HOME arrow KHOTBAH arrow Khotbah Renungan Leksionari Tahun A arrow KHOTBAH MINGGU, 16 JANUARI 2011
KHOTBAH MINGGU, 16 JANUARI 2011 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Friday, 31 December 2010

Renungan Minggu,  16 Januari 2011
Tahun A: Minggu II sesudah Epifani
Warna: Hijau

DIPANGGIL, DIBENTUK DAN DIUTUS
Yes. 49:1-7; Mzm. 40:1-12; I Kor. 1:1-9; Yoh. 1:29-42

 
Pengantar

 Di Yoh. 1:37 menyaksikan 2 orang murid Yohanes Pembaptis memilih untuk mengikut Kristus. Mereka memilih untuk mengikut Tuhan Yesus setelah mereka mendengar ucapan Yohanes Pembaptis, gurunya yang berkata dan menunjuk Tuhan Yesus sebagai “Anak Domba Allah”. Ucapan Yohanes Pembaptis yang menyaksikan Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah mempunyai pengaruh yang begitu mengesankan, sehingga kedua murid Yohanes Pembaptis tersebut memilih meninggalkan guru mereka dan mengikut Tuhan Yesus.

Dengan kesaksian demikian, apakah telah terjadi persaingan antara Tuhan Yesus dengan Yohanes Pembaptis? Pertanyaan ini patut dikemukakan karena secara faktual Yohanes Pembaptis kehilangan 2 orang  muridnya, dan Tuhan Yesus memperoleh 2 orang murid. Bagaimanakah bila suatu gereja Tuhan kehilangan sebagian besar anggota jemaatnya dan mereka memilih untuk menjadi anggota di gereja yang lain? Atau pengikut suatu agama berpindah dan mengikut suatu agama yang lain? Saat ini kita makin merasakan persaingan yang sangat ketat dalam setiap bidang kehidupan. Persaingan tersebut pada hakikatnya merupakan konsekuensi logis di era global ini. Kini persaingan pada era globalisasi telah terjadi dalam setiap aspek di bidang ekonomi seperti: perdagangan, investasi, tenaga kerja, lalu lintas modal. Tetapi juga di bidang-bidang lain seperti musik, sosial politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, fashion dan cita-rasa makanan bahkan agama.  Dalam hal ini kita selaku umat percaya perlu menyikapi realita persaingan dengan sikap yang positif. Sebab persaingan dalam kehidupan umat manusia merupakan bagian yang konstruktif dari suatu kehidupan yang bermutu asalkan didasari oleh prinsip dan nilai-nilai kejujuran dan ketulusan, panggilan hati nurani dan kebenaran.

 

Kompetisi dan Kompetensi

 Apabila dalam kehidupan ini tidak terjadi persaingan yang konstruktif, pastilah  tidak terjadi suatu perubahan, kemajuan, dan perkembangan dalam peradaban umat manusia. Jadi  yang harus kita tolak dan hindari adalah segala bentuk persaingan yang negatif yaitu persaingan yang menghalalkan segala macam cara dan berbagai tindakan yang tidak etis seperti teror, kelicikan, fitnah dan desas-desus. Sebab persaingan yang menghalalkan segala macam cara sesungguhnya  dilandasi oleh sikap diri yang tidak kompeten, tidak memiliki kemampuan, dan keahlian. Kemampuan bersaing (kompetisi) hanya mungkin ketika kita memiliki kompetensi (dari kata “competence” yang artinya: kecakapan, keahlian). Apabila kita kompeten, pastilah kita berani untuk bersaing secara ksatria (gentlemen). Tetapi juga orang yang menghalalkan segala macam cara  karena dia tidak memiliki sikap etis, prinsip moral, kejujuran dan integritas diri. Dengan demikian manakala kita memiliki kompetensi yang dilandasi oleh sikap moral, etika dan integritas diri, maka kita akan selalu bersaing secara sehat dan konstruktif dalam kehidupan ini. Padahal setiap kompetensi hanya terjadi ketika kita memberdayakan setiap karunia Allah. Sebab dengan karunia-karunia yang diberikan oleh Allah, kita akan dimampukan untuk memiliki beberapa kompetensi yang membuat kita cakap dan ahli untuk melakukan suatu tugas dan pekerjaan.

 

                Motivasi  utama dari 2 orang murid Yohanes Pembaptis yang memutuskan untuk mengikut Tuhan Yesus bukan disebabkan karena suatu persaingan yang tidak sehat. Karena dengan jelas Yohanes Pembaptis yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah sebagaimana yang dinubuatkan oleh para nabi. Bahkan di Yoh. 1:34 Yohanes Pembaptis menyatakan Tuhan Yesus sebagai Anak Allah. Dengan demikian Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa Tuhan Yesus layak untuk diikuti. Di Yoh. 3:28 Yohanes Pembaptis menyatakan secara gamblang tentang dirinya, yaitu: “Kamu sendiri dapat  memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya”. Yohanes Pembaptis tidak pernah mengklaim dirinya sebagai seorang Mesias, sebab dia diutus Allah untuk menjadi bentara yang membuka jalan bagi kedatangan Tuhan Yesus sebagai Mesias. Lalu di Yoh. 3:29 Yohanes Pembaptis menyebut Tuhan Yesus sebagai mempelai laki-laki, sedangkan dia memposisikan dirinya sebagai seorang sahabat dari mempelai laki-laki. Karena itu kalau Tuhan Yesus sebagai mempelai laki-laki memperoleh umat percaya sebagai mempelai laki-lakinya, maka Yohanes Pembaptis sebagai sahabat mempelai laki-laki akan ikut merasa berbahagia. Melalui sikap Yohanes Pembaptis tersebut kita dapat melihat kebesaran jiwa  seorang utusan. Yohanes Pembaptis mengakui kompetensi Tuhan Yesus sebagai Mesias, Anak Domba Allah dan Anak Allah. Karena itu Yohanes Pembaptis sama sekali tidak merasa terluka karena tersaingi oleh kehadiran dan peran Tuhan Yesus. Kepergian 2 orang muridnya untuk mengikut Tuhan Yesus justru merupakan suatu kegembiraan dan kebanggaan bagi Yohanes Pembaptis, sebab 2 orang muridnya berkenan di hadapan Tuhan Yesus. Mereka akan memperoleh berbagai karunia dan berkat keselamatan Allah dengan mengikut Tuhan Yesus.

 

Belajar Dari Jemaat Korintus

Jemaat di Korintus merupakan jemaat yang memiliki berbagai karunia di bandingkan dengan beberapa jemaat pada waktu itu. Itu sebabnya rasul Paulus berkata: “Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkanNya kepada kamu dalam Kristus Yesus” (I Kor. 1:4).  Karena itu jelas, bahwa sesungguhnya  iman Kristen memberi penilaian positif manakala anggota jemaat dipenuhi oleh berbagai karunia yang dianugerahkan oleh Allah. Karena itu selaku gereja Tuhan kita perlu terus-menerus memberi motivasi, dukungan, penghargaan, dan berbagai program pemberdayaan  sehingga setiap anggota jemaat makin dilengkapi dengan berbagai karunia yang telah disediakan oleh Tuhan. Karunia-karunia dari Tuhan tersebut tidak terbatas hanya kepada satu aspek saja seperti aspek rohaniah, tetapi juga menyangkut aspek yang “sekuler”. Karunia-karunia Allah dianugerahkan kepada umat percaya agar kita dapat menjadi manusia yang seutuhnya. Itu sebabnya rasul Paulus tidak pernah berbicara tentang makna karunia roh dalam suatu segi tertentu, tetapi dia senantiasa berbicara makna karunia roh dalam setiap aspek kehidupan.

 

Di I Kor. 1:5-6 rasul Paulus berkata: “Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu”. Namun dalam kehidupan berjemaat, kita sering hanya menekankan satu aspek saja misalnya karunia berbahasa roh . Padahal di I Kor. 12:8-10 rasul Paulus justru menempatkan karunia berbahasa roh hanya sebagai salah satu segi saja, sebab Tuhan juga memberi berbagai karunia, seperti: karunia berkata-kata dengan hikmat, karunia berkata-kata dengan pengetahuan, karunia iman, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk mengadakan mukjizat, karunia untuk bernubuat, karunia untuk membedakan bermacam-macam roh, karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan karunia untuk menafsirkan bahasa roh. Kemudian I Kor. 13 rasul Paulus mengingatkan jemaat agar mereka lebih peduli untuk memiliki karunia yang paling utama yaitu karunia kasih. Karunia kasih tersebut  ditegaskan sebagai pengukur seluruh karunia Allah. Apa artinya memiliki berbagai karunia, tetapi tidak dilakukan karena kasih (I Kor. 13:1-3).  Namun sering kita selaku gereja menentukan karunia-karunia yang dianggap “supra-natural” dan “ilahi”, sehingga kita mengabaikan karunia kasih, karunia berkata-kata dengan hikmat dan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.

 

Karunia-Karunia Yang Utama

Karunia kasih, karunia berkata-kata dengan hikmat dan karunia berkata-kata dengan pengetahuan merupakan  karunia yang paling kita butuhkan dalam kehidupan ini. Karena melalui karunia kasih, berkata-kata dengan hikmat dan akan memampukan dan memberdayakan kita untuk membangun kehidupan sehari-hari yang lebih berkualitas. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita sangat membutuhkan karunia kasih agar kita dapat dimampukan untuk mengampuni setiap orang yang menyakiti dan melukai hati kita? Kita juga membutuhkan karunia berkata-kata dengan hikmat agar setiap perkataan kita senantiasa dapat membangun, memancarkan kearifan, mampu bersikap obyektif dan memberi perlindungan atau pengayoman serta memampukan kita untuk bertindak adil dan menegakkan kebenaran. Selain itu kita juga membutuhkan karunia untuk berkata-kata dengan pengetahuan agar setiap perkataan yang kita ucapkan bukanlah perkataan yang kosong dan sia-sia, tetapi ucapan yang dapat memberi wawasan yang lebih luas dan memberi pengertian yang dalam tentang makna serta tujuan kehidupan ini. Karena itu melalui pelayanan yang dilandasi oleh kasih, karunia berkata-kata dengan hikmat dan karunia berkata-kata dengan pengetahuan, selaku jemaat kita dapat memberi kontribusi yang nyata sehingga kehidupan bersama sesama semakin bermutu.

 

                Tindakan kasih, sikap yang berhikmat dan memberi pencerahan dalam pengetahuan akan memotivasi dan memberdayakan umat untuk meningkatkan kualitas hidupnya sebagai umat Allah. Sedangkan karunia-karunia lain seperti: karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk mengadakan mukjizat, karunia untuk bernubuat, karunia untuk membedakan bermacam-macam roh, karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan karunia untuk menafsirkan bahasa roh hanya dibutuhkan pada saat atau momen-momen yang khusus. Karunia-karunia roh tersebut sebenarnya tidak harus dimiliki oleh setiap orang, tetapi dipercayakan kepada orang-orang yang dipilih oleh Tuhan dengan tujuan khusus. Yang mana penerima karunia-karunia roh tersebut tidak bersifat tetap. Penerima karunia-karunia roh tersebut bukan untuk dijadikan karier atau profesi, seperti: profesi pengusir setan, profesi bahasa lidah, profesi bernubuat, dan sebagainya. Dengan demikian tidak setiap anggota jemaat dan pelayan Tuhan diberi karunia untuk menyembuhkan, tidak setiap orang dapat membuat mukjizat dan juga tidak setiap orang dapat menyampaikan nubuat firman Tuhan. Itu sebabnya karunia-karunia roh ini juga tidak boleh dijadikan alat untuk mengukur iman dan spiritualitas para anggota jemaat. Tetapi yang pasti setiap anggota jemaat harus memiliki karunia kasih, karunia berkata-kata dengan pengetahuan dan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat.

 

Panggilan Membawa Terang

                Manakala setiap anggota jemaat memiliki karunia kasih, karunia berkata-kata dengan hikmat dan karunia berkata-kata dengan pengetahuan secara efektif maka setiap anggota jemaat akan mampu menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Allah berfirman di Yes. 49:6b, yaitu: “Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya  keselamatan yang dari padaKu sampai ke ujung bumi”. Karunia-karunia roh yang utama dari Tuhan tersebut diberikan kepada kita agar kita dapat menjadi berkat keselamatan bagi banyak orang di sekitar kita. Betapa sering makna dan lingkup karunia-karunia roh dari Tuhan dimanipulasi dan hanya dipakai untuk kemuliaan diri sendiri atau kelompok dan golongannya sendiri. Akibatnya karunia-karunia roh tersebut tidak dapat mendatangkan berkat keselamatan bagi kepentingan orang banyak atau lingkup yang lebih luas. Dalam hal ini kita sering hanya berusaha memberdayakan dan mencari keuntungan diri sendiri, tetapi kita kurang peduli untuk memberdayakan dan memberi manfaat kepada lingkungan sekitar.  Itu sebabnya orientasi kehidupan gereja seringkali berkutat kepada pemberdayaan diri sendiri dengan dana yang sangat besar tetapi kurang berberhasil membawa pertumbuhan iman yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi nyata. Misalnya kita sering merasa berhasil dalam pelayanan manakala kita memiliki gedung gereja yang sangat mewah, melakukan program kerja yang diikuti oleh banyak orang dan penggunaan dana yang besar.

 

Semua program pelayanan tersebut harus kita evaluasi, apakah telah membawa perubahan yang sehat dalam kehidupan jemaat. Selain itu kita juga telah merasa melakukan tindakan kasih jikalau telah memberi bantuan atau sumbangan sosial. Padahal panggilan gereja tidak sekedar bersifat karitatif yaitu hanya memberi sumbangan sosial yang sifatnya sementara kepada orang-orang yang kurang mampu. Dalam hal ini gereja-gereja sering memahami pengertian  “diakonia” sekedar sebagai bantuan finansial atau materiil kepada para anggota jemaat yang miskin agar mereka mampu membeli berbagai kebutuhan pokok. Tetapi sesungguhnya panggilan gereja yang utama adalah untuk melakukan transformasi sosial seperti: memberi berbagai pelatihan, pendidikan bermutu tetapi terjangkau oleh masyarakat yang kurang mampu, mengajar anggota jemaat dan masyarakat akan makna kebersihan, bagaimana memelihara lingkungan hidup dan mengajar agar setiap  anggota jemaat dan masyarakat mengelola keuangan secara bijaksana agar mereka tidak terjebak dalam sikap konsemerisme. Dengan pola transformasi sosial tersebut, makna keselamatan dari Allah tidak hanya dihayati dari satu aspek saja yaitu keselamatan yang bersifat rohaniah belaka. Tetapi juga keselamatan Allah dihayati dan dipraktekkan secara lebih utuh atau lebih holistik sebab tujuan keselamatan Allah pada hakikatnya bertujuan menjawab secara tepat berbagai persoalan hidup yang nyata dalam kehidupan sehari-hari setiap anggota jemaat.

 

                Selain itu pemahaman akan makna keselamatan dalam iman Kristen haruslah dihayati secara holistik. Untuk itu dalam melaksanakan tugas panggilannya gereja selain memperhatikan transformasi sosial seperti: persoalan masyarakat dalam bidang ekonomi, hukum, budaya dan politik  gereja kita juga wajib terpanggil untuk  terus-menerus melakukan  transformasi spiritualitas dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat. Sebab tanpa melakukan transformasi spiritualitas, maka gereja akan berubah fungsi menjadi sekedar suatu lembaga sosial dan humanisme yang sekuler dan kehilangan kuasa roh Allah yang memanggil setiap orang untuk hidup kudus di hadapanNya. Itu sebabnya di I Kor. 1:7-8 rasul Paulus berkata: “Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus”. Dalam hal ini jemaat di Korintus telah diperlengkapi oleh Tuhan dengan berbagai karunia roh, namun juga diingatkan agar mereka mampu hidup kudus dan tidak bercela sampai pada akhirnya.

 

 Apa artinya setiap anggota jemaat memiliki berbagai karunia roh yang membuat mereka unggul dan berprestasi dalam berbagai bidang kehidupan, tetapi moralitas dan spiritualitas mereka ternyata sangat rendah. Apa artinya setiap anggota jemaat memiliki berbagai talenta yang luar biasa, tetapi kehidupan mereka tidak dilandasi oleh spiritualitas yang mengedepankan kesucian hidup. Apa artinya kita mampu berbahasa roh, tetapi ucapan dan perkataan kita sehari-hari penuh fitnah dan dusta. Apa artinya kita memiliki karunia hikmat dan pengetahuan, tetapi dalam hidup sehari-hari kita gagal mengendalikan diri dari berbagai hawa nafsu. Apa artinya kita memiliki karunia nubuat, tetapi tidak dapat menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Juga apa artinya kita berhasil melakukan transformasi sosial tetapi anggota keluarga dan anak-anak kita tercerai-berai, sehingga mereka menjadi para pribadi yang asosial dan menjadi masalah dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Transformasi Dan Pembaruan Hidup

                Makna transformasi spiritualitas yang di dalamnya terdapat pembaharuan hidup merupakan dasar yang paling fundamental dalam kehidupan manusia. Tanpa pembaruan hidup, maka semua prestasi dan kesuksesan  dalam berbagai  bidang kehidupan akan menjadi sia-sia belaka. Tanpa hidup yang kudus di hadapan Tuhan, maka segala karunia Tuhan yang membuat kita mampu mencapai karier yang menakjubkan tetap akan membuat hidup kita sia-sia belaka. Itu sebabnya rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar mereka hidup tidak bercacat sambil menantikan kedatangan Kristus. Pada sisi lain sebenarnya iman Kristen juga menyadari bahwa seluruh umat manusia telah berada di bawah kuasa dosa. Mungkin manusia memiliki kehendak untuk melakukan hal-hal yang baik, tetapi kenyataannya manusia justru melakukan apa yang tidak dia kehendaki yaitu hal-hal yang buruk. Kuasa dosa begitu meresapi setiap bagian dalam seluruh kepribadian manusia. Itu sebabnya tidaklah mungkin manusia dengan kekuatannya sendiri seperti perbuatan baik, amal-ibadah dan hidup keagamaannya dapat berlaku benar di hadapan Allah. Jika demikian, apakah manusia tidak mampu mencapai pembaharuan hidup dalam kehidupannya sehari-hari?

 

Iman Kristen memberi jawaban yaitu bahwa manusia akan dapat  mencapai pembaharuan hidup dengan tak bercacat di hadapan Tuhan manakala manusia bersedia menempatkan Kristus selaku Juru-selamatnya. Sebab Kristus datang ke dalam dunia untuk memampukan setiap orang agar mereka dapat hidup sebagai anak-anak Allah. Itu sebabnya Yohanes Pembaptis memberi suatu kesaksian yang tepat ketika dia melihat Tuhan Yesus. Di Yoh. 1:29 menyaksikan demikian: “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia”. Artinya pembaharuan hidup sebagai wujud dari transformasi spiritualitas akan terjadi ketika kita mau menjadikan  Kristus sebagai satu-satunya pembaharu utama bagi kehidupan kita. Sebab kegagalan kita untuk dibaharui oleh Tuhan sehingga kehidupan kita penuh dengan cacat cela dan dosa, karena kita tidak menjadikan Kristus sebagai pembaharu utama dalam kehidupan kita; tetapi kita hanya menjadikan Kristus sebagai pembaharu sampingan (second reformer). Tanpa spiritualitas yang menempatkan Kristus sebagai satu-satunya Juru-selamat, maka kehidupan kita tidak dapat mengalami suatu perubahan yang menyeluruh.  Dalam hal ini  makna pertobatan dalam kehidupan masyarakat sekedar suatu peristiwa pindah dari suatu agama, misal perpindahan dari suatu agama tertentu ke agama Kristen; atau sebaliknya. Namun pada sisi lain karakter, sifat dan temperamen dalam kepribadian kita tidak pernah berubah dan dibaharui oleh Tuhan. Karena itu tidak mengherankan jikalau dalam pola pertobatan semacam itu kehidupan gereja Tuhan masih kurang ditandai oleh kehidupan yang suci dan tanpa cacat cela.

 

Panggilan

                Dengan memahami makna panggilan dan kasih-karunia Allah, kita tidak boleh bersikap sombong manakala kita memiliki berbagai karunia rohani yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Kita tidak boleh menjadi takabur ketika kita  mengalami kesuksesan secara materi atau rohani. Sebab semua karunia materi dan  rohaniah dari Tuhan tersebut akan menjadi berkat yang menyelamatkan bagi setiap orang di sekitar kita manakala kehidupan kita ditandai oleh kesucian dan integritas diri. Ketika kehidupan kita ditandai oleh pembaharuan hidup dan tanpa cacat cela, maka kita akan dapat memerankan diri sebagai seorang hamba Tuhan yang membawa terang bagi orang-orang di sekitar kita. Melalui peran dan karya kita, sesama dapat mengalami keselamatan yang menyeluruh dalam kehidupan ini.

 

                Untuk itu kita perlu senantiasa bersandar kepada Kristus, karena Dialah sang Anak Domba Allah yang mampu menghapus dosa seluruh umat manusia. Jadi dalam berbagai karunia rohaniah dan tuntutan hidup kudus, kita juga perlu terus-menerus mewartakan Kristus kepada dunia ini agar mereka juga mau percaya dan dibaharui secara menyeluruh oleh Dia, sehingga seluruh dunia akhirnya dengan tulus mengungkapkan suatu pengakuan iman kepada Kristus, yaitu: “Ia, inilah Anak Allah” (Yoh. 1:34). Sejauh manakah kehidupan saudara telah mewujudkan berbagai karunia roh yang telah dipercayakan Tuhan? Juga apakah kehidupan saudara telah ditandai oleh hidup yang suci dan tanpa cacat cela sehingga saudara dapat mewartakan Kristus secara lebih efektif kepada orang-orang di sekitar saudara? Pada hakikatnya Allah membentuk karakter kita adalah agar kita hidup kudus dan tak bercacat di hadapanNya sehingga kita mampu melaksanakan panggilanNya di tengah-tengah dunia yang kelam dan jahat ini.

 

                Sangat menarik, bahwa 2 orang murid Yohanes Pembaptis yang memilih untuk mengikut Tuhan Yesus ternyata terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Tuhan Yesus agar diperkenankan untuk mengetahui tempat tinggal Tuhan  Yesus. Setelah mereka tahu tempat tinggal Tuhan Yesus, Yoh. 1:39 menyaksikan: “Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat”. Pengenalan yang terbaik terhadap karakter seseorang adalah di rumahnya. Kedua murid Tuhan Yesus tersebut megnenal dengan baik karakter dan kepribadian Tuhan Yesus selaku Mesias, Anak Domba Allah dan Anak Allah di tempat tinggalNya.  Jika demikian, apakah sikap kita seperti 2 orang murid Yohanes Pembaptis yang mengutamakan pengenalan secara personal dan langsung kepada Tuhan Yesus, sehingga kita dapat menjadi para saksiNya? Kehidupan kita akan menjadi kehidupan yang kudus dan tak bercacat  apabila kita selalu memiliki hubungan yang personal dengan Tuhan Yesus. Amin.

 

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanes bm.com

Last Updated ( Friday, 31 December 2010 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2344
mod_vvisit_counterYesterday5039
mod_vvisit_counterThis week12581
mod_vvisit_counterThis month12581
mod_vvisit_counterAll2583339

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2573 hits)
Firman Hidup 50   (2460 hits)
Firman Hidup 55   (2431 hits)
Cyber GKI   (2220 hits)
The Meaning of Worship   (2045 hits)
TextWeek   (1938 hits)
Contact YBM   (1885 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::