HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun C arrow KHOTBAH MINGGU, 10 OKTOBER 2010
KHOTBAH MINGGU, 10 OKTOBER 2010 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Tuesday, 28 September 2010

Renungan Minggu, 10 Oktober 2010
Tahun C: Minggu Biasa
Warna: Hijau

BERSYUKUR DAN BERTERIMA-KASIH
II Raj. 5:1-3, 7-15c; Mzm. 111; II Tim. 2:8-15; Luk. 17:11-19

Pengantar

                 Hakikat ungkapan terima kasih bersifat universal. Setiap budaya, adat, filsafat, agama dan teologi manapun selalu mengajar kepada setiap orang untuk berterima-kasih saat mereka memperoleh sesuatu. Dengan demikian seharusnya ucapan terima-kasih telah mendarah-daging dalam kehidupan umat manusia. Itu sebabnya ucapan terima kasih seharusnya selalu muncul secara spontan dan tulus saat seseorang memperoleh sesuatu atau pertolongan.

 

Namun dalam praktek hidup ternyata tidaklah demikian. Kita sering menghadapi kendala untuk menyampaikan terima kasih dengan tulus kepada seseorang yang telah membantu dan memberikan sesuatu. Kendala tersebut disebabkan karena kita menganggap bahwa apa yang dilakukan atau diberikan seseorang kepada kita sebagai sesuatu yang seharusnya. Kita sering merasa bahwa kita  layak untuk memperoleh sesuatu atau bantuan tertentu dari orang lain. Persepsi tersebut terbentuk karena mungkin sejak masih anak-anak sampai dewasa, kita selalu dilayani dan memperoleh apa yang kita inginkan. Sangat berbeda dengan seseorang yang sejak masih kanak-kanak sampai dewasa mengalami hal yang sebaliknya. Dalam perjuangan hidup yang sangat berat, dia beberapa kali telah mengalami bantuan dan pertolongan dari sesama di luar dugaannya. Dia juga mengingat bagaimana di saat yang sulit dan kritis, tiba-tiba dia memperoleh bantuan sehingga mampu keluar dengan selamat. Pengalaman hidup yang demikian telah mengajar dia untuk selalu mampu menghargai dan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang di sekelilingnya. Tipe orang yang pertama adalah menghayati hidup secara konsumtif, dan tipe orang yang kedua adalah menghayati hidup secara produktif. Tipe konsumtif adalah sikap yang menghayati bahwa realitas kehidupan sebagai sesuatu yang ditujukan untuk melayani kepentingan dirinya. Sedang tipe produktif adalah sikap yang menghayati bahwa realitas kehidupan harus diolah dan diperjuangkan bersama dengan sesama. Karena itu dalam tipe produktif, seseorang selalu menghargai setiap hal yang dialami sebagai suatu berkat atau karunia. Sikap penghargaan tersebut dinyatakan dalam ungkapan terima kasih dan ucapan syukur.

 

Kesepuluh Orang Kusta

                Injil Lukas menyaksikan bagaimana saat Tuhan Yesus dalam perjalananNya ke Yerusalem, Dia didatangi oleh sepuluh  orang kusta yang berseru: “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (Luk. 17:13). Sebagai orang-orang yang berpenyakit kusta pada zaman itu, kesepuluh orang kusta tersebut tidak diperkenankan untuk mendekat kepada orang-orang yang sehat. Hukum Taurat menyatakan bahwa seseorang yang terkena penyakit kusta akan dinyatakan sebagai najis: “Imam haruslah memeriksa penyakit pada kulit itu, dan kalau bulu di tempat penyakit itu sudah berubah menjadi putih, dan penyakit itu kelihatan lebih dalam dari kulit, maka itu penyakit kusta; kalau imam melihat hal itu, haruslah ia menyatakan orang itu najis” (Im. 13:3). Kondisi najis tersebut dianggap dapat menular kepada orang lain yang menyentuhnya. Itu sebabnya Im. 5:3 menyatakan: “Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apapun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah”. Untuk memenuhi hukum Musa itu, orang-orang kusta pada zaman itu harus memberi tanda saat mereka lewat dengan perkataan: “Najis, najis”. Tujuannya adalah agar orang-orang di sekitar dapat segera menghindar dari kemungkinan untuk tersentuh anggota tubuh dari orang yang berpenyakit kusta. Dengan demikian kesepuluh orang kusta tersebut harus berdiri cukup jauh dari Yesus dan para muridNya.

 

                Bukankah sangat menarik, kebiasaan orang-orang  berpenyakit kusta yang harus mengucapkan yang memberi tanda, yaitu: “Najis, najis” tiba-tiba berubah saat mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus. Kesepuluh orang kusta tersebut tidak  lagi mengucapkan kata-kata “Najis-najis” kepada Tuhan Yesus, tetapi mereka mengucapkan permohonan: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Makna ungkapan “najis, najis” yang diucapkan oleh orang-orang kusta selain memberi tanda kepada orang-orang di  sekitarnya untuk menjauh, sebenarnya juga merupakan ungkapan yang menyakiti diri mereka sendiri. Sebab ungkapan “najis” tersebut menunjuk kepada keadaan tubuhnya yang sedang mengidap penyakit kusta. Mereka akan cenderung untuk membenci dirinya sendiri, karena keadaan tubuhnya dianggap mereka sebagai sumber atau asal dari kenajisan yang dapat membahayakan dan menajiskan orang-orang di sekitarnya. Karena itu para penderita penyakit kusta selalu menderita secara fisik, tetapi juga secara emosional dan sosial. Secara fisik, penyakit kusta menyebabkan kulit dan beberapa dari organ-organ tubuh dapat terlepas dengan luka-luka  tertentu. Secara emosional, mereka menderita dengan kondisi tubuh yang cacat dan tampak mengerikan. Secara sosial, orang-orang berpenyakit kusta selalu dijauhi dan disingkirkan dalam pergaulan. Bahkan mereka juga harus dipisahkan dari keluarga dan tempat tinggalnya. Karena itu tidak mengherankan jikalau para penderita kusta selalu menganggap penyakit tersebut sebagai suatu hukuman dari Allah (bdk. Bil. 12:10). Karena dianggap sebagai bentuk dari hukuman Allah, maka kesembuhan dari penyakit kusta harus melalui proses ritual pentahiran: "Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya: ia harus dibawa kepada imam” (Im. 14:2).

 

Firman Yang Memulihkan

                Respon Tuhan Yesus terhadap permohonan kesepuluh orang kusta tersebut adalah: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam" (Luk. 17:14). Ternyata saat mereka di perjalanan menuju ke tempat imam, kesepuluh orang kusta tersebut  menyadari bahwa mereka telah sembuh. Tampaknya kesepuluh orang kusta tersebut mengalami kesembuhan saat Tuhan Yesus berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam". Mereka baru menyadari pemulihan dari penyakit kusta setelah mereka berjalan beberapa saat. Perkataan Tuhan Yesus memiliki daya penyembuh saat kesepuluh orang kusta tersebut percaya dengan pergi ke rumah imam. Dengan demikian, kita dapat melihat kuasa firman dari Kristus dan sikap iman dari kesepuluh orang kusta tersebut. Walaupun Tuhan Yesus tidak menyentuh tubuh kesepuluh orang kusta tersebut, firmanNya mampu memulihkan. Kini kita mengetahui bahwa penyakit kusta disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Bakteri lepra ini termasuk dalam tipe penyakit granulomatosa  pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit. Karena itu penyembuhan kesepuluh orang kusta tersebut memperlihatkan kuasa mukjizat dari Kristus. SabdaNya berkuasa dan mampu menjadikan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

 

                Bacaan leksionari memperlihatkan bagaimana terdapat perbedaan pola kerja Tuhan Yesus dengan pola kerja yang dilakukan oleh nabi Elisa. Naaman, panglima dari kerajaan Aram menderita sakit kusta. Namun karena Naaman seorang abdi kerajaan yang setia dan mampu melakukan tugasnya dengan baik, dia sangat disayang oleh raja Aram. Itu sebabnya raja Aram mengabulkan permintaan Naaman untuk pergi ke Israel karena dia mendengar dari seorang abdi di rumahnya yaitu seorang gadis Israel, bahwa di Israel terdapat seorang nabi yang akan mampu menyembuhkan penyakit kusta. Saat Naaman pergi ke rumah nabi  Elisa, ternyata Elisa tidak menemui dia. Melalui pembantunya, nabi Elisa berpesan: "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir" (II Raj. 5:10). Semula Naaman ragu dan kecewa dengan sikap nabi Elisa. Namun akhirnya Naaman melaksanakan perintah nabi Elisa, yaitu dengan mandi 7 kali di sungai Yordan. Setelah Naaman mandi, dia melihat seluruh penyakit kustanya telah sembuh. Kisah pemulihan penyakit kusta dari Naaman yang dinyatakan Allah melalui nabi Elisa membutuhkan media, yaitu mandi 7 kali di sungai Yordan. Tetapi pemulihan kesepuluh orang kusta yang dinyatakan Allah melalui Kristus terjadi melalui sabdaNya. Bahkan sangat menarik, karena ternyata Tuhan Yesus tidak pernah mengucapkan perkataan “sembuh atau tahir”. Tetapi Dia menyuruh kesepuluh orang kusta tersebut menghadap imam. Padahal kita tahu bahwa seorang kusta yang berani menghadap seorang imam umumnya sangat yakin bahwa dia telah sembuh. Keyakinan seseorang bahwa dia telah sembuh dari sakit kusta itu kemudian harus diuji dan dibuktikan kebenarannya oleh seorang imam. Jadi inti pesan dari Injil Lukas dalam kisah penyembuhan Kristus terhadap sepuluh orang kusta sangat jelas, yaitu Kristus adalah Tuhan dan Anak Allah Yang Maha-tinggi (bdk. Luk. 2:11; 1:32). Konkretnya, melalui kehidupan dan karya Kristus, Allah berkenan menyatakan keselamatanNya secara penuh dalam sejarah kehidupan umat manusia (bdk. Luk. 2:30-32).         

                 

Ucapan Syukur Terhadap Karya Keselamatan Allah

                Setelah kesepuluh orang kusta mengetahui bahwa mereka telah sembuh, maka mereka kemudian tidak jadi meneruskan perjalanan ke rumah imam untuk membuktikan bahwa mereka telah tahir dari sakit kusta. Sesungguhnya mereka menyadari bahwa mereka kini telah sembuh setelah berjumpa dan percaya kepada perkataan Tuhan Yesus. Namun salah seorang dari kesepuluh  orang kusta tersebut memutuskan untuk segera kembali menemui Tuhan Yesus dari pada segera pulang ke rumah karena sukacitanya.  Dia datang untuk mengucap syukur atas pertolongan Tuhan Yesus. Luk. 17:15-16 menyaksikan: “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,  lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria”. Sengaja Injil Lukas menyaksikan bahwa salah seorang dari kesepuluh orang sakit kusta tersebut mengungkapkan rasa syukurnya dan mempermuliakan Allah dengan tersungkur di depan kaki Tuhan Yesus. Jadi orang kusta tersebut bukan hanya sekedar berterima-kasih untuk memenuhi adat dan sopan-santun dalam pergaulan. Dia mempermuliakan Allah yang telah berkarya di dalam diri Kristus, sehingga tindakan orang kusta yang tersungkur di depan kaki Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa dia mengakui dengan iman ke-Tuhan-an Yesus. Penyembuhannya dari penyakit kusta juga menjadi momen yang membuka mata-rohaninya terhadap identitas Kristus sebagai Tuhan dan Anak Allah yang maha-tinggi.

 

                Namun sikap iman tersebut ternyata tidak dinyatakan oleh sembilan orang kusta lainnya yang telah disembuhkan oleh Tuhan Yesus.  Mereka pergi begitu saja, tanpa sikap bersyukur dan mempermuliakan Allah. Seakan-akan karya Kristus yang telah menyembuhkan mereka dari penyakit kusta merupakan suatu kesembuhan yang tanpa arti. Padahal kesembilan orang kusta tersebut adalah umat Israel yang seharusnya memahami bahwa karya kesembuhan dari Kristus merupakan karya Allah sendiri.   Sebaliknya identitas orang kusta yang datang menemui Tuhan Yesus dengan bersyukur dan mempermuliakan Allah dengan sangat jelas disebut: “Orang itu adalah seorang Samaria” (Luk. 17:16). Kita mengetahui bahwa orang-orang Samaria sering dianggap oleh umat Israel di Yudea sebagai bangsa yang najis sebab kepercayaan mereka telah bercampur dengan kekafiran “agama” bangsa Asyria. Pada pihak lain umat Israel di Yudea menganggap diri mereka sebagai umat Allah yang istimewa dan yang hidup berdasarkan kemurnian hukum Taurat. Tetapi kini kesembilan orang kusta yang adalah umat Israel di Yudea itu justru tidak menampakkan rasa syukur dan memuliakan Allah dengan menjumpai Kristus setelah penyakit kusta mereka disembuhkan. Sebaliknya orang Samaria yang dianggap kafir dan najis itu  lebih peka dengan panggilan hati-nurani dan imannya dengan mempermuliakan Allah yang telah berkarya di dalam diri Kristus. Pesan Injil Lukas dalam kisah ini sangat jelas menyaksikan bahwa orang-orang yang menganggap dekat dan memiliki hubungan istimewa dengan Allah seringkali tidak mampu menghargai anugerah dan karya keselamatan Allah yang telah terjadi dalam hidupnya. Justru orang-orang yang dianggap “najis” dan jauh dari Allah seringkali mampu memberi respon iman yang tulus sebagaimana diperlihatkan oleh orang Samaria yang telah disembuhkan oleh Kristus. Dengan demikian respon iman kepada Allah tidak ditentukan oleh status formal sebagai umat Allah. Sebab mereka yang tidak tergolong umat Allah juga terbuka kemungkinan untuk memberi respon iman dan mempermuliakan Allah.

 

Pintu Anugerah Allah Kepada Umat “Yang Bukan Umat Allah”

                Apabila dipahami bahwa tindakan iman merupakan anugerah Allah, maka dapat dikatakan bahwa sikap syukur dan memuliakan Allah yang dilakukan orang Samaria yang menderita penyakit kusta tersebut pada hakikatnya merupakan kasih-karunia Allah. Sikap syukur yang dinyatakan orang Samaria yang menderita penyakit kusta tersebut dilandasi oleh sikap iman. Semula dia      bersama dengan teman-temannya yang sakit kusta hanya menyebut Yesus sebagai “Guru” (dari kata: “epistata”). Tetapi kini dia berlutut di hadapan kaki Kristus yang secara implisit menyatakan pengakuan imannya.  Tuhan Yesus kemudian meresponnya dengan berkata: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau" (Luk. 17:19). Bagi Kristus, orang kusta dari Samaria yang datang kepadaNya dilandasi dengan sikap iman. Sikap yang sama juga diperlihatkan oleh Naaman setelah dia mandi di sungai Yordan sebanyak 7 kali. Naaman datang menemui nabi Elisa untuk mengucapkan terima-kasih sambil berkata: "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!" (II Raj. 5:15). Dalam hal ini Naaman selain mengucapkan terima kasih, dia juga menyatakan sikap imannya kepada Allah Israel sebagai satu-satunya Allah. Kesembuhan yang dialami oleh Naaman menghantar dia untuk mengakui Yahweh sebagai satu-satunya Allah di atas muka bumi ini. Jadi Naaman menerima kesembuhan dari penyakit kusta dan juga menerima keselamatan bagi hidupnya. Karena itu kesembuhan orang Samaria yang menderita sakit kusta bukan hanya suatu kesembuhan yang bersifat fisik belaka. Orang Samaria yang pernah menderita penyakit kusta itu juga memperoleh kesembuhan yang holistik, yaitu keselamatan seluruh hidupnya. Jadi suatu ucapan syukur yang dilandasi oleh iman akan menjadi suatu tindakan yang berkenan kepada Allah. Itu sebabnya kesembilan orang kusta yang tidak datang mengucap syukur kepada Kristus hanya sembuh secara fisik belaka. Tetapi mereka tidak akan mengalami anugerah keselamatan Allah yang bersifat menyeluruh.

 

                 Dalam kehidupan sehari-hari betapa sering kita bersikap seperti sembilan orang penderita kusta yang telah disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Kita hanya menginginkan kesembuhan atas penyakit kita, tetapi kita tidak mengingini Allah di dalam Kristus yang telah menyembuhkan kita. Tepatnya kita sering mengharap perbuatan mukjizatNya, tetapi tidak mengharap relasi personal dengan Allah. Dengan sikap demikian, kita menempatkan Allah atau Kristus hanya sekedar obyek untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan kita. Manakala kita membutuhkan dan menginginkan pertolongan Tuhan Yesus, kita datang dengan mengiba-iba seperti   yang dilakukan oleh sembilan orang yang sakit kusta itu. Tetapi setelah kita disembuhkan, kita akan segera meninggalkan Kristus. Atau mungkin kita sekedar datang kepada Tuhan Yesus untuk mengucapkan terima-kasih sebagai suatu bentuk sopan-santun, namun hati kita tidak terkait erat dengan Dia. Itu sebabnya kita tidak mampu bersyukur saat menghadapi berbagai hal yang di luar harapan dan keinginan kita. Kita tidak bersyukur saat menderita sakit yang belum tersembuhkan, saat menghadapi halangan dan kegagalan, saat menghadapi tekanan, penderitaan dan kematian.  Mengapa kita tidak mampu bersyukur kepada Allah? Karena di saat kita memperoleh atau mendapatkan apa yang kita harapkan, hati kita tidak terkait erat dalam kasih dengan Kristus. Kita mungkin berterima-kasih atas pertolongan Kristus, tetapi hati kita tidak menghormati dan mengasihiNya. Apalagi di saat kita tidak memperoleh apa yang kita harapkan, maka hati kita akan lebih mudah berpaling dan meninggalkan Kristus. Jadi bilamana kita tidak mampu menyikapi dengan iman segala hal yang baik telah kita terima, maka kita akan kehilangan iman saat kita tidak memperoleh apa yang kita anggap baik. Sebab iman merupakan pintu kasih-karunia Allah yang memampukan setiap umat untuk bersyukur dan memuliakan Allah.

 

Pancaran Iman

                Melalui kisah salah seorang dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus dan Naaman, panglima kerajaan Aram yang disembuhkan Allah melalui nabi Elisa, kita dapat melihat pancaran ucapan syukur yang lahir dari tindakan iman kepada Allah. Dengan demikian hidup beriman ditandai oleh ucapan syukur dan tindakan yang memuliakan Allah. Mungkin tanpa iman, kita dapat mengucapkan kata-kata atau ungkapan yang penuh syukur dan memuliakan Allah. Tetapi seluruh ungkapan kita  tersebut sebenarnya tidak berarti di hadapan Allah. Sebab ungkapan syukur dan tindakan yang memuliakan Allah yang tanpa iman tersebut tidak pernah menyentuh hati Allah. Ucapan syukur dan sikap yang memuliakan Allah tersebut mungkin hanya mampu membuat sesama terkesan, tetapi tidak mencerminkan isi karakter diri kita yang sesungguhnya. Tanpa tindakan iman, seluruh pola ungkapan syukur dan perbuatan yang memuliakan Allah justru hanya melahirkan sikap munafik. Kita mengetahui bahwa sikap munafik tidak akan pernah mampu menyembunyikan watak atau karakter kita yang sesungguhnya walaupun kita sering mengucapkan kata-kata yang saleh dan rohani. Sebaliknya sikap munafik akan menimbulkan sikap yang menyebalkan dan antipati dari orang-orang di sekeliling kita. Sebagaimana kita muak terhadap kemunafikan, demikian pula sesama di sekitar kita juga akan muak saat mereka menyaksikan “kefasihan” kita untuk mengucapkan perkataan yang serba saleh namun hidup kita jauh dari kesalehan. Namun manakala kesalehan kita lahir dari hati yang tulus dan dilandasi oleh iman, maka kehidupan kita akan menjadi inspirasi yang memotivasi sesama kita untuk meneladaninya. Sesama akan mengikuti jejak kehidupan kita sebab hidup kita memancarkan karakter Kristus. Pancaran iman dalam karakter kita senantiasa membawa pengaruh yang positif dan transformatif dalam kehidupan ini. 

 

                Selain itu sikap ucapan syukur dan memuliakan Allah yang lahir dari pancaran iman menunjukkan bahwa hati-nurani kita tidak berada dalam kondisi yang saling bertentangan. Tanpa landasan iman, ucapan syukur dan tindakan memuliakan Allah akan menempatkan hati-nurani kita di dalam konflik. Sebab fungsi iman selain memberikan landasan berpija k bagi spiritualitas kita, iman juga mampu menyatukan atau mengintegrasikan hidup kita dalam damai-sejahtera Allah. Iman kepada Kristus mendatangkan rekonsiliasi di mana kita juga boleh berdamai dengan Allah, sesama dan diri sendiri. Bukankah suatu kehidupan yang dilandasi oleh rekonsiliasi (pendamaian) akan mendatangkan suatu ucapan syukur untuk setiap hal yang dapat kita alami, yaitu hal-hal yang indah dan hal-hal yang menyedihkan? Kita sering sulit menghayati ucapan syukur yang memuliakan Allah karena kehidupan kita penuh dengan kemarahan dan kebencian kepada Allah, sesama dan diri sendiri. Dengan demikian semakin jelas, bahwa tindakan iman pada hakikatnya ditandai oleh rekonsiliasi yang utuh dengan Allah, sesama dan diri sendiri. Rekonsiliasi ini hanya akan terjadi bilamana kita mau menyambut dan percaya kepada Kristus. Karena Kristus adalah Tuhan dan Anak Allah yang maha-tinggi.

 

Panggilan

                   Untuk memaknai kehidupan yang berkenan kepada Allah, tidaklah cukup bagi kita untuk belajar mengucapkan terima-kasih atas pertolongan dan bantuan yang diberikan sesama kepada kita. Sebab makna ucapan terima-kasih yang demikian merupakan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang memahami peradaban dan etika hidup bermasyarakat. Kita juga perlu mengembangkan sikap hidup bersyukur yang lahir dari kekayaan iman dan kasih kepada Kristus, sehingga ucapan syukur kita senantiasa mempermuliakan nama Allah. Dengan spiritualitas yang demikian, kita akan mampu bersyukur untuk setiap hal yang terjadi. Yang mana ucapan syukur kita tersebut tidak dipengaruhi oleh kondisi luar (faktor-faktor eksternal) sebab  lahir dari kedalaman dan kekayaan iman yang telah dianugerahkan Allah.  Kita akan mampu bersyukur dan memuliakan Allah di saat kita sakit, gagal, terluka dan menghadapi tekanan serta penderitaan.

 

                Jika demikian, bagaimanakah sikap saudara dalam menyikapi realitas kehidupan ini? Apakah kita sungguh-sungguh menempatkan Allah di dalam Kristus sebagai Tuhan yang menguasai kehidupan kita, sehingga kita selalu bersyukur dengan segala hal yang terjadi? Spiritualitas iman yang demikian tidak akan menempatkan diri Allah hanya sekedar obyek untuk memuaskan setiap keinginan dan harapan kita. Allah dan Kristus selalu menjadi subyek yang berdaulat penuh untuk mengatur seluruh kehidupan kita. Bilamana kita hidup dengan ucapan syukur dan beriman, maka kita juga boleh mendengar suara Kristus yang berkata, yaitu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."  Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com

 

Last Updated ( Wednesday, 29 September 2010 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday153
mod_vvisit_counterYesterday2723
mod_vvisit_counterThis week13913
mod_vvisit_counterThis month59761
mod_vvisit_counterAll2970273

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2653 hits)
Firman Hidup 50   (2543 hits)
Firman Hidup 55   (2518 hits)
Cyber GKI   (2288 hits)
The Meaning of Worship   (2187 hits)
TextWeek   (1975 hits)
Contact YBM   (1937 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::