Saya ingin membicarakan sesuatu yang mungkin terdengar teknis, yaitu tentang keberadaan Roh Kudus, dari mana Dia berasal, dan siapa yang mengutus Dia. Pokok bahasan dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana kita memahami siapa Allah kita, dan bagaimana kita menata hidup sebagai umat yang dipanggil untuk tinggal di dalam penyataan-Nya, yaitu Allah yang esa dalam Tiga Pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dari inti iman Kristen tentang Allah Tritunggal, muncul pembahasan perihal kata filioque (dari bahasa Latin) yang artinya: “dan dari Anak.” Hanya tiga suku kata. Tetapi tiga suku kata inilah yang kelak membelah gereja dalam sengketa panjang hampir seribu tahun. Gereja Timur dan Barat berbeda dalam memahaminya. Lalu kita yang hidup hari ini kadang bertanya, “Mengapa satu kata bisa mengguncang Tubuh Kristus sedalam itu?”
Diskusi dan perdebatan panjang tersebut terjadi saat gereja menafsirkan Yohanes 15:26, ketika Yesus berkata, “Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa.” Kata Yunani yang dipakai di sini adalah ekporeuetai, dan ini satu-satunya tempat dalam Alkitab di mana kata ini dipakai untuk Roh Kudus. Kata ini menunjuk pada asal-usul kekal, bukan sekadar misi atau pengutusan dalam sejarah. Dalam konteks ini Yesus tidak berkata, “keluar dari Bapa dan dari-Ku.” Yesus berkata dengan jelas bahwa Roh Kudus keluar dari Bapa. Tetapi Alkitab juga menunjukkan dimensi lain, saat Yesus berkata, “Aku akan mengutus Dia kepadamu” dalam Yohanes 16:7. Lalu dalam Yohanes 20:22, setelah kebangkitan-Nya, Yesus berkata seraya mengembusi mereka, “Terimalah Roh Kudus.” Selain itu Rasul Paulus berbicara tentang “Roh Kristus” dalam Roma 8:9, dan menyatakan “Roh Anak-Nya” dalam Galatia 4:6. Dari catatan ini terlihat bahwa Alkitab menghadirkan dua ranah yang harus kita pahami dengan jernih: ekporeusis yang menunjuk pada asal kekal Roh Kudus dalam hidup batin Allah yang tak terselami, dan apostolē yaitu karya pengutusan dalam sejarah keselamatan, dalam ruang dan waktu kita yang terbatas ini.
Dua ranah ini bukan dua hal yang bertentangan, sebab keduanya merupakan dua cara Allah menyatakan diri-Nya: tentang siapa Dia dalam diri-Nya sendiri, dan siapa Dia bagi kita. Para Bapa Gereja memahami ini dengan sangat mendalam. Justru karena mereka memahaminya, mereka berjuang keras untuk menjaga kedua hal ini tetap seimbang dan tetap utuh.
Para Bapa Kapadokia, yaitu Basilius, Gregorius dari Nazianzus, dan Gregorius dari Nyssa sangat memahami perbedaan kedua ranah itu. Mereka hidup di abad keempat, di tengah pergumulan melawan ajaran-ajaran sesat yang hendak merusak iman gereja. Mereka tahu bahwa kata-kata yang kita pakai untuk berbicara tentang Allah harus dipilih dengan hati-hati, karena kata-kata itu bukan sekadar label. Melalui kata-kata itulah akan terbentuk bagaimana umat menyembah, bagaimana umat berdoa, dan bagaimana mereka hidup. Basilius Agung menulis, “Roh berasal dari Bapa, tetapi diberikan melalui Putra.” Perhatikan nuansa kalimat Basilius: “Berasal dari” menunjuk pada asal-usul kekal. Lalu pernyataan “Diberikan melalui” menunjuk pada karya dalam sejarah. Karena itu Gregorius dari Nazianzus berkata, “Roh benar-benar keluar dari Bapa; bukan dilahirkan tetapi dihembuskan, dan Ia keluar dari Bapa.” Lagi-lagi, Bapa sebagai sumber. Gregorius dari Nyssa menegaskan, “Roh menerima keberadaan dari Bapa; namun Ia dinyatakan melalui Putra.” Keberadaan dari Bapa; penyataan melalui Putra. Dua hal berbeda, tetapi tidak terpisah.
Para Bapa Gereja tersebut hendak menjaga prinsip yang disebut monarki Bapa, yaitu bahwa Bapa adalah satu-satunya sumber (archē) dalam hidup kekal Tritunggal. Anak dilahirkan dari Bapa; Roh keluar dari Bapa. Sementara itu, Roh dinyatakan, dikaruniakan, dan diutus melalui Putra. Jadi ada urutan dan tatanan. Pemikiran para Bapa Gereja tersebut bukan untuk menunjukkan urutan waktu, karena dalam kekekalan ilahi tidak ada waktu. Lebih tepat, rumusan tersebut menunjukkan urutan relasi: Bapa sebagai sumber, Putra sebagai mediator, Roh sebagai yang keluar dan diutus.
Athanasius, sang pembela iman Nicea, menyatakan, “Roh berasal dari Bapa; Ia bukan sesuatu yang asing bagi Sang Putra, tetapi Ia adalah milik Putra karena Ia menerima dari Putra.” Pernyataan Athanasius hendak menyatakan asal kekal Roh dari Bapa, tetapi persekutuan Roh melibatkan Putra secara inheren. Roh itu “dari Bapa,” tetapi Ia juga “Roh Putra.” Dalam konteks ini Athanasius tidak melihatnya sebagai kontradiksi. Dia melihatnya sebagai misteri relasi ilahi yang melampaui logika manusia, tetapi yang kita hormati dan muliakan.
Jika demikian, apa alasan Gereja Barat menambahkan kata filioque? Karena saat itu Gereja Barat sedang menghadapi Arianisme, gerakan teologis yang berusaha merendahkan Kristus menjadi ciptaan atau makhluk tertinggi. Bagi Arius dan pengikutnya, Kristus bukan Allah sejati. Dia adalah perantara antara Allah dan manusia, tetapi Dia sendiri bukan Allah. Oleh sebab itu, untuk mempertahankan keilahian penuh Kristus, Gereja Barat menyatakan bahwa jika Roh keluar dari Bapa, dan Putra sehakikat (homoousios) dengan Bapa, maka Roh juga harus keluar dari Putra. Kalau tidak, Putra akan tampak lebih rendah dari Bapa. Kalau Bapa mengeluarkan Roh tetapi Putra tidak, bukankah itu menunjukkan bahwa Sang Putra kurang dari Bapa? Di sinilah muncul rumusan: Spiritus Sanctus… qui ex Patre Filioque procedit (Roh Kudus yang keluar dari Bapa dan Anak).
Dalam De Trinitate, karya monumentalnya tentang Tritunggal, Bapa Gereja Agustinus melukiskan Roh sebagai nexus amoris (ikatan kasih antara Bapa dan Putra). Ia menulis, “Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra sebagai kasih yang mempersatukan keduanya.” Bagi Agustinus, Roh bukan hanya yang keluar; Roh adalah kasih itu sendiri—kasih yang mengalir antara Bapa dan Putra, kasih yang mempersatukan keduanya dalam kesatuan ilahi yang sempurna. Berpegang pada pemikiran Bapa Gereja Agustinus, Gereja Barat menegaskan keilahian Kristus. Jika Roh hanya berasal dari Bapa, sementara Putra “tidak turut serta,” maka Arianisme akan berkata, “Lihat, ternyata Sang Putra lebih rendah daripada Bapa.” Tetapi jika Roh keluar dari Bapa dan Putra, maka Sang Putra setara dengan Bapa dalam kuasa ilahi, sebab mereka sama-sama sebagai sumber kehidupan ilahi. Mereka sama-sama Allah sejati.
Masalahnya, jika Roh dipahami sebagai kasih antara Bapa dan Putra, orang bisa tanpa sengaja mengurangi kepribadian Roh menjadi sekadar “relasi,” bukan Pribadi ilahi yang setara. Roh hanya dilihat sebagai fungsi atau dinamika kasih, bukan sebagai Pribadi ketiga yang mandiri dalam Tritunggal. Pemikiran ini bisa membingungkan umat, sebab Alkitab sendiri berbicara tentang Roh sebagai “Dia” (Subjek atau Pribadi), bukan sekadar “itu.” Roh Kudus bukan energi impersonal. Roh Kudus adalah Pribadi ilahi yang mengasihi, yang menghibur, yang menguduskan, dan yang berdoa syafaat bagi kita.
Masalah bahasa memang menjadi simpul pertama yang sering menyebabkan pembahasan tentang Allah Tritunggal menjadi kusut. Para Bapa Gereja Timur membaca kata Yunani ekporeuomai dengan ketelitian seorang ahli ikon yang membedakan setiap guratan warna. Ekporeusis bukan sekadar “pergi keluar.” Istilah itu menunjuk pada asal-usul ontologis, sumber ilahi yang hanya Bapa miliki. Basilius Agung mengatakan, “Roh berasal dari Bapa; Dia tidak dilahirkan seperti Putra, tetapi Dia keluar.” Gregorius dari Nazianzus juga menegaskan, “Bapa adalah penyebab dari Putra dan Roh: yang satu dilahirkan, yang lain keluar.”
Di sisi lain, tradisi Latin memakai kata procedere (berasal dari kata processio). Tetapi kata Latin procedere jauh lebih elastis daripada ekporeuomai. Kata procedere bisa menunjuk pada asal-usul kekal, tetapi juga bisa menunjuk pada pengutusan (missio) dalam sejarah keselamatan. Maksud Gereja Barat saat berkata Spiritus Sanctus procedit a Patre Filioque sebenarnya hendak menekankan kesatuan karya Bapa dan Anak dalam mengutus Roh ke dunia, bukan menduplikasi sumber ilahi. Jadi apa yang dimaksudkan oleh Gereja Barat sebagai processio tidak identik dengan ekporeusis Timur.
Konflik teologis antara Gereja Barat dan Timur terjadi karena mereka berbicara dari sudut yang berbeda dengan istilah yang sebenarnya tidak sama. Mereka berbicara dari konteks yang berbeda, dengan bahasa yang berbeda, dengan penekanan yang berbeda, sehingga timbul persepsi yang berbeda (kesalahpahaman).
Di samping masalah linguistik, konflik Gereja Barat dan Timur juga terjadi karena faktor eklesiologis. Kredo Nicea-Konstantinopel, yang dirumuskan dalam konsili ekumenis tahun 325 dan 381, adalah warisan bersama. Ia adalah “pernyataan iman keluarga besar Gereja.” Kredo itu bukan milik Timur saja atau Barat saja. Itu milik seluruh gereja. Karena itu, tindakan menambah satu kata pun tanpa konsili ekumenis terasa seperti mengubah warisan bersama secara sepihak. Ilustrasinya seperti saudara yang mengubah dokumen keluarga tanpa musyawarah. Inilah yang Gereja Timur rasakan ketika Gereja Barat menambahkan filioque ke dalam kredo tanpa melalui konsili gereja.
Cyril dari Aleksandria sebenarnya telah menyediakan titik temu. Di satu pihak ia berkata, “Roh keluar dari Bapa.” Tetapi di lain pihak ia juga berkata, “Roh adalah milik Sang Putra, karena Ia adalah Roh-Nya.” Kedua kalimat itu berdampingan, sehingga seharusnya diterima secara utuh. Tetapi di tangan gereja-gereja berabad-abad kemudian, dua kalimat itu berubah menjadi seperti dua panji peperangan. Seharusnya menjadi jembatan, malah dijadikan tembok pemisah. Karena penambahan filioque dilakukan tanpa konsili, Gereja Timur merasakan pelanggaran pada Tubuh Kristus. Bukan hanya pelanggaran teologis, tetapi pelanggaran persaudaraan. Akibatnya, pada tahun 1054, percikan kecil ini menjadi kobaran besar: Skisma Timur–Barat. Gereja terpecah. Sampai hari ini, luka itu belum sepenuhnya sembuh.
Selama hampir seribu tahun, kedua pihak saling mengangkat ayat dan para Bapa Gereja seperti mengangkat pedang. Timur mengutip Yohanes 15:26, yaitu ekporeuetai ek tou Patros (keluar dari Bapa) seraya mengutip Basilius yang berkata Roh “keluar dari Bapa.” Lalu untuk memperkuat, mereka mengutip Gregorius dari Nazianzus yang menyebut Bapa sebagai satu-satunya aitia (penyebab), dan juga mereka mengutip Gregorius dari Nyssa yang berkata “segala hal berawal dari Bapa, melalui Putra, dalam Roh.”
Sebaliknya, Gereja Barat mengutip Yohanes 16:7 yang menyatakan Anak mengutus Roh. Mereka mengutip Yohanes 20:22 tentang bagaimana Yesus mengembuskan Roh. Mereka juga mengutip Bapa Gereja Agustinus tentang Roh sebagai nexus amoris, ikatan kasih Bapa dan Anak. Lalu mereka mengutip Ambrosius yang berkata Roh “keluar dari Bapa dan Anak” dalam karya penyelamatan.
Kedua pihak masing-masing menemukan “bukti.” Kedua pihak merasa di posisi yang benar. Tetapi seribu tahun argumen ternyata tidak memberi kelegaan. Tidak ada yang menang dalam pertengkaran keluarga. Yang ada hanya luka yang semakin dalam, dan kesaksian gereja menjadi melemah di hadapan dunia. Sampai akhirnya, di abad ke-20, para teolog bersedia duduk bersama. Mereka berbicara bukan lagi sebagai pihak yang berperkara, melainkan sebagai saudara yang rindu akan kebersamaan.
Sebenarnya di abad ke-7, Maximus Sang Pengaku, yang hidup tepat di persimpangan antara Timur dan Barat, telah menulis dalam Epistola ad Marinum bahwa Gereja Barat tidak bermaksud menduakan sumber ilahi sebagaimana tuduhan Gereja Timur. Mereka tidak mengatakan ada dua archē, dua prinsip awal. Mereka hanya hendak menegaskan bahwa Roh yang turun bagi gereja adalah Roh yang “diutus oleh Putra.” Ini tentang missio (pengutusan), bukan tentang ekporeusis (asal-usul kekal). Maximus telah membuka jendela yang selama ini tertutup: bahwa perbedaan Timur-Barat bukan kontradiksi, melainkan perbedaan istilah, penekanan, dan perspektif. Mereka tidak sedang berbicara tentang dua hal yang bertentangan. Mereka sedang berbicara tentang dua aspek dari satu misteri yang sama, yaitu misteri hidup Allah Tritunggal yang melampaui semua kata-kata kita.
Dialog-dialog modern kembali menemukan hikmat para Bapa awal. Formula “Roh keluar dari Bapa melalui Anak” (ek tou Patros di’ Huiou) sudah terdengar dari Gregorius dari Nyssa dan sebagian tulisan Cyril. Formula ini menghormati monarki Bapa sebagai satu-satunya sumber, dan sekaligus mengakui peran mediasi Anak dalam relasi Roh, terutama dalam dimensi waktu dan sejarah keselamatan. Apabila kita cermati, formula ini selaras dengan pola alkitabiah yang kita baca dalam Yohanes 15:26 bahwa Roh keluar dari Bapa; pengutusan dalam waktu dalam Yohanes 16:7; dan sebaliknya, dalam Yohanes 20:22, Roh diutus oleh Putra. Semua ayat tersebut menegaskan kesatuan tindakan Allah Tritunggal. Itu sebabnya dalam Yohanes 14:10-11 Yesus menyatakan bahwa Bapa di dalam Anak, Anak di dalam Bapa, dan tidak terpisahkan.
Pada tahun 1965, Paus Paulus VI dan Patriark Athenagoras mencabut ekskomunikasi timbal balik sejak 1054. Tindakan ini bukan sekadar peristiwa diplomatik. Sejak itu, banyak gereja Barat kembali menggunakan kredo asli tanpa filioque dalam pertemuan ekumenis. Bukan karena mereka menyangkal teologi mereka, tetapi karena mereka menghormati warisan bersama dan mengakui bahwa ada ruang untuk formulasi yang berbeda tanpa harus saling mengutuk.
Lalu bagaimana kita seharusnya bersikap? Pertanyaan yang lebih tepat bukan, “Apakah Roh keluar dari Bapa saja atau dari Bapa dan Putra?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Dalam ranah mana kita sedang berbicara?” Bila kita berbicara tentang kekekalan keberadaan Allah, gereja seharusnya menyatakan Roh keluar dari Bapa, seperti yang dinyatakan dalam Yohanes 15:26 dan seluruh warisan pemikiran para Bapa dari Kapadokia. Sebaliknya, apabila kita hendak berbicara tentang misi dalam sejarah keselamatan atau oikonomia (ekonomi keselamatan), kita menyatakan bahwa Roh diutus oleh Sang Putra, sebagaimana dinyatakan dalam Yohanes 16:7, Yohanes 20:22, dan Roma 8:9. Dengan kata lain, rumusan yang tepat adalah: dari Bapa, melalui Putra, dalam Roh Kudus. Sementara Gereja Barat lebih menekankan dari Bapa dan Putra sebagai kesatuan sumber kekal kasih ilahi, sebab Gereja Barat mengutamakan bagaimana pengutusan Roh kepada gereja. Kedua sisi menjaga misteri yang sama dari sudut yang berbeda.
Dokumen ekumenis modern membuat sebuah kesimpulan yang lebih utuh/koheren: bahwa kedua tradisi pemikiran dari Gereja Barat dan Timur tidak bertentangan bila ditempatkan dalam ranah yang benar. Gereja Timur berbicara tentang asal-usul kekal (theologia). Sebaliknya, Gereja Barat berbicara tentang relasi dan kesatuan antara Bapa dan Putra, terutama dalam konteks oikonomia. Seharusnya kedua perspektif ini dapat hidup berdampingan tanpa saling meniadakan. Lalu pada tahun 1995 terbit dokumen resmi Ortodoks–Katolik yang menyatakan bahwa filioque, bila dipahami secara benar, tidak bertentangan dengan iman Timur yang menyatakan bahwa hanya Bapa sebagai sumber segala sesuatu. Kesatuan itu bukan keseragaman. Kesatuan itu berbentuk saling mendengar, saling menyempurnakan, dan saling menampung.
Pertanyaan bagi kita yang hidup di abad ke-21,”Mengapa kita harus ikut bersusah payah dengan perdebatan abad pertengahan tentang filioque dalam bahasa Yunani dan Latin?” Kita perlu ambil bagian karena di dalam konflik ini kita sedang membahas tentang Allah Tritunggal. Pemahaman tentang Allah akan memengaruhi bagaimana kita mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau Allah kita adalah relasi kasih (Bapa yang mengasihi Anak, Anak yang mengasihi Bapa, Roh sebagai ikatan kasih di antara Bapa dan Anak), tentunya gereja juga harus bersikap yang sama. Sebab Allah Tritunggal bukan monarki kekuasaan di mana satu pribadi memerintah yang lain. Tritunggal adalah persekutuan kasih Allah yang saling memberi, menghormati, dan memuliakan di dalam pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Athanasius berkata, “Sebab tidak ada di dalam Allah sesuatu yang asing dari diri-Nya sendiri; semua adalah relasi hidup.” Kalau Allah Tritunggal tidak bekerja sendiri-sendiri, gereja juga tidak boleh hidup terpecah. Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu,” tetapi pada sisi lain Ia juga berkata, “Bapa lebih besar daripada Aku.” Pernyataan Tuhan Yesus tersebut bukan hanya soal hakikat Allah, tetapi juga urutan pengutusan. Demikian pula perihal Roh Kudus saat Yesus berkata, “Ia akan memuliakan Aku.” Dalam konteks ini ada perbedaan peran, ada urutan relasi, tetapi tidak ada perbedaan keilahian. Apa yang diimani tentang Tritunggal akan menjadi pola hidup umat percaya sepanjang masa. Jadi, jika kita memandang Allah sebagai relasi kasih, kita akan memandang gereja sebagai tempat saling menumbuhkan, bukan saling menjatuhkan.
Alkitab tidak menyingkirkan salah satu dari dua penekanan. Di satu pihak Alkitab menyatakan bagaimana asal Roh dari Bapa dalam Yohanes 15:26. Di pihak lain ada pengutusan Roh oleh Anak dalam Yohanes 16:7 dan 20:22. Lalu pada gilirannya, karya Roh yang menyatukan kita dengan Bapa melalui Anak dalam Roma 8:15 dan Efesus 2:18. Rasul Paulus menulis dalam Efesus 2:18, yaitu “melalui Dia (Kristus) kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” Apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus adalah pola ilahi yang mengalir seperti napas: dari Bapa, melalui Anak, dalam Roh; dan kembali kepada Bapa, melalui Anak, oleh Roh. Tatanan kasih ilahi ini seharusnya menjadi pola setiap doa, liturgi, dan pelayanan kita.
Pola kehidupan Kristen yang sejati terwujud apabila umat senantiasa hidup dalam arus ilahi yang memancar dari Tritunggal yang kekal: dikasihi oleh Bapa, diselamatkan oleh Anak, dan dikuduskan oleh Roh. Atau kita mengungkapkan dari sisi yang berbeda: kita dipanggil oleh Roh, diperdamaikan oleh Anak, dan diadopsi oleh Bapa. Ketiga Pribadi Allah tersebut bekerja bagaikan sebuah harmoni yang tidak pernah sumbang, sebab seluruh simfoni saling melengkapi. Semuanya menuju satu tujuan: keselamatan umat-Nya, kemuliaan nama-Nya, dan restorasi seluruh ciptaan. Rasul Paulus menyatakan, “Karena oleh Dia (Kristus) kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” Itulah liturgi kehidupan iman Kristen: “kepada Bapa, melalui Anak, dalam Roh.” Karena itu ketika kita berdoa kepada Yesus seperti Stefanus yang berkata, “Tuhan Yesus, terimalah rohku,” kita tahu bahwa Roh sendiri mengangkat doa itu ke hadirat Bapa. Jadi tidak ada doa yang hilang. Tidak ada seruan yang terlupakan. Karena Allah Trinitas akan mendengar, menjawab, dan bekerja di dalam setiap aspek kehidupan kita.
Saat kita tidak tahu harus berdoa dan tidak punya kata-kata yang tepat sebab sedang terluka, saat itu Roh bekerja paling lembut dan paling dalam. Roma 8:26-27 mengajarkan bahwa “Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Doa bukan performa dan pidato teologis. Doa adalah partisipasi dalam hidup Allah Tritunggal. Melalui penyertaan Roh, tangan kita dituntun untuk masuk ke ruang persekutuan dengan Allah Tritunggal.
Perdebatan filioque, dengan seluruh dinamikanya, telah membuka sebuah perspektif penting bahwa teologi adalah bahasa manusia yang terbatas dan mencoba memahami misteri Allah yang melampaui segala bahasa. Ketika manusia mencoba menarasikan yang tidak terkatakan, tentu ada tepi-tepi yang kasar dan kesalahpahaman. Namun apabila kita mau merendahkan hati dan mendengar dengan sabar, kita akan menemukan kekayaan rohani yang tidak terlihat sebelumnya.
Gereja Timur maupun Barat sama-sama berkomitmen menjaga keutuhan iman rasuli. Gereja Timur, dengan kepekaan mendalam pada monarki Bapa, menegaskan bahwa Roh keluar dari Bapa, sehingga Gregorius dari Nazianzus berkata, “Kita tidak boleh menjadikan dua sumber… Bapa adalah satu-satunya sumber.” Sebaliknya, Gereja Barat, dalam pergumulan melawan Arianisme, menegaskan bahwa Roh keluar dari Bapa dan Anak. Bapa Gereja Agustinus menulis, “Roh Kudus adalah Roh dari keduanya… Ia adalah cinta yang mengalir dari Bapa kepada Putra dan dari Putra kepada Bapa.” Kedua belah pihak bukan sedang memperdebatkan dua Allah. Mereka sedang menjaga kemuliaan satu Allah dalam tiga Pribadi—Allah yang sama, yang kita sembah, kasihi, dan yang menyelamatkan kita.
Bapa Gereja Timur juga menunjukkan relasi dinamis, sehingga Cyril dari Aleksandria menyatakan, “Roh pada hakikatnya berasal dari Bapa, namun diberikan kepada kita melalui Putra.” Cyril menegaskan tentang asal dari Bapa, dan pewahyuan serta pengutusan melalui Putra. Walau Cyril tidak menggunakan istilah filioque, sesungguhnya ia telah menangkap jembatan antara kedua tradisi gereja yang saling bertentangan. Basilius Agung menyatakan bahwa Roh “memancar dari Allah, tetapi tidak dapat dipahami tanpa Putra.” Sementara Athanasius berkata, “Roh berasal dari Bapa, tetapi bukan asing dari Putra; Ia adalah Roh Putra.” Relasi ini bukan formula matematis yang bisa kita hitung. Allah Tritunggal adalah Allah yang hidup dalam misteri ilahi-Nya, penuh kedalaman dan kasih.
Setelah seribu tahun, Gereja mulai melihat bahwa Timur dan Barat tidak sedang menyembah dua Tritunggal yang berbeda, melainkan membawa bahasa, tekanan, dan konteks historis yang berbeda. Gereja Timur menjaga asal ilahi Roh dengan kata ekporeusis (keluar dalam kekekalan dari Bapa). Sebaliknya, Gereja Barat menjaga relasi erat Roh dengan Putra pada ide missio (pengutusan dalam sejarah keselamatan). Dewan gereja ekumenis modern menegaskan bahwa kedua pendekatan itu dapat saling melengkapi, dan bukan saling membatalkan.
Rasul Paulus memberi nasihat kepada setiap umat percaya: “Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Roh Kudus yang keluar dari Bapa, diutus oleh Putra, dan tinggal dalam Gereja adalah jantung dari kesatuan itu. Kesatuan yang tidak lahir dari pemaksaan atau penyeragaman, tetapi dari hidup bersama di bawah satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua. Roh yang sama juga yang mengisi Gereja perdana pada hari Pentakosta. Roh yang sama yang berbicara melalui para nabi. Roh yang sama yang membangkitkan Yesus dari kematian, kini bekerja mempersatukan Gereja yang terpisah oleh sejarah dan kultur. Ketika kita berdiri di hadapan misteri Allah Tritunggal, tugas kita bukan memecah gereja dengan formula-formula yang kaku. Tugas kita adalah membuka telinga untuk mendengar napas-Nya—Roh Kudus—yang datang dari Bapa, diutus oleh Putra, dan melingkupi gereja dengan kehidupan baru. Di dalam napas itu, kita menemukan diri kita ditarik untuk hidup, percaya, dan melayani dengan kerendahan hati di hadapan Allah Tritunggal.
Pada akhirnya, kita tahu bahwa di hadapan takhta Allah, tidak ada lagi kubu Gereja Timur atau Gereja Barat. Tidak ada liturgi Latin atau Bizantin yang saling bersaing. Tidak ada istilah filioque atau ekporeusis yang diperdebatkan. Yang ada hanya pujian yang menggetarkan seluruh semesta, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada, yang ada, dan yang akan datang.” Di hari itu, segala rumusan teologis akan membawa kita kepada satu pusat, yaitu Kristus yang telah disalibkan, bangkit, dan akan datang kembali.
Pdt. Em. Yohanes Bambang Mulyono
Yohanes BM Berteologi Yohanes BM Berteologi