HOME arrow PENGAJARAN arrow Biblika arrow Tafsir LUKAS 17:1-10
Tafsir LUKAS 17:1-10 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 12 December 2007

MEMIMPIN DALAM KEBENARAN DAN KASIH  

(LUKAS 17:1-10)



Ide utama dari Luk. 17:1-2 adalah panggilan umat Allah untuk melindungi sesama yang lemah dari kemungkinan perbuatan jahat. Di Im. 19:14 terdapat suatu peraturan: “Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN”. Ayat ini tidak mudah untuk dimengerti. Mengapa Taurat mengemukakan topik masalah ini dalam peraturannnya? Apakah memang benar pada waktu itu ada kebiasaan orang untuk meletakkan batu di depan orang buta, sehingga mereka tersandung jatuh? Talmud memberi penjelasan bahwa peraturan di Im. 19:14 tersebut pada prinsipnya bukan arti “buta” secara lahiriah saja.Tetapi pengertian orang “buta” dalam konteks ini dimaksudkan secara metaforis sebagai orang-orang yang tidak tidak berpendidikan, lugu, bodoh, buta secara moral dan mudah menaruh percaya kepada orang lain. Dalam hikayat Minchas Chinuch melaporkan keadaan di mana pada zaman itu peraturan yang berlaku tidak cukup untuk melindungi orang-orang yang buta yaitu orang-orang yang rentan dari tindakan dengki dan jahat dari sesamanya. Karena itu diperlukan hukum khusus untuk melindungi orang-orang yang “buta” tersebut (lihat Minchas Chinuch 232:4). Jadi pengertian “lifnei iver lo sitten michshol” dalam bahasa Ibrani secara harafiah berarti melarang seseorang untuk menaruh batu sandungan, yaitu dengan memberikan nasihat yang menyesatkan kepada sesamanya untuk melakukan suatu kesalahan/dosa.
Di Luk. 17:2, perihal “lifnei iver lo sitten michshol” atau “skandalon” dinyatakan oleh Tuhan Yesus dengan suatu peringatan keras berupa ucapan “celakalah” dalam bentuk gambaran figuratif. Yaitu: “adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini (Luk. 17:2). Peringatan keras yang tidak lazim keluar dari mulut Tuhan Yesus ini menunjukkan bahwa tanggungjawab kepada sesama yang lemah, rentan dari berbagai bujukan dan tidak berdaya merupakan tanggungjawab etis yang tidak dapat ditawar-tawar. Hershey H. Friedman, Ph.D mengaplikasikan perkataan Tuhan Yesus dan hukum Taurat ini secara khusus dalam dunia bisnis. Dalam bukunya yang berjudul: “Placing a Stumbling Block Before the Blind Person: An In-Depth Analysis”, dia berkata:
“It is an admonition not to take advantage of the weak and the helpless or to place temptation in the path of those who may be morally weak. It is also a call to action demanding that society and people do everything possible help the weak, the vulnerable, and the helpless. It is a fundamental principle of business ethics and is on par with such essential principles as "The stranger who resides with you shall be treated the same as the native-born and you love him as yourself" (Leviticus 19:34) and "loving your fellow human being as yourself" (Leviticus 19: 18).


Tahun 1993 di Waco, Texas terdapat gerakan yang menamakan dirinya “Ranting Daud” (Branch Davidians). Gerakan ini sebenarnya merupakan sempalan dari kelompok Seventh-Day Adventists yang didirikan oleh Victor Houteff di Los Angeles, California tahun 1934. Dalam teologi “David-Koresh” sebenarnya dia memfokuskan diri sebagaimana lazimnya kegiatan gerejawi yaitu pada penambahan anggota baru dan pendalaman Alkitab. Tetapi juga dia mempersiapkan kedatangan akhir zaman dengan mengumpulkan makanan, persenjataan, dan bahan bakar. Tahun 1980, “David-Koreh” mempraktekkan poligami yang diyakini sebagai istri-istri rohaniah.
Model gerakan bidaah seperti David-Koresh juga muncul dalam berbagai bentuk/cara di tengah-tengah jemaat kita. Bagaimana kita selaku sinode GKI tiada jemu-jemunya untuk terus berkomunikasi memberitakan firman dan pengajaran gereja yang sehat, berkualitas dan menarik kepada jemaat kita. Pola pembinaan formal seperti Pemahaman Alkitab haruslah kita kembangkan sedemikian rupa dalam berbagai metode penyajian kepada jemaat. Tetapi juga pola pembinaan informal seperti kelompok sel merupakan metode yang perlu diberi tempat dan dikembangkan karena metode ini lebih personal dan dapat mengena pada persoalan-persoalan yang fundamental yang dialami oleh para anggota jemaat.
Selain itu kita secara sinodal perlu memperhatikan spiritualitas kepemimpinan dalam tubuh jemaat. Mungkin dari sudut pengajaran, kita dapat merasa yakin bahwa pengajaran gereja kita cukup sehat dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis. Tetapi apakah secara moril dan spiritualitas kita sungguh-sungguh dipercaya (credible and accountable) oleh sebagian besar anggota jemaat kita? Apakah kita dapat menyatakan bahwa pola kepemimpinan kita telah mencerminkan spiritualitas penyangkalan diri? Kewibawaan kepemimpinan kita di tengah-tengah jemaat tidak hanya bersangkut paut dengan kepiawian mengelola organisasi, Tata Gereja, Liturgi, perhatian dalam bidang sarana dan prasarana. Kewibaawaan kepemimpinan kita juga diukur oleh seberapa jauh kita dapat memberi pertumbuhan spiritualitas iman yang berpusat kepada kehidupan dan karya Kristus. Matthew Henry dalam Commentary on the whole Bible, mengingatkan agar kita selaku gereja tidak menjadi batu sandungan atau “skandalon”, yaitu:
1. penindas bagi sesama yang lemah melalui perkataan dan tindakan.
2. membujuk seseorang secara bersengaja menyimpang dari ajaran utama dari Kristus.
3. menyalahgunakan jabatan gerejawi dalam berbagai skandal.

Selain kita dipanggil untuk memberi fokus perhatian kepada sesama agar mereka dilindungi dari berbagai kemungkinan batu sandungan, di Luk. 17:3-4 juga terdapat panggilan agar kita senantiasa mampu menunjukkan kemurahan dan pengampunan. Tuhan Yesus berkata: “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Ungkapan “jagalah dirimu” (prosecw) memiliki arti:
a. Mengarahkan pikiran pada sesuatu dan memberikan perhatian
b. Menjaga agar tetap pada arah yang tepat
c. Waspada dan berjaga-jaga

Dengan demikian makna “skandalon” (batu sandungan) ditempatkan dalam pengertian sejauh mana tindakan kita didasari oleh kemampuan untuk mawas diri dengan mampu bersikap waspada dan mengendalikan diri. Manakala kita mampu bermawas diri, maka kita dimampukan pula untuk memberi teguran dan nasihat kepada saudara yang melakukan kesalahan. Dalam hal ini para murid diingatkan agar mereka selaku pelayan-pelayan Kristus senantiasa berhati-hati dalam berkata-kata dan bertindak, agar tidak melemahkan iman, harapan dan kasih dari kawanan domba yang telah dipercayakan kepada mereka. Namun pada sisi lain, mereka dipanggil untuk berani menyampaikan teguran secara langsung dan tidak membiarkan kesalahannya terus berlanjut. Jadi pola kepemimpinan gerejawi yang berkenan kepada Tuhan jikalau kita senantiasa dijiwai oleh sikap mawas diri terhadap diri sendiri dan anggota jemaat yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Karena itu kepemimpinan gerejawi tidak boleh sekedar mencari rasa aman (ego-insecurity) dengan menutup mata terhadap kesalahan atau ketidakbenaran yang ada di sekelilingnya.

Sikap mawas diri juga tidak boleh menjadi sikap yang kaku dan tanpa belas kasihan. Sebaliknya sikap mawas diri harus dinyatakan dalam bentuk kemampuan untuk mengampuni orang yang mau menyesal terhadap kesalahannya. Walaupun kita telah ditebus oleh Kristus menjadi warga negara Kerajaan Sorga, tetapi kita tetaplah seorang insan manusia yang rentan terhadap berbagai kesalahan dan kelemahan. Ungkapan “humanum est errare” (to ere is human) yang berarti: kesalahan adalah watak manusia - harus senantiasa mengingatkan kita untuk mau bermurah hati dengan mengampuni orang yang bersalah dan menyakiti hati kita. Bilamana berbicara tentang “humanum est errare” seharusnya jari telunjuk kita tersebut kita arahkan lebih dahulu kepada diri kita sendiri, bahwa kesalahan itu merupakan tabiat diri kita. Jika demikian, apakah kita selaku anggota jemaat GKI juga bersedia untuk mengevaluasi dan mengukur diri sendiri atas berbagai kekurangan, kelemahan dan kesalahan yang telah kita lakukan selama ini?

Di Luk. 17:5, para murid memberikan respon sebagai individu-individu yang akhirnya dapat memahami diri mereka yang serba lemah dan terbatas, karena itu mereka mohon kepada Tuhan Yesus: “Tambahkanlah iman kami!”. Kemudian Kristus menjawab mereka: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." Yang dibutuhkan oleh Tuhan bukanlah iman yang spektakuler, tetapi iman yang kecil namun eksis dengan bersandar kepada pertolongan Tuhan. Dari hasil laporan persidangan ketiga sinode wilayah, kita dapat melihat penurunan yang merata dan cukup drastis jumlah anggota jemaat di gereja kita. Jumlah anggota jemaat yang tercatat dibandingkan dengan yang jumlah jemaat yang riel tidak sesuai. Di samping beberapa faktor seperti perpindahan tempat, rumah, atau daya tarik mutasi ke gereja-gereja lain; apakah juga terdapat kemungkinan karena kehidupan dan pelayanan kita telah menjadi batu sandungan bagi anggota jemaat? Ataukah karena kita kurang mawas diri, dan kurang kaya dalam menunjukkan kemurahan dan pengampunan? Sehingga sangat tepat jikalau kita dengan rendah hati berkata kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami

Di Luk. 17:7-10 diuraikan bagaimana sikap iman dinyatakan dalam kehidupan dan pelayanan. Ayat 7-8, Tuhan Yesus berkata: “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum”. Model peran tokoh yang dianjurkan oleh Kristus bukanlah sikap dan tindakan dari tuan yang memiliki ladang. Tetapi sebaliknya sikap dan respon dari seorang hamba yang berusaha menyelesaikan seluruh perintah dan tugas dari tuannya. Setelah hamba itu menyelesaikan seluruh rangkaian tugas yang dipercayakan oleh tuannya, dia berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan". Tentunya pembagian tugas (job’s description) dalam sistem kehidupan gerejawi sangat diperlukan untuk penataan pelayanan dan tanggungjawab agar menjadi lebih rapi dan efektif. Namun ketika pembagian tugas tersebut dilakukan tanpa semangat dan spiritualitas pelayanan, maka pembagian tugas tersebut telah menjadikan diri kita mental seorang pegawai birokrat. Dalam semangat kerja yang demikian, kita merasa telah melakukan tugas pekerjaan dengan baik, tetapi ternyata kita tidak terlalu tanggap terhadap kebutuhan dan tantangan yang dihadapkan oleh Tuhan di depan mata kita. Bahkan kita merasa bahwa Tuhan telah memakai kita begitu banyak, padahal sesungguhnya tugas pelayanan kita masih belum efektif dan tidak optimal. Dalam realita, sering pelayanan kita masih terlalu minim dan standard! David Guzik berkata: ” We can’t put God into debt to us; anything we do for Him is small repayment for His work in our life. Bahaya spiritualitas yang lain adalah sering tanpa kita sadari kita merasa diri kita sebagai pejabat gerejawi yang penting dan mampu menentukan banyak hal, bahkan merasa mampu menentukan masa depan gereja dan sesama kita. Sikap mawas diri kita justru sering lemah dalam bentuk kesadaran dan kerendahan hati bahwa kita sesungguhnya hanyalah: “hamba-hamba yang tidak berguna” karena ternyata kita belum melakukan apa yang seharusnya dan yang telah dipercayakan oleh Tuhan kepada kita.


PEMAHAMAN ALKITAB (II)


BERIMAN DENGAN MEMULIAKAN ALLAH
(LUKAS 17:11 – 19)
Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Pernahkah saudara menyaksikan film Ben-Hur yang berhasil memenangkan 11 Academy Awards? Film Ben-Hur sebenarnya didasarkan pada novel General Lew Wallace tahun 1959. Tokoh utama Ben-Hur diperankan oleh Charlton Heston. Kisah Ben-Hur merupakan film yang menggambarkan pula keadaan orang sakit kusta pada zaman Kristus. Para penderita sakit kusta pada zaman itu dikucilkan oleh masyarakat Israel. Penyakit kusta oleh umat Yahudi dianggap bentuk dari murka Allah. Karena itu penyakit kusta selain menajiskan si pasien, juga menajiskan orang-orang yang bersentuhan dengan diri mereka (Im. 13:3). Dalam dunia modern, penyakit /kusta lepra yang juga disebut Hansen's Disease. Penyebab penyakit kusta sebenarnya adalah bakteri Mycobacterium leprae. Di Eropa pada waktu Abad Pertengahan (5-15 M), orang-orang yang mengidap kusta/lepra dinyatakan telah mati, dan mereka diusir keluar sesudah disampaikan kesaksian dari orang-orang yang menguburnya dan juga setelah dilaksanakan pemakaman simbolis. Kemudian para penderita kusta tersebut dikurung atau dipaksa untuk menggelandang menjadi pengemis agar mereka dapat bertahan hidup. Mereka benar-benar dikucilkan dari pergaulan masyarakat luas; dan apabila keluar bertemu dengan anggota masyarakat, maka mereka harus membunyikan bel atau memberi tanda dengan menepuk-nepuk tangannya.
Karena itu seorang penderita kusta dari zaman ke zaman sering mengalami penderitaan yang sangat kompleks, yaitu:
a. Penderitaan fisik karena sedikit demi sedikit anggota tubuh khususnya jari-jari kaki dan tangan dapat terlepas setiap saat tanpa mereka ketahui.
b. Mereka harus dikucilkan dari pergaulan masyarakat luas, sehingga kehilangan komunikasi dan keakraban dengan orang-orang yang semula sangat dekat dan mengasihi diri mereka.
c. Kehilangan harapan dan masa depan yang cerah karena mereka merasa hidup mereka tidak lagi berguna, bahkan diri mereka dianggap najis. Ke mana mereka pergi mereka hanya boleh berteriak memberi tanda kepada orang-orang di sekitarnya: “najis, najis!”
d. Keadaan sakit mereka dianggap pula sebagai bentuk hukuman dan murka Allah.

Namun mereka sebagai sesama penderita penyakit kusta justru memiliki ikatan emosional yang sangat kuat. Hubungan mereka menjadi sangat akrab dan dapat saling berkomunikasi secara terbuka. Mereka merasa dirinya senasib dan sepenanggungan. Keadaan sakit dan derita mereka dapat menyatukan mereka untuk saling menopang dan karena itu di antara mereka dapat tercipta suatu solidaritas yang tinggi. Itu sebabnya di Luk. 17:12 disebutkan bahwa Tuhan Yesus didatangi oleh kesepuluh orang yang berpenyakit kusta. Kesepuluh orang kusta tersebut menemui Kristus ketika Ia baru saja memasuki suatu desa. Walau mungkin Kristus waktu itu masih lelah dan belum dapat beristirahat, kesepuluh orang kusta tersebut secara bersengaja menemui Kristus. Mereka sebagai suatu kelompok yang menderita dan tersisih menaruh harapan besar untuk memperoleh pertolongan dan kesembuhan dari Kristus.
Sebagaimana kelaziman zaman itu kesepuluh orang kusta tersebut tidak berani mendekat kepada Kristus dan para muridNya. Mereka hanya berdiri agak jauh karena hukum Taurat melarang mereka untuk bersentuhan dengan anggota masyarakat. Hukum Taurat di Im. 13:46 berkata:”Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya”.

Dari tempat yang agak berjauhan, mereka menyampaikan permohonan untuk mendapat belas kasihan Kristus: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Kesepuluh orang kusta tersebut memanggil dan menyapa Yesus dengan sebutan “guru” (epistata). Makna sebutan “guru” yang berasal dari kata “epistata” (epistata), memiliki pengertian: seorang yang sempurna, tuan, seperti seorang raja atau panglima militer (bandingkan II Raj. 25:19). Arti sinonim dari kata “epistata” adalah: kurios (tuan), didaskalos (guru), despotes (penguasa yang mutlak), rhabbi (guru yang sangat dihormati), kathegetes (seorang guru yang memimpin atau membimbing). Di Injil Lukas, sebutan Yesus sebagai “epistata” hanya dicatat dilakukan oleh Simon Petrus ketika dia gagal untuk memperoleh ikan sepanjang malam (Luk. 5:5). Jadi baik Petrus maupun kesepuluh orang kusta memahami makna identitas diri Kristus sebagai “guru” pada saat mereka berada pada situasi yang sulit dan tanpa pengharapan.

Kesepuluh orang kusta yang berseru: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” sebenarnya lebih menekankan harapan untuk memperoleh kemurahan hati Kristus sebagai seorang “epistata”. Secara eksplisit kesepuluh orang kusta tersebut pada waktu itu sama sekali tidak memohon kesembuhan atas penyakitnya. Mereka berseru memohon belas kasihan Kristus, karena mereka menyadari bahwa diri mereka najis. Keadaan penyakit mereka telah membentuk suatu pemahaman dan kesadaran diri bahwa diri mereka sangat kotor dan tidak layak di hadapan Allah. Karena itu mereka tidak mendasarkan spiritualitas mereka sebagai orang-orang benar dan bermegah diri. Sikap kesepuluh orang sakit kusta tersebut senafas dengan makna perumpamaan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus di Luk. 18:9-14, yang mana Allah membenarkan doa seorang pemungut cukai dari pada doa orang Farisi. Dalam doanya orang Farisi itu berkata: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku”. Orang Farisi itu mengucap syukur atas segala prestasi rohani yang berhasil diraihnya. Tetapi sebaliknya si pemungut cukai menaikkan permohonan: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Si pemungut cukai berdoa atas dasar ketidaklayakannya sebagai orang yang berdosa. Dalam konteks ini, bagaimanakah kita membangun spiritualitas pelayanan gerejawi dan persidangan sinode GKI? Apakah tanpa kita sadari telah menonjolkan berbagai prestasi rohani, penyusunan peraturan dan organisasi yang berhasil kita raih? Ataukah yang kita tonjolkan dalam tugas pelayanan ke depan adalah suatu kesadaran yang tulus akan berbagai kekurangan dan kegagalan yang telah kita lakukan dan tidak kita sadari selama ini, sehingga ke depan kita dapat melakukan tugas pelayanan yang lebih berkenan kepada Allah?

Respon Kristus terhadap seruan kesepuluh orang kusta itu disebutkan “Lalu Ia memandang mereka”. Bukankah kesaksian ini mau menyatakan bahwa yang dipandang atau yang dipedulikan oleh Tuhan hanyalah mereka yang mau merendahkan diri dan mengharap belas-kasihanNya? Mzm. 34:16-17 berkata: Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi”.
Cara Tuhan Yesus menyembuhkan kesepuluh orang sakit kusta itu sebenarnya tidak lazim. Dia tidak terlebih dahulu menyatakan kesepuluh orang sakit kusta tersebut sembuh, tetapi yang Dia katakan adalah: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam”. Di Luk. 5:12-16 mengisahkan seorang kusta yang segera disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Di Luk. 5:14 berkata: “Lalu Yesus mengulurkan tanganNya, menjamah orang itu, dan berkata: Aku mau, jadilah engkau tahir” (bandingkan Luk. 5:25, 6:10, 7:14, 8:54, dan 7:7-10). Tetapi dalam kasus sepuluh orang sakit kusta itu sama sekali Tuhan Yesus tidak disebutkan Dia mengulurkan tangan, menjamah dan menyatakan mereka telah sembuh. Dia hanya menyuruh mereka untuk menghadap imam. Padahal orang-orang yang sakit kusta pada saat pergi menghadap imam seharusnya dalam keadaan tahir dan sembuh dari sakitnya (Im. 14:2-3). Namun kesepuluh orang sakit kusta itu mau percaya akan perkataan Kristus. Mereka segera pergi menghadap imam untuk memeriksa keadaan sakit mereka, walaupun saat itu mereka belum melihat tanda atau bukti di tubuhnya bahwa mereka layak untuk diperiksa oleh imam. Kasus kesepuluh orang sakit kusta itu justru menonjolkan tindakan iman yang tanpa syarat. Walaupun mereka belum sembuh dari penyakitnya, mereka telah percaya akan perkataan Tuhan Yesus.

Pada saat kesepuluh orang kusta itu dalam perjalanan ke tempat imam, ternyata mereka mengalami penyembuhan dari sakitnya. Tampaknya kesepuluh orang sakit kusta tersebut belum terlalu jauh pergi. Dengan keadaan sakit mereka, kesepuluh orang kusta tersebut tidak mungkin dapat berjalan cepat. Lebih tepat, ketika mereka telah melangkah berjalan beberapa langkah tiba-tiba mereka menyadari bahwa mereka telah sembuh. Karena itu penggunaan kata “en tooi hupagein” yang berarti: baru saja berjalan pergi. Pemulihan kesepuluh orang kusta tersebut terjadi karena sikap ketaatan dan iman terhadap Kristus. Sikap mereka mengingatkan kita kepada sikap Naaman, panglima raja Aram yang sakit kusta, yang mana akhirnya dia mau menuruti perkataan nabi Elisa untuk mandi di sungai Yordan (II Raj. 5:9-14). Nabi Elisa menyuruh Naaman: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir”. Ketika Naaman akhirnya taat melakukan apa yang diperintahkan oleh nabi Elisa, maka tahirlah dia dari penyakit kustanya.

Karya Kristus yang menyembuhkan orang-orang kusta pada zamanNya terus memberi inspirasi dan motivasi yang begitu kuat untuk melayani orang-orang kusta yang umumnya dikucilkan oleh masyarakat luas. Kita dapat menyebut 2 orang pelayan Tuhan yang telah mengabdikan hidupnya untuk menolong, memberi kekuatan dan kasih Kristus kepada para penderita kusta., yaitu:

Pastor Damien, seorang misionaris dari Belgia. Tahun 1873 pastor Damien dipindah dari Honolulu, Hawai ke suatu koloni yang secara khusus menampung orang-orang yang sakit kusta di pulau Molokai. Dia telah mengabdikan seluruh hidupnya sampai akhirnya dia juga wafat karena penyakit lepra pada tahun 1889.

Kemudian dapat disebut pula Albert Schweitzer (1875-1965) seorang teolog kelahiran Jerman di Kaysersberg. Albert Schweitzer sebenarnya anak seorang pastor gereja Lutheran. Karya-karyanya yang monumental menempatkan dia juga sebagai seorang filsuf, ahli musik, misionaris medis dan memperoleh hadiah Nobel atas pengabdian hidupnya sebagai tenaga medis di Afrika.

Albert Schweitzer tinggal beberapa tahun sesudah Perang Dunia I berakhir. Dia kembali ke Afrika tahun 1924 tanpa didampingi oleh istri dan adiknya, Rhena. Schweitzer kemudian mendirikan rumah sakit untuk memberi pengobatan kepada ribuan orang-orang Afrika, termasuk 300 orang yang sakit kusta.

Saat ini penyakit lepra telah menyebar ke seluruh dunia, utamanya di daerah tropis. Tetapi 95 % penyakit lepra hanya di 11 negara. India dan Brasil adalah memiliki jumlah penderita penyakit kusta yang terbesar. Tahun 1985 World Health Organization (WHO) mencatat ada 5,4 juta penderita kusta dan diperkirakan 10 sampai 12 juta tersebar di berbagai penjuru dunia. Tahun 2000, di sana terdapat 680.000 kasus yang tercatat dan diperkirkan 1,6 juta kasus di berbagai tempat. Pada zaman sekarang pengobatan penyakit lepra telah berkembang pesat. Penderita lepra umumnya diberi obat yang disebut promin yang telah dikembangkan sekitar pertengahan tahun 1940 oleh seorang ahli ilmu pengetahuan dari Amerika Srikat di Carbille, Louisiana.
Keadaan dan penderitaan orang sakit kusta merupakan gambaran dari orang-orang yang tersisih dan terkucilkan di tengah-tengah masyarakat, gereja dan keluarga. Dalam hal ini kita selaku umat percaya dipanggil untuk sungguh-sungguh peduli dengan sesama kita yang tersisih dalam berbagai bentuk, yaitu secara ekonomis, sosial-budaya, psikologis, keagamaan dan politis.

Jane Campion (1954- ) seorang sutradara film dan penulis naskah dari New Zealand. Dia dikenal sebagai seorang pejuang yang gigih membela mereka yang dikucilkan oleh masyarakat. Melalui film-filmnya, Jane Campion mencoba menggugah hati banyak orang untuk memperlakukan orang-orang yang lemah dan tertindas secara lebih manusiawi. Dia menunjukkan talentanya yang luar biasa dalam filmnya yang berjudul Peel (1982) yang memenangkan Palme d’Or award sebagai film pendek yang terbaik dalam acara festival Cannes Film. Kemudian pada tahun 1993 dia memenangkan 3 Academy Awards untuk filmnya yang berjudul “The Piano”.

Selaku gereja kita dipanggil oleh Tuhan untuk peduli dan memberi pemulihan kepada mereka yang tersisih, tanpa daya, dan kerapkali pula mereka menjadi korban tekanan ekonomis, budaya, etnis, ideologi dan politis. Di lain pihak mungkin secara ekonomis di antara mereka terdapat orang-orang yang tidak berkekurangan secara ekonomis, tetapi mereka seringkali mengalami kekosongan spiritual. Mereka juga membutuhkan uluran tangan, empati, kasih dan daya tanggap gereja agar mereka boleh berjumpa dengan Kristus dan menemukan makna hidup. Sebenarnya mereka berada di antara kita yaitu sebagai anggota jemaat GKI. Karena itu sejauh mana pelayanan dan program-program secara sinodal memberi motivasi, daya gerak dan semangat serta pola spiritualitas kepada setiap jemaat di lingkungan GKI?

Di antara kesepuluh orang kusta tersebut hanya seorang saja yang mau kembali datang kepada Kristus, yang mana dia kembali mengucap syukur seraya tersungkur (epesen epi proswpon) di depan kakiNya (para touz podaz autou) dan memuliakan Allah (eucaristwn aujtow). Secara eksplisit Injil Lukas menyebut identitas orang kusta yang mengucap syukur tersebut adalah seorang Samaria. Ini berarti sembilan orang kusta yang tidak kembali mengucap syukur dan memuliakan Allah adalah orang-orang Israel yang menganggap dirinya sebagai umat pilihan Allah. Jika demikian, apakah kita yang telah dipilih oleh Allah di dalam Kristus juga bersedia menyatakan sikap hidup yang terus memuliakan namaNya dengan bersyukur atas segala karunia yang telah dilimpahkan kepada kita? Ataukah kita setelah memperoleh apa yang telah kita cita-citakan, kita segera pergi meninggalkan Dia dan tidak mengucap syukur atas kebaikan dan kemurahanNya? Pembinaan jemaat tidaklah cukup mengajar anggota jemaat untuk memiliki iman, tetapi apakah mereka juga mampu beriman dengan memuliakan Allah dalam seluruh aspek hidup mereka.


PEMAHAMAN ALKITAB (III)



KERAJAAN ALLAH ADA DI ANTARA KAMU!

(Lukas 17: 20 -37)
Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono


Paradigma teologis di perikop sebelumnya yaitu Luk. 17:1-19 dikemukakan agar umat Tuhan dapat membuat respon yang tepat pada situasi kini (present demands), sehingga umat Allah dapat ambil bagian dalam karya kerajaan Allah. Di lain pihak di Luk. 17:20-37 merupakan panggilan agar umat Tuhan mampu mengantisipasi untuk menyambut kedatangan kerajaan Allah pada masa mendatang (the future coming of the kingdom of God). Karena itu di Luk. 17:20 diawali dengan pertanyaan dari orang-orang Farisi kepada Kristus, “bilamanakah kerajaan Allah akan datang?”. Pertanyaan orang-orang Farisi ini juga kelak diajukan oleh murid-murid Kristus, sebelum Dia naik ke surga, yaitu: “Tuhan, maukah Engkau pada masa kini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:6). Dalam hal ini Tuhan Yesus memberi jawaban di Luk. 17:20 yaitu: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah”.

Terjemahan LAI di Luk. 17:20, yaitu: ”Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah” sebenarnya dapat juga diterjemahkan secara bebas yaitu: ”Kedatangan kerajaan Allah tidak disertai dengan tanda-tanda yang dapat ditentukan oleh manusia”. Tradisi Farisi beranggapan bahwa Messias akan datang pada malam Paskah. Atau dalam tradisi Babilon, manusia mencari kehendak Allah melalui rasi bintang-bintang. Pengertian Aramik lebih mengarah pada ide “secretly” (dalam pengertian: in a manner which cannot be observed). Jadi jawaban Tuhan Yesus pada prinsipnya ingin menegaskan bahwa kedatangan kerajaan Allah tidak dapat ditentukan oleh perhitungan, penelitian, argumentasi, ideologi atau anggapan manusia. Tetapi kenyataannya umat Allah sepanjang sejarah sering tergoda untuk mewujudkan kerajaan Allah secara lahiriah dalam pengertian secara duniawi.

Film “The Kingdom of Heaven” yang dirilis pad bulan Mei 2005 mencerminkan kecenderungan dan ambisi gereja pada waktu itu untuk mewujudkan kerajaan Allah secara duniawi. Sebenarnya film tersebut berlatar-belakang peristiwa Perang Salib. Sebagaimana kita ketahui bahwa Perang Salib I muncul karena raja Alexis I mohon kepada Paus Urbanus II untuk mengirim bala tentara Kristen. Permohonan raja Alexis l tersebut bertujuan agar dia dapat menahan ancaman dan serangan dari tentara Islam yang berusaha menyerbu ke arah wilayah kekaisaran Byzantium. Tetapi ternyata Paus Urbanus II bukan hanya menyetujui upaya untuk mempertahankan kekaisaran Byzantium, tetapi juga dia berupaya untuk merebut kota Yerusalem. Tokoh utama dalam film “The Kingdom of Heaven” adalah Balian, yang diperankan oleh Orlando Bloom. Film dengan durasi selama 2 jam 25 menit ini sangat mendebarkan para penonton karena memvisualisasikan suatu pertempuran perang yang hebat antara tentara Kristen dengan tentara Islam. Tetapi juga film sekaligus membuat kita menjadi malu dan prihatin. Karena ditunjukkan bagaimana licik dan kejamnya para pemimpin tentara Kristen terhadap para musuh, sehingga akhirnya memicu perang yang dahsyat dan menimbulkan korban yang begitu besar. Sutradara Ridley Scott berhasil menggugah hati para penonton agar mereka mau belajar berhikmat untuk tidak mencoba membangun kerajaan Allah secara lahiriah dengan kekerasan dan peperangan.
Tentunya makna kerajaan Allah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus sama sekali bukan ditandai oleh kekuasaan duniawi. Secara harafiah, Luk. 17:21 ini dapat diterjemahkan dengan: “Kerajaan Allah berada di dalam dirimu” (he basileia tou theou entos humon estin). Itu sebabnya Leo Tolstoy menulis buku yang diterbitkan dalam bahasa Jerman tahun 1894 sesudah ia ditahan di negaranya Rusia. Buku yang ditulis oleh Tolstoy tersebut berjudul: The Kingdom of God is Within You. Jelas judul buku Tolstoy tersebut diambil dari Luk. 17:21. Dalam bukunya itu Tolstoy mengaplikasikan pengertian Kerajaan Allah yang diam di dalam diri manusia dalam hubungannya dengan sesama. Dia secara serius berjuang melawan segala bentuk kekerasan. Jadi Tolstoy beranggapan bahwa kerajaan Allah tidak dapat hadir melalui kuasa-kuasa yang duniawi. Sebaliknya kerajaan Allah hanya dinyatakan dalam kehidupan rohaniah manusia yang terdalam. Dengan demikian realitas kerajaan Allah tidak pernah dapat dibangun di atas dasar kekerasan dan penindasan. Karena itu dia juga mengutip perkataan Kristus yang menegur Petrus yang telah mengayunkan pedang dan memotong telinga hamba Imam Besar: “Masukkan pedang itu kermbali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang” (Mat. 26:52).

Namun apabila realita kerajaan Allah berada di dalam diri manusia, bukankah berarti realita kerajaan Allah identik dengan “bagian terdalam” (inner space) dari diri manusia? Justru sebaliknya bukankah makna dari perkataan Kristus yang berkata: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya kerajaan Allah ada di antara kamu” pada hakikatnya lebih menunjuk bahwa realita kerajaan Allah waktu itu telah hadir di tengah-tengah kehidupan manusia? Jadi realita kerajaan Allah bukanlah unsur subyektif dari bagian terdalam kepribadian manusia, tetapi kerajaan Allah tersebut justru di “luar diri manusia”. Dalam hal ini terjemahan LAI mirip dengan New Revised Standard Version yang menterjemahkan dengan: “For in fact, the kingdom of God is among you”. Pertanyaannya adalah jika kerajaan Allah itu telah berada di antara para murid, bukankah berarti realita kerajaan Allah secara faktual dan historis telah hadir? John Nolland, dalam “Word Biblical Commentary” (35B) menyatakan:

“Probably the most common modern view takes entoj as “among/in the mids of”
and see the kingdom of God as present in the person and ministry of Jesus.
This fits well with other materials that identify a present
coming of the kingdom of God in connection with the ministry of Jesus”.

Pandangan Nolland tersebut dikuatkan dengan perkataan Tuhan Yesus di Luk. 11:20, yang mana Kristus berkata: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya kerajaan Allah sudah datang kepadamu”. Kata “efqasen” (efthasen) merupakan tense aorist. Karena itu di Luk. 11:20 Tuhan Yesus hendak menegaskan bahwa realita kerajaan Allah pada prinsipnya telah hadir di dalam diri dan karyaNya. Itu sebabnya sebagai perwujudan kerajaan Allah, Ia terlebih dahulu harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh generasi pada zamanNya (Luk. 17:25). Namun kelak Ia akan datang kembali secara paripurna dalam kemuliaanNya. Karena itu dapat dipahami jikalau Joachim Jeremias, teolog dari Inggris menyatakan bahwa di dalam diri Yesus Kristus sebagai perwujudan kerajaan Allah atau eskatologi yang di dalam proses perwujudannya (eschatology in the process of being realized).

Apabila kerajaan Allah tersebut telah hadir dan nyata di tengah-tengah kehidupan manusia, bagaimana sikap mereka untuk mengantisipasi kedatangan kerajaan Allah yang mulia dan paripurna itu? Di Luk. 17:26-28, Tuhan Yesus menggambarkan keadaan dan kecenderungan umat manusia dalam menyongsong kedatanganNya, yaitu: “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun”. Sikap manusia senantiasa ditandai oleh ketidakwaspadaan, hedonisme, konsumerisme, nafsu loba dan ingin menguasai banyak hal. Bahkan di tengah-tengah situasi yang sulit, manusia cenderung untuk mencintai dan mempertahankan harta miliknya sebagaimana yang telah dilakukan oleh istri Lot. Itu sebabnya di Luk. 17:32, Tuhan Yesus berkata: “Ingatlah akan isteri Lot!” Pada saat kita tidak waspada, bersikap serakah, dan ingin menguasai semua hal disaksikan bahwa kerajaan Allah tersebut tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka. Karena itu manusia perlu tanggap untuk mengantisipasi kedatangan kerajaan Allah yang tidak terduga (a future sudden arrival of the kingdom of God). Di Luk. 17:24, Tuhan Yesus berkata: “Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatanganNya”.

Selaku gereja Tuhan, kita telah dipercayakan agar kita mampu mengarahkan dan membimbing anggota jemaat agar mereka memiliki spiritualitas yang selalu siap mempertanggungjawabkan iman, harapan dan kasihnya kepada Tuhan (bdk. I Petr.3:15). Bagaimanakah pola spiritualitas kita dapat dibentuk secara dinamis dan diekspresikan secara etis di tengah-tengah desakan eskatologis untuk menyambut kedatanganNya? Dalam hal ini, apakah kita selaku jemaat-jemaat GKI telah dapat menghayati secara proporsional dinamika gerak eskatologis dalam seluruh pelayanan dan kepemimpinan kita? Ketika teologia, ajaran gereja dan organisasi serta sistem kita dilepaskan dari gerak eskatologis untuk menyambut kedatangan kerajaan Allah, maka kita kehilangan kekuatan dan kemampuan untuk bergerak ke depan. Kalau boleh meminjam pemikiran Jurgen Moltmann adalah agar teologia berbicara tentang Allah secara eskatologis. Sebab Allah yang eskatologis itu adalah Allah yang berjalan ke depan dan Ia mendahului perjalanan hidup kita agar Ia menarik dan membebaskan umatNya dari belenggu kuasa dosa. Umat Israel bergerak ke tanah terjanji karena mereka dipimpin dan ditarik oleh Allah yang eskatologis. Bandingkan dengan kesaksian Ibr. 12:1-2, yang berkata: “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah”.

Memperhatikan pesan dalam film “The Kingdom of Heaven” yang mengisahkan perseteruan bahkan konflik berdarah dengan umat yang lain, pada masa depan kita perlu membangun komunikasi yang lebih mendalam, personal dan penuh kasih dengan semua pihak. Kerajaan Kristus tidak dapat dibangun di atas dasar arogansi, perasaan superior, atau sebaliknya dengan sikap inferior. Jika karena iman dan anugerah Kristus, kita diperkenankan menjadi warga kerajaan Allah, maka kehidupan kita seharusnya menjadi ruang yang luas untuk menerima kehadiran sesama yang berbeda dengan diri kita. Kegagalan kita untuk menghadirkan realita kerajaan Allah disebabkan karena kita belum sepenuhnya mampu menyediakan ruang yang lebar bagi orang lain. Kehidupan berjemaat dan pelayanan sering kita persempit, atau mungkin diperdangkal oleh sekat-sekat kepentingan diri/kelompok atau wilayah/teritorial. Gambaran Luk. 17:26-28 tentang sikap umat yang mengutamakan makan, minum, minum, membeli, menjual, menanam dan membangun; serta kawin dan dikawinkan bukankah merupakan gambaran dari orang-orang yang sering terlalu sibuk dengan berbagai kepentingan diri dan kelompoknya? Karena itu dengan penyatuan jemaat-jemaat GKI, diharapkan ke depan makin tersedia ruang yang makin luas dan lebar, yang memungkinkan kita untuk membangun kehidupan spiritual yang makin mendalam, dan juga lingkup pelayanan kita mampu menghadirkan realita kerajaan Allah yaitu: damai-sejahtera, keadilan dan keutuhan ciptaan.

Karena itu spiritualitas yang harus terus dibangun dan diaplikasikan dalam kehidupan jemaat adalah perkataan Tuhan Yesus: “barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 17:33). Sikap “zhthsij (zetesis) menunjuk pada upaya dan pencarian seseorang untuk keselamatan jiwanya. Sikap “zetesis” ini justru bertolak-belakang dengan sikap apoleipw (apoleipo) yang berarti: to lack (kehilangan), to leave behind (meninggalkan di belakang). Apabila spritualitas “zetesis” adalah semangat mental untuk selalu memperoleh banyak hal (memperoleh “apa-apa”), maka sebaliknya semangat dari spiritualitas “apoleipo” adalah sikap yang bersedia dan rela untuk kehilangan banyak hal (tidak memperoleh “apa-apa”). Kerajaan Allah ada di antara kita, ketika kita bersedia kehilangan segala hal yang kita banggakan selama ini.

**********

Referensi Bahan PA I - III:

Barclay, William, The Daily Study Bible, The Gospel of Luke (Edinburgh: Saint Andrew Press, 1953)

Cousar, Charles B.; Gaventa, Beverly R.; McCann, J. Clinton; and Newsome, James D., Texts for Preaching: A Lectionary Commentary Based on the NRSV–Year C (Louisville: Westminster John Knox Press, 1994)

Craddock, Fred B., "Luke," Interpretation (Louisville: John Knox Press,(1990)

Craddock, Fred B.; Hayes, John H.; Holliday, Carl R.; and Tucker, Gene M., Preaching Through the Christian Year, C (Valley Forge: Trinity Press, 1994)

Culpepper, R. Alan, The New Interpreter's Bible, Volume IX. (Nashville: Abingdon , 1995)

Diers, Herman W., Lectionary Bible Studies, "The Year of Luke," Pentecost 2, Teacher's Guide (Minneapolis: Augsburg-Fortress, 1976)

David Guzik, http://www.blueletterbible.org/tmp_dir/popup/1162789871-1183.html
David Brown, http://www.blueletterbible.org/tmp_dir/c/1162566397-8168.html
Edwards, O. C., Jr. and Taylor, Gardner C., Proclamation 2, Pentecost 3, Series C (Philadelphia: Fortress Press, 1980)
Hershey H. Friedman, PhD, Placing a Stumbling Block Before the Blind Person: An In-Depth Analysis, Professor of Business, Brooklyn College, 2002
John Nolland, Word Biblical Commentary (35B) Luke 9:21 – 18:34, Trinity College, Bristol, 1989

Matthew Henry, Luke Chapter XVII, Commentary on the whole Bible, http://www.textweek.com/mtlk/lk17a.htm

Sphiros Zodhiates, The Complete Word Study Dictionary New Testament, AMG Publishers, Chattanooga, TN 37422, 1993

 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1088
mod_vvisit_counterYesterday5268
mod_vvisit_counterThis week22475
mod_vvisit_counterThis month91540
mod_vvisit_counterAll2557160

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2571 hits)
Firman Hidup 50   (2459 hits)
Firman Hidup 55   (2426 hits)
Cyber GKI   (2218 hits)
The Meaning of Worship   (2040 hits)
TextWeek   (1938 hits)
Contact YBM   (1883 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::