Latest Article
Shepherd Leadership

Shepherd Leadership

(Kepemimpinan Gembala)

1 Petrus 5:1-5
Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri (1Petr. 5:2).

Kepemimpinan gembala merupakan model kepemimpinan yang paling fundamental dalam kehidupan umat Kristen. Dari sudut jumlah penggunaan kata ra’ah (gembala) di Perjanjian Lama digunakan 1198 kali. Di Perjanjian Lama, pemimpin umat Israel sering disebut dengan “gembala.” Di Yehezkiel 34:2, Allah menegur para pemimpin umat Israel, yaitu: “Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: “Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu?” Para pemimpin umat Israel tersebut ditegur oleh Tuhan karena mereka cenderung menggembalakan dirinya sendiri, sehingga mengabaikan peran dan tanggungjawab untuk menggembalakan umat. Mereka tidak peduli dengan penderitaan, kesulitan dan bahaya yang dihadapi umat yang sedang digembalakannya. Dalam konteks Yehezkiel 34 sangat jelas terlihat bahwa sebutan “gembala” berkaitan dengan peran kepemimpinan. Lebih jauh lagi Allah sendiri menggambarkan diri-Nya sebagai “gembala” bagi umat-Nya. Di Yehezkiel 34:12, Allah berfirman: “Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan.” Sebagai “gembala’ Allah akan mencari para domba-Nya, yaitu umat yang tercerai dan menyelamatkan mereka. Jadi kepemimpinan gembala merupakan model kepemimpinan yang paling fundamental dalam kehidupan umat Kristen karena Allah sendiri yaitu YHWH menyebut diri-Nya sebagai “Gembala” yang menggembalakan umat-Nya.

Di Perjanjian Baru, Yesus sendiri menyebut peran-Nya sebagai “gembala.” Di Yohanes 10:11, Yesus berkata: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Kata “gembala” dari bahasa Yunani dipakai kata poimen. Kata poimen digunakan di Perjanjian Baru sebanyak 17 kali. Kita dapat melihat kesinambungan peran Allah selaku “gembala” (ra’ah) dengan peran Yesus selaku “gembala” (poimen). Makna ra’ah dan poimen walau berbeda bahasa mengandung makna yang sama, yaitu peran pemimpin yang mengasuh, merawat, melindungi, peduli, memelihara dan menyelamatkan umat yang dipimpinnya. Dari kata “poimen” (gembala) tersebut dikembangkan menjadi poimnion yang berarti “kawanan domba.” Lalu kata kerja dari “poimen” itu adalah poimaino yang berarti: bertindak atau berperan sebagai seorang gembala.

Kekhususan peran “gembala” dapat kita lihat di kitab 1 Samuel 17:34-35, saat Daud berkata kepada Saul, yaitu: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.” Daud melakukan perannya sebagai seorang gembala yang mempertaruhkan nyawanya untuk menjaga dan melindungi semua hewan gembalaannya dari serangan binatang buas. Bagi Daud, peran seorang gembala bukan sekadar membawa kawanan dombanya mencari rumput hijau dan air minum, tetapi juga mampu menyelamatkan apabila menghadapi bahaya. Gambaran tentang peran gembala yang melindungi dan menyelamatkan domba-dombanya, mungkin sangat asing dalam kehidupan di Indonesia. Karena para gembala di Indonesia tidak pernah menghadapi serangan binatang buas saat menggembalakan kambing-dombanya. Bahkan makna kata “gembala” dalam konteks Indonesia bukanlah pekerjaan yang penting dan terhormat. Sebaliknya di Israel, pekerjaan “gembala” dianggap penting. Para leluhur Israel yaitu Abraham, Ishak dan Yakub adalah para gembala. Mereka sukses dalam menggembalakan kambing-dombanya. Jumlah kambing dan domba merupakan aset yang berharga bagi umat Israel di Perjanjian Lama. Dalam perkembangannya sebutan atau gelar “gembala” digunakan sebagai metafor untuk menggambarkan kepemimpinan Allah. Sebab YHWH adalah Gembala yang Agung, pelindung, penjaga, dan penyelamat bagi domba-domba-Nya. Peran tersebut kelak diwujudkan dalam diri Yesus sebagai “Gembala yang Baik.”

Di Efesus 4:11-12, gelar dan peran “gembala” disebutkan, yaitu: “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.” Gelar dan peran “gembala” (poimenas) disejajarkan dengan jabatan: rasul-rasul (apostolous), nabi-nabi (prophetas), pemberita Injil (euangelistas), dan pengajar-pengajar (didaskalous). Gelar dan peran “gembala” (poimen/ poimenas) kelak mulai abad XVI dilekatkan dalam jabatan seorang pendeta. Bahkan gereja Katolik sejak awal menyebut seorang pemimpin umat sebagai Pastor (gembala). Karena itu kemudian muncul gelar: Gembala Sidang, Gembala Jemaat, Pastor, Pastori, Penggembalaan Khusus, dan sebagainya. Istilah-istilah tersebut menegaskan pola kepemimpinan dengan karakter Kristus yang bersedia menyerahkan nyawa-Nya bagi para domba-Nya. Karena itu sangatlah tepat apabila surat 1 Petrus 5:2 menyatakan: “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.” Menurut surat 1 Petrus 5:2 tugas menggembalakan kawanan domba Allah tersebut harus dilakukan dengan “pengabdian diri.” Padahal kata “pengabdian diri” merupakan terjemahan dari kata prothumos yang artinya: “penuh semangat dan sigap.” Makna kata thumos dalam filsafat Platon dipakai untuk menunjuk keberanian bertarung melawan apa yang tidak benar. Karena itu seorang gembala akan segenap hati menjaga kawanan dombanya dengan penuh keberanian agar selamat dari bahaya kesesatan. Seorang gembala bagaikan benteng yang kokoh tempat di mana setiap kawanan dombanya berlindung. Ia sangat menguasai bidang tugas pelayanannya  (kompetensi), dan memiliki hati yang tulus mengasihi domba-dombanya (karakter Kristus).

Ciri dan kekhasan kepemimpinan gembala adalah keteladanan dan totalitas hidup yang dipersembahkan kepada orang-orang yang dipimpinnya sehingga mereka mengasihi dan melayani Kristus. Kepemimpinan gembala seharusnya bukan didasarkan pada klaim “sang gembala” bahwa dia peduli dan membela “para dombanya.” Kita sering menjumpai orang-orang yang disebut “pemimpin” atau ingin didukung sebagai pemimpin memberi janji-janji manis, tetapi tidak pernah diwujudkan. Mereka mengklaim menjadi pemimpin yang ideal tetapi faktanya sering begitu jauh! Karena itu kompetensi, kualitas dan keandalannya sebagai kepemimpinan gembala dinilai oleh orang-orang yang dipimpinnya, bukan berdasarkan anggapan atau penilaian dirinya sendiri. Orang-orang yang dipimpin oleh “sang gembala” mengalami proses pertumbuhan secara holistik, pemberdayaan, pengembangan diri dan pembaruan. Kepemimpinan Yesus selaku Sang Gembala dapat dialami oleh umat percaya sepanjang zaman, sehingga menghasilkan pribadi dan komunitas yang menginspirasi dan membawa daya pembaruan. Pernyataan Yesus selaku “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11) merupakan keteladanan yang dialami oleh umat percaya di tengah persoalan dan penderitaan yang dialami. Khususnya saat umat percaya melihat dan merefleksikan kematian Yesus di atas kayu salib untuk memberikan nyawa-Nya bagi mereka. Walau pun Yesus adalah Anak Allah namun bersedia mengosongkan diri-Nya dengan menjadi manusia untuk memberikan nyawa-Nya bagi keselamatan umat manusia. Model kepemimpinan gembala adalah kepemimpinan teladan yang dilandasi oleh totalitas mengabdikan diri dengan integritas dan kesetiaan untuk memberdayakan dan mengembangkan kualitas hidup orang-orang yang dipimpinnya. Untuk itu kekhasan kepemimpinan gembala pada hakikatnya didasarkan pada: a). Karunia/kompetensi, b). Relasi kasih, c). Sikap visioner yang berdampak, d). Kaderisasi dan regenerasi, e). setia sampai akhir secara excellence.

Pola kepemimpinan gembala yang pertama adalah didasarkan pada karunia atau kompetensinya. Kepemimpinan gembala tidak dapat berperan secara efektif apabila menganggap makna kepemimpinan sebagai “hak” (right). Dalam hal ini “sang gembala” menganggap memiliki “hak istimewa” misalnya suksesi rasuli, tahbisan sebagai pendeta, kedudukan dan wewenang sebagai pemimpin. Sikap orang-orang yang dipimpin terhadap para pemimpin yang merasa memiliki “hak” tersebut bukan didasari oleh kesetiaan dan komitmen yang tinggi tetapi hanya perasaan segan atau takut. Kepemimpinan gembala bukan didasarkan pada “hak” atau kedudukan khusus, tetapi utamanya adalah karunia dan kharisma. Orang-orang yang dipimpin melihat bahwa “sang gembala” adalah orang-orang dengan kedudukan terhormat yang memiliki kompetensi tinggi sesuai kapasitasnya. Karena itu mereka menaruh hormat dan kepercayaan kepada “sang gembala” dengan kompetensi yang dimilikinya. Kristus bukan hanya memiliki kedudukan yang istimewa sebagai Anak Allah dan Sang Firman Allah, tetapi utamanya Ia mampu membuktikan kuasa-Nya atas seluruh bumi dan sorga melalui kuasa mukjizat-mukjizat-Nya serta kebangkitan-Nya atas maut (bdk. Mat. 28:19).

Pola kepemimpinan gembala yang kedua adalah relasi kasih. Kekuatan yang sangat menonjol dalam pola kepemimpinan gembala adalah hati yang diliputi oleh kasih yang berempati dengan pergumulan, kebutuhan dan harapan dari orang-orang yang dipimpinnya. Ia memiliki inisiatif untuk membuka komunikasi, mendengarkan isi hati, aspirasi dan harapan-harapan orang-orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan gembala mampu menjadikan orang-orang yang dipimpinnya sebagai para sahabat. Mereka merasakan kehangatan, keramahtamahan, empati dan ketulusan dari sang gembala. Karena itu kepemimpinan gembala didukung oleh para sahabat yang memahami bahwa sang gembala mengasihi dengan tulus, dan mereka juga mengasihi sang gembala. Sikap saling mengasihi mendatangkan rasa hormat (respect). Kepemimpinan gembala tidak menekankan aspek hirarkhis, tetapi bagaimana setiap aspek mampu berperan sesuai fungsinya dan sinergis. Selaku gembala yang baik, Yesus mengasihi para murid-Nya dengan kasih yang tanpa syarat sehingga Ia membasuh kaki para murid-Nya, menjadikan para murid sebagai sahabat-sahabat-Nya (bdk. Yoh. 13:1-5; 15:14-15).

Pola kepemimpinan gembala yang ketiga adalah visi yang berdampak. Orang-orang bersedia mengikuti sang gembala karena ia memiliki visi yang penting dan membuktikan visi itu dalam realitas kehidupannya. Visi sang gembala begitu jelas, inspiratif dan memotivasi mereka untuk melakukannya sehingga menghasilkan dampak yang signifikan. Sikap visioner yang tidak berdampak tidak akan mampu membawa perubahan terhadap kualitas hidup orang-orang yang dipimpin. Melalui visi sang gembala, orang-orang yang dipimpinnya menemukan makna dan tujuan hidup mereka sehingga mendukung dan memperjuangkan visi pemimpinnya. Visi sang gembala menghasilkan dampak yang sinergis bagi orang-orang yang dipimpinnya. Karena itu melalui visi sang gembala tersebut, orang-orang yang dipimpin mengalami perkembangan, kemajuan dan prestasi yang membanggakan. Mereka mengalami kehidupan menjadi otentik dan berkualitas. Selaku sang gembala, Yesus menjadikan orang-orang yang percaya dan mengikuti-Nya dengan makna hidup yang berlimpah (Yoh. 10:10b).

Pola kepemimpinan gembala yang keempat adalah kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan yang efektif. Sang gembala sebagai pemimpin memberi pelatihan dan kesempatan bagi orang-orang yang dipimpinnya untuk melakukan tugas-tugas kepemimpinan. Proses kaderisasi dan regenerasi disiapkan secara matang, sehingga sumber daya manusia mengalami peningkatan secara kualitatif. Kepemimpinan gembala tidak berfokus kepada dirinya, tetapi peningkatan dan pengembangan kepemimpinan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin gembala yang “palsu” akan menjadikan orang-orang yang dipimpinnya kehilangan kepercayaan diri, tidak mampu mengembangkan talenta yang dimiliki, tidak terlatih, tergantung kepada dirinya dan kultus-individu. Sebaliknya pemimpin gembala yang otentik menjadikan hidupnya sebagai media yang mentransformasi orang-orang yang dipimpinnya menjadi pribadi yang seutuhnya dan pemimpin yang andal. Selaku gembala, Yesus melatih para murid-Nya sebagai pemimpin dengan belajar dari Dia secara langsung. Karena itu Yesus membentuk formasi murid-murid-Nya menjadi 3 lingkup, yaitu: 3 orang murid yang khusus, 12 orang murid, dan 70 orang murid. Tanpa kemampuan dan pelatihan leadership yang andal dari Kristus, mustahil kekristenan mampu bertahan 2000 tahun lebih sampai sekarang.    

Pola kepemimpinan gembala yang kelima adalah setia sampai akhir secara excellence. Seluruh pola kepemimpinan pertama sampai keempat tidak akan memiliki arti jikalau sang gembala kelak mengakhiri hidup dengan cara yang tidak pantas dan disintegratif. Apa artinya sang gembala selaku pemimpin memiliki berbagai karunia/kompetensi, relasi kasih, sikap visioner yang berdampak, mampu membuat kaderisasi/regenerasi jika akhir hidupnya justru menyimpang dan menyangkal Kristus. Makna “mengakhiri dengan excellence” merupakan buah kesetiaan kepada Kristus sampai pada akhirnya sehingga menghasilkan legacy (warisan) iman yang tidak lekang oleh waktu. Sang gembala selaku pemimpin sampai akhir hidupnya berhasil finishing well. Yesus Kristus selaku Gembala berhasil finishing well, sehingga surat Filipi 2:8-9 berkata: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.” Nilai legacy yang paling berharga dari seorang pemimpin adalah kesetiaan dan ketaatan sampai pada akhirnya walau ia harus mengalami penderitaan, penolakan dan kematian.

Dari ulasan di atas kita dapat melihat bahwa pola kepemimpinan gembala (shepherd leadership) pada hakikatnya mengimplementasikan kepemimpinan Kristus. Core-spiritual kepemimpinan Kristus berpusat pada hati dan karakter Allah yang mengasihi, peduli dan menyelamatkan manusia. Pola kepemimpinan umat percaya seharusnya didasarkan pada kepemimpinan Kristus yang mengasihi, peduli dan menyelamatkan. Lingkup kepemimpinan umat percaya terjadi dalam setiap bidang kehidupan apakah dalam organisasi sekuler, profesi, anggota masyarakat dan anggota keluarga. Tepatnya setiap umat percaya adalah gembala bagi sesamanya. Makna berperan sebagai pemimpin gembala adalah: “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (1Petr. 5:3). Keteladanan adalah kata kunci yang utama, yaitu teladan dalam: integritas, kesetiaan, ketaatan, kerendahan-hati dan kesediaan untuk berkurban. Dengan lima elemen keteladanan tersebut umat percaya menghadirkan damai-sejahtera, pemberdayaan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi orang-orang di sekitarnya.

Dalam konteks masa kini yang saling interdependensi setiap umat seharusnya saling menggembalakan dan melengkapi. Jemaat adalah persekutuan para gembala yang saling peduli dan menggembalakan. Umat adalah para pribadi yang hadir sebagai pemimpin gembala di setiap bidang yang dipercayakan Tuhan. Pola kepemimpinan gembala seharusnya dihayati oleh setiap umat percaya. Kini posisi kepemimpinan gembala tidak cukup diletakkan dalam tanggungjawab seorang pendeta dan penatua, atau pun para pemberita Injil tetapi bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus. Sebab kini semakin disadari bahwa setiap orang memiliki talenta, kompetensi, skill dan panggilan hidup yang saling melengkapi. Apabila seluruh talenta, kompetensi dan skill tersebut disinergikan maka akan terjadi transformasi yang berdampak luas. Reformasi dalam kehidupan akan terjadi. Hidup setiap orang akan semakin berkualitas. Pemberdayaan semakin meningkat. Kesejahteraan semakin merata. Karena itu dengan kepemimpinan gembala (shepherd leadership) yang benar, perkataan Tuhan Yesus akan terwujud dalam pola kepemimpinan kita, yaitu: “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10). Pola kepemimpinan gembala (shepherd leadership) diperlukan pada masa kini untuk dipraktikkan dalam setiap bidang kehidupan umat manusia.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono