Latest Article
Ikut Menderita sebagai Prajurit Kristus (2 Timotius 2:1-7)

Ikut Menderita sebagai Prajurit Kristus (2 Timotius 2:1-7)

Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang
sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya
dengan demikian ia berkenan kepada komandannya (2Tim. 2:3-4).

Setiap negara memiliki kekuatan militer yang didukung oleh para prajurit dalam berbagai bidang dan pangkat. Tujuannya adalah agar negara tersebut aman dari ancaman atau serangan negara lain. Negara yang kuat dikaitkan dengan bagaimana kekuatan militernya. 

Semakin besar kekuatan militer suatu negara yang didukung oleh para prajurit yang terlatih dan dilengkapi dengan persenjataan yang canggih, maka ia akan disegani oleh negara-negara lain. Karena itu anggaran militer umumnya sangat besar. Global Fire Power mengeluarkan daftar negara-negara ASEAN tahun 2022 sesuai anggaran yang dikeluarkan, yaitu: 1). Singapura: 11,56 miliar US dolar, 2). Indonesia: 9,3 miliar US dolar, 3). Vietnam: 6,2 miliar US dolar, 4). Filipina 4,39 miliar US dolar, 4). Malaysia: 3,79 miliar US dolar. 

Untuk tingkat dunia saat ini Amerika Serikat menduduki ranking pertama. Menurut laporan The International Institute for Strategic Studies (IISS), AS menyediakan anggaran pertahanan sebesar US$738 miliar pada 2020. Jumlah itu setara dengan Rp10,61 kuadriliun (kurs US$ 14.386). Setelah itu peringkat kedua adalah Tiongkok, dan peringkat ketiga adalah India. 

Kekuatan militer yang utama sebenarnya ditentukan oleh sumber daya manusia yaitu para prajurit. Tanpa sumber daya manusia yang andal, maka seluruh perlengkapan militer dan teknologi yang tersedia akan sia-sia belaka. Sumber daya manusia tersebut bukan hanya pengetahuan dan strategi perang, tetapi utamanya adalah karakter dan mentalitas seorang prajurit. Karena itu proses pendidikan dan pelatihan prajurit ditandai oleh disiplin yang tinggi dan mentalitas yang tangguh. Para prajurit sejak awal pendidikan senantiasa terbiasa mandiri, tangguh, ulet, mampu melindungi diri sendiri, dan terlatih mengalami kesulitan serta tekanan yang ekstrem. 

Kata “prajurit” yang digunakan oleh rasul Paulus di 2 Timotius 2:3-4 adalah kata “stratiotes” yang arti harafiahnya adalah: warrior. Cambridge Dictionary menerjemahkan kata warrior dengan arti: “a person who has experience and skill in fighting.” 

Kata “fighting” (bertempur) bukan dalam pengertian negatif, yaitu suka berkelahi. Sebaliknya seorang warrior (prajurit) bertempur mempertaruhkan nyawa dengan tujuan untuk membela dan melindungi negaranya dari serangan musuh. Karena itu makna “stratiotes” (warrior) menunjuk jiwa seorang pahlawan. Mentalitas utama seorang prajurit adalah sikap kepahlawanan yang bersedia berkurban untuk keselamatan banyak orang. 

 Mentalitas kepahlawanan tersebut seharusnya menjadi darah dan daging dari seorang prajurit. Bahkan menjadi spirit dan filosofi hidupnya. Dengan demikian seorang prajurit tidak akan mudah untuk mengeluh saat ia mengalami kesulitan. Ia tidak pernah minta belas kasihan orang lain. Sebaliknya ia menjadikan setiap pengalaman yang sulit, berat dan kadang menyakitkan sebagai media pelatihan bagi jasmaniah dan mentalitasnya. Walau tidak jarang dalam proses pendidikan dan pelatihan para prajurit terjadi penyimpangan. 

Para instruktur atau komandan tentara melakukan kekerasan dan kekejaman kepada para calon prajurit yang melakukan kekeliruan. Akibatnya para prajurit tersebut mengalami trauma. Mereka berubah menjadi pribadi yang brutal, kejam dan kehilangan perasaan belas-kasihan kepada orang-orang di sekitarnya. 

Tujuan utama pembinaan mental agar para prajurit sangat tangguh, kuat, berani dan bersedia berkurban tidak boleh dilakukan dengan kekerasan secara verbal dan fisik. Sebaliknya tindakan kekerasan akan menyebabkan mentalitas seorang prajurit akan rusak. Prajurit yang mengalami trauma kekerasan akan menjadi seorang prajurit yang jahat, kejam dan suka menyakiti orang lain.

Prinsip yang sama juga berlaku dalam seluruh proses pendidikan di rumah dan di sekolah. Orang-tua, guru, dan dosen tidak boleh melakukan kekerasan verbal dan fisik kepada nara didik (anak-anak atau murid dan mahasiswanya). Latihan mentalitas prajurit dengan disiplin, kerajinan dan keuletan wajib dilakukan dalam suasana kasih. 

Apabila prinsip kasih dilanggar maka anak-anak, murid atau mahasiswa akan mengalami trauma. Akibatnya jiwa mereka akan rusak, tumbuh akar pahit dan kehilangan minat belajar. Itu sebabnya di 2 Timotius 2:3 rasul Paulus menasihati Timotius agar menjadi seorang prajurit yang baik (kalos stratiotes). Kata “kalos” (baik) dalam konteks ini menunjuk pada tindakan benar secara moral, bernilai, layak dan bermartabat. 

Jadi makna “prajurit yang baik” (kalos stratiotes) menunjuk pada sikap dan perilaku seorang prajurit yang bermartabat tinggi dalam moral, kelayakan dan keahlian sehingga ia mampu menjadi pelindung dan pembela bangsa-negaranya. Prajurit yang baik tidak akan pernah surut semangatnya untuk membela yang lemah dan tertindas walau ia harus mengalami penderitaan dan kehilangan nyawanya.  

Jikalau demikian seharusnya setiap orang Kristen memiliki jiwa seorang prajurit yang baik. Para orang-tua, guru dan dosen wajib mendidik setiap nara didik mentalitas seorang prajurit dalam proses disiplin, kerajinan, keuletan, kegigihan, dan semangat tangguh yang dilandasi oleh kasih dan anugerah Kristus. 

Anak-anak, murid dan para mahasiswa Kristen harus dilatih memiliki mental prajurit sejak dini untuk terbiasa mengalami kesulitan, penderitaan dan tantangan dengan kesediaan menyangkal diri. Di Lukas 9:23 Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Ada 3 syarat utama menjadi seorang prajurit yang baik, yaitu: menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. 

  1. Makna “menyangkal diri” dalam konteks ini adalah mengalahkan setiap dorongan ego atau kepentingan yang duniawi. Buah rohani yang dipetik adalah kemampuan untuk menguasai diri dalam segala hal. 
  2. Makna “memikul salib” adalah terbiasa memikul beban tanggungjawab dengan setia dan tuntas sehingga ia dipercaya.
  3. Lalu makna “mengikut Yesus” adalah meneladani Kristus dalam perkataan dan perilaku. Ia menjadikan Kristus selaku role-model, sehingga kehidupannya semakin serupa dengan Kristus (imitatio Christi). 

Model-model kepemimpinan iman Kristen tidak bisa dilepaskan dari pembinaan dan pelatihan seorang prajurit Kristus. Kita mengetahui bahwa minimal ada 3 jenis model kepemimpinan yang dikenal dalam kekristenan, yaitu: kepemimpinan pelayan, kepemimpinan sahabat, dan kepemimpinan gembala. 

  1. Makna kepemimpinan pelayan menekankan spiritualitas yang merendahkan diri dalam ketaatan yang total kepada Kristus selaku Tuan. Ia tidak mengejar pujian, penghormatan dan upah sebab bangga bahwa ia diperkenankan untuk melayani Sang Tuan. 
  2. Makna kepemimpinan sahabat menekankan spiritualitas yang menjalin relasi keakraban, kesetaraan, dan kemampuan untuk berkolaborasi. Sebagai sahabat seseorang dipanggil untuk setia, memberi ruang bagi mitranya untuk berkembang secara optimal dan bersinergi.  
  3. Makna kepemimpinan gembala menekankan spiritualitas yang peduli untuk menjaga, merawat dan melindungi sehingga ia bersedia berkurban untuk kebaikan dan keselamatan orang-orang yang digembalakannya.

Ketiga model kepemimpinan tersebut seharusnya terintegrasi satu sama lain, sehingga membentuk spiritualitas yang utuh. Dari kepemimpinan pelayan kita belajar untuk senantiasa rendah-hati dan taat. Dari kepemimpinan sahabat kita belajar untuk mengasihi dengan setia para rekan atau kawan sekerja. Lalu dari kepemimpinan gembala kita belajar berinisiatif untuk menjaga dan melindungi orang-orang yang menjadi tanggungjawab sehingga mereka selamat.

Tetapi ketiga model kepemimpinan tersebut akan lebih efektif apabila dilandasi oleh kepemimpinan prajurit. Sebab dengan model kepemimpinan prajurit akan memampukan kita terlatih untuk menghadapi kesulitan, kesusahan dan penderitaan dengan tabah. Ia tetap survive, tegar dan tangguh walau berada dalam kondisi sulit yang ekstrem. Mentalitasnya kuat seperti baja, tetapi ia tetap lentur dalam kasih. Seorang prajurit siap menderita tetapi tidak menyenangi penderitaan (masokhisme). 

Apabila seorang Kristen tidak memiliki mentalitas seorang prajurit yang baik, maka ia akan gagal menghayati perannya selaku hamba Kristus (kepemimpinan pelayan). Ia juga akan gagal menghayati perannya selaku seorang sahabat (kepemimpinan sahabat). Demikian pula ia akan gagal menjadi seorang gembala (kepemimpinan gembala). Mentalitas yang tahan banting  dari seorang prajurit menjadi dasar dari seluruh spiritualitas untuk mengikut Kristus.  

Panggilan menjadi seorang prajurit yang baik ditempatkan dalam konteks ikutlah menderita. Firman Tuhan berkata: Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Makna “penderitaan” yang bagaimana dimaksudkan oleh rasul Paulus? Tentunya kita tidak boleh menderita karena akibat kelalaian, kecerobohan, kemalasan, keserakahan dan kejahatan kita. Surat 1 Petrus 4:15 menyatakan: “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.” Siapapun yang melakukan kesalahan dan kejahatan harus siap menanggung risiko yang berat atas perbuatannya. 

Sebaliknya seorang prajurit yang baik akan siap menderita karena kebenaran, keadilan, perdamaian dan keselamatan banyak orang. Firman Tuhan di Petrus 4:16 menyatakan: “Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.”  Jadi makna “ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” menunjuk pada nilai dan martabat yang luhur dari seorang yang mengikut Kristus. 

   Dalam konteks ini pertanyaan yang mendasar adalah: “Perjuangan dan pertempuran yang bagaimanakah dari seorang prajurit Kristus?” Bukankah seorang prajurit utamanya berperan dalam pertempuran untuk membela keselamatan bangsa dan negaranya? Tetapi bukankah saat ini kita tidak bertempur secara fisik? Jikalau demikian bagaimana bentuk yang khas dari prajurit Kristus? Negara mana yang ia bela dan perjuangkan?

Pertempuran yang paling berat bukan melawan musuh insani. Sebaliknya kita sedang bertempur melawan kuasa kegelapan yang mencengkeram kehidupan setiap orang. Kita melawan kuasa dosa yang ada di dalam diri kita sendiri sekaligus kuasa dosa dalam struktur sosial, ideologi, budaya, adat-istiadat dan kemunafikan.

Prajurit Kristus sesungguhnya bertempur untuk terwujudnya realitas Kerajaan Allah di atas muka bumi. Ia bertempur untuk menjadi pendamai di tengah-tengah permusuhan, menegakkan keadilan di tengah-tengah ketidakadilan, ia menentang setiap bentuk sikap sewenang-wenang, dan menjadi pembela bagi orang-orang lemah dan tertindas. 

Selain itu seorang prajurit Kristus dengan penuh keberanian menyuarakan suara kenabian. Ia juga seorang pewarta kebenaran yang objektif walau arus utama (mayoritas) menentangnya. Firman Tuhan di surat 1 Petrus 3:14 berkata: “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.” Seorang prajurit siap menderita karena kebenaran. 

 Lebih daripada itu seorang prajurit Kristus siap mempertanggungjawabkan imannya. Seorang prajurit Kristus mampu menjelaskan pokok-pokok imannya secara rasional, argumentatif dan rendah-hati. Seorang prajurit Kristus tidak pernah malu dan menyangkal imannya walau orang-orang di sekitar sering mengolok-olok. Sebaliknya ia memberikan apologia yaitu mempertanggungjawabkan imannya secara elegan. 

Makna kata “apologia” dalam konteks ini adalah spiritualitas dan kemampuan untuk menjawab setiap tuduhan yang kurang benar sehingga para lawan mengalami pencerahan, terbukanya wawasan, dan akhirnya bertobat. Orang-orang di sekitar kita sering menyerang ke-Tuhan-an Yesus, salah memahami ajaran Trinitas, dan karunia-karunia Roh Kudus. 

Kepada mereka setiap kita dipanggil untuk memberi pemahaman tentang iman Kristen dengan penuh kesabaran, hikmat dan kelemahlembutan. Firman Tuhan di surat 1 Petrus 3:15-16 berkata: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

Pertanggungjawaban iman akan efektif apabila hati (spiritualitas) kita dikuduskan oleh Kristus. Apabila hati kita cemar sehingga dipenuhi oleh kemarahan, maka kita akan gagal mempertanggungjawabkan iman. 

Akhirnya karakteristik utama dari seorang prajurit adalah sejauh mana ia taat terhadap perintah komandannya. Seorang prajurit tidak diizinkan melakukan sesuatu di luar pengetahuan atau penugasan dari pimpinan atau komandannya. Seorang prajurit Kristus senantiasa tunduk dan taat kepada Kristus dan firman-Nya. Karena itu peran setiap umat percaya sebagai prajurit Kristus adalah menghidupi firman Kristus dengan setia. Ia tidak pernah boleh menambah atau mengurangi firman Tuhan. Firman Tuhan dihidupi dan disampaikan apa adanya. Ia seorang jujur, setia, dan berintegritas. 

Jika demikian, apakah kehidupan kekristenan kita telah ditandai oleh spiritualitas kepemimpinan prajurit Kristus? Tanpa spirit dan mentalitas seorang prajurit Kristus maka mustahil kita mampu berperan dalam kepemimpinan hamba, kepemimpinan sahabat,  dan kepemimpinan gembala. 

Mari kita menjadi para prajurit Kristus yang taat dan setia akan firman Tuhan. Untuk itulah kita rela dan ikhlas menderita.  

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono