Saya masih ingat percakapan dengan seorang teman Muslim beberapa tahun lalu. Dia bertanya, “Mengapa Alkitab ditulis oleh banyak orang berbeda dengan gaya yang berbeda-beda, sementara Quran langsung dari Allah tanpa campur tangan manusia? Bukankah pewahyuan yang benar harus kata demi kata, verbatim dari surga?” Saya yakin bahwa banyak orang Kristen tidak siap menjawabnya dengan mendalam. Bukan karena iman yang lemah, tetapi karena kita jarang diajarkan tentang bagaimana Allah sebenarnya menyampaikan firman-Nya dan mengapa cara itu justru menunjukkan kebesaran-Nya.
Dalam teologi Islam klasik, Quran dipahami sebagai kalam Allah yang sudah ada sebelum penciptaan dalam Lawh al Mahfuz (lembaran firman yang terpelihara di surga). Kemudian, melalui malaikat Jibril, Allah menurunkan kata demi kata dalam bahasa Arab kepada Muhammad selama dua puluh tiga tahun. Proses ini disebut tanzil, yang berarti “penurunan.” Muhammad dalam model pewahyuan ini bukanlah penulis atau bahkan penyusun. Ia adalah penerima pasif, seperti sekretaris yang mengetik dikte tanpa mengubah satu kata pun. Kepribadian, latar belakang, bahkan gaya bahasanya tidak mempengaruhi teks Quran sama sekali. Bahkan bahasa Arab Quran dipercaya sebagai bahasa surgawi sehingga terjemahan ke bahasa lain hanya dianggap tafsir, bukan Quran sejati. Ini yang disebut pewahyuan mekanis sebab Allah mendikte, manusia mencatat persis seperti yang didiktekan.
Kita yang mendengar penjelasan ini menganggap ini sebagai pewahyuan yang “murni,”? Tidak ada sentuhan manusia, jadi tidak ada kemungkinan kesalahan manusia. Apakah faktanya demikian? Lalu bagaimana cara Allah bekerja dalam Alkitab? Rasul Petrus menjelaskan, “Tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah” (2 Petrus 1:21). Perhatikan frasa yang sering kita lewatkan: “orang-orang berbicara.” Mereka tidak menjadi robot tanpa jiwa. Mereka berbicara sebagai manusia utuh, yaitu dengan kosakata mereka, gaya mereka, pengalaman mereka tetapi digerakkan, diarahkan, dijaga oleh Roh Kudus. Ini seperti angin yang menggerakkan layar perahu. Angin menentukan arah, tetapi bentuk layar mempengaruhi bagaimana perahu berlayar. Allah digambarkan seperti angin yang menentukan pesan, dan kepribadian penulis sebagai yang membentuk bagaimana pesan itu disampaikan.
Bagaimana kita menyikapi keragaman (variasi) dalam Alkitab? Alkitab ditulis selama 1500 tahun oleh lebih dari 40 penulis. Misalnya raja seperti Daud yang menulis dari istana, gembala seperti Amos dari padang rumput, nelayan seperti Petrus yang tak berpendidikan tinggi, dokter terdidik seperti Lukas, ahli hukum seperti Paulus yang belajar di bawah Gamaliel, bahkan pemungut cukai seperti Matius yang bekerja untuk pemerintah Romawi. Mereka menulis dalam tiga bahasa berbeda yaitu bahasa Ibrani, Aram, Yunani dalam berbagai genre, misalnya narasi sejarah, puisi, nubuat, surat pastoral. Jika kita membaca dengan cermat, kita akan melihat kepribadian unik setiap penulis bersinar melalui kata-kata mereka.
Rasul Paulus menulis dengan gaya teologis yang mendalam dan argumentatif, membangun kasus dengan logika ketat seperti pengacara yang sedang membela. Markus menulis dengan bahasa Yunani sederhana dan praktis, langsung masuk ke aksi tanpa genealogi panjang untuk pembaca orang Romawi yang berorientasi tindakan. Daud menulis Mazmur penuh metafora pastoral. Misalnya Daud berkata, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mazmur 23:1). Tentu saja, karena Daud juga memang gembala sebelum menjadi raja. Pengalaman hidupnya yang paling dalam mengekspresikan kepercayaannya kepada Allah. Ini bukan kelemahan, tetapi kekayaan yang menunjukkan Allah yang cukup besar untuk bekerja melalui sejarah dan kepribadian manusia tanpa kehilangan otoritas firman-Nya.
Tetapi ada perbedaan yang jauh lebih fundamental yang sering terlewatkan dalam diskusi tentang Alkitab versus Quran. Dalam Islam, puncak pewahyuan adalah Quran sebagai sebuah kitab. Sebaliknya dalam Kekristenan, puncak pewahyuan bukan buku, tetapi satu Pribadi, yaitu Yesus Kristus. Ini bukan sekadar perbedaan penekanan, tetapi paradigma yang total berbeda tentang bagaimana Allah menyatakan diri-Nya. Penulis Surat Ibrani menjelaskan progresivitas ini dengan indah, “Pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, tetapi pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibrani 1:1-2). Dahulu berulang kali, Allah dalam berbicara dalam berbagai cara melalui banyak nabi. Sekarang satu kali, lengkap, final, melalui Anak-Nya yang adalah Sang Firman Allah sendiri.
Yohanes membuka Injilnya dengan deklarasi yang mengejutkan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yohanes 1:1,14). Dalam bahasa Yunani, makna “Firman” adalah Logos bukan sekadar kata-kata, tetapi Pikiran, Rencana, Kehadiran Allah sendiri. Keberadaan Logos ini tidak tetap di surga sebagai buku yang terpelihara. Sang Logos ini menjadi daging. Ia berinkarnasi. Yesus bukan hanya membawa firman Allah seperti para nabi. Ia adalah Firman itu sendiri. Ia tidak berkata “Aku menunjukkan jalan kepada Allah,” tetapi “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).
Karena itu dalam iman Kristen, kedudukan Alkitab bukan tujuan akhir atau pusat iman. Alkitab adalah kesaksian tentang Kristus. Seluruh Perjanjian Lama menantikan kedatangan-Nya. Kitab Injil-injil mempersaksikan kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Surat-surat rasuli menafsirkan makna karya-Nya. Berita Kitab Wahyu mengantisipasi kedatangan-Nya yang kedua. Yesus sendiri menegur orang-orang Yahudi yang mengagungkan Kitab Suci tetapi mengabaikan Dia, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu” (Yohanes 5:39-40). Ironi yang tragis! Mereka yang paling taat membaca Kitab Suci justru mengabaikan dan menolak Pribadi yang diceritakan Alkitab. Tidak demikian dalam pemahaman teologi Islam. Quran adalah pusat. Sebaliknya dalam Kekristenan, Kristus adalah pusat, dan Alkitab bersaksi tentang Dia.
Sekarang pertanyaan praktis yang penting: apabila kita dapat mengerti teologinya, tetapi bagaimana kita tahu Alkitab yang kita baca sekarang masih sama dengan yang ditulis dua ribu tahun lalu? Bukankah bisa saja berubah selama ribuan tahun penyalinan? Lalu bagaimana bila dibandingkan dengan klaim bahwa Quran terpelihara sempurna? Para sejarawan menggunakan dua kriteria untuk menilai reliabilitas teks kuno. Pertama adalah jumlah manuskrip yang tersedia, dan kedua adalah gap waktu antara penulisan asli dengan manuskrip tertua.
Manuskrip Perjanjian Baru memiliki lebih dari 5.800 manuskrip Yunani, lalu lebih dari 10.000 manuskrip Latin Vulgata, dan sekitar 9.300 manuskrip bahasa kuno lain. Jumlah totalnya lebih dari 25.000 manuskrip. Tidak ada teks kuno lain yang mendekati angka ini. Bandingkan dengan tulisan Iliad karya Homer, teks dengan manuskrip terbanyak kedua, hanya memiliki 650 manuskrip dengan gap waktu 400 tahun. Karya Julius Caesar hanya mewariskan 10 manuskrip dengan gap 1000 tahun. Tacitus hanya mewariskan 2 manuskrip dengan gap 1000 tahun. Jika kita percaya keandalan tulisan-tulisan dari Iliad, Caesar, dan Tacitus yang semua orang menerima tanpa pertanyaan, maka logis jika kita harus jauh lebih percaya pada Perjanjian Baru yang memiliki bukti dokumenter puluhan kali lipat lebih banyak.
Gap (jarak) waktu kitab-kitab dalam Perjanjian Baru juga sangat pendek. Misalnya Papirus P52 yang berisi fragmen Yohanes 18 berasal dari tahun 125 Masehi, hanya tiga puluh hingga empat puluh tahun setelah Yohanes menulis Injilnya. Lalu Papirus P46 dengan sebagian besar surat-surat rasul Paulus dari tahun 200 M. Kita juga memiliki Codex Sinaiticus dan Vaticanus yang hampir lengkap dari tahun 325-350 M. Gap waktu hanya 30 hingga 300 tahun. Dari standar teks kuno, kondisi ini seperti menemukan foto dari peristiwa yang baru saja terjadi.
Untuk kitab-kitab dalam Perjanjian Lama, penemuan Gulungan Laut Mati pada tahun 1947 mengubah segalanya. Di antara gulungan itu ditemukan kitab Yesaya lengkap dari tahun 125 sM atau 1.100 tahun lebih tua dari manuskrip sebelumnya. Ketika para ahli membandingkan, mereka menemukan teks yang hampir identik dengan teks Alkitab yang kita gunakan sekarang. Perbedaan yang ada hanya masalah ejaan dan detail kecil yang tidak mengubah makna. Ini membuktikan tradisi penyalinan Yahudi yang luar biasa cermat selama ribuan tahun.
Akurasi transmisi teks Perjanjian Baru mencapai 95,5%. Bruce Metzger, ahli kritik tekstual terkemuka, menyatakan tegas bahwa dari ribuan varian tekstual, tidak satupun mempengaruhi doktrin Kristen yang fundamental. Bahkan Bart Ehrman, seorang agnostik yang sering mengkritik Kekristenan, mengakui kita dapat merekonstruksi teks asli dengan tingkat kepastian sangat tinggi. Lebih penting lagi adalah bahwa semua variasi ini dipublikasikan terbuka dalam edisi kritis Alkitab. Transparansi total sehingga tidak ada teks yang disembunyikan.
Sekarang tentang Quran dengan standar yang sama. Faktanya, tidak ada satu pun manuskrip lengkap Quran dari abad ketujuh, masa Muhammad atau langsung setelahnya. Birmingham Quran Manuscript dari tahun 568-645 M hanya 2 buah perkamen. Manuskrip Sana’a Palimpsest dari tahun 650-670 M juga fragmentaris. Manuskrip lengkap tertua berasal dari abad kedelapan atau kesembilan dengan jarak waktu 150-200 tahun. Gap waktu ini sebenarnya masih tergolong baik dalam standar teks kuno, tetapi tidak mendukung klaim “preservasi sempurna” sejak hari pertama.
Ada juga fenomena qira’at, yang mana setidaknya tujuh variasi bacaan yang semua dianggap sah dalam tradisi Islam. Variasi ini bukan hanya vokal atau aksen, tetapi kadang melibatkan perbedaan konsonan yang mengubah makna. Misalnya dalam Surah 2:259, satu qira’at membaca “nunshizuha” yang berarti “kami bangkitkan tulang-tulang,” sementara qira’at lain membaca “nanshurha” yang berarti “kami sebarkan tulang-tulang.” Perbedaan mungkin terlihat kecil, tetapi dalam teologi yang menekankan akurasi kata demi kata menjadi masalah yang signifikan. Apabila setiap qira’at punya jalur hafalan berbeda, maka hafalan tidak menyelesaikan masalah variasi tekstual.
Sejarah kompilasi Quran sendiri menunjukkan ada variasi di masa awal. Menurut hadis sahih dalam Bukhari, Khalifah Utsman sekitar tahun 650 M mengompilasi satu mushaf standar dan kemudian memerintahkan membakar semua mushaf lain yang berbeda. Pertanyaan logisnya adalah mengapa perlu membakar jika semuanya identik? Pembakaran ini mengindikasikan memang ada variasi signifikan yang perlu distandarkan. Contoh lain Ibn Mas’ud, salah satu sahabat terdekat Muhammad yang dipuji sebagai ahli Quran, memiliki mushaf pribadi yang tidak memasukkan Surah Al-Fatihah dan dua surah terakhir. Ini tercatat dalam sumber-sumber Islam klasik sendiri, bukan tuduhan dari luar.
Penemuan manuskrip Sana’a Palimpsest menambah kompleksitas. Ketika peneliti menggunakan teknologi modern untuk membaca teks yang telah dihapus, mereka menemukan variasi signifikan dari teks Quran standar, termasuk perbedaan urutan surah dan redaksi ayat. Penelitian Gerd-R. Puin ternyata menunjukkan teks Quran mengalami evolusi dalam bentuk tertulisnya. Ditemukan ternyata mushaf Utsmani awal tidak punya titik diakritik dan tanda baca, misalnya huruf ba, ta, tsa, ya, nun ditulis dengan bentuk dasar sama. Titik pembeda baru ditambahkan abad kedelapan atau kesembilan, 100 lebih setelah Muhammad wafat.
Yang membedakan studi Alkitab dari studi Quran adalah pendekatan terhadap kritik tekstual. Dalam studi Alkitab, metode historis-kritis diterapkan secara terbuka. Semua manuskrip didigitalisasi dan tersedia untuk umum. Debat akademis sangat bebas. Sebaliknya dalam studi Quran, doktrin Lawh al- Mahfuz melakukan kritik tekstual dianggap tabu. Peneliti kritis menghadapi penolakan keras. Akses ke manuskrip kuno terbatas, yaitu hanya dapat ditemukan di museum tertentu dengan akses terbatas.
Apa yang dapat kita simpulkan? Secara akademis, klaim “preservasi sempurna” Quran lebih kompleks dari yang sering dipresentasikan dalam dakwah populer. Muslim beriman tentu dapat menerima preservasi Quran berdasarkan iman teologis, tetapi jika kita menggunakan standar bukti historis yang sama, Alkitab memiliki dokumentasi jauh lebih kuat dan transparan. Pewahyuan organis Alkitab bukan kelemahan, tetapi menunjukkan bahwa Allah iman Kristen adalah TUHAN yang relasional, yang menghargai kemanusiaan kita sambil menyampaikan firman-Nya. Karena itu pewahyuan dalam iman Kristen berpuncak bukan pada buku, tetapi pada Pribadi, yaitu Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia.
Kita tidak percaya secara buta. Ada bukti melimpah berupa ribuan manuskrip, gap waktu minimal, transparansi total. Tetapi pengharapan tertinggi kita bukan pada kertas dan tinta, melainkan pada Pribadi yang hidup, Yesus Kristus. Ia yang bangkit dari kematian. Ketika Tomas ragu dan menuntut bukti, Yesus menunjukkan tangan dan lambung-Nya yang terluka, lalu berkata, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29). Kita percaya kepada kebenaran firman Tuhan dengan pikiran yang jernih dan hati yang tulus bukan karena kita punya buku terbaik, tetapi karena kita mengenal Pribadi yang bangkit dari kematian, “yang sama kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8).
Pdt. Em. Yohanes Bambang Mulyono
Yohanes BM Berteologi Yohanes BM Berteologi