|
Renungan Minggu, 14 Februari 2010 Tahun C: Transfigurasi Warna: Putih CAHAYA KEMULIAAN TUHAN DI TENGAH PENDERITAAN Kel. 34:29-35; Mzm. 99; II Kor. 3:12 – 4:12; Luk. 9:28-43 Pengantar
Salah satu pertanyaan teologis yang sering dikemukakan adalah: apakah kemuliaan Yesus Kristus sebagai suatu yang telah ada sejak kekal ataukah kemuliaan yang dianugerahkan Allah karena ketaatan, kesalehan dan kesucian yang berhasil dicapai oleh Yesus. Pemahaman teologis yang mengajarkan bahwa kemuliaan Kristus telah ada sejak kekal karena roh Kristus telah pra-eksisten sebelum Dia menjadi manusia. Sehingga Kristus sejak kekal telah mulia sebab sehakikat dengan Allah. Sedangkan pemahaman teologis yang menyatakan bahwa kemuliaan Kristus terjadi karena hasil ketaatan, kesalehan dan kesucianNya pada hakikatnya menolak pra-eksistensi Kristus.
Kemuliaan Kristus dalam pemahaman teologis ini dipandang oleh mereka sebagai suatu hasil prestasi rohaniah yang paling tinggi. Yesus Kristus dimuliakan Allah karena Dia berhasil mencapai tingkat rohani tertinggi sehingga akhirnya Yesus memperoleh jabatan sebagai Anak Allah. Peristiwa penganugerahan Allah kepada Yesus sebagai Anak Allah terlihat saat Dia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Dengan demikian jabatan atau gelar Yesus sebagai Anak Allah sebenarnya merupakan hasil dari tindakan Allah yang berkenan mengadopsi Yesus yang hakikatnya semula bukan ilahi. Dari pemahaman teologis inilah kemudian berkembang istilah pengajaran tentang “adopsionisme”. Mereka memandang Yesus hanya sebagai seorang nabi/guru sejati yang tidak memiliki kodrat ilahi sejak kekal. Yesus dianggap oleh mereka tetaplah seorang manusia biasa tetapi Dia memiliki kualitas moral yang sempurna sehingga mampu mencapai kesempurnaan dengan mentaati hukum Taurat. Dalam hal ini keberadaan Yesus sama seperti nabi Musa, sehingga Dia diperkenankan untuk memperoleh anugerah kemuliaan Allah bahkan juga mampu memandang wajah Allah. Ajaran Adopsionisme Konsekuensi dari pengajaran tentang adopsionisme ini adalah Yesus tidaklah lahir dari seorang perawan yang dinaungi oleh Roh Kudus, tetapi Yesus lahir dari perkawinan Maria dan Yusuf. Jika demikian menurut para penganut adopsionisme, setiap umat sebenarnya juga mampu memperoleh kemuliaan ilahi seperti Yesus asalkan mereka mampu hidup saleh dan taat seperti Yesus. Jadi setiap umat juga dapat memperoleh kedudukan dan kemuliaan sebagai Anak Allah asalkan mereka sepanjang hidup selalu meneladani Yesus. Tepatnya umat yang selalu meneladani Yesus dengan berlaku setia dan taat akan firman Tuhan juga akan mampu memancarkan cahaya kemuliaan Allah. Setiap umat mampu mencapai kesucian dan keselamatan Allah melalui usaha dan prestasi rohaniahnya. Dengan demikian peran dari Yesus dari Nazaret bukanlah sebagai Tuhan dan Juru-selamat, tetapi hanya sebagai seorang nabi dan guru yang penuh dengan hikmat Allah. Cahaya kemuliaan yang dipancarkan oleh Yesus adalah bukanlah cahaya langsung dari Allah, tetapi sekedar pantulan cahaya kemuliaan Allah. Mungkin lebih tepat cahaya kemuliaan Yesus seperti Bulan yang memperoleh pantulan sinar dari Matahari. Jadi setiap umat juga dapat memperoleh pantulan cahaya kemuliaan Allah, asalkan mereka mampu hidup saleh dan taat seperti Yesus dengan moralitas yang tinggi. Umat yang telah memperoleh pantulan cahaya kemuliaan Allah juga mampu mengatasi setiap persoalan, pergumulan, kegagalan dan penderitaan dengan tabah. Ajaran adopsionisme memang tampak rasional dan realistik. Mereka menolak kedudukan Yesus selaku Tuhan dan Juru-selamat, dan hanya mengakui Yesus sebagai seorang nabi atau guru yang penuh hikmat. Yang mana kedudukan dan peran Yesus dianggap sama seperti nabi Musa. Tetapi benarkah pandangan adopsionisme tersebut? Apakah upa ya penyamaan kedudukan Yesus dengan Musa, atau para nabi bahkan umat manusia yang berhasil hidup kudus merupakan suatu upaya teologis yang dapat dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah? Benarkah kemuliaan Kristus sebagai hasil dari prestasi rohaniahNya? Juga benarkah umat manusia dapat memperoleh kemuliaan Allah dengan prestasi rohaniahnya? Di Minggu Transfigurasi inilah kita selaku umat percaya diajak untuk merenungkan makna kemuliaan Kristus di tengah-tengah realitas hidup dan penderitaan umat manusia. Karena realitas penderitaan kita sehari-hari seringkali membuat hidup kita berada dalam belenggu kekelaman. Justru melalui transfigurasi Kristus dapat memberikan kepada kita cahaya pengharapan yang kokoh. Kemuliaan Musa Dan Yesus Musa adalah orang biasa tetapi terbukti dia memiliki peran yang luar-biasa. Sebagai pendiri agama monotheisme, Musa memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam sejarah 3 agama besar yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Hanya kepada Musa, Allah berkenan menyatakan namaNya yang kudus, yakni YAHWEH. Lebih dari pada itu hanya kepada Musa, Allah berkenan menyatakan diri begitu langsung dan personal sehingga Kel. 33:11 menyaksikan: “Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya”. Sungguh betapa intim relasi Allah dengan Musa. Mungkin di antara seluruh para nabi tidak ada seorangpun yang memiliki hubungan yang begitu personal dan unik dengan Allah, selain Musa. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau Allah mengaruniakan kepada Musa berbagai perbuatan mukjizat dan firmanNya yang tertulis dalam Taurat. Yang mana efek dari relasi Allah dengan Musa begitu langsung dan unik sehingga wajah Musa dapat memantulkan cahaya kemuliaan Allah. Jika demikian, apa perbedaan yang asasi antara Musa dengan Yesus? Bukankah di Luk. 9:29 menyaksikan bahwa wajah Yesus juga memancarkan cahaya kemuliaan Allah? Cahaya kemuliaan Allah yang dipancarkan oleh Musa sebenarnya lebih tepat bila disebut sebagai hasil pantulan dari perjumpaan Musa dengan Allah saat dia berada di gunung Sinai. Manakala wajah Musa bercahaya sehingga membuat umat Israel menjadi takut bukanlah hasil/produk dari pancarn keilahian Musa, tetapi karena kasih karunia Allah yang memungkinkan Musa berhadapan muka denganNya. Tetapi tidaklah demikian halnya dengan peristiwa transfigurasi Yesus Kristus. Luk. 9:29 menyaksikan: “Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau- kilauan”. Cahaya kemuliaan Allah dalam peristiwa transfigurasi Kristus adalah sesuatu yang muncul dari diriNya sendiri. Dengan demikian, kemuliaan ilahi yang dipancarkan oleh Kristus menunjuk kepada kemuliaanNya yang telah ada sejak kekal. Kemuliaan ilahi dalam peristiwa transfigurasi Kristus merupakan pancaran kepenuhan Allah yang berdiam di dalam diriNya. Sebagaimana rasul Paulus berkata: “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:10). Jadi jelaslah bahwa kemuliaan ilahi dalam peristiwa transfigurasi Kristus bukanlah hasil dari tindakan Allah yang mengadopsi Yesus sebagai AnakNya, tetapi kemuliaan ilahi yang telah dimiliki oleh Kristus selaku Firman Allah. Kalau memang benar bahwa kemuliaan Kristus sebagai suatu hal yang dicapai karena hasil prestasi rohaniahNya, maka seharusnya kemuliaan ilahi tersebut hanya terlihat saat Dia dibangkitkan saja. Namun kesaksian Alkitab ternyata menegaskan bahwa sebelum Kristus mengalami kematian di atas kayu salib, Dia telah memperlihatkan kemuliaan ilahiNya di depan 3 orang murid yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus. Sehingga kemuliaan Kristus saat Dia dibangkitkan dari antara orang mati sebenarnya telah tercermin dalam peristiwa transfigurasiNya. Tubuh kemuliaan Kristus dalam peristiwa transfigurasi identik dengan tubuh kebangkitanNya yang mulia. Tepatnya tubuh kebangkitan atau tubuh kemuliaan Kristus bukanlah sesuatu yang harus dicapai oleh Yesus melalui kematianNya. Sebaliknya karena Kristus telah memiliki tubuh kemuliaan ilahi sejak kekal, maka dalam peristiwa transfigurasi Dia mampu memperlihatkan jati-diriNya sehingga pada akhirnya terlihat secara sempurna saat Dia bangkit dari kematian. Dengan demikian tubuh kemuliaan Kristus saat Dia dibangkitkan menjadi satu rangkaian yang utuh dengan tubuh kemuliaan saat peristiwa transfigurasi. Dalam peristiwa transfigurasi inilah dapat melihat bahwa jati-diri Kristus sebagai Anak Allah. Di Luk. 9:35, menyaksikan: “Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia". Ini berarti Kristus tidak lahir karena hasil perkawinan antara Maria dan Yusuf sebagaimana yang dipahami oleh ajaran adopsionisme. Kelahiran Kristus merupakan wujud dari inkarnasi Firman Allah yang menjadi daging, yaitu melalui perawan Maria. Sehingga sangatlah tepat Injil Yohanes menyebut Yesus sebagai sang Terang. Yang mana Tuhan Yesus berkata: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup" (Yoh. 8:12). Di sini terletak perbedaan yang asasi antara Yesus dengan Musa dan para nabi lainnya. Para nabi dan rasul bukanlah sang terang, tetapi yang menyaksikan terang Allah. Sebab terang Allah yang sesungguhnya telah datang dan hadir dalam diri Yesus Kristus. Jadi jikalau Tuhan Yesus adalah sang Terang Allah, yang mana cahaya kemuliaanNya terpancar dalam peristiwa transfigurasi, maka tubuh kemuliaan dalam peristiwa kebangkitanNya adalah bertujuan untuk meneguhkan bahwa Dia sungguh-sungguh Anak Allah dan Mesias yang dinubuatkan oleh para nabi. Kedatangan Sang Terang Untuk Menderita Kini berkembang beberapa tulisan yang menyatakan bahwa penderitaan dan kematian Yesus Kristus disebabkan karena gerakanNya untuk menjadi Mesias gagal, khususnya gerakan Yesus dalam melawan otoritas dan kekuasaan bangsa Romawi. Karena itu orang-orang yang berpandangan demikian menganggap kematian Yesus di atas kayu salib merupakan suatu konsekuensi politis yang wajar. Karena Yesus Kristus gagal melawan kekuasaan imperium Romanun, maka Dia harus menghadapi kematian sebagai seorang penjahat di atas kayu salib. Jika demikian, makna kematian Yesus di atas kayu salib menurut pemahaman ini dianggap tidak mampu membawa pengaruh apa-apa terhadap karya keselamatan Allah. Singkatnya, kematian Yesus di atas kayu salib tidak membawa efek bagi soteriologi atau penebusan bagi umat manusia. Sebab bagaimana mungkin umat manusia dapat ditebus oleh darah seorang tokoh yang gagal mewujudkan harapan Israel yang ingin bebas dari penjajahan Romawi. Namun jika kita cermati pemikiran yang sekilas tampak rasional dan realistik tersebut justru akan terlihat bahwa mereka tidak cermat membaca kesaksian Alkitab. Di Luk. 9:30 menyaksikan bagaimana saat tubuh Kristus mengalami transfigurasi, datanglah Musa dan Elia. Yang mana kedatangan Musa dan Elia bukanlah sekedar suatu percakapan yang tanpa arti. Sebaliknya kedatangan Musa dan Elia tersebut hendak membicarakan sesuatu yang begitu penting dan hakiki bagi karya keselamatan Allah. Luk. 9:31 menyaksikan isi atau misi dari kedatangan Musa dan Elia dalam peristiwa transfigurasi Kristus, yaitu: “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Luk. 9:31). Dengan demikian tujuan kepergian Yesus ke Yerusalem bukanlah suatu nasib malang yang akan menimpa yang seorang Mesias Allah yang gagal. Mungkin dari sudut pandangan manusiawi penderitaan dan kematian Kristus di atas kayu salib hanyalah suatu kegagalan. Tetapi dari sudut pandangan teologis justru realitas penderitaan dan kematian Kristus tersebut hendak mengungkapkan esensi kebenaran yang lebih mendalam. Sebab melalui penderitaan dan kematian Kristus, Allah berkenan mengungkapkan rencana dan tindakan keselamatanNya yang paripurna bagi umat manusia. Dengan demikian penderitaan dan kematian Kristus bukanlah nasib malang dari seseorang yang gagal membuktikan diriNya selaku Mesias Allah. Justru karena Yesus adalah Mesias dan Anak Allah, maka Dia harus menderita dan mengalami kematian. Itulah berita yang dinubuatkan oleh Alkitab. Jadi penderitaan dan kematian Kristus adalah suatu keharusan ilahi. Dengan lugas Tuhan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Luk. 9:22). Perhatikanlah kata “harus” (dei) sebagai bagian dari pernyataan Yesus bahwa Anak Manusia telah ditentukan oleh Allah untuk menderita, wafat dan bangkit. Jika misi dan tujuan kedatangan Kristus ke dalam dunia bertujuan untuk menggenapi rencana Allah melalui penderitaan, kematian dan kebangkitanNya – maka peristiwa transfigurasi Kristus merupakan bukti dari nubuat tersebut. Yesus adalah sosok yang dimaksudkan oleh para nabi sehingga Musa menubuatkan, yaitu: “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan” (Ul. 18:15). Jadi seandainya Yesus tidak mengalami transfigurasi dan juga di mana Musa dan Elia tidak datang secara khusus untuk membicarakan perihal kepergian Yesus ke Yerusalem untuk menderita dan wafat, - maka pengajaran tentang kebangkitan Kristus dengan tubuhNya yang mulia hanya akan menjadi suatu ketidakmungkinan. Dan juga kematian Kristus di atas kayu salib menjadi tidak berarti apa-apa selain suatu peristiwa tragis. Jelasnya makna kedatangan Kristus ke dalam dunia bukan sekedar membawa pengajaran tentang makna Taurat atau hukum Allah, tetapi juga untuk menghadirkan karya penebusan Allah. Peristiwa transfigurasi Kristus justru menegaskan bahwa kematianNya mampu membawa keselamatan dan pembaharuan hidup yang menyeluruh bagi seluruh umat manusia. Sebab melalui kematian Kristus, Allah berkenan mendamaikan umat manusia yang tidak mungkin mampu menyelamatkan dirinya melalui usaha dan amal-ibadahnya sendiri. Tanpa pendamaian dan karya penebusan Kristus, maka tidaklah mungkin bagi umat manusia untuk melaksanakan kehendak dan firman Allah. Karya pendamaian dan penebusan Kristus memampukan umat percaya untuk hidup benar selaku anak-anak Allah. Terhalang Oleh Selubung Walau penyingkapan jati-diri Kristus selaku Anak Allah telah terjadi melalui peristiwa transfigurasi dan kebangkitan Kristus, namun dalam realita hidup tidaklah mudah umat manusia untuk percaya dan menerima Kristus. Kekerasan hati atau sikap ketidakpercayaan kita seperti sikap umat Israel. Mereka telah melihat berulangkali karya keselamatan Allah yang telah dilakukan oleh Musa. Umat Israel telah mengalami secara langsung pertolongan Allah yang membebaskan saat mereka dibawa keluar melalui laut Teberau. Tetapi berulangkali pula umat Israel memperlihatkan sikap yang bersungut-sungut dan memberontak kepada Allah. Mereka menolak kepemimpinan dan perkataan Musa sehingga mereka berupaya mencari pemimpin pengganti. Demikian pula sikap hidup umat manusia pada umumnya. Sebenarnya mereka telah melihat dan mendengar karya keselamatan Allah di dalam diri Kristus, yaitu bagaimana Kristus mampu mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, meredakan angin dan badai, mengubah air menjadi anggur dan peristiwa transfigurasiNya di atas gunung. Juga mereka telah melihat bagaimana saat kematian Kristus, langit tiba-tiba berubah menjadi gelap dan tirai Bait Allah terbelah dari atas sampai ke bawah, serta bagaimana melalui peristiwa kebangkitanNya gereja dapat lahir dan memberikan pengaruh yang konstruktif dan menyeluruh di atas muka bumi ini. Namun ternyata umat manusia selalu berupaya untuk membuat bantahan dan rasionalisasi agar mereka dapat dipuaskan untuk argumentasi yang dibuatnya. Selubung yang menutup mata rohani umat manusia sangatlah kuat dan tebal. Di II Kor. 3:14-15, rasul Paulus berkata: “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka”. Sikap kita yang utama seringkali bukan untuk mencari bukti kebenaran, tetapi selalu berupaya untuk meragu-ragukan setiap kebenaran dan bukti yang tersedia. Sehingga walaupun begitu banyak bukti kebenaran yang tersedia, tidak berarti kita selalu mempercayainya. Dengan demikian untuk memperoleh kebenaran yang membebaskan tidaklah cukup sekedar mengumpulkan data-data atau bukti yang tidak terbantahkan.Tetapi yang lebih penting lagi adalah sejauh mana kita mampu menyingkirkan setiap selubung yang menutup mata-rohani dan iman kita. Selama berbagai selubung menutupi mata-rohani dan iman kita, maka setiap persepsi dan pola pandang kita akan selalu terhalang untuk memaknai dan menafsirkan suatu kebenaran. Ini berarti pemaknaan kebenaran bukanlah sekedar “daftar” bukti, tetapi yang lebih penting juga adalah persepsi dan pola pandang yang telah dikuduskan sehingga setiap umat mampu melihat dengan hati dan iman yang murni. Bukankah Tuhan Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8). Jadi kebutuhan fundamental bagi umat manusia untuk menerima kebenaran dan keselamatan Kristus bukanlah sekedar data-data dan bukti penguat, tetapi keterbukaan hati untuk dibimbing oleh Roh Kudus. Jelaslah problem utama yang dihadapi oleh umat manusia sepanjang masa bukan karena mereka kurang pintar dan cerdas, atau kesulitan untuk mengumpulkan data dan bukti-bukti penguat kebenaran. Bukan itu faktor utamanya! Tetapi sikap yang cenderung mengeraskan hati untuk diterangi dan dibimbing oleh Roh Kudus. Artinya umat manusia cenderung menolak penerangan dan pencerahan Roh Kudus, sehingga mereka selalu gagal memperoleh kebenaran dan hikmat Allah. Dengan sangat tepat rasul Paulus melukiskan situasi riel keberadaan manusia yang sering mengabaikan peran Roh Allah, yaitu: “Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar”. Selama upaya pencarian kebenaran hanya diukur oleh rasionalisasi atau kemampuan kognitif belaka, maka manusia hanya akan menemukan kecil dari bagian permukaan dari kebenaran Allah. Sebaliknya saat kita memberi tempat yang sangat luas bagi karya Roh Kudus sehingga kita dimampukan untuk mencerna setiap data dan bukti-bukti yang tersedia, maka kita akan dimampukan untuk menemukan bagian inti dari kebenaran Allah. Kebenaran yang demikianlah akan menjadi kebenaran yang membebaskan dan menyelamatkan. Sang Terang Memulihkan Yang Menderita Saat Kristus menampakkan kemuliaanNya sebagai Anak Allah di tengah-tengah kehadiran Musa dan Elia, disaksikan bahwa Petrus meminta agar diperkenankan mendirikan kemah bagi mereka bertiga, yaitu: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia" (Luk. 9:33). Dengan permohonan tersebut, tanpa Petrus sadari ingin mengurung atau menghalangi kepergian Kristus ke Yerusalem untuk menderita dan wafat. Petrus ingin agar Yesus, Musa dan Elia tetap tinggal di atas gunung itu bersama dengan mereka. Sepertinya Petrus ingin mengalihkan perhatian tujuan percakapan antara Yesus dengan Musa dan Elia, sehingga dia dapat berlama-lama menyaksikan kemuliaan Kristus. Sikap Petrus tersebut juga mencerminkan sikap umat Kristen pada umumnya. Mereka lebih senang jikalau Tuhan selalu bersama dengan mereka pribadi dari pada Tuhan berkarya melaksanakan misiNya ke lingkup yang lebih luas. Begitu banyak umat Kristen yang masih menghayati makna keselamatan secara individualistik belaka. Padahal Tuhan Yesus datang ke dalam dunia adalah untuk memberikan hidupNya bagi seluruh umat. Sehingga saat Tuhan Yesus turun dari gunung, Dia telah menjumpai orang banyak yang berbondong-bondong ingin menemui Dia. Gambaran orang banyak tersebut menunjukkan bahwa Kristus sang Cahaya Ilahi sangat dibutuhkan oleh umat manusia. Yang mana di antara orang banyak tersebut datanglah seorang ayah yang memohon agar anaknya yang kerasukan setan atau kemungkinan menderita penyakit epilepsi. Sebenarnya para murid Yesus lainnya sudah berupaya untuk menyembuhkan mereka, tetapi mereka gagal. Walaupun mereka telah mengikut Kristus, namun tampaknya iman mereka belum sepenuhnya kokoh sehingga Tuhan Yesus menegur mereka, yaitu: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!" (Luk. 9:41). Dengan satu kali ucapan Tuhan Yesus akhirnya mampu memulihkan anak yang menderita kerasukan setan atau kemungkinan menderita penyakit epilepsi. Demikian pula Tuhan Yesus juga akan memulihkan setiap kelemahan dan penyakit kita yang disebabkan oleh kuasa dosa. Cahaya kemuliaan Kristus bukan sekedar pancaran terang ilahi yang mempesona, tetapi pancaran ilahi yang menyembuhkan dan memulihkan setiap orang yang menderita dan berharap kepadaNya. Pada masa post-modernism sekarang, begitu banyak tawaran kesembuhan dan pemulihan dari berbagai pihak. Mereka menyebutnya sebagai “penyembuhan alternatif”. Sehingga kini banyak orang memilih metode penyembuhan yang aneh dan bertentangan dengan prinsip iman. Mereka lebih suka mengikuti petunjuk dari paranormal dari pada dokter atau ahli medis. Selain itu banyak orang modern melupakan penyakit yang lebih ganas dan jahat dari pada penyakit fisik seperti: jantung koroner, kanker, gagal ginjal atau liver. Penyakit yang ganas dan jahat itu adalah kuasa dosa. Namun umat patut bersyukur, sebab Tuhan Yesus belaka yang mampu memulihkan penyakit tersebut. Sebab Tuhan Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah atau sang Terang Ilahi, sehingga Dia saja yang mampu mengaruniakan keselamatan dan hidup yang kekal. Seharusnya kita yang telah mendengar dan belajar akan kemuliaan Kristus dalam peristiwa transfigurasi ini lebih dimampukan untuk percaya penuh dan bersandar kepadaNya. Panggilan Peristiwa transfigurasi merupakan penyingkapan jati-diri Kristus selaku Anak Allah, sehingga kita mengenal Dia selaku Tuhan dan Juru-selamat umat manusia. Jika demikian, apakah kita bersedia untuk hidup serupa dengan Kristus sehingga kita dimampukan untuk memancarkan cahaya kasihNya yang memberi pengharapan, kekuatan dan keselamatan kepada sesama di sekitar kita? Untuk itu kita harus membuang jauh-jauh sikap yang ragu-ragu dan bimbang kepadaNya. Sebab sikap ragu-ragu dan bimbang dapat mempertebal selubung yang menutupi mata-rohani dan iman kita. Sebaliknya bilamana kita bersedia untuk dibimbing dan diterangi oleh Roh Kudus, maka kita senantiasa akan mengalami kebenaran Allah yang membebaskan. Yang mana kita tidak lagi menghayati keselamatan Allah secara individualistik, tetapi secara holistik. Sebab karya keselamatan Allah yang terpancar dalam kemuliaan Kristus adalah untuk menerangi seluruh aspek kehidupan umat manusia. Bagaimanakah sikap saudara sekarang? Marilah kita yang hidup dalam kasih dan iman kepada Kristus memancarkan cahaya kasihNya di tengah-tengah sesama yang menderita dan butuh keselamatan. Amin. Pdt. Yohanes Bambang Mulyono www.yohanesbm.com |