AJARAN TRINITARIS DAN UNITARIS PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 12 December 2007

I. Pengantar

 Istilah “trinitas” (tritunggal) jelas tidak pernah kita temui dalam Alkitab Perjanjian Lama maupun Alkitab Perjanjian Baru. Namun iman Kristen secara fundamental didasarkan pada iman kepada Allah dalam ketritunggalanNya. Kondisi ini yang membuat banyak orang dalamperjalanan sejarah gereja sering mempersoalkan, bagaimana mungkin istilah “trinitas ”yang tidak terdapat dalam Alkitab, namun secara fundamental menjadi dasar/pijakan keselamatan iman Kristen. Dalam hal ini gereja-gereja Tuhan memberi jawab, bahwa istilah “trinitas” memang tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi secara substansial khususnya Alkitab Perjanjian Baru menyaksikan penyataan Allah yang esa itu secara tritunggal.

Dengan perkataan lain, ajaran trinitas pada hakikatnya didasarkan pada kesaksikan Alkitab 1). Namun istilah “trintas” secara etimologis bukan berasal dari Alkitab, tetapi istilah tersebut dikemukakan pertama kali oleh Theophillus dari Antiokhia (115-181) 2)

Walaupun istilah “trinitas” baru muncul pada abad II, tidak berarti gereja sejak awal berdirinya tidak memiliki iman secara “trinitaris”. Bahkan gereja awal telah bergumul dalam proses yang sangat panjang dan sangat berat akan makna Allah yang esa itu menyatakan diri dalam ketritunggalanNya. Pergumulan gereja awal tersebut dapat dimengerti, karena gereja awal semula berlatar belakang Yahudi yang mewarisi Alkitab Perjanjian Lama. Dalam peng-akuan iman umat Israel dengan jelas dinyatakan, bahwa “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” (Ul 6:4). Namun pada pihak lain, dalam iman kepada Yesus Kristus, disaksikan bahwa “Yesus itu Tuhan” (Kis 2:36; Rm 10:9; Fil 2:11). Sehingga timbullah pertanyaan, bagaimanakah diri Allah yang esa itu dalam hubungannya dengan Yesus yang adalah Tuhan. Dalam hal ini dapatkah gereja menyatakan pengakuan imannya bahwa Allah itu esa dan pada saat yang sama juga menyatakan bahwa Yesus itu “Kurios” (Tuhan)? 3)

Pergumulan teologis gereja tersebut tak terelakkan menghasilkan ajaran yang pada satu sisi terlalu menekankan keesaan Allah dengan melepaskan ketritunggalanNya, dan pada satu sisi juga ada yang terlalu menekankan ketritunggalan Allah dengan melepaskan keesaanNya. Kelompok pertama yang terlalu menekankan keesaan Allah dengan melepaskan ketritunggal-anNya sering disebut dengan kelompok Unitarianisme. Dalam perjalanan sejarah gereja kelompok kedua yang terlalu menekankan ketritunggalan Allah, terdapat beberapa aliran yang kemudian melepaskan diri dari keesaan Allah. Namun secara umum gereja-gereja Tuhan pada prinsipnya tetap menekankan ketritunggalan Allah tanpa melepaskan diri dari keesaan Allah.

II. Pandangan Unitarianisme

Tokoh pertama pandangan Unitarianisme atau Unitaris dapat disebut adalah Adamatinus Origenes (tahun 185-255). Sebab Origenes sangat menekankan pada keesaan Allah, karena itu satu-satunya Allah adalah Allah Bapa. 4) Dengan kata lain Allah Bapa yang esa itu menjadi sebab segala sesuatu yang berada. Ia adalah Allah yang ada pada diriNya sendiri dan tidak dilahirkan. Konsekuensi logisnya adalah Origenes menempatkan menempatkan Logos yang menyatakan diri dalam diri Yesus Kristus memiliki pangkat yang lebih rendah daripada Allah Bapa. Sebab Logos (Anak) dipakai oleh Allah sebagai perantara untuk ber-hubungan dengan dunia benda. Jadi Logos (Anak) dalam konsep teologi Origenes adalah gambaran Allah yang sempurna. Sejak kekal Ia dilahirkan dari Allah. Walaupun demikian Logos (Anak) tidak mempunyai awal yang temporal. Tegasnya eksistensi Logos (Anak) adalah non est quando Filius non Filius fuit (“tidak ada saat di mana Anak itu tidak ada”). Ia memiliki tabiat yang sama dengan Allah, oleh karena itu dapat dikatakan Ia satu dengan Allah, tetapi karena Ia keluar dari Allah Bapa, maka Ia lebih rendah dari Allah Bapa. Jadi dalam pemikiran Origenes, Yesus selaku Firman adalah “Theos Deuteros” (Allah berderajat/berpangkat dua). Demikian pula dengan Roh Kudus, dipandang sebagai zat yang ada pada Allah atau Roh Kudus merupakan pangkat ketiga dalam zat Allah. Roh Kudus ada karena Logos (Anak). Lingkup kerja Roh Kudus lebih sempit dibandingkan dengan lingkup kerja dari Logos (Anak). Jadi konsepsi teologis Origenes tentang ketritunggalan Allah merupakan konsepsi yang sifat-nya subordinasiansime. 5) Jadi Origenes menempatkan kedudukan Allah sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus secara berpangkat-pangkat. Ia mengakui perbedaan antara Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus; tetapi ia meniadakan kesatuan di antara ketigaNya.

Tokoh kedua yang dapat disebut sebagai penganut paham Unitarianisme adalah Arius (wafat tahun 336). Arius dapat disebut sebagai seorang yang mendefinisikan ulang pemikiran Origenes. Ia mempertahankan transendensi Allah dan hanya mengakui Allah Bapa sebagai satu-satunya Allah yang esa. Perbedaan dengan Origenes adalah jika Origenes memahami kedudukan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus secara subordinasianisme (berpangkat-pangkat), tetapi Arius menolaknya. Jadi Arius berpandangan karena Allah itu satu-satunya yang tak dilahirkan, yaitu Ia tidak diciptakan; maka eksistensi Anak pasti diciptakan, karena itu Anak adalah ciptaan. Perbedaan kedua, jika Origenes mengatakan bahwa Anak itu dilahirkan sejak kekal, maka Arius menegaskan bahwa yang kekal itu hanya Allah. Jadi Arius menyatakan bahwa Anak tidak dilahirkan sejak kekal. Anak mempunyai awal, walaupun Ia telah hadir sebelum dunia diciptakan. 6) Di sini Arius mengakui Anak sebagai pencipta waktu, namun Dia pernah tidak ada. Perhatikan perbedaan dengan Origenes yang menyatakan bahwa Anak pada hakikatnya “tidak ada saat di mana Anak itu tidak ada”, sedang Arius menegaskan bahwa “ada saat di mana Anak tidak ada” (there was a time when the Son was not”). 7) Dengan demikian, Arius mengajarkan bahwa Anak tidak dapat mempunyai kesatuan dengan Allah Bapa. Sebab Anak hakikatnya ciptaan, sehingga substansiNya tidak sama dengan substansi Allah. Di sini Arius menentang pandangan Origenes yang mengajarkan bahwa Firman dan Hikmat yang adalah Anak sama dengan Firman dan Hikmat yang ada pada diri Allah. Lebih jauh lagi, Arius menegaskan yaitu karena Allah adalah satu-satunya yang mutlak dan kekal, dan Anak hanya sebagai ciptaan, maka Anak itu mau tak mau harus tunduk pada perubahan dan dosa. 8) Dari pandangan Arius ini kita dapat melihat bahwa Arius secara konsisten menegaskan keesaan Allah. Ajaran Arius pada hakikatnya menolak ajaran Trinitas. Reaksi penolakan atas ajaran Arius tentu sangat hebat, sampai-sampai Konstantinus campur-tangan dan menyelenggarakan sidang sinode di Nicea tahun 325 untuk menyelesaikan persoalan tersebut. 9)

Tokoh ketiga yang dapat disebut sebagai penganut ajaran Unitarianisme adalah Sabellius yang hidup sekitar abad III. Ia sebenarnya seorang Libya walaupun beberapa orang meng-anggap Sabellius sebagai orang Roma. Pemikiran Sabellius pada prinsipnya mempertahankan keesaan Allah. Dalam konsep Sabellius, Allah memiliki satu Hypostasis namun memiliki 3 nama. Jadi Allah yang esa dalam penyataanNya itu menampakkan diri secara modalitas atau tiga bentuk penampakan diri. Dalam Perjanjian Lama, Allah menampakkan diri sebagai Bapa yang bertindak sebagai Sang Pencipta dan pemberi hukum. Kemudian, Allah yang esa dan sama itu menyatakan diriNya dalam diri Sang Anak, yaitu sebagai Juru-selamat untuk menebus dosa umat manusia. Akhirnya Allah yang esa dan sama itu setelah kematian dan kebangkitan Yesus pada hari Pentakosta menyatakan diriNya sebagai Roh Kudus. Dengan pola pikir modalisme, Sabellius memang berhasil mempertahankan keesaan Allah tetapi pada sisi lain ia mengorbankan pluralitas Allah. 10) Konsep tritunggal menurut Sabellius sebenarnya tidak lebih sebagai proses urut-urutan cara penampakan Allah yang esa dalam berbagai momen sejarah.

Kesimpulan umum yang dapat ditarik dalam ajaran/pengertian Unitarianisme adalah:

 

1. Allah dipandang sebagai satu person/ satu pribadi saja, dan karena itu aliran unitarianisme sering pula disebut dengan ajaran tentang “unipersonalitas” Allah (unipersonality of God).

2. Karena eksistensi Allah dipandang dalam satu pribadi saja yang Ilahi dan transenden, maka ajaran unitarianisme pada hakikatnya menyangkal ketuhanan Yesus dan Roh Kudus.

3. Apabila Yesus selaku Anak dan Roh Kudus dalam ajaran Unitaris diakui “ketuhananNya” tapi hanya sebatas dalam pengertian “ketuhanan” yang lebih rendah (subordinasianisme) sebagaimana yang diajarkan oleh Origenes. Yesus selaku Logos adalah pangkat kedua, sedang Roh Kudus lebih rendah lagi yaitu pangkat ketiga dari Allah Bapa.

4. Dalam pandangan Arius, Yesus dan Roh Kudus ditolak kesamaan substansinya dengan Allah. Sebab dalam pandangan Arius, Yesus selaku Anak memang diakui sebagai pencipta waktu tetapi pada hakikatnya Yesus hanya berkedudukan sebagai ciptaan dan Ia berawal, bukan kekal. Karena Yesus hanya ciptaan, maka dalam pandangan Arius Yesus selaku Logos/Anak harus tunduk pada perubahan dan dosa. Dalam pandangan Arius, Yesus yang adalah Logos ketika menjadi Ia manusia tidak terbebas dari dosa.

5. Dalam pandangan Sabellius, keunikan pribadi Yesus dan Roh Kudus tidak diberi tempat sama sekali. Yesus dan Roh Kudus diangap hanya sebagai salah satu bentuk modalitas Allah dalam karyaNya. Eksistensi Allah yang menyatakan diriNya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus dipahami hanya sekedar nama-nama diri dari satu Allah yang esa itu.

III. Pandangan Trinitarian

Tokoh trinitarianisme atau trinitaris yang paling menonjol adalah Athanasius, sebab dialah yang memiliki pengaruh yang besar dalam persidangan sinode di Konstantinopel tahun 381. 11) Dalam ajarannya, Athanasius sebenarnya tetap mengakui keesaan Allah, namun pada saat yang sama Allah yang esa itu pada hakikatnya adalah Allah Tritunggal. Sehingga kedudukan Yesus selaku Firman tidak berada di bawah Allah dan Ia juga bukan ciptaan seperti yang dikatakan oleh Arius. Jadi dalam pemikiran Athanasius, Yesus selaku Firman Allah pada hakikatnya Ia adalah Allah. Selaku Firman Allah, Yesus telah berada sejak kekal, tidak berawal, dan Ia sehakikat dengan diri Allah. Karena itu Athanasius menolak pemikiran Origenes yang mengajarkan bahwa Yesus selaku Firman adalah “Theos Deuteros” (Allah berpangkat dua). Sebab dalam pemikiran Athanasius, Allah dan Yesus itu satu homousios 12), sehingga keilahian Anak identik dengan keilahian Allah. Kepenuhan keilahian Bapa adalah keberadaan (to enai) dari Anak. Jadi Allah Bapa dan Anak dalam pemikiran Athanasius memiliki kesatuan hakikat (oneness of essence).

Dalam hal ini pandangan Athanasius didukung oleh Tiga Serangkai dari Kapadokia, yang kemudian memunculkan ide/pengertian Trinitas. 13) Itu sebabnya dalam pengakuan iman Athanasius dinyatakan: “Kita menyembah satu Allah dalam ketritunggalanNya, dan ketritunggalan dalam keesaanNya, tanpa mencampurbaurkan kepribadian, dan tidak memisahkan hakikatNya. Karena di sana ada satu pribadi dari Bapa, yang lain dari Anak, dan yang lain dengan Roh Kudus. Tetapi Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus adalah esa dengan kemuliaan yang sama dan kewibawaan yang sama kekalnya ……….. .” 15) Dalam pengakuan iman Athanasius 14), Oknum Roh Kudus ditempatkan sehakikat dengan Bapa dan Anak. Jadi eksistensi Roh Kudus dalam pemikiran Athanasius tidak diciptakan. Roh Kudus itu juga adalah diri Allah yang mencipta. Beda dengan Origenes yang menyatakan Roh Kudus itu keluar dari Anak , dan karena itu menurut Origenes Roh Kudus berbeda dengan Anak.

Juga pandangan Athanasius berbeda dengan Arius, yang mengajarkan bahwa Roh Kudus itu bukan Allah. Jadi dalam pengakuan iman Athanasius menyatakan bahwa Roh Kudus kekal, Ia tidak diciptakan dan tidak terbatas. Perhatikan pernyataan pengakuan iman Athanasius berikut: “Bapa bukan diciptakan, Anak tidak diciptakan, dan Roh Kudus tidak diciptakan. Bapa tidak terbatas adanya, Anak tidak terbatas adanya, demikian pula Roh Kudus tidak terbatas adanya. Bapa kekal adanya, Anak kekal adanya, Roh Kudus juga kekal adanya. Bukan tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal …….. 16)

Tokoh kedua yang dapat disebut mengajarkan Trinitaris adalah Tertullianus (145-220). Tertullianus memperkenalkan rumusan “UNA SUBSTANTIA, TRES PERSONAE” yang artinya: Satu Zat, Tiga Pribadi. Dalam pemikiran Tertullianus, dinyatakan bahwa Allah itu satu dalam substansi/zatNya, dan memiliki tiga di dalam persona/pribadiNya. Tertullianus dalam tulisannya sebenarnya menentang ajaran dari Praxeas. Ajaran Praxeas adalah Allah adalah Roh, dan sebagai Roh Ia disebut dengan Bapa. Kemudian Ia mengenakan daging atau menjadi manusia. Keadaan Roh menjadi daging itu disebut dengan Anak. Jadi dalam diri Tuhan Yesus, diri Allah Bapa dan Anak menjadi satu, yaitu bahwa manusia Yesus (yang memiliki daging) adalah Anak, sedang Kristusnya (yang adalah Roh) adalah Bapa. 17)

Pola pikir Praxeas yang terlalu simplistis menyamakan begitu saja pribadi Bapa dan Anak tersebut ditentang oleh Tertullianus. Itu sebabnya Tertullianus menegaskan, bahwa pada satu pihak Allah itu esa, namun Ia memiliki tiga pribadi. Artinya, Allah Bapa memiliki persona, Anak memiliki persona dan Roh Kudus memiliki persona. Ketiga persona Allah itu hakikatnya tetap esa, karena ketiga persona Allah itu disatukan dalam satu zat Ilahi. Konsep pemikiran Tertullianus tersebut sebenarnya cenderung memiliki corak pendekatan yang monistik. Dalam pemikiran Tertullianus, Allah dipandang memiliki akal/budi. Kemudian Firman/Logos pada waktu penciptaan dikeluarkan dari akal/budi Allah. Firman yang keluar dari akal/budi Allah inilah yang disebut dengan Anak. 18) Demikian pula dengan Roh Kudus, semula adalah satu dengan Firman. Roh Kudus tersebut juga tetap satu ketika Firman itu menjadi manusia dan menderita sengsara. Baru setelah Kristus naik ke sorga, Roh Kudus itu keluar dari Bapa dan Anak. Walaupun Firman itu keluar dari Bapa, dan Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak, Tertullianus tidak memahami Firman/Anak dan Roh Kudus lebih rendah daripada Allah Bapa sebagaimana yang diajarkan oleh Origenes. Ketiga oknum Allah tersebut tetap sehakikat dalam satu substansi/zat. Perumusan ajaran Trinitas dari Tertullianus tersebut dalam perkembangan kemudian sangat mempengaruhi pemikiran-pemikiran ajaran gereja berikutnya.

Kesimpulan umum dari ajaran Trinitaris adalah:
1. Pada prinsipnya ajaran Trinitaris tetap mempertahankan keesaan Allah.

2. Namun dalam keesaanNya, Allah memiliki 3 pribadi yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga pribadi Allah tersebut memiliki perbedaan dan kekhasan/keunikanNya. Karena itu ketiga oknum Allah tersebut tidak bercampur.

3. Ketiga pribadi Allah tersebut memiliki kesamaan dalam kekekalan, tidak terbatas (unlimited), tidak ada yang diciptakan (uncreated), memiliki kemuliaan yang sama dan kewibawaan Ilahi yang sama. Sehingga kedudukan Allah Bapa, sehakikat dengan Anak dan juga sehakikat dengan Roh Kudus (oneness of essence).

4. Ajaran Tertullianus tentang “satu zat tiga pribadi” menunjuk upaya teologis tentang rahasia Allah agar gereja-gereja memiliki suatu rumusan Trinitaris yang seimbang, yaitu tetap konsisten mempertahankan keesaan Allah dan pada pihak lain juga mengakui ketritunggalanNya dalam personaNya yang saling berbeda.

IV. Tinjauan Kritis terhadap Pandangan Unitaris

Tinjauan kritis terhadap pandangan Unitaris, dalam uraian ini hanya kita batasi hanya pada pandangan dari Origenes, Arius dan Sabellius, yaitu:
(a) Dalam pandangan Origenes, kita dapat melihat prinsipnya yang sangat membela keesaan Allah, karena Allah Bapa adalah satu-satunya Allah (The Father is Very God). Allah Bapa melampaui segala hal/keberadaan (The Father is Very beyond Being). Sehingga kedudukan Anak/Logos memiliki pangkat yang lebih rendah dari Allah Bapa. Yesus berkedudukan sebagai Allah yang kedua (Theos Deuteros/Secondary God). Roh Kudus memiliki pangkat yang lebih rendah lagi. Sehingga dalam konsepsi teologis Origenes, ketritunggalan Allah dilihat sebagai suatu subordinasianisme (berpangkat-pangkat). Dari pola pemikiran Origenes kita dapat melihat pengaruh pemikiran/filsafat dari Neo-platonisme. 19) Sebab dalam pemikiran Neo-platonisme, menurut Plotinos, Allah adalah yang esa, tanpa pembandingan. Ia tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga. Allah tak dapat diuraikan karena pada diriNya tidak ada predikat, tiada sifat, mengatasi segala perlawanan dan bebas dari segala pengertian. Ia adalah yang sempurna dalam diriNya sendiri. Karena itu segala sesuatu dari jagat raya itu mengalir keluar dari yang Ilahi itu. 20). Pengaliran keluar tersebut terjadi dengan pengertian bahwa makin jauh hal-hal yang mengalir dari sumbernya, maka makin tidak sempurna keadaannya. Konsep “subordinasianisme” dalam pemikiran Neo-platonisme tersebut oleh Origenes dikenakan kepada eksistensi Allah Bapa sebagai satu-satu yang paling ilahi. Kemudian dari diri Allah tersebut mengalir Sang Logos (pangkat pertama), setelah itu mengalir Roh Kudus (pangkat kedua). Walaupun diakui bahwa Logos/Anak yang menciptakan segala sesuatu namun Ia dilahirkan dari Allah. Ia adalah kuasa dan hikmat Allah, sehingga “tidak ada waktu di mana Anak itu tidak ada”. Ia sehakikat dengan Allah, tetapi karena Ia keluar dari Sang Bapa, maka kedudukanNya lebih rendah.

Jadi trinitaris yang dibangun dalam teologi Origenes sebenarnya konsepsi Allah menurut filsafat Neo-platonisme. Yang mana Origenes, kurang memberi tempat kepada kesaksian Alkitab. Walaupun Origenes dalam ajaran “trinitaris” menyebut Yesus sebagai Logos sebagaimana disebut dalam teologia Injil Yohanes, tetapi konsepsi Logos dari Origenes sebenarnya lebih dekat dengan pengertian Neo-platonisme. Logos dalam pemikiran Neo-platonisme berkedudukan lebih rendah, karena Ia mengenakan tubuh jasmani, padahal tubuh dipahami sebagai kubur/penjara bagi jiwa. 21). Bagi Plato, tubuh tidak dipahami sebagai alat atau wahana tetapi dipandang sebagai hambatan dan pencemaran terhadap kemurnian jiwa. Padahal dalam pemikiran Alkitab, hakikat tubuh tak pernah dipertentangkan dengan jiwa. 22). Karena itu dalam pemikiran Alkitab, tak pernah berpandangan bahwa Yesus sebagai Logos berkedudukan lebih rendah dengan Allah Bapa karena Ia mengenakan tubuh manusia. Ia mengenakan tubuh, agar Ia dapat menjadi sesama di antara umat manusia; sehingga Ia dapat pula mengangkat atau membawa umat manusia sebagai anak-anak Allah . Dalam berita Injil, Firman Allah yang menjadi Yesus Kristus adalah penyataan diri Allah yang mau solider dengan umat manusia, dengan demikian Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus menjadi sesama bagi umat manusia.

(b) Pemikiran Arius yang menegaskan eksistensi Anak terjadi karena diciptakan karena itu Ia juga ciptaan (he was a creature but not as one of the creature), Ia mempunyai awal walau Ia telah hadir sebelum dunia diciptakan, dalam eksistensiNya Anak dinyatakan oleh Arius yaitu bahwa “ada saat di mana Anak tidak ada”. Karena status Anak dalam konsep Arius hanya ciptaan, maka Ia mau tak mau harus tunduk pada perubahan dan dosa. Dalam pemikiran Arius, kita dapat melihat pola pendekatan yang ditempuh lebih ke arah pendekatan filosofis, bukan pendekatan teologis yaitu dengan pendekatan tafsir Alkitabiah. Sehingga dalam ajarannya Arius mengabaikan kesaksian Alkitab yang berkata, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr 4:15). Dengan jelas surat Ibrani menyatakan, bahwa Yesus sebagai Anak Allah dapat merasakan seluruh kelemahan manusia 23), dan Ia juga pernah dicobai, tetapi Yesus ‘tidak berbuat dosa” (khooris hamartias). Mungkin Arius terpengaruh dengan perkataan dari surat Ibrani yang berkata, “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus .....” (Ibr. 2:9). Pengertian “waktu yang singkat” (brakhu ti, artinya: sedikit/singkat, dipakai dalam jenis frase keterangan/adverbial, untuk menunjuk pada tingkatan waktu). Tetapi dalam waktu yang singkat “Yesus dibuat sedikit lebih rendah dari pada pada malaikat-malaikat” itu, oleh Alkitab arti Yesus sebagai Anak tak pernah dinyatakan Ia hanya sebagai ciptaan Allah. Lebih tepat, surat Ibrani menyatakan bahwa Yesus dijadikan sama dengan manusia, agar Ia dengan kematianNya dapat memusnahkan kuasa Iblis (Ibr 2:14, 17). Sebab oleh karena Yesus telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai” (Ibr 2:18).

Jadi pernyataan surat Ibrani: “dibuat sedikit lebih rendah” lebih dimaksudkan untuk menjelaskan makna fungsi dan misi Yesus untuk menyelamatkan umat manusia, bukan untuk menyatakan kedudukanNya yang lebih rendah atau statusNya sebagai ciptaan sebagaimana yang dikatakan oleh Arius. Karena itu di Ibr 13:20-21, dengan jelas penulis surat Ibrani menyaksikan bahwa Yesus adalah Tuhan, sehingga “Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Dengan perkataan lain, ajaran Arius tentang Yesus sebagai ciptaan, yang mempunyai awal, tunduk pada perubahan/fana dan dosa pada prinsipnya sama tidak memiliki dasar Alkitabiah. Itu sebabnya Konsili Nicea tahun 325 menegaskan bahwa Yesus itu dilahirkan, bukan diciptakan. Salah satu bentuk penolakannya terhadap ajaran Arius, konsili Nicea berkata:

Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal,
yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman,
Allah dari Allah, terang dari terang,
Allah yang sejati dari Allah yang sejati,
Diperanakkan, bukan dibuat,
sehakikat dengan Sang Bapa,
yang dengan perantaranNya segala sesuatu dibuat .............”



(c) Pandangan Sabellius secara konsisten dapat mempertahankan keesaan Allah. Untuk itu Sabellius menegaskan bahwa Allah hanya memiliki satu Hypostasis namun memiliki 3 nama. Jadi Allah yang esa dalam penyataanNya itu menampakkan diri secara modalitas, atau menyatakan diriNya dalam 3 bentuk/cara. Untuk melaksanakan tugas penciptaan dan pemberi hukum atas umatNya, Allah menampilkan diriNya sebagai Allah Bapa. Sedangkan untuk melaksanakan karya penyelamatan atau penebusan dosa, Allah menampilkan diriNya sebagai Sang Anak yaitu dalam diri Yesus Kristus. Kemudian untuk melaksanakan karya pembaruan dan untuk meneguhkan jemaat Kristen, Allah menyatakan diriNya sebagai Roh Kudus yang dimulai pada hari Pentakosta. Jelas bahwa Sabellius memahami “trinitaris” Allah hanya sekadar suatu proses urut-urutan cara penampakan Allah yang esa itu dalam berbagai momen sejarah. Dalam hal ini Sabellius mengabaikan dimensi “personalitas” unik dari Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Sehingga akibatnya Sabellius dalam ajarannya mengorbankan “pluralitas” kedirian Allah, walau ia cukup berhasil mempertahankan keesaan Allah secara bilangan.

Ajaran Sabellius tentunya sangat memuaskan orang-orang yang berlatar belakang pemahaman “wahdat bi’l adat” yaitu mereka yang semula memahami keesaan Allah secara bilangan (tauhid). 24) Tetapi pada pihak lain ajaran Sabellius tetap tidak mampu memberi jawab yang memuaskan akan rahasia karya penyelamatan Allah di dalam diri Yesus dan Roh Kudus. Dengan pemikiran “modalitas” atau cara penampakan Allah secara berurut-urutan dalam peristiwa sejarah, maka ketika “Allah yang esa” itu menjadi Yesus Kristus, maka Allah yang esa itu selama 30 tahun pernah meninggalkan takhtaNya di sorga. Jadi ketika Allah menjelma menjadi Yesus dalam ajaran Sabellius, maka “ada suatu saat” di mana Allah pernah meninggal-kan sorga dan karyaNya yang memelihara umat manusia di luar bumi Palestina. Pengajaran Sabellius ini tentu menimbulkan banyak persoalan dan pertanyaan yang tak terjawab, misal: ketika Yesus berdoa, apakah Ia berdoa kepada diriNya sendiri? Ketika Yesus dibaptiskan, terdengar suara “Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan”; suara siapakah itu? Padahal dalam Injil, secara tegas dinyatakan perbedaan antara Bapa dan Anak. Di Yoh 17:1 disaksikan doa Yesus, “Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: Bapa telah tiba saatnya; permuliakanlah AnakMu, supaya AnakMu mempermuliakan Engkau”. Sedangkan untuk Roh Kudus, sering dipergunakan kata ganti orang ketiga tunggal. Di Yoh. 16:13, Tuhan Yesus berkata, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran....” Kata “Ia akan memimpin kamu” dipergunakan kata “hodegesei” (ter-masuk jenis orang ketiga tunggal dalam kasus: tense future indikatif aktif), tetap menunjukkan bagaimana kedirian unik dari Roh Kebenaran itu. Di Kis 13:2 disaksikan demikian: “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Di sini secara jelas, disebutkan “berkatalah Roh Kudus” (eipen to pneuma to hagion).

Dalam Kisah Para Rasul, menyaksikan bagaimana karya Allah dalam Roh Kudus sebagai subyek Ilahi dengan karyaNya yang khusus, yaitu Roh yang memberi hikmat, membarui, menghibur, menguatkan, melindungi dan melepaskan jemaat atau para rasul Tuhan Yesus ketika mereka berhadapan dengan bahaya dan situasi yang sangat kritis. Jadi di dalam Alkitab dengan jelas dibedakan antara diri Yesus Kristus dengan Roh Kudus, misal dalam ucapan berkat di 2Kor 13:13 yang berkata, “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”. Juga di 1Petr. 1:2 yaitu: “... yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darahNya”. Walau pada sisi lain, diri Yesus dan Roh Kudus tak dapat dipisahkan. Sebab pada hakikatnya karya Tuhan Yesus pada hakikatnya tetap esa dengan karya Roh Kudus. Dalam hal ini Roh Kudus tidak berkata dari diriNya sendiri (Yoh 16:13). Justru Roh Kudus bersaksi tentang Kristus (Yoh 15:26). Dalam konteks tertentu, Roh Kudus dapat disebut juga sebagai Roh Kristus (Gal 4:6; Rm 8:9; Fil 1:19; 1Ptr. 1:11). Itu sebabnya Tuhan Yesus sendiri dapat berkata kepada para muridNya, “Terimalah Roh Kudus!” (Yoh 20:22).

V. Tinjauan Kritis terhadap Pandangan Trinitaris

Umumnya gereja-gereja Tuhan secara prinsipial menganut pemahaman teologis yang sifatnya trinitaris, yang intinya mempertahankan keesaan Allah, namun Allah yang esa itu memiliki 3 pribadi yaitu sebagai Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ketiga pribadi Allah tersebut memiliki perbedaan dan kekhasan/keunikanNya. Ketiga oknum Allah tersebut tidak bercampur, walaupun ketiga oknum Allah tersebut memiliki kesamaan dan kekekalan, tidak terbatas dan tidak diciptakan, memiliki kemuliaan dan kewibawaan yang sama. Sehingga kedudukan antara Allah Bapa sehakikat dengan Anak, dan juga sehakikat dengan Roh Kudus (oneness of essence). Itu sebabnya Tertullianus merumuskan ajarannya tentang trinitas Allah dengan istilah: una substantia, tres personae (satu zat, tiga pribadi).
Pemikiran Tertullianus secara konseptual teologis sepintas lalu seakan-akan telah dapat memecahkan persoalan hubungan keesaan Allah dengan “pluralisme” diriNya yang berbeda dalam diri Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tetapi sebenarnya pemikiran Tertullianus tersebut sangat jauh dari pemikiran Alkitab. Karena itu kita perlu bersikap secara kritis, khususnya dengan istilah “una substantia”. Sebab istilah “una substantia” (satu zat) atau “ousia” merupakan istilah yang tak pernah dipakai oleh Alkitab untuk menyaksikan diri Allah. Jelasnya Alkitab tak pernah menggunakan istilah “zat” (substansi) untuk mengungkapkan eksistensi diri Allah. Dengan kata lain, istilah “substansi” atau “ousia” yang dipakai oleh Tertullianus sebenarnya berasal dari pola pemikiran Stoa. 25)

Pemikiran Stoa yang didirikan oleh Zeno dari Citium, Siprus (336-264 sM). 26) Dalam pemikiran Stoa pada prinsipnya memiliki ciri pandangan dunia secara materialistis, 27) yaitu hanya yang bersifat jasmaniah saja yang dianggap nyata. Karena itu jikalau di antara kaum Stoa ada yang juga percaya akan Allah, maka bagi mereka Allah juga dipahami secara jasmaniah atau bendawi. Dengan demikian dalam pemikiran Stoa, Allah diidentikkan dengan alam. Segala sesuatu dijadikan oleh kekuatan ilahi atau kekuatan alam. Rumusan ajaran Tertullianus yang menyatakan “satu zat, tiga pribadi” berarti juga telah menempatkan diri atau eksistensi Allah sebagai suatu zat Ilahi yang bersifat jasmaniah atau kekuatan ilahi yang menjiwai segala sesuatu, seperti api atau nafsu yang meresapi seluruh jagat raya. Alkitab tak pernah berpandangan tentang Allah secara jasmaniah, baik sebagai zat Ilahi maupun yang diidentikkan dengan kekuatan alam.
Golongan Trinitaris sering menggunakan istilah “oknum” atau pribadi pada diri Allah. Istilah “oknum” tersebut sebenarnya diterjemahkan dari kata “hypostasis”. Sedang arti “hypostasis” sebenarnya dipakai untuk menunjuk kehadiran individu, wujud, atau menunjuk pada hakikat. Kemudian arti “hypostasis” diterjemahkan dengan kata Latin, yaitu kata “persona” yang artinya: orang, oknum, pribadi, diri.

Penggunaan kata “hypostasis” atau “persona” dalam rumusan Tertullianus yaitu “tiga persona” dapat menimbulkan kesan, bahwa Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki “oknumNya” sendiri. Konsep Trinitaris seperti ini tak terelakkan memang mengesankan, bahwa Allah orang Kristen memiliki 3 Tuhan. 28) Sebab dalam pemikiran ini, Allah Bapa memiliki oknum/pribadi yang berbeda dengan oknum Logos/Anak, yang serentak berbeda dengan oknum Roh Kudus. Itu sebabnya penggunaan istilah/kata “oknum” terhadap masalah Trinitas sering menimbulkan permasalahan dan kesalahpahaman teologis yang tak habis-habisnya baik di lingkungan umat Kristen apalagi di lingkungan umat Islam.

Kalau toh kita sebagai gereja Tuhan tetap ingin mempergunakan istilah “oknum” (persona) sebaiknya tidak diartikan dalam pengertian/konsep modern atau psikologis. Sebab arti “person” secara modern atau psikologis menunjuk pengertian suatu individu yang berbeda dengan individu yang lain. Karena setiap individu/subyek pasti memiliki kekhasan, personalitasnya yang unik, subyek yang berdiri sendiri, memiliki kebebasannya sendiri dan cara berpikir sendiri. Itu sebabnya jika arti diri Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus disebut dengan oknum/hypostasis, adalah untuk menunjuk pengertian/arti: “cara berada” (mode of existence). Dalam pemahaman ini, Allah yang esa itu adalah Allah yang di atas kita yaitu Dia sebagai Allah Bapa kita, tetapi juga di dalam diri Tuhan Yesus, Allah beserta kita; dan di dalam Roh Kudus, Allah hidup di dalam kita. 29) Tampaknya keesaan Allah di dalam iman Kristen lebih dipahami sebagai keesaan yang sifatnya relasional (wahdat bi’l nisba), bukan keesaan secara bilangan (wahdat bi’l adat) sebagaimana yang dianut dalam ajaran agama Islam.

Dalam keesaanNya yang relasional, maka Allah yang esa itu menyatakan diri dalam relasi diriNya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Melalui Yesus Kristus, Allah menyatakan kehadiranNya sebagai Sang Firman yang menjadi manusia untuk melaksanakan karya penyelamatan dan penebusan dosa. Sehingga di dalam Tuhan Yesus Kristus, Allah menjadi sesama di antara umat manusia. Sedang melalui Roh Kudus, Allah menyatakan diriNya sebagai TUHAN yang penuh kuasa untuk menguatkan dan memperbaharui kehidupan jemaatNya.


VI. Saran Untuk Memahami Masalah Trinitas

Selama ini kita selaku gereja-gereja Tuhan lebih terpengaruh dengan pola pendekatan filosofis terhadap masalah Trinitas Allah. Pengaruh filosofis khususnya filsafat Yunani, yaitu pengaruh pemikiran mazhab Neo-Platonisme dan Stoa tak terelakkan telah memberi warna teologis tertentu terhadap gereja-gereja Tuhan pada abad yang lampau sampai pada masa kini. Sehingga gereja-gereja Tuhan dalam merumuskan masalah Trinitas sering menggunakan kosakata-kosakata filosofis, seperti istilah: Logos, Theos-deuteros, modalitas, homousios, homoios, substantia, dan hypotasis/persona. Karena itu belajar dari pergumulan sejarah yang pernah terjadi, kita selaku gereja Tuhan perlu berusaha untuk mendekati masalah Trinitas Allah melalui pendekatan eksegetis/tafsir Alkitabiah. Ketika kita selaku gereja berusaha memahami masalah Trinitas dari pendekatan Alkitab, maka kita akan dimampukan untuk lebih mengerti dan memahami rahasia hubungan Allah dengan Yesus dan Roh Kudus.

Pemahaman Alkitabiah tentang Trinitas itu bukan untuk memecahkan apa yang dimaksud dengan problem filosofis tentang istilah seperti “homousios”, atau masalah pengertian “hypotasis”, “modalitas” dan sebagainya. Tetapi melalui pemahaman Alkitab tentang hubungan Allah dengan Yesus dan Roh Kudus, anggota jemaat dapat memiliki iman yang hidup dan hubungan yang lebih personal kepada Allah yang esa, yaitu Allah yang telah menyatakan diriNya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Tentunya perlu disadari bahwa tidak berarti setiap kitab dalam Alkitab memiliki konsep yang sama tentang hubungan Allah dengan Yesus dan Roh Kudus. Misal konsep hubungan Allah dengan Yesus dan Roh Kudus di dalam Injil Matius, tentu berbeda dengan Injil Lukas, Injil Markus atau Injil Yohanes. Karena itu melalui pembacaan Alkitab secara eksegetis, anggota jemaat dapat diajak untuk memahami maksud dan pemikiran dari tiap-tiap penulis Alkitab secara lebih mendalam khususnya tentang hubungan Allah dengan Yesus dan Roh Kudus.

Untuk itu perkenankanlah saya menguraikan masalah Trinitas, yaitu rahasia hubungan Allah dengan Yesus dan Roh Kudus dari pendekatan pemikiran teologis Injil Yohanes. Alasan saya memakai Injil Yohanes untuk memahami masalah Trinitas adalah karena Injil ini sering menggunakan gelar Yesus sebagai “Anak Allah”, sebuah sebutan yang sering menimbulkan kesalahpahaman bagi banyak, khususnya dari pihak penganut agama Islam. 30) Kesalahpahaman yang menganggap Yesus adalah Anak dari Allah melalui hubungannya dengan Maria. Juga ucapan Yesus yang menyebut Allah sebagai BapaNya (Yoh 8:38, 42), pernyataan Yesus bahwa Ia dan Allah adalah satu (Yoh 10:30), ucapan Yesus tentang diriNya dengan menggunakan “Egoo Eimi” (Akulah Dia), pekerjaan Allah merupakan pekerjaan Yesus (Yoh 5:17) dan pekerjaan-pekerjaan Yesus menunjukkan bahwa Dia di dalam Allah dan Allah ada di dalam Dia (Yoh. 10:25, 37-38). Dengan demikian, yang saya maksudkan pendekatan untuk memahami Trinitas dari Injil Yohanes hanyalah suatu pendekatan yang sifatnya garis-besar sesuai dengan tema-tema yang dianggap berhubungan/terkait dengan masalah Trinitas.

Untuk itu dalam tulisan berikut saya hanya membatasi pada 3 pokok bahasan, yaitu: Gelar Yesus sebagai Anak Allah, Ucapan Yesus Dengan “Egoo Eimi”, Allah Dan Yesus: Satu Dalam KaryaNya.

1. Gelar Yesus Sebagai Anak Allah
Dalam Injil Yohanes, karya-karya mukjizat Yesus hanya disebut sebanyak 7 kali, walau di Yoh 2:23; 4:45; 12:37 disebutkan bahwa Yesus melakukan banyak mukjizat. Ketujuh mukjizat tersebut hanyalah suatu “tanda” (semeia), yang pada intinya mukjizat-mukjizat yang dibuat oleh Yesus disaksikan oleh Injil Yohanes untuk membangkitkan iman bahwa Yesus adalah Anak Allah. Di Yoh 20:30-31 disaksikan, yaitu: “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-muridNya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Messias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya”. Gelar Yesus sebagai Anak Allah pada hakikatnya untuk menunjuk relasi intim-personal antara Dia sebagai yang diutus dengan Allah yang mengutusNya. Relasi intim antara Yesus dengan Allah tersebut dinyatakan: “Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 7:29). 31) Hubungan intim antara Pengutus (Allah) dengan yang diutusNya (Yesus) itu begitu eksklusif, tak ada duanya, menyeluruh dan personal. Itu sebabnya untuk mengungkapkan hubungan yang intim-personal dan tak ada taranya itu, Injil Yohanes sering menggunakan pengertian “ginoskein” sebanyak 56 kali. Ungkapan “ginoskein” yang berarti: kenal atau tahu dipakai untuk menunjuk bahwa hanya Yesus yang mengenal diri Allah secara langsung dan menyeluruh. Itu sebabnya di Yoh 1:18 disaksikan gambaran bagaimana hubungan Yesus dengan Allah seperti Bapa dengan AnakNya, yaitu: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya”. 32) Pada pihak lain, Yesus yang diutus itu memiliki prinsip kerelaan untuk tetap merendahkan diriNya, di mana Ia secara sadar dalam melaksanakan karya penyelamatan Allah di dunia ini, Ia menempatkan diriNya berada di bawah otoritas Allah Bapa.

Ini berarti penggunaan istilah/gelar “Anak Allah” bukan dimaksudkan sebagai konsep/ ajaran bahwa Yesus sebagai anakNya Allah melalui rahim Maria. Lebih tepat penggunaan gelar Yesus sebagai “Anak Allah” merupakan penggunaan istilah yang bersifat metafor. 33) Kesalah-pahaman umat Islam terhadap diri Yesus sebagai Anak Allah akan berkurang, jika mereka menyadari bahwa sebutan itu hanyalah suatu metafor untuk mengungkapkan relasi khusus antara Allah dengan FirmanNya (kalimat dari Allah) . 34) Perihal pergumulan apakah kalimat/ firman Allah itu kekal atau diciptakan, tetap merupakan pergumulan dalam teologi Islam. 35) Namun dalam iman Kristen, hakikat Firman Allah dalam hubunganNya dengan Allah disaksikan oleh Injil Yohanes, yaitu: “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1). Jadi Yesus selaku Firman dinyatakan juga sebagai pribadi Ilahi yang esa dengan Allah. Firman itulah yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:14). Sebagai Firman yang menjadi manusia, Yesus dalam hubunganNya dengan Allah, Ia disebut sebagai “Anak Allah”. Karena itu Yesus menyatakan bahwa “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Yesus esa dengan Allah, namun dengan kesadaran akan keunikan diri Allah dan keunikan diriNya sebagai Anak Allah.

2. Ucapan Yesus dengan “Egoo Eimi”
Beberapa kali dalam Injil Yohanes, dalam ucapanNya Yesus menyebut diriNya dengan ucapan “egoo eimi” yang dalam terjemahan LAI diartikan dengan “Akulah Dia”. Ucapan “egoo eimi” tersebut dapat kita jumpai, yaitu: Akulah Roti Hidup (Yoh 6:35), Akulah Terang Dunia (Yoh 8:12), Akulah Dia (Yoh 8:24, 28), Akulah Gembala yang baik (Yoh 10:11), Akulah Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Akulah Dia (Yoh 13:19), Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6), Akulah Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1), Akulah Dia (Yoh 18:5, 8). Ungkapan Yesus dengan “egoo eimi” tersebut dipakai untuk mengingatkan para pembaca Injil Yohanes tentang penyebutan diri Allah ketika Ia menyatakan diriNya kepada Musa di gunung Sinai dengan ucapan “Aku adalah Aku” (Kel 3:14). 36) Artinya ucapan Yesus tentang diriNya sebagai “egoo eimi” pada hakikatnya merupakan bentuk ucapan Allah tentang diriNya. Dengan kata “Akulah”, terdapat makna penegasan mutlak bahwa Yesus memiliki otoritas dan kuasa seperti YAHWEH (TUHAN). 37) Sehingga barangsiapa percaya kepada Yesus, pada hakikatnya percaya kepada YAHWEH, tetapi sikap tidak percaya atau menolak Yesus berarti mereka secara sadar menempatkan diri di bawah hukuman Allah (bdk. Yoh 3:16, 36). 38) Karena itu arti hidup kekal dinyatakan oleh Yesus, dengan pernyataan demikian: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3).

Di Yoh 8:24, 28 kata “egoo eimi” yang diucapkan oleh Yesus, berlatar belakang pada ketidakpercayaan orang banyak bahwa Dialah yang datang dari atas (Yoh 8:23). Sikap tidak percaya dari orang banyak itu dinyatakan oleh mereka dengan pertanyaan kepada Yesus, “Siapakah Engkau?” dan Yesus memberi jawaban: “Apa gunanya lagi Aku berbicara kepada kamu? (Yoh 8:25). Namun Injil Yohanes dalam kesaksiannya menunjukkan bahwa mereka akan mengerti bahwa Dia yang datang dari atas, jikalau nanti Yesus ditinggikan. Karena itu di Yoh 8:28 Yesus berkata, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia ....” Arti kata “meninggikan” di sini searti dengan peristiwa salib. 39) Dengan perkataan lain, ketika Yesus belum disalibkan Ia belum diketahui jati-diriNya sebagai yang diutus dan yang berasal dari Allah. Saat itu identitas diriNya sebagai Anak Allah masih samar, tetapi akan terungkap nanti saat Ia ditinggikan. Melalui peristiwa salib, Allah akan menyingkapkan identitas Yesus sebagai Anak Allah. Sehingga penggunaan perkataan “egoo eimi” dalam Yoh 8:24 dan 28 sebenarnya dipakai untuk menjelaskan situasi “keterbatasan” orang banyak untuk memahami identitas Yesus yang sesungguhnya, di mana mereka waktu itu masih banyak yang tidak percaya kepadaNya. Dalam makna “egoo eimi” manusia diajak untuk memahami rahasia identitas hubungan Yesus dengan Allah BapaNya yang saat itu masih tersembunyi. Seperti ucapan YAHWEH kepada Musa, “Aku adalah Aku” (Ehyeh asyer Ehyeh) yang baru tersingkap setelah YAHWEH melepaskan dan menyelamatkan mereka dari tanah Mesir.

Jadi “egoo eimi” dipakai oleh Injil Yohanes, pada hakikatnya dipakai untuk menunjuk bahwa Yesus dengan BapaNya memiliki hubungan yang sangat khusus dan intim, yang kelak akan mereka ketahui ketika Ia disalibkan. Ketika Ia kelak disalibkan dan dibangkitkan, maka akan nyatalah identitas Yesus, yaitu sebagai Penyata diri Yahweh. 40) Pada saat manusia melihat diri Yesus, pada saat itulah mereka akan melihat diri YAHWEH. Melalui ungkapan “egoo eimi” terdapat penyingkapan hubungan yang personal dan relasional antara Allah dengan Yesus sebagai Anak Allah, bahwa Allah dan Yesus pada hakikatnya adalah esa; yaitu “Bapa di dalam Aku, dan Aku di dalam Bapa”. Dalam hal ini ego Yesus tak pernah lepas dari ego Yahweh. Jadi di dalam diri Yesus, Allah mengungkapkan diriNya secara langsung dan personal bagi umat manusia.

3. Allah Dan Yesus: Satu Dalam KaryaNya
Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian awal, bahwa dalam Injil Yohanes seringkali karya-karya mukjizat Yesus disebut sebagai “tanda” (semeia). Karya-karya mukjizat yang diperbuat oleh Yesus bukan dimaksudkan sekedar “perbuatan ajaib” (supranatural). Tetapi karya-karya mukjizat yang diperbuat oleh Yesus untuk menandakan akan otoritas dan kuasa diriNya sebagai Anak Allah. Tujuannya agar mereka yang menyaksikan karya-karya mukjizat itu memiliki iman dan percaya, bahwa Ia adalah Anak Allah, Firman Allah yang menjadi manusia dan yang dapat memberikan hidup kekal. Karena itu dalam Injil Yohanes, sering dijumpai perkataan “ta erga” (pekerjaan-pekerjaan).

Arti “tanda” (semeia) dan “pekerjaan-pekerjaan” (ta erga) dipahami mempunyai arti yang sinonim. 41) Di Yoh 10:25, Yesus berkata bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dilakukanNya adalah dalam nama BapaNya, sehingga pekerjaan-pekerjaan itulah yang memberi kesaksian tentang diriNya. Walaupun demikian, orang-orang Yahudi waktu itu tetap tidak percaya kepadaNya; mereka mengabaikan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus. Padahal pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus sedikit banyak telah menyingkapkan rahasia hubunganNya dengan Allah. Namun ketika Yesus mempertegas dengan berkata, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30), disebutkan orang-orang Yahudi berusaha melempari Yesus dengan batu (Yoh 10:31). Mereka memberi jawaban, bahwa mereka melempari Yesus dengan batu bukan karena pekerjaan baik yang telah dilakukan olehNya, tetapi karena mereka menganggap Yesus telah menghujat Allah dan menyamakan diriNya dengan Allah (Yoh 10:33). Dalam percakapan dengan orang-orang Yahudi tersebut, akhirnya muncullah ucapan Yesus tentang diriNya: “Masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku berkata: Aku Anak Allah?” (Yoh 10:36).

Dalam konteks ini pengakuan diri Yesus sebagai Anak Allah secara hakiki didasarkan pada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukanNya. Sebab pekerjaan-pekerjaanNya itu menjadi tolok-ukur untuk menentukan apakah Ia adalah Anak Allah atau bukan. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Yesus pada hakikatnya sebagai penyingkap diri Allah dan kesatuan diriNya dengan Allah. Itu sebabnya di Yoh 10:37-38, Yesus berkata, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah percaya kepadaKu, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa”. Di sini sikap percaya akan pekerjaan-pekerjaanNya dipakai sebagai “pintu masuk” yang paling minimal untuk mengenal identitas Yesus. Dengan perkataan lain, jika manusia sulit untuk percaya kepada diri Yesus selaku Messias dan Firman Allah yang telah menjadi manusia, minimal manusia perlu menaruh percaya akan karya-karyaNya. Sebab melalui karya-karyaNya, umat manusia diajak untuk melihat bahwa karya itu adalah karya/perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh TUHAN Allah sendiri.

Itu sebabnya di Yoh 14:11, bentuk ajakan itu diulang, yaitu: “Percayalah kepadaKu, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri”. Jadi makna dari ucapan Yesus tentang “pekerjaan-pekerjaanNya” adalah jika manusia sulit percaya kepada diri Yesus dalam keadaanNya sebagai manusia, paling sedikit perhitungkanlah untuk mau percaya akan karya-karya yang telah dilakukanNya. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang dimaksudkan adalah seluruh totalitas hidup, ajaran-ajaran, karya-karya mukjizat, karya penebusan dan kebangkitan, serta kenaikanNya ke sorga. Seluruh karya Yesus tersebut menyatakan bahwa Ia dan Bapa adalah satu. 42)

VII. Catatan Akhir
Dari uraian tersebut di atas, kita dapat belajar betapa penting memahami makna percaya kepada Allah melalui karya-karyaNya. Persoalan Trinitaris atau Unitaris sering menimbulkan persoalan dan kesalahpahaman bagi banyak orang, sebab sering hanya diuraikan dari pendekatan filosofis. Padahal jika kita imani Allah adalah TUHAN yang hidup, bukankah seharusnya aspek pengalaman personal akan penyertaan, dan pertolongan yaitu karya-karyaNya yang eksistensial menjadi tolok ukur dalam pertumbuhan iman kita?

Kita dapat belajar dari pengalaman iman umat Israel tentang penyingkapan diri YAHWEH sebagai Allah mereka. Mereka mengenal YAHWEH sebagai Allah mereka pada hakikatnya melalui pengalaman iman dan sejarah hidup mereka, yang mana mereka mengalami secara eksistensial arti karya penyelamatan YAHWEH khususnya ketika mereka dilepaskan dari tempat perhambaan, di Mesir. Demikian pula seharusnya dalam menyikapi arti iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Rahasia hubungan Allah dengan Yesus dan Roh Kudus tidak boleh berhenti menjadi sekedar “asah otak” dan diskusi filosofis, tetapi seharusnya perlu dialami secara eksistensial dan personal oleh umat percaya.

Namun pada sisi lain, pendekatan eksegetis Alkitabiah juga tidak menjamin bahwa kita mampu menyingkapkan rahasia hubungan Allah dengan Yesus dan Roh Kudus. Pendekatan eksegetis Alkitabiah kita lakukan karena kita imani Alkitab adalah Firman Tuhan. Bagaimana pun rahasia hubungan Allah yang esa di dalam karya Yesus dan Roh Kudus tetap tinggal “rahasia”. Justru di hadapan “rahasia Allah” tersebut kita dipanggil untuk makin merendahkan diri seraya mengakui keagungan dan kebesaran kasihNya, khususnya ketika Ia mengaruniakan AnakNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus agar kita memperoleh hidup yang kekal. Di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita dapat melihat dan mengalami karya Allah yang mengasihi dan menyelamatkan; dan di dalam Roh Kudus, kita dapat melihat dan mengalami karya Allah yang terus-menerus membaharui dan menguatkan kita. Kuasa kasih Kristus dan kuasa Roh Kudus yang kita terima dan alami akan memampukan kita untuk mengasihi Allah dan sesama, bahkan para musuh kita.

(CATATAN KAKI dapat dilihat pada halaman tersendiri dengan judul: "Catatan Kaki Makalah Trinitaris dan Unitaris).

 

CATATAN KAKI Makalah Trinitaris dan Unitaris: 

1). Lihat F.G. Healey, Fifty Key Words in Theology, perihal Trinity: “The doctrine of the Trinity is rooted in Biblical witness to the self-revelation of God” , Lutterworth Press, London, 1967, hal 73.

2). Edmund J. Fortman, The Triune God, A Historical Study of the Doctrines of Trinity, Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1982, hal 50-51.

3). H.EW. Turner, Doctrine of the Trinity, berkata, “The problem posed for the Church for apologetic and domestic reasons was how to do justice to the new facts and yet retain its status as a monotheistic religion. Could God be both one and many? Could the Church provide both for the unity of God and the divinity of Christ?” dalam A Dictionary of Christian Theology, Edited by Alan Richardson, SCM Press LTD, London, 1977.

4). Reinhold Seeberg, Text Book of History of Doctrines, vol. 1, History of Doctrines in Ancient Church, Grand Rapid, Michigan: Baker Book of House, 1958, hal 148-150.

5). R.P.C. Hanson dalam Dictionary of Christian Theology, SCM Press Ltd, 1977, menerangkan bahwa “Origen conceived the useful doctrine of the eternal generation of the Son by the the Father, thereby pointing a way out of the unsatisfactory ‘economic Trinitariansm’ of the his predecessors, but though all the members of his Trinity were divine, it was a graded Trinity in which the Son mediated the Father to the created world and the Spirit was the first production of the Son”.

6). Bandingkan dengan pandangan Saksi Yehova, yang mengajarkan bahwa Allah Bapa dan Putera Allah (Yesus Kristus) adalah dua pribadi dan Roh yang secara hakiki berbeda dan terpisah satu sama lain. Allah Bapa, Jehova, sang Pencipta, lebih tinggi dari sang Putera. Yesus Kristus adalah Saksi dan Pelayan utama dari Jehova. Pada suatu ketika Allah berada sendirian, tetapi setelah memulai penciptaan, Allah mengeluarkan seorang Putera. Dengan demikian sang Putera itu mempunyai keberadaan pra-manusia sebelum kelahirannya di dunia dan merupakan “permulaan dari penciptaan oleh Allah” Sang putera itu dinamakan “Mikhael atau Logos” (“Firman”) ketika masih dalam keadaan tidak fana, lalu dinamakan Yesus selama Ia melawat dunia. Lihat: Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, hal 334.

7). H.E.W Turner, op.cit., hal 346, menyatakan, “The Father alone is God since he alone is ingenerate. Since the Son is generate he could not be fully God. He was different in substance from the Father, not only as a separate concrete particular (Origen) but also as lacking a common generic character. On the analogy of human generation Arius argued that “there was a time when the Son was not”. He was a creature but not as one of the creatures, though he enjoyed a special relationship of dependence upon the divine will”.

8). Pandangan Arius yang mengatakan, bahwa Yesus sebagai Logos/Anak tunduk pada perubahan dan dosa justru oleh Saksi Yehova dinyatakan bahwa Yesus menjalani kehidupanNya sebagai manusia tanpa dosa. Tetapi baik Arius maupun Saksi Yehova menyatakan bahwa Yesus bukanlah Allah.
9). Intervensi kaisar Konstantinus menyebabkan perdebatan teologis berubah menjadi isu politis. Namun hanya sedikit gereja yang menerima ajaran/pandangan Arius. Salah satu keputusan sidang sinode di Nicea adalah mengucilkan Arius dan para pengikutnya.

10). H.E.W. Turner, op.cit., hal 220 menyatakan bahwa: “Modalism is one of the extreme limits of the doctrine of the Trinity, emphasizing the unity of the Trinity at the expense of the plurality. The term is derived from the status of modes or manifestations assigned to the three Persons. The one God is substantial the three differentiations adjectival. Its aim was to to assert the unity of the Father and Son in redemption; its defect was the failure to provide for the immanent stability of God and therefore ultimately for his divinity”.

11). Athanasius hidup tahun 295-373. Pada tahun 328 ia menjadi Uskup di Alexandria. Karya-karya tulisannya dapat disebut: “Orations against the Arians” yang berisi ringkasan ajaran Arius dan bagaimana ia mempertahankan keputusan persidangan di Nicea. Selain itu ia juga menulis “Letter concerning the Decrees of the Council of Nicea”. Juga ia menulis buku yang berjudul “On Synods” yang berisi uraian tentang pembenaran terhadap konsep homousios, dan tulisan yang berjudul “Letters to Serapion” yang berisi pandangannya tentang Roh Kudus.

12). Istilah “homousios” mempunyai arti satu zat atau satu hakikat. Arti pokok dari “ousia” adalah “being”, essence”, “reality”. Jadi yang dimaksud dengan Athanasius adalah bahwa Logos sama sekali satu zat dengan Allah Bapa. Bandingkan istilah “homousios” dengan istilah “homoios”. Istilah “homoios” yang artinya: menyerupai. Istilah “homoios” dipakai oleh pengikut ajaran Arius justru yang mengajarkan bahwa Anak itu menyerupai Bapa. Bahkan ada pula pengikut Arius yang mengajarkan bahwa Anak tidak menyerupai (“an-homoios”) dengan Allah Bapa. Kedua istilah “homoios” (menyerupai) dan “an-homoios” (tidak menyerupai) pada hakikatnya tetap menyangkal keilahian atau ketuhanan Logos (Yesus selaku Anak). Itu sebabnya Athanasius menegaskan bahwa Yesus dengan Allah Bapa sehakikat (homousios).
13). Pandangan Athanasius tersebut didukung oleh 3 serangkai dari Kapadokia, yaitu Basilius yang Agung (wafat tahun 379), Uskup Kaisarea dan Metropolitan Kapadokia (wafat tahun 394), dan Gregorius dari Nazianzus (wafat tahun 390). Mereka sepikir dan sepakat menyatakan dalam diri Allah terdapat kesatuan ilahi di antara ketiga keilahianNya. Hanya bedanya, jika Athanasius menekankan “konsubstansialitas” antara ketigaNya; maka menurut tiga serangkai dari Kapadokia di antara ketiga keilahian itu tetap memiliki perbedaannya, dan masing-masing memiliki hypostasis. Dari ketiga serangkai dari Kapadokia tersebut memunculkan ide “Trinitas” yaitu: Tiga pribadi dalam satu keallahan. Mereka tetap menekankan keesaan Allah, tetapi juga pada saat yang sama menegaskan bahwa ketiga keilahian Allah tetap memiliki kekhasan.
14). Pengakuan Iman Athanasius disebut juga: QUICUNQUE VULT. Istilah ini berasal dari bahasa Latin, yaitu perkataan yang terdapat pada pembukaan kredo Athanasius: “Quicunque Vult salvus esse, ante omnia opus est, ut teneat catholicam fidem ……. “ (artinya: Bila seseorang ingin diselamatkan, maka pertama-tama haruslah ia memegang erat Kepercayaan Gereja Katolik….”).
15). Rumusan tersebut kami terjemahkan dari teks bahasa Inggris, yaitu: “That we worship one God in Trinity, and Trinity in unity. Neither confounding the Person, nor the dividing the substance (essence). For there is one Person of the Father, another of the Son, and another of the Holy Ghost. But the Godhead of the Father, of the Son and of the Holy Ghost is all one, the glory equal, the Majesty coeternal ….”

16). Dari terjemahan: “The Father uncreated, the Son uncreated, and the Holy Ghost uncreated. The Father incomprehensible (unlimited), the Son incomprehensible (unlimited), and the Holy Ghost incomprehensible (unlimited, or infinite). The Father eternal, the Son eternal, and the Holy Ghost eternal. And yet they are not three eternals, but one eternal….”

17). Karena itu menurut Praxeas yang sebenarnya menderita sengsara adalah Anak, sedang Bapa yang adalah Roh tidak dapat menderita. Tetapi karena Bapa telah memasuki daging (Kristus memasuki diri Yesus), maka Ia turut menderita. Allah Bapa turut menderita. Inilah yang disebut dengan ajaran Patripassianisme. Dengan ajarannya ini, Praxeas sebenarnya mengajarkan keesaan Allah. Allah itu esa dalam pengertian Bapa dan Anak satu Pribadi, yaitu sebagai pribadi Allah.

18). H. Hadiwijono, Iman Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1979, hal 108.

19). Dalam pemikiran Neo-platonisme menempatkan dualisme Plato sebagai tingkatan yang paling tinggi. Pendiri Neo-platonisme adalah Ammonius Sakkas dari Alexandria (175-242). Namun pencipta Platonisme yang sebenarnya adalah Plotinos (284-269), murid Ammonius Sakkas.

20). H. Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat I, Penerbit Yayasan Kanisius, Yogyakarta, hal 67.

21). Bandingkan dalam karyanya yang berjudul “Phaidros”, Plato melukiskan terbentuknya struktur jiwa manusia dalam sebuah kisah mite. Jiwa dilukiskan sebagai seorang sais yang mengendarai dua kuda yang bersayap. Kuda yang satu menarik ke atas (lambang bagian dari jiwa yang disebut “keberanian”), dan yang lain selalu menarik ke bawah (lambang bagian dari jiwa yang disebut “keinginan”). Sais kuda tersebut (lambang bagian jiwa yang rasional) hendak mencapai puncak langit yang tertinggi, supaya dari sana ia dapat memandang “kerajaan Idea-idea”. Tetapi karena kesalahan kuda yang selalu menarik ke bawah, mereka kehilangan sayap-sayapnya, sehingga akhirnya jatuh ke bumi.

22). Realitas Jiwa menyatakan dirinya justru dalam intensitas manusia yang bergerak dalam hidup ini. Tubuh (sooma) dalam pemikiran Alkitab tak pernah dipahami sebagai sumber dosa. Sebab sumber dosa disebut oleh Alkitab dengan istilah daging (sarx). Jadi jika dalam Yoh. 1:14 Yesus Kristus sebagai Logos disebut “Firman menjadi daging” (ho logos sarx egeneto), dilakukan agar melalui Kristus, Allah membebaskan kita dari kuasa dosa (sarx), tetapi bukan dimaksudkan untuk membebaskan kita dari tubuh (sooma) ini.

23). Penulis kitab Ibrani tidak memperlihatkan kebingungan mengenai gagasan yang sejajar tentang keilahian Yesus sebagai Anak Allah dengan kemanusianNya. Pada saat yang sama ia dapat memperlihatkan Anak Allah yang mencerminkan kemuliaan Allah dan juga manusia yang dapat dicobai seperti kita. Karena itu dalam Ibr. 1:3, penulis memperkenalkan Yesus sebagai Anak Allah yang ditinggikan, sesudah itu ia memberikan perincian mengenai keadaan kemanusiaanNya, sebagai berikut:
- Ia lebih rendah dari pada malaikat dan dalam pelayananNya, Ia memperhatikan manusia, bukan malaikat-malaikat (Ibr 2:9,16).
- Ia mempunyai darah dan daging seperti saudara-saudaraNya (Ibr 2:14).
- Dalam keadaan sebagai manusia, Ia mengalami pencobaan (Ibr 2:18; 4:15).
- Ia berdoa dan memohon dengan suara jeritan yang mengharukan dan ratap tangis pada waktu di taman Getsemani (Ibr 5:7).
- Ia belajar taat melalui penderitaanNya, sebagai hasilnya Ia dikatakan telah dijadikan sempurna (Ibr 2:10; 5:8-9).
- Ia merasakan pengalaman takut akan Allah (Ibr. 5:7).
- Ia menganggap kematianNya sebagai bagian yang tidak dapat dihindarkan dalam maksud/rencana Allah (Ibr. 2:9,14).

24). Dalam hal ini Quran menyatakan, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh daripadaNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulNya dan janganlah kamu mengatakan: (Tuhan itu) tiga, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaanNya. Cukuplah Allah untuk menjadi Pemelihara (Surah An Nisaa”/4:171). Penekanan teologis Quran adalah Allah itu esa secara bilangan (wahdat bil’l adat), sehingga timbul kesalahpahaman terhadap ajaran Trinitas, seakan-akan umat Kristen mengimani “Allah itu tiga”. Namun pada sisi lain, masalah Kalimatulah (Firman Allah) dan Ruh (Roh) Allah tetap belum terjawab, apakah telah ada sejak kekal ataukah diciptakan.

25). H.E.W. Turner, op.cit., hal 346 berkata, “Tertullian was the ‘Phrasemaker of the Western Church’ whose formula ‘One substance, three Persons’ has stood the test of time. Yet neither his technical terms nor their theological framework is as mature as has often been thought. More important than the legal (Harnack) or the Aristotelian (E. Evans) background of substantia is the Stoic doctrine of substance as material ground-stuff of existence (Braun) described as spirit in the case of God.”

26). H. Hadiwijono, op. cit., hal 57.

27). A.R. Lacey, A Dictionary of Philosophy, Routledge & Kegan Paul, London, Henley and Boston, 1976, hal. 207. Untuk Stoa, dinyatakan: “Stoics treated knowledge under three heads: logic, physics, ethics. They developed prepositional LOGIC and the theory of IMPLICATION, and tried to discover a sure mark (‘CRITERION’) of truth. They developed a thoroughgoing materialism, treating matter as a continuum (as opposed to Epicurean atomism), but added a rather non-material flavour with their pantheism and notions such as the ‘tension’ (‘tonos’) that matter was subject to.”

28). Dalam Surah Al Maa-idah/5:73 berkata, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakana itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”. Kesalahpahaman ajaran Trinitas dengan mempergunakan istilah “Oknum” pada Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus menyebabkan persepsi yang keliru dari umat Islam terhadap maksud firman Tuhan tentang penyataan Allah khususnya di dalam Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus.

29). G.C. van Niftrik dan B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981, hal. 555.

30). Kesalahpahaman terhadap gelar Yesus sebagai “Anak Allah” oleh beberapa penganut agama Islam dibantah dengan menyitir dari Quran, yaitu dari Surah Al Ikhlash/112:1-14, yang berkata, “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. Pernyataan bahwa Allah “tiada beranak dan tiada pula diperanakkan” (lam yalid wa lam yulad) dipakai untuk menolak gelar Isa Al Masih anak Maryam sebagai “Anak Allah.”

31). Itu sebabnya R. Bultmann, dalam The Gospel of John: A Commentary, Oxford: Basil Blackwell, 1971, hal. 298, berkata, “The revealer himself bases his claim simply on the fact that he knows God.”

32). Ungkapan “Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa” mengungkapkan betapa eksklusifnya hubungan antara Yesus dengan Allah. Hubungan intim itu tidak pernah terjadi sebelum atau sesudah Yesus. Bahkan Musa yang disebut begitu dekat hubungannya dengan Allah, tak dapat menyamai hubungan Allah dengan Yesus. Untuk hubungan Musa dengan Allah hanya disaksikan, yaitu: “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara dengan temannya” (Kel. 33:11).

33). Pemakaian kata yang bersifat metaforis merupakan suatu jenis ungkapan untuk menggambarkan sesuatu, khususnya yang ungkapan yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman manusia yang sifatnya eksistensial dan religius. Sehingga sebutan “Anak Allah” sebagai gelar Yesus dimaksudkan untuk menunjukkan hubungan yang begitu intim-personal dan luar-biasa eksklusifnya seperti seorang Bapa dengan AnakNya. Sebagai pembanding penggunaan metafor dalam kehidupan sehari-hari, misalnya “anak emas” tentu yang dimaksud bukan anak yang terbuat dari emas, tetapi menunjuk pada pengertian seorang anak yang begitu dicintai dan dimanjakan secara berlebihan. Atau ungkapan seperti: “Dia adalah tangan kanan pimpinan”, “orang itu ular”, “Dia seorang yang panjang tangan”. Perhatikan pula ungkapan: “Orang itu besar kepala”, “Ia ringan tangan”. Semua ungkapan itu tentu tak dapat diartikan secara harafiah, sebab dipakai untuk menunjuk atau menggambarkan sesuatu yang lain dan dirasa lebih mengena.

34). Dalam Quran ada 4 kali, Yesus disebut sebagai Kalimat dari Allah (S. 3:39; 3:45; 4:171; 19:34). Di S. 3:45 dinyatakan, “(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari padaNya, namanya Al Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. Perhatikan, kalimat dalam tanda kurung berasal dari Departemen Agama RI. Sehingga Surah Ali Imran/3:45 pada prinsipnya mengakui, bahwa kelahiran Yesus terjadi karena kalimat/firman dari Allah, Yesus terkemuka di dunia dan di akhirat, dan orang yang mempunyai hubungan dekat dengan Allah.

35). Bandingkan dengan 2 golongan dalam agama Islam menyikapi Quran sebagai “Kalamulah”, yaitu golongan orthodoks yang memeguh teguh bahwa Quran sebagai kalamulah pada prinsipnya tidak diciptakan, kekal; dan golongan Mut’tazila yang mengajar sebaliknya yaitu bahwa Quran itu diciptakan. Sebab jika Quran itu kekal, berarti ada pelipatgandaan Allah, berarti ada 2 yang kekal. Pemahaman golongan orthodoks ini tentu bertentangan dengan ajaran Tauhid, bahwa Allah itu esa. Namun, jikalau Kalamulah (firman Allah) itu diciptakan/tidak kekal, berarti firman Allah itu fana/tidak kekal.

36). Di Kel 3:14, disaksikan Allah menyatakan diriNya kepada Musa, demikian: “Aku adalah Aku” yang berasal dari ungkapan “Ehyeh asyer Ehyeh”. Seharusnya dalam ungkapan “Ehyeh asyer Ehyeh” mengungkapkan makna bahwa Allah itu hadir dan berbuat/berkarya. Penyataan diri Allah sebagai YAHWEH hanya dinyatakan kepada Musa. Itu sebabnya di Kel. 6:2, Allah berfirman, “Akulah TUHAN, Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Maha Kuasa, tetapi dengan namaKu TUHAN Aku belum menyatakan diri”. Kata “TUHAN” tersebut merupakan terjemahan dari nama ‘YAHWEH”.

37). Bandingkan dengan pernyataan Yesus di Injil Matius, “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu. Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan kepadanya” (Mat. 11:26-27). Perhatikan ucapan bahwa “Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu” paralel dengan ucapan Yesus di Mat. 28:18, yaitu: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”.

38). Bandingkan dengan ucapan Yesus di Mat. 5:21-22, yaitu: “Kamu telah mendengarkan yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum, …..” Firman yang telah diucapkan oleh Allah, dipertegaskan dan diberi arti yang baru oleh Yesus dengan menunjuk otoritas diriNya, yaitu “Tetapi Aku berkata kepadamu…”

39). Kata “meninggikan” (hupsoosete), di beberapa tempat dipergunakan bentuk pasif “ditinggikan” (hupsoothenai) misal di Yoh. 3:14; 12:34) yang searti dengan “dimuliakan” (Yoh. 12:23; 13:31-32). Di Yoh. 12:23, kata “dimuliakan” dipakai untuk menerangkan “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 2:24). Arti “dimuliakan” atau “ditinggikan” sangat jelas menunjuk arti “disalibkan”. Karena itu di Yoh. 12:33 disaksikan: “Ini dikatakanNya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati”.

40). Bandingkan dengan Yoh. 14:9, di mana Yesus menjawab pertanyaan Filipus yaitu, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh. 14:8). Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama dengan kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: “Tunjukkanlah Bapa itu kepad kami. Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:10).

41) C.K. Barret, New Testament Essays, London: SPCK, 1972, hal. 61.

42). Dari pendekatan tafsir Injil Yohanes tersebut tampaklah perbedaan dasar pijak argumentasi dengan Tertullianus. Pemikiran Tertullianus didasari pada pendekatan hubungan Allah dan Yesus secara ontologis, yaitu kesatuan hakikat Ilahi dari “YANG ADA” sehingga diri Allah dirumuskan oleh Tertullianus sebagai: “Satu Zat Tiga Pribadi”. Sedangkan pola pemikiran Injil Yohanes lebih melihat hubungan kesatuan Allah dan Yesus dari kesatuan karyaNya, bukan sebagai kesatuan zat.

Last Updated ( Monday, 17 December 2007 )
 
< Prev
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1986
mod_vvisit_counterYesterday2689
mod_vvisit_counterThis week18810
mod_vvisit_counterThis month91540
mod_vvisit_counterAll2781162

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2616 hits)
Firman Hidup 50   (2506 hits)
Firman Hidup 55   (2472 hits)
Cyber GKI   (2254 hits)
The Meaning of Worship   (2129 hits)
TextWeek   (1954 hits)
Contact YBM   (1907 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::