Latest Article
Integritas di tengah Paradoks

Integritas di tengah Paradoks

Setiap orang membutuhkan pujian dan dukungan. Namun bagaimana apabila kebutuhan tersebut menjadi terlalu posesif? Ia dengan segala macam cara akan berusaha untuk memperoleh pujian dari orang lain. Akibatnya ia berani menempuh tindakan yang membahayakan dirinya, misalnya: melakukan selfie di atas gunung dekat jurang, di atap gedung tinggi, atau tempat-tempat yang berisiko terhadap keselamatan hidupnya. Menurut penelitian ternyata orang-orang di generasi milenial, generasi Z dan Alpha rentan mengalami stres. Penyebabnya adalah karena kegiatan mereka di media sosial tidak memperoleh pujian sebagaimana yang diharapkan. Pada masa kini dukungan berupa tanda “like” menjadi sangat penting. Seharusnya kita mencapai kesuksesan dan prestasi untuk memaknai hidup yang dianugerahkan Tuhan, sehingga kita memuliakan Dia melalui kehidupan kita. Tanpa sikap iman yang memuliakan Tuhan kita akan rentan kecewa dan putus-asa, apabila pujian dan dukungan tidak diberikan sesuai harapan kita.

             Kita dapat belajar dari kehidupan Kristus. Ia banyak melakukan mukjizat untuk menyembuhkan orang-orang sakit, kerasukan setan dan membangkitkan orang mati. Kehadiran-Nya memberkati dan menyatakan keselamatan dari Allah bagi banyak orang. Tetapi tidak sedikit dari orang-orang yang menyaksikan segala kebajikan dan pekerjaan mukjizat dari Yesus berubah menjadi kebencian. Semula mereka mengelu-elukan Yesus selaku seorang Mesias dan Penyelamat saat Ia masuk ke kota Yerusalem. Tetapi dalam waktu yang tidak terlalu lama, orang banyak berubah sikap. Mereka berteriak dengan lantang agar Yesus disalibkan. Apabila ditelusuri ternyata sikap orang banyak yang menuntut Yesus disalibkan karena mereka dihasut oleh para imam kepala.

            Di perayaan Prapaskah VI kita belajar tentang realitas hidup yang paradoksal. Bagaimana kita mampu menguasai diri saat mencapai kesuksesan dan prestasi sehingga mendapat pujian yang bertubi-tubi? Kita bersyukur tetapi tidak takabur. Demikian pula saat kita menghadapi realita yang sebaliknya. Semua hal baik yang sudah kita lakukan ternyata dibalas dengan kejahatan. Air susu dibalas dengan air tuba. Bagaimana sikap kita di saat dikhianati dan ditolak? Kita terluka tetapi tidak boleh putus-asa. Di dalam Kristus kita dimampukan mengalami pertumbuhan dan kedewasaan iman, sehingga pujian, pengkhianatan dan penolakan orang lain tidak berpengaruh dalam kehidupan kita.

Yesus dan murid-murid-Nya masuk ke kota Yerusalem setelah perjalanan dari Yerikho (Mark. 10:46). Keputusan Yesus masuk ke kota Yerusalem akan membawa Dia kepada penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib. Gambaran Mesias atau orang yang naik ke kota Yerusalem dinarasikan oleh Mazmur 118.  Dalam hal ini Mazmur 118 sengaja dipilih oleh The Revised Common of Lectionary sebagai bacaan leksionaris untuk memahami makna Yesus masuk ke kota Yerusalem. Di Mazmur 118:19 mempersaksikan: “Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN.” Menurut Frank H. Ballard dalam The Interpreter’s Bible Volume 4, makna “pintu kebenaran” menunjuk kepada pintu Bait Allah di Yerusalem. Umat sebagai orang-orang yang benar di hadapan Allah diundang masuk melalui pintu gerbang rumah Allah. Inilah perayaan aliyah artinya naik (mendaki) ke kota Yerusalem (bdk. perayaan naik haji (hajj) dalam agama Islam). Undangan tersebut bertujuan agar umat bersedia mendedikasikan hidupnya pada kebenaran (Mzm. 118:20), sebab mereka telah menerima keselamatan dari Allah. Keselamatan tersebut justru terjadi pada umat yang semula dianggap tidak layak masuk ke pintu gerbang rumah Allah, namun kini mereka diperkenankan untuk menerimanya. Dalam hal ini Frank H. Ballard menafsirkan bahwa “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan” sebenarnya menunjuk kepada bangsa-bangsa di luar umat Israel. Dahulu mereka dianggap tidak berguna, namun kemudian Allah berkenan menjadikan mereka sebagai “batu penjuru.”

Dekat Betfage dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari” (Mark. 11:1-2). Injil Markus mempersaksikan Yesus dengan mata ilahi-Nya memprediksi sesuatu yang akan terjadi di depan, bahkan juga mengetahui bagaimana reaksi orang yang akan bertanya alasan para murid untuk melepaskan keledai tersebut. Motif keputusan Yesus pergi ke Yerusalem didasari pada kesadaran ilahi-Nya bahwa Dia melaksanakan kehendak dan rencana keselamatan Allah. Kesadaran ilahi Yesus merujuk pada kuasa-Nya selaku Anak Allah yang maha tahu (omniscience), sehingga peristiwa kematian yang dialami oleh Yesus merupakan wujud kesadaran dan ketaatan-Nya kepada kehendak Allah.

            Saat Yesus masuk ke kota Yerusalem penduduk Yerusalem menyambut Dia dengan meriah dan sikap hormat. Kesaksian Markus 11:8 yaitu: “Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang.” Sikap penduduk Yerusalem tersebut menunjukkan pemahaman umat Israel di Yerusalem yang begitu hormat. Mereka menganggap Yesus seperti seorang pahlawan yang menang perang. Dalam kitab Deuterokanonika, yaitu Kitab 1 Makabe 13:51 mempersaksikan bagaimana sikap penduduk Yerusalem menyambut dengan gegap-gempita Simon saudara Yudas Makabe. Karena Simon Makabe berhasil mengalahkan pasukan Seleukus Antiokhus IV Epifanes (penguasa penjajah dari Yunani), yang sejak 175 sM melarang praktik ibadah umat Israel. Penduduk Yerusalem menyambut Simon sebagai seorang pahlawan, yaitu: “Pada tanggal dua puluh tiga bulan kedua tahun seratus tujuh puluh satu maka Simon memasuki puri itu dengan kidung dan daun palem, diiringi dengan kecapi dan dandi, sambil menyanyikan madah dan gita. Sebab musuh besar Israel sudah digempur” (1 Makabe 13:51).  

Namun sikap penduduk Yerusalem memandang diri Yesus melebihi seorang pahlawan yang menang perang. Mereka mendeklarasikan diri Yesus sebagai Mesias Allah, yang menghadirkan Kerajaan Allah di atas bumi. Di Markus 11:9-10 mempersaksikan sikap umat Israel di Yerusalem, yaitu: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” Makna kata hosanna adalah: “Oh, selamatkanlah sekarang!” atau: “Sudilah menyelamatkan kami.” Penduduk Israel memohon agar Yesus Sang Mesias Allah berkenan menyelamatkan mereka sekarang dari penjajahan bangsa Romawi. Apabila mereka telah terbebas dari penjajahan politis dan militer bangsa Romawi, maka Kerajaan Allah yang jaya seperti kerajaan Daud kembali menguasai seluruh kehidupan umat.

            Penduduk Yerusalem belum memahami sepenuhnya makna ke-Mesias-an Yesus bertujuan untuk membebaskan mereka dari penjajahan dan kuasa dosa. Karena itu penduduk Yerusalem menjadi sangat kecewa saat Yesus tidak memberi perlawanan saat ditangkap. Saat dianiaya Yesus tidak memperlihatkan kuasa-Nya yang menakjubkan di hadapan Pontius Pilatus. Sikap yang menyanjung-nyanjung Yesus segera berubah menjadi kemarahan dan kebencian. Dari teriakan pujian “Hosana” berubah menjadi teriakan “salibkanlah Dia.” Sebagai penyelamat, Yesus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (bdk. Mark. 2:10).

Umat Israel berziarah ke kota Yerusalem dalam rangka mengucap syukur atas keselamatan yang dikaruniakan Allah. Sebaliknya Yesus masuk ke kota Yerusalem dilakukan dalam rangka mewujudkan karya keselamatan Allah, yaitu pendamaian melalui penderitaan dan kematian-Nya. Penduduk kota Yerusalem merespons kedatangan Yesus dengan sambutan yang meriah dan hormat. Seruan mereka,  hosanna yang artinya: “Oh, selamatkanlah sekarang!” atau: “Sudilah menyelamatkan kami” menunjuk pada harapan penduduk Yerusalem untuk mengalami keselamatan yang bebas dari penjajahan Romawi.

Kesaksian Markus 14:1-15:47 (penulis meringkas bacaan menjadi Markus 15:1-20) merupakan pengisahan penderitaan, kematian Yesus sampai akhirnya Ia dimakamkan. Sengaja kisah penderitaan, kematian Yesus dan pemakaman dibaca pada Minggu Prapaskah VI (Minggu Palma) dan yang juga disebut dengan “Minggu Sengsara” agar umat memahami bahwa kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem berkaitan dengan karya penebusan melalui penderitaan dan kematian-Nya. Umat pada pengisahan Minggu Palma yang bersorak-sorak memuji Yesus. Namun tidak lama kemudian orang banyak yang juga kelak akan berteriak dan menuntut akan kematian-Nya. Semula di Markus 15:8 menyatakan orang banyak datang dengan tujuan mengajukan permohonan agar kebiasaan membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak. Kemungkinan  besar orang banyak menghendaki agar Yesus dibebaskan. Tetapi di Markus 15:11 Injil Markus memberi kesaksikan: “Tetapi imam-imam kepala menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka.” Tampaknya hasutan dari imam-imam kepala tersebut mengubah pikiran orang banyak. Mereka yang semula datang mengajukan permohonan  agar Yesus dibebaskan, kini berubah pikiran dengan meminta Barabas yang dibebaskan. Karena itu Markus 15:13 orang banyak berteriak: “Salibkanlah Dia!”

Di dalam proses peradilan yang dipimpin oleh Pontius Pilatus disebutkan Yesus memilih berdiam diri (Mark.15:5). Ia tidak memberi jawab apa pun terhadap pertanyaan yang diajukan Pilatus. Saat Yesus ditanya oleh Pilatus, “Apakah Engkaukah raja orang Yahudi?” Yesus menjawab: “Engkau sendiri mengatakannya.” Apabila kita flash-back saat Yesus masuk ke kota Yerusalem dan dielu-elukan dengan meriah, Injil Markus tidak memberi kesaksian reaksi Yesus. Kesannya selama Yesus dielu-elukan bagaikan seorang pahlawan perang, Ia berdiam diri. Jadi dapat disimpulkan sikap Yesus yaitu baik selama Ia disambut dengan meriah, mau pun saat Ia diadili dan dituntut hukuman mati sama sekali memperlihatkan sikap yang berdiam diri. Yesus tidak terpengaruh saat Ia diagung-agungkan dan ditolak serta dikhianati.

Perayaan di Minggu Prapaskah VI memiliki dua dimensi kembar yang paradoks, yaitu puji-pujian yang menyambut Yesus dan teriakan kemarahan yang menuntut kematian Yesus. Kisah Yesus masuk ke kota Yerusalem seperti seorang pahlawan yang menang, tapi tak lama lagi Ia akan diperlakukan seperti seorang penjahat. Realitas pujian dan pengkhianatan atau penolakan merupakan dua dimensi yang saling membelit. Spiritualitas kita diuji saat dipuji-puji dan dikhianati, tetapi juga saat menghadapi fitnahan dan hasutan. Apakah spiritualitas dan iman kita tetap berkualitas? Dalam hal ini kita dapat belajar dari kesaksian Yesaya 50:4-9 dan Mazmur 31.

Kesaksian Yesaya 50:4-9 juga menggemakan penderitaan seorang hamba Tuhan. Di Yesaya 50:6 mempersaksikan: “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” Kesaksian ini paralel dengan Yesaya 53:3, yaitu hamba Tuhan yang dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan. Namun di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya, hamba Tuhan tersebut memiliki lidah seorang murid, sehingga ia mampu memberi semangat yang baru kepada sesamanya yang letih lesu. Di tengah-tengah penderitaannya Sang Hamba Tuhan tersebut tidak berkeluh-kesah, menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam. Sebaliknya ia memberi semangat dan kekuatan rohani kepada orang-orang yang putus-asa.

Konteks Mazmur 31 adalah didasari pada pengalaman pribadi yang dialami oleh pemazmur. Ia dicela dan dipermalukan oleh para musuhnya (Mzm. 31:12). Para musuhnya bersekongkol dengan menyiarkan dusta (Mzm. 31:19). Lebih daripada itu pemazmur dikejar-kejar oleh para musuhnya (Mzm. 31:16) sehingga ia terjebak dalam jaring yang dipasang mereka (Mzm. 31:5). Di tengah-tengah komunitasnya, pemazmur ditinggalkan (Mzm. 31:12-13), sehingga ia menderita sakit (Mzm. 31:10-11), dipermalukan sebagai orang yang dianggap terbuang dari hadapan Allah (bdk. Mzm. 31:17-18). Dalam kondisi demikian pemazmur menganggap dirinya juga telah terbuang dari hadapan Allah.

Di hadapan para musuh yang menindasnya, pemazmur tidak meminta belas-kasihan dari mereka. Sebaliknya pemazmur hanya mengharap belas-kasihan dari Allah (Mzm. 31:10). Iman pemazmur justru bertumbuh dengan kokoh, sehingga ia dapat menyikapi masalah yang dihadapi dengan sikap percaya kepada Allah. Mulai Mazmur 31:15 sikap iman pemazmur menggeser semua kesedihan, kepahitan dan putus-asanya kepada sikap iman, yaitu: “Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan, aku berkata: Engkaulah Allahku!” Dalam konteks ini kita menjumpai dua aspek penting dalam kehidupan iman pemazmur, yaitu: 1). Pengakuan iman bahwa hanya kepada Allah saja ia percaya, 2). Pengakuan iman bahwa YHWH adalah Allahnya. Sikap iman pemazmur tersebut justru relevan untuk direnungkan secara lebih mendalam. Iman pemazmur ditemukan justru ketika ia berada di tengah-tengah penderitaan dan situasi kritis.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono