Di tengah krisis iklim, konflik berkepanjangan, perang, dan ketidakpastian ekonomi global, pertanyaan “Ke mana arah sejarah ini?” bergema di hati banyak orang. Eskatologi adalah doktrin tentang akhir zaman yang memberikan jawaban yang mengubah hidup dengan perspektif yang baru. Lebih dari sekadar teori tentang masa depan yang jauh, eskatologi adalah lensa untuk memahami makna kehidupan kita hari ini.
Kata “eskatologi” berasal dari bahasa Yunani eschatos yang berarti “yang terakhir.” Dalam perspektif Alkitab, eskatologi bukan hanya berbicara tentang peristiwa-peristiwa di penghujung zaman, tetapi tentang bagaimana masa depan Allah masuk ke dalam masa kini. Rasul Paulus menulis, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17). Ini mengungkapkan paradoks eskatologi Kristen: kita hidup di antara “sudah” dan “belum”. Artinya Kerajaan Allah sudah hadir dalam Kristus, namun penggenapannya yang sempurna masih menanti.
Allah Tuhan Atas Sejarah
Pemahaman eskatologi alkitabiah dimulai dengan mengakui bahwa Allah adalah Tuhan atas sejarah. Sejarah bergerak dengan tujuan mulai dari penciptaan yang “sungguh amat baik” (Kejadian 1-2), melalui kejatuhan yang membawa kekacauan kosmik (Kejadian 3), menuju pemulihan total. Yesus Kristus adalah pusat dari eskatologi ini. Kedatangan-Nya yang pertama menandai invasi Kerajaan Allah ke dalam dunia yang dikuasai dosa dan maut. Ketika Ia memproklamasikan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Matius 4:17), Ia mengumumkan bahwa masa depan Allah telah menjelma dalam diri-Nya.
Pembaruan Seluruh Kosmos
Eskatologi kosmik menegaskan bahwa rencana Allah tidak terbatas pada keselamatan jiwa individual, tetapi mencakup pembaruan seluruh kosmos. Roma 8:19-23 menyatakan bahwa seluruh ciptaan, yaitu gunung, laut, binatang, tumbuhan sedang menanti pembebasan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh dosa. Eskatologi Kristen bukan tentang meninggalkan bumi untuk surga yang rohani semata, melainkan tentang transformasi bumi menjadi tempat kediaman Allah yang kekal.
Wahyu 21:1 menggenapi visi, “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru.” Allah tidak membinasakan ciptaan-Nya, tetapi membarui dan mentransformasikannya. Yang paling utama pesannya adalah bahwa “kemah Allah ada di tengah-tengah manusia”. Artinya Allah sendiri akan berdiam dengan ciptaan-Nya dalam intimasi yang sempurna.
Implikasi Praktis
Pemahaman ini memiliki implikasi praktis yang mendalam. Pertama, kita dipanggil menjadi penatalayan ciptaan yang bertanggung jawab. Jika Allah akan membarui bumi, maka pekerjaan pelestarian lingkungan memiliki makna kekal. Kedua, perjuangan melawan ketidakadilan sosial mendapat validasi teologis. Karena Allah akan menghadirkan keadilan sempurna, maka perjuangan kita untuk keadilan ekonomi dan kesetaraan adalah antisipasi Kerajaan Allah. Ketiga, penderitaan kita saat ini diletakkan dalam konteks pengharapan, sehingga realitas penderitaan bukanlah kata terakhir (Roma 8:18).
Kerajaan Seribu Tahun dan Keadilan Allah
Wahyu 20:1-6 menggambarkan “Kerajaan Seribu Tahun” (Milenium), periode ketika Kristus memerintah bersama orang-orang kudus. Konsep ini menyentuh pertanyaan tentang keadilan Allah, yaitu “Mengapa Allah mengizinkan begitu banyak penderitaan?” Eskatologi menjawab bahwa sejarah bergerak menuju momen ketika keadilan akan ditegakkan sempurna. Iblis akan dihukum, semua penindas akan menghadapi penghakiman, semua korban akan mendapat pemulihan.
Kedatangan Kembali Kristus
Parousia (kedatangan kembali Kristus) adalah peristiwa paling dinanti. Yesus berjanji, “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku” (Yohanes 14:3). Janji ini telah menopang pengharapan gereja selama dua ribu tahun. Berkaitan dengan ini adalah “pengangkatan” (rapture), ketika orang percaya akan “diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa” (1 Tesalonika 4:17).
Kebangkitan Tubuh
Rasul Paulus menjelaskan bahwa tubuh kita yang fana akan ditransformasikan, “Sebab sangkakala akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah” (1 Korintus 15:52). Kebangkitan tubuh merupakan tata bahasa iman Kristen yang fundamental. Kita tidak percaya pada keabadian jiwa yang terpisah dari tubuh, melainkan pada kebangkitan tubuh, yaitu pembaruan total dari seluruh eksistensi kita.
Tubuh kebangkitan kita akan serupa dengan tubuh kebangkitan Yesus yang bersifat nyata, material, namun ditransformasikan dan dimuliakan. Ini mengafirmasi nilai dan martabat dunia material. Kekristenan tidak mengajarkan bahwa materi adalah jahat. Sebaliknya, Allah menciptakan materi sebagai baik dan akan menebus serta mentransformasikannya.
Penghakiman
Alkitab berbicara tentang dua peristiwa penghakiman. Pertama, “Takhta Penghakiman Kristus” (2 Korintus 5:10), di mana orang percaya akan dievaluasi untuk upah berdasarkan kehidupan dan pelayanan mereka. Kedua, “Penghakiman Takhta Putih yang Besar” (Wahyu 20:11-15), di mana mereka yang menolak Kristus akan menghadapi “kematian yang kedua.”
Doktrin penghakiman kekal dan neraka adalah aspek yang sulit. C.S. Lewis menawarkan wawasan bahwa pintu neraka “terkunci dari dalam”. Makna “neraka” dalam konteks ini menunjuk sebagai tempat pilihan akhir dari mereka yang konsisten menolak Allah. Namun realitas neraka seharusnya mendorong kita pada misi yang mendesak. Pemberitaan Injil menjadi prioritas tertinggi.
Yerusalem Baru
Wahyu 21-22 menggambarkan keadaan akhir yaitu langit baru, bumi baru, dan Yerusalem baru. “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya” (Wahyu 21:2). Gambaran pengantin adalah metafora untuk hubungan antara Kristus dan gereja-Nya.
Kehidupan kekal bukan keberadaan pasif di awan. Sebaliknya, kita akan memerintah, yaitu mengelola, mengembangkan, dan merawat ciptaan Allah. Ini adalah penggenapan mandat budaya asli yang diberikan kepada Adam dan Hawa (Kejadian 1:28). Ada kontinuitas di mana keahlian, talenta, dan karya kita sekarang akan bertahan dalam kehidupan kekal. “Dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15:58).
Ada juga diskontinuitas, sebab semua yang rusak oleh dosa akan dihilangkan. Wahyu 21:4 berjanji, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita.” Tidak akan ada lagi kanker, perang, ketidakadilan, atau kesalahpahaman. Semua sumber air mata akan lenyap.
Hidup Hari Ini dalam Terang Eskatologi
Bagaimana kita hidup sekarang? Rasul Paulus memberikan jawaban dalam Kolose 3:1-4, yaitu “Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada.” Ini bukan pelarian dari tanggung jawab duniawi, melainkan reorientasi nilai-nilai kita. Hal-hal yang dunia anggap penting kehilangan daya tariknya ketika kita menyadari bahwa kita adalah pewaris kerajaan kekal.
Pengharapan eskatologis membentuk etika kita. Rasul Petrus menulis bahwa kesadaran akan menghadap Allah menghasilkan kesucian hidup (2 Petrus 3:11-14). Eskatologi juga menginformasikan sikap kita terhadap penderitaan, memberikan kesabaran dalam menghadapi ujian. Bagi mereka yang berduka, eskatologi menawarkan penghiburan: perpisahan ini bersifat sementara.
Eskatologi berbicara kepada pertanyaan tentang identitas dan komunitas. Di Yerusalem baru, identitas etnis dan budaya kita tidak akan dihapuskan, melainkan dimurnikan. Keberagaman adalah bagian dari kekayaan ciptaan Allah. Visi ini menantang segala bentuk rasisme dan tribalisme. Gereja seharusnya menjadi komunitas eskatologis yang mengantisipasi kehadiran secara penuh realitas Kerajaan Allah.
Pengharapan eskatologis memberikan motivasi untuk misi. Yesus mengajarkan untuk berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Matius 6:10). Kita berdoa dan kemudian bekerja untuk mewujudkan nilai-nilai Kerajaan, yaitu keadilan, kasih, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.
Pengharapan yang Tidak Tergoyahkan
Bagi generasi muda yang bergumul dengan kecemasan tentang masa depan, eskatologi menawarkan jangkar pengharapan yang didasarkan pada janji Allah yang setia. Kita mengakui keseriusan krisis yang kita hadapi, namun tidak putus asa karena akhir cerita sudah ditulis. Allah akan menang, keadilan akan ditegakkan, dan ciptaan akan dipulihkan.
Eskatologi mengajarkan kita untuk hidup dengan ketegangan kreatif antara kepuasan dan kerinduan. Di satu sisi, kita bersyukur atas berkat yang sudah kita terima. Di sisi lain, kita tetap merindukan penggenapan yang sempurna. Kitab Wahyu ditutup dengan undangan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah!’ Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang” (Wahyu 22:17).
Eskatologi kosmik bukan doktrin abstrak, tetapi kebenaran transformatif yang membentuk cara kita hidup hari ini. Karena itu kita harus hidup sebagai umat eskatologis, yaitu dengan mata yang tertuju pada masa depan Allah, tangan bekerja di ladang-Nya hari ini, hati dipenuhi pengharapan yang tidak dapat digoyahkan. Amin, datanglah Tuhan Yesus!
10 Pertanyaan untuk Refleksi
- Apa yang dimaksud dengan paradoks “sudah tetapi belum” dalam eskatologi Kristen?
- Mengapa eskatologi kosmik menekankan pembaruan seluruh ciptaan, bukan hanya keselamatan jiwa individual?
- Bagaimana pemahaman tentang “langit baru dan bumi baru” mengubah tanggung jawab kita terhadap lingkungan hidup?
- Apa perbedaan antara Takhta Penghakiman Kristus dan Penghakiman Takhta Putih yang Besar?
- Mengapa kebangkitan tubuh adalah artikel iman yang fundamental dalam eskatologi Kristen?
- Bagaimana konsep Kerajaan Seribu Tahun berkaitan dengan keadilan Allah?
- Apa makna teologis dari pernyataan bahwa “jerih payahmu tidak sia-sia” dalam Tuhan?
- Bagaimana pengharapan eskatologis membentuk sikap kita terhadap penderitaan dan dukacita?
- Mengapa gereja disebut sebagai “komunitas eskatologis”?
- Bagaimana eskatologi seharusnya memotivasi misi dan penginjilan gereja hari ini?
Pdt. Em. Yohanes Bambang Mulyono
Yohanes BM Berteologi Yohanes BM Berteologi