Latest Article
Kesuksesan dan Hidup Bermakna
Kesuksesan dan Hidup yang bermakna

Kesuksesan dan Hidup Bermakna

Sebagai orang Kristen, cara kita melihat “sukses” seringkali perlu diluruskan kembali. Ukuran duniawi seperti banyaknya harta, tingginya jabatan, atau besarnya pujian bukanlah patokan utama dalam iman kita. Alkitab justru mengajak kita menilai hidup dari sudut pandang yang lebih dalam dan berbeda. Sukses sejati bukan terutama soal apa yang kita kumpulkan atau capai di luar, tetapi lebih tentang seberapa setia kita kepada Tuhan, seutuh apa karakter kita dibentuk, dan seberapa efektif hidup kita memberi dampak bagi orang lain. Nah, ini bukan berarti Alkitab anti kerja keras atau menganggap berkat materi itu buruk. Justru sebaliknya, Alkitab sangat menghargai ketekunan, kerajinan, dan tanggung jawab. Seperti tertulis dalam Amsal, “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya” (Amsal 10:4). Rasul Paulus juga mengingatkan, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).

Tapi, semua keberhasilan lahiriah itu punya konteks yang lebih besar. Semuanya harus dilihat dalam cahaya iman, sebagai wujud kesetiaan kita kepada Allah, sumber dan tujuan hidup kita. Itu sebabnya perkataan Yesus ini penting, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26). Dari sini kita tahu, kesuksesan yang hanya terlihat dari luar, tanpa ada pertumbuhan batin dan hubungan yang dalam dengan Tuhan, sebenarnya adalah kegagalan yang terselubung. Dalam perspektif Kerajaan Allah, hidup ini bukan dinilai dari seberapa banyak yang kita punya, tapi dari siapa diri kita yang sebenarnya. Sukses sejati bukanlah soal memiliki, melainkan soal menjadi yaitu menjadi pribadi yang hidup sesuai kehendak Tuhan dan mengutamakan Kerajaan-Nya.

Itulah mengapa Alkitab menempatkan karakter sebagai inti dari hidup yang berhasil. Dunia biasanya menilai dari penampilan luar: gelar, jabatan, atau harta. Tapi Alkitab dengan jujur berkata, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Samuel 16:7). Bagi Tuhan, yang terpenting bukanlah pencapaian eksternal, melainkan kualitas batin kita: kesetiaan, kejujuran, kerendahan hati, dan ketaatan. Seperti dirangkum dengan sederhana namun dalam oleh Nabi Mikha, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Inilah ciri-ciri hidup yang berkenan kepada-Nya. Buah Roh yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Galatia 5:22-23) bukanlah hasil dari ambisi pribadi kita, melainkan buah alami dari kehidupan yang tinggal dan bergantung pada Tuhan.

Kisah Abraham adalah contoh nyata bagaimana kesuksesan sejati itu dibangun di atas iman dan karakter. Memang, Abraham diberkati dengan harta yang melimpah, tapi Alkitab tidak memujinya karena kekayaannya itu. Yang justru ditekankan adalah iman dan ketaatannya yang luar biasa. “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran” (Kejadian 15:6). Penulis Ibrani pun menegaskan, “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibrani 11:8). Jadi, intinya bukan soal kepemilikan tanah atau ternak, melainkan hati yang mau percaya dan taat tanpa syarat.

Lalu ada kisah Yusuf, yang justru menunjukkan paradoks yang lebih mencolok. Dari kacamata manusia, Yusuf adalah seorang yang gagal total. Ia dijual saudaranya sendiri, difitnah, dan terpenjara. Tapi Alkitab menyatakan dengan tegas bahwa justru di tengah keadaan itulah Yusuf berhasil, karena “TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara” (Kejadian 39:21). Keberhasilannya tidak ditentukan oleh situasi buruk yang dialaminya, melainkan oleh penyertaan Tuhan dan integritas yang teguh. Di tengah godaan, ia memilih setia. Di tengah ketidakadilan, ia tidak patah harapan. Di tengah penderitaan, ia tetap berpegang pada iman. Karakter seperti inilah yang kemudian dipakai Tuhan untuk menyelamatkan banyak orang.

Dari dua kisah ini, kita belajar bahwa kegagalan secara lahiriah belum tentu berarti gagal di mata Tuhan. Bahkan, seringkali Tuhan justru membentuk dan mempersiapkan kita melalui jalan-jalan yang sempit, sulit, dan penuh dengan rasa sakit. Seperti kata Rasul Paulus, “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Roma 5:3-4). Rasul Yakobus juga mengingatkan hal serupa: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (Yakobus 1:2-3).

Puncak dari semua ini adalah salib Kristus. Di sinilah cara pandang dunia tentang kesuksesan dijungkirbalikkan total. Bagi manusia, salib adalah lambang kegagalan mutlak. Yesus ditolak, ditinggalkan, dan mati dengan cara yang paling hina. Tapi justru di titik nadir itulah Allah sedang meraih kemenangan terbesar. Apa yang kelihatan sebagai kekalahan, ternyata adalah kemenangan Allah atas dosa, maut, dan kuasa kegelapan. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1 Korintus 1:18).

Nah, kalau kita mau mengerti lebih dalam lagi tentang makna salib, ada sebuah nyanyian pujian (doksologi) dalam surat Filipi yang sangat bagus menjelaskannya. Di situ digambarkan bagaimana Kristus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia” (Filipi 2:6-9).

Dari sini jelas banget, jalan Tuhan itu beda 180 derajat dengan cara pikir dunia. Jalan Tuhan bukanlah jalan ambisi, tapi jalan ketaatan. Bukan tentang mempertahankan diri mati-matian, tapi tentang berani menyerahkan diri. Pola inilah yang jadi pondasi kesuksesan versi Kristen, yaitu kemuliaan lahir dari kerendahan hati, kemenangan lahir dari penyerahan diri, dan kehidupan sejati justru ditemukan saat kita rela “mati” terhadap keinginan diri sendiri. Berbeda kan dengan logika dunia yang selalu mendorong kita untuk bersaing, mengejar pencapaian, dan menumpuk keuntungan? Jadi, sukses sejati bukan soal bagaimana kita memperbesar nama kita, tapi soal bagaimana kita sepenuhnya menyerahkan hidup kita pada rencana Tuhan. Bukan tentang menyelamatkan diri sendiri dengan segala cara, tapi tentang rela memberi diri untuk Tuhan dan sesama.

Makanya, iman Kristen tidak pernah janji jalan bebas penderitaan. Justru, kita diajar untuk setia dan bahkan bersukacita di dalam penderitaan, karena kita percaya Kristus hadir dan bekerja di situ. Ukuran sukses seorang Kristen bukanlah hidup yang mulus tanpa masalah, tapi hidup yang berani memikul salibnya dan setia mengikuti Kristus.

Selain itu, Alkitab juga menegaskan bahwa kesuksesan sejati itu tidak pernah egois. Hidup yang berhasil bukan hidup yang berputar pada diri sendiri, melainkan hidup yang menghasilkan buah bagi orang lain. Yesus bilang, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yohanes 15:8). Bahkan, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yohanes 15:16). Artinya, keberhasilan kita sebagai murid Kristus selalu dilihat dari seberapa baik hidup kita memberkati orang lain dan dunia sekitar.

Perumpamaan tentang talenta bantu kita memahami hal ini dengan lebih nyata. Semua yang kita punya baik bakat, posisi, waktu, maupun uang itu bukan milik kita sendiri untuk dipakai semau kita. Semuanya adalah titipan Tuhan. Tugas kita bukan cuma menjaganya, tapi juga mengembangkannya dan memakainya untuk kebaikan yang lebih luas. Hamba yang dipuji Tuhan adalah yang berani menginvestasikan dan mengolah talentanya, bukan yang menyembunyikannya karena takut mengambil risiko. Jadi, kesuksesan diukur dari seberapa setia kita mengelola apa yang Tuhan percayakan, bukan dari seberapa banyak keuntungan yang kita kumpulkan untuk diri sendiri.

Yesus benar-benar membalikkan cara pikir kita tentang arti “hebat” dan “sukses”. Kata-Nya tegas, “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:26-28). Jadi, kesuksesan sejati itu bukan diukur dari seberapa tinggi posisi kita dalam masyarakat atau gereja, tetapi dari seberapa banyak kita bisa mengangkat hidup orang lain melalui pelayanan yang tulus, penuh kasih, dan adil.

Rasul Yakobus kemudian memperjelas hal ini dengan bahasa yang sangat gamblang dan praktis. Menurutnya, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yakobus 1:27). Artinya, kesalehan yang otentik selalu punya wajah sosial. Hidup yang benar-benar berhasil dalam iman Kristen adalah hidup yang terbuka terhadap penderitaan sesama, dan dengan demikian menghadirkan kasih Allah secara nyata di tengah dunia.

Kita bisa lihat contoh konkretnya pada jemaat mula-mula yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul. Mereka adalah gambaran indah dari komunitas umat percaya yang sukses sejati. Kekuatan mereka bukan terletak pada kekuasaan politik atau kekayaan materi, tetapi pada kualitas hidup bersama yang luar biasa. “Semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah… sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang” (Kisah Para Rasul 2:44-47). Keberhasilan mereka terletak pada relasi yang sehat yaitu solidaritas yang nyata, kesaksian iman yang hidup, dan pengaruh positif yang secara alami tumbuh dari kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Selain itu, iman Kristen melihat kesuksesan dari sudut pandang yang lebih luas dan kekal. Dalam terang pengharapan akan kekekalan, semua ukuran duniawi menjadi relatif. Pertanyaan paling mendasar bukan lagi “Apa yang sudah saya capai di dunia ini?” tetapi “Bagaimana hidup saya akan dinilai nanti di hadapan Allah?” Hidup yang berhasil adalah hidup yang tetap setia sampai akhir, yaitu hidup yang bisa berdiri tegak di hadapan Tuhan dengan hati yang utuh dan tulus.

Yesus sendiri mengajarkan hal ini lewat perumpamaan tentang hamba yang setia. Pujian tertinggi tidak diberikan kepada mereka yang melakukan hal-hal spektakuler, tetapi kepada mereka yang setia dalam perkara-perkara kecil sehari-hari. Kata-Nya, “Bagus sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:21). Ini menunjukkan bahwa Allah sangat menghargai kesetiaan yang konsisten dalam hidup sehari-hari, bahkan ketika tidak ada orang yang melihat atau memberi pujian.

Menjelang akhir hidupnya, Rasul Paulus merangkum arti kesuksesan dengan kata-kata yang sederhana namun penuh makna: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Timotius 4:7). Ia tidak menyebut-nyebut tentang popularitas, kekayaan, atau pencapaian lahiriah lainnya. Bagi Paulus, yang terpenting adalah perjuangan yang dijalani dengan setia, ketekunan sampai garis akhir, dan iman yang tetap terjaga. Menyelesaikan perjalanan hidup dengan integritas ternyata jauh lebih bernilai daripada memulainya dengan gemerlap.

Pengharapan Rasul Paulus juga tidak berhenti pada apa yang bisa dilihat di dunia ini. Ia berkata dengan keyakinan, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” (2 Timotius 4:8). Inilah puncak dari kesuksesan menurut iman Kristen: menerima penilaian dan penghargaan langsung dari Allah sendiri, yang mengenal hati kita, menilai dengan adil, dan memberi upah sesuai dengan kebenaran-Nya.

Surat Kolose memberikan arahan yang sangat jelas tentang seperti apa hidup yang benar-benar berhasil itu. “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kolose 2:6-7). Dari sini kita belajar bahwa kesuksesan sejati bukan sekadar status sebagai “orang Kristen”, melainkan kehidupan yang benar-benar menyatu dengan Kristus. Bukan sekadar hubungan formal atau dangkal, melainkan relasi yang hidup, yang membentuk dan mengubah seluruh hidup kita.

Dengan pemahaman ini, iman Kristen menawarkan gambaran kesuksesan yang utuh dan sangat berbeda dari pola dunia. Kesuksesan bukanlah tentang pencapaian sesaat atau menumpuk hal-hal yang bisa dibanggakan, melainkan tentang kesetiaan sepanjang perjalanan hidup. Ia terlihat dari karakter yang konsisten dan ketaatan kepada Allah, baik di saat-saat kelimpahan maupun ketika kita harus berjalan melalui masa-masa sulit. Hidup yang berhasil adalah hidup yang tetap melekat erat kepada Tuhan, dalam setiap musim kehidupan. Itulah sebabnya, kesuksesan dalam iman Kristen tidak berpusat pada diri sendiri. Tujuan utamanya bukan kemegahan manusia, melainkan kemuliaan Allah. Hidup kita dipanggil untuk menjadi cerminan karakter Allah, alat bagi karya-Nya di dunia, dan sarana bagi perubahan yang Ia kehendaki. Rasul Paulus menegaskan sikap hidup ini dengan berkata, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Korintus 11:1). Bahkan dalam hal-hal yang paling sederhana sekalipun seperti makan dan minum kita diingatkan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31).

Pada akhirnya, kesuksesan sejati selalu mengarah keluar, kepada kasih bagi dunia. Ia adalah perwujudan nyata dari Perintah Terbesar dan Amanat Agung yang diberikan Yesus. Yesus merangkum seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi dalam dua panggilan yang tak terpisahkan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39). Di situlah pertumbuhan rohani bertemu dengan pelayanan yang nyata, dan iman kita diwujudkan dalam tindakan kasih yang membangun.

Jadi, menurut Alkitab, kesuksesan adalah kehidupan yang utuh, yaitu berakar dalam hubungan dengan Allah, dibentuk menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus, dan menghasilkan dampak yang memberkati dan memulihkan dunia. Pencapaian materi dan kesuksesan lahiriah tidak ditolak, tetapi ditempatkan dalam perspektif yang lebih besar—yaitu terang salib dan kebangkitan Kristus. Pada akhirnya, kesuksesan sejati adalah hidup yang menemukan pusat dan tujuannya di dalam Kristus, sehingga kita pun dapat berkata seperti Paulus: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21).

Di dalam Kristuslah hidup kita menemukan arah, makna, dan penggenapannya yang sejati, karena Dialah “Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemuka, Yang Awal dan Yang Akhir” (Wahyu 22:13).

Pertanyaan untuk Diskusi

  1. Bagaimana kita membedakan antara ambisi yang saleh dan ambisi yang egois dalam mengejar kesuksesan?
  2. Apakah kegagalan materi atau penderitaan dalam hidup selalu merupakan tanda ketidaksetiaan kepada Allah?
  3. Dalam konteks Filipi 2:6-11, bagaimana prinsip “kemuliaan melalui kerendahan hati” dapat diterapkan dalam dunia kerja modern yang sangat kompetitif?
  4. Jika kesuksesan sejati adalah tentang karakter, mengapa Alkitab juga mencatat berkat materi kepada orang-orang seperti Abraham, Ayub, dan Salomo?
  5. Bagaimana gereja seharusnya merespons anggota jemaat yang sukses secara materi? 
  6. Apakah mungkin seseorang “terlalu sukses” secara duniawi sehingga membahayakan kehidupan rohaninya? Bagaimana kita menjaga keseimbangan?
  7. Dalam terang Matius 25:14-30 (perumpamaan talenta), bagaimana kita mendefinisikan “mengembangkan talenta” tanpa jatuh ke dalam perfeksionisme atau workaholic?
  8. Mengapa Yusuf dianggap berhasil bahkan di penjara, sementara banyak orang beriman masa kini mengalami krisis iman saat menghadapi kegagalan?
  9. Bagaimana konsep “kesuksesan eskatologis” seharusnya mengubah keputusan praktis kita hari ini, misalnya dalam memilih karier, investasi, atau penggunaan waktu?
  10. Jika kesuksesan Kristen adalah tentang “berbuah bagi sesama,” bagaimana kita mengukur atau mengevaluasi “buah” tersebut tanpa jatuh ke dalam mentalitas performance-driven?

Pdt. Em. Yohanes Bambang Mulyono