Latest Article
Kumpulan Renungan V

Kumpulan Renungan V

Hari Penghakiman
Matius 25:31-46

Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorangdari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing (Mat. 25:31).

Dalam ibadah pemakaman sering dinyatakan bahwa almarhum sekarang berada di rumah Bapa. Tetapi di teks perikop menyatakan bahwa kelak semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan Kristus untuk dihakimi. Sebenarnya bagaimana sebenarnya? Apakah setiap orang akan dihakimi dua kali, yaitu saat kematiannya dan kemudian saat kedatangan Kristus?

                  Penghakiman di Akhir Zaman berlaku bagi seluruh umat manusia. Kematian yang terjadi sebelum penghakiman menandakan adanya suatu tempat penantian yang tidak dapat kita jelaskan. Konteks perikop Matius 25:31-46 bukan terjadi pada saat seseorang mengalami kematian, tetapi pada saat kedatangan (parousia) Kristus yang kedua. Tidak ada seorang pun yang tahu atau dapat meramalkan kapankah peristiwa kedatangan Kristus tersebut. Tetapi yang pasti Pengadilan Allah tersebut dilakukan oleh Kristus. Dengan kuasa dan wewenang-Nya Yesus akan memisahkan siapakah yang selamat dan siapa yang layak dihukum.  Kriteria yang dipakai oleh Yesus Kristus selaku Hakim dan Raja di Akhir Zaman itu adalah bagaimana kita memperlakukan sesama selama masih hidup. Apakah kita mengasihi atau mengabaikan dan menelantarkan sesama yang menderita?

                  Dengan kriteria itu ada kesan penghakiman di Akhir Zaman ditentukan oleh perbuatan kita. Tetapi apabila kita cermati dengan baik ternyata perbuatan tersebut juga ditentukan oleh sejauh mana kita memberlakukan iman kepada Kristus. Sebab bagaimana seseorang dapat memperlakukan sesama dengan penuh kasih jikalau ia menyangkal Kristus? YBM

Refleksi:
Cinta-kasih yang berkurban hanya terwujud apabila kita mengasihi Kristus dan percaya kepada-Nya.

Hikmat dari Atas
Yakobus 3:13-18

Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik (Yak. 3:17).

Di tengah teknologi dan pendidikan yang cerdas manusia membutuhkan hikmat. Karena itu hikmat merupakan kualitas rohani yang mampu mempertimbangan secara bijaksana. Tetapi yang sering dilupakan ternyata dunia juga menghasilkan hikmat. Karena itu makna hikmat dunia tidak senantiasa merepresentasikan  kualias rohani yang luhur. Hikmat dunia justru jauh dari dari keluhuran dan keadaban. Di dalamnya mengandung kebencian yang terselubung dan kekerasan yang brutal.

                  Hikmat yang menyelamatkan dan memulihkan berasal dari atas, yaitu Allah. Di surat 1 Korintus 1:24 Yesus disebut sebagai Kekuatan dan Hikmat Allah. Hikmat dari atas tersebut telah berinkarnasi menjadi manusia. Karena itu seharusnya setiap umat percaya meneladan karakter dan perilaku Kristus yang dideskripsikan sebagai pendamai, peramah, penurut, penuh belas-kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Di dalam Kristus Sang Hikmat Allah tidak ada kepalsuan. Ia murni, kudus dan penuh kasih. Karena itu pola hidup umat yang hidup dalam Hikmat Kristus tidak dapat bertoleransi dengan orang-orang yang hidup dalam hikmat dunia.

                  Internalisasi karakter dan hikmat Kristus hanya akan terjadi apabila kita bersekutu dengan Dia. Ajaran Kristus akan menjadi sumber inspirasi apabila kita hidup dalam kuasa penebusan-Nya dan terus dibarui oleh Roh Kudus. Di luar persekutuan dengan Kristus, kita akan menjadi orang-orang yang hidup dengan hikmat dunia walau berstatus sebagai orang percaya. YBM

Refleksi:
Hikmat dari atas atau dari bawah akan terlihat dalam respons kita menghadapi permasalahan.

Hidup dalam Kepenuhan Kristus
Yohanes 1:1-18

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus (Yoh. 1:16-17).

Dalam inkarnasi-Nya menjadi manusia, Sang Firman Allah hakikat keilahian-Nya tidak berkurang. Sebaliknya Kristus memiliki dua kodrat yaitu ilahi dan insani. Kepenuhan-Nya selaku Allah dan manusia memberi karunia dan kebenaran yang menyelamatkan. Umat manusia tidak diselamatkan dengan melakukan Hukum Taurat, tetapi dengan percaya dan menerima Dia selaku Juru-selamat.

                  Sebelumnya keselamatan ditentukan oleh sejauh mana manusia mampu mentaati Hukum Taurat. Namun dalam keberdosaannya manusia tidak sanggup mencapai kebenaran dengan usahanya sendiri. Karena itu Sang Firman berinkarnasi menjadi manusia. Kristus datang mengaruniakan kebenaran yang menyelamatkan, yaitu penebusan yang sempurna. Dengan penebusan-Nya setiap umat yang percaya diselamatkan dan dimampukan untuk melakukan ketentuan hukum Taurat. Apa yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, dapat dilakukan oleh Kristus sehingga Allah membenarkan umat berdasarkan kebenaran Kristus.

                  Hukum-hukum Allah di setiap agama tidaklah mampu membenarkan manusia di hadapan Allah. Setiap manusia berada di bawah kuasa dosa. Karena itu setiap orang membutuhkan Kristus. Kita butuh dibenarkan oleh penebusan Kristus yang sempurna, dan bukan mencari pembenaran dengan kesalehan insani yang rapuh. YBM

Refleksi:
Buah yang dipetik dengan mencari kebenaran melakukan hukum-hukum Allah melahirkan kesombongan rohani. Tidaklah demikian orang yang hidup dalam kebenaran penebusan Kristus.

Hukum dan Hakim
Yakobus 4:11-17

Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia? (Yak. 4:12).

Hukum ditegakkan oleh hakim. Sebaliknya hakim diangkat berdasarkan hukum. Tujuannya agar tercipta keadilan dalam kehidupan masyarakat. Apabila keadilan ditegakkan, maka kebenaran akan dialami. Kebenaran tersebut akan mendatangkan damai-sejahtera. Tetapi dalam praktik hukum justru diselewengkan oleh hakim. Dalam kehidupan sehari-hari malahan setiap orang sering berperan sebagai hakim atas sesamanya. Mereka menghakimi dengan menghukum secara sewenang-wenang.

                  Penyelewengan oleh hakim, dan yang bukan hakim menghakimi bersumber dari hawa-nafsu yang berjuang di dalam diri manusia (Yak. 4:1). Kata “hawa-nafsu” yang dimaksud berasal dari kata hedonon yang di dalamnya mengandung kenikmatan daging, atau keinginan yang liar. Kelak kata hedonon menjadi kata “hedonisme” untuk menunjuk kenikmatan lahiriah. Jadi penyelewenangan terhadap hukum terjadi karena memanipulasi hukum untuk kenikmatan lahiriah seseorang. Sedangkan orang-orang yang menghakimi sesamanya karena mereka menikmati tindakan dan efek yang ditimbulkan, yaitu melampiaskan nafsu primitifnya. Mereka memang bisa menikmati kejahatan tetapi akan berbuah kebinasaan (bdk. Yak. 4:12).

                  Sumber dari hukum adalah Tuhan. Sedangkan hukum-hukum yang berlaku merupakan manifestasi dari keadilan-Nya. Sikap menyelewengkan hukum dan menghakimi orang lain adalah penistaan terhadap kekudusan dan keadilan Tuhan. Karena itu hukuman kepada mereka adalah kebinasaan. Sebab Tuhan adalah Sang Pembuat Hukum dan Hakim yang adil. YBM

Refleksi:
Jika jabatan hakim membutuhkan kompetensi dan wewenang, mengapa kita mudah menghakimi orang lain tanpa dilandasi oleh kompetensi dan wewenang dari Tuhan?

Mengasihi Musuh
Lukas 6:27-31

Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu (Luk. 6:27).

Bila hukum pembalasan diberlakukan, maka tidak ada seorang pun di bumi yang tersisa. Sebab siapakah di antara manusia yang tidak luput dari kesalahan? Kesalahan yang dilakukan senantiasa melukai, lantas orang yang terluka akan membalas. Tanpa pengampunan lingkaran pembalasan tidak pernah berhenti. Mengasihi musuh adalah wujud dari pengampunan yang memutuskan mata rantai kebencian dan pembalasan. Sebaliknya menganiaya dan membunuh musuh akan menempatkan kita tidak lebih baik daripada perilaku musuh tersebut.

                  Fenomena agama-agama di masa kini justru jauh dari mengasihi musuh. Orang yang dianggap memusuhi agama dianiaya dan dibinasakan. Lalu apa kelebihan agama tersebut dengan orang-orang primitif yang tidak mengenal hukum moral? Yesus mengajarkan tentang keluhuran spiritualitas, yaitu mengasihi musuh. Justru kepada orang-orang yang melukai, kita dipanggil untuk berbuat baik. Sebab orang yang beriman kepada Allah akan memberlakukan karakter ilahi yang penuh dengan kemurahan. Lebih daripada itu Yesus mengawali dengan perkataan “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata….”Yesus memiliki otoritas ilahi untuk merevisi hukum Allah tentang perlakuan kepada para musuh. Sebab Ia sendiri adalah Yang Ilahi: “Sang Firman Allah.”

                   Kita sering mengikuti naluri kemanusiaan. Walau kita percaya kepada Kristus, namun yang dominan adalah naluri kemanusiaan yang berdosa. Penyebabnya kita belum mengalami pengampunan dan penebusan Kristus. Itu sebabnya kita masih menyimpan kebencian dan keinginan membalas dendam. YBM

Refleksi:
Dengan mengampuni, kita menjadi pribadi yang bebas sehingga tidak dikendalikan perasaan benci yang menghancurkan, sebaliknya dipenuhi oleh damai-sejahtera Kristus.

Penyembah Palsu
Matius 2:1-12

Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia (Mat. 2:8).

Orang Majus dari Timur datang ke Betlehem dipimpin oleh bintang. Mereka adalah para imam atau ahli astrologi dari Iran yang beragama Zoroaster. Saat mereka sampai di Yerusalem, raja Herodes dan penduduk tidak mengetahui bintang yang dilihat oleh orang-orang Majus. Sebab bintang tersebut adalah wujud teofani Allah. Sebagai teofani (penyataan Allah), maka orang-orang Majus dipimpin Tuhan untuk datang menyembah kepada bayi Yesus di Betlehem.

                  Raja Herodes juga menyatakan ingin menyembah bayi Yesus. Ia menyuruh orang-orang Majus untuk pergi dan menyelidiki dengan saksama agar dapat memberi informasi akurat. Tetapi kita tahu bahwa motif raja Herodes bukan untuk menyembah bayi Yesus. Ia ingin membunuh-Nya. Raja Herodes tidak ingin bayi Yesus kelak menggantikan posisi dia selaku raja. Kita mengetahui bahwa raja Herodes akan membunuh anak-anak Betlehem di bawah umur 2 tahun. Apabila orang-orang Majus datang sebagai penyembah sejati, maka raja Herodes menempatkan dirinya sebagai penyembah palsu yang membinasakan.

                  Dunia di masa kini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu penyembah sejati dan penyembah palsu. Kelompok penyembah palsu menyatakan bahwa mereka menghormati Yesus, tetapi dalam praktik mereka membinasakan orang-orang yang percaya dan mengikut Dia. Mereka belajar firman Tuhan, tetapi untuk mencari kesalahan untuk menistakannya. Sebaliknya para penyembah sejati ingin meneladan dan hidup dalam kuasa kasih-Nya.  YBM

Refleksi:
Para penyembah palsu didasari oleh motif yang tidak murni dengan mengeraskan hati, sehingga tidak menemukan kebenaran Allah yang membebaskan, tetapi pembenaran diri.

Kedaulatan Allah
Kisah Para Rasul 9:10-19

Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (Kis. 19:15).

Saulus si penganiaya jemaat dijadikan alat pilihan Tuhan. Bukankah suatu pernyataan teologis yang  kontradiksi? Penganiaya jemaat adalah pembenci dan anti Kristus. Tetapi faktanya Kristus memilih Saulus untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Dasar pemilihan Saulus menjadi hamba Kristus adalah kedaulatan Allah. Saulus dipilih berdasarkan kasih-karunia Allah, dan bukan kelayakan atau kebenarannya.

                  Kedaulatan Allah sering dipahami sebagai takdir atau nasib yang ditentukan oleh Allah. Karena itu makna “kedaulatan Allah” dipahami sebagai penentuan Allah yang mutlak, dan manusia sebagai objek yang pasif. Padahal “kedaulatan Allah” dalam iman Kristen lahir dari kebebasan dan kasih-karunia-Nya. Allah tidak menghendaki Saulus binasa. Tujuan pemilihan Allah adalah pemulihan dan keselamatan. Jika demikian, mengapa masih begitu banyak orang yang hidup dalam kejahatan dan menolak Kristus? Sesungguhnya Allah telah memanggil mereka untuk bertobat, tetapi mereka memilih mengeraskan hat.

                  Anugerah/rahmat Allah bekerja sama dengan respons iman manusia. Manakala manusia merespons dengan penolakan, tentunya kasih-karunia Allah tersebut tidak bekerja dengan efektif. Ketika kita hidup di luar iman, maka kita akan mengeraskan hati dan menolak kasih-karunia Allah. Semakin menghidupi iman, kita akan mengalami kasih-karunia Allah yang memampukan untuk menjadi alat keselamatan bagi orang-orang di sekitar. YBM

Refleksi:
Tunduk di bawah kedaulatan Allah berarti kita bersandar pada anugerah-Nya yang menyelamatkan. Hidup kita dijadikan Tuhan sebagai alat keselamatan bagi sesama.

Tuhan Menangisi kota Yerusalem
Lukas 19:41-44

“….. dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau” (Luk. 19:44).

Kota Yerusalem telah diserang dan dihancurkan oleh kerajaan Romawi pada tahun 70 M. Bait Allah diruntuhkan. Peristiwa tragis ini mengingatkan kita tentang ucapan Yesus bahwa kelak akan terjadi tidak ada satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain. Namun apa alasan Yesus mengatakan nubuat tentang hancurnya kota Yerusalem?

                  Di Lukas 19:42 Yesus berkata: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” Ucapan Yesus dilatarbelakangi oleh kenyataan penduduk Yerusalem menolak kedatangan-Nya. Mata hati penduduk Yerusalem telah tertutup sehingga mengeraskan hati. Lalu mereka memilih untuk menyalibkan Dia. Padahal melalui kedatangan-Nya sesungguhnya Allah sedang melawat mereka. Jika demikian betapa seriusnya akibat penolakan penduduk Yerusalem terhadap kedatangan-Nya. Pada pihak lain nubuat kehancuran kota Yerusalem tersebut tidak lahir dari kemarahan Yesus. Sebaliknya lahir dari keprihatinan dan kesedihan sehingga Yesus menangisi kota Yerusalem (Luk. 19:41).

                  Kehancuran kota Yerusalem bukanlah kutukan Yesus. Penolakan mereka terhadap kedatangan Yesus menyebabkan mereka menempuh jalan yang membinasakan. Hidup mereka jauh dari damai-sejahtera sehingga memilih untuk menyelesaikan penjajahan Romawi dengan jalan kekerasan. Sikap menerima Kristus selaku Juruselamat akan memampukan setiap orang untuk menyelesaikan seluruh permasalahan dengan anugerah dan damai-sejahtera-Nya. YBM

Refleksi:
Ketika kecenderungan hati kita menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan, sesungguhnya kita sedang menolak kehadiran Kristus di dalam hidup kita.

Tubuh Kebangkitan
Markus 9:2-9

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati (Mark. 9:9).

Peristiwa Yesus berubah rupa dirayakan oleh gereja sebagai Minggu Transfigurasi. Kata “berubah rupa” berasal dari kata metamorphose, yang berarti berubah bentuk (bandingkan dengan proses menjadi kupu-kupu). Yesus menyatakan kemuliaan dan keilahian-Nya sebagai Anak Allah. Deklarasi Allah juga dinyatakan kembali seperti saat Yesus dibaptis di sungai Yordan, bahwa Ia adalah Anak Allah. Sekaligus peristiwa transfigurasi ini menyingkapkan tabir atau misteri kebangkitan Yesus.

                  Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana tubuh Yesus yang bangkit keluar dari kubur. Para murid hanya melihat Yesus yang bangkit menampakkan diri-Nya. Sesungguhnya tubuh Yesus yang bangkit identik dengan tubuh kemuliaan-Nya saat mengalami transfigurasi. Lebih tepat tubuh kebangkitan atau metamorphose dalam peristiwa transfigurasi Yesus adalah tubuh kemuliaan-Nya sebagai Anak Allah yang sehakikat dengan Bapa dan Roh Kudus. Melalui peristiwa transfigurasi Yesus sudah memberi petunjuk bagaimana keberadaan-Nya setelah Ia wafat. Karena itu makna kebangkitan Yesus bukan kebangkitan roh-Nya saja, tetapi juga kebangkitan-Nya yang utuh dengan tubuh-Nya.

                  Keberadaan tubuh sering ditempatkan sebagai sumber dosa. Melalui peristiwa transfigurasi kita disadarkan bahwa tubuh itu kudus (bdk. 1Kor. 6:19) sejauh berada dalam persekutuan dengan Kristus. Karena itu keselamatan kita ditentukan sejauh mana kita menggunakan tubuh, apakah untuk melayani keinginan dosa ataukah memuliakan Allah. YBM

Refleksi:
Di dalam persekutuan dengan Kristus, tubuh kita kelak dibarui sehingga mengenakan tubuh kemuliaan. Sejauh mana kita menjadikan tubuh kita sebagai media yang memuliakan Allah?

Diteguhkan dengan Tanda
Ibrani 2:1-4

Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya (Ibr. 2:4).

Firman yang diberitakan oleh para nabi diwahyukan Allah agar umat merespons dengan ketaatan. Wahyu Allah disampaikan secara kognitif agar umat mengerti. Tetapi juga dilengkapi dengan “tanda dan mukjizat” sehingga wahyu Allah menjadi peristiwa aktual. Pengertian (kognitif) dan pengalaman melalui tanda atau mukjizat seharusnya memampukan umat untuk merespons dengan hidup benar. Umat bersedia meninggalkan perbuatan jahat dengan berlaku setia kepada kehendak Allah. Mereka tidak dibawa oleh arus yang menyesatkan (bdk. Ibr. 2:1).  

                  Penyataan Allah di dalam inkarnasi Kristus juga disertai berbagai macam tanda dan mukjizat. Makna tanda dan mukjizat bukan sekadar suatu perbuatan ajaib, tetapi di dalamnya mengandung karya keselamatan Allah sehingga mereka menjadi percaya. Melalui mukjizat yang terjadi mereka mengalami Allah yang berkenan melawat dan memulihkan. Lebih khusus lagi selaku Anak Allah Yesus melakukan mukjizat dengan kuasa atau otoritias-Nya. Karena itu melalui Kristus Allah menyatakan diri-Nya secara langsung kepada umat. Kasih Allah dinyatakan di dalam karya dan hidup Yesus.

                  Peristiwa mukjizat tidak senantiasa membawa seseorang kepada iman dan pertobatan. Mereka bisa terkesan dengan mukjizat yang terjadi, tetapi tidak membuka hati kepada sumber mukjizat, yaitu Sang Kristus. Mereka membutuhkan penyembuhan-Nya tetapi tidak membutuhkan Kristus selaku Tuhan dan Juru-selamat. Itu sebabnya mereka tetap mengeraskan hati, tidak percaya dan menolak Kristus walau telah mengalami karya mukjizat-Nya. YBM

Refleksi:
Tanda dan mukjizat Allah senantiasa terjadi dalam setiap aspek kehidupan kita. Tetapi apakah kita telah merespons denga sikap iman dan semakin taat kepada Kristus?

Keluarga Allah
1 Timotius 3:14-16

Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran (1Tim. 3:15).

Jemaat adalah persekutuan umat percaya. Spirit dan relasi persekutuan umat percaya lebih tepat digambarkan sebagai keluarga, yaitu keluarga Allah. Setiap anggota diikat oleh cinta-kasih dan ikatan persaudaraan yang tidak terputuskan. Sebab ikatan mereka disatukan oleh darah Kristus dalam karya penebusan-Nya. Karena itu jemaat disebut pula sebagai Tubuh Kristus (bdk. 1Kor. 10:16). Kristus berperan sebagai Kepala Tubuh (Kol. 1:18). Tubuh yang sehat apabila bersedia dikendalikan oleh kepala melalui pikiran, pertimbangan hati-nurani dan iman sehingga menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk pekerjaan dan kemuliaan Allah.

                  Sebagai keluarga Allah, jemaat membutuhkan perangkat organisasi dan relasi organisme yang seimbang dan utuh. Namun dalam praktik, jemaat sering terperangkap dalam organisasi yang kaku atau organisme yang mengabaikan keteraturan. Akibatnya jemaat mengalami konflik, perselisihan dan perpecahan. Mereka tidak hidup selaku Tubuh Kristus dengan menempatkan Kristus sebagai Kepala. Kepada Timotius, rasul Paulus memberi nasihat agar sebagai keluarga Allah, setiap anggota jemaat menghidupi iman kepada Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Dengan prinsip rohani tersebut jemaat dapat beribadah dan memuliakan Allah. Ibadah tersebut akan memberkati dan menumbuhkan iman yang semakin kokoh di tengah-tengah persoalan.

                    Jemaat sebagai Tubuh Kristus diutus untuk menjadikan sesama di sekitar sebagai keluarga Allah. Untuk itu mereka dipanggil untuk taat kepada Kristus selaku Kepala, dan melaksanakan tugas pengutusan-Nya ke dalam persoalan-persoalan sesama. YBM

Refleksi:
Persekutuan jemaat mencerminkan kualitas relasi keluarga-keluarga yang terhimpun di dalamnya.

Spiritualitas Ketersembunyian
Matius 6:1-6, 16-21

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (Mat. 6:6).

Integritas sering dimaknai sebagai kualifikasi rohani yang jujur sehingga di dalamnya tidak mengandung kepalsuan dan bermuka-dua. Seorang yang memiliki integritas akan hidup lurus. Apa yang diucapkan sesuai dengan apa yang dilakukan. Lebih jauh lagi seorang yang berintegritas tetap melakukan hal yang baik dan mulia walau tidak diketahui siapa pun. Spiritualitas integritas inilah yang disebut dengan spiritualitas ketersembunyian.

                  Di Matius 6:1-6, 16-21 Yesus mengajarkan spiritualitas ketersembunyiaan dalam 3 aspek, yaitu: sedekah, doa dan puasa. Ketiga kebajikan tersebut harus dilakukan secara tersembunyi dan tidak dipamerkan di depan banyak orang. Apabila dilakukan secara sengaja di depan publik, mereka sudah mendapat upahnya. Upah yang dimaksud adalah pujian dari orang-orang yang melihat. Yesus berkata: “…… Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:6). Dasar teologisnya adalah seluruh perbuatan kebajikan termasuk ritual keagamaan merupakan manifefstasi iman dan relasi personal dengan Allah. Karena itu memamerkan kepada publik kebajikan yang dilakukan merupakan kemunafikan. Lawan dari spiritualitas ketersembunyian adalah kemunafikan.

                  Kemunafikan merupakan kepalsuan hati dengan topeng kesalehan. Karena sesungguhnya hati mereka tidak mengasihi Allah, tetapi menggunakan nama Tuhan untuk pujian bagi diri sendiri. Dalam relasi sosial orang-orang yang munafik tidak dapat dipercaya. Mereka dapat berlaku manis di depan, tetapi dari arah belakang dapat bertindak sebagai pengkhianat. YBM

Refleksi:
Semakin kita memiliki spiritualitas ketersembunyian, Tuhan akan menyatakan kualitas diri kita di depan banyak orang.

Saksi Kristus
1 Yohanes 1:3-10

Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami (1Yoh. 1:3).

Alkitab adalah Firman Tuhan. Pada pihak lain firman Tuhan tersebut melibatkan manusia sebagai kawan sekerja Allah. Di surat 1 Yohanes 1:3 menyatakan bahwa firman Tuhan yang diberitakan itu berasal dari apa yang telah mereka lihat dan dengar. Wahyu Allah dialami oleh para rasul melalui peristiwa yang terjadi, yaitu karya dan kehidupan Kristus. Mereka telah melihat dan mendengar secara langsung bagaimana Tuhan Yesus bersabda dan berkarya.

                   Di masa kini sabda Tuhan dapat kita dengar secara langsung melalui pembacaan Alkitab khususnya persekutuan yang personal dengan Kristus di tengah-tengah situasi riil kita. Minimal terdapat 3 bagian utama agar kita dapat menjadi saksi Kristus, yaitu: teks (Alkitab), konteks (situasi riil), dan relasi personal dengan Kristus. Saat kita menjadi saksi Kristus berarti kita melibatkan sesama sebagai persekutuan umat percaya. Karena itu aspek keempat adalah bagaimana interpersonalitas kita dengan sesama.

Kegagalan kita menjadi saksi Kristus sering berhenti pada 3 aspek, yaitu: teks (Alkitab), konteks (situasi riil), dan relasi personal dengan Kristus. Padahal seharusnya dilengkapi dengan aspek keempat yaitu kualitas relasi kita kepada sesama (interpersonalitas). Tanpa faktor keempat kita bisa menjadi orang Kristen puluhan tahun tetapi tidak menghasilkan buah sama sekali. Kita abai terhadap keselamatan orang lain karena tidak memberitakan Kristus. Sebab Kristus hanya dianggap sebagai kepercayaan personal namun melupakan tanggungjawab melakukan mandat selaku saksi-Nya. YBM

Refleksi:
Keteladanan sebagai saksi Kristus perlu diwujudkan pemikiran dan perkataan yang inspiratif sehingga memperjumpakan sesama dengan Kristus.

Beritakanlah Firman
2 Timotius 4:1-5

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran (1Tim. 4:2).

Keteladanan sebagai saksi Kristus sangatlah penting. Tetapi lebih utama lagi apabila keteladanan itu juga dinyatakan dalam memberitakan firman. Tepatnya keteladanan umat percaya lahir karena menghidupi firman dan memberitakannya. Tanpa dilandasi firman Tuhan dan memberitakan firman dalam kehidupan sehari-hari, keteladanan yang dimaksud hanya semu. Kita tidak dapat berbuat baik  dari keberadaan diri yang lemah dan berdosa. Firman Tuhan itulah nafas dan sumber kebenaran bagi seluruh proses pertumbuhan kepribadian kita.

                  Motif memberitakan firman adalah didasarkan pada anugerah dan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Kita berdosa apabila kita enggan, tidak mau berisiko dan takut memberitakan firman kepada sesama di sekitar. Di surat 1 Korintus 9:16b rasul Paulus berkata: “Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Subjek pemberitaan firman adalah Kristus, bukan kisah atau pengalaman hidup kita. Sikap berdiam diri dengan tidak memberitakan firman berarti kita menyembunyikan Kristus yang menebus untuk keselamatan seluruh umat manusia. Bukankah sikap itu sangat halus untuk malu mengakui Kristus di depan banyak orang? (bdk. Mat. 10:33).

                  Toleransi akan dicederai apabila kita tidak memberitakan Injil dengan motif yang suci dan jauh dari kasih. Sebagai kabar keselamatan, setiap umat percaya dipanggil memberitakan Injil dengan baik atau tidak baik waktunya dengan kuasa Kristus. Suara kebenaran tidak boleh dibungkam! Melalui Injil Kristus kita menilai dan mengkritisi setiap situasi seraya rendah-hati mengevaluasi diri. YBM

Refleksi:
Tugas memberitakan Injil di era global masa kini menjadi keniscayaan bagi setiap umat percaya.