Kristologi dan Wahyu dalam Perjumpaan Kristen–Islam
(Telaah Pemikiran Yohanes dari Damaskus)
Pendahuluan
Perjumpaan antara Kekristenan dan Islam dimulai hampir bersamaan dengan kemunculan Islam pada abad ke-7. Setelah ekspansi politik dan militer Arab Muslim ke wilayah Syria, Palestina, Mesir, dan Persia, banyak komunitas Kristen yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Bizantium atau Persia mendapati diri mereka hidup di bawah pemerintahan Islam. Dalam konteks inilah muncul dialog, perdebatan, dan respons teologis antara kedua tradisi keagamaan tersebut. Islam tidak hanya tampil sebagai kekuatan politik baru, tetapi juga sebagai agama yang mengklaim diri sebagai kelanjutan sekaligus koreksi terhadap tradisi para nabi yang dikenal dalam Yudaisme dan Kekristenan, termasuk Abraham, Musa, dan Yesus.
Salah satu tokoh Kristen awal yang memberikan respons teologis paling sistematis terhadap Islam adalah Yohanes dari Damaskus. Ia lahir sekitar tahun 675 M dalam keluarga Kristen Arab-Yunani yang berpengaruh di Damaskus, ibu kota Kekhalifahan Umayyah. Ayahnya, Sarjun ibn Mansur (Sergius ibn Mansur), merupakan pejabat administratif yang melayani pemerintahan Umayyah dalam bidang keuangan. Menurut tradisi yang diterima luas, Yohanes pada masa mudanya juga terlibat dalam administrasi pemerintahan sebelum akhirnya meninggalkan kehidupan publik untuk menjadi biarawan di Biara Mar Saba, dekat Yerusalem.
Keunikan Yohanes terletak pada kedekatannya dengan dunia Islam. Berbeda dengan banyak penulis Kristen lain yang mengenal Islam hanya melalui laporan sekunder atau polemik yang berkembang di luar lingkungan Muslim, Yohanes hidup di tengah masyarakat yang diperintah oleh khalifah-khalifah Umayyah dan berinteraksi langsung dengan umat Islam. Karena itu, kritik-kritiknya terhadap Islam lahir dari pengalaman konkret hidup berdampingan dengan komunitas Muslim pada masa awal perkembangan agama tersebut.
Relevansi pemikiran Yohanes bagi masa kini tetap signifikan. Di tengah berkembangnya dialog antaragama kontemporer, yang sering kali diwarnai oleh kecenderungan irenisme maupun relativisme teologis, Yohanes menawarkan model keterlibatan yang berbeda. Ia berupaya memahami keyakinan pihak lain secara serius, sekaligus mempertahankan komitmen terhadap keyakinan Kristennya sendiri. Pendekatannya memadukan analisis teologis yang tajam dengan argumentasi rasional yang terstruktur.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Yohanes pada abad ke-8 masih relevan hingga sekarang: Siapakah Yesus Kristus menurut wahyu Allah? Bagaimana hubungan antara pewahyuan Kristen dan klaim kenabian Muhammad? Dan sejauh mana Kitab Suci Kristen dapat dipertanggungjawabkan sebagai Firman Allah yang autentik? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan pemikiran Yohanes dari Damaskus tetap penting dalam kajian hubungan Kristen–Islam hingga masa kini.
Kehidupan dan Karya
Yohanes dari Damaskus (bahasa Arab: Yūḥannā al-Dimashqī; bahasa Latin: Johannes Damascenus) lahir sekitar tahun 675 M di Damaskus dan wafat sekitar tahun 749 M. Ia berasal dari keluarga Kristen Melkit yang memiliki kedudukan administratif penting di bawah pemerintahan Kekhalifahan Umayyah. Ayahnya, Sarjun ibn Mansur (Sergius ibn Mansur), dikenal sebagai pejabat tinggi yang mengelola urusan keuangan negara. Latar belakang keluarga ini memberikan Yohanes akses kepada pendidikan yang baik serta lingkungan intelektual yang kosmopolitan.
Yohanes Damaskus menerima pendidikan yang luas dalam tradisi Kristen Yunani, mencakup filsafat, logika, retorika, sastra klasik, dan teologi para Bapa Gereja. Tradisi kemudian menyebutkan bahwa ia dididik oleh seorang rahib bernama Kosmas dari Sisilia yang memperkenalkannya pada warisan intelektual Yunani dan Kristen. Meskipun hidup di tengah masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh Islam, bukti historis yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa Yohanes memperoleh pendidikan formal dalam disiplin-disiplin keislaman sebagaimana berkembang pada masa-masa berikutnya. Namun demikian, kedudukannya dalam lingkungan pemerintahan Umayyah dan interaksinya dengan masyarakat Muslim memungkinkan dirinya mengenal ajaran Islam secara langsung.
Setelah meninggalkan jabatan administratif, Yohanes memasuki kehidupan monastik di Biara Mar Saba, dekat Yerusalem. Di tempat inilah ia menghasilkan sebagian besar karya teologisnya dan memperoleh reputasi sebagai salah satu teolog terbesar dalam tradisi Ortodoks Timur. Selain dikenal karena tulisannya mengenai Islam, Yohanes juga memainkan peran penting dalam kontroversi ikonoklasme dengan membela penggunaan ikon dalam kehidupan gereja.
Karya terpenting Yohanes adalah Fons Scientiae (The Fountain of Knowledge atau Sumber Pengetahuan), sebuah karya ensiklopedis yang terdiri atas tiga bagian utama. Bagian pertama, Dialectica, berisi pengantar filsafat dan logika Aristotelian yang digunakan sebagai alat untuk memahami teologi. Bagian kedua, De Haeresibus (Tentang Bidat-Bidat), mengulas berbagai ajaran yang dianggap menyimpang dari iman Kristen Ortodoks. Bagian ketiga, Expositio Fidei Orthodoxae (Paparan Iman Ortodoks), merupakan ringkasan sistematis teologi Kristen Timur yang kemudian menjadi salah satu karya teologi dogmatik paling berpengaruh dalam sejarah gereja.
Dalam De Haeresibus, Yohanes membahas Islam di bawah judul “Bidat Kaum Ismael” (Heresy of the Ishmaelites) dan menempatkannya sebagai bidat ke-101. Klasifikasi ini mencerminkan cara pandang teologis Kristen abad ke-8. Yohanes tidak memperlakukan Islam sebagai fenomena religius yang sepenuhnya terpisah dari tradisi sebelumnya, melainkan sebagai suatu ajaran yang menurut penilaiannya memiliki akar dalam tradisi Yahudi dan Kristen, tetapi menyimpang dari ajaran yang diyakininya sebagai iman apostolik yang benar.
Selain De Haeresibus, sejumlah karya dialog antara orang Kristen dan Muslim sering dikaitkan dengan tradisi Yohanes dari Damaskus, termasuk Disputatio Christiani et Saraceni dan Disputatio Saraceni et Christiani. Namun, atribusi kepengarangan karya-karya tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi. Banyak sarjana berpendapat bahwa sebagian teks tersebut kemungkinan berasal dari penulis Kristen Timur yang hidup setelah Yohanes, tetapi tetap mencerminkan tradisi intelektual yang berkembang dari warisan pemikirannya. Menurut sejarawan Kristen Arab modern, seperti Sidney H. Griffith, teks-teks tersebut penting karena memperlihatkan bagaimana komunitas Kristen Timur pada masa awal Islam berusaha memahami, menafsirkan, dan merespons ajaran Islam melalui dialog maupun polemik teologis.
Metode Teologis Yohanes Damaskus
Pemikiran Yohanes Damaskus berakar dalam tradisi patristik Yunani yang berupaya memadukan iman Kristen dengan perangkat konseptual filsafat Yunani. Ia sering dipandang sebagai salah satu tokoh terakhir dan paling sistematis dari era para Bapa Gereja Timur. Dalam karya-karyanya terlihat usaha untuk menjelaskan iman Kristen secara rasional tanpa mengorbankan otoritas Kitab Suci dan tradisi gereja.
Pendekatan Yohanes Damaskus terhadap Islam bersifat polemis dalam pengertian akademis, yakni bertujuan menguji dan mengkritisi klaim-klaim teologis yang dianggap bertentangan dengan iman Kristen. Meskipun demikian, kritiknya tidak semata-mata didasarkan pada rumor atau stereotip. Tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan yang relatif baik mengenai beberapa ajaran Islam yang beredar pada zamannya, termasuk pandangan tentang keesaan Allah, kenabian Muhammad, serta pemahaman Islam mengenai Yesus Kristus.
Dalam studi klasiknya John of Damascus on Islam: The “Heresy of the Ishmaelites” (1972), Daniel J. Sahas menunjukkan bahwa Yohanes menggunakan dua pendekatan utama dalam kritiknya terhadap Islam. Pertama, analisis internal, yaitu mengevaluasi ajaran Islam berdasarkan premis-premis yang diterima oleh umat Islam sendiri untuk menunjukkan apa yang ia anggap sebagai inkonsistensi logis atau teologis. Kedua, konfrontasi eksternal, yaitu membandingkan klaim-klaim Islam dengan doktrin-doktrin Kristen yang menurutnya lebih sesuai dengan wahyu ilahi dan tradisi apostolik.
Meskipun lahir dalam konteks polemik abad pertengahan, metode Yohanes memperlihatkan upaya argumentatif yang sistematis dan rasional. Karena itu, pemikirannya tetap menjadi sumber penting bagi kajian hubungan Kristen–Islam, baik sebagai contoh awal apologetika Kristen maupun sebagai saksi historis mengenai interaksi intelektual antara kedua agama pada masa pembentukan peradaban Islam.
Islam sebagai “Bidat Kaum Ismael”
Dalam De Haeresibus 101, Yohanes dari Damaskus membahas Islam sebagai apa yang ia sebut “bidat kaum Ismael” (Heresy of the Ishmaelites). Ia menggambarkan bangsa Arab—yang disebutnya sebagai Ismaelitae atau Saraceni—sebagai kelompok yang sebelumnya menganut berbagai bentuk kepercayaan religius sebelum menerima ajaran monoteisme yang dibawa oleh Muhammad. Dalam kerangka teologisnya, Yohanes tidak memandang Islam sebagai wahyu yang sepenuhnya baru dan terpisah dari tradisi sebelumnya, melainkan sebagai suatu ajaran yang memiliki keterkaitan dengan tradisi Yahudi dan Kristen, tetapi menyimpang dari apa yang ia yakini sebagai iman apostolik yang benar.
Dalam salah satu bagian yang paling sering dikutip, Yohanes menulis:
“Hingga hari ini terdapat bidat yang merajalela, pelopor Antikristus, yang disebut bidat kaum Ismael…. Seorang nabi palsu muncul di antara mereka, bernama Muhammad, yang setelah mengenal Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta berhubungan dengan seorang biarawan Arian, membentuk ajarannya sendiri.”
(De Haeresibus 101, terjemahan Frederic H. Chase, 1958)
Pernyataan tersebut mencerminkan pemahaman Yohanes mengenai asal-usul Islam pada abad ke-8. Ia berpendapat bahwa ajaran Islam dipengaruhi oleh unsur-unsur Yahudi, Kristen, dan khususnya Arianisme, yaitu suatu aliran Kristen awal yang menolak keilahian penuh Yesus Kristus sebagaimana dirumuskan dalam pengakuan iman Nikea. Karena itu, Yohanes mengategorikan Islam sebagai salah satu bentuk penyimpangan teologis yang muncul dari lingkungan religius yang telah mengenal tradisi biblis.
Namun, penelitian sejarah modern tidak menemukan bukti yang memadai untuk mendukung klaim bahwa Muhammad memperoleh ajarannya secara langsung dari seorang biarawan Arian atau bahwa Islam merupakan kelanjutan langsung dari Arianisme. Oleh sebab itu, pandangan Yohanes mengenai hubungan tersebut umumnya tidak diterima oleh mayoritas sejarawan kontemporer.
Meskipun demikian, para sarjana modern mengakui bahwa Islam muncul dalam lingkungan religius yang dipengaruhi oleh berbagai tradisi monoteistik di Timur Dekat. Penelitian tokoh-tokoh seperti Patricia Crone, Michael Cook, Fred M. Donner, dan Sidney H. Griffith menunjukkan bahwa Islam berkembang dalam konteks yang telah mengenal Yudaisme, berbagai bentuk Kekristenan Timur, serta komunitas-komunitas monoteis lainnya. Akan tetapi, para sarjana tersebut tidak memandang Islam sekadar sebagai turunan atau distorsi dari Yudaisme dan Kekristenan, melainkan sebagai gerakan keagamaan yang membentuk identitas, teologi, dan komunitasnya sendiri.
Dengan demikian, nilai utama tulisan Yohanes tidak terletak pada akurasi historisnya mengenai asal-usul Islam, melainkan pada kedudukannya sebagai salah satu kesaksian Kristen paling awal mengenai kemunculan Islam. Karyanya memperlihatkan bagaimana seorang teolog Kristen abad ke-8 memahami dan menafsirkan agama baru yang sedang berkembang pesat di lingkungan sosial dan politiknya.
Kritik Yohanes Damaskus terhadap Kristologi Islam
Salah satu perbedaan teologis paling mendasar antara Kekristenan dan Islam berkaitan dengan identitas Yesus Kristus. Dalam Al-Qur’an, Yesus (ʿIsa ibn Maryam) dihormati sebagai nabi, rasul, Mesias, dan hamba Allah, tetapi tidak diakui sebagai Anak Allah atau sebagai pribadi ilahi sebagaimana dipahami dalam teologi Kristen (Q.S. 4:171; 5:72–75; 9:30–31; 19:35). Perbedaan inilah yang menjadi fokus utama kritik Yohanes terhadap Islam.
Yohanes Damaskus memperhatikan bahwa Al-Qur’an memberikan sejumlah gelar yang istimewa kepada Yesus. Selain mengakui kelahiran-Nya dari seorang perawan (Q.S. 3:47; 19:20), Al-Qur’an juga menyebut Yesus sebagai “Kalimat Allah” (kalimatun minhu) dan “roh dari-Nya” (rūḥun minhu) (Q.S. 4:171), serta mengaitkan berbagai mukjizat dengan pelayanan-Nya (Q.S. 3:49; 5:110). Berdasarkan pengamatan tersebut, Yohanes mempertanyakan bagaimana Yesus dapat dipahami hanya sebagai seorang nabi apabila Al-Qur’an sendiri memberikan kepadanya gelar dan peran yang begitu istimewa.
Dalam tradisi dialog yang dikaitkan dengan Yohanes, khususnya Disputatio Christiani et Saraceni, argumen ini dikembangkan melalui konsep Logos yang telah lama menjadi bagian dari teologi Kristen. Yohanes berpendapat bahwa apabila “Kalimat Allah” dipahami sebagai sesuatu yang berasal dari Allah tetapi berada di luar diri-Nya, maka muncul persoalan mengenai kesempurnaan dan kesatuan Allah. Sebaliknya, apabila Kalimat itu merupakan ekspresi yang tidak terpisahkan dari keberadaan Allah, maka menurut logika Kristologi Kristen, Kalimat tersebut mengambil bagian dalam hakikat ilahi.
Argumen tersebut memperlihatkan bagaimana Yohanes membaca istilah-istilah Al-Qur’an melalui kategori-kategori teologis yang telah berkembang dalam tradisi gereja. Dengan demikian, ia menafsirkan penolakan Islam terhadap keilahian Kristus dan Inkarnasi sebagai bentuk pemahaman yang, menurut pandangannya, memiliki kemiripan dengan beberapa kontroversi kristologis yang pernah muncul dalam sejarah gereja.
Dari perspektif akademik modern, penting dicatat bahwa penafsiran Yohanes terhadap istilah “Kalimat Allah” dan “roh dari-Nya” tidak identik dengan pemahaman mayoritas ulama Muslim. Dalam teologi Islam klasik, istilah-istilah tersebut umumnya tidak dipahami sebagai pengakuan terhadap keilahian Yesus, melainkan sebagai penegasan mengenai asal-usul penciptaan-Nya yang unik serta kedudukannya yang istimewa sebagai nabi dan rasul Allah. Oleh karena itu, kritik Yohanes lebih mencerminkan pembacaan teologis Kristen terhadap teks Al-Qur’an daripada representasi langsung atas pemahaman Islam mengenai Yesus.
Kritik Yohanes Damaskus terhadap Otoritas Kenabian Muhammad
Selain mengkritik ajaran Islam mengenai Yesus Kristus, Yohanes juga mempertanyakan dasar otoritas kenabian Muhammad. Dalam sejumlah teks polemis yang dikaitkan dengan tradisi Damaskenian, ia menyoroti bahwa pengalaman pewahyuan Muhammad tidak disaksikan secara langsung oleh komunitas luas sebagaimana, menurut pemahamannya, terjadi dalam beberapa peristiwa penting dalam tradisi Alkitab, seperti pemberian Taurat kepada Musa di Gunung Sinai.
Salah satu teks yang sering dikutip menyatakan:
“Kalian mengatakan bahwa Allah memberikan hukum kepada Musa di atas batu dalam kehadiran seluruh Israel. Tetapi nabi kalian datang sendirian dan tidak ada seorang pun yang memberikan kesaksian bahwa ia menerima kitab itu.”
(Disputatio Saraceni et Christiani, §2)
Melalui argumen ini, Yohanes mempertanyakan bagaimana suatu klaim wahyu dapat diverifikasi dan diterima sebagai otoritatif. Menurut pandangannya, kesaksian publik dan pengakuan komunitas merupakan unsur penting dalam meneguhkan legitimasi seorang nabi. Karena itu, ia memandang tidak adanya saksi langsung atas pengalaman pewahyuan Muhammad sebagai persoalan yang memerlukan penjelasan.
Namun demikian, kritik tersebut lahir dari kerangka epistemologis dan teologis Kristen abad ke-8. Dalam tradisi Islam, otoritas kenabian Muhammad tidak terutama didasarkan pada keberadaan saksi atas setiap pengalaman wahyu, melainkan pada keseluruhan misi kenabiannya, integritas moralnya, penerimaan komunitas Muslim awal, serta otoritas Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi. Dengan demikian, standar verifikasi yang digunakan Yohanes berbeda dari standar yang digunakan dalam tradisi Islam.
Dari perspektif akademik modern, argumen Yohanes lebih tepat dipahami sebagai bagian dari perdebatan mengenai otoritas religius dan validitas wahyu pada masa awal hubungan Kristen–Islam. Nilai historisnya tidak terletak pada kemampuannya untuk membuktikan atau membantah kenabian Muhammad, melainkan pada kemampuannya memperlihatkan bagaimana para pemikir Kristen abad ke-8 berusaha mengevaluasi klaim-klaim Islam melalui kategori teologis dan filosofis yang tersedia dalam tradisi mereka sendiri.
Karena itu, kritik Yohanes terhadap Muhammad memiliki arti penting dalam sejarah intelektual. Kritik tersebut merupakan salah satu contoh paling awal dari respons teologis Kristen terhadap Islam dan memberikan gambaran mengenai dinamika dialog, polemik, serta perjumpaan intelektual antara kedua agama pada periode pembentukan peradaban Islam.
Penolakan Islam terhadap Tritunggal dan Inkarnasi
Salah satu perbedaan teologis paling mendasar antara Kekristenan dan Islam berkaitan dengan doktrin Tritunggal dan Inkarnasi. Al-Qur’an secara konsisten menegaskan keesaan Allah (tauhid) dan menolak pemahaman bahwa Allah memiliki anak dalam pengertian teologis sebagaimana diajarkan dalam Kekristenan. Misalnya, Q.S. 4:171 menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan memperingatkan agar tidak melampaui batas dalam memahami Yesus. Demikian pula, Q.S. 5:72–75 menolak identifikasi Yesus Kristus dengan Allah dan menegaskan kemanusiaan-Nya sebagai seorang rasul.
Dalam teologi Islam, tauhid merupakan prinsip fundamental yang menjadi dasar seluruh sistem kepercayaan. Allah dipahami sebagai satu, unik, tidak terbagi, dan tidak memiliki sekutu. Karena itu, Al-Qur’an juga memperingatkan bahaya syirik, yaitu mempersekutukan sesuatu dengan Allah (Q.S. 4:48; 4:116). Dalam tradisi Islam, syirik dipandang sebagai pelanggaran paling serius terhadap keesaan Allah.
Penolakan terhadap Tritunggal kemudian dikembangkan secara lebih sistematis oleh para teolog Muslim klasik. Tokoh-tokoh seperti Abu al-Hasan al-Ash’ari, Abu Mansur al-Maturidi, dan Ibn Taymiyyah berupaya mempertahankan doktrin tauhid melalui argumentasi teologis dan filosofis. Mereka menekankan bahwa Allah bersifat esa secara mutlak dan tidak dapat dipahami melalui kategori-kategori yang dianggap berpotensi mengurangi kesatuan-Nya.
Namun demikian, penting dicatat bahwa para teolog Muslim dan Kristen sering menggunakan kerangka konseptual yang berbeda ketika membahas persoalan ini. Banyak kritik Muslim terhadap Tritunggal berangkat dari asumsi bahwa doktrin tersebut mengajarkan keberadaan tiga entitas ilahi yang terpisah. Sebaliknya, teologi Kristen arus utama, sebagaimana dirumuskan dalam tradisi Nikea-Konstantinopel, menegaskan bahwa Allah adalah satu hakikat (ousia) yang kekal dalam tiga pribadi (hypostaseis): Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dengan demikian, perdebatan mengenai Tritunggal tidak hanya menyangkut perbedaan keyakinan, tetapi juga perbedaan terminologi, kategori filosofis, dan cara memahami keesaan Allah.
Dalam konteks polemik Yohanes dari Damaskus, penolakan Islam terhadap Tritunggal dan Inkarnasi menjadi salah satu titik sentral perdebatan. Bagi Yohanes, keilahian Kristus dan Inkarnasi merupakan inti iman Kristen yang tidak dapat dipisahkan dari karya keselamatan. Sebaliknya, bagi Islam, penegasan keesaan Allah yang mutlak merupakan prinsip teologis yang tidak dapat dikompromikan. Karena itu, dialog antara kedua tradisi pada akhirnya berpusat pada pertanyaan mengenai identitas Yesus Kristus dan hubungan-Nya dengan Allah.
Pendekatan Apologetika Kontemporer
Dalam perkembangan teologi kontemporer, sejumlah pemikir Kristen berupaya menggabungkan kesetiaan terhadap keyakinan iman dengan keterbukaan terhadap dialog antaragama. Tokoh-tokoh seperti Kenneth Cragg, Miroslav Volf, dan Timothy George menawarkan pendekatan yang berbeda-beda, tetapi memiliki sejumlah prinsip yang sama.
Prinsip pertama adalah kejujuran intelektual. Dialog yang konstruktif memerlukan pengakuan yang jujur terhadap persamaan maupun perbedaan yang ada, tanpa menyederhanakan atau mengaburkan keyakinan masing-masing tradisi. Dialog yang sehat tidak menuntut penghapusan perbedaan, melainkan pemahaman yang lebih akurat terhadap posisi pihak lain.
Prinsip kedua adalah kerendahan hati intelektual. Banyak teolog Kristen kontemporer menekankan bahwa Allah melampaui pemahaman manusia. Karena itu, setiap rumusan teologis dipahami sebagai upaya manusia untuk memahami wahyu ilahi, bukan sebagai penguasaan penuh atas misteri Allah.
Prinsip ketiga adalah keterlibatan substantif. Dialog tidak cukup dilakukan pada tingkat sosial atau diplomatis semata, tetapi juga perlu menyentuh persoalan-persoalan teologis yang mendasar. Kritik dan pertanyaan yang diajukan oleh pihak lain perlu ditanggapi secara serius melalui argumentasi yang bertanggung jawab dan keterbukaan untuk belajar.
Dalam konteks ini, pendekatan Yohanes dari Damaskus tetap memiliki nilai historis karena menunjukkan upaya untuk berinteraksi dengan ajaran Islam melalui argumentasi teologis yang sistematis. Namun, pendekatan tersebut perlu dipahami dalam konteks polemik abad ke-8 dan tidak dapat diterapkan secara langsung tanpa mempertimbangkan perkembangan studi agama dan dialog antaragama pada masa kini.
Kesaksian Hidup dan Hospitalitas sebagai Dimensi Pastoral
Di samping dialog intelektual dan apologetika, banyak gereja menekankan pentingnya kesaksian hidup sebagai bagian integral dari relasi dengan umat Muslim. Pengalaman komunitas Kristen di berbagai negara, termasuk Mesir, Lebanon, Indonesia, dan Nigeria, menunjukkan bahwa hubungan yang baik sering kali dibangun melalui kehidupan sehari-hari, kerja sama sosial, pelayanan kemanusiaan, serta penghormatan terhadap martabat sesama warga.
Dalam konteks ini, integritas moral, kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan, dan keterbukaan untuk membangun persahabatan menjadi unsur penting dalam kesaksian Kristen. Pendekatan semacam ini tidak menggantikan dialog teologis, tetapi melengkapinya melalui praktik nyata yang mencerminkan nilai-nilai iman dalam kehidupan sosial.
Tokoh misionaris seperti Samuel Marinus Zwemer juga menekankan pentingnya memadukan keyakinan teologis yang teguh dengan penghormatan terhadap individu. Meskipun pendekatannya sering dikaitkan dengan tradisi apologetika Protestan, penekanannya pada kasih, kesabaran, dan pemahaman terhadap konteks budaya tetap memiliki relevansi dalam masyarakat pluralistik masa kini.
Evaluasi Kritis
Pemikiran Yohanes dari Damaskus tetap memiliki nilai historis dan teologis yang penting dalam studi hubungan Kristen–Islam.
Pertama, ia merupakan salah satu tokoh Kristen paling awal yang berupaya memahami dan menanggapi Islam secara sistematis melalui analisis terhadap ajaran dan teks-teks yang diketahuinya. Dalam konteks ini, Yohanes membantu membentuk tradisi dialog dan polemik yang bertumpu pada argumentasi teologis, bukan semata-mata pada prasangka atau penolakan emosional.
Kedua, Yohanes menunjukkan pentingnya menguji konsistensi internal suatu sistem kepercayaan ketika melakukan dialog maupun apologetika. Pendekatan semacam ini kemudian memengaruhi berbagai bentuk interaksi intelektual antara Kristen dan Islam pada abad-abad berikutnya.
Ketiga, fokusnya pada persoalan Kristologi—khususnya identitas Yesus Kristus—menunjukkan bahwa perbedaan mendasar antara Kekristenan dan Islam tidak hanya menyangkut praktik keagamaan, tetapi juga pemahaman tentang Allah, wahyu, keselamatan, dan sejarah keselamatan.
Kesimpulan
Warisan pemikiran Yohanes dari Damaskus menunjukkan bahwa perbedaan teologis yang mendalam tidak harus dihindari dalam dialog Kristen–Islam. Sebaliknya, perbedaan tersebut dapat menjadi ruang refleksi dan diskusi yang serius apabila dibahas melalui argumentasi yang bertanggung jawab, pemahaman yang memadai terhadap posisi pihak lain, serta penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Kontribusi utama Yohanes tidak terutama terletak pada seluruh kesimpulannya mengenai Islam, melainkan pada kesediaannya untuk terlibat secara intelektual dengan tradisi keagamaan yang berbeda. Sebagai salah satu teolog Kristen pertama yang hidup di bawah pemerintahan Islam, ia berusaha memahami ajaran Islam sebagaimana dikenalnya, menanggapinya berdasarkan keyakinan Kristennya, dan mempertahankan apa yang dipandangnya sebagai inti iman gereja. Sikap ini menunjukkan pentingnya kejujuran intelektual dan keseriusan teologis dalam perjumpaan antaragama.
Dari perspektif Kristen, identitas Yesus Kristus tetap menjadi titik sentral dalam relasi teologis dengan Islam. Gereja mempertahankan pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Firman Allah yang menjadi manusia dan bahwa pengakuan tersebut merupakan inti iman Kristen. Di pihak lain, Islam memahami Yesus sebagai nabi, rasul, dan Mesias, tetapi tidak menerima keilahian-Nya sebagaimana diajarkan dalam tradisi Kristen. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan yang lebih luas mengenai wahyu, keselamatan, dan pemahaman tentang Allah.
Karena itu, perdebatan mengenai keilahian Kristus, Tritunggal, Inkarnasi, dan otoritas Kitab Suci kemungkinan akan tetap menjadi bagian penting dalam hubungan Kristen–Islam. Namun, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut dapat dibahas secara kritis tanpa harus menghilangkan penghormatan terhadap pihak lain. Dialog yang bermakna tidak menuntut keseragaman keyakinan, melainkan kesediaan untuk memahami, menjelaskan, dan mempertanggungjawabkan keyakinan masing-masing secara jujur dan terbuka.
Dalam konteks masyarakat pluralistik modern, tantangan bagi komunitas Kristen dan Muslim bukanlah menghapus perbedaan teologis yang ada, melainkan membangun ruang dialog yang memadukan keteguhan keyakinan, integritas intelektual, dan komitmen terhadap kehidupan bersama yang damai. Dialog yang demikian memungkinkan kedua tradisi untuk tetap setia pada identitasnya masing-masing sekaligus berkontribusi bagi terciptanya masyarakat yang lebih adil, damai, dan saling menghormati.
Dengan demikian, warisan Yohanes dari Damaskus tetap relevan bagi kajian hubungan Kristen–Islam pada masa kini. Meskipun sejumlah pandangannya perlu dipahami secara kritis dalam konteks sejarahnya, upayanya untuk berinteraksi secara serius dengan tradisi keagamaan lain menunjukkan bahwa pencarian kebenaran teologis dan penghormatan terhadap sesama manusia tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama dalam dialog yang jujur, kritis, dan bertanggung jawab.
DAFTAR REFERENSI
Augustine. (1887). On the Trinity (De Trinitate). In P. Schaff (Ed.), Nicene and Post-Nicene Fathers (First Series, Vol. 3). Buffalo, NY: Christian Literature Publishing Co.
Aquinas, T. (1964–1981). Summa Theologiae (60 vols.). T. Gilby et al. (Eds.). Cambridge: Blackfriars in conjunction with Cambridge University Press.
John of Damascus. (1958). The Heresy of the Ishmaelites (De Haeresibus, 100/101). In F. H. Chase, Jr. (Trans.), Saint John of Damascus: Writings (Fathers of the Church, Vol. 37, pp. 153–160). Washington, DC: The Catholic University of America Press.
John of Damascus. (1958). An Exact Exposition of the Orthodox Faith (Expositio Fidei Orthodoxae). In F. H. Chase, Jr. (Trans.), Saint John of Damascus: Writings (Fathers of the Church, Vol. 37). Washington, DC: The Catholic University of America Press.
Pseudo-John of Damascus. (1864). Disputatio Christiani et Saraceni. In J.-P. Migne (Ed.), Patrologiae Cursus Completus, Series Graeca (Vol. 94, cols. 1585–1598). Paris: Imprimerie Catholique.
Pseudo-John of Damascus. (1864). Disputatio Saraceni et Christiani. In J.-P. Migne (Ed.), Patrologiae Cursus Completus, Series Graeca (Vol. 96, cols. 1335–1348). Paris: Imprimerie Catholique.
Patrologi, Sejarah Gereja, dan Yohanes dari Damaskus
Griffith, S. H. (2008). The Church in the Shadow of the Mosque: Christians and Muslims in the World of Islam. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Louth, A. (2002). St John Damascene: Tradition and Originality in Byzantine Theology. Oxford: Oxford University Press.
Sahas, D. J. (1972). John of Damascus on Islam: The “Heresy of the Ishmaelites”. Leiden: E. J. Brill.
Pelikan, J. (1974). The Christian Tradition: A History of the Development of Doctrine, Vol. 2: The Spirit of Eastern Christendom (600–1700). Chicago: University of Chicago Press.
Meyendorff, J. (1974). Byzantine Theology: Historical Trends and Doctrinal Themes. New York: Fordham University Press.
Kristologi, Tritunggal, dan Teologi Biblika
Bauckham, R. (2008). Jesus and the God of Israel: God Crucified and Other Studies on the New Testament’s Christology of Divine Identity. Grand Rapids, MI: Eerdmans.
Hurtado, L. W. (2003). Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity. Grand Rapids, MI: Eerdmans.
Wright, N. T. (2003). The Resurrection of the Son of God. Minneapolis, MN: Fortress Press.
Kelly, J. N. D. (1972). Early Christian Doctrines (5th rev. ed.). London: Adam & Charles Black.
Ayres, L. (2004). Nicaea and Its Legacy: An Approach to Fourth-Century Trinitarian Theology. Oxford: Oxford University Press.
Dialog Kristen–Islam dan Apologetika Kontemporer
Accad, M. (2011). Building Bridges in Muslim Evangelism: A Fresh Approach to Contextualization. Colorado Springs, CO: NavPress.
Cragg, K. (2000). The Call of the Minaret (3rd ed.). Oxford: Oneworld Publications.
Moucarry, C. (2001). The Prophet and the Messiah: An Arab Christian’s Perspective on Islam and Christianity. Downers Grove, IL: InterVarsity Press.
Volf, M. (2011). Allah: A Christian Response. New York: HarperOne.
Zwemer, S. M. (1907). The Mohammedan Christ: An Essay on the Life, Character, and Teaching of Jesus Christ According to the Koran and Orthodox Tradition. Edinburgh: Oliphant, Anderson & Ferrier.
Studi Islam dan Latar Belakang Historis
Crone, P., & Cook, M. (1977). Hagarism: The Making of the Islamic World. Cambridge: Cambridge University Press.
Donner, F. M. (2010). Muhammad and the Believers: At the Origins of Islam. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Esposito, J. L. (1999). Islam: The Straight Path (3rd ed.). New York: Oxford University Press.
Goldziher, I. (1971). Muslim Studies (Vol. 2, C. R. Barber & S. M. Stern, Trans.). Chicago: Aldine-Atherton.
Hallaq, W. B. (2009). An Introduction to Islamic Law. Cambridge: Cambridge University Press.
Reynolds, G. S. (2008). The Qur’an and Its Biblical Subtext. London: Routledge.
Thomas, D. (Ed.). (2009). Christian-Muslim Relations: A Bibliographical History, Volume 1 (600–900). Leiden: Brill.
Pdt. Em. Yohanes Bambang Mulyono
Yohanes BM Berteologi Yohanes BM Berteologi