Latest Article
YESUS DALAM TEOLOGI ISLAM

YESUS DALAM TEOLOGI ISLAM

Perjumpaan antara Kekristenan dan Islam merupakan salah satu dialog teologis yang paling panjang dan berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia. Sejak abad ke-7 Masehi, ketika Islam muncul dan berkembang di Jazirah Arab lalu menyebar ke berbagai wilayah dunia, kedua tradisi besar ini telah hidup berdampingan dalam berbagai bentuk relasi, yaitu mulai dari dialog, kerja sama, dan pertukaran pemikiran, hingga ketegangan dan konflik pada masa-masa tertentu. Di tengah berbagai persamaan dan perbedaan tersebut, terdapat satu pertanyaan yang menjadi titik sentral sekaligus pembeda paling mendasar antara keduanya,  “Siapakah Yesus sesungguhnya?

Bagi umat Kristen, jawaban atas pertanyaan ini merupakan inti dari seluruh iman Kristen. Yesus Kristus diakui sebagai Firman Allah yang menjadi manusia (Yoh. 1:14), Anak Allah yang tunggal, Tuhan dan Juruselamat dunia yang mati dan bangkit demi penebusan dosa umat manusia. Pengakuan ini bukan sekadar rumusan doktrinal, melainkan pusat kehidupan, ibadah, dan pengharapan orang percaya. Seluruh teologi Kristen pada akhirnya berpusat pada pribadi dan karya Yesus Kristus.

Sebaliknya, dalam Islam, Yesus yang dikenal sebagai Isa al-Masih menempati posisi yang sangat terhormat sebagai salah satu nabi besar. Al-Qur’an mengajarkan bahwa Isa lahir dari seorang perawan, melakukan berbagai mukjizat dengan izin Allah, dan diutus untuk menyampaikan wahyu kepada Bani Israel. Namun, Islam secara tegas menolak pengakuan bahwa Isa adalah Tuhan atau Anak Allah. Penolakan ini bukanlah isu sampingan dalam teologi Islam, melainkan berkaitan langsung dengan doktrin tauhid, yaitu keyakinan tentang keesaan Allah yang mutlak dan menjadi fondasi utama iman Islam.
Karena itu, pembahasan mengenai Yesus selalu menjadi salah satu tema paling penting dalam dialog antara Kekristenan dan Islam. Perbedaan pandangan mengenai identitas Yesus tidak hanya menyangkut aspek historis atau teologis, tetapi juga menyentuh persoalan keselamatan, wahyu, dan hubungan manusia dengan Allah.

Yesus (Isa Al-Masih) dalam Quran dan Hadis
Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada Isa al-Masih dibandingkan banyak nabi lainnya, namun pada saat yang sama menegaskan bahwa ia tetap seorang manusia dan hamba Allah yang diciptakan. Memahami keseimbangan antara penghormatan yang tinggi dan penolakan terhadap keilahian Isa merupakan langkah awal yang penting dalam memahami kristologi Islam.

a. Gelar-Gelar Mulia Isa dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan kepada Isa sejumlah gelar yang sangat istimewa. Ia disebut Al-Masih (Mesias), Kalimatullah (Kalimat atau Firman dari Allah), dan Ruhun Minhu (Roh dari-Nya). Selain itu, kisah kelahirannya dari Maryam memperoleh perhatian yang sangat besar sehingga satu surah dalam Al-Qur’an dinamai Surah Maryam. Kombinasi gelar-gelar ini telah lama menjadi perhatian para teolog Kristen maupun Muslim dalam dialog antaragama.

“Sesungguhnya Al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh dari-Nya” (QS. An-Nisa 4:171).

“Ketika para malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan sebuah kalimat dari-Nya; namanya Al-Masih Isa putera Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah” (QS. Ali Imran 3:45)

Para mufasir Muslim umumnya memahami istilah Kalimatullah sebagai penunjukan bahwa Isa diciptakan melalui firman Allah (“Kun”—Jadilah), bukan bahwa Isa adalah Firman Allah dalam pengertian teologi Kristen. Demikian pula, istilah Ruhun Minhu biasanya ditafsirkan sebagai roh yang berasal dari Allah melalui tindakan penciptaan dan pemberian hidup, bukan sebagai bagian dari hakikat Allah.
Namun demikian, sejumlah teolog Kristen melihat gelar-gelar tersebut sebagai sesuatu yang unik. Tokoh seperti Yohanes dari Damaskus berpendapat bahwa penggunaan istilah “Firman Allah” dan “Roh dari-Nya” bagi Isa menimbulkan pertanyaan mengenai identitasnya yang melampaui status seorang nabi biasa. Karena itu, gelar-gelar tersebut menjadi salah satu titik dialog dan perdebatan penting antara teologi Kristen dan Islam hingga masa kini.

b. Kelahiran dari Perawan: Mukjizat Tanpa Implikasi Keilahian?
Al-Qur’an mengajarkan bahwa Isa lahir dari perawan Maryam tanpa ayah manusia. Bagi Islam, peristiwa ini merupakan mukjizat besar yang menunjukkan kuasa Allah. Namun, mayoritas teolog Muslim menolak kesimpulan bahwa kelahiran tersebut membuktikan keilahian Isa. Sebagai argumen, Al-Qur’an membandingkan penciptaan Isa dengan penciptaan Adam.

“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berfirman kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia” (QS. Ali Imran 3:59)

Sementara itu, Injil mencatat:

“Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).

Dalam perspektif Islam, analogi Adam dan Isa bertujuan menegaskan bahwa Allah berkuasa menciptakan manusia tanpa proses biologis yang lazim. Oleh karena itu, kelahiran tanpa ayah tidak dianggap sebagai bukti keilahian.

Dari sudut pandang Kristen, kelahiran Yesus dari perawan bukanlah satu-satunya dasar pengakuan akan keilahian-Nya. Doktrin tersebut dipahami dalam kaitannya dengan keseluruhan kesaksian Perjanjian Baru mengenai identitas Kristus, termasuk praeksistensi-Nya (Yoh. 1:1–14), karya keselamatan-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya, serta penyembahan yang diterima-Nya. Karena itu, perbedaan antara kedua tradisi tidak terletak semata-mata pada kelahiran dari perawan, melainkan pada pemahaman yang lebih luas mengenai pribadi Yesus.

c. Mukjizat-Mukjizat Isa: Otoritas yang Melampaui Nabi-Nabi Lain?
Al-Qur’an mencatat sejumlah mukjizat Isa yang luar biasa, termasuk menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, menghidupkan orang mati, dan membentuk burung dari tanah liat yang kemudian hidup dengan izin Allah.

“Aku membuat bagimu dari tanah berbentuk seekor burung, kemudian aku meniupnya, lalu ia menjadi seekor burung dengan izin Allah” (QS. Ali Imran 3:49).

Dalam Injil, Yesus juga digambarkan menghidupkan orang mati, termasuk Lazarus:

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25).

Bagi Islam, seluruh mukjizat Isa terjadi “dengan izin Allah” dan karena itu tidak menunjukkan bahwa Isa memiliki natur ilahi. Mukjizat-mukjizat tersebut dipahami sebagai tanda kerasulan yang diberikan Allah kepada seorang nabi pilihan.

Di sisi lain, banyak teolog Kristen melihat bahwa mukjizat-mukjizat Yesus dalam Perjanjian Baru tidak hanya berfungsi sebagai tanda kenabian, tetapi juga sebagai manifestasi otoritas yang melekat pada diri-Nya. Dalam Injil, Yesus tidak sekadar bertindak sebagai penyampai kuasa Allah, tetapi berbicara dan bertindak dengan otoritas yang unik, termasuk mengampuni dosa, menerima penyembahan, dan menyatakan diri sebagai sumber kehidupan.

“The Quran’s portrait of Jesus, taken seriously on its own terms, raises questions about Jesus’s identity that the Quran itself does not resolve” (Kenneth Cragg).

Bagi Cragg, berbagai gelar dan keistimewaan yang diberikan Al-Qur’an kepada Isa menunjukkan bahwa ia menempati posisi yang sangat unik dalam keseluruhan narasi Al-Qur’an, sekalipun Islam tetap menolak pengakuan akan keilahian-Nya.

Kenyataan bahwa Isa dalam Al-Qur’an digambarkan membentuk burung dari tanah liat yang kemudian hidup “dengan izin Allah” telah menjadi salah satu tema yang menarik perhatian para teolog dan penafsir. Dalam QS. Ali Imran 3:49, digunakan kata kerja yang berasal dari akar kata khalaqa (“menciptakan” atau “membentuk”), suatu istilah yang dalam banyak bagian Al-Qur’an terutama digunakan untuk tindakan penciptaan Allah.

Para mufasir Muslim umumnya menegaskan bahwa mukjizat tersebut sama sekali tidak menunjukkan keilahian Isa karena Al-Qur’an secara eksplisit menambahkan frasa “dengan izin Allah” (bi idznillah). Dengan demikian, kuasa yang bekerja tetap berasal dari Allah, sedangkan Isa bertindak sebagai nabi dan alat pelaksana kehendak-Nya.

Namun, sejumlah teolog Kristen Arab pada abad pertengahan melihat adanya keunikan dalam narasi ini. Mereka mengajukan pertanyaan, yaitu jika tindakan menciptakan pada hakikatnya merupakan prerogatif Allah, mengapa Al-Qur’an menggambarkan Isa melakukan tindakan yang secara lahiriah menyerupai penciptaan dan tidak memberikan gambaran serupa kepada nabi-nabi lain? Bagi para penulis Kristen tersebut, keunikan ini merupakan salah satu indikasi bahwa Isa menempati posisi yang sangat istimewa dalam kesaksian Al-Qur’an, meskipun Islam sendiri menafsirkan peristiwa itu sepenuhnya dalam kerangka mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada seorang nabi pilihan.

Dengan demikian, perdebatan tidak terletak pada apakah mukjizat itu terjadi atas izin Allah—karena hal itu ditegaskan secara eksplisit oleh Al-Qur’an—melainkan pada bagaimana keunikan tindakan dan gelar-gelar yang diberikan kepada Isa harus dipahami dalam kerangka identitas dan status-Ny

Penolakan Ketuhanan Yesus dalam Islam

Penolakan atas ketuhanan Yesus bukan sekadar posisi teologis sekunder dalam Islam, namun sebagai konsekuensi langsung dan tak terpisahkan dari doktrin tauhid yang paling sentral. Memahami akar-akar penolakan ini penting bagi gereja untuk merespons secara tepat.

  1. Tauhid sebagai Fondasi: Keesaan Allah yang Mutlak

Tauhid (keesaan Allah) yang mutlak, tidak terbagi, tidak beranak dan tidak diperanakkan adalah doktrin yang paling fundamental dalam Islam. Segala sesuatu yang dianggap menyekutukan Allah dikategorikan sebagai syirik, dosa terbesar yang tidak akan diampuni bagi siapa yang mati di dalamnya.

“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS. Al-Ikhlas: 1–4)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya (QS. An-Nisa: 48)

“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ulangan 6:4)

“Tawhid is not simply a statement about God. It is a statement about reality, about the nature of being, about the structure of existence itself. To associate partners with God is not merely theological error—it is the deepest possible distortion of reality” ( Ismail Raji al-Faruqi, Islam and Other Faiths, 1998)

Menarik dicatat bahwa Ulangan 6:4 yang dikutip Yesus sebagai hukum terbesar (Markus 12:29) juga menegaskan keesaan Allah. Namun teologi Kristen Trinitarian bukan mengajarkan tiga Allah, melainkan satu Allah dalam tiga Pribadi yang berbeda. Persoalannya bukan apakah Allah itu esa, melainkan bagaimana keesaan itu dimengerti, yaitu apakah keesaan yang numerik (satu secara absolut seperti konsep tauhid), atau keesaan ontologis yang kompleks (satu esensi dalam tiga Pribadi seperti konsep Trinitas). Keduanya mengklaim monoteisme, namun perbedaannya terletak pada ontologi, bukan pada jumlah tuhan.

  1. Penolakan Langsung atas Ketuhanan Yesus dan Trinitas

Al-Qur’an tidak ambigu dalam menolak klaim ketuhanan Yesus dan doktrin Tritunggal. Beberapa ayat bahkan secara eksplisit menggunakan kata ‘kafara’ yang menunjuk kondisi telah kafir bagi yang mempercayai hal ini.

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa” (QS. Al-Maidah: 72–73

“Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30)

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yohanes 1:1,14).

“The Muslims misunderstand the Christian doctrine of the Trinity because they confuse it with tritheism. When we say God is Father, Son, and Spirit, we are not speaking of three gods but of one God whose inner life is relational and self-communicating” (John of Damascus (Yohanes Damaskus), dalam De Haeresibus / Concerning Heresies (abad ke-8)

Al-Qur’an tampaknya menolak versi Trinitas yang dipahami sebagai ‘tiga tuhan’ yang memang adalah salah paham terhadap doktrin Kristen ortodoks. Beberapa cendekiawan seperti Geoffrey Parrinder dan W. Montgomery Watt mencatat bahwa Al-Qur’an mungkin bereaksi terhadap praktik-praktik populer tertentu di komunitas Kristen Arabia yang memang mengandung unsur penyembahan Maria secara berlebihan (Collyridianisme), bukan terhadap Trinitas Nicea yang tepat. Ini bukan berarti klaim Al-Qur’an benar; justru artinya argumen Al-Qur’an menyerang ‘jerami’ versi yang terdistorsi dari Trinitas, jadi bukan pada Trinitas sebagaimana diajarkan Konsili Nicea (325 M).

  1. Isa Bukan Tuhan karena Ia Makan dan Berubah

Para teolog Muslim sering menggunakan argumen bahwa seorang yang makan, tidur, menangis, dan takut tidak bisa disebut Tuhan, karena Allah tidak bergantung pada apapun (Al-Ghani) dan tidak mengalami perubahan (Al-Qayyum).

Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan” (QS. Al-Maidah: 75).

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14).

“The incarnation does not require that God cease to be God. It requires that God adds to himself something whom He was not before—genuine human nature. The humiliation of the Son is a voluntary self-limitation, not an ontological contradiction”  (Alister McGrath, Christian Theology: An Introduction (edisi ke-6, 2017).

Argumen ‘Yesus makan, maka bukan Tuhan’ mengandaikan bahwa Inkarnasi berarti Allah berhenti menjadi Allah. Teologi inkarnasi Kristen justru mengajarkan yang sebaliknya. Allah Anak mengambil sifat manusia penuh (kenosis) (Flp. 2:7) tanpa kehilangan sifat ilahi-Nya. Ini bukan kontradiksi logis; sebaliknya ini adalah misteri yang konsisten secara internal, yaitu dua natur dalam satu Pribadi. Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae III.Q2 menguraikan bahwa kemanusiaan Yesus adalah ‘instrumen’ natur ilahi-Nya, bukan penyangkalannya

Isu Penyaliban 

Tidak ada titik perbedaan antara Islam dan Kristen yang lebih dramatis dalam implikasinya daripada pertanyaan tentang penyaliban. Jika Yesus tidak disalib, seluruh teologi penebusan Kristen runtuh. Jika Yesus disalib, klaim Al-Qur’an menjadi bermasalah secara historis.

  1. Doktrin Islam tentang Penggantian di Kayu Salib

Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh disalib. Mayoritas mufassir (penafsir Muslim) meyakini bahwa seseorang lain diserupakan wajahnya dengan Yesus dan disalib menggantikannya, sementara Yesus diangkat langsung ke hadirat Allah.

“Dan karena ucapan mereka: Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Bahkan Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya” (QS. An-Nisa: 157–158). 

“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Korintus 15:3–4).

  1. Evidensi Historis: Konsensus yang Tidak Bisa Dibantah

Kematian Yesus di bawah hukuman Pontius Pilatus adalah salah satu fakta historis yang paling kokoh dalam sejarah kuno, dikonfirmasi oleh sumber-sumber non-Kristen yang tidak memiliki kepentingan untuk membela teologi Kristen.

“Christus, from whom the name had its origin, suffered the extreme penalty during the reign of Tiberius at the hands of one of our procurators, Pontius Pilatus” (Tacitus, Annales XV.44, abad ke-1 M)

“Pilate, upon hearing him accused by men of the highest standing among us, had condemned him to be crucified” (Flavius Josephus, Antiquities of the Jews 18.3.3, abad ke-1 M)

“The crucifixion of Jesus under Pontius Pilate is as historically certain as any event we know from antiquity. There is simply no serious historian—Christian, Jewish, secular—who doubts that Jesus died by crucifixion” (John P. Meier, A Marginal Jew: Rethinking the Historical Jesus, Vol. 1 (1991)

Doktrin penggantian di salib (Arabic: al-tashbih) tidak muncul dalam satu sumber sejarah pun dari abad pertama atau kedua Masehi. Ia baru muncul dalam Al-Qur’an abad ketujuh, yaitu enam abad setelah kejadian yang diklaim. Seluruh evidensi historis yang ada, termasuk dari sumber-sumber Romawi dan Yahudi yang justru bermusuhan dengan kekristenan. Mereka mengkonfirmasi kematian Yesus di kayu salib. Ini bukan argumen dari otoritas Alkitab, melainkan dari metode kritis-historis yang berlaku universal.

  1. Implikasi Teologis: Jika Tidak Ada Salib, Tidak Ada Injil

Bagi teologi Kristen, penyaliban bukan detail biografis yang bisa dilepas tanpa mengubah substansi iman. Ia adalah inti dari seluruh rencana keselamatan Allah. Rasul Paulus menyatakannya dengan tajam tanpa kompromi.

“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1 Korintus 15:17–19).

“Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibrani 9:22). 

“The resurrection is not an appendix to the gospel; it is its vindication. Without the resurrection, the cross is merely a tragic execution. With the resurrection, the cross becomes the means by which the powers of sin and death were defeated” (N.T. Wright, The Resurrection of the Son of God (2003)

“The satisfaction which none but God could make, and none but man ought to make, it is necessary for the God-man to make it” (Anselm dari Canterbury, Cur Deus Homo (Mengapa Allah Menjadi Manusia), 1098

Ketegangan Internal dalam Teologi Islam tentang Isa Al-Masih

Tinjauan kritis yang jujur tidak hanya memeriksa perbedaan eksternal antara Islam dan Kristen, tetapi juga menelaah apakah posisi Islam tentang Isa konsisten secara internal. Ada sejumlah tegangan yang telah lama diidentifikasi oleh para teolog, baik Kristen maupun sekuler.

  1. Masalah ‘Kalimatullah’: Firman yang Kekal atau Ciptaan?

Al-Qur’an menyebut Isa sebagai ‘Kalimatullah’ (Firman Allah). Dalam teologi Islam, apakah Firman Allah itu kekal atau diciptakan? Pertanyaan ini memiliki implikasi yang tidak kecil, karena teologi Islam sendiri terpecah dalam perdebatan tentang apakah Al-Qur’an (sebagai Firman Allah) itu kekal atau diciptakan. Perdebatan tentang masalah ini telah mengguncang dunia Islam abad kesembilan antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yohanes 1:1–3). 

“If the Muslims say that the Word of God is eternal which they must, for God was never without His Word – then they have already conceded the eternal pre-existence of what was incarnate in Jesus. They cannot call Jesus the Word of God and then deny what that Word is” (Theodore Abu Qurra, Treatise on the Existence of God and the True Religion) (abad ke-9)

Catatan di atas menunjukkan adanya tegangan yang paling mendasar dalam teologi Islam tentang Isa. Jika ‘Kalimatullah’ berarti Firman yang kekal dari Allah (sebagaimana diklaim Perjanjian Baru dan sebagaimana diimplikasikan oleh sifat Allah yang tidak pernah tanpa Firman-Nya), maka Isa sebagai inkarnasi Firman itu adalah kekal. Di pihak lain kekekalan adalah atribut ilahi. Jika ‘Kalimatullah’ hanya berarti ‘perintah Allah’ atau ‘kabar baik dari Allah,’ maka gelar itu tidak berbeda dari gelar yang bisa diberikan kepada semua rasul, dan Al-Qur’an tidak punya alasan khusus untuk menyebutnya kepada Isa saja.

  1. Masalah ‘Ruhun Minhu‘: Roh yang Berasal dari Esensi Allah

Gelar kedua yang lebih mengejutkan adalah ‘Ruhun minhu‘ (‘Roh dari-Nya).’ Kata depan ‘min’ (dari) dalam bahasa Arab menunjukkan asal usul, dan ‘hu’ (Nya) merujuk kepada Allah sendiri. Ini secara harfiah menyatakan bahwa Isa berasal dari esensi Allah.

“…dan (dengan tiupan) roh dari-Nya (ruhun minhu)…” (QS. An-Nisa: 171).

“The Qur’an’s description of Jesus as ‘a spirit from Him’ is one of the most remarkable statements in the entire Qur’an. It places Jesus in a category entirely apart from any other prophet, and raises questions about the nature of that Spirit which Muslim theology has never fully resolved” (Geoffrey Parrinder, Jesus in the Qur’an) (1965)

Para mufassir Muslim berupaya menafsirkan ‘Ruhun minhu’ sebagai “roh ciptaan Allah yang ditiupkan ke dalam Maryam.” Penafsiran tersebut dengan membuat analogi kepada penciptaan Adam (QS. 15:29). Namun perbedaannya signifikan, yaitu dalam kasus Adam, teks menyatakan ‘nafakhtu fihi min ruhi’ (Aku tiupkan ke dalamnya dari roh-Ku) yang digunakan untuk semua manusia. Sebaliknya dalam kasus Isa, Al-Qur’an menggunakan konstruksi berbeda yaitu ‘ruhun minhu’ (Roh yang berasal dari-Nya) dengan cara yang tidak diterapkan kepada manusia lain, termasuk Adam. Kekhususan linguistik ini belum mendapat penjelasan yang memuaskan dalam tafsir Islam klasik maupun kontemporer.

  1. Isu Tahrif: “Apakah Alkitab Telah Dipalsukan?”

Salah satu argumen standar dalam apologetika Islam adalah klaim tahrif bahwa teks Alkitab telah mengalami pemalsuan atau perubahan yang disengaja. Tuduhan ini digunakan untuk mendiskreditkan kesaksian Perjanjian Baru tentang ketuhanan Yesus tanpa perlu merespons isinya.

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: Ini dari Allah, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu” (QS. Al-Baqarah: 79).

“The New Testament has been preserved in more manuscripts than any other ancient work, having over 5,800 complete or fragmented Greek manuscripts dating from the 2nd century onward. The text is reconstructed with a confidence that far surpasses any other ancient document” (Bruce Metzger, The Text of the New Testament, edisi ke-4, 2005)

“The degree of certainty regarding the original text of the New Testament is far greater than for any other document from antiquity. Textual variants affect less than one percent of the text, and none touches any essential doctrine” (Gordon Fee & Douglas Stuart, How to Read the Bible for All Its Worth, 1982)

Klaim tahrif menghadapi masalah serius secara historis dan tekstual. Pertama, manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru yang tertua (seperti Papyrus P52 yang berasal dari sekitar 125 M, dan Codex Vaticanus serta Sinaiticus dari abad ke-4) sangat konsisten satu sama lain dalam dokrin-doktrin inti, termasuk klaim ketuhanan Yesus. Kedua, jika pemalsuan terjadi, kapan dan oleh siapa? Pada abad kedua, sudah ada terlalu banyak salinan yang tersebar di seluruh Kekaisaran Romawi hingga Afrika Utara mustahil secara logistik untuk mengubah semua salinan secara serentak. Ketiga, Al-Qur’an sendiri dalam beberapa ayat memerintahkan kaum Yahudi dan Kristen untuk berpegang pada Kitab mereka (QS. 5:47,68), yang mengimplikasikan bahwa kitab tersebut masih dapat diandalkan pada masa Muhammad sekitar abad ketujuh.

Kesaksian Alkitab tentang Ketuhanan Yesus

Klaim bahwa ketuhanan Yesus adalah ‘penemuan terlambat’ gereja yang sering diulang dalam apologetika Islam justru bertentangan dengan evidensi tekstual terbaik yang dimiliki para cendekiawan. Bagian ini menelaah dasar-dasar kesaksian tersebut.

  1. Kristologi Tinggi Mendahului Injil: Bukti dari Surat-Surat rasul Paulus

Para sarjana Perjanjian Baru termasuk yang sangat kritis seperti Bart Ehrman mengakui bahwa himne-himne Kristologis tertua dalam surat-surat Paulus (ditulis sekitar 50–62 M) sudah mengandung pengakuan ketuhanan Yesus yang sangat tinggi, jauh sebelum Injil-Injil ditulis.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:5–7).

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kolose 1:15–16)

“Within the first two decades after Jesus’s crucifixion, an intense devotion to Jesus had erupted in which he was treated as a divine figure—receiving worship alongside God the Father. This ‘high Christology’ was not a late development; it was there from the very beginning” (Larry Hurtado, Lord Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earliest Christianity (2003)

Larry Hurtado, sebagai seorang pakar Perjanjian Baru dari Universitas Edinburgh, menunjukkan berdasarkan analisis kritis teks bahwa pengakuan ketuhanan Yesus sudah ada dalam komunitas Kristen paling awal. Gelar ketuhanan Yesus bukan sebagai perkembangan abad keempat seperti yang sering diklaim apologet Islam dengan mengacu pada Konsili Nicea. Konsili Nicea 325 M tidak menciptakan doktrin ketuhanan Yesus, sebaliknya mengkodifikasikan dan mempertahankan apa yang sudah diyakini komunitas Kristen sejak awal.

  1. Klaim-Klaim Yesus Sendiri: Suara Historis yang Tidak Bisa Disumirkan

Terlepas dari perdebatan tentang sumber-sumber Injil, ada sejumlah klaim Yesus yang diterima oleh cendekiawan dari berbagai spektrum sebagai historis dan klaim-klaim itu memiliki implikasi yang melampaui seorang nabi biasa.

“Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia” (Yohanes 8:58)

Thomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku! Kata Yesus kepadanya: Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:28)

“Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji? Jawab Yesus: Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit. Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya!” (Markus 14:61–64).

“A man who was merely a man and said the sort of things Jesus said would not be a great moral teacher. He would either be a lunatic—on a level with the man who says he is a poached egg—or else he would be the Devil of Hell. You must make your choice. Either this man was, and is, the Son of God: or else a madman or something worse” (C.S. Lewis, Mere Christianity, 1952)

Argumen C.S. Lewis yang dikenal sebagai ‘Trilemma Lewis’ (Lunatic, Liar, atau Lord) tidak dapat direspons hanya dengan menempatkan Yesus sebagai ‘nabi biasa yang diajarkan oleh Islam.’ Karena seorang nabi yang berbicara seperti yang dilakukan Yesus, misalnya “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada” (memakai nama ilahi ‘ego eimi’), menerima penyembahan Thomas tanpa menolaknya, mengklaim akan duduk di sebelah kanan Allah bukanlah nabi yang waras dalam kategori apapun. Islam justru menghadirkan masalah baru bagi klaimnya sendiri: bagaimana bisa nabi semulia Isa membiarkan murid-muridnya menyembahnya tanpa koreksi, hingga seluruh komunitas Kristen awal hidup dalam syirik?

  1. Kebangkitan: Dasar Historis dari Klaim Ketuhanan

Jantung dari Injil Kristen dan dasar dari seluruh klaim ketuhanan Yesus adalah kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Ini bukan hanya klaim teologis. Sebaliknya ini adalah klaim historis yang membutuhkan penilaian historis.

“Tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita” (Roma 1:3–4)

“The minimal facts approach—using only data which are so strongly attested historically that they are accepted by nearly every scholar who studies the subject—establishes that Jesus died, that his tomb was found empty, that his disciples had experiences they believed were appearances of the risen Jesus, and that Paul and James were converted by similar experiences” (Gary Habermas & Michael Licona, The Case for the Resurrection of Jesus, 2004)

“It may be taken as historically certain that Peter and the disciples had experiences after Jesus’s  death in which Jesus appeared to them as the risen Christ” (Gerd Lüdemann, The Resurrection of Christ: A Historical Inquiry (2004).

Bahkan sejarawan yang menolak kebangkitan fisik (seperti Gerd Lüdemann dan Bart Ehrman) mengakui bahwa para murid sungguh-sungguh percaya mereka mengalami perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit, dan keyakinan ini adalah faktor historis yang paling masuk akal untuk menjelaskan lahirnya kekristenan. Pertanyaan historis yang sejati bukan ‘apakah mereka percaya Yesus bangkit’ sebab hal itu sudah tidak diperdebatkan, melainkan ‘apa penjelasan terbaik untuk keyakinan itu?’ Islam menawarkan jawaban sebagai halusinasi kolektif atau kebingungan identitas. Namun penjelasan ini tidak memenuhi standar historis minimum: lebih dari 500 orang mengklaim melihat Yesus setelah kematian-Nya (1 Kor 15:6), termasuk musuh-musuh-Nya seperti Paulus dan Yakobus saudara-Nya.

Respons Gereja

Pemahaman yang mendalam tentang teologi Islam tentang Yesus bukan dimaksudkan untuk membangun tembok permusuhan, melainkan untuk memperlengkapi gereja berdiri teguh dan bersaksi dengan bijaksana. Ada beberapa dimensi respons yang perlu dibangun secara sistematis.

  1. Membangun Apologetika Kristen yang Dewasa

Gereja perlu membekali jemaatnya dengan apologetika yang kokoh. Tujuannya bukan untuk ‘menang berdebat’ tetapi untuk memberikan pertanggungjawaban yang jelas atas pengharapan yang ada dalam mereka (1 Petrus 3:15). Ini mencakup pemahaman tentang dasar-dasar historis iman, kemampuan merespons tuduhan tahrif, dan kemampuan menjelaskan Trinitas secara akurat.

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15)

“Authentic Christian witness neither surrenders truth for the sake of peace nor uses truth as a weapon to wound. It must hold together, in the same breath, the conviction that Jesus is the only way and the compassion that treats every human being as made in the image of God” (Ravi Zacharias, Jesus Among Other Gods, 2000)

  1. Menghindari Dua Ekstrem: Konfrontasi dan Sinkretisme

Dua bahaya yang sama-sama destruktif mengancam gereja dalam konteks hubungan Kristen-Muslim: konfrontasi yang arogan di satu sisi, dan sinkretisme yang melumatkan perbedaan di sisi lain. Keduanya gagal mencerminkan kasih dan kebenaran Kristus secara bersamaan.

“Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Efesus 4:15)

“The Christian affirmation that Jesus is Lord is not an arrogant claim to superiority. It is a claim to truth—truth that is itself defined by the one who washed his disciples’ feet and died for his enemies. The exclusivity of Christ is the exclusivity of love, not power” (Lesslie Newbigin, The Gospel in a Pluralist Society, 1989)

  1. Pendidikan Teologis Kontekstual untuk Jemaat

Dalam konteks Indonesia di mana mayoritas penduduk Muslim dan literatur dakwah beredar bebas—termasuk melalui media sosial—gereja tidak bisa lagi mengandalkan pendidikan iman yang hanya bersifat ritual. Diperlukan kateketik yang kontekstual dan membekali.

“Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu” (Hosea 4:6).

“Genuine dialogue requires genuine difference. Partners who blur their own convictions for the sake of harmony do not honor each other—they erase each other. The most respectful form of dialogue is to say clearly what you believe and why, and then to listen with equal seriousness” (Seyyed Hossein Nasr (Muslim) dan David Burrell (Kristen), Christian-Muslim Dialogue: Theological and Practical Explorations)

  1. Kesaksian Hidup: Argumen yang Tidak Dapat Dibantah

Pada akhirnya, argumen teologis terkuat yang dimiliki gereja bukan teks atau logika semata, melainkan kehidupan komunitas yang memancarkan kasih Kristus yang nyata dan tidak dapat ditiru oleh sistem lain.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34–35)

“The church’s most powerful argument to the Muslim world is not the theologian’s demonstration but the martyr’s testimony—the life that says, ‘I have found in Jesus what your theology says cannot be found there: forgiveness, certainty, and love without fear” (Samuel Zwemer, The Moslem Christ, 1912)

Refleksi Pastoral

Semua pergumulan teologis akhirnya bermuara pada jiwa-jiwa konkret: pemuda yang goyah, anggota keluarga yang berpindah agama, pendeta yang menghadapi pertanyaan yang tidak ada dalam diktat kuliah. Refleksi pastoral adalah jantung dari seluruh artikel ini.

  1. Merawat Jiwa yang Goyah: Ketika Argumen Islam Terasa Meyakinkan

Pengalaman pastoral menunjukkan bahwa krisis iman jarang terjadi di ruang kuliah teologi. Ia terjadi di percakapan sehari-hari, di media sosial, di saat seorang pemuda menghadapi argumen yang terstruktur dan tidak menemukan jawaban dari gerejanya.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh ingin menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini, menasihati kamu supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 1:3)

  1. Pelayanan kepada Mualaf Kristen: Ketika Berpindah Iman Berarti Kehilangan Segalanya

Mereka yang berpindah dari Islam kepada Kristus sering kali menanggung beban yang tidak terbayangkan: penolakan keluarga, pengucilan komunitas, ancaman fisik di banyak negara. Gereja dipanggil untuk menjadi ‘keluarga yang baru’ bagi mereka secara nyata dan menyeluruh.

“Jawab Yesus: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan” (Markus 10:29–30)

“Leaving Islam meant leaving everything I had ever known. But I had found what Islam could not give me: a God who came near, who wept, who died for me. The cost was everything. The gain was immeasurably more” (Nabeel Qureshi, Seeking Allah, Finding Jesus, 2014)

  1. Doa Syafaat sebagai Fondasi Missional

Di balik semua argumentasi dan strategi pastoral, apa yang paling dibutuhkan gereja dalam misinya kepada dunia Islam adalah kehidupan doa yang sungguh-sungguh. Bukan doa sebagai formalitas, melainkan doa sebagai keyakinan bahwa Allah yang lebih menginginkan keselamatan orang Muslim daripada kita sendiri, sedang bekerja.

“Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Allah ialah, supaya mereka diselamatkan” (Roma 10:1)

“Yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Timotius 2:4)

  1. Identitas Kristus sebagai Jawaban Terakhir, 

Pada akhirnya, pertanyaan tentang siapakah Yesus bukan hanya pertanyaan akademis atau apologetis. Ia adalah pertanyaan eksistensial yang menyentuh inti dari makna kehidupan, pengampunan dosa, dan pengharapan di hadapan kematian. Dalam hal ini jawaban Kristen bukan sekadar proposisi teologis, sebab Yesus adalah pribadi ilahi dan insani yang hidup.

“Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6)

“Jawab Yesus: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yohanes 11:25–26)

“The resurrection of Jesus is the foundation of everything. If it happened—and the historical evidence demands that we take the claim with utmost seriousness—then we are not dealing with the reflections of a religious genius but with the self-disclosure of God himself in human history” (Wolfhart Pannenberg, Jesus: God and Man (1968)

Pertanyaan untuk Diskusi

  1. Al-Qur’an menggunakan gelar ‘Kalimatullah’ (Firman Allah) dan ‘Ruhun minhu’ (Roh dari-Nya) secara eksklusif untuk Isa al-Masih. Bagaimana seorang apologet Kristen dapat membangun argumen dari dalam teks Al-Qur’an sendiri untuk menantang klaim bahwa Isa hanyalah nabi biasa tanpa harus berawal dari otoritas Alkitab? Apa batas-batas dan kekuatan dari pendekatan ini?
  2. Mengingat bahwa kematian Yesus di kayu salib dikonfirmasi oleh sejarawan non-Kristen seperti Tacitus dan Josephus yang tidak memiliki kepentingan membela teologi Kristen bagaimana gereja dapat menggunakan evidensi historis ini secara efektif dalam percakapan dengan Muslim yang terpelajar, sambil tetap mengakui bahwa iman pada akhirnya melampaui pembuktian historis?
  3. Argumen ‘Trilemma Lewis’ (Gila, Pembohong, atau Tuhan) telah menjadi salah satu argumen apologetika Kristen paling berpengaruh. Apa kekuatan dan kelemahan argumen ini ketika dihadapkan kepada apologet Muslim yang merespons bahwa Injil-Injil adalah dokumen yang sudah mengalami perubahan? Bagaimana Anda merespons keberatan tersebut?
  4. Konsili Nicea (325 M) sering dikutip oleh apologet Islam sebagai bukti bahwa doktrin ketuhanan Yesus adalah ‘ciptaan politik’ Konstantinus. Berdasarkan penelitian Larry Hurtado, N.T. Wright, dan sarjana-sarjana lain, apa argumen terkuat yang dapat diajukan bahwa Kristologi tinggi bukan produk Nicea melainkan keyakinan komunitas Kristen paling awal? Apa sumber-sumber primer yang dapat dijadikan rujukan?
  5. Klaim tahrif (pemalsuan Alkitab) adalah argumen yang paling sering digunakan untuk menghindari berhadapan langsung dengan isi Alkitab. Fakta-fakta tekstual dan historis apa yang paling kuat untuk merespons klaim ini termasuk kontradiksi internal dalam klaim tahrif itu sendiri (misalnya, Al-Qur’an memerintahkan Ahli Kitab untuk berpegang pada Kitab mereka)?
  6. Apa dampak teologis yang dapat timbul ketika perbedaan esensial mengenai pribadi dan karya Yesus tidak lagi dijelaskan secara jernih kepada jemaat? Sampai sejauh mana upaya membangun kerukunan dapat dilakukan tanpa mengaburkan identitas iman Kristen itu sendiri? Dan bagaimana seorang gembala jemaat dapat mengajarkan kebenaran dengan setia, sekaligus memelihara sikap hormat, kasih, dan hubungan sosial yang baik dengan sesama warga masyarakat yang berbeda keyakinan? 
  7. Siapakah sebenarnya pribadi yang dinantikan untuk datang kembali itu? Apakah ia sekadar seorang nabi dan hamba Allah yang meneguhkan kembali tauhid, ataukah ia adalah Tuhan yang berinkarnasi, Mesias yang bangkit, dan Hakim atas seluruh umat manusia? Dengan kata lain, kesamaan dalam pengharapan eskatologis tidak serta-merta menghapus perbedaan mendasar mengenai identitas, natur, dan otoritas Dia yang akan datang kembali. 
  8. Seorang anggota jemaat muda menghadapi rekan Muslim yang berargumen: ‘Yesus sendiri berdoa kepada Allah, maka ia tidak mungkin Allah itu sendiri.’ Bagaimana respons yang teologis akurat, biblically grounded, dan bisa dipahami oleh orang awam? Apa konsep Trinitarian yang perlu dipahami untuk merespons argumen ini dengan tepat?
  9. Kebijakan pastoral seperti apa yang perlu dibangun agar para petobat dari latar belakang Muslim tidak merasa berjalan sendirian? Bagaimana gereja dapat menyediakan pendampingan rohani, dukungan emosional, pembinaan teologis, persahabatan yang tulus, serta bantuan praktis ketika diperlukan? Apakah jemaat telah diperlengkapi untuk menerima mereka bukan sebagai “proyek misi”, melainkan sebagai saudara dan saudari seiman yang memiliki martabat, karunia, dan tempat yang setara dalam keluarga Allah? 
  10. Melampaui semua argumen dan strategi: apa yang menurut Anda menjadi ‘argumen’ paling kuat yang dimiliki gereja dalam bersaksi kepada dunia Islam, dan bagaimana gereja di Indonesia, dalam konteks sosial-politiknya yang unik, dipanggil untuk menghidupi argumen itu secara nyata dan konkret?

Veritas vos liberabit (Kebenaran akan memerdekakan kamu) (Yohanes 8:32)

Pdt. Em. Yohanes Bambang Mulyono