I. Pentingnya Khotbah/Pemberitaan Firman Pendidikan teologi merupakan suatu proses akademis dan spiritual untuk mempersiapkan seseorang menjadi pelayan Tuhan di tengah-tengah kehidupan jemaat. Dia dipersiapkan untuk menjadi seorang teolog yang mampu membuat rekonstruktsi teologis yang kreatif dan kontekstual sebagai hasil dari kontemplasi pertumbuhan spiritualitasnya, sehingga dia mampu untuk menjadi seorang pemimpin yang mampu menggembalakan anggota jemaat dalam terang kasih Kristus. Salah satu indikasi yang terlihat jelas oleh anggota jemat bagaimana tingkat kemampuan akademis dan kematangan spiritualitas yang berkualitas terlihat pada kemampuan seseorang untuk memberitakan firman.yang selalu rendah-hati di hadapan Allah dan sesamanya.
Sehingga manakala seseorang memiliki kemampuan mencerna berbagai bidang ilmu teologia dan mampu menulis berbagai analisa dalam artikel teologis, tetapi ternyata dia tidak mampu atau gagal untuk memberitakan firman, dia tidak akan dapat bertahan sebagai calon pelayan Tuhan di tengah-tengah jemaat. Dalam hal ini tidak berlebihan jikalau ada yang mengatakan khotbah merupakan puncak dari ilmu teologi (Lonergan). Sebab khotbah merupakan hasil (output) yang lahir dari seluruh mekanisme pendidikan teologi dan pertumbuhan spiritualitas seseorang yang secara khusus dipersiapkan menjadi pelayan Tuhan, sehingga hasil atau buah tersebut harus dipetik oleh gereja atau umat Allah sendiri. II. Fungsi Khotbah Apabila secara umum ilmu teologi merupakan interpretasi yang lahir dari pemahaman dan pembelajaran tentang teks dan konteks umat Allah yang telah mengalami karya keselamatan Allah sebagaimana yang diberitakan oleh Alkitab. Maka dalam hal ini khotbah atau pemberitaan firman merupakan tindakan interpretasi (penafsiran) yang lahir dari pemahaman dan pembelajaran tentang konteks kehidupan umat yang riel dalam hubungannya dengan konteks dari teks Alkitab yang akan diberitakan. Ini berarti berita Alkitab yang menjadi dasar pemberitaan firman pada prinsipnya merupakan media penyingkapan diri Allah sendiri (God Self-disclosure) di tengah-tengah pergumulan dan permasalahan umatNya. Dalam pemberitaan firman/khotbah terjadi perjumpaan antara Allah dengan manusia, sehingga konteks hidup dan pergumulan jemaat menjadi medan (wilayah) dari karya Allah yang berkenan bertindak dalam sejarah. Melalui khotbah, Allah menyapa dan berfirman kepada umatNya. Melalui khotbah, setiap umat dimotivasi dan digerakkan oleh Roh Kudus untuk ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. Umat Allah yang mendengarkan khotbah memperoleh pencerahan diri (self-illuminating). Jadi melalui pemberitaan firman, Allah berkenan menggembalakan umat dan memampukan mereka sebagai kawan-sekerjaNya untuk bertindak dalam terang firmanNya, sehingga mereka menjadi berkat bagi sesamanya. III. Mempersiapkan Khotbah Yang Bertanggungjawab Sebagaimana dipahami bahwa suatu khotbah atau pemberitaan firman pada hakikatnya merupakan interpretasi yang lahir dari pemahaman dan pembelajaran tentang kehidupan umat riel dalam hubungannya dengan konteks dari teks yang akan diberitakan. Sehingga suatu khotbah senantiasa mencerminkan “lingkaran hermeneutis” yang dinamis dan kreatif antara teks yang adalah firman Tuhan dengan konteks kehidupan jemaat. Karena itu hal-hal penting yang perlu diperhatikan agar kita dapat mempersiapkan suatu khotbah secara bertanggungjawab adalah: 1. Perlunya persiapan yang matang. Karena kurang dipersiapkan dengan matang, maka khotbah sering disampaikan secara asal-asalan (ala kadarnya) saja. Di atas mimbar pengkhotbah tersebut berusaha mengeluarkan data-data dari memori yang sempat diingatnya. Sehingga tidak jarang dia membuat ilustrasi yang sama sekali tidak cocok, atau contoh-contoh yang pernah ia alami dalam percakapan atau pastoral dengan anggota jemaat. Akibatnya suatu khotbah yang tidak dipersiapkan dengan baik, bukan hanya tidak mencapai suatu tujuan; tetapi juga khotbah tersebut seringkali melukai hati dan menyinggung anggota jemaat tertentu. 2. Waspada terhadap vulgarisasi suatu kajian teologi. Kecenderungan dari para mahasiswa teologi yang baru lulus adalah menyampaikan kajian-kajian teologis secara vulgar dan tidak bijaksana. Misal menyampaikan hasil dari kritik-teks kepada anggota jemaat manakah teks yang “asli” dan “sisipan”, kajian kritis terhadap Kej. 1-11 sebagai kesaksian yang tidak historis, penekanan terhadap historitas diri Yesus sebagai manusia sehingga mengabaikan segi keilahianNya, kajian terhadap pluralisme dengan kesimpulan bahwa sebenarnya umat Kristen boleh saja menikah dengan orang yang tidak seiman, Alkitab bukan satu-satunya firman Tuhan tetapi hanyalah salah satu dari firman Tuhan, keselamatan tidak hanya melalui Kristus tetapi juga disediakan Allah dalam setiap agama, dan sebagainya. Tema-tema teologis tersebut sebenarnya perlu ditempatkan secara proporsional dan kritis. Maksud secara proporsional adalah: apakah pembahasan tema-tema teologis yang sangat kompleks tersebut telah tepat dan bijaksana untuk disampaikan dalam media khotbah? Secara kritis adalah apakah kesimpulan-kesimpulan yang kita tarik dan disampaikan dalam khotbah kepada anggota jemaat merupakan suatu kesimpulan dan analisa yang telah final dan dapat dipertanggungjawabkan? Padahal selaku jemaat Tuhan, sebenarnya GKI telah memiliki prinsip-prinsip ajaran iman yang jelas tentang Kristus sebagai satu-satunya Juru-selamat, dan Alkitab adalah firman Tuhan, dan sebagainya. 3. Penggunaan Kata/Istilah (Diksi) Yang Tepat Guna dan Kontekstual Melalui studi teologi yang cukup panjang, kita telah dikondisikan untuk mengenal berbagai isitilah, kosakata dan pemikiran dalam bahasa asing, yaitu bahasa Inggris, Yunani, Ibrani dan Latin. Tentu istilah dan berbagai pemikiran dalam bahasa asing tersebut sangat membantu kita untuk mengenal makna yang sesungguhnya dari teks Alkitab. Sehingga istilah-istilah atau kutipan dari bahasa asing dapat memperjelas suatu arti bahkan memperdalam suatu pemahaman. Tetapi kadang-kadang kita melupakan konteks hidup anggota jemaat yang hadir dalam suatu kebaktian. Para anggota jemaat tersebut ternyata sangat beragam: mulai dari yang muda sampai tua, dari yang kurang berpendidikan sampai dengan mereka yang berpendidikan tinggi, dari mereka yang lemah secara sosial-ekonomi sampai dengan mereka yang cukup mampu sebagai seorang pengusaha yang sukses, anggota jemaat dengan permasalahan yang sederhana sampai dengan mereka yang sedang menghadapi masalah yang sangat kompleks, anggota jemaat yang terbiasa berpikir sederhana dan praktis sampai dengan mereka yang mampu berpikir kritis dan konseptual. Suatu khotbah pada prinsipnya bukan suatu demonstrasi “ilmiah” atau “show” suatu presentasi ilmu teologi untuk menunjukkan kepandaian kita dalam mengutip istilah dan pemikiran dalam bahasa asing. Khotbah pada prinsipnya merupakan media di mana Allah berkenan memakainya untuk menyatakan kehendak dan karya keselamatanNya di tengah-tengah kehidupan umat. Sehingga isi dari suatu khotbah bukanlah diri kita sendiri sebagai pengkhotbah, tetapi isi yang paling esensial dari khotbah adalah menyatakan diri Allah sendiri di dalam karya penyelamatan Kristus. Pusat khotbah adalah diri Kristus, yang mana Allah berkenan menjadikan kita sebagai anak-anakNya. 4. Memberitakan Firman Tuhan Yang Komunikatif Teologi tidak boleh berhenti hanya sebagai ilmu yang tersusun secara analitis dan sistematis belaka. Teologi juga harus mampu mengkomunikasikan dirinya, sehingga umat dapat belajar tentang rahasia firman Allah dalam kehidupannya. Demikian pula suatu khotbah, tidak boleh berhenti hanya sekedar ilmu berkhotbah (homiletika) belaka. Khotbah yang baik dan mencapai suatu tujuan harus komunikatif. Dalam praktek seseorang yang telah siap dengan khotbahnya seperti: dia telah membuat persiapan, telah melakukan tafsiran, telah membuat relevansi yang dianggap sesuai dengan konteks dan pergumulan jemaat, dan dia telah menyusun dalam suatu naskah khotbah lengkap. Tetapi dia masih menghadapi suatu permasalahan? Bagaimana dia harus memberitakan khotbah tersebut secara komunikatif, dapat mengena, dan menyentuh para anggota jemaat? Bukankah dia telah memiliki struktur dan isi khotbah yang tertulis rapi? Tetapi ternyata tidak serta merta suatu khotbah yang telah tertulis rapi dapat disampaikan dengan baik. Untuk itu kita perlu memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut: - Ketika kita membawa dan hanya membacakan teks khotbah tersebut di atas mimbar, maka kita kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi secara alamiah dengan anggota jemaat. - Khotbah merupakan suatu percakapan yang komunikatif dan personal, sehingga senantiasa harus terjadi kontak mata dengan para anggota jemaat. - Kemampuan untuk melibatkan perasaan dan pikiran anggota jemaat sehingga mereka cukup antusias dan mampu mengikuti seluruh alur pemikiran dan ekspresi spiritual yang disampaikan dalam suatu khotbah. Jadi anggota jemaat dapat merasakan dan mengalami makna “firman yang menjadi daging” dalam kehidupan mereka sendiri. 5. Isi khotbah Yang Fokus dan Mendalam Tujuan berkhotbah bukanlah untuk memberikan kepada anggota jemaat berbagai pengetahuan dan permasalahan. Prinsip dari teologi khotbah menghadirkan peristiwa dan karya keselamatan Allah yang menyentuh pergumulan dan permasalahan manusia secara kontekstual. Sehingga melalui pemberitaan firman yang disampaikan pada hari itu, umat dapat mengalami kembali kehadiran dari karya Allah yang mampu menghunjam masuk ke dalam permasalahan dan pergumulannya, sehingga firman Allah tersebut menerangi, inspiratif dan membuka pemahaman imannya semakin lebar. Melalui pemberitaan firman, pengkhotbah menghadirkan kembali peristiwa Ilahi yang dulu pernah terjadi, sehingga umat dapat mengalami peristiwa Ilahi tersebut dalam masa kini. Itu sebabnya suatu khotbah yang baik harus fokus, yaitu sesuai dengan konteks hidup jemaat. Jadi khotbah yang baik dan membangun jemaat ketika khotbah tersebut mampu membahas “satu pokok bahasan” saja mengenai rahasia dan peristiwa kehidupan umat manusia secara mendalam namun dengan menggunakan bahasa yang sangat sederhana, sehingga setiap orang dapat mengerti. Karena itu manakala kita membuat relevansi dan memberikan contoh, maka contoh/ilustrasi seharusnya mendukung fokus pemikiran atau tema yang sedang kita bahas. Manakala contoh dan ilustrasi tersebut tidak mendukung sebaiknya tidak perlu disampaikan dalam khotbah. Kalau perlu cukup satu contoh atau satu ilustrasi saja tetapi sangat mendukung pokok bahasan yang sedang kita sampaikan. 6. Refleksi Teologis Yang Lahir dari Kontemplasi Doa Suatu khotbah yang lahir dari pengolahan otak belaka yang bersifat kognitif, hanya berhasil memuaskan kebutuhan kognitif anggota jemaat tertentu. Padahal khotbah bukanlah presentasi ilmiah/akademis dalam suatu kebaktian. Khotbah merupakan penyingkapan diri Allah sendiri, sehingga umat mengalami kehadiran Allah yang menguatkan dan meneguhkan mereka di tengah-tengah pergumulan hidupnya. Khotbah bagaikan tiang awan yang memimpin umat Israel ketika mereka berjalan di padang gurun pada waktu siang, dan menjadi tiang api yang memimpin mereka pada waktu malam. Tiang awan dan tiang api tersebut merupakan tanda kehadiran dari Allah yang mengasihi umatNya dengan setia. Karena itu suatu khotbah yang efektif dan dibutuhkan oleh anggota jemaat ketika khotbah tersebut lahir dari doa dan kontemplasi yang reflektif. Khotbah yang lahir dari kontemplasi doa menjadi suatu kerugma yang sungguh-sungguh lahir dari aliran hati-sanubari yang eksistensial. Sebab si pengkhotbah telah terlebih dahulu berjumpa dengan Allah, sehingga dia didorong oleh kuasa Roh Kudus untuk menyampaikan firmanNya yang mampu mengalir bagaikan air sungai: begitu sejuk, lembut namun sangat perkasa dan kuat menerobos setiap permasalahan dan pergumulan hati para anggota jemaat. IV. Mempersiapkan Khotbah Leksionaris Khotbah leksionari merupakan suatu khotbah yang didasarkan pada daftar bacaan menurut tahun gerejawi (ordo lectionum missae). Daftar bacaan leksionari terdiri dari 4 bacaan, yaitu: - Bacaan I : Perjanjian Lama - Antar Bacaan : Kitab Mazmur - Bacaan II : Surat-surat Rasul - Bacaan III : Injil Makna penyampaian khotbah leksionaris yang didasarkan pada keempat bacaan tersebut di atas, bukan berarti kita harus menyampaikan suatu khotbah yang membahas seluruh materi dalam bacaan yang tersedia. Khotbah leksionari harus tetap fokus kepada suatu pokok bahasan (tema) tertentu dan harus tepat sesuai dengan tahun gerejawi yang sedang terjadi. Sebagai seorang pengkhotbah yang bertanggungjawab, kita wajib membuat tafsiran kepada keempat bacaan yang tersedia. Tetapi setelah itu kita juga harus “berteologi” dengan keempat bacaan yang telah kita tafsirkan itu. Teologi yang dimaksudkan di sini adalah agar kerugma (berita firman Tuhan) yang ilahi itu dapat menjadi “daging” dalam kehidupan umat sehari-hari. Justru dengan keempat bacaan Alkitab tersebut, kita dapat menjadi lebih fleksibel, dinamis dan kontekstual, tanpa harus jatuh dalam sikap memaksakan suatu ide dari teks Alkitab untuk mendukung teks Alkitab yang lain. Karena itu suatu khotbah leksionaris tetap dimungkinkan untuk membahas suatu perikop tertentu secara lebih mendalam, dan tidak harus membahas semua bacaan manakala ternyata kita tidak dapat menemukan hubungan atau benang merah dari ide teologis yang kita harapkan. V. Visualisasi Khotbah Yang Efektif Firman Allah sering disebut dengan “logos” (Yun.), atau juga disebut “dabar Yahweh” (Ibr.). Kedua kata ini yaitu “logos” dan “dabar” bukan sekedar suatu rangkaian kata-kata ilahi yang dikaruniakan kepada manusia. Sebab firman yang diwahyukan kepada umat manusia merupakan firman yang terjadi di dalam sejarah. Karena itu dalam pengertian “dabar” mengandung makna “peristiwa” (event), yaitu peristiwa atau kejadian dari Allah yang bertindak dengan berfirman kepada umatNya. Ini berarti suatu khotbah bukanlah sekedar rangkaian kata-kata yang saleh, indah, puitis, dan sangat rohani. Tetapi dalam khotbah juga terjadi “peristiwa” yang dapat dialami secara eksistensial oleh para anggota jemaat. Jika demikian suatu khotbah yang efektif juga perlu menghadirkan pesan yang divisualisasi, sehingga pesan itu dapat ditangkap oleh panca-inderawi manusia. Beberapa bentuk visualisasi dalam khotbah dapat disajikan, misalnya: - Sosio-drama: yang mana isi berita dari khotbah tersebut didukung oleh para anggota jemaat untuk memerankan suatu tokoh atau ide teologis yang mau disampaikan. Untuk mencapai tujuan tersebut tentu membutuhkan persiapan dan latihan yang cukup panjang dengan para pemeran drama yang sesuai dan memiliki kemampuan. Jadi khotbah dalam jenis ini hanya dapat dilakukan dalam momen-momen gerejawi yang sangat khusus. - LCD (power-point): yang mana melalui LCD, seluruh bahan dan alur pemikiran dalam khotbah tersebut didukung oleh tulisan singkat dan gambar (image), bahkan suatu film pendek, sehingga anggota jemaat di samping mampu mendengar (audio), mereka juga mampu melihat (visual) berita dari firman Tuhan yang disampaikan. Penggunaan LCD untuk mendukung visualisasi khotbah kini relatif lebih mudah karena dapat kita kerjakan seorang diri, asal kita cukup kreatif dan mampu menempatkan secara tepat slide atau film tersebut untuk mengungkapkan “message” atau kerugma yang ingin kita sampaikan. VI. Progresivitas Pengkhotbah Kemajuan seseorang dalam khotbah sejalan dengan pertumbuhan rohani dan pemikiran teologisnya. Pertumbuhan rohani terjadi dalam interaksi dan komunikasi seseorang yang eksistensial dengan Allah, sesama dan lingkungan hidupnya. Sehingga seorang pelayan firman menjadi sangat efektif ketika dia memiliki interaksi yang sangat kuat dengan anggota jemaat dan masyarakat di sekitarnya. Demikian pula dengan pertumbuhan pemikiran teologis seseorang, ditentukan oleh pola hidup yang serba teratur dan keinginan yang sangat kuat untuk membaca buku-buku dalam berbagai disipilin ilmu yang memperkaya wawasan dan melatih kemampuan analitisnya. Kita juga perlu belajar dan studi banding dengan berbagai pengkhotbah. Sebab pengkhotbah yang baik adalah juga seorang pendengar dan murid yang baik. Karena itu pelayan firman yang bertumbuh dan dapat menjadi berkat adalah pelayan firman |