapi juga perlu diingat bahwa kita tidak semata-mata diselamatkan oleh perbuatan baik amal, tetapi oleh kasih-karunia Allah. Sebab kesalehan atau perbuatan baik kita bagaikan kain yang lusuh. Di Yes. 64:6 umat yang saleh justru mengakui dirinya, yaitu: “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin”.  Itu sebabnya keselamatan Allah yang dinyatakan di dalam karya penebusan Kristus tidaklah cukup bilamana umat hanya mampu mentaati firman Allah yang tertulis. Umat juga membutuhkan penebusan dari sang Firman Allah yang hidup, yaitu Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit.

                Selaku umat tebusan Kristus, kita telah ditahirkan oleh kuasa darahNya di atas kayu salib. Dengan demikian seharusnya kehidupan kita di masa kini tidak boleh dipengaruhi oleh luka-luka batin akibat dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat. Kehidupan kita di masa kini yang terarah kepada masa depan yang disediakan Allah seharusnya ditandai oleh pendamaian yang menyeluruh dalam karya penebusan Kristus. Masa lalu yang pahit dan penuh derita akibat dosa dapat kita lepaskan karena Kristus telah menyucikan hati kita dengan darahNya. Sehingga hidup kita di masa kini tidak lagi dibebani  oleh dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat, tetapi sebaliknya hidup kita akan semakin diperkaya oleh hikmat kasih Allah yang memampukan kita untuk belajar dan bersikap kritis terhadap berbagai peristiwa yang pernah kita alami. Pengalaman akan kegagalan dan dosa kita di masa lalu justru semakin menyadarkan kita akan kasih-karunia Allah yang begitu besar. Anehnya semakin kita menyadari kasih-karunia Allah yang begitu besar, kita justru akan semakin mampu menghargaiNya dengan melakukan kehendak dan firmanNya dengan hati yang tulus. Bukan sebaliknya, semakin seseorang menyadari kasih karunia Allah yang begitu besar, dia kemudian bersikap meremehkan atau merendahkan kasih karunia Allah! Sikap menghargai yang bernilai positif selalu menghasilkan tindakan yang positif pula. Jadi bilamana seorang umat yang mengklaim bahwa dirinya begitu menghargai kasih-karunia Allah, tetapi dia hidup dalam keinginan daging maka sesungguhnya dia telah bersikap munafik dan dipenuhi oleh dusta.  Umat yang demikian sesungguhnya tidak pernah mengalami karya penebusan Kristus yang membebaskan.

Utuslah Aku
Bilamana Kristus telah melepaskan kita dari berbagai belenggu masa lalu atau dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat, maka Dia menghendaki agar kita menjadi pribadi dengan format yang baru. Kristus menghendaki kita untuk menjadi para utusanNya. Sebagaimana saat nabi Yesaya telah ditahirkan dengan bara api, Allah bertanya kepadanya: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" (Yes. 6:8). Pengalaman akan kasih dan pengampunan Allah  yang begitu besar mendorong nabi Yesaya dengan segenap hati merespon panggilan Allah tersebut dengan berkata: "Ini aku, utuslah aku!" Jadi jelaslah semakin kita mampu menyadari akan kebesaran kasih-karunia Allah, maka kita akan digerakkan oleh kasih Allah untuk melakukan panggilanNya. Pengalaman kasih-karunia Allah selalu melahirkan respon untuk diutus. Sikap iman tersebut juga dialami oleh Simon Petrus. Saat Simon Petrus menyadari akan ketidaklayakkannya di hadapan Kristus, Luk. 5:8 menyaksikan respon Simon Petrus yang segera tersungkur di depan kaki Tuhan Yesus sambil berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa". Terhadap sikap Simon Petrus demikian, Tuhan Yesus justru semakin memperlihatkan kasih-karuniaNya dengan menjadikan Simon Petrus selaku utusanNya, yaitu: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia" (Luk. 5:10). Status profesi Simon Petrus yang semula seorang penjala ikan dibaharui oleh kasih karunia Kristus agar dia menjadi seorang “penjala manusia”. Tujuan dari panggilan Tuhan Yesus tersebut adalah agar Simon Petrus berkarya untuk membawa banyak orang berjumpa dengan Kristus dan mengenal kasih-karunia Allah yang menyelamatkan. Singkatnya, setiap umat percaya dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk menjadi para utusanNya yang mengkomunikasikan kasih Allah yang menyelamatkan, sehingga umat manusia di setiap tempat dan waktu juga mengalami pembaharuan hidup yang menyeluruh. Dengan demikian, respon dan komitmen untuk menjadi para utusan Kristus pada hakikatnya merupakan wujud yang konkret dari sikap yang mampu melepaskan diri belenggu dosa dan kesalahan di masa lalu. Kesediaan diri menjadi para utusan Kristus seharusnya menjadi titik awal yang menentukan dari umat yang telah dibaharui dan ditebus oleh Kristus.

                Namun sayang dalam kehidupan berjemaat kita sering menerapkan arti “menjala manusia” secara sempit. Seakan-akan bilamana kita dapat membawa seseorang untuk menjadi beragama Kristen maka persoalan telah beres. Padahal karya penebusan dan pembaharuan Kristus tidaklah identik dengan upaya “kristenisasi”. Menjadi orang Kristen tidak identik dengan umat yang menghayati spiritualitas iman Kristen. Arti “menjadi orang Kristen” hanyalah menunjuk seseorang yang dapat menjadi anggota gereja secara administratif. Karena itu anggota jemaat dengan status yang demikian umumnya mereka masih terikat oleh dosa-dosa masa lalu dan masa kini mereka. Mereka tidak pernah mengalami kasih-karunia Allah yang menyelamatkan. Sebaliknya umat yang hidup dalam spiritualitas iman Kristen senantiasa mengedepankan bukti pembaharuan hidup yang menyeluruh. Umat yang hidup dalam spiritualitas iman Kristen tidak pernah lagi terikat dengan kuasa dan keinginan dunia. Mereka mampu melepaskan semua keinginan dan kuasa dunia tersebut demi kasih dan pelayanan mereka kepada Tuhan Yesus Kristus. Di Luk. 5:11 menyaksikan bagaimana sikap para murid setelah mereka melihat ke-Tuhan-an Yesus, yaitu: “Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus”.  Para murid dengan rela meninggalkan segala sesuatu, lalu mereka mengikut Tuhan Yesus. Demikian pula sikap kita selaku utusan Kristus. Seharusnya kita juga mampu meninggalkan segala keinginan duniawi saat kita melayani dan menjadi utusan Kristus. Sehingga hidup kita telah menjadi berita keselamatan yang hidup dan menginspirasi banyak orang untuk mengikutinya.

Panggilan
Setiap umat menghendaki suatu kehidupan yang berkualitas tinggi. Pengalaman masa lalu bagi sebagian orang mungkin penuh dengan makna sehingga memampukan mereka untuk hidup pada masa kini secara berkualitas. Umumnya mereka memperoleh dukungan, fasilitas, cinta-kasih dan nilai-nilai yang memberdayakan dari orang-orang di sekitar. Mereka hidup di tengah-tengah komunitas keluarga dan masyarakat yang baik. Sehingga mereka relatif tidak memiliki masa lalu yang pahit atau terjebak dalam suatu kesalahan yang fatal. Namun harus diingat, bahwa tidak berarti mereka telah bebas dari belenggu  kuasa dosa. Apalagi bilamana sebagian umat  sering mengalami pengalaman pahit dan terjebak dalam berbagai dosa. Dengan demikian setiap orang  sebenarnya memiliki belenggu dari masa lalunya masing-masing, apakah dalam kadar yang biasa ataupun kadar yang sangat kompleks. Namun semua belenggu tersebut sebenarnya memiliki akar yang lebih dalam, yaitu kuasa dosa.  Karena itu setiap umat membutuhkan karya keselamatan Allah melalui penebusan Kristus. Sebagaimana nabi Yesaya yang harus ditahirkan dengan api bara yang diambil dari mezbah, demikian pula kita membutuhkan pentahiran darah penebusan Kristus. Tanpa pentahiran dan pemulihan dari Allah, maka kita tidak mungkin mampu hidup benar di hadiratNya. Kita akan selalu dikejar-kejar oleh rasa bersalah (guilty feeling) atau juga mungkin kita memiliki kesadaran tentang dosa tetapi kita juga sadar tidak mampu melakukan kehendak Allah secara benar. Semua sikap tersebut dapat melumpuhkan kita untuk melakukan tugas pengutusan dari Allah. Sebab yang kita pikirkan sepanjang hari adalah keadaan diri kita sendiri, bukan keadaan sesama di sekitar kita.

                Dengan demikian makna pembaharuan hidup menunjuk kepada sikap dari umat yang mampu melepaskan diri dari belenggu masa lalu ditandai oleh komitmen dan kesetiaan untuk melakukan tugas pengutusan Allah. Yang mana kita tidak lagi memikirkan keadaan diri sendiri, tetapi yang menjadi fokus utama kita adalah keselamatan dan kesejahteraan sesama. Kita dimampukan Kristus untuk menjalin relasi, komunikasi kasih dan karya keselamatan Allah sehingga kehidupan kita menjadi berkat bagi banyak. Jika demikian, bagaimanakah sikap saudara? Apakah hidup kita masih terbelenggu oleh masa lalu dan dosa-dosa kita? Semakin kita menghayati kasih-karunia Allah, maka kita dimampukan untuk menjadi utusan-utusanNya. Tetapi sebaliknya semakin kita meremehkan kasih-karunia Allah dengan bersandar kepada pengertian dan amal-ibadahnya sendiri, maka kita akan gagal untuk menjadi para utusan Kristus. Untuk itu saat ini setiap diri kita harus mengambil keputusan etis iman, apakah arah hidup kita terarah kepada kekudusan Allah ataukah kehendak dan keinginan dunia. Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com

 

Last Updated ( Sunday, 17 January 2010 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday56
mod_vvisit_counterYesterday325
mod_vvisit_counterThis week1152
mod_vvisit_counterThis month3220
mod_vvisit_counterAll342972

Login Form

Who's Online

We have 20 guests online

Weblinks

Contact YBM   (766 hits)
Cyber GKI   (445 hits)
Yohanes B.M.   (441 hits)
Firman Hidup 55   (339 hits)
The Meaning of Worship   (336 hits)
TextWeek   (322 hits)
Firman Hidup 50   (258 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::