Merenungkan tentang Maria dari Nazaret berarti memasuki ruang yang menawan, sekaligus teologis dan spiritual, di mana sejarah keselamatan Allah bersentuhan dengan respons iman manusia. Namun percakapan mengenai Maria harus ditangani dengan kejernihan doktrinal dan kesetiaan penuh kepada Alkitab. Dua ekstrem harus dihindari, yaitu pertama, meminimalkan Maria seolah-olah ia sekadar perempuan biasa yang kebetulan dipilih; kedua, meninggikannya sampai hampir mengaburkan kemuliaan Kristus, satu-satunya Pengantara dan Juruselamat. Di titik inilah Alkitab harus menjadi kompas kita, sebab firman Tuhanlah yang menuntun kita agar tetap Kristosentris-Trinitaris, tidak terjebak dalam spekulasi, dan setia kepada inti Injil.
Rasul Paulus menegaskan dengan tegas, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia” (1 Timotius 2:5–6). Inilah pondasi tak tergoyahkan sebab hanya Kristus yang menebus. Kristus yang menyelamatkan, dan yang berdiri sebagai Pengantara tunggal. Ketika Yesus berseru, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30), karya penebusan mencapai finalitasnya, artinya tanpa kekurangan, tanpa persyaratan tambahan, dan tanpa perlu dilengkapi oleh siapapun.
Namun karya keselamatan Allah yang bersifat absolut dan ilahi itu tidak pernah meniadakan peran manusia. Justru dalam hikmat dan kerendahan hati-Nya, Allah memilih bekerja melalui manusia, bukan karena manusia memiliki kuasa, melainkan untuk menyingkapkan bahwa kuasa-Nya dapat bekerja melalui bejana yang rapuh. Misalnya Musa dipakai untuk membebaskan Israel, tetapi kemenangan itu tetap pekerjaan Tuhan (Keluaran 14:13–14). Daud melawan Goliat dengan ketapelnya, tetapi ia sendiri berkata, “TUHAN yang melepaskan aku…” (1 Samuel 17:37). Para rasul menabur dan menyiram, tetapi mereka menyatakan “Allah yang memberi pertumbuhan” (1 Korintus 3:6). Pola ini konsisten sepanjang sejarah keselamatan. Allah memakai manusia, tetapi Allah tidak pernah berbagi kemuliaan-Nya. Manusia berpartisipasi, tetapi Allah tetap sumber segala karya keselamatan.
Dalam pola karya Allah itulah Maria menempati tempat yang unik. Keunikannya bukan karena ia memiliki kuasa ilahi, dan bukan karena ia sejajar dengan Kristus, tetapi karena ia dipanggil untuk mengambil bagian dalam misteri terbesar sepanjang masa, yaitu inkarnasi Sang Firman. Ketika malaikat Gabriel datang membawa kabar bahwa Roh Kudus akan menaunginya dan ia akan mengandung Anak Allah Yang Mahatinggi (Lukas 1:35), Maria tidak diminta memahami misterinya sepenuhnya. Ia hanya diminta percaya. Lalu Maria menjawab dengan kata-kata yang mengubah sejarah kemanusiaa, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38). Di titik inilah keindahan imannya terpancar dengan terang yang menyilaukan. Maria mengucapkan “ya” yang membuka pintu bagi Sabda kekal memasuki sejarah manusia. Respons iman itu bukan hasil kekuatan dirinya, tetapi karya anugerah, yaitu sikap iman yang berserah, percaya, dan taat dalam ketegangan antara misteri yang tak terpahami dan kepercayaan yang menyeluruh.
Janji yang telah dinubuatkan dari Kejadian 3:15 bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular akhirnya mencapai penggenapannya melalui tubuh Maria. Nab Yesaya telah bernubuat berabad-abad sebelumnya, “Seorang perempuan muda mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki” (Yesaya 7:14). Nabi Mikha menunjuk Betlehem sebagai tempat kelahiran Sang Raja (Mikha 5:2). Seluruh narasi nubuat Israel, dengan segala liku-liku kesetiaan dan pemberontakannya, diarahkan menuju satu titik konvergensi, yaitu Allah menjadi manusia melalui seorang perawan dari Nazaret. Allah memilih yang kecil, yang lemah, yang tidak diperhitungkan (1 Korintus 1:27–29), supaya kemuliaan-Nya semakin nyata dan tidak dapat diklaim oleh manusia.
Maka peran Maria bukan hanya biologis, bukan sekadar menyediakan rahim sebagai wadah netral. Ia memberikan ketaatan yang aktif, iman yang hidup, dan tubuhnya sendiri sebagai ruang di mana Firman menjadi daging (Yohanes 1:14). Firman yang “pada mulanya… adalah Allah” (Yohanes 1:1), yang melalui-Nya segala sesuatu dijadikan dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi, kini mengambil natur manusia melalui Maria. Inilah misteri ilahi, yaitu “Yang Tak Terbatas memasuki keterbatasan, Yang Kekal memasuki waktu.” Yang Maha Kuasa menjadi bayi yang bergantung pada ASI ibunya. Inilah yang disahkan Konsili Efesus tahun 431 dengan gelar “Theotokos” (Bunda Allah). Gelar itu tidak pernah dimaksudkan meninggikan Maria melampaui proporsinya sebagai makhluk. Gelar itu adalah pernyataan Kristologis, bukan mariologis.
Gereja tidak sedang berbicara tentang siapa Maria, melainkan tentang siapa Kristus. Jika Maria melahirkan Yesus, dan Yesus adalah Pribadi kedua dari Trinitas yang menjadi manusia, maka Maria melahirkan bukan sekadar manusia biasa, tetapi Allah yang berinkarnasi. Theotokos menegaskan misteri yang telah diajarkan para rasul, yaitu Kristus adalah satu Pribadi dengan dua natur, ilahi dan manusiawi, bersatu secara hipostatik tanpa tercampur, tanpa terpisah, tanpa berubah, tanpa terbagi. “Ia yang walaupun dalam rupa Allah… mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:6–7). Satu Pribadi, dua natur. Bukan dua pribadi yang disatukan secara artifisial, bukan pula dua identitas yang berdampingan dalam koalisi sementara.
Karena itu ajaran Nestorius yang memisahkan Kristus menjadi dua pribadi sehingga Maria hanya menjadi ibu bagi manusia Yesus telah ditolak oleh gereja universal. Jika Kristus dipisahkan menjadi dua pribadi, maka inkarnasi runtuh dan penebusan kehilangan pondasinya. Siapa yang mati di kayu salib? Jika yang mati hanya manusia Yesus sementara Allah-Logos tetap terpisah, maka tidak ada penebusan sejati. Namun Alkitab mengajarkan bahwa Maria mengandung dan melahirkan Pribadi Logos yang kekal, yang kini memiliki natur manusia secara penuh dan permanen. Ketika Maria menggendong Bayi di palungan, ia tidak menggendong bagian manusiawi Kristus yang terpisah dari keilahian-Nya. Ia menggendong satu Pribadi ilahi-manusia yang utuh, yang kelak berjalan di atas air Galilea, menyentuh orang kusta dengan tangan yang kudus, berseru “Tetelestai” (sudah selesai) di atas kayu salib, dan bangkit dalam kemuliaan yang tidak terkalahkan.
Inilah sebabnya gelar Theotokos bukan hanya layak tetapi perlu, yaitu supaya gereja tidak keliru memahami siapa Yesus. Gelar itu menjaga gereja agar tetap teguh pada Kristologi alkitabiah, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati dan manusia sejati dalam satu Pribadi yang tidak terpisahkan, Sang Juruselamat yang satu-satunya, yang melalui-Nya keselamatan dianugerahkan kepada dunia. Setiap kali gereja mengakui Maria sebagai Theotokos, gereja sesungguhnya sedang mengakui keilahian Kristus dan realitas inkarnasi-Nya yang penuh.
Berbicara tentang gelar aeiparthenos, yang artinya Maria sebagai “selalu perawan” kita perlu memasuki ruang teologi yang dalam, jernih, dan penuh hormat, sebab medan ini bukan soal biologi semata, melainkan tentang misteri karya Allah dalam sejarah keselamatan. Konsili Konstantinopel Kedua tahun 553 tidak sedang mengagungkan Maria secara berlebihan atau menciptakan mitologi baru, tetapi menjaga konsistensi Kristologi alkitabiah, yaitu bahwa Kristus, Sang Firman, sungguh-sungguh hadir melalui tindakan ilahi yang melampaui mekanisme manusiawi biasa. Maka keperawanan Maria adalah tanda teologis, bukan mitos romantis atau doktrin yang diciptakan untuk menghinakan seksualitas. Makna ungkapan itu adalah saksi profetis mengenai tindakan Allah yang mencipta sesuatu yang baru (creatio nova) melalui Roh Kudus.
Pertama, keperawanan Maria menegaskan bahwa kelahiran Kristus adalah karya Allah yang unik, yang tidak dapat direproduksi atau dijelaskan melalui hukum alam. Ketika malaikat Gabriel berkata, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Lukas 1:35), peristiwa itu menyingkapkan bahwa asal-usul Yesus bukan dari kehendak manusia, tetapi dari tindakan kreatif Allah sendiri. Kristus disebut Adam yang baru (1 Korintus 15:45), bukan karena Ia sekadar memulai moralitas baru atau sistem etika yang lebih baik, tetapi karena melalui-Nya Allah memulai kemanusiaan yang diperbarui. Dari rahim Maria, Roh Kudus menenun kemanusiaan Kristus, bukan sebagai reproduksi natural yang mengikuti hukum genetika, melainkan sebagai tindakan penciptaan yang mengarahkan dunia kepada masa depannya yang eskatologis.
Kedua, keperawanan Maria menggenapi nubuat Yesaya yang telah berdiri berabad-abad sebagai tanda ilahi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” (Matius 1:23). Kelahiran dari seorang perawan adalah penanda bahwa inisiatif itu datang dari Allah, bukan hasil upaya manusia atau kehendak biologis. Di sinilah kita melihat pola khas karya keselamatan yang berulang dalam seluruh Alkitab, yaitu Allah bekerja dari dimensi yang tidak dapat dikendalikan manusia, agar keselamatan itu tetap menjadi anugerah murni, bukan prestasi atau pencapaian manusia.
Ketiga, keperawanan Maria memperlihatkan bahwa keselamatan tidak pernah muncul dari kekuatan manusia atau dari kemampuan moral kita. Yesus berkata kepada Nikodemus dengan tegas, “Yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Yohanes 3:6). Dengan kata lain, lahirnya Sang Penebus melalui kuasa Roh Kudus menegaskan bahwa keselamatan tidak dapat “diproduksi” oleh manusia melalui usaha religius, ritual keagamaan, atau reformasi moral. Kita tidak menciptakan jalan menuju Allah. Sebaliknya Allah yang menciptakan jalan menuju kita. Inisiatif-Nya unilateral, mutlak, dan berdaulat namun tidak meniadakan partisipasi manusia. Maria menjadi saksi bahwa kesediaan manusia (“jadilah padaku menurut perkataan-Mu,” Lukas 1:38) tidak pernah menjadi sumber keselamatan, tetapi pintu tempat anugerah Allah masuk ke dalam sejarah dengan cara yang penuh hormat terhadap kebebasan manusia.
Namun pengakuan gereja mengenai aeiparthenos tidak menempatkan pernikahan atau relasi seksual sebagai sesuatu yang najis, kotor, atau kurang kudus. Alkitab memuliakan pernikahan dari Kejadian hingga Wahyu, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap pernikahan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur” (Ibrani 13:4). Rasul Paulus bahkan menghubungkan pernikahan dengan misteri Kristus dan gereja dalam surat Efesus, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Efesus 5:32). Keperawanan Maria bukan standar moral universal yang harus ditiru semua orang, tetapi panggilan unik dalam rencana keselamatan yang spesifik. Allah memanggil sebagian orang kepada pernikahan, sebagian kepada selibat. Keduanya kudus bila dijalani dalam ketaatan kepada panggilan-Nya. Keperawanan Maria merupakan tanda teologis yang menunjuk kepada karya Allah yang melampaui keteraturan alam, bukan norma etis untuk semua umat beriman di sepanjang zaman.
Ketika kita mengikuti perjalanan Maria sampai ke kaki salib, Injil Yohanes memperlihatkan kepada kita wajah Maria dalam fidelitas (sikap iman) yang tidak tergoncangkan. Saat Kristus menanggung dosa dunia dan merasakan murka Allah yang seharusnya kita tanggung, Maria berdiri di samping Yesus. Kebanyakan murid melarikan diri. Petrus telah menyangkal. Tetapi Maria tetap berdiri, bersama dengan Yohanes dan beberapa perempuan lain yang setia. Di tengah penderitaan yang tak terbayangkan itu, Yesus berkata, “Ibu, inilah anakmu!” dan kepada murid yang dikasihi-Nya, “Inilah ibumu!” (Yohanes 19:26-27).
Dua kalimat pendek, namun sarat misteri dan makna teologis. Para Bapa Gereja memaknai adegan ini sebagai tanda eklesiologis, yaitu Kristus, dalam tindakan terakhir sebelum Ia menyerahkan nyawa-Nya, mempercayakan komunitas iman kepada Maria, dan mempercayakan Maria kepada komunitas iman (gereja). Murid yang dikasihi menjadi figur representatif semua murid, jadi bukan hanya sebagai individu Yohanes bin Zebedeus, tetapi sebagai prototipe setiap orang yang percaya kepada Kristus.
Dalam konteks ini Maria dipahami sebagai ibu rohani dalam komunitas yang lahir dari luka Kristus, yaitu makna gereja yang tercipta dari sisi yang tertikam, seperti Hawa yang diambil dari sisi Adam dalam narasi penciptaan. Tetapi kita tetap harus menjaga keseimbangan teologis yang ketat di sini. Maria adalah ibu rohani bukan karena ia menambahkan sesuatu pada karya penebusan Kristus, bukan karena ia ikut membayar harga dosa, bukan pula karena ia berkontribusi pada nilai tebusan. Ia adalah ibu rohani karena ia hadir dalam pusat karya penebusan itu sebagai sosok yang percaya dengan iman yang tidak bergeser, setia dengan ketaatan yang tidak bersyarat, dan menyerah penuh kepada Allah dengan kerendahan hati yang tidak berpura-pura. Maria bukan sumber keselamatan, tetapi saksi keselamatan yang paling intim. Ia bukan pengantara antara Allah dan manusia dalam pengertian soteriologis, sebab “pengantara itu esa… Kristus Yesus” (1 Timotius 2:5).
Kehadirannya di dalam gereja adalah kehadiran seorang ibu dalam iman, bukan “dewi dalam sistem ilahi atau sosok semi-ilahi” yang berdiri di antara Allah dan manusia. Gereja menghormati Maria sebagai “yang dikaruniai,” bukan “yang mengaruniakan”; sebagai “hamba Tuhan,” bukan “pengganti Kristus”; sebagai contoh ketaatan (paradigma discipuli), bukan sebagai objek penyembahan (obiectum adorationis). Dia berdiri bersama kita sebagai sesama yang ditebus, meskipun ia memiliki kekhususan peran yang tidak dapat diduplikasi dalam ekonomi keselamatan. Dengan demikian, memuliakan Maria tidak bertentangan dengan mengagungkan Kristus apabila dilakukan dalam kerangka Kristosentris-Trinitaris yang alkitabiah dan dengan proporsi yang tepat. Justru dengan mengakui perannya secara jernih dan jujur, kita semakin melihat keagungan karya Allah, yaitu bagaimana Sang Firman masuk ke dunia melalui kerendahan seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa. Juga bagaimana keselamatan mengalir ke seluruh bumi melalui kepatuhan seorang perempuan muda dari desa terpencil, Bagaimana Kristus menjadi manusia tanpa meninggalkan keilahian-Nya, dan bagaimana Maria menempati tempat yang tidak dapat diduplikasi dalam alur keselamatan yang telah dirancang Allah sejak kekekalan.
Maria adalah seorang hamba Tuhan, ibu Yesus, Theotokos, dan “aeiparthenos” berdiri bukan sebagai pusat keselamatan, melainkan sebagai tanda abadi bahwa keselamatan adalah karya Allah yang memasuki sejarah melalui rahmat yang tidak dapat diraih, iman yang dianugerahkan, dan ketaatan yang dimungkinkan oleh Roh Kudus. Dengan melihat Maria dalam terang Kristus, kita tidak kehilangan Kristus atau mengkaburkan kemuliaan-Nya. Sebaliknya kita semakin menyadari betapa mulianya Sang Juruselamat yang memilih jalan kerendahan, pengosongan diri (kenosis), dan kehinaan untuk menebus dunia yang telah jatuh dalam dosa dan pemberontakan.
Berjalan dalam pemahaman yang alkitabiah, kita memasuki wilayah devosi dan penghormatan kepada Maria dengan sikap yang jernih. Di sinilah Gereja perlu menjaga keseimbangan yang sulit antara kekayaan tradisi yang telah berkembang selama dua ribu tahun dan ketegasan Kristosentris yang non-negotiable. Kita harus menghindari dua jurang yang sama-sama berbahaya, yaitu meremehkan Maria hingga kehilangan kedalaman kesaksiannya dan mengabaikan perannya dalam sejarah keselamatan, atau sebaliknya kita meninggikannya hingga mengaburkan pusat keselamatan, yaitu Kristus sendiri.
Di satu sisi, kita tidak boleh menyingkirkan Maria seolah-olah ia hanya figur sampingan atau karakter minor dalam drama keselamatan. Alkitab sendiri menghadirkan Maria dengan kehormatan yang istimewa dan penuh makna. Elisabet, dipenuhi oleh Roh Kudus, berkata dengan suara nyaring, “Terpujilah engkau di antara semua perempuan dan terpujilah buah rahimmu… Berbahagialah dia yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan Tuhan kepadanya akan terlaksana” (Lukas 1:42, 45). Perhatikan dengan seksama bahwa pujian itu bukan karena keistimewaan ontologis yang melekat pada diri Maria sejak lahir, tetapi karena iman—”dia yang telah percaya.” Maria menjadi berbahagia bukan karena status metafisik tertentu yang membuatnya berbeda secara substansial dari manusia lain, melainkan karena respons imannya yang radikal, total, dan tanpa reserve terhadap firman Allah yang datang kepadanya.
Magnificat memperlihatkan dengan kejernihan kristal siapa sebenarnya Maria dalam kesadarannya sendiri sebagai seorang perempuan yang jiwanya memuliakan Tuhan, bukan dirinya sendiri. “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Lukas 1:46-47). Ia mengakui Allah sebagai “Juruselamatku,” menegaskan dengan cara yang paling eksplisit bahwa ia pun membutuhkan penebusan seperti semua keturunan Adam yang jatuh. Kekhasannya adalah Maria menjadi teladan iman bukan karena ia tanpa kebutuhan anugerah atau karena ia sempurna dalam dirinya sendiri, melainkan karena ia dipenuhi oleh anugerah itu dan meresponsnya dengan kerendahan hati yang murni.
Injil Lukas menggambarkan Maria sebagai sosok yang kontemplatif, yang “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Lukas 2:19, 51), yaitu sebuah gambaran kehidupan batin yang dalam, yang mengolah karya Allah dalam keheningan, ketaatan, dan refleksi yang tidak tergesa-gesa. Di sini kita melihat Maria bukan sebagai aktivis yang sibuk atau figur publik yang mencari perhatian, tetapi sebagai hamba yang diam, yang membiarkan firman Allah meresap ke dalam relung-relung terdalam eksistensinya.
Di Kisah Para Rasul 1:14, Maria hadir dalam komunitas doa gereja awal, menantikan pencurahan Roh Kudus bersama para rasul dan murid-murid lain. Ia bukan mendominasi atau menggantikan para rasul, tidak mengklaim otoritas khusus atau posisi kepemimpinan, tetapi hadir sebagai bagian dari tubuh Kristus yang sedang menantikan penggenapan janji Kristus. Maria adalah teladan iman yang setara dengan yang lain, bukan sumber iman; inspirasi ketaatan, bukan objek penyembahan; anggota komunitas yang setia, bukan kepala gereja yang tersembunyi.
Namun di sisi lain, Gereja juga harus menolak dengan tegas setiap bentuk pengajaran atau devosi yang meninggikan Maria ke tingkat keilahian atau ke level “pengantara kedua” di samping Kristus, seolah-olah Kristus perlu “bantuan” atau “dukungan” dari Maria untuk menyelesaikan karya penebusan. Injil dan surat-surat para rasul tidak memberikan ruang sedikit pun bagi “dua penebus atau dua pengantara.” Kristus sendiri menegaskan dengan otoritas mutlak, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Rasul Petrus menyatakan dengan sangat jelas dan tanpa ambiguitas, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12). Rasul Paulus menulis dengan ketegasan yang sama, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Timotius 2:5).
Karena itu Gereja harus tegas menolak bahasa atau praktik yang seolah-olah menempatkan Maria sebagai “penebus bersama” (co-redemptrix) atau “pengantara kedua” (co-mediatrix) yang berdiri di antara Kristus dan umat-Nya. Segala devosi yang membuat Kristus kabur, yang mengalihkan perhatian dari Kristus kepada Maria, yang menciptakan ketergantungan kepada Maria alih-alih kepada Kristus, harus direformasi dengan kasih tetapi juga dengan ketegasan agar terang Injil tetap bersinar dengan jernih.
Maria tidak menambah apa pun pada nilai penebusan Kristus. Ia menerima penebusan, bukan menghasilkan penebusan. Bahkan jika seseorang meyakini bahwa Maria dikuduskan secara istimewa sejak awal hidupnya (doktrin Immaculate Conception), pengudusan itu tetap bersumber dari Kristus, yaitu dari karya penebusan Kristus yang bersifat antisipatif. Maria adalah ciptaan yang ditebus, bukan penebus. Ia adalah saksi anugerah yang paling indah, bukan sumber anugerah.
Lalu bagaimana Gereja mempraktikkan devosi kepada Maria secara tepat, alkitabiah, dan Kristosentris? Di sini tradisi Gereja telah mengembangkan kategori yang sangat bermanfaat dan membantu kita menjaga proporsi yang benar.
Pertama, latria, yaitu penyembahan penuh yang hanya dan hanya diberikan kepada Allah Trinitas. Tidak ada makhluk, tidak peduli seberapa kudus, seberapa dikaruniai rahmat, termasuk Maria, para rasul, para nabi, atau malaikat, yang boleh menerima latria. Penyembahan adalah hak eksklusif Allah.
Kedua, dulia, yaitu penghormatan yang wajar kepada orang-orang kudus yang telah mendahului kita dalam iman. Alkitab sendiri memerintahkan kita menghormati para pemimpin rohani, para saksi iman, dan meneladani mereka (Ibrani 13:7; 1 Tesalonika 5:13).
Ketiga, hyperdulia, yaitu penghormatan istimewa kepada Maria. Karena perannya yang unik dan tidak dapat diulang sebagai Theotokos dan karena teladannya dalam ketaatan yang sempurna, Gereja memberi Maria penghormatan tertinggi di antara seluruh para kudus. Tetapi hyperdulia tidak pernah dan tidak boleh berubah menjadi latria. Maria dihormati, bukan disembah; dirayakan, bukan dipertuhankan; diteladani, bukan diagungkan melampaui proporsi kemanusiaannya.
Pembeda ini sangat penting dan harus dijaga dengan ketat, karena akan menjaga Gereja dari dua ekstrem yang sama-sama merusak, yaitu kehampaan Mariologis di satu sisi yang mengabaikan kesaksian Alkitab tentang Maria, dan pengaburan Kristologi di sisi lain yang membuat Maria bersaing dengan Kristus dalam hati umat beriman. Gereja menghormati Maria dalam Kristus, bukan di luar Kristus atau terlepas dari Kristus; menghormatinya sebagai hamba Allah yang unik dalam sejarah keselamatan, bukan sebagai sumber keselamatan atau co-redemptrix yang berdiri sejajar dengan Kristus.
Menghormati Maria secara alkitabiah berarti pertama-tama meneladani imannya yang radikal, ketaatannya yang tidak bersyarat, dan kerendahannya yang tidak berpura-pura. Itu berarti mengakui perannya yang unik dan tidak dapat diduplikasi dalam sejarah keselamatan tanpa meninggikan dia ke posisi yang tidak alkitabiah. Itu berarti bersyukur atas kesaksiannya yang kaya dan mendidik rohani kita tentang bagaimana merespons firman Allah dengan iman yang hidup. Kita harus menghindari dengan tegas segala bentuk devosi yang mencampuradukkan penghormatan dengan penyembahan atau yang menciptakan ketergantungan religius kepada Maria. Ini berarti gereja menjaga agar Kristus tetap pusat mutlak dari segala ibadah, doa, dan harapan kita, sehingga tidak ada yang mengalihkan kemuliaan yang seharusnya hanya bagi Dia.
Dengan demikian gereja dapat berjalan dalam garis keseimbangan Injil yang sulit tetapi perlu, yaitu menghormati Maria setinggi yang Alkitab ajarkan, dan tidak lebih dari itu. Sebab di akhir segala misteri keselamatan, Maria berdiri bersama kita sebagai hamba Tuhan yang berbahagia karena anugerah-Nya, bukan karena jasa-jasanya. Kristus, dan hanya Dia yang adalah Tuhan dan Juruselamat dunia, satu-satunya Pengantara, satu-satunya yang layak disembah.
Seluruh devosi yang sehat kepada Maria harus bermuara kepada kemuliaan Allah Trinitas. Di sinilah kita melihat bahwa penghormatan kepada Maria yang sejati bukanlah tradisi opsional, melainkan bagian dari struktur iman Kristen yang tertata baik, yaitu sebagai suatu struktur yang menempatkan Allah sebagai pusat ibadah dan Maria sebagai saksi yang menunjuk kembali kepada Allah dengan konsistensi yang tidak pernah goyah. Seperti Elisabet yang dipenuhi Roh Kudus menghormati Maria (Lukas 1:41–45), demikian pula gereja menghormatinya bukan sebagai objek penyembahan independen, tetapi sebagai teladan iman yang digerakkan oleh Roh Kudus sendiri. Elisabet tidak menghormati Maria atas inisiatif manusiawi atau karena kecenderungan alamiah, tetapi karena Roh Kudus memenuhinya dan membimbing pengakuannya. Ini menunjukkan bahwa penghormatan yang benar kepada Maria adalah penghormatan yang dipimpin oleh Roh, bukan yang diciptakan oleh sentimen manusiawi atau tradisi yang terlepas dari firman.
Makna penghormatan gereja kepada Maria adalah penghormatan yang bersumber dari karya Roh Kudus, bernuansa biblis dalam setiap aspeknya, dan terarah sepenuhnya kepada Kristus sebagai telos (tujuan) finalnya. Maria sendiri berkata dalam Magnificat, “Segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Lukas 1:48). Gereja menyebutnya berbahagia bukan karena dirinya menjadi pusat keselamatan atau karena ia memiliki kekuatan soteriologis, tetapi karena Allah telah melakukan perbuatan besar melalui dirinya karena “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (Lukas 1:49). Dengan demikian, devosi yang benar kepada Maria adalah devosi yang menghormati karya Allah dalam diri Maria, bukan Maria terlepas dari karya Allah.
Karena seluruh ibadah adalah milik Allah saja (soli Deo gloria), garis pembeda antara penghormatan (hyperdulia) dan penyembahan (latria) harus dijaga dengan ketat, tanpa kompromi. Ketika rasul Petrus menolak sujud Cornelius di Kaisarea, ia menegaskan dengan tegas, “Bangunlah, aku pun hanya manusia!” (Kisah Para Rasul 10:26). Rasul Paulus dan Barnabas di Listra, ketika orang-orang hendak mempersembahkan korban kepada mereka, mengoyakkan pakaian mereka sebagai tanda kesedihan dan berteriak, “Hai orang-orang, mengapa kamu berbuat demikian? Kami pun manusia biasa sama seperti kamu” (Kisah Para Rasul 14:15). Prinsipnya jelas dan tidak dapat ditawar-tawar: manusia, betapa pun dipenuhi rahmat, betapa pun dipakai Allah secara luar biasa, mereka tetaplah ciptaan. Allah saja yang layak disembah. Allah saja yang berhak menerima latria.
Maria sendiri, dalam Magnificat, tidak menempatkan dirinya sebagai sumber rahmat atau objek devosi. Ia menyebut Allah sebagai “Juruselamatku” (Lukas 1:47), mengakui dengan jujur bahwa ia membutuhkan keselamatan. Dengan demikian, ia berdiri bersama kita sebagai sesama umat yang diselamatkan, bukan sebagai penyelamat. Devosi kepada Maria tidak boleh menjadi penyembahan. Devosi itu haruslah menghormati karyanya sebagai hamba Allah, bukan menggantikan posisi Allah atau menciptakan sistem devosional paralel yang bersaing dengan penyembahan kepada Kristus.
Salah satu teks paling penting untuk memahami devosi yang sehat kepada Maria adalah perkataannya di Kana dalam Injil Yohanes: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5). Inilah teologi Mariologi yang paling murni, paling alkitabiah, paling Kristosentris, yaitu Maria tidak memusatkan perhatian pada dirinya sendiri, tidak menarik perhatian kepada dirinya, tidak membangun kerajaan devosional di sekitar dirinya, melainkan mengarahkan seluruh perhatian kepada Kristus dengan gerakan yang sederhana tetapi mendalam. Ini adalah “fungsi rohani” Maria dalam narasi Injil. Maria bukan sebagai pusat anugerah yang independen, melainkan sebagai penunjuk jalan yang transparan kepada Sang Sumber segala anugerah. Maria adalah tanda panah yang menunjuk kepada Kristus, bukan tujuan akhir perjalanan iman.
Setiap devosi kepada Maria yang memperdalam kasih kepada Kristus, yang menumbuhkan ketaatan kepada firman Allah, yang menguatkan kehidupan doa yang berpusat pada Kristus. Devosi yang merendahkan hati di hadapan Allah dengan kesadaran akan anugerah, dan yang menghasilkan buah Roh. Devosi yang melahirkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri sebagai devosi yang sehat, alkitabiah, dan Kristosentris. Devosi seperti ini membawa kita lebih dekat kepada Kristus, bukan menjauhkan kita dari-Nya.
Tetapi devosi yang mengaburkan kemuliaan Kristus, yang membangun ketergantungan magis atau superstisius terhadap Maria, yang menempatkan Maria sebagai pengantara utama atau bahkan pengantara yang lebih “mudah didekati” daripada Kristus, atau yang memposisikan Maria sebagai sumber rahmat yang independen akan menjadi devosi yang menyimpang dan harus dikoreksi dengan kasih pastoral tetapi juga dengan kejelasan doktrin yang tegas.
Tugas gereja adalah pastoral dan teologis sekaligus, yaitu memelihara devosi yang sehat dengan memberi makanan rohani yang benar, dan menegur devosi yang menyimpang dengan kasih tetapi juga dengan keberanian. Gerakan Reformasi abad ke-16 memang memberikan kritik keras dan kadang-kadang polemis terhadap praktik-praktik Mariologis tertentu yang telah kehilangan keseimbangan injil dan menciptakan sistem devosional yang mengaburkan Kristus. Namun kritik itu, pada intinya yang paling sejati, bukanlah penolakan terhadap Maria atau penghinaan terhadap perannya. Seharusnya kritik sebagai panggilan untuk kembali pada Kristus sebagai pusat, untuk membersihkan devosi dari elemen-elemen yang tidak alkitabiah, dan untuk menjaga kemuliaan Kristus yang eksklusif.
Para Reformator seperti Martin Luther, John Calvin, dan Huldrych Zwingli tetap menghormati Maria sebagai Theotokos, sebagai perempuan yang paling berbahagia, dan sebagai teladan iman yang luar biasa. Mereka hanya menolak dengan tegas atribusi devosional yang mengaburkan kemuliaan Kristus, yang menciptakan sistem pengantaraan ganda, atau yang memberikan kepada Maria atribut-atribut yang hanya layak bagi Allah. Kritik mereka bukanlah anti-Maria, tetapi pro-Kristus; bukanlah penolakan terhadap penghormatan yang tepat, tetapi penolakan terhadap devosi yang berlebihan dan tidak alkitabiah.
Dengan demikian, gereja masa kini harus bersikap lebih dewasa, yaitu mengakui kekayaan tradisi yang telah berkembang selama dua ribu tahun, sekaligus memperbaruinya dalam terang Alkitab yang hidup dan aktif. Gereja tidak perlu jatuh ke dalam ekstrem Reformasi radikal yang mengabaikan Maria sama sekali dan kehilangan kekayaan teologis yang dia bawa, tetapi juga tidak boleh kembali ke bentuk-bentuk devosi yang mengaburkan Kristus. Tugas kita adalah membangun keseimbangan yang alkitabiah dan historis, yang menghormati tradisi tetapi juga tunduk pada otoritas Kitab Suci sebagai norma tertinggi.
Dalam praktiknya, devosi kepada Maria yang sehat dapat dipelihara dengan prinsip-prinsip yang jelas dan konkret.
Pertama, semua doa harus berakhir kepada Allah melalui Kristus sebagai satu-satunya Pengantara. Maria dapat mendoakan kita sebagai bagian dari persekutuan orang kudus yang hidup dalam Kristus, tetapi akses kepada Bapa hanya dan selalu melalui Kristus (Yohanes 14:6; Ibrani 4:16).
Kedua, ajarkan Maria sebagai sesama anggota tubuh Kristus yang istimewa, bukan sebagai pengganti Kristus atau pengantara yang berdiri di antara kita dan Kristus. Kristus sendiri adalah Pengantara kita yang hidup (Roma 8:34; 1 Yohanes 2:1), dan tidak ada yang dapat menambah atau menggantikan peran-Nya.
Ketiga, jaga proporsionalitas liturgis sehingga perayaan Maria harus selalu sekunder terhadap misteri Kristus. Kristus adalah pusat tahun liturgis, pusat ibadah, pusat keselamatan, bukan diri Maria.
Keempat, semua devosi harus diuji oleh Alkitab sebagai norma tertinggi. Alkitab adalah firman Allah yang tertulis dan standar final untuk semua ajaran dan praktik (2 Timotius 3:16; Kisah Para Rasul 17:11). Tradisi memperkaya pemahaman kita, liturgi membentuk spiritualitas kita, pengalaman mewarnai perjalanan iman kita, tetapi Alkitab menentukan kebenaran.
Kelima, evaluasi buah rohani dari devosi tersebut. Devosi yang benar menghasilkan kasih yang makin mendalam kepada Allah dan sesama, sukacita yang tidak ditentukan oleh keadaan eksternal, damai sejahtera yang melampaui akal, kesabaran dalam penderitaan, kemurahan kepada yang rapuh dan lemah, kebaikan dalam tindakan konkret, kesetiaan dalam komitmen jangka panjang, kelemahlembutan dalam relasi, dan penguasaan diri di tengah godaan (Galatia 5:22–23). Jika devosi tidak menghasilkan buah-buah ini tetapi malah menciptakan ketakutan, legalisme, atau ketergantungan yang tidak sehat, devosi itu perlu ditinjau ulang dengan kejujuran.
Pada tingkat yang lebih dalam lagi, Maria adalah “ikon kemanusiaan” yang ditebus, gambaran sempurna dari manusia yang terbuka sepenuhnya kepada karya rahmat Allah. Ia adalah prototipe gereja yang merespons panggilan Allah dengan iman. Allah tidak memaksa dirinya masuk ke dalam sejarah dengan kekerasan atau koersi; Ia menanti respons Maria, yaitu suatu sikap “ya” yang bebas, murni, dan penuh iman, yang tidak dipaksakan tetapi dianugerahkan oleh Roh Kudus. Karena itu Bapa gereja Agustinus dari Hippo mengatakan dengan indah bahwa Maria lebih diberkati karena imannya daripada karena rahimnya. Kebesarannya bukan hanya biologis atau fisik, tetapi teologis dan spiritual. Maria menjadi model gereja, model murid, dan model iman yang menyerah total kepada kehendak Allah.
Menghormati Maria berarti merayakan apa yang Allah kerjakan di dalam dirinya, bukan memuji kebesaran intrinsik Maria. Meneladani Maria berarti belajar berkata dengan ketulusan yang sama, “Jadilah padaku sesuai dengan firman-Mu” (Lukas 1:38), dalam situasi apa pun Allah memanggil kita. Sikap umat mencintai Maria berarti mencintai Kristus dengan lebih mendalam, karena seluruh hidupnya adalah testimonium Christi, yaitu kesaksian tentang Kristus yang tidak pernah menarik perhatian kepada dirinya sendiri.
Jadi devosi kita kepada Maria berakar pada Alkitab sebagai pondasi yang tidak tergoyahkan, diarahkan oleh Roh Kudus sebagai pemandu yang tidak menyesatkan, berpusat pada Kristus sebagai telos (tujuan) yang tidak dapat digantikan, dan membawa kita masuk lebih dalam ke dalam kehidupan Allah Tritunggal. Gereja perlu menegakkan devosi yang bersih dari pencemaran paganisme, penuh hormat tanpa idolatri, dan Kristosentris tanpa kehilangan apresiasi terhadap saksi-saksi iman, yaitu bagaimana suatu devosi yang menghormati Maria tanpa mengkultuskan, dan memuliakan Allah yang telah melakukan perbuatan-perbuatan besar dalam dirinya (Lukas 1:49).
Segala pujian yang kita ucapkan tentang Maria adalah gema dari kemuliaan Kristus yang kita sembah. Karena “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kolose 1:16–17). Kristus adalah Alfa dan Omega devosi kita, awal dan akhir ibadah kita, sumber dan tujuan keselamatan kita. Maria adalah saksi yang menunjuk kepada-Nya dengan ketepatan yang tidak pernah meleset, dengan kerendahan hati yang tidak pernah mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri.
Devosi kepada Kristus tidak berhenti pada pengakuan lisan atau persetujuan intelektual semata. Iman yang sejati selalu bergerak keluar, yaitu lebih menyentuh, mengubah, dan membentuk kehidupan nyata. Dari iman itulah tumbuh buah-buah rohani yang dapat dilihat dalam keseharian, yaitu kasih yang semakin dalam kepada Allah dan sesama, bukan sekadar sentimen sesaat; sukacita yang tidak bergantung pada situasi atau naik-turunnya emosi; damai sejahtera yang tetap utuh bahkan ketika hidup diguncang badai; kesabaran yang bertahan dalam penderitaan tanpa keluhan yang pahit; kemurahan hati yang hadir bagi mereka yang rapuh tanpa sikap menghakimi; kebaikan yang diwujudkan dalam tindakan nyata tanpa pilih kasih; kesetiaan yang bertahan dalam komitmen jangka panjang; kelemahlembutan yang memulihkan relasi tanpa nada keras atau dorongan untuk mendominasi; serta penguasaan diri yang menjaga hati tetap teguh di tengah godaan dan tidak diperbudak oleh dorongan-dorongan sesaat.
Semua ini merupakan buah Roh, yaitu tanda dari hidup yang telah dimerdekakan oleh Kristus. Sebab kemerdekaan yang Ia berikan bukan alasan untuk kembali mengikuti keinginan daging, tetapi undangan untuk saling melayani dalam kasih yang tulus, sebagaimana ditegaskan dalam Galatia 5:13.
Karena itu gereja perlu menjaga keseimbangan alkitabiah yang halus tetapi krusial, yaitu bagaimana menghargai partisipasi manusia dalam rencana Allah tanpa sedikit pun menyentuh atau mengurangi karya Kristus yang sempurna. Kita bekerja dengan tekun, melayani dengan setia, bertekun dalam doa, namun semua itu terjadi “oleh Dia, melalui Dia, dan bagi Dia” (Roma 11:36). Segala daya rohani yang kita miliki, segala kebajikan yang kita praktikkan, segala kebaikan yang kita hasilkan adalah semata-mata anugerah dari atas, bukan jasa atau prestasi kita. Keselamatan itu karya Allah dari awal hingga akhir, dikerjakan dalam Kristus dan dimeteraikan oleh Roh Kudus. Kita berpartisipasi bukan untuk menambah apa yang Kristus kerjakan sebab karya-Nya sudah sempurna dan lengkap. Sebab bukankah Kristus telah lebih dahulu mengerjakan segala sesuatunya bagi kita (Efesus 2:8-9).
Dalam terang itu, Maria menjadi “ikon ketaatan” yang tidak memusatkan pada dirinya, melainkan sepenuhnya pada Allah, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan.” Sikap inilah yang gereja perlukan di setiap zaman, di setiap generasi, di setiap konteks budaya. Maria memuliakan Tuhan dengan seluruh eksistensinya, tetap setia berdiri dekat salib ketika banyak yang mundur karena ketakutan atau kekecewaan, bertekun dalam doa bersama komunitas iman tanpa mengklaim posisi khusus, dan mengarahkan orang lain hanya kepada Kristus dengan kata-kata yang sederhana tetapi mendalam: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.”
Pertanyaan penting bagi gereja dan setiap orang percaya di sepanjang zaman adalah apakah kita hidup dengan sikap seperti Maria? Apakah kita mempercayakan diri kepada kehendak Kristus dengan ketaatan yang utuh dan tidak setengah hati, kesetiaan yang tidak bercabang atau terbagi, dan kerendahan hati yang memuliakan Dia semata tanpa mencari kemuliaan bagi diri kita sendiri? Kiranya iman kita menghasilkan buah yang nyata dan autentik, yang menyatakan kemuliaan Kristus dalam hidup sehari-hari, pelayanan yang setia kepada tubuh Kristus, dan kesaksian yang jelas kepada dunia yang gelap. Sebab hanya dalam Kristus kita menemukan kepenuhan hidup, dan hanya melalui Kristus kita dapat datang kepada Bapa dalam Roh Kudus. Soli Deo Gloria.
Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Yohanes BM Berteologi Yohanes BM Berteologi