Latest Article
Pengharapan bagi Yang Terhilang (Lukas 15:1-10)

Pengharapan bagi Yang Terhilang (Lukas 15:1-10)

Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang
berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan
orang benar yang tidak memerlukan pertobatan (Luk. 15:7).

Apakah perumpamaan tentang Gembala yang mencari 1 ekor domba dengan meninggalkan 99 ekor domba bernilai edukatif? Masakan kita tinggalkan sejumlah besar orang lalu kita memiih 1 orang saja agar ia selamat? Apabila representasi dari “99 ekor domba” yang ditinggalkan bukankah mereka semua akan binasa? Bukankah seharusnya Tuhan Yesus selaku Juruselamat dunia mengutamakan sejumlah besar orang yaitu 99 ekor domba dibandingkan hanya menyelamatkan satu orang saja? Apakah dari sudut etika dan moral ajaran Tuhan Yesus tersebut dapat dibenarkan? 

Pertanyaan-pertanyaan di atas seringkali menjadi perbincangan setelah kita membaca perikop Lukas 15:1-10. Sebab bagaimanapun keselamatan yang direpresentasikan dalam metafor 99 ekor domba seharusnya lebih penting daripada keselamatan hanya 1 orang saja. Kita pernah mendengar ungkapan “the greatest good for the greatest number” (kebaikan terbesar untuk jumlah terbesar). Ungkapan tersebut dikemukakan oleh seorang filsuf Inggris bernama Jeremy Bentham (1748-1832). Sebagai penganut teori utilitarianisme, Bentham menyatakan: “Tindakan yang terbaik adalah yang memberikan sebanyak mungkin kebahagiaan bagi sebanyak mungkin orang.”  Inti pemikiran Bentham adalah bahwa makna benar dan salahnya suatu tindakan harus dinilai berdasarkan konsekuensi-konsekuensi yang diakibatkan, yaitu apakah dapat membawa manfaat bagi sebanyak mungkin orang ataukah tidak. Konsekuensi yang terburuknya adalah apabila kita hanya membawa kebahagiaan kepada seseorang saja, tetapi mengabaikan banyak orang. Dalam perspektif teori utilitarianisme yang dikemukakan oleh Jeremy Benthan, bukankah ajaran Tuhan Yesus tentang perumpamaan gembala yang meninggalkan 99 ekor domba seraya mencari seekor domba saja tidak sesuai dengan prinsip the greatest good for the greatest number. (kebaikan terbesar untuk jumlah terbesar)?

  Dari sudut nilai nyawa manusia bukankah nyawa “99 orang” lebih utama daripada keselamatan untuk nyawa “1 orang” saja? Bukankah pernyataan Kayafas, Imam Besar lebih sesuai dengan pandangan Bentham, sebab Kayafas berkata: “Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa” (Yoh. 18:14). Perkataan Imam Kayafas tersebut dikemukakan saat Tuhan Yesus ditangkap. Ia memberi nasihat kepada para pemimpin agama Yahudi bahwa lebih baik jikalau Yesus dibunuh daripada seluruh bangsa yang binasa. Pandangan Kayafas tersebut juga dilakukan oleh banyak orang di masa kini yang lebih membenarkan kematian untuk satu orang daripada kematian bagi banyak orang. Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari juga menganut pendapat atau keyakinan bahwa untuk keselamatan bagi banyak orang sangat wajar apabila satu atau dua orang dibunuh sebagai tumbal. Makna “tumbal” menunjuk pada mahluk hidup (hewan atau manusia) yang dijadikan korban (victim) yang diharapkan dapat mencegah terjadinya bencana atau malapetaka. 

Bagaimana kita harus memahami makna teks dan narasi perumpamaan Tuhan Yesus tentang gembala yang mencari satu ekor domba dan meninggalkan 99 ekor domba? 

Perumpamaan tentang gembala yang mencari seekor domba yang hilang perlu dilihat dalam konteks perikop. Di Lukas 15:1-2 menyatakan: “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Konteks ucapan perumpamaan Tuhan Yesus dinyatakan dalam peristiwa saat itu bagaimana para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang kepada-Nya untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Namun orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memberi reaksi yang negatif. Mereka tidak suka dan bersungut-sungut seraya berkata: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (Luk. 15:2). Kekesalan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dilatarbelakangi oleh budaya pada zaman itu bahwa seorang rabbi tidak pantas makan dengan orang-orang yang hidupnya bercela. Sebab makna “makan” dalam tradisi Yahudi memiliki arti yang personal. Seseorang yang diundang makan dalam suatu perjamuan, berarti ia mengambil bagian dalam kehidupan host (pemimpin perjamuan). Orang-orang yang dijamu akan menjadi teman atau sahabat dari pemimpin perjamuan. Orang-orang Farisi dan ahi-ahli Taurat marah sebab Yesus menjadikan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa sebagai para sahabat-Nya. Seharusnya “orang baik” hanya bersahabat dengan orang yang “baik-baik” saja, bukan sampah masyarakat.  

Reaksi negatif dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat direspons oleh Tuhan Yesus bukan dengan sikap tersinggung atau marah. Tetapi Yesus mengajar mereka bagaimana pemulihan bagi orang-orang yang terhilang. Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa juga membutuhkan anugerah keselamatan Allah. Kristus datang untuk menyembuhkan dan menyelamatkan orang-orang terhilang. Di Lukas 19:10 Tuhan Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Sebagai orang-orang terhilang para pemungut cukai dan orang-orang berdosa memiliki pengharapan untuk menerima pemulihan dan keselamatan Allah. Untuk tujuan itulah Tuhan Yesus memberi perumpamaan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang gembala yang meninggalkan 99 ekor domba yang tidak membutuhkan keselamatan dan lebih mencari seekor domba yang membutuhkan keselamatan. 

Problem utamanya adalah mengapa sang gembala dalam perumpamaan tersebut meninggalkan 99 ekor domba dan mencari yang satu ekor saja? Bukankah mereka semua (100 ekor domba) membutuhkan keselamatan? Mengapa fokusnya hanya kepada satu ekor saja? 

Simbol 99 ekor domba yang ditinggalkan oleh sang gembala karena mereka menganggap telah selamat. Mereka menganggap diri sebagai orang-orang yang sudah selamat, sehingga tidak membutuhkan pertobatan. Di Lukas 15:7, Tuhan Yesus berkata: “Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.” Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di hadapan Yesus menganggap hidup mereka telah benar di hadapan Allah. Mereka tidak merasa perlu bertobat dan melakukan pembaruan diri. Sebaliknya para pemungut cukai dan orang-orang berdosa menyadari ketidaklayakan dan keberdosaan mereka. Karena itu mereka datang kepada Yesus. Mereka ingin dipulihkan dari dosa-dosa yang membelenggu. Kepada para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang datang digambarkan oleh Tuhan Yesus di Injil Lukas sebagai “seekor domba” yang hilang. Sedangkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menganggap diri benar dan tidak membutuhkan pertobatan digambarkan oleh Yesus dengan 99 ekor domba. 

Alasan utama sang gembala mengutamakan “1 ekor domba” yaitu para pemungut cukai dan orang-orang berdosa  yang terhilang karena mereka menyadari keterhilangannya. Sebaliknya “99 ekor domba” yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak membutuhkan keselamatan Kristus. Mereka menganggap telah memiliki hidup yang berkenan di hadapan Allah dengan melakukan ketentuan dan hukum Taurat. Problem etis dalam perumpamaan Yesus tersebut bukan sebagaimana yang dikatakan oleh Bentham dari sudut ekonomi, yaitu the greatest good for the greatest number (kebaikan terbesar untuk jumlah terbesar). Selaku Mesias Allah, Tuhan Yesus datang untuk semua umat manusia. Yesus adalah Juruselamat dunia (Yoh. 4:42). Tetapi manakala mereka mengeraskan hati dengan pembenaran diri, maka anugerah keselamatan yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus tidak dapat terjadi. Anugerah dan keselamatan dari Allah membutuhkan respons iman. Sebagaimana seorang dokter hanya dapat memberi pengobatan secara medis apabila pasien datang kepadanya. Demikian pula Yesus sebagai seorang Tabib akan dapat memulihkan dan menyembuhkan orang-orang sakit yang datang kepada-Nya. Di Matius 9:12, Tuhan Yesus berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.”

Dalam kehidupan sehari-hari simbol perumpamaan Tuhan Yesus tentang “99 ekor domba” tersebut adalah:

  1. Orang-orang dunia yang mengeraskan hati dengan menolak Kristus selaku Tuhan dan Juru-selamat. Seluruh upaya kesalehan dan kegairahan mereka membaca Kitab Suci tertutup oleh selubung perasaan diri sebagai orang benar di hadapan Allah. Di surat 2 Korintus 3:15 firman Tuhan berkata: “Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka.” Mereka membutuhkan penerangan Roh Kudus dan anugerah Kristus agar memiliki pikiran atau hati yang terbuka sehingga mampu mengenal kebenaran Allah yang menyelamatkan. 
  2. Para akademisi yang hanya mengulang-ulang pengetahuan yang telah dimiliki. Mereka enggan terus belajar dan mengadakan riset. Akibatnya mereka tidak dapat melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi khususnya tugas penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Sikap akademisi tersebut akan berakibat menghambat pula perkembangan dan kemampuan para siswa atau naradidik.
  3. Orang-orang yang gemar menghakimi sesamanya dengan ukuran yang mereka miliki. Mereka menganggap diri sebagai orang-orang yang lebih benar atau lebih baik. Akibatnya hati mereka tertutup oleh perasaan superior dan keangkuhan. Namun sayangnya orang-orang dengan karakter menghakimi sesamanya umumnya bukan orang-orang yang berkualitas. Sebab semakin tinggi dan luas pengetahuan, seseorang akan semakin rendah hati. 

Jikalau demikian dalam kehidupan sehari-hari simbol perumpamaan Tuhan Yesus tentang “seekor domba yang tersesat” itu menunjuk pada:

  1. Orang-orang yang haus akan kebenaran tetapi kondisi budaya, adat-istiadat, dan pergumulan hidup belum memungkinkan mereka untuk mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Hati mereka dipenuhi oleh kerinduan yang begitu besar untuk mengenal anugerah dan keselamatan Allah seraya menyadari bahwa seluruh kesalehan dan upaya mencari pahala melalui amal tidak memadai. Mereka membutuhkan Juruselamat.
  2. Para akademisi yang terpanggil untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian tetapi masih  terhambat oleh berbagai kesusahan. Itu sebabnya mereka terhalang untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi. Tetapi apabila mereka memiliki kesempatan, maka mereka akan mengembangkan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi dengan seluruh kedirian. Mereka membutuhkan sahabat yang menginspirasi dan memotivasi untuk berkarya.  
  3. Orang-orang yang menyadari keberdosaannya di hadapan Tuhan. Hati mereka hancur karena penyesalan akan semua kesalahannya. Mereka ingin bertobat, tetapi membutuhkan pertolongan dan bimbingan. 

Dari ulasan tersebut di atas sangat jelas bahwa makna “99 ekor domba” bukanlah representasi dari orang-orang yang hidup benar (integritas) di hadapan Allah. Sebaliknya perumpamaan 99 ekor ekor domba itu untuk menunjuk pada orang-orang yang menganggap dirinya benar (mengeraskan hati). Mereka tidak membutuhkan Kristus karena lebih suka  “membenarkan” dirinya. Sebaliknya, seekor domba yang hilang merupakan representasi dari orang-orang yang menganggap dirinya tidak layak dan berdosa. Mereka membutuhkan pengampunan dan belas kasihan Allah. Kepada orang terhilang ini Yesus datang mencari dan menyelamatkan mereka.

            Bahaya rohani terbesar adalah saat seseorang menganggap dirinya telah hidup benar. Mereka merasa puas dengan kesalehan dan kebaikan yang telah dilakukan. Itu sebabnya mereka tidak rendah hati. Mereka tidak membutuhkan anugerah dan pertolongan Kristus. Padahal Allah lebih peduli kepada orang-orang yang hancur dan remuk jiwanya karena dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya.  

Kesimpulan: 

Makna “99 ekor domba” adalah representasi dari orang-orang yang hidup dalam pembenaran-pembenaran diri yang maknanya mereka jauh dari kebenaran. Padahal sikap pembenaran-pembenaran diri tersebut merupakan manifestasi dari mekanisme mempertahankan (defence of mechanism) kelemahan dan kerapuhan diri.

Makna “1 ekor domba” yang tersesat adalah representasi dari orang-orang yang rendah-hati. Mereka menyadari bahwa mereka lemah dan gagal sehingga dengan hati yang hancur datang kepada Kristus agar dipulihkan. Mereka ingin hidup benar dengan melepaskan semua “pembenaran-pembenaran diri.”

Jika demikian di manakah posisi Saudara? Apakah Saudara-saudara berada di posisi “99 ekor domba” atau “seekor domba” yang tersesat? Apabila kita berada di posisi 99 ekor domba kepribadian dan perilaku kita ditandai oleh berbagai pembenaran diri seraya menghakimi sesama di sekitar. Tetapi apabila kita berada sebagai seekor domba yang terhilang kita akan datang kepada Kristus agar Ia memulihkan seluruh kelemahan dan cacat-cela diri kita. 

Sumber Ilustrasi: https://acts242study.com/the-story-of-the-lost-sheep-luke-15/

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono