Latest Article
Buku ke-18 “Merayakan Peristiwa Mesias” (Ulasan dan Refleksi berdasarkan Tahun Liturgi)

Buku ke-18 “Merayakan Peristiwa Mesias” (Ulasan dan Refleksi berdasarkan Tahun Liturgi)

Di awal bulan Oktober 2020 akan terbit 2 karya berupa buku.
Pertama, buku yang berjudul “Mutiara Iman” (Pendidikan Agama Kristen untuk Perguruan Tinggi) diterbitkan oleh Grafika KreasIndo. Tebal: 392 + xi.

Kedua, buku yang berjudul: “Merayakan Peristiwa Mesias” (Ulasan dan Refleksi berdasarkan Tahun Liturgi) diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia Jakarta. Tebal: 448 + xxxiv.

Dengan demikian sampai saat ini ada 18 buku yang berhasil diterbitkan. Semoga karya-karya teologis ini menjadi berkat bagi gereja di mana pun berada, masyarakat luas dan negara.

Mohon dukungan doanya ya teman-teman.
Salam sejahtera

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Daftar Isi
Ucapan Terima Kasih ……………………………………………………………. ix
Rekomendasi ……………………………………………………………………….. xi
Pengantar: Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D.
Mesias yang sudah datang dan yang masih akan datang (lagi)…. xix
Kata Pengantar Penulis …………………………………………………………. xxxi
Pendahuluan ……………………………………………………………………….. 1
Adven I
Hari Kemurkaan …………………………………………………………………… 25
Adven II
Nabi Zaman Akhir ………………………………………………………………… 37
Adven III
Tuhan Sang Pahlawan …………………………………………………………… 48
Adven IV
Maria, Bunda Allah ………………………………………………………………. 60
Natal 24 Desember
Inkarnasi Sang Firman …………………………………………………………. 73
Natal 25 Desember (a)
Rahmat bagi Semesta …………………………………………………………… 83
MERAYAKAN PERISTIWA MESIAS
Natal 25 Desember (b)
Sang Terang Ilahi …………………………………………………………………. 93
Natal 25 Desember (c)
Memulihkan Wajah Kehidupan …………………………………………….. 102
Minggu I Setelah Natal
Menjelang Bar-Mitzvah ………………………………………………………… 115
Akhir Tahun 31 Desember
Berhikmat dalam Hikmat Allah …………………………………………….. 125
Tahun Baru 1 Januari
Penghancur yang Melihat ……………………………………………………… 135
Minggu Kedua Sesudah Natal (Tanggal 2- 5 Januari)
Sang Hidup, Terang Ilahi ………………………………………………………. 144
Epifani 6 Januari
Bintang Sang Raja ………………………………………………………………… 154
Minggu Yesus Dibaptis
Pelantikan Sang Mesias ………………………………………………………… 165
Minggu II Sesudah Epifani
Tanda dan Agenda Allah ……………………………………………………….. 174
Minggu III Sesudah Epifani
Nubuat Tergenapi ………………………………………………………………… 184
Minggu IV Sesudah Epifani
Si Anak Yusuf ………………………………………………………………………. 193
Minggu Transfigurasi
Penyingkap Kemuliaan Allah ……………………………………………….. 202

Rabu Abu
Koyakkan Hati………………………………………………………………………. 214
Minggu Prapaskah 1
Pencobaan Mesianis …………………………………………………………….. 226
Minggu Prapaskah II
Bagai Induk Ayam ………………………………………………………………… 235
Minggu Prapaskah III
Grace Period ………………………………………………………………………… 245
Minggu Prapaskah IV
Kerahiman Sang Bapa …………………………………………………………… 255
Minggu Prapaskah V
Mengurapi Kaki Mesias ………………………………………………………… 267
Minggu Prapaskah VI (Palma dan Sengsara)
Integritas di Tengah Paradoks ……………………………………………….. 279
Kamis Putih
Mandatum Novum ……………………………………………………………….. 291
Jumat Agung
Via Dolorosa ………………………………………………………………………… 300
Sabtu Sunyi
Sabbatum Sanctum ………………………………………………………………. 312
Paskah Pagi
Melewati Maut …………………………………………………………………….. 321
Paskah Sore
Orang Asing dan Tuan Rumah ………………………………………………. 330
Minggu Paskah II
Melampaui Olam Ha-ba ……………………………………………………….. 341
Minggu Paskah III
Santap Pagi di Pantai ……………………………………………………………. 350
Minggu Paskah IV
Penyingkap Diri Allah …………………………………………………………… 360
Minggu Paskah V
Era Baru ………………………………………………………………………………. 369
Minggu Paskah VI
Taat pada Janji akan Parakletos ……………………………………………… 379
Kenaikan Yesus ke Surga
Saksi Kristus yang Bangkit ……………………………………………………. 388
Minggu Paskah VII
Syafaat Yesus ………………………………………………………………………… 398
Hari Raya Pentakosta
Pencurahan Roh …………………………………………………………………… 407
Minggu Trinitas
Allah Persekutuan ………………………………………………………………… 417
Minggu Kristus Raja
Raja segala Raja ……………………………………………………………………. 429
Daftar Acuan ……………………………………………………………………….. 441
Tentang Penulis ……………………………………………………………………. 446

Ucapan Terima Kasih
Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan rasa hormat
yang setinggi-tingginya kepada:
Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D.
Guru Besar Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana
Yogyakarta

Pdt. Prof. DR. Jan Aritonang, Ph.D.
Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta

Pdt. Juswantori Ichwan, D.Min.
Ketua Komisi Liturgi dan Musik Sinode GKI

Dr. Ekaputra Tupamahu
Assistant Professor of New Testament
Faculty Fellow at William Penn Honors Program Portland
Seminary – George Fox University

Nindyo Sasongko, M.A.T.S.
Theologian in Residence, Manhattan Mennonite Fellowship,
New York

Pdt. Yonky Karman, Ph.D
Dosen Perjanjian Lama dan Filsafat
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta

Prof. Ir. Armein Z.R. Langi, M.Sc., Ph.D
Guru Besar Institut Teknologi Bandung
Rektor Universitas Kristen Maranatha, Bandung (2016-2020)

yang telah berkenan memberi komentar, masukan, kritik dan dukungan dalam penulisan buku “Merayakan Peristiwa Mesias”.

Rekomendasi:
Sudah banyak buku berisi renungan atau khotbah yang mengikuti
tahun liturgi atau kalender gerejawi. Namun, buku ini tidak sekadar
berisi hal itu, melainkan – bahkan terutama – berisi kajian ilmiah-eksegetis atas nas-nas yang diulas. Itulah sebabnya ada banyak acuan ke
sejumlah karya ilmiah – terutama di bidang biblika – yang didaftarkan
pada daftar acuan.
Ketekunan dan kepiawaian penulisnya (Pdt. Yohanes Bambang
Mulyono, M.Th.) tak perlu diragukan lagi. Dari ulasannya yang cermat,
terlihat juga kebenaran tesisnya berjudul “Penerapan Tafsir Leksionaris
untuk Mencari Makna Minggu Transfigurasi” senantiasa saling melengkapi, kendati kita tahu bahwa Alkitab sudah tersusun jauh sebelum
gereja menyusun tahun liturgi. Pendahuluan yang cukup panjang dan
rinci juga menegaskan hal itu.
Oleh karena itu, buku ini sangat inspiratif dan patut direkomendasikan untuk digunakan para pengkhotbah dan perenung isi Alkitab,
agar khotbah-khotbah dan renungan-renungan mereka tidak menjadi
out of context, baik konteks tulisan-tulisan di dalam Alkitab maupun
konteks kehidupan umat manusia pada masa kini. Selamat menggunakan buku ini dan kiranya anda mendapat manfaat berlimpah.
—Pdt. Prof. DR. Jan Aritonang, Ph.D.
Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta
***
Dalam Ibadah Minggu di gereja -gereja yang memakai daftar bacaan
Alkitab (leskionari), setiap minggu dibacakan beberapa bagian teks
Alkitab. Pada masa hari raya gerejawi, teks-teks tertentu dipilih untuk
merayakan peristiwa Mesias, tetapi banyak orang belum memahami
apa keterkaitan antara teks-teks itu dengan peristiwa Mesias yang dirayakan. Buku ini berupaya menjawab pertanyaan itu. Lebih jauh lagi, dalam bagian pendahuluan, kita diajak untuk memahami pentingnya merayakan peristiwa Mesias dan bagaimana spiritualitas kita dapat dibentuk melaluinya.
Buku ini termasuk dalam kategori buku tafsir leksionaris yang langka, setidaknya dalam Bahasa Indonesia. Di sini teks-teks Alkitab dibaca
dan dipahami sebagai teks liturgi. Pendekatan ini sesuai dengan maksud
teks-teks Injil ditulis. John Shelby Spongs dalam “Biblical Literalism: A
Gentile Heresy” menjelaskan bahwa kitab-kitab Injil pada mulanya ditulis dan disusun untuk kepentingan peribadahan orang Yahudi- Kristen.
Itu sebabnya, penulisannya memperhatikan budaya, simbol-simbol
dan tradisi bercerita komunitas Kristen-Yahudi. Lebih menarik lagi,
teks-teks Injil ternyata disusun untuk mengaitkan peristiwa Kristus dengan peristiwa yang dirayakan dalam siklus tahun liturgi di dalam
Yudaisme.
Buku ini menjadi unik karena ditulis oleh seorang Pendeta yang
telah lama berkarya dan hidup di tengah jemaat di Indonesia. Ulasan dan
refleksinya memperhatikan “konteks riil umat”, yakni umat Kristiani
di Indonesia yang hidup di tengah masyarakat majemuk. Keunikan ini
tentu tidak dapat kita temukan dalam buku-buku tafsir leksionari sejenis
yang ditulis dalam konteks masyarakat yang berbeda. Oleh karena itu,
buku ini penting untuk dibaca oleh para pelayan ibadah minggu maupun umat yang peduli dengan spiritualitas liturgi.
—Pdt. Juswantori Ichwan, D.Min.
Komisi Liturgi dan Musik Sinode GKI
***
Dalam buku “Merayakan Peristiwa Mesias”, Yohanes Bambang Mulyono
membawa pembacanya ke dalam perjalanan melewati kalender tahunan
gerejawi yang berpusat pada Kristus. Pada setiap minggu, mulai dari
Minggu Adven I hingga Minggu Kristus Raja, pembaca diajak untuk merefleksikan secara mendalam makna dari karya Kristus bagi dunia.
Buku ini bukan saja menunjukan kepekaan ekumenis yang sangat
diperlukan oleh gereja sekarang, tapi juga keluasan wawasan kontekstual,
historis, teologis dan biblis. Pengalaman Yohanes Bambang Mulyono
selama bertahun-tahun sebagai seorang pendeta jemaat membuat setiap
pembahasannya kaya pada tataran praksis dan intelektual. Buku ini
adalah sebuah pegangan dan penuntun yang sangat baik bagi pendetapendeta jemaat serta praktisi-praktisi gerejawi di Indonesia.
Karya Yohanes Bambang Mulyono ini merupakan kontribusi yang
sangat signifikan bagi gereja pada saat ini dan juga pada generasi berikut.
—Dr. Ekaputra Tupamahu
Assistant Professor of New Testament
Faculty Fellow at William Penn Honors Program
Portland Seminary – George Fox University
***

Sebagai seorang Kristen yang dibesarkan dalam tradisi yang tidak
mengenal kalender gerejawi, saya memiliki sebuah “iri kudus” kepada
gereja-gereja yang menghidupi kalender gerejawi. Pdt. Yohanes Bambang
Mulyono, demikian rasanya saya lebih akrab menyapa Pdt. YBM, termasuk
sebagai pionir yang memperkenalkan keindahan tahun liturgi kepada
saya ketika saya menjadi pengerja di kota Kudus, Jawa Tengah. Semakin
mendalami teologi, saya bertambah yakin bahwa teologi tak mungkin
terlepas dari liturgi.
Liturgi, sejatinya adalah epistemologi Kristiani, seperti pepatah
kuno mengatakan, “hukum doa menentukan hukum keyakinan.” Dari
mana doktrin-doktrin Kristen didulang? Dari liturgi. Bagaimana para
leluhur iman mendiskusikan pokok-pokok keyakinan iman Kristen?
Apakah yang gereja percaya telah selaras dengan pengalaman dan praksis
sebagaimana tercermin dalam liturgi?
Cobalah kita membenamkan diri dalam keindahan liturgi, maka
kita akan menemukan mutiara-mutiara iman Kristen. Kita akan berjumpa
dengan keindahan kehadiran Kristus, misteri Trinitas, penciptaan, pemeliharaan, tercurahkannya Roh Suci, rahasia keselamatan, hingga
paripurnanya segala masa. Tahun liturgi sendiri bahkan dibuka dengan
penantian akan kedatangan Kristus yang sifatnya paradoksal: Kehadiran Kristus dinantikan di malam Natal, tetapi Kristus yang sama juga
dinantikan sebagai Penguasa segala zaman. Tidakkah ini paradoks? Ya,
tepat! Di sinilah pentingnya tahun liturgi.
Tahun liturgi justru mensubversi kehidupan kita yang sarat dengan
urusan ekonomis, rutinitas, kekuasaan dan godaan kesuksesan. Pak YBM
dengan apik menunjukkan bahwa tahun liturgi mengantar kita untuk
melihat kembali sesungguhnya ada sebuah gaya hidup yang berbeda, gaya
hidup yang berpusatkan pada Kristus. Maka dari itu, lepaskanlah spiritualitas Kristiani dari keindahan tahun liturgi, sehingga sumber mata
air spiritualitas Kristiani akan kehilangan kedalamannya, kedalaman
yang berpusat pada misteri Sang Mesias. Oleh karena itu, orang Kristen
yang bertumbuh dalam iman ialah mereka yang mengakarkan diri pada
liturgi.
Saya menyambut dengan gembira terbitnya buku “Merayakan Peristiwa Mesias” sekaligus mengucapkan, “Selamat Ulang Tahun ke-60
kepada Pdt. YBM yang akan merayakan pada Oktober 2020.”
—Nindyo Sasongko, M.A.T.S.
Theologian in Residence, Manhattan Mennonite Fellowship,
New York
***


Ketika penulis meminta saya memberikan komentar untuk karya terbarunya tentang liturgi dan leksionari ini, saya merasa terhormat meski saya awam dalam soal-soal itu. Namun, seperti karya-karya tulisannya sebelum ini, buku ini merupakan buah refleksi iman dan pelayanannya yang panjang, tema yang sangat tidak mudah untuk ditulis dan jarang sekali orang berani menulisnya.
Salah satu keunikan karya ini dari karya lainnya yang sejenis adalah
upaya tidak memisahkan Yesus dari keyahudianNya. Dalam penghayatan
kita, terlalu sering Yesus dipandang sebagai sosok yang terlalu Perjanjian
Baru dan terasing dari dunia Perjanjian Lama. Padahal, Yesus bukan hanya
seorang Yahudi, tetapi juga seorang guru agama Yahudi. Memaknai peristiwa Yesus dalam keyahudianNya bukan yahudisasi iman kristiani, melainkan “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya … menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:10).
Semoga buku ini menjadi panduan untuk menyusun leksionari
sepanjang tahun sesuai dengan kebutuhan gereja kita masing-masing,
sehingga jemaat bertumbuh dalam Kristus dan berakar dalam firman.
—Pdt. Yonky Karman, Ph.D
Dosen Perjanjian Lama dan Filsafat
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta

***