HOME
TUHAN YANG MEMBANGUN RUMAH PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Tuesday, 11 December 2007

TUHAN YANG MEMBANGUN RUMAH

(Mazmur 127:1 – 5)



Pada satu pihak sejak kecil kita telah memperoleh pendidikan, motivasi dan asuhan untuk mencapai prestasi dalam bidang apapun. Bagi orang tua tentu sangat membanggakan jikalau anak-anak mereka berhasil dalam studinya. Mereka juga bangga ketika melihat anak-anaknya sukses dalam pekerjaan dan karier mereka. Dari sudut pandang anak-anak yang sukses itu, mereka juga bangga bahwa mereka telah berhasil mencapai harapan dan cita-cita dari orang-tua atau masyarakat sekelilingnya. Demikian pula ketika mereka dapat menemukan jodoh dan akhrnya mereka memutuskan dalam ikatan perkawinan. Orang-tua yang menyaksikan bangga bahwa anak-anaknya telah beranjak dewasa dan mampu mengambil keputusan penting untuk menikah. Sedang mereka yang menikah juga bangga bahwa mereka telah menemukan jodohnya dan merasa siap untuk berumah-tangga. Kebanggaan-kebanggaan demikian, perlu dilihat sebagai ekspresi manusiawi yang wajar dan positif.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari seringkali kebanggaan-kebanggaan tersebut berubah menjadi sikap bermegah diri. Dalam pemahaman ini orang merasa bahwa semua keberhasilan yang dicapai dalam studi, pekerjaan dan karier, atau membangun rumah-tangga ditentukan oleh usaha, prestasi dan kemampuan dirinya. Atas dasar pengamatan dan kesadaran demikian, pemazmur menyatakan: ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mzm. 127:1). Firman Tuhan ini pada prinsipnya hendak mengingatkan seluruh umat manusia, jikalau manusia berusaha sendiri tanpa mengingat pertolongan, campur-tangan dan berkat dari Tuhan; maka segala kerja yang dilakukan hanyalah seperti bayangan yang suatu saat akan lenyap. Karena itu di Mzm. 127:1 menyatakan setiap upaya manusia membangun rumah-tangga, bahkan upaya untuk mengerahkan kekuatan militer secara luar biasa untuk menjaga keamanan kota tidak pernah terwujud secara kekal jikalau manusia mengabaikan Allah. Kisah tenggelamnya kapal pesiar Titanic yang anti tenggelam merupakan contoh yang nyata. Kapal pesiar yang begitu mewah pada zamannya dan dirancang anti tenggelam, akhirnya karam karena membentur gunung es. Walau manusia sudah merancang secara ”sempurna” kapal Titanic itu, toh akhirnya dia karam dengan korban separuh dari penumpangnya. Dengan perkataan lain, usaha dan kemampuan manusia tidak dapat menjamin keberlangsungan dari apa yang dikerjakannya khususnya dalam membangun rumah-tangga.

Dahulu kasus-kasus perceraian dianggap karena latar-belakang perkawinan di antara pria dan wanita dijodohkan atau karena mereka kawin paksa dari para orang-tua. Mereka bercerai karena tidak saling mencintai. Tetapi seturut dengan perkembangan zaman, kini pria dan wanita dapat mencari jodohnya masing-masing. Mereka mengatas-namakan hubungan dan perkawinan mereka karena cinta. Tetapi apakah kemudian perjodohan dan perkawinan karena cinta itu kemudian menjadi jaminan bahwa rumah-tangga mereka harmonis dan hidup bahagia? Kini kita dapat melihat berita perceraian merupakan makanan sehari-hari. Bahkan perceraian juga menimpa orang-orang yang terpandang, para selebriti, para pejabat, dan para tokoh agama. Padahal perkawinan mereka rata-rata juga dilangsungkan secara agama, yang mana diyakini perkawinan mereka dipersatukan oleh Tuhan. Tetapi mengapa perkawinan yang dilandasi oleh keyakinan agama itu juga dalam kenyataannya tetap tidak bertahan lama? Jadi apa artinya, janji firman Tuhan yang berkata: ” .Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga?”

Tentu kita yakini bahwa Tuhan hadir dan mempersatukan kedua insan yang saling mencintai ketika mereka diberkati dan diteguhkan dalam kebaktian seperti ini. Secara teologis, perkawinan yang diberkati dan diteguhkan dalam kebaktian merupakan langkah awal dari suatu tindakan iman. Tetapi tidak berarti secara otomatis, kemudian perkawinan dan kehidupan rumah-tangga mereka akan tetap berlangsung harmonis sepanjang masa. Perkawinan mereka atau siapapun di antara kita dapat kandas ketika dalam kehidupan sehari-hari dari perkawinan atau rumah-tangga kita tidak menghadirkan Tuhan. Arti firman Tuhan ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” merupakan tindakan iman yang perlu dinyatakan setiap hari. Kehadiran Tuhan dalam rumah-tangga bukan suatu kehadiran formalitas dalam ritual kebaktian peneguhan dan pemberkatan perkawianan. Tetapi seharusnya dalam kehidupann perkawinan dan rumah-tangga kita, Tuhan perlu dihadirkan oleh semua pihak sebagai Allah yang kepadaNya kita berbakti dan melaksanakan kehendakNya dengan setia.

Kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari perlu direspon oleh pasangan suami-isteri dengan melaksanakan tanggungjawab dan kewajibannya dengan setia. Makna berkat Allah tidak boleh dipahami secara pasif, tetapi sebaliknya harus dipahami secara pro-aktif. Suami dan isteri wajib melakukan tugas-tugasnya agar rumah-tangga mereka dapat kokoh bertahan mengarungi samudera kehidupan ini. Itu sebabnya di ayat 2, pemazmur berkata: ”Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur”. Perhatikanlah bahwa Allah memberikan berkatNya kepada yang dicintai pada waktu mereka tidur. Maksud firman Tuhan ini adalah bahwa Allah mengaruniakan berkatNya kepada mereka yang terlelap tidur setelah mereka bekerja dengan susah-payah. Jadi Allah tidak akan memberikan berkat dan rezeki kepada mereka yang gemar tidur dengan lelap, tetapi perkawinan mereka tidak dilandasi oleh kerja dan usaha yang memadai. Landasan perkawinan tidaklah cukup dengan cinta yang romantis belaka, tetapi perlu dilandasi oleh cinta yang diwujudkan dalam sikap tanggungjawab secara moril dan finansial.

Dalam pemahaman umat Israel zaman itu yang ”patriakhal”, kehadiran anak-anak merupakan berkat Tuhan yang cukup utama. Itu sebabnya di ayat 3-5 pemazmur menyatakan berkat Tuhan, yaitu sebagai: ”Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang”. Kita harus mengakui bahwa kehadiran anak-anak sebagai buah dari perkawinan merupakan harapan dari semua orang. Sungguh membahagiakan ketika pasangan suami-isteri tersebut kelak memperoleh anak-anak, sehingga mereka kemudian berhak mendapat predikat sebagai ”bapak” dan ”ibu”. Tetapi zaman telah berubah. Kini disadari bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang atau pasangan suami-isteri yang tidak dapat memperoleh anak setelah perkawinan mereka yang cukup panjang. Tetapi mereka kemudian dapat berperan menjadi ”bapak” dan ”ibu” bagi banyak anak-anak yang terlantar dan menderita. Peran mereka telah menjadi saluran berkat dari Tuhan. Perkawinan mereka dirasakan oleh semua orang di sekitarnya sebagai suatu karunia. Kalau kita imani bahwa perkawinan dan rumah-tangga kita ditentukan oleh penyertaan dan pertolongan Tuhan, maka seharusnya kita juga mampu menerima dengan tulus apa yang Tuhan kehendaki dalam kehidupan kita. Tetapi ketika Tuhan tidak kita sertakan atau Dia tidak lagi kita biarkan campur-tangan dalam perkawinan dan rumah-tangga kita, maka kita akan memakai pola-pola, cara berpikir dan kehendak pribadi yang duniawi untuk menentukan makna kebahagiaan kita.

Karena itu marilah kita hayati pemahaman iman yang menyatakan, ” Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya sikap iman kita yang mau menerima apa yang menjadi kehendak Tuhan walaupun seringkali kehendak Tuhan itu tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita kita. Maukah saudara berdua untuk menerima kehendak Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya Raja dalam kehidupan perkawinan dan rumah-tangga saudara? Amin.

Last Updated ( Saturday, 15 December 2007 )
 
< Prev
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1336
mod_vvisit_counterYesterday3648
mod_vvisit_counterThis week11532
mod_vvisit_counterThis month91540
mod_vvisit_counterAll2897385

Login Form

Who's Online

Weblinks

Yohanes B.M.   (2634 hits)
Firman Hidup 50   (2528 hits)
Firman Hidup 55   (2498 hits)
Cyber GKI   (2272 hits)
The Meaning of Worship   (2175 hits)
TextWeek   (1966 hits)
Contact YBM   (1928 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::