Ketika Bapa Agustinus dari Hippo membaca Roma 5:12, ia tidak melihatnya hanya sebagai kisah tentang kesalahan Adam di masa lampau. Bagi Agustinus, ayat ini adalah jendela untuk memahami kondisi terdalam manusia itu sendiri. Dosa, dalam pandangannya, bukan sekadar tindakan moral yang keliru, melainkan realitas yang telah menandai keberadaan manusia sejak awal. Karena itu, Roma 5:12 menjadi landasan bagi apa yang kemudian ia rumuskan sebagai peccatum originale (dosa asal/warisan).
Dalam De Peccatorum Meritis et Remissione, Agustinus menegaskan bahwa Adam tidak dapat dipahami hanya sebagai individu pertama yang jatuh ke dalam dosa. Adam adalah kepala organik umat manusia. Seluruh kemanusiaan hadir di dalam dirinya. Maka, ketika Adam jatuh, kejatuhan itu bukan peristiwa personal semata, melainkan kejatuhan kolektif, yaitu seluruh umat manusia ikut runtuh di dalam dirinya.
Solidaritas manusia dalam Adam, menurut Agustinus, bersifat nyata dan radikal. Ia bahkan berbicara dengan bahasa yang realistis, yaitu semua manusia “hadir” dalam Adam ketika ia berdosa. Artinya, dosa asal bukan sekadar teladan buruk yang kemudian ditiru oleh generasi berikutnya, dan bukan pula sekadar warisan kecenderungan moral yang lemah. Yang diwariskan adalah natur manusia itu sendiri, yaitu natur yang telah terluka dan rusak.
Dalam Contra Julianum, Agustinus merumuskannya secara tajam, “Di dalam Adam semua orang telah berdosa, bagaikan satu gumpalan yang utuh, karena semua adalah satu manusia itu sendiri melalui kuasa generatif yang di dalamnya seluruh umat manusia terkandung ketika natur manusia yang ia miliki jatuh ke dalam dosa.” Dengan kerangka ini, pernyataan rasul Paulus bahwa “maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” tidak dipahami Agustinus semata-mata sebagai akumulasi dosa-dosa pribadi. Ia memahaminya sebagai partisipasi ontologis manusia dalam dosa Adam, yaitu sebuah peristiwa asal yang merusak natur manusia dan menempatkan seluruh umat manusia di bawah kuasa maut.
Bagi Agustinus, realitas dosa asal tidak hanya disimpulkan dari satu ayat, melainkan diteguhkan oleh pengalaman universal akan kematian. Roma 5:14 menjadi teks kunci, yaitu “Namun demikian maut berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam.” Ayat ini, menurut Agustinus, sulit dijelaskan jika dosa dipahami semata-mata sebagai tindakan sadar dan personal. Mengapa maut tetap berkuasa atas mereka yang belum melakukan pelanggaran aktual termasuk bayi-bayi? Jawabannya, bagi Agustinus, adalah adanya dosa yang diwarisi, bukan hanya dosa yang dilakukan.
Karena itu, kematian bayi bukan sekadar tragedi biologis, melainkan indikator teologis. Dalam De Gratia Christi et de Peccato Originali, Agustinus menunjuk pada praktik pembaptisan bayi dalam Gereja perdana sebagai bukti konkret iman apostolik akan dosa asal. Gereja membaptis bayi bukan karena mereka telah melakukan dosa-dosa pribadi, melainkan karena mereka lahir dalam kondisi manusia yang telah tercemar dosa. Jika pembaptisan adalah “untuk pengampunan dosa” (Kis. 2:38), maka kebutuhan bayi akan baptisan hanya masuk akal jika ada dosa yang melekat sejak kelahiran, yaitu dosa yang diwariskan dari Adam.
Namun, teologi Agustinus tidak berhenti pada diagnosis yang muram ini. Justru di dalam Roma 5:15 ia menemukan pusat pengharapan Injil. Rasul Paulus menulis, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran itu… jauh lebih berlimpah-limpah kasih karunia Allah dan karunia-Nya… karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” Bagi Agustinus, frasa multo magis memiliki makna yang “jauh lebih berlimpah-limpah” sehingga bukan sekadar penghiburan retoris, melainkan prinsip teologis yang menentukan.
Dalam Enchiridion, Agustinus merumuskannya dengan kalimat yang terkenal, yaitu bahwa Allah “menganggap lebih baik untuk mengeluarkan kebaikan dari kejahatan daripada tidak mengizinkan kejahatan itu ada sama sekali.” Anugerah Kristus, karena itu, bukan sekadar obat yang menetralkan kerusakan akibat dosa Adam. Ia adalah kuasa yang melampaui kejatuhan. Dalam Kristus, manusia tidak hanya dipulihkan ke keadaan semula, tetapi diangkat ke martabat yang lebih tinggi daripada yang pernah dimiliki Adam sebelum jatuh. Di sinilah, bagi Agustinus, dosa asal justru menjadi latar belakang bagi kemuliaan kasih karunia yang jauh lebih besar.
Dalam teologi Agustinian, anugerah Allah bersifat mutlak dan prevenient. Arti prevenient adalah ia mendahului setiap gerak manusia dan justru memungkinkan manusia merespons Allah. Ketika rasul Paulus menulis dalam Roma 5:16 bahwa “karunia Allah tidaklah sama dengan akibat dosa satu orang itu… penghakiman atas satu pelanggaran mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan atas banyak pelanggaran mengakibatkan pembenaran,” Agustinus menangkap suatu asimetri yang menentukan. Dosa Adam membawa satu hukuman yang menjalar kepada semua, tetapi anugerah Kristus tidak berhenti pada satu pelanggaran itu. Ia menjangkau dan mengampuni akumulasi dosa-dosa manusia sepanjang sejarah.
Dalam De Spiritu et Littera, Agustinus menegaskan bahwa pembenaran ini sama sekali bukan hasil usaha manusia, apalagi buah ketaatan terhadap hukum. Hukum dapat menunjukkan dosa, tetapi tidak memiliki kuasa untuk menyembuhkan kehendak yang telah rusak. Pembenaran adalah pemberian cuma-cuma Allah, yang bekerja di kedalaman batin manusia melalui Roh Kudus. Karena itu Agustinus mengaitkan Roma 5 dengan janji profetik Yehezkiel 36:26–27, yaitu “Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru dan menaruh roh yang baru di dalam batinmu… Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut ketetapan-Ku.” Transformasi sejati, bagi Agustinus, bukan prestasi moral manusia, melainkan karya kreatif Allah di dalam diri manusia.
Penekanan ini tidak terlepas dari pergumulan Agustinus melawan Pelagianisme. Dalam ajaran Pelagianisme yang mengagungkan kemampuan kehendak bebas manusia untuk mencari Allah dan melakukan kebaikan tanpa anugerah khusus. Saat merenungkan Roma 5:17, “mereka yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran akan hidup dan berkuasa oleh satu orang itu, yaitu Yesus Kristus,” Agustinus memberi perhatian khusus pada kata “menerima” (accipiunt). Kata ini menegaskan bahwa keselamatan bukan hasil inisiatif manusia, melainkan sesuatu yang diterima sebagai karunia.
Dalam perdebatan dengan Pelagius, Agustinus melangkah lebih jauh: bahkan iman, sarana dengannya manusia menerima anugerah, adalah anugerah itu sendiri. Ia mengaitkannya dengan Efesus 2:8–9, bahwa keselamatan “bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Manusia yang kehendaknya telah dilumpuhkan oleh dosa tidak memiliki kemampuan untuk memulai langkah menuju Allah. Maka, keselamatan selalu dimulai dari Allah: Ia terlebih dahulu menggerakkan kehendak manusia melalui anugerah yang mendahului, agar manusia mampu percaya, taat, dan hidup dalam kebenaran.
Tema ketaatan dan ketidaktaatan yang dikontraskan dalam Roma 5:19 sangat sentral dalam refleksi Augustinus, yaitu “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.” Dalam “De Civitate Dei” (Kota Allah), Augustinus mengembangkan tema dua kota, yaitu Civitas Dei dan Civitas Terrena yang didirikan atas dua jenis cinta yang berlawanan. Maksudnya adalah cinta kepada Allah sampai mengabaikan diri, dan cinta kepada diri sampai mengabaikan Allah. Adam mewakili ketidaktaatan yang berakar dalam amor sui (cinta diri), sementara Kristus mewakili ketaatan sempurna yang berakar dalam amor Dei (cinta Allah). Kristus adalah Adam kedua yang membalikkan kutukan Adam pertama. Sebagaimana Adam tidak taat di taman yang penuh kelimpahan, Kristus taat di taman Getsemani ketika berkata, “Jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi” (Lukas 22:42). Sebagaimana Adam jatuh dari pohon pengetahuan, Kristus menang di pohon salib.
Namun Augustinus juga harus bergumul dengan pertanyaan tentang universalitas keselamatan yang tampaknya diimplikasikan oleh pernyataan rasul Paulus bahwa “semua orang menjadi orang benar.” Dalam “De Praedestinatione Sanctorum” (Tentang Predestinasi Orang-orang Kudus), ia menjelaskan bahwa “semua orang” dalam konteks pembenaran harus dipahami sebagai “semua jenis orang” atau “semua orang yang percaya,” bukan setiap individu tanpa kecuali. Anugerah tersedia secara universal dalam arti bahwa tidak ada batasan etnis, sosial, atau moral yang menghalangi siapa pun untuk datang kepada Kristus, namun secara faktual hanya mereka yang dipilih dan dipanggil secara efektif oleh Allah yang akan diselamatkan. Ia mengutip Yohanes 6:44, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku,” untuk menunjukkan bahwa bahkan gerakan iman memerlukan penarikan ilahi.
Peran hukum dalam Roma 5:20 menempati tempat yang krusial dalam teologi Agustinus, yaitu “Hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” Pernyataan ini, bagi Agustinus, bukanlah kritik terhadap hukum itu sendiri, melainkan penyingkapan fungsi sejatinya. Hukum memang kudus dan baik (Rm. 7:12), tetapi ia tidak pernah dimaksudkan sebagai sarana penyembuhan bagi natur manusia yang telah rusak oleh dosa.
Dalam De Spiritu et Littera, Agustinus membedakan dengan tegas antara “huruf yang mematikan” dan “Roh yang menghidupkan” (2Kor. 3:6). Hukum Taurat, ketika berdiri sendiri, hanya berbicara kepada kehendak yang telah lumpuh. Ia memerintahkan, tetapi tidak memberi kuasa untuk menaati. Justru di situlah paradoksnya, yaitu hukum menyingkapkan dosa dengan begitu terang sehingga pelanggaran menjadi semakin nyata. Perintah “jangan mengingini” (Kel. 20:17) berhadapan dengan natur yang jatuh, dan akibatnya bukan ketaatan, melainkan hasrat yang kian membara terhadap apa yang dilarang.
Karena itu Agustinus menyebut hukum sebagai pedagogus. Maksud hukum sebagai pedagogus adalah “guru yang menuntun kita kepada Kristus” (Gal. 3:24). Seperti seorang dokter yang mendiagnosis penyakit tanpa mampu menyembuhkannya, hukum memperlihatkan betapa dalam kerusakan manusia, tetapi tidak menyediakan obatnya. Obat itu hanya ditemukan dalam anugerah yang diberikan di dalam Kristus. Tanpa anugerah, hukum berubah dari penunjuk jalan menjadi saksi yang memberatkan manusia di hadapan Allah.
Namun justru di titik pengenalan akan dosa yang paling radikal inilah keagungan anugerah bersinar paling terang. Agustinus merumuskan pengalaman eksistensial ini dalam kalimat terkenalnya di Confessiones, “Engkau telah menciptakan kami bagi diri-Mu sendiri, dan hati kami gelisah sampai ia beristirahat di dalam Engkau.” Kegelisahan manusia bukan sekadar masalah psikologis, melainkan gejala teologis, yaitu keterpisahan dari Allah akibat dosa. Dan hanya anugerah yang sanggup memulihkan persekutuan yang telah terputus itu.
Karena itu, ketika rasul Paulus menutup perikop ini dengan Roma 5:21 bahwa sebagaimana dosa pernah berkuasa dalam maut, demikian pula kasih karunia kini berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal dalam Yesus Kristus. Bagi Agustinus, ia lihat sebagai janji tentang peralihan kuasa anugerah Roh. Bukan lagi dosa yang memerintah, melainkan anugerah. Bukan lagi maut yang berdaulat, melainkan hidup. Dalam Kristus, manusia dipindahkan dari tirani hukum dan dosa kepada pemerintahan kasih karunia yang menghidupkan dan memulihkan seluruh keberadaannya.
Dalam De Gratia et Libero Arbitrio, Agustinus menegaskan sebuah paradoks yang kerap disalahpahami bahwa anugerah tidak memusnahkan kehendak bebas, tetapi justru membebaskannya. Kehendak manusia yang telah diperbudak oleh dosa memang masih memiliki libertas, yaitu kebebasan dari paksaan eksternal namun kehilangan libertas maior, yaitu kebebasan sejati untuk mengingini dan memilih kebaikan. Manusia dapat memilih, tetapi tidak dapat memilih yang benar. Di sinilah anugerah Kristus bekerja, bukan hanya dengan menghapus kesalahan masa lalu, melainkan dengan memperbarui natur manusia dari dalam.
Makna anugerah Allah, bagi Agustinus, bersifat transformatif. Ia tidak sekadar mengampuni dosa, tetapi membentuk ulang arah cinta manusia. Melalui karya Roh Kudus yang “mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita” (Rm. 5:5) manusia mulai mencintai apa yang layak dicintai dan membenci apa yang seharusnya dibenci. Ketaatan pun tidak lagi dialami sebagai paksaan atau beban moral, melainkan sebagai sukacita yang mengalir dari hati yang telah diperbarui. Inilah kebebasan sejati menurut Agustinus, yaitu bukan kebebasan untuk berbuat apa saja, tetapi kebebasan untuk hidup selaras dengan kehendak Allah.
Agustinus juga membaca Roma 5:21 dalam horizon eskatologis yang luas. Hidup kekal bukan sekadar perpanjangan eksistensi tanpa akhir, melainkan kualitas hidup baru yang dimulai sekarang dan mencapai kepenuhannya kelak. Dalam De Trinitate, ia menegaskan bahwa hidup kekal adalah “mengenal Allah yang benar dan Yesus Kristus yang diutus-Nya” (Yoh. 17:3). Pengenalan ini bukan sekadar pengetahuan intelektual, melainkan relasi yang mengubah. Ia membentuk manusia secara progresif agar semakin serupa dengan Kristus (Rm. 8:29).
Dalam kerangka ini, pemulihan oleh anugerah dapat dipahami sebagai proses theosis, yaitu partisipasi manusia dalam kehidupan ilahi. Manusia tidak melebur menjadi Allah, tetapi diangkat untuk mengambil bagian dalam hidup-Nya, tetap sebagai makhluk yang sepenuhnya bergantung pada Sang Pencipta. Anugerah Allah tidak menghapus perbedaan antara Allah dan manusia, melainkan memungkinkan persekutuan yang sejati di dalam Kristus.
Yang membuat teologi Agustinus begitu kuat adalah keterikatannya dengan pengalaman hidup nyata. Dalam Confessiones, ia tidak berbicara sebagai spekulator abstrak, melainkan sebagai manusia yang terluka oleh dosa dan frustrasi oleh ketidakmampuannya sendiri. Ia mengisahkan bagaimana ia mengetahui yang baik, menginginkannya, tetapi tidak mampu melakukannya. Seruannya dalam Roma 7:24–25 yang menyatakan, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Pernyataan ini bukan sekadar analisis teologis, melainkan jeritan eksistensial. Jawabannya pun bukan sebuah teknik moral, melainkan pribadi, “Syukur kepada Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Bagi Agustinus, di sinilah Injil berdiri, yaitu anugerah Allah yang turun tangan, menjembatani jurang antara kehendak yang rusak dan hidup yang dipulihkan.
Warisan teologi Agustinus tentang dosa dan anugerah meninggalkan jejak yang sangat dalam dalam sejarah pemikiran Kristen. Reformator seperti Martin Luther dan Yohanes Calvin secara sadar berdiri dalam garis ini, terutama dalam penekanan pada “kedaulatan anugerah dan ketidakberdayaan manusia yang telah jatuh.” Dalam De Servo Arbitrio, Luther menggemakan kembali dengan jelas suara Agustinus ketika ia menegaskan bahwa kehendak manusia, sebelum diperbarui oleh anugerah, tidak sungguh-sungguh bebas dalam perkara-perkara rohani, melainkan terikat pada dosa. Namun baik bagi Luther maupun Agustinus, penegasan ini bukanlah kabar putus asa, melainkan latar belakang bagi Injil. Sebab justru “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.”
Di titik inilah teologi Agustinian mencapai nada pengharapannya yang paling kuat. Tidak ada jurang kejatuhan yang terlalu dalam untuk dijangkau oleh anugerah, tidak ada tumpukan pelanggaran yang terlalu besar untuk diampuni, dan tidak ada kegelapan yang terlalu pekat bagi terang Kristus untuk menembusnya. Anugerah Allah tidak bereaksi secara defensif terhadap dosa, melainkan melampauinya dengan kelimpahan yang mengejutkan.
Dalam keseluruhan pembacaan Agustinus atas Roma 5:12–19, tampak sebuah dialektika yang khas dan kuat, yaitu realisme yang tanpa ilusi tentang kondisi manusia, berdampingan dengan optimisme yang bersukacita tentang kuasa anugerah Allah. Agustinus tidak pernah meremehkan kejatuhan manusia; justru ia adalah salah satu teolog yang paling jujur dan tajam dalam mengartikulasikan kehancuran total yang dibawa oleh dosa. Tetapi karena ia memahami kedalaman luka itu, ia juga mampu merayakan kebesaran penyembuhannya.
Kristus, dalam kerangka ini, bukan sekadar guru etika atau teladan moral yang menginspirasi. Ia adalah Sang Penyelamat yang mutlak diperlukan. Kristus adalah satu-satunya harapan bagi kemanusiaan yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Lalu anugerah yang Ia bawa bukan tambahan kecil bagi usaha manusia, melainkan kuasa penciptaan ulang, yaitu kuasa yang melahirkan yang baru dari yang lama, membangkitkan kehidupan dari kematian, dan “membenarkan orang fasik” (Rm. 4:5).
Inilah Injil yang Agustinus wartakan, Injil yang ia temukan dalam kata-kata rasul Paulus, dan Injil yang terus berbicara melampaui zamannya. Bapa Agustinus berbicara kepada setiap generasi tentang dua kenyataan yang tak terpisahkan, yaitu kedalaman dosa manusia dan kebesaran anugerah Allah yang tak terukur di dalam Yesus Kristus, Tuhan kita.
Pdt. Em. Yohanes Bambang Mulyono
Yohanes BM Berteologi Yohanes BM Berteologi