Latest Article
Growing Together in Christ (Pembentukan Sel-grup di Tengah Jemaat)

Growing Together in Christ (Pembentukan Sel-grup di Tengah Jemaat)

Jemaat berkembang. Itulah harapan setiap umat percaya. Namun bagaimana jemaat dapat berkembang secara kuantitatif apabila tidak mengalami pertumbuhan. Makna “pertumbuhan” (grow) menunjuk pada proses peningkatan (increase) sehingga mengalami perubahan (change) yang semakin matang (maturity). Setiap anggota jemaat akan mengalami pertumbuhan apabila mereka secara rohani mengalami proses peningkatan-perubahan-kematangan. Pertumbuhan jemaat didasarkan pada esensinya sebagai Tubuh Kristus. Hakikat gereja adalah Tubuh Kristus.

            Dalam konteks gereja berfungsi sebagai Tubuh Kristus, Tuhan Yesus memanggil dan memberi karunia para pemimpin jemaat. Di Efesus 4:11 menyatakan: “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.” Fungsi dan peran para pemimpin jemaat adalah membangun Tubuh Kristus agar setiap anggota jemaat mengalami proses pertumbuhan. Makna pertumbuhan yang perlu dilakukan oleh para pemimpin jemaat dalam perspektif teologi rasul Paulus adalah: “Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef. 4:12-13).

            Makna kata “memperlengkapi” di Efesus 4:12 menggunakan kata katartismon yang secara harafiah berarti: complete furnishing, perfecting. Dalam pengertian katartismon jelas bahwa tindakan “melengkapi” bukan sekadar menambahkan sesuatu agar lengkap, tetapi mengandung tindakan menyempurnakan. Para pemimpin jemaat dipanggil Kristus untuk menyempurnakan proses pertumbuhan anggota jemaat sehingga mereka mampu mencapai kesatuan iman, pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Tugas menyempurnakan (katartismon) tidaklah mungkin dilakukan dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan manusiawi. Karena itu setiap pemimpin membutuhkan anugerah dan karunia-karunia roh. Para pemimpin jemaat membutuhkan kuasa dari atas, yaitu anugerah ilahi agar mereka cakap dan mampu mengerjakan tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

             Allah mengaruniakan hikmat dan gagasan-gagasan kreatif melalui firman Tuhan. Tetapi problemnya adalah bagaimana agar gagasan-gagasan kreatif dapat berpengaruh dalam proses pertumbuhan jemaat? Dalam tulisannya tentang “Jemaat Vital dan Menarik” Jan Hendriks mengutip teori dari ilmu-ilmu sosial, yaitu bahwa suatu ide atau gagasan hanya dapat berlangsung jikalau ada struktur sosial (Hendriks 2006, 20). Struktur sosial yang dimaksud adalah grup, kelompok. Tanpa struktur sosial dalam bentuk grup, berbagai gagasan akan menguap. Teori ilmu-ilmu sosial tersebut terbukti benar bahwa pengajaran Kristus terus berlangsung karena dipelihara, dijaga dan dirawat oleh komunitas yang bernama ekklesia (jemaat, gereja). Seluruh berita Injil tentang Yesus Kristus diletakkan dalam kehidupan jemaat. Injil Yesus Kristus yang kita kenal menurut Matius-Markus-Lukas-Yohanes berakar dalam kehidupan komunitas umat percaya. Surat-surat rasuli yang ditulis oleh rasul Paulus, rasul Petrus, rasul Yakobus, rasul Yudas dan rasul Yohanes dalam kitab Wahyu dijangkarkan dalam komunitas jemaat.

            Gagasan hanya dicerna, direnungkan dan dihidupi oleh struktur sosial dalam komunitas jemaat. Semua gagasan yang brillian, kreatif dan berharga akan sia-sia sehingga tidak membawa pengaruh yang paling sederhana sebab tidak dihidupi dan dihayati oleh orang-orang yang berada dalam komunitas. Sebab melalui komunitas, setiap umat akan berpartisipasi dengan gagasan yang disampaikan. Lebih jauh lagi gagasan-gagasan dalam penyataan Allah dilakukan dalam bentuk perjanjian. Relasi Allah dengan umat percaya diikat dalam perjanjian (berit). Melalui perjanjian (berit), umat dilibatkan secara proaktif untuk ambil bagian dalam sejarah keselamatan Allah. Karena itu gagasan-gagasan yang dinyatakan dalam firman Tuhan menjadi media inspirasi dan komunikasi personal sehingga umat mengalami perjumpaan dengan Allah yang hidup. Persekutuan (koinonia) menjadi media penyataan (pewahyuan) firman Allah yang memanggil umat percaya untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah.

            Namun bukankah sekarang komunitas jemaat telah melakukan persekutuan (koinonia) setiap hari Minggu? Umat percaya menerima firman Tuhan dan mengalami perjumpaan dengan Allah Trinitas. Realitas tersebut tidak dapat diingkari. Namun problemnya adalah semakin besar jemaat, semakin sulit bagi mereka untuk saling mengenal secara personal. Hubungan antar anggota jemaat menjadi formal dan impersonal. Mereka tidak dapat saling menguatkan, peduli dan mengasihi. Dalam situasi ini ikatan batin dan emosional sebagai persekutuan atau komunitas sangat rapuh.

            Komunitas akan memiliki kedekatan secara personal apabila menjadi sel atau kelompok-kelompok kecil untuk tumbuh bersama. Sel-grup atau Kelompok Tumbuh Bersama akan efektif apabila para anggota dalam setiap kelompok berkomitmen untuk belajar bersama akan kebenaran dan kekayaan firman Tuhan. Dalam konteks ini sel-sel grup dalam kehidupan jemaat menjadi Kelompok Belajar Bersama (KBB). Jumlah keanggotaan dari KBB sekitar 5-6 orang yang sehati untuk tumbuh bersama. Mereka menjadi saudara seiman yang saling menerima, mengampuni dan menghargai dengan kasih yang tanpa syarat. Karena itu keanggotaan dalam KBB tidak boleh berpindah-pindah. Keanggotaan dalam KBB bagaikan ikatan keluarga yang sedarah, sehingga mereka akan selalu menjaga nama baik dan kerahasiaan (confidential) serta pergumulan yang dialami oleh para anggotanya. Mereka menghidupi dan mempraktikkan spiritualitas kesetiaan kepada anggota walau terlihat berbagai kekurangan dan kelemahan insaninya.

            Kasih diuji dan dilatih melalui kelemahan, keterbatasan dan kekurangan dari para anggotanya. Ketika kita saling menuntut kesempurnaan, kemampuan, kelebihan dan kehebatan para anggota sesungguhnya kita jauh dari tindakan kasih. Firman Tuhan menyatakan: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1Kor. 13:4-5). Seluruh aspek dalam definisi kasih tersebut mengandaikan bahwa kita menghadapi realitas orang-orang yang terbatas, lemah dan berdosa. Itu sebabnya dalam KBB setiap anggota berkomitmen untuk belajar sabar, murah-hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

            Manakala setiap sel-grup dalam KBB berhasil membentuk persekutuan yang tumbuh bersama dalam kasih dan pengenalan akan firman Tuhan, maka dampaknya begitu besar. Sel-grup dalam KBB tersebut menjadi sel-sel yang sehat selaku Tubuh Kristus. Jemaat tersebut akan menghasilkan pertumbuhan yang ditandai oleh peningkatan (increase), perubahan (change) dan kedewasaan (maturity). Pertumbuhan rohani yang sehat dan utuh sebab setiap umat percaya mengalami penyempurnaan dalam kesatuan iman, pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Elemen-elemen spiritualitas tersebut bukan sebagai sekadar gagasan atau ide, tetapi nilai-nilai iman yang dihidupi dan dihayati oleh para anggota dalam setiap komunitas. Pertumbuhan rohani jemaat Kristen perdana sangat memperhatikan relasi dan komunikasi dengan sesama anggota jemaat. Kisah Para Rasul 2:46 menyatakan: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah.”

Kedewasaan rohani dan kesatuan iman di antara umat percaya tersebut menyebabkan mereka disukai oleh banyak orang. Kisah Para Rasul 2:47 menyatakan: “Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Pertumbuhan rohani sebagai komunitas menyebabkan jemaat perdana mengalami perkembangan. Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Perkembangan jemaat secara kuantitatif tidak akan terjadi apabila tidak terjadi pertumbuhan rohani secara kualitatif dalam komunitas umat percaya.

Setiap jemaat memiliki visi agar gerejanya semakin berkembang secara kuantitatif. Karena di dalam cita-cita tersebut tersembunyi kerinduan semakin banyak orang mengenal dan menerima Kristus selaku Tuhan, juga Juruselamatnya. Setiap gereja dipanggil menyebarkan benih-benih Injil Kerajaan Allah agar melalui Injil Kristus tersebut kehidupan umat manusia ditransformasikan ke dalam pelukan rahmat kasih Allah. Harapan dan visi luhur dari gereja Tuhan akan terwujud apabila perkembangan jemaat tersebut dibangun melalui pertumbuhan rohani para anggota jemaat salah satunya yang penting adalah melalui sel-grup yaitu KBB. Kesalahan paradigma yang sering dinyatakan misalnya: “kami tidak perlu mengupayakan perkembangan jemaat secara kuantitatif, tetapi berorientasi pada kualitas.” Pertanyaannya adalah jikalau memang berorientasi pada kualitas seharusnya berdampak pada perkembangan secara kuantitatif. Sebab sesuatu yang bermutu tinggi akan menggerakkan dan menarik banyak orang untuk menjadi bagian (anggota) dari suatu institusi tersebut. Jadi apabila institusi mana pun yang tidak mampu membawa perkembangan secara kuantitatif sesungguhnya mereka tidak mengalami pertumbuhan secara kualitatif. Tepatnya secara kuantitatif dan kualitatif mereka sama sekali tidak mengalami kemajuan.

Jemaat merupakan persekutuan umat secara massal. Kita perlu membuka ruang bagi anggota jemaat untuk membentuk kelompok kecil-kelompok kecil (sel grup). Sebagaimana di bagian awal saya menjelaskan bahwa sel-grup yang terbentuk bagaikan anggota keluarga yang memiliki ikatan abadi. Mereka tidak boleh berganti-ganti kelompok. Masing-masing anggota menghayati kesetiaan dan saling menjaga rahasia. Untuk itu perlu disosialisasikan terlebih dahulu prinsip-prinsip sel-grup yang kita namai sebagai Kelompok Belajar Bersama (KBB), yang diringkas dengan EAGLES[1], yaitu:

  • E = Everyone is important
    • Setiap orang memiliki kedudukan, hak dan tanggungjawab yang sama sehingga tidak ada hirarkhi dalam bentuk apa pun.
  • A = Atmosphere
    • Iklim persekutuan hangat dan bersahabat sehingga tidak diizinkan membicarakan atau menilai orang lain.
  • G = Grow
    • Komitmen untuk bertumbuh dalam karakter dan pengetahuan yang benar tentang firman Tuhan
  • L = Lift up your faith and pray for more people
    • Kerinduan untuk saling mendoakan dan peduli dengan antusias membawa teman atau sesama untuk mengalami sentuhan kasih Allah.
  • E = Equipped and powered
    • Rendah hati untuk diperlengkapi dan saling memberdayakan
  • S = Safe and secure
    • Prinsip konfidensial sehingga setiap anggota merasa nyaman untuk terbuka, dihargai dan diterima sebagaimana adanya.

Sebagaimana dipahami bahwa media sel-grup dalam bentuk Kelompok Belajar Bersama (KBB) hanyalah salah satu instrument untuk mengajak bertumbuh dan berkembang. Namun tidak berarti membentuk sel-grup dalam kehidupan mudah dan tanpa persoalan. Beberapa alasan dari beberapa anggota jemaat untuk kurang mendukung terbentuknya sel-grup berupa KBB, yaitu:

  1. Anggota jemaat telah cukup sibuk dengan tugas pelayanan di tengah-tengah jemaat.
  2. Kesulitan mengatur waktu karena tuntutan pekerjaan atau karier.
  3. Keengganan terbuka sebab sulit percaya kepada orang lain
  4. Merasa mampu bertumbuh dalam kerohanian secara personal
  5. Manfaat sel-grup dalam KBB belum teruji oleh waktu.

Untuk mengatasi berbagai kesulitan dan hambatan, peran Majelis Jemaat sangat dibutuhkan. Proses pembentukan sel-grup membutuhkan sosialisasi, penjelasan, keterbukaan, dan masukan dari anggota jemaat. Kebijakan yang arif dan kepemimpinan dibutuhkan oleh Majelis Jemaat untuk meyakinkan anggota jemaat. Dalam konteks ini kita dapat mempertimbangkan masukan atau pemikiran dari Jan Hendriks dalam bukunya yang berjudul Jemaat yang Vital dan Menarik. Walau perlu diingat bahwa Jan Hendriks sama sekali tidak menulis bukunya untuk pembentukan sel-grup dalam bentuk KBB.[2] Sebaliknya Jan Hendriks mengulas bagaimana agar komunitas jemaat dapat bertumbuh dan berkembang. Model-model kepemimpinan ini dapat diterapkan dalam sel-grup (KBB) yang terbentuk dalam komunitas jemaat, yaitu:

1Iklim yang positifBersedia berpartisipasi, jujur dan terbuka
2Kepemimpinan yang menggairahkanMelayani bukan memerintah, mendelegasikan tugas, menghargai kebenaran dan tidak menghukum keterbukaan, koperatif
3Struktur 1: Relasi AntarindividuKeterbukaan, bersedia berkurban, mudah dikontak, saling memberi ruang, berhak membela kepentingan diri asal sesuai aturan
 Struktur 1: Relasi AntarkelompokStruktur sederhana, desentralisasi, kadar komunikasi yang tinggi, tanpa tembok, jarak pimpinan-anggota relatif pendek
4Tujuan yang menggairahkan dan Tugas yang menarikPengambilan keputusan bersama, keputusan atas dasar consensus, tanggungjawab bersama, pengakuan akan nilai manusia, pengurangan jarak sosial, tujuan bersama, penghargaan akan tugas orang lain, relevan, jelas, dapat dijangkau, relevan (berkaitan dengan dengan tujuan dan kebutuhan jemaat).
5Konsepsi Identitas yang menggairahkanJati-diri yang otentik, khas, kesadaran yang mendorong dan memotivasi umat untuk ambil bagian, perasaan bangga saat ditugaskan, kerinduan untuk berbagi (sharing).

            Belajar dari pemikiran Jan Hendriks, pembentukan sel-grup dalam bentuk KBB ditentukan oleh dua belah pihak, yaitu Majelis Jemaat (Pendeta dan para Penatua) dan para anggota jemaat yang akan membentuk kelompok kecil-kelompok kecil. Majelis Jemaat dan kelompok kecil-kelompok kecil memiliki 5 prinsip untuk menjadi jemaat yang vital dan menarik. Iklim yang kondusif-kepemimpinan yang menggairahkan-relasi antarindividu-relasi antar kelompok-tujuan yang menggairahkan dan tugas yang menarik-konsepsi identitas tercemin dalam tubuh Majelis Jemaat. Kondisi spiritualitas yang terjadi dalam tubuh Majelis Jemaat tersebut akan memberi pengaruh dan motivasi yang kuat pula bagi kelompok kecil-kelompok kecil untuk menciptakan Iklim yang kondusif-kepemimpinan yang menggairahkan-relasi antarindividu-relasi antar kelompok-tujuan yang menggairahkan dan tugas yang menarik-konsepsi identitas. Prinsip-prinsip tersebut akan memampukan jemaat secara keseluruhan menjadi ekklesia (gereja) yang bertumbuh secara kualitatif dan berkembang secara kuantitatif.

            Persiapan dan pelaksanaan secara operatif proses pembentukan sel-grup dapat ditempuh sebagai berikut, yaitu:

  1. Menentukan tujuan sel-grup, yaitu:
    1. Pemberdayaan anggota jemaat sesuai bakat, minat dan panggilan imannya.
    2. Penemuan jati-diri anggota jemaat yang telah dibarui di dalam Kristus
    3. Pendalaman wawasan iman yang berakar pada firman Tuhan
    4. Pekabaran Injil yang relevan dengan isu-isu kontemporer
    5. Pengembangan jemaat secara visioner dan progresif.
  2. Mengkader para pemimpin sel-grup, yaitu
    1. Pendeta dan Penatua berdasarkan pengamatan dan pengenalan para anggota jemaat yang telah melayani dapat memotivasi mereka untuk ambil bagian dalam tugas pelayanan sebagai pemimpin sel-grup.
    2. Masukan dan usulan dari tiap-tiap komisi yang mencalonkan mereka sebagai pemimpin sel-grup.
    3. Mengadakan percakapan kepada para pelayan yang bersedia untuk meneguhkan komitmen, kesetiaan, dan ketangguhan mereka dalam melayani di bidang pengembangan sel-grup.
    4. Memberi pelatihan khusus tentang makna, tujuan dan pola pelaksanaan sel-grup.
    5. Melengkapi mereka dengan dasar-dasar ajaran gereja dan spiritualitas iman Kristen serta kode-etik yang dibutuhkan dalam melaksanakan pelayanan di sel-grup.
  3. Menyiapkan materi:
    1. Sebaiknya materi disusun berdasarkan kurikulum dengan tujuan yang sesuai dengan visi-misi jemaat.
    2. Materi yang disiapkan berisi refleksi teologis, relevansi dengan kehidupan sehari-hari, dan pertanyaan untuk diskusi.
    3. Materi dibukukan seraya memberi arah kepada para peserta untuk mempersiapkan diri dengan membaca dan mengajukan pertanyaan setiap bagian sebelum melaksanakan pertemuan sel-grup.  
  4. Evaluasi:
    1. Dilakukan setiap akhir pertemuan sel-grup dalam bentuk angket sekitar 3 pertanyaan.
    2. Menerima masukan dan saran secara lisan dari anggota sel-grup.
    3. Setiap 3 bulan hasil-hasil evaluasi dibahas oleh Majelis Jemaat.
    4. Pendeta/Penatua yang bertugas menyampaikan hasil evaluasi seraya memberi motivasi dan masukan-masukan.

[1] Dikutip dari KTB di MIPA UGM, http://pmkmipaugm.blogspot.com/2012/06/kelompok-tumbuh-bersama-ktb.html (diakses tanggal 6 Juni 2022).

[2] Jan Hendriks di bagian Struktur 1 tentang relasi Antarindividu mengulas motivasi penting bagi umat untuk ikut dalam kelompok kecil. Dalam kelompok kecil umat akan mengalami gairah untuk berjumpa. Tetapi umat yang tergabung dalam kelompok kecil juga dapat mengalami halangan. Sebab saat mengungkapkan sesuatu mereka takut dapat merusak relasi dalam paguyuban tersebut (Hendriks 2006. 98).

Sumber ilustrasi: http://livingrockdisciples.blogspot.com/p/cell-group.html

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono