HOME
KHOTBAH MINGGU, 7 MARET 2010 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Thursday, 18 February 2010

Renungan MInggu, 7 Maret 2010
Tahun C: Pra-Paska III
Warna: Ungu

TOBAT MENGEMBALIKAN MARTABAT
Yes. 55:1-9; Mzm. 63:1-8; I Kor. 10:1-13 Luk. 13:1-9

Pengantar
 Bagi umat percaya, kenyataan hidup ini dihayati sebagai suatu perjalanan rohani. Setiap umat percaya selalu berjalan dalam ziarah iman. Karena itu kehidupan kita seperti umat Israel yang sedang berjalan di padang gurun untuk menuju tanah Kanaan. Namun langkah perjalanan ziarah iman kita tidak senantiasa mampu bergerak lurus menuju tujuan.

Pernahkah kita berjalan di suatu tanah lapang yang cukup jauh? Ternyata saat kita berjalan, langkah kaki kita sedikit demi sedikit bergeser. Menurut para ahli kedua kaki setiap orang kebanyakan tidak sama panjangnya. Jarak antara kaki kiri dan kaki kanan setiap orang berbeda sekian inci. Sehingga ketika kita berjalan jauh di tanah lapang tanpa petunjuk, maka akan terjadi pergeseran arah sudut yang perlahan-lahan semakin besar. Sehingga setelah berjalan cukup lama, barulah kita menyadari bahwa langkah kita telah bergeser dari tujuan seharusnya. Itu sebabnya di padang gurun atau tanah yang luas kita membutuhkan kompas atau rambu-rambu yang membantu agar arah kaki kita tidak bergeser terlalu jauh. Demikian pula  halnya dengan ziarah iman kita. Setelah kita berjalan 1 tahun lamanya dari Pra-Paska tahun lalu, mungkin tidak kita sadari bahwa arah kaki iman kita telah melenceng. Mungkin kita merasa telah berjalan lurus kepada Allah, tetapi faktanya arah kaki kita telah bergeser menjauh dari Allah. Itu sebabnya makna dosa dalam bahasa Yunani sering disebut dengan “hamartia” yang artinya: menyimpang. Seperti anak panah yang tujuannya ingin kita tembakkan tepat di pusat sasaran, nyatanya anak panah tersebut meleset ke bagian tepi. Demikian pula kondisi rohani kita. Setiap umat percaya ingin mengarah kepada Allah, tetapnya nyatanya kita mengarah kepada dunia. Celakanya kita begitu yakin telah hidup benar. Sesama kita telah melihat bahwa arah dan cara hidup kita tidaklah benar. Karena itu kita sering membangun berbagai pembenaran diri saat kita menerima teguran atau kritik dari orang-orang sekitar kita. Padahal semakin kita membuat pembenaran diri, arah kaki ziarah iman kita semakin melenceng dari kebenaran. Sehingga pada akhirnya kita akan berupaya membenarkan setiap perbuatan kita yang melenceng. Sikap pembenaran diri tidak pernah mampu membenarkan kebenaran dan kehendak Allah. Sebaliknya dengan sikap pembenaran diri tersebut semakin membuktikan bahwa kehidupan kita telah sesat.


Ziarah Egoisme Diri     
         
Bilamana arah perjalanan rohani kita telah melenceng dan hidup kita sesat, maka tidaklah layak kita menyebutnya sebagai “ziarah iman”. Karena secara faktual pembenaran diri kita lebih kuat sehingga kita tidak mau rendah-hati dan bertobat, maka lebih tepat perjalanan hidup yang demikian disebut sebagai “ziarah egoisme diri”. Pola ziarah egoisme diri cenderung terarah kepada diri sendiri. Mereka cenderung menampung setiap aspek ke arah diri sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh St. Agustinus dan Martin Luther, bahwa orientasi hidup manusia selalu condong dan membelok menuju dirinya  sendiri(“curved in upon self”). Egoisme diri dimanifestasikan dalam sikap egosentrisme. Dengan kata lain “ego” (ke-aku-an) mereka lebih besar dari pada kedudukan Allah. Spiritualitas orang-orang egosentrisme adalah seperti pola laut Mati yang hanya mampu menerima aliran air sungai Yordan, tetapi enggan untuk menyalurkan air sungai Yordan tersebut kepada pihak lain. Sebab bagi mereka, keberadaan sesama dan  Allah hanya dianggap sebagai pihak yang wajib melayani kepentingannya. Dengan demikian pola ziarah egoisme diri atau egosentrisme cenderung hanya menampung dan menerima, tetapi mereka gagal untuk mendistribusikan setiap berkat keselamatan Allah secara layak. Sangat jelas bahwa arah “ziarah iman” bertolak-belakang dengan “ziarah egoisme diri”. Keduanya tidak mungkin dapat dikompromikan. Bahkan lebih tepat keduanya disebut sebagai lawan.

                Sebaliknya ziarah iman akan membawa setiap umat untuk menuju ke tanah terjanji. Ziarah iman merupakan ekspresi kehidupan umat yang dipimpin oleh Kristus untuk berjumpa dengan Allah yang hidup. Sedang ziarah egoisme diri akan membawa umat menuju kebinasaan. Ziarah egoisme diri merupakan ekspresi kehidupan umat yang dipimpin oleh hawa-nafsu sehingga yang mereka jumpai adalah kematian kekal. Padahal tujuan utama kehidupan kita adalah kehidupan kekal. Ziarah egoisme diri adalah penghalang dan musuh utama bagi kita untuk menyambut keselamatan yang telah dianugerahkan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Untuk itulah kita dipanggil Allah untuk bertobat. Yang tujuannya adalah agar langkah hidup kita kembali menjadi suatu ziarah iman. Sehingga melalui ziarah iman bersama dengan Kristus, martabat kita dipulihkan sebagai anak-anak Allah. Sebaliknya tanpa sikap pertobatan, maka kehidupan kita akan kehilangan martabat yang mulia sebagai anak-anak Allah.

Mencari Tuhan
Sikap pertobatan menjadi mustahil selama arah orientasi hidup kita belum diubahkan. Selama orientasi hidup kita tertuju kepada diri sendiri, maka segala kegiatan rohani yang paling saleh sekalipun hanya menjadi alat pemuas egoisme diri. Demikian pula kita sering berupaya bertobat dengan berdoa, berpuasa dan peduli kepada sesama. Tetapi faktanya semua  upaya tersebut ternyata tidak berhasil mengubah karakter buruk kita. Penyebabnya adalah arah orientasi hidup kita tetap tidak mau berubah. Sehingga spiritualitas dalam bentuk doa, puasa dan kepedulian kita masih terarah kepada egoisme diri kita. Sikap antusiasme doa, puasa dan kepedulian yang kita lakukan justru bertujuan untuk memperkuat tali jaring-jaring egosentrisme kita. Padahal tujuan asasi dari doa, puasa dan kepedulian yang kita lakukan seharusnya menjadi media pembebasan dari egoisme diri.  Karena itu tidaklah mengherankan jikalau komunitas umat yang paling sulit bertobat adalah kaum agamawan sendiri. Yang mana kaum agamawan baik pejabat gereja maupun umat merasa telah melakukan berbagai hal yang baik dan benar. Singkatnya mereka menganggap diri telah terbiasa berkecimpung dengan hal-hal yang rohaniah, sehingga mereka semakin “pandai dan ahli” menyimpan dosa dalam selimut kesalehan. Jadi makna mencari Tuhan yang sesungguhnya bukan sekedar ditempuh dengan cara melakukan berbagai macam kebajikan untuk menyembunyikan kemunafikan. Makna mencari Tuhan adalah kesediaan diri kita untuk membongkar setiap jaring-jaring egosentrisme dan selimut kemunafikan, sehingga tidak ada lagi yang dapat dibanggakan di hadapan Allah. Sebagaimana dipahami bahwwa dalam jaring-jaring egoisme diri tersebut tersimpan 7 dosa maut, yaitu: kesombongan, iri-hati, kemarahan, keserakahan, nafsu-birahi, kerakusan dan kemalasan. Sebab itu dalam mencari Tuhan secara benar, kita tidak lagi memiliki obsesi memperoleh pahala dari Tuhan. Semakin kita menyadari keberdosaan diri yang telah terikat oleh 7 dosa maut, maka kita tidak akan lagi mempedulikan apakah kita memperoleh berkat dan kasih-karuniaNya saat mencari Dia. Sebab yang utama adalah kita diperkenankan berjumpa dengan Allah yang hidup dan diperbaharui olehNya. Perjumpaan dengan Allah pada hakikatnya merupakan suatu anugerah yang paling agung dan bernilai. Karena perjumpaan dengan Tuhan senantiasa akan menghasilkan pembaharuan hidup secara menyeluruh. Sehingga makna doa, puasa dan kepedulian sungguh-sungguh akan menjadi suatu ungkapan kasih yang tulus dan tanpa syarat kepada Allah yang berkenan menjumpai kita dalam keberdosaan kita.

                Dengan demikian makna kehadiran Allah dan berjumpa denganNya lebih utama dari pada saat kita mengharapkan berkat dan karuniaNya. Di Yes. 55:6 berkata: “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!” Sebab tidak setiap saat Allah berkenan ditemui oleh umatNya. Juga tidak setiap saat Allah hadir untuk mendekat. Apabila Allah berkenan untuk ditemui dan mau mendekat kepada umat adalah karena kasih-karunia  atau anugerahNya. Kesediaan Allah untuk mendekat bukan karena Allah telah melihat begitu banyak perbuatan baik dan pahala yang dimiliki oleh umatNya. Namun sering dalam praktek hidup sehari-hari kita “memamerkan” berbagai perbuatan baik atau pahala yang telah kita lakukan. Seakan-akan dengan berbagai perbuatan baik atau pahala tersebut kita menganggap tidak layak mengalami hal-hal yang buruk atau kegagalan dalam kehidupan ini. Kalau kemudian kita mengalami sesuatu yang pahit dan menyedihkan, maka kita akan mencari Tuhan hanya untuk menagih janjiNya. Kita mengingatkan Allah akan banyak hal yang mulia telah kita lakukan kepadaNya. Sikap kita yang gemar menuntut tersebut semakin membuktikan betapa egoistis dan egosentrisme diri kita di hadapan Allah. Sadar atau tidak sadar kita telah berada dalam gigitan 7 dosa maut. Sehingga “ujung-ujungnya” dari setiap tindakan kita mencari Tuhan adalah mencari kepentingan diri kita sendiri. Tentunya spiritualitas yang demikian tidak akan pernah mampu membawa pertobatan sampai kapanpun. Selama kita  mencari Tuhan dengan sikap manipulatif dalam berbagai kemasan rohani, maka kita tidak akan pernah menemui diri Allah. Karena arti sikap “fasik” bukan karena seseorang tidak memiliki agama atau kepercayaan, tetapi makna “fasik” berarti  kita memanipulasi Allah sedemikian rupa sehingga kita menggeser kedudukan dan peranan Allah dan menggantikannya dengan diri kita. Dengan demikian menjadi jelas mengapa Allah sulit ditemui dan tidak selalu Dia mau mendekat kepada umatNya. Karena Allah tidak mungkin bersedia ditemui oleh umat yang fasik walaupun mereka begitu rajin melakukan berbagai macam kegiatan rohani dan perbuatan baik. Itu sebabnya di Yes. 55:7, Allah berfirman: “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya”. Allah berkenan dicari oleh mereka yang telah bersedia meninggalkan segala kefasikannya. Saat kita telah meninggalkan segala rancangan dan sikap hidup orang fasik, maka Allah akan berkenan mengasihani kita dengan memberi anugerah pengampunan dengan limpahnya.

Air Dunia Dan Air Hidup
Kehausan kita akan nafsu seringkali membuat diri kita tidak pernah puas dengan apa yang telah dianugerahkan Allah. Sikap kehausan duniawi kita tersebut pada akhirnya membawa kita kepada kematian. Kita sering begitu yakin bahwa pemenuhan akan kehausan duniawi akan mampu membawa kita kepada suatu kebahagiaan. Kenyataannya memang demikian. Kita berbahagia tetapi hanya sesaat, dan pada akhirnya adalah suatu kebinasaan. Sikap kita tersebut seperti seekor serigala yang  masuk ke dalam perangkap yang mematikan. Pernahkah kita mengetahui cara orang Eskimo menangkap serigala? Orang Eskimo akan menggunakan sebilah pedang yang dilumuri oleh darah hewan seperti kambing atau unggas. Setelah itu dibekukan. Lalu pedang yang telah diselimuti oleh darah yang beku tersebut kembali dilumuri oleh darah. Begitu seterusnya, sehingga pedang tersebut seluruhnya tertutup oleh darah yang beku. Kemudian pedang tersebut ditancapkan gagangnya ke tanah. Pada malam hari serigala akan datang akan mencium bau darah. Serigala tersebut akan terus menjilati darah yang tertempel di pedang tersebut dengan penuh nafsu. Selain karena nafsunya yang liar dan udara malam yang dingin, serigala tersebut tidak akan merasakan darah yang keluar dari lidahnya yang mulai terpotong. Serigala tersebut terus menjilati darahnya sendiri. Keesokan hari, orang Eskimo tersebut akan menemukan serigala yang telah mati sebab lidahnya telah terpotong dan kehabisan darah. Demikian pula kehausan kita akan nafsu keserakahan, iri-hati, seks dan sikap rakus. Kita akan terus menghisap dan menikmati setiap dosa tersebut dengan penuh nafsu. Namun pada akhirnya kita mengalami kematian yang kekal.

                Di tengah-tengah kehausan akan nafsu dosa tersebut, Allah memanggil kita untuk menikmati air hidupNya secara gratis. Di Yes. 55:1, Allah berfirman: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!”  Panggilan Allah tersebut dinyatakan pula oleh Tuhan Yesus saat Dia berbicara dengan perempuan Samaria. Yang mana perempuan Samaria mengalami kehausan nafsu seks dengan 5 orang laki-laki yang bukan suaminya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan  kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh. 4:13-14). Jadi siapapun yang minum air dari dunia ini, maka pastilah dia akan semakin haus. Tetapi manakala umat mau menyambut Kristus selaku air hidup, maka pastilah kehidupannya akan berubah menjadi sumber atau mata-air yang terus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Dia bukan hanya tidak akan haus lagi, tetapi kehidupannya akan menjadi produktif. Sebagai suatu sumber berkat, maka di manapun dia berada akan selalu membagikan berkat keselamatan Allah kepada setiap orang di sekitarnya. Di sini kita dapat melihat bahwa sifat dari air dunia akan selalu menyiksa batin umat manusia untuk terus meraih lebih dari apa yang seharusnya. Tetapi sebaliknya air hidup dari Allah akan selalu mampu memenuhi relung-relung kehampaan batin kita dengan damai-sejahteraNya, sehingga hidup kita selalu meluap dan mengalir keluar berupa berkat kepada banyak orang. Air hidup dari Allah senantiasa membaharui batin kita, sehingga hidup kita mampu berarti bagi diri kita sendiri dan bagi sesama di sekitar kita.

Pembaharuan Perspektif Iman
Air hidup dari Allah bukan hanya bekerja di saat kita mengalami sukacita dan keberhasilan. Tetapi air hidup dari Allah juga bekerja di saat kita menghadapi penderitaan, musibah dan tragedi hidup. Bilamana kehidupan kita telah dipenuhi oleh air hidup dari Allah, maka kita tidak akan mudah menilai suatu musibah atau penderitaan sebagai hukuman Allah. Di Luk. 13:1 menyaksikan bagaimana beberapa orang membawa kabar kepada Tuhan Yesus tentang nasib orang-orang Galilea yang darahnya dicampurkan oleh Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Tampaknya orang-orang Galilea  tersebut pernah melakukan pemberontakan kepada Pilatus. Sebab bagaimanapun umat Israel sepanjang sejarah tidak akan pernah mampu menerima penjajahan bangsa asing di tanah mereka. Tentunya sikap orang-orang Galilea tersebut dianggap sebagai ancaman dan bahaya bagi pemerintahan Romawi. Sehingga saat orang-orang Galilea tersebut sedang mempersembahkan korban di Bait Allah, para prajurit Pilatus segera membunuh mereka dengan meletakkan mayat mereka di atas hewan korban.  Jawaban Tuhan Yesus terhadap keadaan orang-orang Galilea yang terbunuh itu adalah: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:2-3). Saat kita dipenuhi oleh air dunia yang penuh dengan nafsu, maka kita akan menilai setiap penderitaan dan musibah dengan perspektif yang tidak jernih. Sehingga kita cenderung terlalu mudah menilai dan menghakimi orang lain di saat mereka mengalami kesusahan. Namun kita sering enggan untuk mengulurkan tangan dan menolong sesama yang sedang menderita. Tetapi tidaklah demikian sikap Tuhan Yesus. Dia tidak menganggap kematian tragis dari orang-orang Galilea tersebut sebagai tanda bahwa mereka lebih besar dosanya dari pada orang-orang yang mati secara wajar. Artinya suatu kematian secara wajar karena seseorang menderita sakit atau usia tua belum dapat dijadikan ukuran untuk menyatakan bahwa mereka telah hidup benar dibandingkan dengan sesama yang mengalami kematian karena kecelakaan atau musibah tertentu.

                Makna pembaharuan perspektif iman pada hakikatnya tidak pernah menilai suatu kejadian hanya dari permukaannya belaka. Tetapi tugas operatif dari pembaharuan perspektif iman selalu berupaya untuk melihat segala sesuatu dan peristiwa dari sudut pandangan mata Allah. Sehingga kita sering menilai segala sesuatu atau kehidupan sesama dari apa yang ingin kita lihat, tetapi kita tidak pernah menanyakan apa yang ingin Tuhan lihat.  Karena itu saat kita diperhadapkan dengan kehendak Allah yang sebenarnya, kita segera bereaksi untuk menolakNya. Sebab kita terlalu sering menempatkan makna kehendak Allah dalam perspektif kehendak diri kita. Atau kita selalu cenderung mengartikan cita-rasa kehendak Allah menurut cita-rasa (taste) keinginan kita. Padahal seharusnya cita-rasa keinginan kita ditundukkan kepada  cita-rasa kehendak Allah, sehingga yang kita kecap pada akhirnya bukan lagi air duniawi tetapi air hidup dari Allah. Selama kita masih mempertahankan cita-rasa keinginan duniawi, maka kita tidak akan pernah memperoleh air hidup dari Allah. Jadi arti bertobat adalah bilamana kita rela meniadakan setiap cita-rasa duniawi untuk sepenuhnya digantikan oleh cita-rasa air hidup dari Allah. Atau bilamana kita dengan tulus bersedia melepaskan setiap kecenderungan diri untuk memuaskan nafsu penilaian subyektif diri. Setelah itu kita harus bersedia untuk menggantikan kecenderungan manusiawi tersebut dengan sudut pandang Allah yang penuh kasih. Perubahan sudut pandang tersebut akan menjadi sesuatu yang konstruktif. Misalnya dari pada kita menganggap orang-orang yang mengalami kecelakaan atau musibah saat mereka bekerja sebagai hukuman Allah, bukankah lebih baik jika kita kemudian menciptakan sistem pengamanan yang efektif dalam bekerja? Sehingga melalui sistem, program dan peralatan keamanan bekerja tersebut kita dapat menyelamatkan para pekerja dari kecelakaan yang tidak perlu. Juga dari pada kita sibuk untuk menilai dan menghakimi orang yang menderita, bukankah lebih baik jika kita menciptakan sistem kehidupan yang lebih manusiawi dan membawa kemakmuran bagi banyak orang? Pembaharuan perspektif iman senantiasa akan menawarkan solusi yang sehat dan bermanfaat bagi kehidupan bersama. Itulah maknanya minum air hidup dari Allah. Sebab air hidup dari Allah selalu mengubah pola hidup kita dari sikap egoistis menjadi sikap yang terarah keluar, yakni kepada Allah dan sesama. Hidup kita diubahkan dari gerak sentripetal (memusat kepada diri sendiri) kepada gerak yang sentrifugal (keluar dari pusat untuk menjangkau yang lebih luas).  Sehingga kehidupan kita dapat menjadi berkat bagi sesama. Hasilnya adalah setiap orang dapat mengalami damai-sejahtera dan keselamatan Allah. 

Batas Toleransi
Makna hidup untuk menjadi berkat bagi sesama merupakan sesuatu yang urgen. Artinya panggilan menjadi berkat untuk menghadirkan keselamatan dan damai-sejahtera Allah bukanlah suatu panggilan yang insidentil. Sehingga siapapun yang hidupnya tidak menjadi berkat bagi sesamanya akan dihadapkan kepada pengadilan Allah. Di Luk. 13:7 menyaksikan bagaimana pemilik pohon ara yang telah menanam pohon ara selama 3 tahun tetapi tetap tidak berbuah. Sehingga dia mengambil keputusan: “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!” Kita sering beranggapan bahwa kita berhak  memperoleh segala yang kita inginkan. Tetapi kita tidak berjuang dengan gigih untuk mempersembahkan segala hal yang kita punya untuk kemuliaan Allah dan kasih kepada sesama. Makna pembaharuan perspektif iman harus menjadi sikap iman yang operatif. Sebab makna pembaharuan perspektif iman secara esensial sebenarnya masih terbatas kepada “mind-set”. Tetapi sikap iman yang operatif senantiasa berkaitan dengan inisiatif,  kinerja, sikap etis, integritas, dan hidup yang produktif. Sehingga apabila kita hanya mengalami pembaharuan perspektif iman belaka tanpa diikuti oleh sikap iman yang operatif, maka Allah akan mengambil keputusan untuk memotong pohon kehidupan kita. Namun Allah sungguh baik, seharusnya hidup kita segera dipotong karena tidak mampu menghasilkan buah. Tetapi ternyata Dia masih memberi kita kesempatan yang kedua kali. Apabila kita tidak lagi mampu menggunakan kesempatan yang kedua kali tersebut, maka Allah akan sungguh-sungguh memotong pohon kehidupan kita. Dengan demikian sikap pertobatan untuk menghasilkan buah keselamatan dalam kehidupan ini sebagai sesuatu yang mutlak dan sangat mendesak. Sehingga ziarah iman senantiasa ditandai oleh sikap iman yang operatif. Yang mana sikap iman yang operatif selalu segar dan inovatif sebab bersumber kepada air hidup Allah.               

Panggilan
Sikap pertobatan merupakan suatu proses yang akan dialami oleh setiap umat percaya. Sehingga sikap pertobatan tidak pernah selesai. Walaupun demikian esensi dari setiap pertobatan adalah progresivitas, yaitu harus selalu maju dan berkembang. Selama kita masih berupaya bertobat terus-menerus di tahap awal, maka kita tidak akan pernah mengalami kemajuan rohani. Pola kerohanian yang demikian tidak akan pernah mungkin untuk menghasilkan buah. Pada saatnya Allah  akan memotong pohon kehidupan kita, karena kita tidak pernah menggunakan setiap kesempatan yang telah dianugerahkan Allah dengan penuh tanggungjawab. Jika demikian air hidup dari Kristus juga tidak tersedia setiap saat. Ketika kita sengaja mengabaikan tawaran dan undangan dari Allah, maka kita akan kehilangan kesempatan yang berharga itu. Yang mana sikap pengabaian tersebut terjadi karena kita terlalu sibuk dengan kehausan untuk menikmati air dunia ini. Karena pada minggu Pra-Paska III ini kita dipanggil untuk memberi respon terhadap panggilan Allah, yaitu: “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!” (Yes. 55:1). Bagaimana dengan sikap saudara? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com

Last Updated ( Tuesday, 02 March 2010 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday266
mod_vvisit_counterYesterday325
mod_vvisit_counterThis week1362
mod_vvisit_counterThis month3430
mod_vvisit_counterAll343183

Login Form

Who's Online

We have 17 guests online

Weblinks

Contact YBM   (767 hits)
Cyber GKI   (446 hits)
Yohanes B.M.   (441 hits)
Firman Hidup 55   (340 hits)
The Meaning of Worship   (337 hits)
TextWeek   (324 hits)
Firman Hidup 50   (260 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::