HOME
LEKSIONARI DALAM LITURGI GKI PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 12 December 2007

Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

1. Pengertian:
Makna dari Leksionari adalah: “suatu buku atau jadwal yang berisi suatu kumpulan pembacaan Alkitab yang digunakan oleh umat percaya atau ibadah umat Israel menurut perayaan tahun ibadah”. Atau Leksionari dapat diartikan pula sebagai “pembacaan Alkitab yang disusun menurut tahun gerejawi dan dipergunakan secara am dalam kehidupan berjemaat”. Dengan definisi-definisi tersebut di atas, makna atau pengertian Leksionari pada prinsipnya merupakan:

a. Gereja-gereja Tuhan menggunakan suatu daftar pembacaan Alkitab yang telah tersusun atau dibuat lembaga ekumenis. Ini berarti maksud daftar pembacaan Alkitab tidak dimaksudkan sebagai suatu daftar pembacaan yang dibuat oleh suatu tim khusus dari suatu jemaat setempat, atau suatu tim dari klasis tertentu, atau suatu tim dari sinode wilayah tertentu bahkan juga daftar pembacaan Leksionari bukan dibuat oleh sinode tertentu seperti sinode GKI. Prinsip utama dari daftar pembacaan Alkitab secara Leksionari senantiasa bersifat ekumenis, artinya daftar pembacaan Alkitab tersebut telah disepakati sebagai daftar pembacaan Alkitab yang dipergunakan oleh sebagian besar gereja-gereja Tuhan di atas muka bumi ini. Jadi yang berhak menyusun daftar bacaan ekumenis adalah badan-badan ekumenis yang sah seperti Dewan Gereja Sedunia.

b. Prinsip penyusunan daftar pembacaan Leksionari didasarkan oleh tahun gerejawi. Sehingga dalam penyusunan daftar pembacaan Alkitab Leksionari senantiasa memperhatikan dengan seksama masa tahun gerejawi seperti masa Adven, masa Natal, masa Ephifani, masa Pra-Paskah, masa Paskah, masa Kenaikan Tuhan, masa Pentakosta, dan minggu-minggu biasa. Karena prinsip pembacaan Alkitab secara Leksionari memperhatikan tahun gerejawi, maka gereja-gereja Tuhan dapat dengan tepat memberitakan firman dalam suatu liturgi yang sesuai dengan tahun gerejawi tersebut. Sehingga ketika kita menggunakan pembacaan Alkitab secara Leksionari, maka tidak mungkin terdapat kesalahan pemilihan bacaan Alkitab karena tidak sesuai dengan tahun gerejawi yang sedang berlangsung. Sebaliknya seluruh pembacaan Alkitab secara Leksionari mendukung seluruh pelaksanaan liturgi khususnya pemberitaan firman, sehingga umat dapat lebih fokus dan menghayati makna dari tahun gerejawi yang sedang berlangsung.

c. Daftar pembacaan Alkitab secara Leksionari pada prinsipnya saling mendukung dan saling melengkapi, sehinggga umumnya dalam pembacaan Alkitab secara Leksionari dapat ditemukan hubungan ide yang sifatnya teologis.

2. Pola Susunan Pembacaan Leksionari
Pola susunan pembacaan Leksionari pada umumnya terdiri dari 4 bacaan Alkitab. Keempat bacaan Alkitab yang tersusun secara leksionari terdiri dari:
- Bacaan I : Perjanjian Lama
- Antar Bacaan : Mazmur
- Bacaan II : Surat-surat Rasuli + Kisah Para Rasul
- Bacaan III : Injil

Dengan pola susunan pembacaan Alkitab secara Leksionari seperti tersebut di atas, maka pembacaan Alkitab secara Leksionari tidak boleh dibolak-balik, misalnya: Bacaan I adalah Injil, Bacaan II adalah Perjanjian Lama, dan bacaan III adalah surat-surat rasuli. Dengan demikian pola pembacaan Alkitab secara Leksionari pada prinsipnya telah memiliki struktur yang tetap, yaitu Bacaan I senantiasa diambil dari Alkitab Perjanjian Lama (kecuali kitab Mazmur); Bacaan II senantiasa diambil dari surat-surat rasul Paulus, surat Ibrani, surat Yakobus, surat I dan II Petrus, surat I, II dan III Yohanes, surat Yudas dan kitab Wahyu. Setelah itu Bacaan III diambil dari kitab Injil, yaitu Injil Matius, Markus dan Lukas; sedangkan Injil Yohanes umumnya dilakukan pada waktu Paska, dan juga digunakan dalam beberapa masa khusus seperti masa Adven, Natal dan masa Pra-Paskah atau Injil Yohanes ditempatkan di antara tahun A, tahun B dan tahun C.

Khusus untuk masa sesudah Paska yaitu Paska I sampai VII bacaan I yang biasanya diambil dari Alkitab Perjanjian Lama, selama masa Paska I sampai PaskaVII diambil dari kitab Kisah Para Rasul. Alasan perubahan bacaan I yang pada masa Paskah I sampai Paskah VII tidak mengambil bacaan dari Perjanjian Lama, tetapi mengambil dari kitab Kisah Para Rasul karena makna kebangkitan secara teologis kurang didukung oleh Perjanjian Lama. Umat Israel di Perjanjian Lama belum memiliki pemahaman yang merata perihal pengajaran tentang kebangkitan orang mati. Namun dengan peristiwa kebangkitan Kristus, gereja-gereja Tuhan memperoleh perspektif iman yang baru tentang makna kebangkitan orang mati. Itu sebabnya setelah peristiwa Pentakosta, rasul Petrus menyampaikan kesaksikan, yaitu: ”Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu” (Kis. 2:24-25). Kesaksian rasul Petrus tersebut ditegaskan kembali dengan pernyataan: “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kis. 2:32). Dengan demikian, peristiwa kebangkitan Kristus sebagai awal dari babak yang baru dari karya keselamatan Allah. Melalui peristiwa kebangkitan Kristus, Allah menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dan Messias yang telah dijanjikan (Kis. 2:36).

3. Siklus Pembacaan Leksionari
Pola pembacaan Leksionari yang diambil dari “The Revised Common Lectionary” terbagi dalam siklus 3 tahun. Siklus pembacaan Leksionari terdiri dari tahun A, tahun B dan tahun C, yaitu:
- Tahun A : Injil Matius
- Tahun B : Injil Markus
- Tahun C : Injil Lukas

Untuk jelasnya pada tahun A yang menggunakan Injil Matius dilaksanakan, misalnya pada tahun: 2004-2005, 2007-2008, 2010-2011, dan seterusnya. Kemudian untuk tahun B yang menggunakan Injil Markus, misalnya dilaksanakan pada tahun: 2002-2003, 2005-2006, 2008-2009, dan seterusnya. Kemudian untuk tahun C yang menggunakan Injil Lukas, misalnya dilaksanakan pada tahun: 2003-2004, 2006-2007, 2009-2010, dan seterusnya. Dengan siklus 3 tahun tersebut, anggota jemaat dapat membaca keseluruhan Injil termasuk Injil Yohanes menurut tahun gerejawi. Manfaat yang dapat kita peroleh dengan siklus 3 tahun yang terbagi dalam tahun A, tahun B, dan tahun C tersebut adalah kita dapat menyusun tema-tema yang sesuai dengan kebutuhan umat berdasarkan pembacaan Alkitab yang ada. Kelemahannya: jikalau kita atau pengkhotbah dan pendeta tidak kreatif memanfaatkan setiap bacaan Alkitab yang tersedia maka kita hanya terus mengulang-ulang tema dan pemberitaan firman sebelumnya.


4. Bahan Khotbah Secara Leksionari
Sebenarnya khotbah Leksionari berpusat kepada pembacaan Injil, sehingga pembacaan yang lain dari Perjanjian Lama, kitab Mazmur, dan pembacaan dari surat rasul berfungsi untuk mendukung pembacaan Injil. Itu sebabnya pembacaan Injil ditempatkan sebagai bacaan yang terakhir. Dengan kata lain pembacaan Injil secara Leksionari secara khusus menjadikan pembacaan dari kitab Injil sebagai yang termulia dan pusat dari seluruh pemberitaan firman. Sedangkan pembacaan Alkitab yang lain sebenarnya berfungsi sebagai bagian periferi (bagian tepi) yang mendukung, melengkapi, dan memperdalam firman Tuhan yang telah disaksikan dalam kitab Injil. Dasar pemikirannya adalah: karena melalui berita Injil, Allah telah menyatakan diriNya secara lengkap dan sempurna melalui kehidupan dan karya keselamatan yang terjadi di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Itu sebabnya surat Ibrani berkata: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulangkali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (Ibr. 1:1-2).

Apabila kita memperhatikan buku “The Lectionary Commentary”, Theological Exegesis for Sunday’s Texts dengan editor Roger E. Van Harn sangat jelas bahwa yang dikhotbahkan dalam kebaktian Minggu hanyalah Injil belaka. Jadi fokus utama dari Leksionari dalam arus pemikiran ini adalah kitab Injil. Sebab melalui Injil, umat percaya dapat mengenal sejarah keselamatan Allah yang secara paripurna dinyatakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Dalam buku yang berjudul “Memberitakan Injil Kerajaan” ulasan Injil hari MInggu Tahun A, B, dan C untuk Masa Khusus dan buku “Inilah Yesus Kristus” ulasan Injil hari Minggu Tahun A, B dan C untuk Masa Biasa tulisan Dr. Martin Harun, OFM dari Lembaga Biblika Indonesia sangat jelas hanya mengulas bahan-bahan dari kitab Injil saja. Tetapi dalam praktek pemberitaan firman secara Leksionari para pendeta atau pengkhotbah menghadapi kesulitan. Sebagaimana kita ketahui bahwa pembacaan Leksionari untuk khotbah setiap hari Minggu terbagi dalam tahun A, tahun B dan tahun C selama 3 tahun. Ini berarti untuk 3 tahun berikutnya pembacaan Leksionari akan mengulang kembali pembacaan Alkitab menurut tahun A, tahun B dan tahun C. Jadi dengan pembacaan Leksionari, gereja-gereja yang mempergunakan akan terus mengulang bahan pembacaan Alkitab yang sama. Sehingga apabila pembacaan Injil dijadikan satu-satunya bahan pembacaan utama, maka khotbah yang disampaikan kepada umat menjadi kurang variatif.

Selain itu perlu dipahami bahwa dalam tradisi jemaat-jemaat GKI memahami bahwa seluruh kitab dalam Alkitab adalah firman Tuhan. Itu sebabnya jemaat-jemaat GKI menerima secara penuh kewibawaan sebagai firman Tuhan seluruh Alkitab Perjanjian Lama dan seluruh Alkitab Perjanjian Baru. Ini berarti bahan pembacaan Alkitab dari Perjanjian Lama di bacaan I, dan surat-surat rasul serta kitab Kisah Para Rasul di bacaan II serta kitab-kitab Injil di bacaan III pada hakikatnya adalah firman Tuhan. Konsekuensi teologisnya adalah seluruh kitab dalam Alkitab menjadi landasan teologis yang setara untuk pemberitaan firman dalam setiap ibadah. Jadi jemaat-jemaat GKI sebenarnya menempatkan seluruh pembacaan Alkitab sebagai bacaan yang termulia dan berwibawa sebagai firman Tuhan sejauh seluruh pemberitaan firman Tuhan tersebut berpusat dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian pemberitaan firman di jemaat-jemaat GKI, para pendeta dan pengkhotbah dapat memanfaatkan seluruh pembacaan Alkitab yang tersedia di Bacaan I, Bacaan II, dan Bacaan III sebagai landasan khotbah dalam setiap kebaktian.

Dalam buku “The Minister’s Manual 2007 yang diedit oleh James W. Cox dan Lee McGlone, kita dapat melihat bahwa khotbah leksionari ternyata tidak hanya diambil dari Injil saja. Misal untuk Minggu tanggal 7 Januari 2007, bahan khotbah diambil dari Yes. 43:1-7 dengan topik: “The Turn of a New Year”. Kemudian untuk hari Minggu tanggal 14 Januari 2007 sebagai “Lectionary Message”-nya diambil dari I Kor. 12:1-11 dengan judul: “The Believer and Spiritual Gift”. Jadi bahan khotbah (pemberitaan firman) secara leksionari ternyata dapat diambil dari salah satu ketiga bacaaan yang tersedia, dengan demikian khotbah dalam kebaktian hari Minggu bukan hanya diambil dari kitab Injil saja. Dalam pemikiran ini, kita selaku gereja Tuhan wajib memperlakukan semua kitab dalam Alkitab sejajar dan masing-masing dari kitab tersebut memiliki kewibawaan yang setara. Jadi bahan khotbah di jemaat-jemaat GKI terbuka untuk memanfaatkan pembacaan-pembacaan Alkitab selain Injil sebagai dasar pemberitaannya asalkan khotbah tersebut disampaikan secara bertanggungjawab. Makna bertanggungjawab di sini adalah bahwa khotbah yang disampaikan harus sesuai dengan kaidah-kaidah tafsir (eksegese), kaidah-kaidah homilitis, kaidah-kaidah etis, komunikasi yang menyentuh hati dan sesuai konteks permasalahan atau kebutuhan dari jemaat.

5. Kitab Mazmur Untuk Didaraskan saja?

Kitab Mazmur telah menjadi bagian dari pembacaan leksionaris. Tetapi bagaimana dengan pembacaan kitab Mazmur yang umumnya hanya dijadikan sebagai Antar bacaan belaka? Apakah dengan pola pembacaan leksionari, kita selaku gereja Tuhan tidak pernah lagi mengkhotbahkan kitab Mazmur dalam kebaktian-kebaktian kita?

Pembacaan kitab Mazmur dalam pola pembacaan leksionari disebut sebagai Antar bacaan untuk menanggapi bacaan pertama dari firman Tuhan, yaitu yang diambil dari Alkitab Perjanjian Lama. Bentuk tanggapan dengan kitab Mazmur tersebut dapat berupa bacaan, atau nyanyian. Nyanyian Mazmur tersebut dapat kita lihat dalam buku nyanyian yang pernah digunakan oleh sinode-sinode GKI wilayah sebelum mereka menyatukan diri sebagai jemaat GKI, yaitu “Mazmur dan Nyanyian Rohani”. Dalam hal ini saya memiliki pandangan sebagai berikut:

1. Kita dapat setuju bahwa letak atau tempat kitab Mazmur dalam pembacaan secara leksionaris merupakan antar bacaan untuk menanggapi pembacaan Alkitab Perjanjian Lama.
2. Walau kitab Mazmur dalam tradisi umat Israel dan gereja awal lebih cenderung untuk didaraskan dalam suatu acara ibadah, namun perlu diingat bahwa berulang-ulang beberapa bagian dari kitab Injil juga mengutip kitab Mazmur sebagai rujukan nubuat terhadap kehidupan dan karya Kristus (misal Kis. 4:25-26 dikutip dari Mzm. 2:1-2; Kis. 13:35 dikutip dari Mzm. 16:10; Mat. 27:46 dan ayat paralel dari Mzm. 22:2, dan sebagainya). Jadi menurut pemahaman saya, kitab Mazmur bukan sekedar kumpulan nyanyian ibadah, tetapi kitab Mazmur juga memiliki tempat sebagai kitab pengajaran iman yang sejajar dengan kitab-kitab kanonik yang lain.
3. Sebagai gereja, selama ini kita telah banyak belajar dan menggali kekayaan teologis, spiritualitas dan hikmat dari kitab Mazmur.
4. Tafsir kitab Mazmur merupakan khasanah dari ilmu biblika yang terus berkembang, sehingga kita juga perlu bertanggungjawab untuk terus mengembangkan kemampuan untuk memahami dan menafsirkan kitab Mazmur.
5. Kedudukan kitab Mazmur dalam pembacaan dan penafsiran secara leksionaris dapat memiliki hubungan ide, maksud, dan makna secara teologis dengan ketiga bacaan leksionaris lainnya; tetapi juga kitab Mazmur pada prinsipnya dapat berdiri sendiri dan berwibawa untuk menyampaikan pengajaran firman Tuhan.
Dengan pemikiran tersebut di atas, saya pribadi beranggapan bahwa kedudukan kitab Mazmur dalam liturgi GKI bukanlah sekedar untuk didaraskan atau dibacakan sebagai tanggapan terhadap bacaan pertama. Tetapi selain berfungsi sebagai Antar bacaan, kitab Mazmur juga perlu diberi tempat sebagai dasar pemberitaan firman Tuhan dalam berbagai bentuk kebaktian yang diselenggarakan oleh jemaat-jemaat di lingkungan GKI.
Sebagai solusi agar pada satu pihak pembacaan Injil tetap mendapat tempat yang khusus; dan pada pihak lain pembacaan Alkitab di Bacaan I, Antar Bacaan dan Bacaan II juga tetap mendapat porsi yang seimbang dan tetap optimal, maka kita dapat menerapkan prinsip-prinsip di bawah ini, yaitu:

a. Untuk masa-masa khusus atau hari raya gerejawi tertentu seperti: hari raya Natal, masa Epifani, masa Pra-Paska, Paska dan Pasca-Paska, hari Kenaikan Tuhan dan hari raya Pentakosta sebaiknya tetap menggunakan kitab Injil sebagai dasar seluruh pemberitaan firman.
b. Untuk masa sesudah Pentakosta yang umumnya disebut sebagai Masa Minggu Biasa kita dapat memanfaatkan secara optimal bahan-bahan pembacaan Alkitab di luar Injil seperti: Bacaan I dari Perjanjian Lama, kitab Mazmur sebagai Antar Bacaan, dan Bacaan II dari surat-surat rasul atau kitab Kisah Para Rasul.

6. Pola Ekesegese Leksionari
Pola eksegese leksionari (ilmu tafsir secara leksionaris) pada prinsipnya saya pahami dan didefinisikan, yaitu sebagai: “pola tafsir alkitabiah yang berusaha menggali teks-teks yang tersedia secara leksionaris, yang mana setiap teks dari keempat bacaan leksionaris pada hakikatnya memiliki latar-belakang historis, pemikiran dan makna teologis yang berbeda. Namun dari penggalian tafsir alkitabiah yang dilakukan secara eksegetis tersebut kita mau belajar mendengar untuk memahami pesan dan makna teologis dari keempat teks yang tersedia sehingga kita dapat memiliki pemahaman teologis yang lebih utuh dan menyeluruh. Dengan demikian kita selaku gereja dapat menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang relevan dan kontekstual dengan kehidupan jemaat”.

Dengan definisi yang saya maksudkan di atas dalam pola eksegese leksionari adalah:
a. Tiap-tiap teks yaitu khususnya dari ketiga bacaan Alkitab yaitu: Perjanjian Lama, surat dari para rasul, dan Injil harus ditafsirkan sesuai dengan kaidah-kaidah tafsir (eksegese) yang berlaku.
b. Karena pembacaan secara leksionari berputar setiap tiga tahun,maka hasil tafsir tersebut perlu memfokuskan diri kepada tema dan tujuan yang telah dirumuskan.
c. Apabila dari hasil tafsir terhadap salah satu dari keempat teks leksionari ternyata bertentangan dengan tema atau tujuan yang telah dirumuskan, sebaiknya tema atau tujuan yang didukung oleh salah satu teks yang menjadi acuan khotbah. Dalam hal ini bahan khotbah atau pemberitaan firman Tuhan cukup diambil dari satu kitab saja.
d. Pengkhotbah atau pendeta tidak perlu memaksakan hubungan ide atau makna teologis dari ketiga atau keempat teks Alkitab dalam pemberitaan firmannya.
e. Namun apabila dari hasil tafsir yang telah dilakukan secara benar dan bertanggungjawab si pengkhotbah atau pendeta dapat menemukan hubungan dari ketiga atau keempat teks bacaan, maka “penemuan” terhadap hubungan-hubungan ide/pesan teologis tersebut perlu dikomunikasikan si pengkhotbah kepada anggota jemaat dalam pemberitaan firmannya.
f. Khotbah leksionaris bukan sekedar suatu pemberitaan firman yang hanya mampu untuk melihat hubungan ide dan pesan dari ketiga atau keempat bacaan yang tersedia, tetapi juga yang tak kalah pentingnya adalah apakah dari hasil tafsir yang telah dilakukan si pengkhotbah juga mampu melihat secara tepat hubungan firman Tuhan yang ditafsirkan itu dengan pergumulan dan kehidupan nyata anggota jemaat.
g. Pola tafsir atau eksegese leksionari bukan sekedar suatu upaya penafsiran akademis terhadap ketiga atau keempat teks bacaan, tetapi yang dibutuhkan adalah suatu upaya tafsir yang bertanggungjawab dan reflektif-teologis, sehingga mampu menggugah, memotivasi, membekali dan membangun spiritualitas anggota jemaat yang mendengarkan firman Tuhan tersebut.

7. Pembangunan Jemaat
Tugas utama dari kehidupan berjemaat adalah melaksanakan pembangunan jemaat. Sebagaimana yang telah dirumuskan dalam Tata Laksana GKI pasal 52, makna dari salah satu pembangunan jemaat adalah: “pemberdayaan seluruh anggota GKI dan kelompok-kelompok pelayanan dalam jemaat dengan mendayagunakan talenta-talenta yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka serta memanfaatkan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam jemaat itu” (Talak GKI 52:2.a). Dalam hal ini saya memahami bahwa melalui pemberitaan firman Tuhan setiap kebaktian hari Minggu pada prinsipnya kita sedang melaksanakan upaya pemberdayaan kepada seluruh jemaat. Dalam konteks pemberitaan firman secara leksionaris, saya memahami makna pemberdayaan untuk menciptakan pembangunan jemaat, yaitu sebagai:

a. Anggota jemaat berperan serta secara aktif dalam pembacaan Alkitab.
b. Anggota jemaat diajak mempersiapkan kebaktian dan pemahaman terhadap firman Tuhan dengan terlebih dahulu membaca firman Tuhan dari keempat bacaan yang tersedia.
c. Anggota jemaat diajak untuk mampu melihat hubungan suatu teks dengan teks lain, dan pada pihak lain anggota jemaat juga diajak bersikap jeli dan kritis untuk melihat perbedaan-perbedaan teologis yang dikemukakan oleh keempat bacaan leksionari tersebut.
d. Anggota jemaat makin terlatih untuk menyikapi suatu khotbah yang bermutu dan sungguh-sungguh dipersiapkan secara matang, serta mampu disampaikan secara etis, relevan dan bertanggungjawab.
e. Anggota jemaat terdorong untuk membaca Alkitab secara lebih kontinyu melalui pembacaan Alkitab secara leksionaris setiap hari (daily readings), sehinggga mereka makin menyerap nilai-nilai firman Tuhan dalam kehidupan dan pergumulan mereka.

8. Penutup
Suatu khotbah yang lahir dari eksegese leksionari diharapkan oleh anggota jemaat dapat menjadi suatu khotbah yang efektif, kreatif, relevan, menyentuh hati dan komunikatif. Karena itu maksud dari khotbah leksionari bukanlah suatu khotbah yang berpanjang-lebar menguraikan tafsiran tiap-tiap teks dari keempat bacaan Alkitab yang tersedia. Pengkhotbah atau pendeta wajib menggali dan menafsir seluas dan sedalam mungkin terhadap bahan-bahan teks Alkitab, tetapi dia juga harus tetap arif dan kontekstual dengan kebutuhan dan kemampuan anggota jemaat. Itu sebabnya suatu eksegese leksionari bertujuan untuk menjadi media dari inkarnasi firman yang hidup, kreatif dan yang memampukan anggota jemaat sebagai pelaku-pelaku firman Tuhan. Ini berarti eksegese leksionari bukanlah tujuan pada dirinya, tetapi hanyalah alat yang perlu terus-menerus diasah, dilatih dan dikembangkan agar setiap anggota jemaat dimampukan untuk berjumpa dengan Allah melalui pemberitaan firman.

Pada akhirnya suatu pemberitaan firman yang lahir dari suatu eksegese apapun termasuk eksegese leksionari bukan segala-galanya. Sebab dalam melaksanakan pemberitaan firman yang berhasil sangat ditentukan pula oleh faktor mental, spiritual, penguasaan materi, kemampuan mengkomunikasikan, dan kejelian untuk memahami persoalan hidup jemaat. Tetapi semua hal yang baik tersebut juga tidak dapat mencapai tujuan dari pelaksanaan suatu kebaktian, manakala tidak didukung oleh unsur-unsur liturgi dan pemimpin liturgi lainnya. Jika demikian, tiada jalan lain kecuali kita harus sungguh-sungguh mempersiapkan segala sesuatu dalam pelaksanaan suatu kebaktian baik melalui persiapan secara pribadi maupun persiapan secara kolektif dengan semua pihak sebagai tim kerja yang berkomitmen dan antusias untuk melaksanakan kebaktian yang berkenan kepadaNya.

 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1450
mod_vvisit_counterYesterday1687
mod_vvisit_counterThis week6566
mod_vvisit_counterThis month61443
mod_vvisit_counterAll2419230

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2547 hits)
Firman Hidup 50   (2434 hits)
Firman Hidup 55   (2408 hits)
Cyber GKI   (2199 hits)
The Meaning of Worship   (2002 hits)
TextWeek   (1917 hits)
Contact YBM   (1867 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::