Latest Article
Kumpulan Renungan IV

Kumpulan Renungan IV

Kumpulan Renungan IV

Oleh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Bertanya pada Arwah

1 Samuel 28:3-19

Lalu berbicaralah Samuel: “Mengapa engkau bertanya kepadaku, padahal Tuhan telah undur daripadamu dan telah menjadi musuhmu” (1Sam. 28:16).

Samuel telah wafat. Namun Saul minta seorang perempuan pemanggil arwah di En-Dor untuk berbicara kepada Samuel. Tujuan Saul adalah agar Samuel membantu dia menghadapi tentara Filistin yang sedang bersiap menyerang. Saul tidak memperoleh pertolongan dari Samuel, malahan Samuel menyatakan bahwa Tuhan telah mengoyakkan kerajaannya dan besok Saul bersama tentaranya akan tewas oleh pedang. Minta pertolongan kepada arwah ternyata mendatangkan malapetaka yang lebih besar lagi.

            Hukum Taurat melarang umat Israel datang kepada seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta pertunjuk kepada orang-orang mati (Ul. 18:11). Sebab setiap orang yang melakukan hala-hal itu adalah kekejian bagi Tuhan, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah Allah menghalau mereka (Ul. 18:12). Landasan utamanya adalah hanya Allah saja penolong dan penyelamat. Minta pertolongan kepada para arwah orang mati adalah penyembahan berhala dan tindakan keji di hadapan Allah.

             Situasi terjepit dan kritis menyebabkan banyak orang putus-asa. Karena itu mereka menghendaki pertolongan yang sifatnya instan. Pertolongan Tuhan dianggap “lambat” dan tidak nyata. Tanpa sikap iman, kita akan kehilangan harapan dan tidak mampu melihat janji dan jaminan dari Tuhan. Tetapi minta pertolongan kepada arwah orang mati justru menghasilkan malapetaka yang lebih besar. YBM

Refleksi:

Bersandar kepada Tuhan di saat terjepit dan kritis, justru itulah iman yang penuh kuasa. Sebaliknya minta pertolongan kepada arwah adalah malapetaka yang abadi.

Hutang Darah

2 Samuel 21:1-14

“…. Berfirmanlah Tuhan: Pada Saul dan keluarganya melekat hutang darah, karena ia telah membunuh orang-orang Gibeon” (2Sam. 21:1).

Di tengah-tengah umat Israel berdiam bangsa Gibeon. Orang-orang Gibeon tidak termasuk suku Israel. Mereka orang asing. Di era Yosua telah diikat perjanjian dengan sumpah antara Israel dan Gibeon. Yosua mengizinkan orang Gibeon tinggal di antara orang Israel (Yos. 9:15). Namun saat Saul berkuasa, ia membunuh banyak orang Gibeon. Saul mengabaikan perjanjian yang diikat dengan sumpah dengan membinasakan orang Gibeon agar kekuasaan politisnya berhasil.

            Pelanggaran Saul terhadap perjanjian dengan orang Gibeon tersebut menyebabkan hukuman Allah menimpa umat Israel. Allah tidak memberikan air hujan selama tiga tahun. Walaupun era Saul telah lewat, dan saat itu Daud yang memerintah tetapi hutang darah kepada orang Gibeon tetap diingat Allah. Hutang darah tidak lenyap dengan perjalanan waktu. Allah berpihak kepada orang Gibeon walau mereka bukan umat Israel. Sebaliknya Allah memerangi umat-Nya yang pernah melakukan penumpahan darah kepada orang Gibeon.

            Hukuman Allah tetap berlaku sampai saat ini kepada orang-orang yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Karena itu Allah menolak setiap jenis kekerasan, pembunuhan, dan pembantaian kepada sesama manusia. Makna “hutang darah” dalam pandangan Kristus tidak hanya terbatas pada membunuh secara fisik. Fitnah dan menghancurkan nama baik orang lain termasuk pembunuhan. Para pelakunya juga menanggung “hutang darah.”  YBM

Refleksi:

Allah adalah pembela keadilan khususnya bagi orang-orang yang lemah dan tertindas. Siapapun yang “berhutang darah” akan menjadi lawan Allah.

Kemuliaan Allah

Yehezkiel 10:1-19

“Dalam pada itu kemuliaan Tuhan naik dari atas kerub dan pergi ke atas ambang pintu Bait Suci, dan Bait Suci ini dipenuhi oleh awan itu dan pelatarannya penuh dengan sinar kemuliaan Tuhan” (Yeh. 10:4).

Narasi dalam Yehezkiel 10 tidaklah mudah dipahami. Sebab penglihatan yang dialami oleh nabi Yehezkiel diungkapkan dengan bahasa simbolik. Nabi Yehezkiel melihat kemuliaan Allah yang memenuhi Bait Suci dan pelatarannya. Allah menyatakan diri-Nya dalam kemuliaan-Nya (kabod Adonai). Kemuliaan Allah berarti manifestasi kehadiran-Nya dinyatakan sehingga nabi Yehezkiel diizinkan melihat dan mengalaminya. Manifestasi kemuliaan Allah tersebut kontras dengan keberadaan umat Israel yang waktu itu menajiskan Bait Allah dengan kekejian dan kejahatan.

            Konteks penyataan kemuliaan Allah di Bait Allah terlihat di Yehezkiel 9:4, yaitu kota Yerusalem yang dipenuhi oleh perbuatan keji. Karena itu Allah menyerahkan kota Yerusalem dan Bait Allah untuk dihancurkan. Allah tidak merasa sayang dengan umat pilihan-Nya ketika mereka melakukan kejahatan di depan mata-Nya. Jika demikian kemuliaan Allah yang dilihat oleh nabi Yehezkiel adalah kekudusan Allah yang membakar dan memusnahkan kekejian yang telah dilakukan oleh umat-Nya.

            Di masa kini orang-orang yang melakukan kekejian sepertinya leluasa dan aman. Padahal yang terjadi adalah Allah memberi kelonggaran waktu agar mereka bertobat dan meninggalkan dosanya. Apabila saatnya tiba, maka tidak ada pengampunan. Kemuliaan Allah yaitu kekudusan-Nya akan membinasakan. Sungguh menyedihkan, kita memilih hidup dalam kenikmatan dunia yang sesaat dengan mengorbankan keselamatan yang abadi. YBM

Refleksi:

Kemuliaan Tuhan menyelamatkan bagi umat yang hidup dalam kebenaran, tetapi membinasakan bagi umat yang hidup dalam dosa.

Hari Tuhan

Maleakhi 4:1-2

“Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu…” (Mal. 4:1).

Nubuat nabi Maleakhi adalah firman Tuhan yang bersifat eskatologis. Makna eskatologis adalah menunjuk peristiwa di masa mendatang sebagai akhir kehidupan. Karena itu disebut “Akhir Zaman” atau Hari Tuhan (Yom Adonai), kadang disebut: Hari Kiamat. Kedatangan Hari Tuhan itu begitu dahsyat dan memusnahkan. Allah datang sebagai Hakim yang menghukum orang-orang fasik.

             Apabila kita cermati di Maleakhi 4:2 justru dijumpai gambaran yang berbeda saat Hari Tuhan kepada orang-orang yang hidup benar. Sebab orang-orang benar akan mengalami Hari Tuhan bagaikan Surya Kebenaran yang sedang terbit. Mereka mengalami kesembuhan dan pemulihan pada luka-lukanya. Umat yang hidup benar akan mengalami sukacita yang begitu menakjubkan. Jadi bagi orang fasik, Hari Tuhan adalah pembinasaan dan hukuman, sebaliknya bagi orang benar sebagai rahmat keselamatan yang penuh dengan sukacita.

            Kehidupan yang kita alami bukanlah sekadar keberadaan di masa kini. Kelanjutan kehidupan ditentukan oleh kehidupan kita saat di dunia. Walau bersifat sementara tetapi hidup masa kini memiliki nilai yang menentukan. Pilihan dan keputusan kita didasari oleh iman ataukah tanpa iman akan menentukan keberadaan kita di masa mendatang. YBM

Refleksi:

Bilamana Hari Tuhan tiba, di manakah posisi kita saat itu? Apakah di tempat orang fasik ataukah orang benar?

Yang Terserak, Dikumpulkan

Yehezkiel 11:14-25

“…. Aku akan menghimpunkan kamu dari bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari negeri-negeri di mana kamu berserak, dan Aku akan memberikan kamu tanah Israel” (Yeh. 11:17).

Allah menyerakkan umat pilihan-Nya, Israel. Mereka yang semula memiliki negeri dan kerajaan yang begitu agung berubah menjadi bangsa yang tersebar. Mereka terserak-serak. Hidup sebagai umat diaspora. Sebagian besar saat mereka tersebar di berbagai bangsa dan negara, umat Israel mengalami penganiayaan. Dalam Perang Dunia II mereka mengalami pembantaian yang dilakukan oleh Hitler. Penyebab utamanya adalah dosa dan pemberontakan mereka kepada Adonai, Tuhan Allahnya.

            Di Yehezkiel pasal 11 kita mendengar nubuat tentang kasih-karunia dan rencana keselamatan Allah kepada umat Israel. Mereka akan dibawa kembali dan dikumpulkan. Umat yang semula terserak akan dibawa ke tanah Israel. Sampai pada zaman ini kembalinya Israel di tanah Kanaan menjadi perdebatan dan pertikaian. Tetapi kita tahu bahwa pada saatnya Allah akan menyatakan kuasa-Nya. Firman-Nya akan menjadi suatu kebenaran. Nubuat Allah tidak akan pernah kembali dengan sia-sia.

            Pengalaman terserak dan menjadi diaspora menyebabkan umat Israel belajar bagaimana mempertahankan identitas dirinya. Lebih daripada itu mereka juga harus bisa membuktikan nilai lebih dan kontribusi kepada umat manusia. Apakah umat Kristen yang tersebar juga menjadi umat dengan identitas diri yang memberi nilai lebih? Apakah kita juga mampu menggarami orang-orang di sekitar kita? YBM

Refleksi:

Saat tersebar justru kita memiliki kesempatan untuk menghasilkan nilai lebih dan menggarami lingkungan sekitar dengan nilai kebenaran Kristus.

Menyatakan Kekudusan Allah

Yehezkiel 39:21-40:4

“dan kalau Aku sudah membawa mereka kembali dari tengah-tengah bangsa-  bangsa dan mengumpulkan mereka dari tanah musuh-musuh mereka dan pada saat Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepada mereka di hadapan bangsa-bangsa yang banyak” (Yeh. 39:27).

Umat Israel semula terserak. Pengumpulan mereka adalah untuk menyatakan kekudusan Allah di hadapan bangsa-bangsa dunia. Makna “kekudusan Allah” di Yehezkiel 39:27 dari kata waniqdasti yang berarti: menguduskan yang cemar, atau konsekrasi. Kehadiran umat Israel dalam penyatuan sebagai bangsa adalah mendatangkan kebenaran yang memurnikan. Mereka dipanggil untuk mendatangkan berkat keselamatan, sehingga bangsa-bangsa memuliakan Allah.

            Sebagaimana kita ketahui peran umat Israel di era abad 21 begitu menonjol. Berbagai penemuan ilmiah untuk kesejahteraan umat manusia berhasil mereka raih. Hadiah Nobel dimenangkan oleh umat Israel dalam berbagai disiplin ilmu. Tetapi sebenarnya yang utama adalah apakah penemuan-penemuan besar tersebut juga membawa bangsa-bangsa untuk mengasihi dan mempermuliakan Allah? Apakah pencapaian tingkat ilmu pengetahuan yang tinggi mendorong kita untuk hidup kudus? Tanpa  tindakan mempermuliakan Allah dan pengudusan, ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi malapetaka.

            Gereja adalah umat Israel yang baru. Karena itu selaku umat percaya kita dipanggil untuk menyatakan kekudusan Allah di hadapan bangsa-bangsa. Kita tak boleh berkompromi dengan hidup yang cemar dan najis. Perilaku kita adalah menyerupai Kristus, bukan orang-orang dunia. YBM

Refleksi:

Sejauh mana kita menempatkan nilai kekudusan dalam kehidupan kita? Sebagai prioritas ataukah sekadar kesalehan?

Allah Mahahadir

Yehezkiel 43:1-12

“Hai anak manusia, inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku; di sinilah Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel untuk selama-lamanya dan kaum Israel tidak lagi akan menajiskan nama-Ku yang kudus…” (Yeh. 43:7).

Semula kemuliaan Allah meninggalkan Bait Allah karena dosa umat Israel (bdk. Yeh. 10:18-20). Namun kini kemuliaan Allah kembali hadir. Makna kemuliaan Allah hadir adalah Allah kembali memulihkan umat Israel. Dia datang untuk mengampuni dosa umat-Nya. Itu sebabnya Allah berfirman untuk tempat kehadiran-Nya di Bait Allah, yaitu: “Inilah tempat takhta-Ku dan inilah tempat tapak kaki-Ku” (Yeh. 43:7). Dengan mengetahui di mana posisi tempat Allah hadir, umat Israel menjaga imannya untuk terus tertuju kepada Tuhan semesta alam.

            Umat sadar bahwa sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Allah, apalagi Bait Suci (bdk. 1Raj. 8:27). Apabila Allah berkenan bertakhta dan berdiri di Bait Suci adalah karena Ia berkenan “menciutkan” diri-Nya agar dapat hadir di tengah umat-Nya. Allah adalah Tuhan yang mahahadir dan mengatasi seluruh ruang mana pun termasuk yang melampaui langit. Namun rahmat-Nya hadir dan meresapi setiap relung batin bahkan di tempat yang paling dalam.

            Kemuliaan Allah yang kembali hadir di Bait Suci menegaskan bahwa Ia adalah  Allah yang pengasih dan penyayang. Karena itu seharusnya umat berbalik dan bertobat bukan karena takut akan murka/hukuman-Nya tetapi insaf bahwa Dia Bapa yang maharahim. Tempat takhta-Nya yang ditunjukkan menyatakan bahwa Allah sungguh dekat. YBM

Refleksi:

Allah lebih dekat daripada diri kita sendiri, sehingga Ia mengenali kita dengan sempurna. Allah yang Berdaulat dalam Kasih

Yeremia 46:18-28

“…. segala bangsa yang ke antaranya engkau Kucerai-beraikan akan Kuhabiskan, tetapi engkau ini tidak akan Kuhabiskan. Aku akan menghajar engkau menurut hukum ….” (Yer. 46:28).

YHWH (Adonai), Allah Israel tidak menyayangkan menghukum dan mencerai-beraikan umat-Nya. Mereka diserakkan di antara bangsa-bangsa. Namun nubuat Yeremia 46:28 menyatakan bahwa Allah juga akan menghukum bangsa-bangsa yang menganiaya umat Israel. Benar, Allah memukul umat Israel. Tetapi Ia tetap menyayangi mereka. Hukuman Allah ditimpakan kepada umat Israel dilandasi oleh hukum. Maksudnya, hukuman Allah tetaplah adil dalam keputusan-Nya. Karena itu bangsa-bangsa yang menganiaya umat Israel secara sewenang-wenang akan menerima hukuman Allah juga.

            Kasih-sayang Allah kepada umat Israel didasarkan pada perjanjian dan sumpah yang telah Ia nyatakan kepada Abraham-Ishak-Yakub. Tetapi Ia tetap Allah yang kudus, sehingga tidak pernah menutupi kesalahan umat-Nya. Hukuman ditimpakan tanpa memandang muka. Tetapi dalam kemurkaan-Nya, Allah tetap menyayangi mereka. Hajaran tangan Allah bagaikan seorang Bapa kepada anak-anaknya.

            Gereja sebagai Israel baru juga tidak luput dari hajaran Allah. Hukuman tetap ditimpakan. Gereja menjadi terserak dan umat melarikan diri. Tetapi kasih-sayang Allah kepada gereja-Nya tidak pernah hilang. Karena itu gereja dalam kerapuhannya harus selalu hidup berdasarkan kasih-sayang Allah. YBM

Refleksi:

Saat gereja dihukum Allah, tetaplah berpegang pada kerahiman dan kasih-karunia-Nya yang kekal.

Hukum Tabur-tuai

Yesaya 33:17-22

“Di situ kita akan melihat betapa mulia Tuhan kita: seperti tempat yang penuh sungai dan aliran yang lebar….” (Yes. 33:21).

Nubuat nabi Yesaya ini disampaikan dalam konteks Sanherib, raja Asyur menyerang Israel. Bersama dengan pasukannya Sanherib merampok dan menjarah Kerajaan Israel Utara. Hukuman Allah ditimpakan. Melalui kerajaan Aram, kerajaan Asyur diserang dan dirampok. Lebih daripada itu dua anak Sanherib mengkhianati ayahnya dan membunuh Sanherib dengan biadab. Allah membalas orang-orang berdosa dengan perbuatannya sendiri. Karena itu apabila engkau selesai merusak, engkau sendiri akan dirusak; apabila engkau habis menggarong, engkau sendiri akan digarong (Yes. 33:1).

            Pujian kepada Allah betapa mulia-Nya Dia.  Allah mengadakan keadilan bagi umat-Nya. Ia adalah Allah yang berdaulat. Dengan kuasa-Nya Ia memakai para penguasa dan menegakkan keadilan. Umat Israel berdosa dihukum dengan Asyur, tetapi Asyur yang menganiaya umat Israel akan dihukum melalui kerajaan Aram. Pujian kepada Allah juga karena Ia mendatangkan damai-sejahtera bagi umat yang berkenan. Karena itu seharusnya setiap umat dan bangsa-bangsa hidup takut kepada YHWH (Adonai) dengan hidup benar di hadapan-Nya.

            Saat kita merasa kuat, betapa sering kita bersikap sewenang-wenang kepada sesama yang lemah. Hukum tabur-tuai berlaku. Pada saatnya kita dihukum Allah dengan cara yang sama. Mengimani Allah seharusnya kita berlaku adil dan dilandasi kasih serta kemurahan. Hidup berkenan di hadapan-Nya akan mendatangkan damai-sejahtera. Ia adalah Allah yang mulia. YBM       

Refleksi:

Allah yang mulia adalah adil dalam keputusan-Nya, karena itu melawan keadilan adalah melawan Dia dan kuasa-Nya.

Buta Iman

Matius 11:20-24

“Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekali pun di situ Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat” (Mat. 11:20).

Mukjizat adalah suatu karya Allah yang adikodrati sehingga menghasilkan sesuatu yang melampaui semua hal yang bersifat natural. Karya Kristus ditandai dengan kuasa mukjizat. Segi pembedanya adalah jika para nabi melakukan mukjizat dengan permohonan kepada Allah, maka Yesus melakukan mukjizat dengan kehendak dan kuasa-Nya sendiri. Orang-orang di Khorazim, Betsaida dan Kapernaum telah melihat berbagai mukjizat yang dilakukan Yesus tetapi mereka tidak bertobat.

            Bukankah mukjizat senantiasa mengagumkan? Tetapi sikap kagum tidak berarti identik dengan sikap percaya. Umat sering mudah kagum dengan sesuatu yang ajaib atau tidak biasa. Karya mukjizat Yesus bukanlah sulap atau sihir. Mukjizat Yesus adalah manifestasi keselamatan Allah bagi manusia. Karena itu respons yang utama terhadap mukjizat adalah sikap percaya, lalu sikap percaya membawa kepada pertobatan. Seharusnya dengan melihat dan mengalami mukjizat hidup seseorang diubah dan diperbarui. Pola dan kecenderungan hidupnya yang lama berubah menjadi baru. Peristiwa mukjizat yang dialami seharusnya membuka mata hatinya sehingga menghasilkan perspektif yang baru yang diteguhkan dengan tekad yang benar.

            Lingkup mukjizat dari Tuhan tidak senantiasa dalam bentuk yang supernatural. Hidup sehari-hari adalah mukjizat sebab di dalamnya kita mengalami pemeliharaan, perlindungan dan penyertaan Allah. Tetapi sejauh mana mata batin kita dicelikkan? Apa artinya kita sering memberi kesaksian tentang pengalaman mukjizat dari Allah tetapi hidup kita sangat duniawi dan penuh dengan keserakahan? YBM

Refleksi:

Semakin dewasa secara rohani semakin kita menyadari bahwa setiap bagian dalam hidup kita adalah mukjizat. Tetapi kesadaran tersebut menjadi tidak bermakna apabila hidup kita tidak dibarui.

Milik Kristus

Roma 7:1-6

“Sebab itu saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia yang telah dibangkitkan dari antara orang mati agar kita berbuah bagi Allah” (Rm. 7:4).

Dalam sejarah keselamatan Allah terdapat 2 lingkup, yaitu: 1). Keselamatan dengan ketaatan kepada Hukum Taurat, dan 2). Keselamatan dengan penebusan Kristus. Namun kini keselamatan dengan Hukum Taurat telah tergenapi dalam penebusan Kristus. Sebab Kristus datang untuk menggenapi Hukum Taurat. Hakikat Hukum Taurat bukan lagi media untuk memperoleh keselamatan, tetapi sebagai cermin. Esensi yang utama adalah penebusan Kristus. Lalu hukum Taurat menjadi alat ukur sejauh mana umat hidup dalam anugerah keselamatan Kristus.  

            Hukum Taurat tetap berlaku sebagai norma dan nilai-nilai hidup umat percaya. Segi pembedanya adalah norma dan nilai-nilai Hukum Taurat tersebut dihidupi berdasarkan anugerah dalam penebusan Kristus. Tanpa anugerah Kristus, maka norma dan nilai-nilai Hukum Taurat akan mematikan. Rasul Paulus menyatakan: “hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan…” (2Kor. 3:6b). Anugerah penebusan Kristus adalah Roh yang menghidupkan. Karena itu hidup umat percaya ditentukan oleh Roh Kristus yang diwujudkan dalam norma dan nilai Hukum Taurat.

            Dalam praktik pola pikir dan perilaku kita ditentukan oleh ketentuan dan peraturan. Kita sering taat karena peraturan dibuat oleh otoritas sehingga kita takut. Tetapi sikap tersebut tidak lahir dari kesadaran. Seharusnya hidup kita ditentukan kesadaran, dan kesadaran itu diperoleh melalui pembaruan hidup. Sumber pembaruan hidup kita adalah Kristus dan karya penebusan-Nya. Dengan demikian ketaatan pada Hukum Allah tidak membelenggu tetapi membebaskan. YBM

Refleksi:

Menjadi milik Kristus berarti menghidupi hukum-hukum Allah dengan anugerah-Nya. Hukum-hukum Allah menjadi norma dan nilai-nilai yang membebaskan.

Dibebaskan dari Kuasa Dosa

Roma 7:7-20

“Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang akukehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Rm. 7:15).

Perjuangan terbesar dari eksistensi manusia adalah dibebaskan dari dosa. Ada berbagai upaya yang dilakukan. Intinya mengerahkan seluruh daya melalui disiplin rohani, pengajaran, bertarak, berpuasa, ritual keagamaan, dan membuat kebajikan untuk selamat. Tetapi apakah semua upaya tersebut membawa hasil? Mungkin ada beberapa orang yang berhasil melatih diri dan mengembangkan karakternya. Namun tetap muncul pertanyaan: “Apakah upaya tersebut menyelamatkan?” Lebih tajam lagi adalah apakah Allah berkenan?

            Dosa bukan sekadar melanggar perintah atau hukum Allah. Tetapi sesungguhnya dosa adalah inti dasar sebagai potensi yang menguasai manusia untuk melawan Allah dengan pelanggarannya. Dosa disebut hamartia karena ia memiliki kekuatan yang begitu besar sehingga menyebabkan manusia selalu menyimpang. Rasul Paulus menyatakan: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki yaitu yang jahat, yang aku perbuat” (Rm. 7:19). Karena itu pengetahuan moral, pengajaran agama, asketisme, dan ritual keagamaan tidak membebaskan manusia dari kuasa dosa. Manusia membutuhkan penyelamatan Allah.

            Di dalam penebusan Kristus, manusia dibebaskan dari dosa hamartia. Sebab Kristus dalam diri-Nya tidak memililki kuasa hamartia. Ia Anak Allah. Kita akan dibebaskan dari kuasa dosa apabila hidup dalam persekutuan dengan Dia. Ketika Kristus dan Roh-Nya menguasai hidup kita, maka kita akan dibenarkan dan dikuduskan. YBM

Refleksi:

Kuasa penebusan Kristus memampukan kita hanya melekat kepada Allah, bukan kepada dunia. Karena itu kita dimampukan hidup benar di hadapan Allah agar menghasilkan kasih dan keadilan.

Yesus, Sang Anak Allah

Lukas 10:21-24

“Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa ….” (Luk. 10:22).

Relasi Yesus dengan Allah menentukan posisi iman kita kepada Allah. Jika relasi Yesus dengan Allah tidak setara atau sehakikat, tentunya kita tidak perlu beriman kepada-Nya. Di Lukas 10:22 Yesus menegaskan relasi-Nya bersifat khusus dan intim tiada taranya dengan Allah. Semua telah diserahkan Allah kepada Yesus. Allah saja yang tahu atau mengenal tentang siapa Yesus. Pernyataan Yesus tersebut bukan tanpa dasar. Di Daniel 7:13-14 menyatakan bahwa kepada Anak Manusia itu Allah memberikan segala kuasa dan kemuliaan sebagai raja. Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang tidak akan musnah.

            Sangat menarik bahwa pernyataan Yesus di Lukas 10:22 tersebut diucapkan dengan kegembiraan. Lukas 10:21 berkata: “Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus….” Kata “gembira” yang dipakai adalah egalliasato yang berarti: “sukacita yang besar.” Relasi Yesus yang intim dengan Allah dipenuhi oleh sukacita dan kegembiraan yang tak terkatakan. Dengan kegembiraan kasih ilahi itulah Yesus mencintai setiap orang. Yesus juga menyatakan kepedulian kepada mereka yang kecil dan lemah..

            Semakin seseorang dipenuhi oleh kasih Allah di dalam Kristus, semakin ia peduli kepada orang-orang yang lemah dan tertindas. Kasih seharusnya memancar dan berpihak kepada orang-orang yang diperlakukan tidak adil, mengalami diskriminasi, dan tertindas. Yesus datang untuk menghadirkan keadilan dan damai-sejahtera bagi setiap orang. Sebab Ia sebagai Anak Allah adalah juga Anak Manusia yang dapat merasakan kepedihan dan penderitaan setiap orang. YBM

Refleksi:

Di dalam Kristus, kemanusiaan kita dimurnikan sehingga bermetamorfosis sebagai manusia kasih yang didasari pada keadilan dengan membela sesama yang tertindas.

Dilepaskan dari Tubuh Maut

Roma 7:15-25

“Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah. Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (Rm. 7:24-25).

Tubuh sering dikambinghitamkan sebagai sumber dosa. Sebab tubuh bersifat jasmani, lahiriah dan fana. Padahal sumber dosa berasal dari roh manusia yang melawan Allah dan kehendak-Nya. Roh sebagai kesadaran diri itulah yang menggerakkan dan mengendalikan tubuh untuk memuaskan hawa-nafsu dan keinginannya. Pilihan etis dari roh yang menyebabkan tubuh mengalami kematian. Karena dari kecenderungan dan pilihan etisnya roh manusia memilih untuk menyimpang dan memilih jalan yang sesat. Kecenderungan dan pilihan etis roh adalah keinginannya yang duniawi. Kesadarannya disesatkan oleh nilai-nilai yang semu, fana dan bersifat kedagingan.

            Tubuh maut akan diubah Allah menjadi tubuh kemuliaan jikalau orientasi dan nilai-nilai kepribadian kita berpusat kepada Kristus. Roh kita perlu dikuduskan dan diperdamaikan dengan Allah. Kesadaran diri kita perlu mengalami pembaruan dan penebusan melalui kematian Kristus. Pemahaman ini jelas berbeda dengan pemikiran filsuf Plato yang menempatkan roh sebagai hakikat yang ilahi dan suci. Ajaran dari Plato ini hendak menegaskan bahwa keberdosaan kita bersumber pada tubuh manusia, sehingga roh kita terkurung oleh penjara tubuh.

            Tubuh maut berkaitan dengan kesadaran dan kepribadian yang duniawi. Karena itu kita perlu senantiasa waspada dan mengkritisi kesadaran diri yang secara subjektif menganggap diri paling benar. Sikap kritis diri yang evaluatif dengan bersandar pada anugerah penebusan Kristus akan memampukan kita hidup dalam kebenaran dan kekudusan. YBM

Refleksi:

Kesadaran diri yang dimurnikan oleh pengorbanan Kristus dan pencurahan Roh Kudus memampukan kita untuk hidup dalam tubuh kemuliaan, yaitu kekudusan dan kebenaran.

Beragama tetapi Sesat

Roma 1:18-25

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap” (Rm. 1:21).

Kodrat manusia sebagai homo religius tidak serta-merta menjadi insan yang bermoral. Aneka ragam ekspresi ritual yang dilakukan tidak identik dengan pembaruan diri. Sebaliknya manusia sering sangat pandai mengenakan topeng ibadah dan kesalehan ritual untuk menutupi kejahatannya. Manusia mungkin sangat rajin membaca teks-teks yang dianggap suci dan melakukan penyembahan kepada Allah, tetapi tidak berarti kejahatan semakin berkurang. Memuliakan Allah tidaklah memadai hanya ditandai dengan religiusitas, tetapi seharusnya masuk pada ranah spiritualitas.

            Di Roma 1:21 Rasul Paulus menyebut esensi yang utama, yaitu pikiran dan hati. Kata “pikiran” dipakai kata dialogismos, dan kata “hati” dipakai kata kardia. Makna dialogismos menunjuk kemampuan pikiran berdialog dengan dirinya untuk menemukan nilai etis. Makna kardia menunjuk pada sumber pikiran dan perasaan sebagai institusi etis-moral dan rohani. Karena itu religiusitas yang mengabaikan pembaruan internal dalam pola pikir dan sumber nilai-nilai etis-moral-spiritual hanya menghasilkan kejahatan. Semakin beragama semakin jahat dan tidak manusiawi.

            Pembaruan religiusitas akan terwujud apabila setiap orang beragama bersedia membuka diri untuk dipulihkan pikiran dan hatinya oleh Roh Allah. Pikiran dan hatinya diterangi oleh nilai-nilai kebenaran yang bersumber pada kasih dan keadilan. Jika demikian religiusitas hanyalah alat, bukan tujuan. Sebab tujuan beragama adalah memuliakan Allah dengan mengangkat martabat manusia. YBM

Refleksi:

Dari buahnya kita dapat menilai pohon itu baik atau buruk. Demikian pula kualitas keagamaan diukur dari buah yang dihasilkannya. Tanpa buah yang baik, religiusitas kita jauh dari spiritualitas.

Kesetiaan yang Tanpa Syarat

Roma 3:1-8

“Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah?” (Rm. 3:3).

Israel sebagai umat pilihan Allah dalam praktik sering tidak setia. Berulangkali mereka berpaling meninggalkan Allah. Begitu mudah bagi mereka untuk mengikuti kepercayaan di sekitar dengan menyembah ilah atau dewa-dewa bangsa Kanaan. Mereka pula yang menolak Kristus dan menyalibkan-Nya. Namun pada saat yang sama Allah tetap setia. Ketidaksetiaan umat Israel dibalas oleh Allah dengan kesetiaan yang tanpa syarat. Allah tidak pernah membuang mereka. Sebaliknya Allah bersikap sabar dan menyatakan rahmat-Nya. Kesetiaan Allah tidak dipengaruhi oleh kondisi dan respons umat-Nya.

            Namun bagi sebagian orang kesetiaan Allah yang tanpa syarat justru keliru dipahami. Seakan-akan semakin kita tidak setia, Allah akan semakin setia. Semakin kita tidak berlaku benar, Allah akan menunjukkan kemurahan-Nya. Rasul Paulus menegur orang-orang yang berlaku seperti itu, yaitu: “Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?” (Rm. 3:7). Tentunya dusta atau kepalsuan kita bukan untuk memancing kebenaran Allah. Jika demikian, kesalahan dan keberdosaan kita menjadi media rahmat dan kemurahan Allah.

            Kebaikan dan kemurahan hati sering disalahpahami sebagai kelemahan. Kesetiaan yang tanpa syarat dianggap sebagai sikap yang tidak realistis. Dunia sering menjungkirbalikkan nilai-nilai kebenaran. Karena itu nilai-nilai kebaikan dan kebenaran baru bermakna apabila diterapkan secara edukatif dengan otoritas kepemimpinan. Disebut “edukatif” apabila nilai-nilai tersebut menginspirasi dan mendidik seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai. YBM

Refleksi:

Nilai-nilai yang mulia akan menginspirasi dan membarui banyak orang apabila ditempatkan dalam sikap kepemimpinan yang benar.

Virus dalam Relasi

Roma 2:1-11

“Karena itu hai manusia siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri …” (Rm. 2:1).

Persahabatan dan hubungan persaudaran akan rusak apabila salah seorang bersikap menghakimi. Makna menghakimi adalah memberi penilaian secara subjektif yang dinyatakan dengan sikap yang melukai dan menghina sehingga seseorang merasa dirinya dilecehkan dan dipermalukan. Penilaian subjektif merupakan standar etis-moral yang berasal dari ukuran seseorang untuk mengukur perilaku orang lain. Umumnya sikap menghakimi dinyatakan dengan kata-kata sarkastis, yaitu: ungkapan penghinaan yang didorong oleh perasaan kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata yang kasar. Kelemahan orang yang menghakimi adalah ia tidak memiliki pengendalian diri dan pemilihan kata yang bijaksana.

            Selain itu orang yang menghakimi cenderung jeli melihat kelemahan orang lain tetapi buta dengan kekurangan dan kesalahannya sendiri. Ia cermat dengan kekurangan dan kesalahan orang lain, tetapi menutup mata dengan berbagai kelemahan dan kejahatannya. Pelaku bertindak sebagai seorang Hakim yang lalim. Karena itu tidak mengherankan jikalau orang yang demikian gagal menjalin persahabatan. Ia juga tidak mampu menjadi pribadi yang inspiratif dan transformatif. Kata-kata yang inspiratif dan transformatif hanya dimiliki oleh pribadi yang mengasihi dan berempati kepada sesamanya.

             Virus yang merusak relasi dan mematikan adalah sikap menghakimi. Sistem dan pengelolaan dalam komunitas atau persekutuan ditentukan sejauh mana kita mampu bersikap tegas terhadap para pelaku yang menyebarkan virus menghakimi. Siapa pun yang menghakimi orang lain perlu digembalakan dan dibina. YBM

Refleksi:

Sikap menghakimi berasal kepribadian yang cacat sehingga membutuhkan pemulihan dan pengenalan diri yang sehat sehingga mampu merespons realitas secara utuh.

Tak Terselami Hikmat Allah

Roma 11:33-36

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Rm. 11:33).

Kekaguman pernyataan Rasul Paulus tersebut sebenarnya berasal dari pergumulan yang dialaminya. Di satu sisi ia kecewa sebab bangsanya, umat Israel menolak Kristus. Di pihak lain bangsa-bangsa di luar Israel diselamatkan karena penolakannya. Pertanyaan yang muncul adalah apakah Allah menolak umat Israel? Jawabannya adalah Allah tidak menolak umat-Nya (Rm. 11:1). Pada saatnya Allah akan mencangkokkan umat Israel kembali. Karena itu bangsa-bangsa di luar umat Israel tidak boleh bermegah diri. Rasul Paulus berkata: “Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang” (Rm. 11:28).

            Realitas yang paradoks di antara sikap umat Israel yang tidak percaya dan kemurahan hati Allah kepada bangsa-bangsa lain diintegrasikan menjadi ungkapankekaguman, yaitu: O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!  Situasi paradoksal itu menjadi muara pujian yang mengagungkan pikiran Allah yang tak terselami. Karena itu di Roma 11:33 berakhir dengan ungkapan doksologis, yaitu: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Namun bagaimana apabila kita mengalami kondisi yang paradoksal?

            Betapa sering kita menyikapi situasi paradoksal dengan sikap bersungut-sungut, mencela, dan menuduh Allah berlaku tidak adil. Sebaliknya semakin beriman dan mengasihi Allah kita dimampukan untuk melihat kedalaman hikmat Allah yang melampaui pengertian manusiawi. YBM

Refleksi:

Sikap iman seharusnya membuka wawasan dan cara pandang yang lebih luas, utuh dan mendalam sehingga hidup kita dipenuhi oleh kekaguman dan pujian kepada Tuhan.

Teladan Abadi

Matius 26:6-13

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Mat. 26:13)

Perbuatan baik akan selalu dikenang, namun tidak semua perbuatan baik diingat secara abadi. Padahal yang dimaksud dengan perbuatan baik di sini adalah meminyaki kepala Yesus dengan minyak wangi yang mahal. Tokoh perempuan di dalam Injil Matius tersebut tidak disebutkan namanya. Tetapi tindakannya sangat menyentuh hati Yesus. Sebaliknya para murid Yesus memiliki penilaian yang berbeda. Mereka menganggap tindakan perempuan itu sebagai suatu pemborosan. Sebab minyak yang ditumpahkan itu akan segera menguap. Berbeda apabila minyak mahal tersebut diuangkan dan diberikan kepada orang-orang miskin.

            Standar nilai dianggap excellence apabila menguntungkan secara materiil. Betapa sering nilai profit dijadikan faktor utama. Karena keputusan-keputusan etis yang diambil sering diukur dari sudut menguntungkan secara finansial ataukah tidak. Kita melupakan bahwa sentuhan hati, ketulusan dan cinta-kasih merupakan keutamaan nilai. Perempuan tersebut melakukan sesuatu yang tidak pernah orang lain pikirkan. Ia mengurapi Yesus pada saat yang tepat. Karena sebentar lagi Yesus menderita sengsara dan wafat. Yesus berkata: “Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku” (Mat. 26:12).

            Pola pikir dan refleksi iman kita semakin dipertajam dengan keteladanan perempuan yang meminyaki kepala Yesus. Ia menabung begitu lama dan seluruh tabungannya dipersembahkan sebagai cinta-kasihnya yang tulus. Apabila kita mengasihi Kristus dengan segenap hati, maka kita tidak lagi berhitung soal untung dan rugi. YBM

Refleksi:

Seluruh pelayanan kita kepada Kristus akan menjadi sia-sia, jikalau salah satu di dalamnya mengandung motif memperoleh keuntungan secara duniawi.

Penurut-penurut Allah

Efesus 5:1-6

“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih” (Ef. 5:1).

Kata “penurut-penurut Allah” adalah terjemahan dari kata mimetai tou Theou yang maknanya: “imitators of God.” Makna penurut-penurut Allah menunjuk pola hidup yang menyerupai sifat-sifat Allah. Jadi sejauh mana setiap umat mengasah dan memurnikan karakternya dengan standar sifat-sifat Allah, yaitu kasih. Melalui Kristus, kita dapat melihat karakter Allah sebagai kasih. Karena itu Efesus 5:2 menyatakan: “Hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.”

            Sangat menarik makna kasih di Efesus 5:2 dikaitkan dengan kekudusan. Umumnya tindakan kasih dinyatakan dalam kepedulian, kemurahan, pengampunan dan belas-kasihan. Namun ternyata makna kasih dalam konteks ini harus dinyatakan dalam pola hidup yang suci. Rasul Paulus berkata: “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut saja pun jangan di antara kamu sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus” (Ef. 5:3). Artinya semua bentuk kepedulian, kemurahan, pengampunan dan belas-kasihan kepada sesama menjadi sia-sia apabila tidak didasari oleh kekudusan hidup.

            Jika demikian esensi penurut-penurut Allah didasari pada kasih dan kekudusan. Bagaikan dua bagian yang berbeda namun tidak terpisahkan. Kasih akan murni jikalau didasarkan pada kekudusan. Sebaliknya kekudusan tanpa kasih bagaikan kebenaran tanpa belas-kasihan. Tanpa kasih dan kekudusan kita hanya akan menjadi penurut-penurut dunia. YBM

Refleksi:

Nilai kasih sering tidak edukatif karena mengabaikan kekudusan. Sebaliknya nilai kekudusan sering menjadi tidak toleran karena mengabaikan prinsip kasih. Makna menjadi penurut-penurut Allah mampu menyatukan dan menyeimbangkan kasih dan kekudusan.

Si Pendurhaka

2 Tesalonika 2:7-12

“Pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali” (2Tes. 2:8).

Akhir zaman akan tiba didahului dengan kemurtadan global. Sosok si pendurhaka akan muncul untuk menyesatkan umat manusia. Dia adalah agen utama dari Iblis. Pendurhaka itu adalah Anti-Kristus. Untuk meyakinkan banyak orang ia akan melakukan tugasnya disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat palsu (ayt 9). Melalui tanda-tanda itu ia akan menyesatkan banyak orang sehingga mereka percaya akan dusta. Situasi dunia menjelang datangnya akhir zaman ditandai oleh kesesatan, pola pikir yang memutarbalikkan kebenaran dan hidup dalam kejahatan.

            Disebut Anti-Kristus karena kehadiran dan perilakunya ingin menyamai Kristus. Ia menarik banyak orang untuk meragukan dan menjauhkan dari sikap iman kepada Kristus. Dengan kuasa Iblis ia membawa sebagian umat manusia untuk memusuhi kebenaran dengan dalih menegakkan “kebenaran Allah.” Karena itu tidaklah aneh si pendurhaka yaitu Anti-Kristus berbicara dan berkesan membela “kebenaran” tetapi dengan tujuan manusia membenci Sang Kebenaran. Dengan cerdik, ia menggiring pola pikir manusia untuk memusuhi kebenaran yang membebaskan dan mempengaruhi agar mengikuti kehendaknya.

            Betapa penting pengenalan akan Kristus secara utuh dan mendalam agar kita dapat waspada dengan si Anti-Kristus. Kebenaran Kristus senantiasa membebaskan dan memulihkan, sebaliknya kebenaran Anti-Kristus akan membelenggu dan mendorong manusia untuk melakukan kekerasan serta kejahatan. Karena itu kebenaran Kristus terbuka untuk diuji dan dikritisi. Sedangkan kebenaran Anti-Kristus senantiasa anti kritik, doktriner, dan memuja dirinya (kultus-individu) seakan-akan dia adalah Allah. YBM

Refleksi:

Iman kepada Kristus memampukan kita untuk mengasihi tanpa syarat dan hidup dalam kebenaran yang membebaskan.

Sang Pemulih

Matius 8:14-17

“Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit” (Mat. 8:16).

Ciri khas pelayanan Yesus adalah ditandai dengan kepedulian terhadap orang-orang yang menderita. Ia menyembuhkan orang-orang yang sakit. Ibu mertua Petrus yang sakit demam disembuhkan. Lalu menjelang malam Yesus memulihkan orang-orang yang kerasukan setan. Ia juga menyembuhkan banyak orang sakit. Di mana Yesus hadir, di situ Ia menghadirkan keselamatan dan pengharapan. Mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya sesungguhnya merupakan manifestasi datangnya Kerajaan Allah. Dengan menyembuhkan orang-orang yang sakit dan memulihkan orang-orang yang kerasukan setan, Yesus menghadirkan pemerintahan Allah.

            Yesus Sang Pemulih adalah Sang Pemanifestasi Kerajaan Allah. Itu sebabnya seluruh penyembuhan kepada orang-orang yang sakit dan pemulihan kepada orang-orang yang kerasukan setan dilakukan dengan sepatah kata saja. Satu kata yang Yesus ucapkan untuk menyembuhkan seketika itu juga mereka sembuh. Ini mengingatkan kita akan kuasa Sang Firman Allah. Apabila Allah berfirman: “Jadilah…., maka terjadilah .…” Kuasa mukjizat yang dilakukan Yesus menegaskan diri-Nya sebagai Sang Firman Allah yang berinkarnasi menjadi manusia.

            Iman kepada Kristus memampukan kita untuk hidup dalam kuasa-Nya. Penyembuhan dari sakit bukan sekadar secara fisik tetapi utamanya sakit secara spiritual. Dalam konteks kita pemulihan dari kerasukan setan berarti bebasnya dari kuasa ideologis yang destruktif dan tidak manusiawi. Kita dimampukan untuk mengkritisi dan menolak seluruh gagasan yang membutakan mata rohani dan akal sehat. Kepercayaan takhayul, gambar diri yang rusak, fanatisme yang hitam-putih, dan kebiasaan hidup yang tidak sehat tidak lagi menjadi pola hidup umat percaya. YBM

Refleksi:

Sejauh mana kita hidup dalam kuasa Kristus yang membebaskan dan memulihkan?

Menuntut Balas

Roma 12:9-21

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan firman Tuhan” (Rm. 12:19).

Ada ungkapan: “orang jahat adalah orang baik yang dilukai dan tidak dapat mengampuni.” Kita akan menjadi orang jahat apabila menuntut pembalasan yang setara dengan apa yang diperbuat orang lain kepada kita. Hukum “gigi ganti gigi, dan mata ganti mata” adalah hukum pembalasan. Tetapi hukum kasih adalah menyerahkan pembalasan kepada Tuhan semua perlakuan jahat yang kita terima dari orang lain. Dasarnya adalah Allah adalah pemilik dan pemelihara seluruh aspek kehidupan. Ia adalah Allah yang setia dan adil.

            Pembalasan yang hanya boleh kita lakukan adalah: “Tetapi jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum” (Rm. 12:20). Perbuatan jahat haruslah dibalas dengan perbuatan baik. Dengan cara seperti itulah kita menumpukkan bara api di atas kepalanya. Kekuatan rohani untuk melakukan prinsip kasih adalah karena kita terlebih dahulu dikasihi Allah dalam penebusan Kristus. Kita mengasihi para musuh karena kita terlebih dahulu diampuni oleh Allah. Iman dan karya penebusan Kristus menyebabkan kita memiliki kekayaan pengampunan Allah. Karena itu kita dimampukan memberkati orang yang menganiaya (Rm. 12:14).

            Sikap menyimpan kebencian dan membalas dendam merugikan diri sendiri. Hidup kita dihancurkan dan kerohanian kita dimatikan. Sebaliknya dengan menyerahkan pembalasan kepada keadilan Allah dan memberkati orang yang menganiaya, kita menjadi pemenang atas kehidupan ini. Kita mengalami sukacita yang membuat hidup kita berkualitas dan excellence. YBM 

Refleksi:

Hidup sebagai umat tebusan Kristus memampukan kita untuk melepaskan diri dari belenggu kebencian dan dendam.

Ciptaan Baru

(2 Korintus 5:17-21)

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor. 5:17).

Siapa yang tidak suka dengan sesuatu yang baru, canggih dan efisien? Mobil, gadget, dan berbagai peralatan teknologi yang mutakhir? Semua peralatan itu disebut dengan istilah “ciptaan baru.” Karena itu semua barang yang lama dibuang atau disimpan dalam museum. Tetapi apakah pola seperti itu dapat diterapkan kepada manusia? Tentunya tidak bisa. Manusia tidak bisa dibuang untuk diganti dengan orang-orang yang dianggap lebih unggul. Hitler pernah menyingkirkan orang-orang yang dianggap cacat. Ia juga membasmi orang-orang Yahudi yang dianggap tidak memiliki ras unggul. Makna ciptaan baru untuk manusia justru manusia yang lama diperbarui sehingga menjadi manusia baru.

            Cita-cita dan upaya menghadirkan “ciptaan baru” tercermin dalam seluruh ajaran agama. Setiap orang dituntut untuk berperilaku luhur, benar dan adil. Berbagai cara ditawarkan dan diujicobakan. Namun satu hal yang tidak bisa diatasi oleh manusia sepanjang zaman adalah bebas dari belenggu kuasa dosa. Karena itu hanya ada satu cara yaitu Allah mengampuni, mendamaikan dan memulihkan dengan anugerah-Nya. Wujud konkret karya keselamatan Allah tersebut dinyatakan dalam karya penebusan Kristus. Melalui wafat dan kebangkitan-Nya kita dijadikan manusia yang baru.

            Manifestasi manusia baru adalah hidup menurut gambar dan keteladanan Yesus Kristus (imitatio Christi). Karena itu seluruh nilai-nilai, spirit, pola perilaku dan tujuan hidup didasarkan pada diri Kristus. Konsekuensi logisnya adalah semua hal yang tidak sesuai dengan roh Kristus kita tinggalkan yaitu kecemaran, pemikiran duniawi, dan keinginan daging. YBM

Refleksi:

Kasih, kebenaran dan kekudusan adalah kriteria utama untuk hidup serupa dengan Kristus.

Nubuat Imam Besar Kayafas

Yohanes 11:45-57

Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu” (Yoh. 11:51).

Nubuat yang diucapkan oleh Imam Besar Kayafas tentang diri Yesus ditempatkan dalam konteks peristiwa mukjizat Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Mukjizat tersebut tentu membuat heboh bagi masyarakat waktu itu. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa membangkitkan orang yang sudah mati selama 4 hari? Tetapi bagi imam-imam kepala dan orang Farisi tindakan Yesus tersebut menimbulkan  perasaan kuatir. Pengaruh dan kuasa Yesus semakin besar sebaliknya pengaruh dan kuasa mereka semakin berkurang di hadapan masyarakat luas. Mereka berupaya menangkap dan membunuh Yesus.

            Nubuat yang dikatakan oleh Imam Besar Kayafas memaknai bahwa Yesus kelak akan mati bukan karena hasil usaha atau kemenangan imam-imam kepala dan orang Farisi. Tujuan Yesus yang kelak akan wafat adalah karena keselamatan seluruh umat manusia. Di Yohanes 11:50 Kayafas berkata: “dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.” Nubuat Kayafas ini penting dipahami. Bila Yesus wafat karena hasil upaya manusia, maka Ia akan menjadi korban (victim) belaka. Sebaliknya saat Yesus wafat untuk semua orang, Ia menjadi persembahan kurban (sacrifice).

            Kebangkitan Yesus merupakan bukti bahwa Ia menjadi persembahan kurban yang benar dan menyelamatkan. Percaya kepada Kristus adalah tindakan iman yang menyelamatkan sehingga menjamin umat mengalami kebangkitan orang mati seperti yang dialami oleh Lazarus. YBM

Refleksi:

Kita mengalami bayang-bayang kematian di tengah berbagai macam kejahatan dan penderitaan, Namun kita memiliki pengharapan dan jaminan keselamatan di dalam Kristus.

Kepemimpinan Gembala

1 Petrus 5:1-5, 12-14

Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri (1Petr. 5:2).

Kepemimpinan gembala merupakan model kepemimpinan yang paling fundamental dalam kehidupan umat Kristen. Dari model tersebut muncul istilah: Gembala Sidang, Gembala Jemaat, Pastor dan pastoralia. Semua istilah tersebut berakar pada kata benda “gembala” (poimnion) dan kata kerja “gembalakan” (poimanate). Maknanya jelas berasal dari dunia perternakan tentang bagaimana seorang penggembala memperlakukan kambing-domba gembalaannya setiap hari. Dalam konteks kehidupan umat Israel seorang gembala akan mempertaruhkan nyawanya untuk menjaga dan melindungi kawanan dombanya dari bahaya (1Sam. 17:34-36).

            Seorang gembala akan sigap dan penuh semangat melaksanakan tugasnya. Kata “pengabdian diri” sebenarnya berasal dari kata prothumos yang artinya penuh semangat dan sigap. Makna kata thumos dalam filsafat Platon dipakai untuk menunjuk tempat keberanian untuk bertarung melawan apa yang tidak benar. Karena itu seorang gembala dengan segenap hati menjaga kawanan dombanya dengan penuh keberanian agar selamat dari bahaya kesesatan. Seorang gembala bagaikan benteng yang kokoh tempat di mana setiap kawanan dombanya berlindung. Ia sangat menguasai bidang tugas pelayanannya dan memiliki hati yang tulus mengasihi domba-dombanya.

            Setiap umat percaya adalah gembala bagi anggota keluarga, dan anggota masyarakat. Dalam konteks masa kini yang saling interdependensi, setiap umat seharusnya saling menggembalakan dan melengkapi. Jemaat adalah persekutuan para gembala yang saling peduli dan menggembalakan. Umat adalah para pribadi yang hadir sebagai pemimpin gembala di setiap bidang yang dipercayakan Tuhan. YBM

Refleksi:

Yesus adalah Gembala Yang Baik. Apakah  kehidupan kita berperan sebagai pemimpin gembala yang baik bagi orang-orang di sekitar?

Sahabat Dunia

Yakobus 4:4-10

Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah (Yak. 4:4).

Dunia bukanlah musuh yang harus diperangi! Karena kita berada dan bermakna di dalam dunia. Tetapi tujuan hidup manusia bukanlah dunia. Bersahabat dengan dunia berarti menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Akibatnya manusia melekat dengan spirit dan nilai-nilai yang duniawi. Dunia yang dilepaskan dari kedaulatan dan pengakuan akan Allah akan berubah menjadi duniawi. Sifat duniawi senantiasa mendistorsi atau mengaburkan hakikat yang seharusnya, sehingga manusia menjauh dari kebenaran. Manusia akan lebih memilih pembenaran diri daripada kebenaran dari Allah yang membebaskan.

            Teguran Rasul Yakobus sangat lantang. Barangsiapa yang menjadi sahabat dunia, ia telah menjadikan dirinya musuh Allah. Sebagai musuh Allah, manusia akan berperilaku sebagai perusak terhadap tatanan dunia. Dengan kecongkakannya manusia akan saling berupaya menguasai, memerangi, menaklukkan dan mengeksploitasi. Karena itu Yakobus 4:6 berkata: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Persahabatan dunia menghasilkan kecongkakan yang destruktif dalam semua bidang kehidupan.

            Tunduk dan melekat kepada Allah akan menghasilkan pemulihan dan keselamatan bagi dunia. Bentuk konkretnya adalah mentahirkan atau menguduskan hati dari spirit dan nilai-nilai duniawi. Justru dengan mampu “berjarak” dari dunia, kita mampu menghayati hidup yang bermakna dengan menemukan tujuan hidup yang asasi, yaitu Allah yang hidup dan menyelamatkan. YBM

Refleksi:

Kita diutus ke dalam dunia, tetapi kita bukanlah bagian dari dunia sebab tujuan hidup yang asasi adalah Allah di dalam Yesus Kristus.

Kantong yang Baru

Markus 2:18-22

Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula (Mark. 2:22).

Isi yang berkualitas sangatlah penting. Tetapi isi tersebut akan terbuang percuma saat tempat penampungnya usang dan lapuk. Isi dan kapasitas merupakan satu-kesatuan. Kapasitas perlu diperbarui dahulu agar mampu menampung nilai-nilai kekekalan dan kekudusan. Sebagaimana pepatah berkata: Mens sana in Corpore Sano (dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula). Rohani kita tidak sehat ketika kita tidak mampu menjaga kesehatan fisik. Makna spiritualitas secara salah kaprah dimaknai hanya pada bagian nilai-nilai rohani yang terlepas dari kesehatan fisik. Padahal spiritualitas senantiasa bersifat utuh dan menyeluruh.

            Dalam hidup sehari-hari bibit yang unggul tidak akan tumbuh apabila tanah belum diolah dan dipupuk. Pengetahuan yang bermanfaat tidak dapat dicerna bilamana pikiran dan hati para siswa tidak disiapkan lebih dahulu. Betapa penting kesiapan ladang hati untuk menerima benih-benih kebenaran. Hati manusia perlu diperbarui dahulu agar mampu menerima kebenaran ilahi yang menyelamatkan. Jikalau tidak, mereka hanya mampu mengkritisi kebenaran Injil hanya dari sudut lahiriah belaka misalnya ritual berpuasa (Mark. 2:18).

            Mengganti kantong yang lama menjadi baru bukan sekadar tindakan teknis. Di dalam perubahan kantong tersebut berkaitan dengan pembaruan mindset atau paradigma. Dengan paradigma yang baru setiap umat akan dimampukan untuk memiliki kapasitas rohani berupa world-view yang luas dan transformatif. YBM

Refleksi:

Mengolah hati memampukan kita menjadi pendengar dan pelaku firman.

Pikirkan secara Benar

Filipi 4:1-9

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Flp. 4:8).

Pikiran mengendalikan seluruh aspek kehidupan kita. Bahagia dan bermakna atau tidak ditentukan bagaimana isi dan orientasi pikiran kita. Pikiran merupakan suatu media. Kedirian (Self) kita yang mengendalikan pemikiran yang terjadi. Relasi diri dengan pikiran begitu integral. Arah pikiran yang lebih berkualitas ditentukan oleh kesadaran si “aku” di hadapan Allah, diri sendiri dan sesama. Manifestasi pikiran bukan sekadar pengetahuan, pengertian, dan kemampuan intelektualitas tetapi juga nilai-nilai, hikmat dan wawasan yang relasional dengan Allah dan sesama.

            Di Filipi 4:8 firman Tuhan mendiskripsikan 8 nilai utama, yaitu: benar (alethe), mulia (semna), adil (dikaia), suci (hagna), manis (prosphile), sedap di dengar (euphema) dan kebajikan (arête) dan patut dipuji (epainos). Media pembelajaran terhadap nilai-nilai tersebut diperoleh melalui: “apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu” (Flp. 4:9). Nilai-nilai tersebut diperoleh melalui pemahaman dan keteladanan. Panggilan hidup bagi umat percaya adalah bagaimana setiap orang mampu menjadi pendidik yang dapat diteladani dalam integritas, kepedulian dan keprimaan.

            Peran yang transformatif tersebut akan terwujud apabila setiap umat mengalami damai-sejahtera yang dianugerahkan Allah. Firman Tuhan berkata: “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:7). Kegagalan untuk mentransfer nilai-nilai adalah karena kehidupan kita jauh dari spirit damai-sejahtera Allah yang melampaui segala akal. YBM

Refleksi:

Kendalikan pikiran dengan damai-sejahtera Allah di dalam Kristus.

Identitas Pembeda

Yudas 17-25

Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus (Yud. 20).

Identitas pembeda membutuhkan integritas. Tanpa integritas kita akan sama dengan arus duniawi. Mereka tidak menghendaki relasi yang rukun dan harmonis di antara sesama, serta memilih kecemaran yang lahir dari hawa-nafsu (ayat 19). Pilihan hidup yang berintegritas sesungguhnya merupakan jalan hidup yang sunyi. Kadang orang yang berintegritas harus siap ditinggal para teman, anggota keluarga dan masyarakat pada umumnya. Tetapi jalan itu adalah jalan yang benar dan dipimpin Roh Kudus.

            Karena itu kata kunci untuk tampil sebagai pribadi dengan identitas pembeda diawali dengan kalimat “akan tetapi kamu” (humeis de). Jadi kata “de” (akan tetapi) menunjuk pada realitas yang kontradiktif dengan pola hidup duniawi. Wujud identitas pembeda dideskripsikan dengan kata kerja “bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” Setiap umat percaya dipanggil membangun diri sendiri dan berdoa dalam Roh Kudus. Dengan membangun diri sendiri, seseorang sedang merancang bangun sosok kepribadian yang excellence sebab didasarkan pada landasan yang paling kudus. Proses membangun diri tersebut senantiasa terbuka dengan karya pembaruan Roh Kudus.

            Kita hidup di tengah 2 arus utama, yaitu membangun diri ataukah merusak diri. Pilihan etis yang eksistensial harus kita lakukan di atas dasar yang paling suci dengan pertolongan Roh Kudus. Hidup setiap saudara adalah mulia. Jadi jangan biarkan dunia merusak atau menghancurkan diri sendiri dengan mengikuti jalan dunia ini. YBM

Refleksi:

Identitas pembeda tidak identik dengan pribadi yang suka membeda-bedakan sesama.

Perjamuan Kawin

Wahyu 19:1-9

Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah” (Why. 19:9).

Setiap perjamuan kawin pastilah ditandai oleh sukacita yang eksistensial. Sebab perkawinan pada dasarnya hanya satu kali terjadi, kegembiraan yang melibatkan seluruh keluarga dan handai-taulan, serta awal dari kehidupan baru. Metafor inilah yang dipakai oleh Kitab Wahyu untuk menggambarkan relasi Kristus dengan jemaat selaku mempelai perempuan yang dihadiri oleh seluruh orang kudus dan para malaikat di sorga. Suasana sorga digambarkan seperti perjamuan kawin yang penuh sukacita, kekudusan dan kebenaran. Pusat perjamuan kawin itu adalah Anak Domba, Sang Kristus yang telah berkurban bagi keselamatan seluruh umat manusia.

            Namun sayang makna perjamuan kawin di sorga sering diubah menjadi pengajaran tentang pesta seks di sorga. Bahkan demi mewujudkan ajaran demonik itu beberapa orang berlomba-lomba menjadikan dirinya mati “syahid” dengan membunuh orang lain. Sebaliknya perjamuan kawin Anak Domba justru dihadiri oleh orang-orang yang telah hidup baru dalam kebenaran karena telah dibasuh oleh penebusan Kristus. Nilai-nilai rohani yang ditonjolkan adalah kesetiaan seperti suami-istri, kekudusan perkawinan, dan relasi persaudaraan sebagai keluarga. Sebaliknya “pelacur besar” ditolak dan dihukum Allah sebab telah menimbulkan “kerusakan besar” bagi bumi, menyebarkan kcemaran dan melakukan genoside (Why. 19:2).

            Saat ini manusia berada di antara karya “Sang Anak Domba” yang berkurban bagi keselamatan umat manusia dengan “Sang Pelacur Besar” yang mengorbankan manusia demi keselamatannya sendiri. Mengikuti Kristus berarti secara konsisten menolak pola dan pemikiran dari Sang Anti-Kristus. YBM

Refleksi:

Waspada dan selalu menguji setiap roh akan menuntun kita diundang dalam Perjamuan Kawin Anak Domba Allah.

Otoritas Kristus

Yohanes 5:19-40

Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya (Yoh. 5:21).

Ke-Tuhan-an Yesus ditolak sebagian orang karena dianggap buatan atau pikiran gereja atau konsili di Nicea (tahun 325) dan Konstantinopel (tahun381). Problem yang dianggap rumit ini sebenarnya sederhana saja. Pernyataan keTuhanan Yesus diucapkan dan dibuktikan oleh Yesus sendiri yang menyingkapkan relasi khusus Allah dengan Dia selaku Sang Firman. Sang Bapa berkuasa membangkitkan dan menghidupkan orang-orang mati, demikian Dia melakukan sama sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Sang Bapa adalah kekal dan berkuasa, demikian pula Sang Firman. Sebab melalui Firman-Nya, Allah menciptakan segala sesuatu. Melalui Kristus, Allah menyingkapkan keberadaan diri-Nya agar dapat dikenal dan dikasihi.

            Kemahakuasaan Allah dinyatakan dalam kemajemukan pribadi yang terintegrasi dalam Allah yang Esa. Yohanes 5:26 Yesus berkata: “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.” Itu sebabnya relasi dan iman kepada Kristus menjadi prasyarat untuk memperoleh keselamatan dan hidup kekal. Otoritas-Nya seharusnya menguasai seluruh hidup umat percaya, Mengabaikan otoritas Kristus berarti memilih untuk hidup di luar keselamatan Allah. Pilihan itu akan menyebabkan manusia akan berada di bawah penghakiman (Yoh. 5:27, 29).

            Realitas kehidupan kita sering berada di luar otoritas Kristus. Kita lebih akrab dengan otoritas dan nilai-nilai dunia. Akibatnya kita dikendalikan oleh kehendak, keinginan dan pemikiran dunia yang membinasakan. Tiba saatnya bagi kita berbalik kepada Kristus agar di tengah gejolak, krisis dan pergumulan yang terjadi hidup kita berada dalam rengkuhan kasih-Nya. YBM

Refleksi:

Siapakah yang menguasai hidup Saudara? Otoritas Kristus ataukah otoritas dunia?

Injil yang Kekal dan Martir

Wahyu 14:6-19

Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: Berbahagialah orang- orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka (Why. 14:13).

Ayat Wahyu 14:13 ini sering dikutip saat pemakaman. Suasana ayat ini mendukung, tetapi konteksnya kurang tepat. Sebab makna “orang-orang yang mati dalam Tuhan” ditempatkan dalam konteks mati sebagai martir. Para martir tersebut wafat demi iman kepada Kristus tersebut karena mereka memberitakan Injil Kristus. Di Wahyu 14:6 menyatakan bahwa Injil yang kekal itu diberitakan kepada seluruh bangsa. Para martir memberitakan Injil yang kekal itu bersedia membayar harga dengan mempertaruhkan hidup mereka. Itu sebabnya Wahyu 14:12 menekankan pada spiritualitas ketabahan, ketekunan dan kesetiaan umat percaya sampai pada akhirnya.

            Pengutusan, memberitakan Injil, tabah dan setia sampai pada akhirnya merupakan bingkai dan alasan utama hidup berbahagia mati dalam Tuhan sejak sekarang ini. Karena itu kata “perbuatan” (Why. 14:13) menunjuk tindakan orang-orang tabah dan setia sebagai pemberita Injil. Kata “perbuatan” adalah terjemahan dari kata terountes yang berarti: memenuhi perintah, menjaga dengan setia, tidak pernah melarikan diri dan berjiwa seorang prajurit. Menjadi pengikut Kristus seperti seorang prajurit yang setia pada perintah dan siap mengorbankan nyawa.

            Jiwa kemartiran lahir dari spirit seorang prajurit yang dididik dengan nilai-nilai luhur demi membela bangsanya. Karena itu seorang prajurit tidak pernah berjiwa pecundang, mengorbankan orang lain, membebaskan diri dari kesenangan atau keuntungan diri sendiri. Setiap umat percaya pada hakikatnya adalah prajurit yang siap menjadi martir untuk kebenaran yang menyelamatkan dan membebaskan. YBM

Refleksi:

Kemartiran diawali dan dihidupi oleh penyangkalan diri.

Pengudusan dan Kasih Persaudaraan

1 Tesalonika 4:1-18

Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan (1Tes. 4:3).

Jemaat di Tesalonika dinasihati agar mereka melakukan kasih persaudaraan. Di Surat 1 Tesalonika 4:10 menyatakan “supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.” Relevansi kasih persaudaraan tidak terbatas pada suatu masa, tetapi dibutuhkan dalam realitas kehidupan umat manusia sepanjang zaman. Tetapi dalam praktiknya manusia justru gagal mewujudkan kasih-persaudaraan. Karena itu relasi dan komunikasi sering sarat dengan konflik, pertikaian, perseteruan, peperangan dan pembantaian satu terhadap yang lain. Padahal berbagai metode telah ditempuh baik melalui pengembangan filsafat etika, religiusitas, budaya, dan pendidikan.

            Namun sumber kegagalan menjalin kasih-persaudaraan sesungguhnya adalah jauh dari pengudusan. Di dalam makna “pengudusan” mengandung kemurnian hati, integritas, kesetiaan, dan hidup yang benar. Dengan hidup dalam “pengudusan” setiap umat dimampukan untuk merealisasikan relasi yang dilandasi oleh kemurnian, kesetiaan, integritas dan nilai-nilai kebenaran. Karena itu konteks makna “pengudusan” ditempatkan dalam relasi suami-istri yang saling mengasihi dan setia. Relasi intim mereka tidak didasari oleh hawa-nafsu seksuil, tetapi kekudusan hati.

            Konflik dan permusuhan dalam relasi dengan manusia bersumber pada hati yang cemar. Selama kita belum berhasil menguduskan hati yang cemar, maka hidup kita memancarkan segala yang jahat walau pun kita berupaya memoles dengan penampilan yang menarik. Betapa sering kita sibuk membuat berbagai polesan, kosmetika penampilan dan topeng-topeng kemunafikan tetapi tidak secara total menguduskan hati di hadapan Allah dan sesama. YBM

Refleksi:

Tanpa pengudusan, kita tidak mungkin dapat memandang wajah Allah dalam sesama kita.

Pembinasa Keji

Matius 24:15-31

Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel–para pembaca hendaklah memperhatikannya (Mat. 24:15).

Ucapan Yesus tentang pembinasa keji terwujud dalam peristiwa tahun 70 saat Jendral Titus dari Kerajaan Romawi menguasai, menaklukkan dan menghancurkan kota Yerusalem. Bait Allah dibakar dan dirobohkan. Pembantaian massal terjadi. Saat itu juga umat Israel terserak. Sejarah kerajaan dan ritual Bait Allah berubah total. Sampai saat ini Bait Allah dan wilayah Yerusalem masih menjadi sengketa internasional. Perayaan Tisha B’av dilakukan setiap tahun di antara bulan Juli-Agustus diperingati sebagai ratapan atas tragedi penghancuran Bait Allah.

            Namun nubuat ucapan Yesus tersebut tidak terbatas pada kisah sejarah tahun 70, tetapi juga peristiwa menjelang kedatangan-Nya. Di Matius 24:29 menyatakan bahwa matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Di antara masa itu muncul para mesias palsu. Jika demikian tokoh pembinasa keji adalah manifestasi dari mesias palsu yang berdiri di tempat kudus. Dia yang menginspirasi dan menggerakan umat manusia melakukan permusuhan, pertikaian dan peperangan. Beda dengan jendral Titus sebagai tokoh politik dan militer, mesias palsu ini menggabungkan kekuasaann politik dan keagamaan.

            Tugas umat percaya adalah menguji dan mengkritisi ajaran dari mesias palsu ini. Karena itu kita tidak perlu tertipu dengan penampilan luarnya yang tampak membela kemanusiaan tetapi di dalamnya penuh dengan spirit yang mematikan. Tiba saatnya setiap umat kini menjadi semakin cerdas, berpengetahuan, dan mengkritisi setiap gerakan para mesias palsu di tengah-tengah kita. YBM

Refleksi:

Para mesias palsu hadir secara internal dan eksternal, sehingga kita harus selalu menguji setiap roh.

Diteguhkan sampai pada Kesudahannya

1 Korintus 1:3-9

Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus (1Kor. 1:8).

Allah melimpahkan segala rahmat dan karunia kepada umat percaya. Namun tanpa peneguhan dari Dia, hidup kita akan bercacat. Kata “peneguhan” yang diterjemahkan dari kata bebiosei berarti: menopang, menguatkan dan mendukung dengan anugerah kuasa-Nya. Ketaatan dan kesetiaan umat tanpa peneguhan akan membuat kita tidak mampu bertahan sampai kepada kesudahannya. Sebab kita tidak mungkin dapat mengandalkan kepada kesalehan dan kebajikan manusiawi. Kerapuhan akibat dosa menyebabkan hati kita gagal terarah secara konsisten kepada Tuhan. Sebab hati dan pikiran kita lebih mudah terikat dengan keinginan dunia.

            Jemaat di Korintus disebutkan: “kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus, dan segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan” (1Kor. 1:4, 7). Mereka memiliki kompetensi, hikmat dan pengetahuan. Kondisi tersebut menyebabkan mereka bersikap sombong atau merasa lebih utama daripada sesamanya. Kecenderungan sikap tersebut akan membahayakan kehidupan mereka. Hal yang sama mungkin secara akademik kita berprestasi tinggi, memiliki kompetensi dan keahlian. Tetapi apabila bersikap sombong akan menjadi sia-sia.

            Peneguhan dari Tuhan akan kita terima apabila hati dan roh kita senantiasa merendahkan diri serta bersandar kepada-Nya. Korelasi peneguhan dari Tuhan tidak pernah terlepas dari perendahan diri umat. Bahkan semakin kita merendahkan diri, Tuhan meneguhkan dan memberi kekuatan yang dibutuhkan. Sebaliknya semakin kita meninggikan diri, semakin jauh kita jatuh terperosok tanpa pertolongan dari Tuhan. YBM

Refleksi:

Peneguhan dari Tuhan adalah kasih-karunia-Nya yang dilimpahkan di dalam batin umat yang merendahkan diri.

Nyanyian Kemenangan

Wahyu 15:1-8

Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa! (Why. 15:3).

Nyanyian Musa adalah nyanyian kemenangan karena Allah telah menyelamatkan umat Israel dari tentara Firaun (Kel. 15). Kemenangan mereka bersumber pada kekuatan Allah, bukan hasil kepandaian dan keahlian Israel. Peristiwa exodus dari Mesir tersebut menjadi prototype dengan karya penebusan Kristus, Sang Anak Domba. Melalui wafat dan kebangkitan Kristus, umat memperoleh keselamatan dan pendamaian dengan Allah. Pujian di Wahyu 15:3 tersebut merupakan respons iman di akhir zaman, apakah mereka tetap setia dan bertahan sampai kepada kesudahannya.

            Masa transisi antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedua merupakan masa penantian yang harus dinyatakan dalam kesetiaan kepada Kristus. Wahyu 15:1 menyatakan bahwa umat percaya akan mengalami 7 malapetaka yang menimpa bumi.

Kita tahu bahwa angka “tujuh” dalam kitab Wahyu menunjuk pada dimensi ilahi dan manusiawi. Karena itu ketujuh malapetaka tersebut bersifat holistik yang menguji dengan adil sebagai hukuman bagi orang-orang berdosa tetapi memurnikan bagi orang-orang yang hidup benar.

            Saat kita hidup dalam kebenaran, ketujuh cawan murka Allah tersebut berfungsi untuk melayakkan umat memasuki Bait Allah yaitu sorga. Tetapi bagi orang-orang yang hidup dalam kejahatan, ketujuh cawan murka Allah tersebut berfungsi untuk membinasakan. Kita hidup dalam realitas yang sama, yaitu rahmat dan keadilan Allah. Pembedanya adalah perbuatan, pilihan etis-moral, dan sikap hatinya. Namun apakah hidup kita memuliakan Allah ataukah larut dalam keinginan duniawi dengan menolak karya penebusan Kristus. YBM

Refleksi:

Kemenangan iman di akhir zaman ditentukan oleh pilihan etis kita di masa kini.

Lari dari Dosa Struktural

Wahyu 18:1-10

Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya (Why. 18:4).

Melarikan diri dari dunia bukanlah panggilan umat percaya. Namun melarikan diri dari cengkeraman dosa dengan penebusan Kristus adalah kewajiban. Simbol kota “Babel” semula dipakai untuk menunjuk pusat pemerintahan kerajaan Romawi. Tempat yang mempesona dan pusat kekuasaan tetapi penuh dengan intrik dan kejahatan. Secara figuratif menunjuk pada semua tempat yang di dalamnya dosa struktural berasal dan dihidupi. Karena itu suara dari sorga memerintahkan agar seluruh umat percaya segera pergi meninggalkan seluruh “tempat-tempat” kecemaran, kenajisan, penghujatan dan perlawanan kepada Tuhan.

            Kota “Babel” hadir dalam setiap aspek kehidupan kita. Ia tidak hanya hadir dalam dunia politik, ekonomi, sosial-budaya, dan pendidikan tetapi juga dalam kehidupan keagamaan dan keluarga. Pengaruh “Babel” begitu besar sehingga disebutkan: “Semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya” (Why. 18:3). Dalam kehidupan kita saat ini “Babel” menjelma menjadi “isme-isme” yang mempengaruhi dan mengendalikan keputusan etis setiap orang, misalnya: hedonisme, konsumerisme, kultus-individu, materialisme, terorisme, dan sebagainya.

            Kekuatan “Babel” mendorong manusia untuk melekat, adiktif dan tergantung. Apabila “sesuatu” itu tidak ada hidup kita terasa hambar dan mengalami kekosongan. Hanya dengan pergi meninggalkan pengaruh “Babel” dan berbalik kepada Allah, hidup kita menjadi bermakna. YBM

Refleksi:

Jerat dosa menguasai kita saat sengaja memilih mendatanginya. Tetapi keselamatan terjadi saat kita lari meninggalkannya.