Renungan

Dilema Komunikasi Orang-tua dengan Generasi Remaja (Amsal 22:6)

Yohanes Bambang Mulyono · · 2 menit baca

“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6).

Anak-anak muda atau remaja kita adalah generasi yang dianugerahkan Tuhan di tengah keluarga kita. Kehadiran mereka membawa sukacita, semangat dan pengharapan. Namun tidaklah mudah menjalin komunikasi dengan anak-anak muda atau remaja kita. Perubahan zaman juga membawa perubahan pola pikir, sikap, dan tingkah-laku. Karena itu terjadilah jarak komunikasi yang disebut dengan “gap-generation.” Para orang-tua merasa tidak dihormati dan dimengerti oleh anak remaja. Sebaliknya para remaja merasa tidak dipahami oleh orang-tua mereka. Kesalahpahaman dan konflik tidak terelakkan. Padahal anak-anak muda, yaitu remaja kita dipanggil untuk mengenal kasih Allah, keselamatan-Nya, dan hidup baru di dalam Kristus. Jika demikian bagaimanakah kita harus menyampaikan pesan-pesan luhur firman Tuhan kepada para remaja kita? Sementara kita sering kesulitan menjalin komunikasi dengan mereka dalam kehidupan sehari-hari?

Penghalang komunikasi orang-tua dengan remaja tentu melibatkan berbagai faktor, misalnya: kematangan rohani, kualitas kearifan, pola asuh, suasana keluarga, hubungan para anak remaja dengan teman-teman sepergaulan, dan pandangan hidup. Namun juga disebabkan faktor perbedaan generasi dalam menafsirkan realitas. Ada beberapa klasifikasi tipe generasi yang perlu dikenali, yaitu: (1). Generasi Baby-Boomers (1946-1964) dengan ciri-ciri: mengutamakan proses daripada hasil, work-alkoholic (pekerja keras), suka berkomunikasi langsung dan menjalin relasi. (2). Generasi X (1965-1979) dengan ciri-ciri: relasi dengan orang-tua yang baik, mendapatkan pendidikan yang cukup baik, mulai mengenal komputer dan kecanggihan teknologi. (3). Generasi Y (1980-1995) dengan ciri-ciri: teknologi dan internet yang semakin berkembang, sehingga mereka sangat terampil dalam mengoperasikan, lebih optimis dan percaya diri, kurang menghargai peran/otoritas orang tua, dan kreatif-ambisius. (4). Generasi Z (1996-2010) dengan ciri-ciri:

mereka mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik, lebih mengutamakan kepentingan luar dan produk yang bermerk, menganggap generasi orang-tua sebagai generasi yang kolot, terpengaruh dengan media sosial dan kecanduan.

Semakin besar rentang antar generasi semakin besar kemungkinan tingkat kesulitan komunikasi antara orang-tua dengan generasi anak-anak tersebut. Namun tidak berarti tidak ada jalan keluar. Kekuatan kasih dan hikmat dalam pengajaran firman Tuhan yang dinyatakan dalam keteladanan orang-tua adalah cara yang paling efektif. Apapun tipe dan karakter dari generasi anak-anak kita, mereka tetap menghargai keteladanan orang-tua dalam kehidupan sehari-hari. Sebab setiap anak dan generasi keturunan kita membutuhkan model yang konkret sehingga mereka mengikuti pola-pola pendidikan yang diwariskan orang-tua. Mereka pengenalan dan pengalaman berjumpa dengan Allah yang hidup di dalam Kristus melalui kehidupan orang-tua mereka.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Tinggalkan tanggapan

Tulisan terkait

Artikel

Dosa Warisan dan Keselamatan

Dalam teologi Kristen, ada sebuah ajaran yang selalu menyentuh hati dan menggugah perenungan, yaitu dosa warisan. Ajaran ini membawa kita kembali pada pertanyaan paling mendasar, yaitu…

· 13 mnt baca

Artikel

Kesuksesan dan Hidup Bermakna

Sebagai orang Kristen, cara kita melihat "sukses" seringkali perlu diluruskan kembali. Ukuran duniawi seperti banyaknya harta, tingginya jabatan, atau besarnya pujian bukanlah patokan utama dalam iman…

· 13 mnt baca

Liturgi

LITURGI NATAL KELUARGA 2025

Natal keluarga adalah momen yang indah di mana seluruh anggota dan kerabat keluarga dapat berkumpul dari berbagai tempat. Momen melaksanakan ibadah Natal keluarga dapat mempererat, mengakrabkan,…

· 9 mnt baca