HERMENEUTIK LEKSIONARI

Penggunaan leksionari di lingkungan gereja-gereja di Indonesia relatif sangat baru, termasuk di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Sehingga kita sering mengalami kebingungan untuk menggunakan dan menerapkan khususnya saat menyusun suatu khotbah yang didasarkan kepada pembacaan leksionari.

Karena itu pertanyaan utama adalah bagaimana berkhotbah secara leksionari? Pola hermeneutik bagaimanakah yang perlu diperhatikan?
Baca selengkapnya ...

KEKRISTENAN DAN KETIONGHOAAN Print
The News - Latest News
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 18 February 2015

 

TELAH TERBIT....
Telah terbit buku yang ketiga-belas.

DALAM RANGKA MENYAMBUT IMLEK
Judul: Kekristenan dan Ketionghoaan (Telaah atas Imlek dan Filsafat Ketionghoaan)
Penulis: Yohanes Bambang Mulyono
Penerbit: Grafika KreasIndo, Jakarta
Tahun: 2015
Harga: Rp. 28.600,-

Garis Besar Isi Buku:

Beberapa jemaat di Indonesia memiliki latar-belakang orang-orang Tionghoa. Karena itu mereka secara langsung dan tidak langsung dipengaruhi oleh filsafat Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme. Pemahaman nilai-nilai dalam filsafat Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme tersebut merupakan warisan leluhur yang membentuk jati-diri mereka sebagai orang-orang Tionghoa, dan pada sisi lain perjumpaan mereka dengan Kristus menghasilkan perspektif iman yang baru dan kritis. Warisan-warisan filosofis dan budaya ketionghoaan diintegrasikan dalam pemahaman iman kepada Kristus, sehingga membentuk suatu konstruksi yang baru dan kritis. Orang-orang Tionghoa Kristen menyadari bahwa sebagian warisan filosofis dan budaya ketionghoaan memiliki kesinambungan dengan iman Kristen, pada pihak lain juga disadari memiliki esensi yang berbeda sehingga tidak dapat diperdamaikan. Karena itu pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana menghayati iman Kristen Tionghoa di Indonesia secara otentik di tengah-tengah warisan dan tradisi filosofis atau budaya ketionghoaan, sehingga orang-orang Kristen Tionghoa mampu berteologi secara kontekstual dan transformatif di tengah-tengah pergumulan bangsa Indonesia? Perlu dipahami bahwa perayaan Imlek kini telah menjadi hari libur nasional. Namun ketetapan yuridis secara nasional masih menyisakan pertanyaan: “Siapakah yang merayakan Imlek?” Sebab perayaan Imlek sering dikaitkan dengan kepercayaan tradisional dan agama bangsa Cina (Tionghoa). 
Menurut Chris Hartono dalam Orang Tionghoa dan Pekabaran Injil semua orang Tionghoa sampai dengan parohan pertama abad XIX pada dasarnya menganut ajaran Sam Kauw (Tiga Agama) yang merupakan perpaduan dari ajaran Khonghucu, Tao dan Budha (Hartono 1996, 12). Dengan demikian, perayaan Imlek dikaitan dengan perayaan keagamaan dari agama Tao, Budha, dan Khonghucu. Jika demikian di luar ketiga agama tersebut, apakah Imlek boleh dirayakan oleh umat Kristen? 
Tulisan ini hanya membatasi pada pemikiran Konfusianisme, sehingga tidak membahas filsafat Taoisme dan Budhisme. Ajaran Konfusianisme disebarkan oleh Khong Hu Cu yang lahir pada 551 s.M. Salah satu ajaran Konfusianisme adalah “Berbuatlah bagi orang lain sebagaimana engkau inginkan mereka perbuat bagimu.” Ajaran Konfusianisme tersebut juga diungkapkan oleh Tuhan Yesus, yaitu: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat. 7:12). Yesus menekankan betapa penting dan mendasarnya hakikat kemanusiaan itu, sehingga Ia berkenan berinkarnasi menjadi manusia. Karena itulah dalam tulisan ini menyajikan refleksi teologis tentang inkarnasi Kristus dalam perspektif Jen sebagaimana diajarkan oleh Konfusius. Harkat kemanusiaan (Jen) bukanlah suatu gagasan yang abstrak. Karena itu kemanusiaan kita akan bermakna apabila setiap orang bersedia memberlakukan keadilan (Yi). Karena itu dalam tulisan yang kedua, kita akan membahas karakter Kristus dalam perspektif Yi.

Silakan Pesan:
Silahkan pesan di Kantor Sinode GKI
Ruko Gading Bukit Indah Blok Q 29
Jl. Bukit Raya, Kelapa Gading, Jakarta 14240
Telp. 021-45850904, 45854034
Harga: Rp. 28.600,-


KEKRISTENAN DAN KETIONGHOAAN 

 

 

 

 

 

 

Last Updated ( Wednesday, 18 February 2015 )
 
BACAAN HARIAN DAN MINGGUAN LEKSIONARIS TAHUN 2015 Print
LEKSIONARI - Artikel
Written by Yohanes B. M.   
Sunday, 28 December 2014

Bacaan harian dan mingguan tahun 2015 adalah Tahun B. Untuk masa Minggu Biasa menggunakan pola semisinambung. Silakan mempelajari lebih lanjut hermeneutik leksionaris  dapat dilihat dari dua buku Yohanes Bambang Mulyono, Sejarah dan Penafsiran Leksionaris versi RCL dan Makna Minggu Transfigurasi (Penafsiran Leksionaris versi RCL) yang diterbitkan oleh Grafika KreasIndo 2014.

\n This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it 1 1 202 14.0

DOWNLOAD: 

http://www.mediafire.com/view/4zpcvws7a1g1spv/BACAAN_HARIAN_DAN_MINGGUAN_2015.pdf

Last Updated ( Sunday, 28 December 2014 )
 
Tema dan Tujuan Khotbah Dian Penuntun Edisi 19 TAHUN B: 2014 2015 Print
LEKSIONARI - Artikel
Written by Yohanes B. M.   
Monday, 10 November 2014

Download

http://www.mediafire.com/view/u95xaddwt6liaz6/Revisi_Tema_dan_Tujuan_Khotbah_Dian_Penuntun_Edisi_19.pdf  

 
Tema dan Tujuan Khotbah Dian Penuntun Edisi 20 TAHUN B: 2014 2015 Print
LEKSIONARI - Artikel
Written by Yohanes B. M.   
Monday, 10 November 2014

Download

http://www.mediafire.com/view/pcv8fmirc3bh1fc/Revisi_Tema_dan_Tujuan_Khotbah_Dian_Penuntun_Edisi_20.pdf  

 
Makna Ibadah Rabu Abu Print
Liturgi - Pendalaman Liturgi
Written by Yohanes B. M.   
Tuesday, 18 February 2014

Rabu Abu merupakan hari raya gerejawi yang mengawali masa Prapaskah dengan ditandai oleh simbol abu. Beberapa kalangan umat Kristen Protestan menganggap bahwa ibadah Rabu Abu merupakan ibadah yang dilakukan oleh umat Katolik. Tulisan ini menjelaskan dari studi sejarah gereja, liturgis dan eksegetis, sehingga diharapkan dapat memberi pemahaman iman, teologis dan spiritualitas bagi umat percaya.
Konteks hidup kita masa kini adalah berada di era global dan di tengah-tengah dunia yang terpecah-pecah dengan "temboknya" masing-masing. Sesungguhnya kita membutuhkan ruang hidup bersama untuk menjalani  dan memaknai ziarah iman selaku umat percaya. Melalui kesepakatan hari raya gerejawi termasuk Rabu Abu, kita dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk menghayati keesaan gereja selaku Tubuh Kristus, sehingga mampu menjadi berkat yang memulihkan setiap sesama yang terluka dalam kesendiriannya. Melalui Rabu Abu, umat disadarkan akan kefanaan, kelemahan, dan keberdosaannya agar mampu menyambut anugerah keselamatan yang ditawarkan oleh Kristus.  

Silahkan download di sini  

 
MAKNA MINGGU TRANSFIGURASI Print
The News - Latest News
Written by Yohanes B. M.   
Sunday, 02 February 2014
TELAH TERBIT BUKU PERTAMA DI INDONESIA
"MAKNA MINGGU TRANSFIGURASI"
Harga Rp. 50.000,-
Silahkan pesan di Kantor Sinode GKI
Ruko Gading Bukit Indah Blok Q 29
Jl. Bukit Raya, Kelapa Gading, Jakarta 14240
Telp. 021-45850904, 45854034

Keistimewaan buku "Makna Minggu Transfigurasi."

Minggu Transfigurasi dirayakan sebelum Rabu Abu, namun Minggu Transfigurasi juga merupakan rangkaian dengan Minggu Epifani yang dimulai pada 6 Januari. Pola penafsiran untuk mencari makna Minggu Transfigurasi dapat ditempuh dengan berbagai metode penafsiran, seperti eksposisi, tafsir naratif, reader's reading, dsb. Buku "Makna Minggu Transfigurasi" ini secara khusus ditulis dengan pola pendekatan tafsiran leksionaris versi RCL. Karena itu pertanyaan yang menggugah adalah bagaimanakah metode hermeneutika leksionaris versi RCL, dan bagaimanakah menerapkan penafsiran pada hari raya gerejawi atau Minggu Biasa? 
Buku ini mengulas secara mendalam dan komprehensif makna Minggu Transfigurasi dari empat perspektif, yaitu penafsiran dari Tahun Liturgi, penafsiran leksionaris Tahun A (Injil Matius), Tahun B (Injil Markus), dan Tahun C (Injil Lukas). Khusus di setiap ulasan penafsiran Tahun A, Tahun B, dan Tahun C dihubungkan dengan konteks kontemporer umat. Karena itu dalam buku "Makna Minggu Transfigurasi" tersebut ulasan tentang penafsiran di konteks kontemporer umat dihubungkan dengan pemikiran Konfusius, Mensius, dan budaya Jawa (tokoh Semar). 
Ternyata penafsiran dengan menggunakan metode hermeneutika leksionaris versi RCL mampu memberikan suatu perspektif eksegetis yang baru, tidak terduga, dan kreatif. Dengan demikian buku ini diharapkan dapat menjadi sumbangan eksegetis yang menginspirasi para pendeta dan teolog untuk berteologi secara liturgis dan kontemporer.
Last Updated ( Wednesday, 18 February 2015 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 1 - 7 of 150
Google
 

Events Calendar

S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4

Who's Online?

No Users Online

Weblinks

Advertisement

Weblinks

Yohanes B.M.   (2698 hits)
Firman Hidup 50   (2600 hits)
Firman Hidup 55   (2573 hits)
Cyber GKI   (2346 hits)
The Meaning of Worship   (2217 hits)
TextWeek   (2002 hits)
Contact YBM   (1967 hits)
More...

Random Image

myself_small.jpg

Who's Online

We have 4 guests online

Login Form

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday721
mod_vvisit_counterYesterday2722
mod_vvisit_counterThis week12155
mod_vvisit_counterThis month15187
mod_vvisit_counterAll3171488

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::