Latest Article
<strong>Visi Ilahi di dalam Mimpi Yakub</strong>

Visi Ilahi di dalam Mimpi Yakub

Kejadian 27:41-46, 28:10-15

“Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit,
dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu” (Kej. 28:12).

Mimpi manusia tentang akses jalan yang menghubungkan bumi dan langit telah terjadi dalam kisah pembangunan Menara Babel. Di Kejadian 11:4 mengungkapkan cita-cita tersebut, yaitu: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.” Tujuan pembangunan Menara Babel merupakan upaya manusia untuk mendatangi takhta Allah di langit. Namun upaya tersebut gagal. Di Kejadian 11:5 menyatakan: “Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu.” Tindakan Allah yang turun itu bukan sekadar melihat, tetapi juga mengacaubalaukan bahasa mereka sehingga mereka tidak dapat saling mengerti. Mereka tidak dapat melanjutkan pekerjaan dan pembangunan Menara Babel karena mereka gagal berkomunikasi untuk memahami yang dimaksudkan oleh rekan kerja.

            Timbul pertanyaan apakah kisah Yakub bermimpi bahwa di bumi didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit merupakan kompensasi psikologis dari seorang yang sedang putus-asa? Psikolog terkemuka, Sigmund Freud menyatakan bahwa mimpi sebenarnya merupakan representasi dari keinginan, pikiran, pemenuhan keinginan dan motivasi yang tidak disadari oleh seseorang. Menurut Freud pengalaman mimpi seseorang karena disebabkan oleh kerinduan yang ditekan dan tidak disadari, yaitu naluri agresif dan seksual. Dalam ulasan tentang “The Interpretation of Dreams” Freud menyatakan bahwa mimpi merupakan pemenuhan yang terselubung dari keinginan yang ditekan. Jadi fenomena mimpi menurut Freud memiliki 2 komponen, yaitu konten nyata (gambar aktual) dan konten laten (makna tersembunyi).

            Apabila pemikiran atau teori Freud diterapkan dalam kondisi Yakub dapat dikonstruksikan, yaitu:

  1. Yakub memiliki karakter ingin menjadi yang terkemuka. Dengan jelas dan nyata Yakub ingin memiliki hak kesulungan Esau, kakaknya. Di Kejadian 25:31-33 mengisahkan bagaimana Yakub minta agar Esau mau menjual hak kesulungannya apabila ia hendak makan dari makanan yang sedang dimasaknya. Puncaknya dikisahkan di Kejadian 27:21-27 yaitu Yakub menipu ayahnya Ishak yang buta dengan menyamar sebagai Esau kakaknya. Dengan cara itu Yakub memperoleh berkat kesulungan Esau dari ayahnya.
  2. Akibat tindakan Yakub yang menipu dan merebut hak kesulungan Esau, ia menjadi pelarian. Esau marah dan hendak membunuh Yakub. Karena itu atas anjuran Ribka ibunya, Yakub lari ke Haran untuk tinggal di rumah Laban, pamannya (Kej. 27:41-43). Dalam perjalanan dari Bersyba ke Haran, saat menjelang malam Yakub bermimpi melihat di bumi didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit.

Dari pemikiran Freud, pengalaman mimpi Yakub merupakan representasi dari keinginan, pikiran, pemenuhan keinginan dan motivasinya yang paling dasar. Ia ingin terkemuka sebagai pemimpin. Tangga yang menghubungkan bumi dengan langit merupakan manifestasi dari konten laten (makna tersembunyi) dari kenginan hatinya yang terpendam. Jadi konten nyata (gambar aktual) adalah impian Yakub yang kuat untuk mencapai cita-cita tertingginya. Pengalaman mimpi Yakub tersebut diperkuat oleh situasi riil yaitu dia terpaksa harus meninggalkan rumah ayah-ibunya dan menjadi seorang pelarian. Yakub berada dalam kondisi tertekan, kehilangan rasa aman dan ketakutan karena Esau kakaknya marah serta ingin membunuh dia. Yakub mengalami kompensasi psikologis antara kenginan, pikiran, dan motivasinya untuk menjadi seorang pemimpin terbentur oleh realita yang pahit. Yakub yang semula suka hidup di dalam kemah kini harus menjadi pengembara dan berhadapan dengan kondisi yang serba tidak pasti.

Tentu teori Freud di satu sisi mengandung kebenaran. Sebab kenyataannya Yakub memiliki impian untuk memiliki hak kesulungan Esau. Dengan hak kesulungan itu Yakub memiliki berkat Allah untuk berkuasa atas Esau (Kej. 27:37), tetapi juga atas bangsa-bangsa lain (Kej. 27:29). Impian itu ternyata tidak dapat berjalan dengan mulus. Karena perbuatannya yang menipu, Yakub kini harus kehilangan perlindungan dan kehangatan di tengah-tengah kasih ayah dan ibunya.

Tetapi narasi mimpi yang dialami oleh Yakub tidak berhenti sampai di Kejadian 28:12. Yakub tidak hanya melihat tangga yang menghubungkan bumi dan langit. Ia juga tidak hanya melihat malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Tetapi yang utama Yakub mengalami penyataan (teofani) Allah. Di Kejadian 28:13 menyatakan kesaksian:

“Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.” Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai “Tuhan, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak” (Adonai, Elohe Abraham abika welohe yishaq).

Allah yang memperkenalkan diri-Nya kepada Yakub adalah YHWH (Adonai) yang disembah oleh leluhurnya Abraham dan Ishak, ayahnya. YHWH bukan ilah yang disembah oleh bangsa-bangsa lain di Mesopotamia. YHWH adalah Adonai yang telah dikenal dan terbukti menyertai perjalanan leluhurnya sampai di tanah yang telah didiami mereka. Jadi YHWH bukanlah Allah yang asing, hasil imaginasi atau ilah ciptaan manusia, tetapi Ia sungguh-sungguh hidup dan berkuasa.

            YHWH (Adonai) selain memperkenalkan diri-Nya, Ia juga menjanjikan tanah kepada Yakub dan keturunannya. Berkat Tuhan akan diberikan kepada Yakub dengan keturunan yang besar. Kejadian 28:14, Allah berfirman: “Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Lalu di Kejadian 28:15 Allah menjanjikan penyertaan dan perlindungan-Nya, yaitu: “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

Struktur berkat dan penyataan (teofani) Allah kepada Yakub meliputi:

1). Penyingkapan diri Allah dengan nama-Nya,

2). Tanah bagi Yakub dan keturunannya,

3). Memiliki keturunan yang besar,

4). Penyertaan dan perlindungan Allah.

Pola atau struktur penyataan (teofani) Allah yang sama juga terjadi kepada Abraham. Di Kejadian 17:8 Allah berfirman kepada Abraham, yaitu: “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.” Dari 4 pola atau struktur berkat dan penyataan Allah tersebut sangat jelas bahwa Yakub bukan sekadar mengalami mimpi sebagai representasi keinginan, pikiran, dan motivasinya yang terpendam. Mimpi Yakub merupakan pengalaman teofani (penyataan) Allah, sehingga mengandung pesan yang konkret dalam kehidupan Yakub sebagai seorang bapa yang menurunkan umat Israel. Melalui Yakub, Allah hendak menyelenggarakan sejarah keselamatan bagi umat manusia. Allah telah memilih Yakub sebagai prototype tangga keselamatan yang menghubungkan bumi dengan langit (takhta Allah). Melalui peristiwa teofani tersebut Allah mengadakan perjanjian dengan Yakub, namun juga dengan keturunannya.

            Berkat Allah dalam perjanjian-Nya dengan Yakub bukanlah karena kelayakan Yakub. Sebaliknya Yakub tidak layak. Ia telah menipu ayah dan kakaknya. Yakub telah merebut hak kesulungan kakaknya dan menipu Yakub ayahnya yang sedang mengalami kebutaan di usia tuanya. Karena itu berkat Allah kepada Yakub semata-mata terjadi karena kedaulatan anugerah-Nya. YHWH (Adonai) yang berkenan memilih Yakub walau pun ia tidak layak. Tangga yang menghubungkan bumi dengan langit yang dilihat oleh Yakub menunjuk pada jalan keselamatan yang disediakan oleh Allah. Di dalam berkat dan perjanjian dengan Yakub Allah mengundang manusia datang kepada-Nya. Allah juga berkenan turun menjumpai manusia dengan mengaruniakan keselamatan-Nya.

Peristiwa personal Yakub dijadikan media belas-kasih dan karunia Allah kepada Yakub dan keturunannya, dan juga seluruh umat manusia. Bukankah hal yang sama terjadi pada diri Abraham? Melalui personalitas Abraham, Allah juga memberkati seluruh bangsa (Kej. 12:2-3). Walau pun Abraham juga tidak pantas di hadapan Allah. Abraham pernah mencari rasa aman dan keselamatan diri sendiri dengan membiarkan Sara istrinya diserahkan Firaun. Abraham takut kepada Firaun sehingga tidak mengakui Sara sebagai isterinya, tetapi hanya  adiknya (Kej. 12:16-19).

            Tokoh-tokoh Alkitab yang dipilih Allah tidak ada yang layak. Tetapi justru di balik ketidaklayakan mereka Allah menunjukkan kasih-sayang dan anugerah-Nya yang tidak terbatas. Pemilihan Allah bukan didasarkan pada kebajikan, kesalehan dan kebenaran manusia tetapi pada kedaulatan kasih-karunia-Nya. Visi ilahi dalam mimpi yang dialami oleh Yakub bukan sekadar fenomena psikologis, tetapi peristiwa  teofani Allah. Allah menyingkapkan diri-Nya di tengah-tengah persoalan krusial dan membahayakan keselamatan Yakub. Sebab waktu itu Yakub menyadari bahwa kemarahan Esau kakaknya bukan sekadar kemarahan biasa. Kemarahan Esau disertai kebencian dan dendam sebab Yakub dengan licik merebut hak kesulungannya. Yakub menyadari bahwa Esau benar-benar akan membunuh dia. Dalam situasi itu Allah bukan sekadar menolong dan melindungi Yakub dari bahaya pembalasan dan kemarahan Esau, tetapi utamanya Allah menyatakan visi-Nya kepada Yakub.

            Melalui teofani Allah tersebut Yakub dapat melihat kerangka besar rencana Allah dalam kehidupannya di depan. Melalui kehidupan Yakub, Allah hendak menunjukkan jalan keselamatan bagi seluruh keturunan dan bangsa. Tangga keselamatan itu bukan hasil capaian dan prestasi manusia, tetapi wujud dari anugerah Allah. Gambaran tangga yang menghubungkan bumi dengan langit ternyata juga bukan sekadar cita-cita dan harapan dari seorang bernama Yakub. Tangga yang menghubungkan bumi dengan langit itu direalisasikan Allah dalam keturunan Yakub, yaitu Yesus Kristus. Di Yohanes 1:51, Yesus berkata kepada Natanael, yaitu: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Yesus Kristus dari Nazaret adalah Sang Tangga Ilahi. Di dalam dan melalui Kristus, tersedia jalan yang menghubungkan bumi dengan langit. Apabila Yakub melihat dalam mimpinya para malaikat naik-turun di tangga tersebut, maka Kristus Sang Firman Allah telah “turun” menjadi manusia untuk membawa manusia “naik” ke hadapan Allah. Di surat Efesus 4:10, rasul Paulus berkata: “Itulah sebabnya kata nas: Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia. Bukankah ‘Ia telah naik’ berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?” Semakin jelas bahwa tangga ilahi yang dilihat oleh Yakub dalam mimpinya sesungguhnya adalah Yesus Kristus. Melalui keturunan Yakub, Allah berkenan menyatakan diri-Nya secara paripurna kepada umat manusia. Di dalam Kristus teofani Allah menjadi peristiwa sejarah. Tangga yang menghubungkan bumi dengan langit menjadi realitas kehidupan yang disediakan Allah.

Dalam konteks ini pertanyaan yang fundamental adalah bagaimana gereja selaku persekutuan umat percaya berperan sebagai kawan sekerja Allah untuk menghadirkan visi ilahi kepada umat manusia? Apakah mimpi gereja mencerminkan visi ilahi untuk menyampaikan berita keselamatan kepada umat manusia khususnya di abad 21?

Di abad 21 umat manusia menghadapi berbagai persoalan yang kompleks, salah satunya adalah kerukunan dan toleransi beragama. Khususnya di Indonesia sering terjadi intoleransi dan radikalisme agama kepada agama lain. Kondisi permusuhan antar para pengangut agama ini bukankah mirip kondisi Yakub yang mengalami permusuhan dari Esau kakaknya, atau Esau yang memusuhi adiknya?  Upaya toleransi dalam kehidupan beragama akan menjadi sebatas permukaan yang dangkal apabila tidak ditempatkan dalam visi keselamatan ilahi. Kita akan sulit mewujudkan toleransi walau telah dilakukan berbagai macam pendekatan dan kebijakan apabila masih dilandasi oleh perasaan takut akan perkembangan agama lain. Seperti Yakub tidak akan pernah bisa berdamai dengan Esau, kakaknya apabila ia masih dikuasai oleh perasaan terancam. Demikian pula Esau tidak akan mampu memaafkan kesalahan Yakub adiknya apabila ia merasa terancam karena hak kesulungannya telah direbut.

Perasaan takut dan terancam yang dialami oleh Yakub ternyata ditransendensikan oleh Allah melalui “tangga keselamatan” yang memungkinkan Allah “turun” menghadirkan anugerah keselamatan-Nya, sehingga membawa manusia “naik” ke dalam persekutuan-Nya. Di dalam Kristus Allah memulihkan perasaan takut dan terancam yang dialami oleh umat manusia. Sebaliknya Allah mengubah perasaan takut dan terancam menjadi damai-sejahtera yang meneduhkan. Agama dari Allah adalah iman yang mengalami damai-sejahtera, bukan rasa takut sehingga menyerang atau menghambat keberadaan agama lain. Lebih daripada itu ia akan memberi rasa aman, penghiburan dan perlindungan kepada siapa pun. Sebab barangsiapa yang masih dikuasai oleh ketakutan, sesungguhnya ia tidak memiliki kasih. Firman Tuhan: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1Yoh. 4:18).

Di tengah-tengah kondisi tersebut gereja yang sedang bergulat dengan keterbatasan, kegelisahan dan permasalahan hidupnya dipanggil untuk memberitakan Kristus selaku Tangga Ilahi kepada setiap sesama. Tema “Toleransi” bukanlah tema utama dan visi gereja. Sebaliknya tema utama gereja sepanjang abad adalah memberitakan kebenaran kasih dan penebusan Kristus. Hasil yang lahir dari kebenaran kasih dan penebusan Kristus salah satunya adalah mampu hidup yang menghargai dan menerima perbedaan. Jadi memberitakan kebenaran kasih dan penebusan Kristus merupakan core-business (urusan inti) keberadaan gereja. Karena itu ketika gereja selaku umat percaya setia memberitakan Injil Kerajaan Allah dengan penuh damai dan kasih, maka toleransi antar beragama yang otentik akan tercipta.

Pernyataan ini tidak mengandaikan bahwa pemberitaan Injil dengan cara yang benar dan bijaksana akan imun dari penolakan dan permusuhan. Sebaliknya pemberitaan Injil akan senantiasa terbuka dengan penolakan dan permusuhan, tetapi penolakan dan permusuhan tersebut merupakan aksi dari perilaku orang-orang dunia. Kehidupan yang penuh damai-sejahtera akan tercipta, ketika selaku umat percaya tidak pernah membalas kekerasan dengan kekerasan tetapi dengan pengampunan dan kasih. Pada saatnya Allah akan mencelikkan batin mereka sehingga mampu melihat maksud yang tulus dari umat percaya yang memberitakan Injil Kristus. Apabila Allah berkenan memilih mereka untuk menerima keselamatan, pastilah mereka akan percaya dan menerima Kristus selaku Tuhan dan Juruselamat.  

Setiap kita memiliki mimpi dan visi personal. Namun mimpi dan visi personal kita akan bermakna apabila diterangi dan diselaraskan dengan visi ilahi, yaitu memberitakan Kristus kepada sesama. Apa artinya kita mampu mewujudkan mimpi dan visi personal, tetapi sesama kita akan binasa karena mereka tidak pernah mendengar Kristus yang adalah Sang Tangga Ilahi? Rasul Paulus berkata: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”

Sumber ilustrasi/gambar: https://satedengantuhan.id/2017/07/02/mimpi-nabi-yakub-di-betel/

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono