HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun C arrow KETIKA PERAHU KELUARGA TEROMBANG-AMBING
KETIKA PERAHU KELUARGA TEROMBANG-AMBING PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Tuesday, 11 December 2007

KETIKA PERAHU KELUARGA TEROMBANG-AMBING

Matius 14:22-33


Bahtera keluarga dapat terombang-ambing dan berada dalam situasi kritis, manakala bahtera keluarga kita mengalami hal-hal sebagai berikut:
1. Problem ekonomi, yang mana suami-isteri tersebut mengalami masalah dalam pekerjaan, pendapatan yang kurang mencukupi, terlibat hutang-piutang, khususnya tidak dapat memenuhi kebutuhan primer.
2. Problem kesehatan, yaitu situasi di mana salah seorang anggota keluarga yang mengalami sakit yang kronis, membutuhkan penyembuhan dalam jangka panjang, dan biaya pengobatan yang sangat mahal.
3. Problem perselingkuhan, yang mana salah seorang dari suami atau isteri melakukan hubungan khusus dan intim dengan pihak ketiga, sehingga menghancurkan kepercayaan dan keharmonisan keluarga.
4. Problem komunikasi, yang mana dalam kehidupan keluarga tersebut komunikasi tidak dapat berjalan secara wajar dan sehat; sehingga para anggota keluarga tidak dapat mengutarakan secara terbuka dan akrab.
5. Problem perceraian, di mana suami atau isteri menceraikan pasangannya sehingga anak-anak tidak bertumbuh dalam keluarga yang utuh dan cinta-kasih yang sehat.
6. Problem harapan yang tidak terpenuhi, seperti: tiadanya kehadiran anak, tindakan pasangan atau anggota keluarga yang mengecewakan, kegagalan anak-anak dalam studi, suami atau isteri dan anak-anak yang tidak seiman, pola asuh dan bimbingan yang buruk, dan sebagainya.
7. Problem kekerasan dalam rumah tangga, di mana suami atau isteri melakukan kekerasan di antara mereka sendiri dan di antara anak-anak.
8. Problem pasca-kematian dari anggota keluarga, sehingga anak-anak kehilangan salah seorang atau kedua orang-tua, atau orang-tua yang kehilangan salah seorang dari anaknya.


Setiap problem yang dihadapi dalam kelurga tersebut di atas memiliki pengaruh/dampak yang berbeda-beda. Dampak dari delapan problem tersebut dapat singkat, tetapi juga dapat begitu luas; ada yang mudah terselesaikan, tetapi juga ada yang tak termaafkan dan menyakitkan hati selama hidup. Karena itu suatu keluarga yang memiliki ragam masalah yang lebih banyak/kompleks, pastilah kehidupan dari keluarga itu sedang terombang-ambing dalam badai yang lebih besar dengan dampak yang sangat luas bagi kehidupan dan pertumbuhan anak-anaknya. Bahkan tidak jarang, dampak yang dialami oleh keluarga tersebut tetap tidak dapat terselesaikan ketika anak-anak telah beranjak dewasa dan membentuk keluarga. Ternyata angin ”sakal” dalam kehidupan keluarga dapat menjadi suatu pengalaman yang traumatis, yang menorehkan rasa sakit hati, kepedihan, luka-luka batin, terhambatnya pembentukan kepribadian, dan rusaknya komunikasi dalam jangka waktu yang panjang.

Gambaran dari bahtera keluarga yang terombang-ambing tersebut seperti yang dilukiskan dalam pengalaman para murid Yesus yang sedang naik perahu. Tetapi saat itu mereka diombang-ambingkan oleh angin sakal. Mereka mengalami ketakutan, rasa panik dan tiadanya harapan walaupun mereka telah memiliki pengalaman sebagai para nelayan yang telah dibentuk oleh berbagai badai. Tetapi mereka kini tidak dapat menolong diri mereka sendiri. Mereka tidak mempunyai kekuatan untuk mengatasi persoalan yang sedang melanda hidup mereka. Walau mereka berpengalaman sebagai nelayan yang berpengalaman, tetapi mereka saat itu tidak dapat menentramkan kekuatan dari angin sakal yang menghantam perahu mereka. Pada saat mereka bingung, panik dan putus-harapan tersebut disebutkan ”datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air”. Namun kedatangan Yesus yang tak terduga dan di luar akal manusia dengan berjalan di atas air, justru membuat para murid makin mengalami ketakutan yang luar biasa. Mereka menyangka Yesus yang berjalan di atas air itu sebagai ”hantu”.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai kedatangan Tuhan yang menimbulkan rasa terkejut/ shock, justru pada saat kita sedang ”shock” (terpukul) oleh berbagai masalah yang sedang menimpa diri kita. Kehadiran Tuhan seringkali seperti ”mencambuk” seluruh akal dan kebijaksanaan kita. Tetapi ”kejutan” atau ”cambukan” tersebut tidak pernah terlalu lama. Pada saat itulah Tuhan Yesus berkata, ”Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:28). Jadi di tengah-tengah berbagai kemelut dan badai kehidupan yang menyebabkan perahu keluarga kita terombang-ambing, pada saat itulah Tuhan Yesus hadir. Dia tidak pernah membiarkan diri kita sendirian, hancur, dan putus-asa. Ucapan yang penting yang Tuhan Yesus ucapkan pertama-tama adalah: ”Tenanglah!”. Kita semua diminta untuk tenang dalam menghadapi semua permasalahan yang terjadi. Sebab apabila kita panik, cemas, bingung dan putus-asa; maka kita tidak akan pernah mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Tetapi juga makna ”tenang” mengajar kepada kita agar kita mampu lebih jeli dan jernih melihat kehadiran Tuhan di tengah-tengah badai persoalan yang sedang menghantam. Karena itu setelah kata ”tenanglah” dilanjutkan dengan ucapan: ”Aku ini, jangan takut!”. Kita perlu tetap tenang dan jangan takut, sebab hidup pribadi dan keluarga kita telah dijamin oleh diri Tuhan Yesus: ”Aku ini!”

Walau Tuhan Yesus sudah menjamin keselamatan hidup pribadi dan keluarga kita di dalam genggaman tanganNya, kita selaku manusia sering tidak mudah percaya. Karena itu kita sering cenderung untuk menguji kehadiran dan pertolongan Tuhan agar Dia memberikan kepada kita bukti-bukti. Dalam hal ini Petrus berkata kepada Tuhan Yesus: ”Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepadaMu berjalan di atas air” (Mat. 14:29). Kita sering memiliki pemahaman iman yang salah, yaitu kita mau percaya kepada Tuhan setelah kita memperoleh bukti-bukti. Seharusnya sikap kita adalah mau percaya kepada Tuhan lebih dahulu, barulah kita akan memperoleh bukti-bukti dari kuasa iman itu. Tetapi saat itu Tuhan Yesus memberikan kesempatan kepada Petrus untuk membuktikan kehadiran dan kuasaNya. Apa yang terjadi? Petrus dapat berjalan di atas air. Tetapi yang dia pikirkan ketika Petrus berjalan di atas air, bukanlah diri Tuhan Yesus, tetapi yang dia pikirkan selama dia berjalan adalah air yang sedang bergelora di bawah kaki dan tiupan angin yang menerpa dirinya. Itu sebabnya Petrus segera tenggelam.

Sikap Petrus tersebut mencerminkan sikap orang-orang Kristen pada umumnya. Ketika mereka telah memperoleh pertolongan dengan kuasa Tuhan, yang mereka pikirkan bukanlah Tuhan yang berdiri di hadapan mereka. Tetapi yang mereka pikirkan terus-menerus adalah berbagai pergumulan hidup, walau saat itu mereka telah mulai dapat berjalan di atas berbagai persoalan yang sedang menerpa diri mereka. Kita sering mengabaikan Tuhan yang berada di dekat kita dan yang telah memberikan kepada kita kuasa untuk berjalan di atas berbagai persoalan hidup. Itu sebabnya hidup kita selaku orang Kristen dapat ”tenggelam” dalam berbagai persoalan hidup. Sikap iman kita sering tidak stabil, mudah pasang-surut. Sebab mata rohani kita lebih berpaut pada kekuatan ”angin badai” kehidupan dari pada berpaut dan bersandar kepada kuasa Tuhan yang melampaui seluruh kekuatan ”angin badai” kehidupan. Penderitaan, kepedihan, dan putus harapan atas berbagai persoalan dalam kehidupan keluarga sering mendorong diri kita untuk mengabaikan kehadiran dan pertolongan Tuhan. Tetapi ternyata makin kita persoalkan dalam pikiran dan makin kita ”rasa-rasakan” dalam perasaan kita, ternyata berbagai persoalan tersebut makin berkembang biak. Karena itulah Tuhan Yesus berkata, agar kita terus-menerus mau percaya kepadaNya: ”Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat. 14:31).

Berbagai problem kehidupan tidak selalu dapat kita hindari dengan baik. Kita tidak dapat melarikan dan menyembunyikan diri dari berbagai problem. Karena itu yang terutama adalah bagaimana kita dapat menghadapi berbagai problem yang sedang berada di hadapan kita. Tetapi juga perlu disadari bahwa kita tidak dapat menghadapi dan menyelesaikan setiap problem hanya dengan mengandalkan berbagai kekuatan, kepandaian dan pengalaman yang kita miliki. Semua ”kekuatan” manusiawi kita tersebut tetap diperlukan, tetapi apakah semuanya kita letakkan dalam sikap kita yang mau menggenggam tangan Tuhan Yesus, dan mempersilahkan Dia untuk memasuki perahu kehidupan keluarga kita. Ataukah kita biarkan Tuhan Yesus berada di luar perahu keluarga kita, tetapi pada pihak lain kita tetap terus-menerus memperhatikan berbagai persoalan yang sedang menerpa? Disaksikan di Mat. 14:33, yang berkata: ”Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah”. Jadi ketika Tuhan Yesus mengajak Petrus yang baru saja tenggelam untuk naik ke d alam perahu, maka Tuhan Yesus kini menjadi bagian yang utuh dari perahu tersebut. Kita perlu mengundang kehadiran Tuhan Yesus untuk masuk dan menjadi bagian yang utuh dari kehidupan keluarga kita. Ketika kita ”merajakan” Tuhan Yesus sebagai raja dalam kehidupan keluarga kita, disebutkan ”maka anginpun redalah”. Ketika Tuhan Yesus yang menjadi penguasa utama dalam kehidupan keluarga kita, maka berbagai angin badai yang selama ini telah menerpa kehidupan keluarga kita juga menjadi reda.

Di Mat. 14:33b setelah Yesus naik perahu, dan anginpun reda; disebutkan para murid yang telah menyaksikan peristiwa tersebut bersujud menyembah Tuhan Yesus sambil berkata, ”Sesungguhnya Engkau Anak Allah”. Perahu keluarga kita akan berjalan lebih pasti dan aman di tengah-tengah berbagai ombak kehidupan dan problem yang datang silih berganti, manakala kita dengan seluruh anggota keluarga bersedia untuk sujud menyembah, dan menyatakan pengakuan iman yang tulus kepada Tuhan Yesus: ”Sesungguhnya Engkau Anak Allah”.

Karena itu mari kita membawa seluruh anggota keluarga kita kepada Tuhan Yesus. Tugas Pekabaran Injil yang pertama-tama wajib kita lakukan adalah kepada anggota keluarga kita sendiri. Apa artinya kita dapat membawa orang lain kepada Tuhan Yesus, tetapi kita cenderung membiarkan anggota keluarga kita jauh dan berada di luar persekutuan kasih dari Tuhan Yesus. Namun jika seluruh anggota keluarga kita bersedia dipimpin oleh Tuhan Yesus, maka yakinlah kita semua dapat berjalan di atas berbagai persoalan hidup yang paling berat sekalipun. Tetapi ingatlah, ketika kita mengabaikan Tuhan Yesus dan tidak menjadikan Dia sebagai Raja atas kehidupan keluarga kita, maka persoalan yang paling kecil, remeh dan sederhana dapat membuat kita terpuruk, hancur dan tenggelam. Jika demikian, bagaimana sikap dan keputusan saudara? Apakah saudara berdua bersedia menyerahkan hidup perkawinan anda dan hanya memandang kepada Kristus yang berkata: ”Aku ini, jangan takut!”. Amin.

 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2460
mod_vvisit_counterYesterday4593
mod_vvisit_counterThis week2460
mod_vvisit_counterThis month2460
mod_vvisit_counterAll2573218

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2573 hits)
Firman Hidup 50   (2460 hits)
Firman Hidup 55   (2429 hits)
Cyber GKI   (2218 hits)
The Meaning of Worship   (2043 hits)
TextWeek   (1938 hits)
Contact YBM   (1883 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::