HERMENEUTIK LEKSIONARI

Penggunaan leksionari di lingkungan gereja-gereja di Indonesia relatif sangat baru, termasuk di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Sehingga kita sering mengalami kebingungan untuk menggunakan dan menerapkan khususnya saat menyusun suatu khotbah yang didasarkan kepada pembacaan leksionari.

Karena itu pertanyaan utama adalah bagaimana berkhotbah secara leksionari? Pola hermeneutik bagaimanakah yang perlu diperhatikan?
Baca selengkapnya ...

Refleksi Teologis Pekabaran Injil Print
Pengajaran - Dogma
Written by Yohanes B. M.   
Friday, 28 August 2015
\n This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it 113 31 16000 14.0

The Great Commision or The Great Ommision

(Amanat Agung atau Kelalaian terbesar)

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, M.Th.

Matius 28:11-20

Pengantar

Selaku gereja, kita hidup dalam dunia. Bagaimanakah kita menyikapi dunia? Bagaimanakah relasi antara kita sebagai gereja dengan dunia? Apakah dunia yang membutuhkan gereja, ataukah gereja yang membutuhkan dunia? Pertanyaan pertama berpijak pada keyakinan gereja akan nilai-nilai iman Kristen dan keselamatan yang dimiliki, sehingga tanpa gereja kehidupan dalam dunia akan menjadi buruk. Karena itu dunia membutuhkan gereja. Sebagai yang dibutuhkan oleh dunia, gereja sering merasa dirinya penting, berharga, dan merasa memiliki berbagai kelebihan sehingga cenderung jual mahal. Akibatnya gereja lalai akan tugas panggilannya. Gereja memilih secara pasif menunggu panggilan dan pinangan dari dunia, barulah gereja mau bertindak. Bila dunia berseru dalam kesedihan dan putus-asa karena membutuhkan pertolongan, barulah gereja mau berperan melayani dunia. Dalam situasi yang demikian gereja melakukan the great ommision (kelalaian terbesar).

Pertanyaan yang kedua berpijak pada realitas bahwa gereja berada di dalam dunia, dan karena itu gereja dengan rendah-hati mengakui bahwa ia membutuhkan dunia. Karena gereja membutuhkan dunia, maka gereja terus-menerus menempatkan panggilannya dalam memahami kebutuhan dan permasalahan dunia. Gereja berusaha terus belajar memahami dan menjalin relasinya dengan dunia agar gereja mampu menggarami dunia dengan nilai-nilai Injil Kristus. Dalam konteks ini gereja menempatkan diri hanya sekadar alat dari Allah untuk mengomunikasikan karya keselamatan di dalam Kristus. Dengan spiritualitas yang demikian gereja terpanggil melaksanakan perintah Tuhan Yesus yaitu: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19). Jadi justru kesadaran bahwa gereja membutuhkan dunia, gereja semakin terdorong untuk melaksanakan Amanat Agung (the great commission) dari Tuhan Yesus, yaitu memberitakan Injil ke seluruh penjuru dunia.

Situasi Dunia

Dunia yang dibutuhkan oleh gereja adalah dunia yang kompleks dengan berbagai permasalahan kehidupan. Dunia yang dibutuhkan oleh gereja bukanlah dunia yang ramah dan menyenangkan, tetapi dunia yang penuh dengan berbagai kepahitan, penderitaan, kekerasan, kekejaman, dan kejahatan. Dari segi iman, dunia juga adalah realitas yang sebagian besar tidak percaya kepada Kristus. Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang mengolok-olok  dan menolak Kristus. Di Matius 28:11-15 yang menjadi konteks Amanat Agung di Matius 28:19-20 mengisahkan bagaimana Imam-imam kepala berunding dengan para Tua-tua Israel dengan memberikan uang sogokan kepada para prajurit yang menjaga kubur Yesus agar mereka tidak mengatakan  bahwa Yesus telah bangkit. Pesan para Imam dan Tua-tua kepada para prajurit tersebut adalah: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur” (Mat. 28:13). Itulah situasi dunia yang mengingkari karya keselamatan Allah di dalam penebusan Kristus. Dunia yang dibutuhkan oleh gereja ternyata adalah dunia yang manipulatif, yaitu dunia yang dengan segala cara memutarbalikkan kebenaran menjadi kesalahan, dan kesalahan menjadi kebenaran. Kita hidup dalam dunia yang menjadikan kesesatan sebagai daya tarik, dan kebenaran sebagai bahan olok-olokan. Tetapi dunia yang manipulatif dan hidup jauh dari Allah tidak boleh dijauhi dan diabaikan oleh gereja. Gereja diutus ke dalam dunia, namun di pihak lain gereja tidak boleh hidup serupa dengan dunia ini.

Situasi dunia juga tampil sebagai sikap orang-orang yang tidak percaya akan kebangkitan Kristus. Mereka menolak peristiwa penyaliban dan kebangkitan Kristus. Karena itu pemberitaan tentang salib adalah suatu kebodohan, dan kebangkitan Kristus hanyalah takhayul belaka. Namun di tengah-tengah ejekan dan cemoohan tersebut, kita dipanggil untuk memberitakan Injil kepada semua mahluk dan bangsa. Tentunya kita membutuhkan hikmat dan kemampuan untuk menjelaskan tentang makna peristiwa salib dan kebangkitan Kristus. Tetapi lebih utama lagi adalah dunia membutuhkan hidup umat Kristen yang benar-benar-benar diresapi oleh kuasa salib dan kebangkitan Kristus. Dunia tidak terlalu membutuhkan penjelasan ilmiah tentang peristiwa salib dan kebangkitan Kristus, tetapi kuasa salib dan kebangkitan Kristus dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kuasa salib dan kebangkitan Kristus dinyatakan dalam sikap orang-orang Kristen yang mampu tabah menghadapi penderitaan dan kematian, orang-orang Kristen yang berani meninggalkan zona aman untuk menyatakan kebenaran dan membela keadilan, serta orang-orang Kristen yang memilih hidup jujur daripada memanipulasi uang alias korupsi. Semakin umat hidup dalam kuasa salib dan kebangkitan Kristus, maka umat diberi kuasa oleh Allah sehingga mereka memiliki wibawa untuk memberitakan Kristus di berbagai tempat dan situasi.   

 Bersaing dalam Menyampaikan Berita

Di Matius 28:15 menyatakan para Imam dan Tua-tua Israel menyebarkan berita palsu dan berita tersebut terus tersebar sampai saat ini, yaitu: “Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.” Berita palsu tersebut adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja, sistematis dan taktis agar banyak orang mempercayai bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian. Di era digital sekarang, kita berulangkali mendengar berita palsu yang disebut hoax. Misalnya mengirim foto yang sudah diedit, padahal realitanya tidaklah demikian. Hoax yang berbahaya adalah apabila menyebarkan foto yang sudah diedit atau diberi keterangan yang menyesatkan khususnya tentang pembunuhan suatu etnis atau kelompok agama tertentu. Tujuan hoax tersebut adalah kerusuhan dan pembalasan dari suatu kelompok massa.  Misalnya berita tentang pembakaran Mesjid di Tolikara, Papua pada hari raya Idul Fitri pada tanggal 17-18 Juli 2015. Padahal dari hasil penyidikan Mesjid terbakar karena efek pembakaran sebuah kios pedagang. Berita hoax tersebut menjadi lebih panas lagi karena disebarkan berita tentang pelarangan sholat Ied oleh para pemuka gereja di Papua.

Di tengah-tengah realita dunia yang saat ini mudah untuk mengirim berita hoax, setiap umat percaya dipanggil untuk memberitakan kebenaran, yaitu berita-berita yang dapat dipercaya (kredibel) dan membangun. Umat percaya dipanggil menggunakan setiap sarana komunikasi digital termasuk percakapan personal dan komunal untuk menyebarkan berita kebenaran yang inspiratif dan motivasional. Khususnya umat percaya dipanggil untuk menyebarkan berita Injil Kristus dalam berbagai bentuk, sehingga banyak orang terdorong untuk mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus. Sayangnya saat ini kita sedang gandrung dengan media sosial dan komunikasi digital, sehingga kita kehilangan kemampuan untuk berbicara secara personal dengan orang-orang di sekitar kita. Padahal Injil Kristus juga perlu disampaikan dalam percakapan secara personal dari hati ke hati. Tentu melalui dunia maya (dunia digital) Injil Kristus sekarang juga menyebar dan menjangkau orang-orang dari berbagai belahan dunia. Namun berita Injil juga membutuhkan percakapan personal dari para insan yang mau terbuka dan tersentuh oleh kasih Allah. Karena itu setiap jemaat perlu bersaing secara positif dan membangun dalam menyebarkan berita kepada dunia ini. Kita tidak perlu ambil bagian dalam penyebaran berita hoax, tetapi harus proaktif, bijaksana dan cerdik dalam menyebarkan berita kebenaran dan keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya

Seluruh tujuan pemberitaan Injil pada hakikatnya adalah agar umat manusia menyembah Kristus. Dalam kebaktian, penyembahan (worship) merupakan jantung dari liturgi dan kehidupan iman Kristen. Karena itu fokus dan tujuan utama seluruh aspek kehidupan umat percaya adalah diri Kristus.  Di Filipi 2:10-11, Rasul Paulus menyatakan: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Jika demikian, tujuan utama Pemberitaan Injil adalah penyembahan kepada Kristus, bukan keselamatan bagi bangsa-bangsa. Sebab keselamatan adalah anugerah Allah yang dikaruniakan kepada orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Hanya orang-orang yang menyembah dan mempermuliakan Kristus saja yang diselamatkan. Namun tugas dan panggilan menyembah dan mempermuliakan Kristus utamanya terhambat oleh kecenderungan manusiawi kita untuk menyembah dan mempermuliakan diri sendiri. Kegagalan kita untuk melaksanakan Amanat Agung dari Tuhan adalah keinginan kita untuk dihormati, dikenal, dianggap penting, dan menjadi pusat perhatian. 

Senada dengan sikap menyembah dan mempermuliakan diri sendiri adalah kita bisa menjadikan kebaktian sebagai pemuas hasrat spiritualitas yang konsumtif. Bukankah hasrat spiritualitas yang konsumtif adalah cermin egosentrisme yang kuat dalam diri kita masing-masing? Sikap egosentrisme adalah sikap batin seseorang yang menjadikan dirinya sebagai pusat dan ukuran dalam menilai segala sesuatu. Padahal inti kebaktian setiap hari Minggu dan hari raya gerejawi adalah worship, penyembahan kepada Allah di dalam Bapa-Anak-Roh Kudus. Dalam kebaktian yang berfokus pada worship terdapat keterpaduan semua elemen yaitu: pendeta, umat, musik, suasana dan relasi sehingga menghasilkan suatu ibadah yang melepaskan semua egoisme dan sikap konsumtif secara rohaniah. Sebagai gereja reformatoris, GKI terbuka menerima kritik untuk setiap pemberitaan firman. Umat dimotivasi untuk mengkritisi khotbah, namun serentak pada saat yang sama perlu diajukan pertanyaan bagaimana kualitas hati umat? Apakah hati mereka seperti tanah di pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, tanah yang ditumbuhi semak duri, ataukah tanah yang subur? Pusat kebaktian bukanlah pendeta yang memberitakan firman dan juga bukan umat untuk dipuaskan hasrat rohaninya yang konsumtif, tetapi Kristus yang disembah dan dimuliakan. 

Alasan Kristus yang harus disembah dan dimuliakan sangatlah jelas, yaitu karena hanya Dia yang punya segala kuasa di sorga dan di bumi. Di Matius 28:18, Tuhan Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Kita memberitakan Injil karena Kristus adalah Tuhan dan Juru-selamat yang memiliki kuasa di sorga dan di bumi. Rasul Paulus juga berkata: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 3:10-11). Jadi kita melaksanakan tugas Amanat Agung adalah karena universalitas kuasa Kristus yang merengkuh seluruh umat manusia dan zaman. Kuasa keselamatan Kristus tidak terbatas pada wilayah dan lingkup kehidupan orang-orang Kristen belaka. Karena itu adalah dosa besar dalam kehidupan gereja apabila menjadikan Kristus hanya secara partikular (lingkup khusus yang terbatas) pada denominasi-denominasi kekristenan belaka. 

  Menjadikan Sesama sebagai Murid Yesus

            Tuhan Yesus berkata di Matius 28:19, yaitu: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Perkataan Tuhan Yesus yang disebut dengan Amanat Agung ini sering menimbulkan kesalahpahaman karena dianggap sebagai pembenaran untuk melakukan kristenisasi. Padahal perkataan Tuhan Yesus tersebut yang utama adalah menjadikan semua bangsa sebagai murid-Nya. Menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus tidak sama dengan “kristenisasi.” Karena makna menjadi “murid” berarti dia bersedia mengikut Yesus, meneladani-Nya dan menerima dengan sepenuh hati semua yang diajarkan serta dilakukan Yesus, sehingga ia menjadi semakin serupa dengan Kristus.  Berbeda dengan status menjadi orang Kristen. Status menjadi orang Kristen hanya menunjuk pada keanggotaan gerejawi secara administratif, tetapi tidak secara otomatis melaksanakan nilai-nilai iman Kristen dalam kehidupannya. Sebaliknya seorang murid senantiasa meneladani dan menaati perkataan dan keteladanan gurunya, sedang menjadi seorang Kristen dalam praktik dipahami hanya sebagai anggota jemaat yang terdaftar. Di sinilah letak kegagalan gereja karena para anggotanya sering hanya terdaftar secara administratif sehingga tidak terbeban untuk melaksanakan panggilannya yaitu menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus. Kita harus menjadikan gereja kita sebagai persekutuan umat yang dijiwai oleh api Roh Kudus sehingga setiap umat terbeban untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus.

             Sebagaimana telah saya katakan di atas bahwa tujuan utama dari seluruh ibadah dan kehidupan orang Kristen adalah mempermuliakan dan menyembah Kristus. Kita juga tidak menginginkan pertumbuhan jemaat secara kuantitatif yang sifatnya administratif belaka. Kita merindukan umat yang menyembah Kristus dan berkobar-kobar oleh api Roh Kudus untuk memberitakan Injil ke seluruh penjuru dunia. Namun di pihak lain kita juga harus ingat bahwa menyembah dan mempermuliakan Kristus serta memberitakan Injil tidak terlepas dari peran gereja sebagai lembaga. Sebab tugas melayani sakramen adalah tugas gereja sebagai lembaga yang diberi wewenang oleh Kristus. Menurut pendapat saya adalah suatu kesalahan berteologi apabila tugas memberitakan Injil untuk mempermuliakan Kristus dilepaskan dari kelembagaan gereja. Misal pernyataan: “yang penting umat percaya kepada Kristus, jadi tidak terlalu penting apakah mereka ke gereja atau tidak.” Pernyataan tersebut hanya benar sebagian saja. Karena dalam Pengakuan Iman Rasuli kita mengakui gereja yang kudus dan am. Dalam lingkungan jemaat GKI, sakramen baptisan tidak dapat dilaksanakan oleh orang per-orang atau suatu kelompok tertentu. Sakramen baptisan dan Perjamuan Tuhan senantiasa dilaksanakan oleh gereja. Karena gereja adalah tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepala. Jadi berbicara tentang Kristus sebagai Kepala tidak pernah terlepas dari eksistensi tubuh-Nya yaitu gereja. Karena itu tugas memberitakan Injil dalam lingkungan jemaat kita dinyatakan dalam kesetiaan umat akan prinsip-prinsip pengajaran dan Tata Gereja GKI. Jangan sampai kita berjemaat di Gereja Kristen Indonesia, namun melaksanakan Amanat Agung sebagai tugas Pemberitaan Injil dengan cara yang bertentangan secara teologis dan pengajaran GKI. Sebab GKI adalah jemaat yang peduli dengan pemberitaan Injil dalam pengertian mengerjakan Misi Allah di tengah dunia ini.

Amanat Agung dan Hukum Emas

            Prinsip teologis, pengajaran dan Tata Gereja GKI dalam memberitakan Injil adalah berprinsip pada The Golden Rule (Hukum Emas) yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yaitu: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 7:12). Perintah Tuhan Yesus sebagai Amanat Agung di Matius 28:19 bersumber pada Hukum Emas dari Tuhan Yesus di Matius 7:12.

Untuk melaksanakan pemberitaan Injil yang bersumber pada Hukum Emas, kita harus menerapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada setiap agama yang ada. Caranya kita sebagai gereja hanya menyebarkan benih-benih Injil secara inspiratif dan kontekstual. Namun hal seseorang percaya dan bersedia menjadi murid Kristus adalah sepenuhnya pekerjaan Roh Kudus. Karena itu kita selaku gereja menyediakan berbagai macam fasilitas dan media pemberitaan Injil secara bertanggungjawab, dan bukan upaya menjalin persahabatan yang semu dengan “agenda tersembunyi” yaitu pemberitaan Injil. Persahabatan kita harus dilandasi oleh motivasi dan cara yang etis dan tulus, namun identitas kekristenan kita tetap tampil secara alamiah dan berbicara banyak kepada orang-orang di sekitar kita. Karena itu apakah kita telah menjadi sahabat banyak orang sehingga mereka mempercayai perkataan dan tindakan kita, dan terdorong untuk mengikuti jejak kita yaitu menjadi murid Kristus?  Amin.

Last Updated ( Friday, 28 August 2015 )
 
KEKRISTENAN DAN KETIONGHOAAN Print
The News - Latest News
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 18 February 2015

 

TELAH TERBIT....
Telah terbit buku yang ketiga-belas.

DALAM RANGKA MENYAMBUT IMLEK
Judul: Kekristenan dan Ketionghoaan (Telaah atas Imlek dan Filsafat Ketionghoaan)
Penulis: Yohanes Bambang Mulyono
Penerbit: Grafika KreasIndo, Jakarta
Tahun: 2015
Harga: Rp. 28.600,-

Garis Besar Isi Buku:

Beberapa jemaat di Indonesia memiliki latar-belakang orang-orang Tionghoa. Karena itu mereka secara langsung dan tidak langsung dipengaruhi oleh filsafat Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme. Pemahaman nilai-nilai dalam filsafat Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme tersebut merupakan warisan leluhur yang membentuk jati-diri mereka sebagai orang-orang Tionghoa, dan pada sisi lain perjumpaan mereka dengan Kristus menghasilkan perspektif iman yang baru dan kritis. Warisan-warisan filosofis dan budaya ketionghoaan diintegrasikan dalam pemahaman iman kepada Kristus, sehingga membentuk suatu konstruksi yang baru dan kritis. Orang-orang Tionghoa Kristen menyadari bahwa sebagian warisan filosofis dan budaya ketionghoaan memiliki kesinambungan dengan iman Kristen, pada pihak lain juga disadari memiliki esensi yang berbeda sehingga tidak dapat diperdamaikan. Karena itu pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana menghayati iman Kristen Tionghoa di Indonesia secara otentik di tengah-tengah warisan dan tradisi filosofis atau budaya ketionghoaan, sehingga orang-orang Kristen Tionghoa mampu berteologi secara kontekstual dan transformatif di tengah-tengah pergumulan bangsa Indonesia? Perlu dipahami bahwa perayaan Imlek kini telah menjadi hari libur nasional. Namun ketetapan yuridis secara nasional masih menyisakan pertanyaan: “Siapakah yang merayakan Imlek?” Sebab perayaan Imlek sering dikaitkan dengan kepercayaan tradisional dan agama bangsa Cina (Tionghoa). 
Menurut Chris Hartono dalam Orang Tionghoa dan Pekabaran Injil semua orang Tionghoa sampai dengan parohan pertama abad XIX pada dasarnya menganut ajaran Sam Kauw (Tiga Agama) yang merupakan perpaduan dari ajaran Khonghucu, Tao dan Budha (Hartono 1996, 12). Dengan demikian, perayaan Imlek dikaitan dengan perayaan keagamaan dari agama Tao, Budha, dan Khonghucu. Jika demikian di luar ketiga agama tersebut, apakah Imlek boleh dirayakan oleh umat Kristen? 
Tulisan ini hanya membatasi pada pemikiran Konfusianisme, sehingga tidak membahas filsafat Taoisme dan Budhisme. Ajaran Konfusianisme disebarkan oleh Khong Hu Cu yang lahir pada 551 s.M. Salah satu ajaran Konfusianisme adalah “Berbuatlah bagi orang lain sebagaimana engkau inginkan mereka perbuat bagimu.” Ajaran Konfusianisme tersebut juga diungkapkan oleh Tuhan Yesus, yaitu: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 7:12). Yesus menekankan betapa penting dan mendasarnya hakikat kemanusiaan itu, sehingga Ia berkenan berinkarnasi menjadi manusia. Karena itulah dalam tulisan ini menyajikan refleksi teologis tentang inkarnasi Kristus dalam perspektif Jen sebagaimana diajarkan oleh Konfusius. Harkat kemanusiaan (Jen) bukanlah suatu gagasan yang abstrak. Karena itu kemanusiaan kita akan bermakna apabila setiap orang bersedia memberlakukan keadilan (Yi). Karena itu dalam tulisan yang kedua, kita akan membahas karakter Kristus dalam perspektif Yi.

Silakan Pesan:
Silahkan pesan di Kantor Sinode GKI
Ruko Gading Bukit Indah Blok Q 29
Jl. Bukit Raya, Kelapa Gading, Jakarta 14240
Telp. 021-45850904, 45854034
Harga: Rp. 28.600,-


KEKRISTENAN DAN KETIONGHOAAN 

 

 

 

 

 

 

Last Updated ( Wednesday, 18 February 2015 )
 
BACAAN HARIAN DAN MINGGUAN LEKSIONARIS TAHUN 2015 Print
LEKSIONARI - Artikel
Written by Yohanes B. M.   
Sunday, 28 December 2014

Bacaan harian dan mingguan tahun 2015 adalah Tahun B. Untuk masa Minggu Biasa menggunakan pola semisinambung. Silakan mempelajari lebih lanjut hermeneutik leksionaris  dapat dilihat dari dua buku Yohanes Bambang Mulyono, Sejarah dan Penafsiran Leksionaris versi RCL dan Makna Minggu Transfigurasi (Penafsiran Leksionaris versi RCL) yang diterbitkan oleh Grafika KreasIndo 2014.

\n This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it 1 1 202 14.0

DOWNLOAD: 

http://www.mediafire.com/view/4zpcvws7a1g1spv/BACAAN_HARIAN_DAN_MINGGUAN_2015.pdf

Last Updated ( Sunday, 28 December 2014 )
 
Tema dan Tujuan Khotbah Dian Penuntun Edisi 19 TAHUN B: 2014 2015 Print
LEKSIONARI - Artikel
Written by Yohanes B. M.   
Monday, 10 November 2014

Download

http://www.mediafire.com/view/u95xaddwt6liaz6/Revisi_Tema_dan_Tujuan_Khotbah_Dian_Penuntun_Edisi_19.pdf  

 
Tema dan Tujuan Khotbah Dian Penuntun Edisi 20 TAHUN B: 2014 2015 Print
LEKSIONARI - Artikel
Written by Yohanes B. M.   
Monday, 10 November 2014

Download

http://www.mediafire.com/view/pcv8fmirc3bh1fc/Revisi_Tema_dan_Tujuan_Khotbah_Dian_Penuntun_Edisi_20.pdf  

 
Makna Ibadah Rabu Abu Print
Liturgi - Pendalaman Liturgi
Written by Yohanes B. M.   
Tuesday, 18 February 2014

Rabu Abu merupakan hari raya gerejawi yang mengawali masa Prapaskah dengan ditandai oleh simbol abu. Beberapa kalangan umat Kristen Protestan menganggap bahwa ibadah Rabu Abu merupakan ibadah yang dilakukan oleh umat Katolik. Tulisan ini menjelaskan dari studi sejarah gereja, liturgis dan eksegetis, sehingga diharapkan dapat memberi pemahaman iman, teologis dan spiritualitas bagi umat percaya.
Konteks hidup kita masa kini adalah berada di era global dan di tengah-tengah dunia yang terpecah-pecah dengan "temboknya" masing-masing. Sesungguhnya kita membutuhkan ruang hidup bersama untuk menjalani  dan memaknai ziarah iman selaku umat percaya. Melalui kesepakatan hari raya gerejawi termasuk Rabu Abu, kita dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk menghayati keesaan gereja selaku Tubuh Kristus, sehingga mampu menjadi berkat yang memulihkan setiap sesama yang terluka dalam kesendiriannya. Melalui Rabu Abu, umat disadarkan akan kefanaan, kelemahan, dan keberdosaannya agar mampu menyambut anugerah keselamatan yang ditawarkan oleh Kristus.  

Silahkan download di sini  

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 1 - 7 of 151
Google
 

Events Calendar

S M T W T F S
26 27 28 29 30 31 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5
S M T W T F S
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 1 2 3

Who's Online?

No Users Online

Weblinks

Advertisement

Weblinks

Yohanes B.M.   (2797 hits)
Firman Hidup 50   (2695 hits)
Firman Hidup 55   (2673 hits)
Cyber GKI   (2465 hits)
The Meaning of Worship   (2449 hits)
TextWeek   (2089 hits)
Contact YBM   (2055 hits)
More...

Random Image

loli.jpg

Who's Online

Login Form

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday706
mod_vvisit_counterYesterday754
mod_vvisit_counterThis week3684
mod_vvisit_counterThis month2941
mod_vvisit_counterAll3331319

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::