Latest Article
Kematian Yesus (Ilusi ataukah Fakta?)

Kematian Yesus (Ilusi ataukah Fakta?)

“Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya” (Mark. 15:37).

Satu-satunya peristiwa kematian yang mengguncangkan sepanjang masa dan membawa dampak dalam cara pandang, filsafat, etika, ideologi dan budaya umat manusia adalah kematian Yesus Kristus dari Nazaret. Kematian Yesus bukan sekadar kematian seorang tokoh sejarah, tetapi Dia disebut dengan gelar: “Anak Allah, Firman Allah, Kalimatullah, Penebus dosa, dan Juruselamat.” Kematian-Nya berpengaruh secara kosmis sehingga terjadi gerhana matahari, gempa dan robeknya kain tabir Bait Allah yang memisahkan ruang Mahakudus dengan ruang Kudus (Mark. 15:33-38). Di lain pihak kematian Yesus diikuti dengan kebangkitan-Nya yang ditandai oleh kubur kosong dan penampakan-penampakan-Nya kepada banyak orang selama 40 hari. Kematian dan kebangkitan Yesus menjadi dasar dan jantung iman Kristen.

            Pertanyaan yang mendasar adalah apakah kematian Yesus suatu ilusi ataukah fakta? Jika kisah kematian-Nya sekadar suatu ilusi, maka secara otomatis kisah kebangkitan-Nya hanyalah dongeng. Konsekuensinya seluruh bangunan iman kekristenan akan runtuh. Dalam konteks ini tulisan ini hanya memfokuskan pada pembuktian kematian-Nya berdasarkan data dan dokumen sejarah, tetapi juga berdasarkan studi analitis-kritis.

Fakta yang Tak Terbantahkan
Keempat Injil menyatakan dengan jelas bahwa Yesus wafat. Ia menyerahkan nyawa-Nya sebagai penebusan dosa. Bentuk kematian yang dialami oleh Yesus adalah disalibkan. Sebelum Yesus disalibkan, Ia diadili, dihina dan disiksa terlebih dahulu (Yoh. 19:1-3). Untuk membuktikan bahwa Yesus telah wafat, seorang prajurit menikam lambung-Nya sehingga keluar darah dan air (Yoh. 19:34).

            Moses Hadas dalam bukunya yang yang berjudul Complete Works of Tacitus yang diterjemahkan oleh Alfred John Church and William Jackson Brodribb mengutip kesaksian seorang bernama Tacitus tentang peristiwa kematian Yesus. Tacitus yang hidup tahun 14-68 M dalam tulisannya yang berjudul Annals berkata: “Nero seharusnya dikuasai oleh rasa bersalah sebab ia melakukan penyiksaan yang mengerikan kepada kelompok yang disebut orang Kristen sebab kejahatan mereka. Kristus, dari siapa nama telah berasal, menderita hukuman ekstrim di bawah pemerintahan Tiberius di tangan salah satu prokurator kita, Pontius Pilatus” (Alfred John Church and William Jackson Brodribb, New York: Random House, Inc., 1942, hal, 380).

Pernyataan sejarahwan Israel bernama Flavius Josephus yang hidup pada 37-100 M, yaitu: “Demikianlah kira-kira pada waktu inilah Yesus seorang manusia bijaksana, kalau boleh menyebutnya seorang manusia, karena dia adalah seorang pelaku pekerjaan yang luar biasa, seorang guru yang mengajarkan kebenaran sedemikian rupa sehingga orang menerimanya dengan sukacita. Dia menarik banyak orang Yahudi kepadanya dan juga banyak orang Yunani. Orang ini adalah Kristus. Dan ketika Pilatus telah menyuruh menyalibkan dia oleh karena dakwaan para pemimpin di antara kita, mereka yang sejak semula mengasihinya tidak meninggalkan dia, karena dia menampakkan diri dalam keadaan hidup kepada mereka pada hari yang ketiga, nabi-nabi Allah telah berbicara tentang hal ini dan ribuan hal lainnya yang menakjubkan tentang dia. Dan bahkan sampai sekarang pun kaum Kristen, demikian mereka dinamakan berdasarkan namanya, belum juga punah” (Antiquities 18.3.3).

Profesor James D.G. Dunn, pakar PB dan studi Yesus Sejarah, dalam bukunya yang berjudul: Jesus Remembered (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2003, hal. 339), menyatakan: “Dua fakta dalam kehidupan Yesus yang disetujui secara universal masa tiga tahun pelayanan-Nya atau misi-Nya dapat dikelompokkan, yaitu salah satunya baptisan Yesus oleh Yohanes, dan yang lainnya adalah kematian-Nya karena penyaliban-Nya.”

Bart D. Ehrman dalam bukunya yang berjudul New Testament Textual Criticism menyatakan: “Unsur paling pasti dari tradisi tentang Yesus adalah bahwa ia disalibkan atas perintah prefek Romawi di Yudea, Pontius Pilatus. Penyaliban dibuktikan secara independen dalam beragam sumber dan bukanlah hal yang ingin dibuat-buat oleh orang percaya tentang orang yang diproklamasikan sebagai Anak Allah yang berkuasa.”

Dari sumber-sumber kitab Injil dan kesaksian surat-surat rasuli di Perjanjian Baru sudah jelas, bahwa Yesus wafat di atas kayu salib. Berita kematian Yesus juga telah diteguhkan oleh banyak ahli sejarah dan kritikus teks Kitab Suci. Tetapi mengapa kematian Yesus yang historis masih menjadi polemik dan perdebatan yang kontroversial? Mengapa seluruh sumber kesaksian tersebut tidak mampu meyakinkan sehingga bisa menerima kematian Yesus sebagai fakta sejarah? Apa sebenarnya permasalahan di balik semua penolakan terhadap kematian Yesus?

Pengaburan Fakta dan Faktualisasi Fiksi
Peristiwa sejarah yang faktual dalam kenyataannya tidak senantiasa dipahami secara objektif, sebaliknya juga ditafsirkan secara subjektif. Makna penafsiran secara subjektif dipengaruhi oleh persepsi, kepercayaan dan motif seseorang. Sebenarnya pengaruh subjektif bukan sesuatu yang keliru asalkan berpijak pada fakta dan data, sehingga pandangan subjektif tersebut dilandasi oleh pemahaman (verstehen) yang objektif. Jadi penafsiran yang dilandasi oleh verstehen akan menghasilkan pengetahuan yang utuh dan jujur terhadap suatu teks atau makna suatu peristiwa.

Namun dalam beberapa kasus pandangan subjektif tersebut ternyata lebih didominasi oleh sikap prasangka (vorurteil). Karena itu dengan sikap prasangka peristiwa yang faktual dapat menjadi bias, kabur dan subjektif. Bahkan bisa terjadi suatu peristiwa historis diubah menjadi karya “roman sejarah.” Dalam romantisme sejarah, suatu kisah dinarasikan dengan latar-belakang sejarah tetapi para pelaku dan alur cerita sebenarnya tidak dilandasi oleh fakta sejarah. Sebaliknya kisah fiksi yang imaginatif diubah menjadi seakan-akan peristiwa sejarah. Misalnya cerita rakyat tentang candi Prambanan yang dibangun 1 malam. Apakah benar candi Prambanan dibangun hanya 1 malam oleh Bandung Bondowoso atas permintaan Roro Jonggrang? Faktanya candi Prambanan dibangun raja Rakai Pikatan sekitar tahun 850. Bandingkan kisah nabi Ibrahim mendirikan Kaabah yang dikisahkan sebagai tradisi tertentu, apakah dilandasi oleh dokumen dan bukti sejarah? Kenyataannya Abraham tidak pernah mengunjungi Madinah. Ia juga tidak pernah mendirikan Kaabah. Dalam bukunya yang berjudul Islam: A Short History, Karen Armstrong (2002) menyatakan bahwa Kaabah resminya dahulu dipersembahkan kepada Hubal, dewa orang-orang Nabatean. Di dalam Kaabah pada waktu itu berisi 360 berhala yang mewakili hari-hari dalam setahun.

Pengaruh Gnostisisme dan Doketisme
Peristiwa penyaliban dan kematian Yesus yang faktual juga diselimuti oleh pengaruh pemikiran Yunani khususnya Gnostisisme tentang makna “tubuh.” Dalam pemikiran Gnostisisme, tubuh dianggap sebagai sesuatu yang cemar, rendah dan tidak mulia. Karena itu pemikiran gnostisisme beranggapan dalam peristiwa penyaliban itu Yesus tidak mengenakan “tubuh yang sesungguhnya.” Tetapi Yesus mengenakan “tubuh maya” (tubuh semu). Kelihatannya saja yang disalibkan adalah Yesus, padahal bukan. Argumentasi tentang “tubuh maya” terhadap tubuh Yesus adalah karena Yesus adalah Anak Allah yang ilahi dan mulia, maka tidaklah mungkin Ia dicemari oleh tubuh insani yang cemar dan tidak mulia. Pemikiran gnostisisme tersebut disebut dengan doketisme. Kata “doketisme” dari bahasa Yunani yang artinya: tampak atau kelihatan. Jadi “doketisme” berpandangan bahwa Yesus dalam inkarnasi-Nya tampak seperti seorang manusia, tetapi sesungguhnya yang kelihatan secara inderawi itu hanyalah ilusi.

Bila doketisme semula menempatkan Yesus selaku Anak Allah yang mulia, kekal dan ilahi sehingga tubuh-Nya bukanlah bersifat insani dan jasmaniah, dalam perkembangannya bergeser bukanlah diri Yesus yang sesungguhnya saat terjadi penyaliban. Sebaliknya yang disalibkan pada waktu itu adalah orang yang “diserupakan” atau dissimulasi (disembunyikan). Pengaruh pemikiran doketisme tersebut terlihat dalam surah An Nisa (4):157-159 berkata:

(157) Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (158) Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (159) Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

Teks surah An Nisa (4):157-159 yang ditulis di abad VII tersebut dapat kita bandingkan dengan tulisan seorang penganut Gnostik yang bernama Basilides yang hidup di masa pemerintahan kaisar Hadrianus dan Antopius Pius (abad II – IV). Pernyataan Basilides terhadap kematian Yesus di kayu salib adalah: “Bukan Dia yang menderita sengsara, melainkan Simon, seorang dari Cyrene, yang terpaksa menanggung salib-Nya sebagai ganti-Nya. Orang itu disalibkan akibat kesilapan dan kekeliruan, sebab rupa Simon telah diubah oleh-Nya, agar orang mengira bahwa dialah Yesus, padahal Yesus memakai rupa Simon, berdiri di dekat situ sambil mentertawakan mereka.” (Th. Van den End., Harta dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008, hal. 43-44). Pandangan Basilides yang gnostik tersebut diteguhkan oleh  Michael Collins & Matthew A.Price dalam tulisannya The Story of Christianity yang menyatakan: “Yesus hanya seolah-olah seperti manusia, tetapi sebenarnya dia adalah roh sepanjang masa” (Menelusuri Jejak Kristianitas. Yogyakarta: Kanisius. 2006, hal. 42).

            Inti isi surat An Nisa (4):157-159 tersebut di atas identik dengan pernyataan Basilides yang menyatakan bahwa yang disalibkan bukanlah Yesus. Pernyataan Basilides menyebut Simon dari Kirene yang diserupakan oleh Allah sehingga ia yang disalibkan oleh para prajurit Romawi. Lalu disebutkan oleh Basilides, Yesus “mentertawakan” para prajurit yang salah menangkap dan menyalibkan Simon dari Kirene. Ada pun alasan Allah menyerupakan Simon dari Kirene bertujuan untuk melepaskan Yesus dari bahaya kematian. Sebab dalam pandangan gnostik atau doketisme mengajarkan bahwa Yesus hanya seolah-olah seperti manusia, tetapi sebenarnya dia adalah roh yang kekal. Sebaliknya terdapat perbedaan dengan surah An Nisa (4):157-159, sebab surat An Nisa tersebut tidak menyebut identitas orang yang diserupakan (walākin shubbiha lahum) oleh Allah tersebut. Perbedaan yang lain dengan pernyataan Basilides adalah surah An Nisa (4):158 menyatakan Isa (Yesus) diangkat ke sorga, sehingga Ia tidak wafat dalam eksekusi salib. Dalam konteks ini surah An Nisa menegaskan bahwa Isa (Yesus) bersifat ilahi sehingga dengan “tubuh-Nya” diangkat ke sorga (rafa’ahullahu). Karena itu kelak pada hari Kiamat, Isa akan menjadi saksi (QS 4:159).  

            Apabila surah An Nisa:157 menyatakan bahwa Isa (Yesus) tidak wafat disalibkan, maka di surah Ali Imran (3):55 menyatakan bahwa Isa akan wafat, barulah Allah akan mengangkat kepada-Nya. Arti kata “mutawaffika” yang diartikan “wafat” karena penulis mengikuti tafsir Mahmud Shaltut, former Mufti of Egypt and ex-Rector of al-Azhar University, Cairo menyatakan: “The Quranic verses in this connection indicate that God had promised Jesus that He would cause him to die at the appointed time, and elevate him to Himself, and protect him from the disbelievers. This promise has been fulfilled. His enemies could not kill him or crucify him: instead, God caused him to die at the end of his appointed term and elevated him to Himself” (Al-Fatawa. penerbit Al-Idara al-Ama lil-Saqafat al-lslamiyya bil-A.zhar, hal. 52-58).

Surah Ali Imran (3):55 berkata:

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu [mutawaffīka] dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu (rafi’uka), lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.”  

Ungkapan kata “rafa” dalam surah An Nisa (4):157 dan Ali Imran (3):55 digunakan untuk menunjuk Allah mengangkat Isa ke hadapan-Nya. Sebab kata (رفع) – rafa’a , verb, present (يرفع) yarfa’u memiliki arti: to lift, to hoist up, to erect, to elevate. Makna Allah mengangkat Isa (rafa) digunakan dalam kedua surah tersebut, tetapi bertentangan dalam hal soal kematian Isa. Surah An Nisa (4):157 menyatakan Isa tidak wafat tetapi langsung ke sorga, tetapi surah Ali Imran (3):55 menyatakan Isa wafat dahulu barulah diangkat ke sorga. Jika demikian, manakah yang benar? Yesus diselamatkan Allah dengan menyerupakan seseorang untuk disalibkan , lalu Yesus dibawa Allah ke sorga (An Nisa), ataukah Yesus wafat barulah Ia dibawa Allah ke sorga (Ali Imran)? Mengapa terjadi kontradiksi yang begitu fundamental?

Ahmadiyah dan Ebionit
Berbeda lagi dalam pemikiran aliran Islam yang bernama Ahmadiyah (Urdu Jamāʿat-i Aḥmadiyya). Aliran ini didirikan oleh Mirzā Ghulām Ahmad (1835-1908) pada tanggal 23 Maret 1889 di propinsi Qadian India, Punjab. Menurut ajaran Ahmadiyah, kepercayaan tentang masih hidupnya Nabi Isa di langit merupakan salah satu bahaya besar bagi agama Islam dan kaum muslimin. Kaum muslimin yang masih percaya bahwa Nabi Isa masih hidup di langit dengan jasad kasarnya secara tidak sadar mendukung dan membantu kelangsungan hidupnya agama Kristen serta cenderung memuliakan Nabi Isa a.s dari pada Nabi Muhammad s.a.w sendiri. Karena itu jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Nabi Isa  telah wafat 2000 tahun yang lalu (Mahmud Ahmad Cheema, Tiga Masalah Penting (Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 2003), hal. 1).

Kaum Ahmadiyah mengajarkan bahwa Yesus sungguh-sungguh disalibkan, namun Ia tidak wafat. Yesus pingsan atau mati suri. Setelah di dalam kubur, Yesus menjadi siuman. Setelah itu Yesus kemudian pergi ke India untuk mencari suku-suku Israel yang terhilang. Di sana Yesus mengubah nama menjadi Yuz Asaf. Ia menikah dengan Maria, dan memiliki anak-anak. Kemudian Yesus wafat dalam usia 120 tahun dan dimakamkan di sebuah tempat di Srinagar. Namun pemikiran dan ajaran Ahmadiyah tersebut tidak memiliki bukti historis tentang keberadaan makam Yesus di Srinagar. Makam Yus Asaf tidak diizinkan dibongkar untuk membuktikan “kebenaran” yang sebenarnya fiktif dan imaginatif. Dalam konteks ini kaum Ahmadiyah hanya berpegang pada penafsiran dari surah Ali Iman (3):55. Mereka menerjemahkan kata mutawaffīka di dalam QS. 3:55 yang diartikan “mengambil” dalam pengertian bahwa Allah tidak mewafatkan Yesus. Karena itu kaum Ahmadiyah menyimpulkan bahwa Yesus tidak mati tetapi diambil oleh Allah, yaitu:  “Aku mengambilmu dalam keadaan hidup tanpa harus mati di kayu salib.”

Pemikiran kaum Ahmadiyah ini dipengaruhi oleh aliran Ebionit yang semula berkembang di sebelah Timur sungai Yordan. Kata “ebionit” berasal dari bahasa Ibrani yang artinya “miskin.” Jadi ajaran Ebionit tentang diri Yesus adalah Ia hanyalah manusia biasa. Yesus adalah anak Maria dan Yusuf. Tetapi kemudian Ia diangkat Allah sebagai Anak Allah pada waktu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Karena itu kaum Ebionit menyatakan bahwa Yesus sejak awal bukan Allah, tetapi hanya manusia biasa. Yesus memperoleh gelar ilahi karena diadopsi oleh Allah sehingga memperoleh gelar sebagai Anak Allah dan dipersatukan dengan “Kristus” yang abadi yang kedudukannya lebih tinggi daripada malaikat agung. Prinsip dasar pemikiran kaum Ebionit tersebut sebagai cikal-bakal munculnya teori “Yesus Sejarah” yang menekankan aspek insaninya sebagai seorang manusia biasa. Sebaliknya pemikiran surah An Nisa (4):157 dipengaruhi oleh pemikiran doketisme (gnostik) yang menekankan aspek keilahian Yesus sehingga Ia dibawa naik dengan tubuh-Nya ke sorga. Namun kedua pandangan tersebut tidak didasarkan pada data-data awal (primer) yang disaksikan oleh Alkitab sejak 2000 tahun yang lalu.

Posisi Teologis Alkitab dan Iman Kristen Sejak Awal
Dengan memperhatikan kedua pengaruh antara pemikiran Ebionit (Yesus dipahami secara insani) dan Doketisme (Yesus dipahami secara rohani-ilahi), bagaimanakah posisi Alkitab dan iman Kristen? Posisi kesaksian Alkitab Perjanjian Baru, khususnya keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) sejak awal telah memahami Yesus dari kedua kodrat-Nya. Yesus sungguh-sungguh manusia, tetapi Ia sungguh-sungguh Allah. Kesaksian Yohanes 1:14 menyatakan: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Sang Firman Allah (Dabar Adonai, Logos) adalah Ilahi, kekal dan sehakikat dengan Allah (Yoh. 1:1). Tetapi pada satu titik waktu, Sang Firman Allah tersebut berinkarnasi menjadi manusia (kai ho Logos sarx egeneto).

Makna kata “manusia” dalam Yohanes 1:14 bukanlah sosok pribadi dengan tubuh maya, tetapi sungguh-sungguh manusia. Karena itu untuk menekankan aspek kemanusiaan Yesus dipergunakan kata sarx yang artinya: daging fisik yang fana (mortal physical flesh). Di dalam inkarnasi Yesus, Sang Firman Allah yang kekal dan tak terbatas menjadi manusia yang terbatas. Sebagai manusia, Yesus sama seperti manusia pada umumnya, kecuali dalam dosa. Ibrani 4:15 berkata: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

Pada saat yang sama ke-Allah-an Kristus tidak berkurang saat Ia menjadi manusia. Kolose 2:9 berkata: “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (bdk. Kol. 1:19). Kodrat ke-Allah-an dan kemanusiaan Yesus tersebut juga dikemukakan oleh Filipi 2:6-7 yang berkata: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Yesus memiliki hakikat Allah dan mengosongkan diri menjadi manusia. Kesaksian Alkitab tidak pernah bersikap dualistik terhadap 2 kodrat Yesus. Ia adalah Sang Firman Allah yang kekal, dan pada saat yang sama Ia adalah manusia.

Posisi Teologis Konsili Chalcedon
Kesaksian ayat-ayat Alkitab tersebut dengan tegas membantah keberadaan Yesus sekadar manusia saja, ataukah sekadar yang ilahi saja. Yesus Kristus memiliki 2 kodrat yang sempurna, yaitu sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Berdasarkan kesaksian Alkitab tersebut, Konsili Chalcedon tahun 451 menyatakan:  “…. Bahwa Sang Putera, Tuhan Yesus Kristus kita, adalah satu dan sama, sama sempurna di dalam Ke-Allahan-Nya dan sama sempurna di dalam kemanusiaan-Nya, sungguh Allah, sungguh manusia, mempunyai jiwa manusia yang rasional dan sebuah tubuh, sehakekat dengan Bapa di dalam ke-Allahan dan sehakikat dengan kita di dalam kemanusiaan, ‘sama dengan kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa’ (Ibr 4:15), berasal dari Bapa sebelum segala abad dalam kodrat ke-Allahan-Nya, lahir di dalam waktu bagi kita dan bagi keselamatan kita dari Perawan Maria, Bunda Allah, dalam kodrat kemanusiaan-Nya…..”

Kedua kodrat Yesus sebagai Allah dan manusia pada hakikat tidak tercampur, tidak terbagi, dan tidak terpisahkan dalam satu Pribadi. Karena itu dalam diri Yesus memiliki satu pribadi dengan dua kodrat. Konsili Chalcedon menyatakan:  “di dalam dua kodrat, tanpa tercampur baur, tanpa perubahan, tidak dapat dibagi-bagi dan dipisahkan. Perbedaan kodrat tidak pernah dihapuskan dengan persatuannya, melainkan sifat-sifat dari kedua kodrat itu yang tetap tidak terganggu, keduanya bersama-sama membentuk satu Pribadi dan hakekat (hypostasis), tidak terbagi menjadi dua pribadi, tetapi di dalam Putera Tunggal yang satu dan sama, Sabda Ilahi, Tuhan Yesus Kristus….” Jika demikian, maka yang disalibkan adalah Pribadi Yesus yang adalah Sang Firman Allah menjadi manusia. Iman Kristen menolak pandangan dan anggapan bahwa yang disalibkan hanyalah Yesus selaku manusia dengan tubuh maya (doketisme). Pada saat yang sama iman Kristen juga menolak anggapan bahwa yang disalibkan adalah orang yang “diserupakan” Allah, misalnya: Simon dari Kirene, ataukah Yudas Iskariot.

Saksi Mata atau Asumsi
Tuduhan bahwa yang disalibkan adalah bukan diri Yesus sebagaimana dikatakan oleh surah An Nisa (4):157 tampaknya dipengaruhi oleh asumsi teologis atau keyakinan iman tertentu. Seorang ahli peneliti medis terkenal yang bernama Dr. Frederick Zugibe, “Sangat penting untuk memahami bahwa exactor mortis (kepala pasukan yang bertanggungjawab untuk penyaliban) dan quaternion (para prajurit yang melaksanakan penyaliban) adalah orang-orang yang ahli dalam memastikan kematian dari penyaliban, karena mereka sudah melakukan ribuan kali penyaliban (Zugibe, The Crucifixion of Yesus: A Forensic Inquiry, second edition, New York: M. Evans and Company, Inc., 2005, hal. 148).

Kita mengandaikan bahwa yang disalibkan bukanlah diri Yesus, tetapi salah seorang yang diserupakan oleh Allah. Bagaimanakah seandainya kekeliruan atau kesilapan tersebut terjadi? Bagaimana reaksi orang yang telah diserupakan oleh Allah saat ia ditangkap dan disalibkan? Apakah si korban akan rela untuk dieksekusi salib? Jawabannya adalah: Siapa pun dia tidak akan pernah rela untuk mati menggantikan Yesus. Si Korban akan menyatakan penolakan dan kemarahannya karena dia bukan terdakwa atau terhukum yang sebenarnya. Padahal kita tahu bahwa eksekusi salib merupakan hukuman yang sangat menyakitkan dan memalukan bagi orang-orang yang mengalaminya. Aaron M. Goerner dalam Qur’anic Injeel ever exist? Is the New Testament corrupted? yang mengutip penelitan Jerome H. Neyrey, menyatakan: orang yang disalibkan akan mengalami pencambukan dan pukulan, khususnya yang membutakan mata dan menumpahkan darah. Kemudian cambukan dilakukan di kedua sisi badan yaitu di bagian depan dan punggungnya, korban ditelanjangi; dan seringkali ia bermandikan air kencing dan kotorannya sendiri yang keluar saat itu. Terhukum dipaksa untuk memikul kayu salibnya sendiri. Seluruh milik korban, biasanya berupa pakaian, dirampas; dengan demikian ia menjadi semakin dipermalukan karena ketelanjangannya. Korban akan kehilangan kekuatannya karena kedua tangan direntangkan dan diikat, dan kemudian ia dipakukan di kayu salib itu (Aaron M. Goerner dalam Qur’anic Injeel ever exist? Is the New Testament corrupted? Tanpa penerbit: 2021, hal. 83).

Sebaliknya dalam peristiwa penyaliban Yesus, kita menjumpai pernyataan dan kata-kata yang begitu agung dan mulia. Di atas kayu salib, Yesus menyatakan pengampunan-Nya kepada orang-orang yang melukai dan menyalibkan-Nya. Lukas 23:34, di atas kayu salib, Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Selain itu salah seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus berkata: “Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja” mendengar jawaban Yesus, yaitu: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). Pertanyaannya adalah apakah mungkin seorang yang bukan Yesus tetapi dia diserupakan sehingga keliru disalibkan mampu berkata-kata dengan ucapan yang penuh hikmat, pengampunan dan belas-kasihan?

Lebih jauh lagi, di atas kayu salib Yesus menyapa Maria, ibu-Nya. Di Yohanes 19:26 menyatakan: Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Lalu di Yohanes 19:27 menyatakan: Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Dalam konteks ini terjadi percakapan antara Yesus dengan ibu-Nya, dan juga dengan Yohanes, murid-Nya. Apakah mungkin seandainya yang disalibkan adalah Simon dari Kirene atau Yudas Iskariot akan mampu menyebut Maria sebagai ibu Yesus? Lebih mendasarkan lagi, masakan Maria selaku ibu-Nya tidak mampu mengenali wajah dan tubuh Yesus sebagai anak yang pernah dikandung dan diasuh?

Tujuh Perkataan Salib
1. Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaianNya (Luk. 23:34).
2. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus (Luk. 23:43).
3. Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kataNya kepada muridNya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya (Yoh. 19: 26-27).
4. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?  (Mat. 27:46).
5. Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci : “Aku haus!” (Yoh.19:28). 
6. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.”  Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya (Yoh.19:30).
7. Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya. (Luk. 23:46).

            Pada saat Yesus telah wafat disebutkan bahwa seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air (Yoh. 19:34). Catatan yang disampaikan oleh Injil Yohanes terhadap tindakan prajurit yang menikan lambung Yesus adalah: “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya” (Yoh. 19:35). Prajurit Romawi tersebut adalah saksi mata, dan menyatakan bahwa kesaksiannya benar. Di samping itu Lukas 23:47 juga memberi kesaksian: “Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: Sungguh, orang ini adalah orang benar!” Apakah mungkin seorang terhukum yang keliru disalibkan mampu memperlihatkan tindakan dan kelakuan yang terpuji saat menghadapi kematian yang begitu mengerikan, sehingga kepala pasukan memberi pujian sebagai orang yang benar dan memuliakan Allah?  

            Nilai dari pernyataan dari satu saksi mata lebih berharga dibandingkan dengan sepuluh orang yang sekadar memberi pendapat atau dugaannya sendiri. Seorang dramawan Roma pra-Kristen yang bernama Plautus, berkata: Pluris est oculatus testis unus, quam auriti decerm: Qui audiunt, audita dicunt, qui vident, plane sciunt. Artinya: “Mereka yang hanya mendengar berbicara tentang apa yang mereka dengar, tetapi mereka yang melihat, mengetahui perinciannya” (dikutip di dalam John Warwick Montgomery, Does God believe in Atheists? Modern Reformation, March/April Vol. 15 No. 2 tahun 2006, hal. 18-21).

Moralitas Allah yang Menyerupakan Wajah Yesus
Basilides menyatakan: “Bukan Dia yang menderita sengsara, melainkan Simon, seorang dari Cyrene, yang terpaksa menanggung salib-Nya sebagai ganti-Nya. Orang itu disalibkan akibat kesilapan dan kekeliruan, sebab rupa Simon telah diubah oleh-Nya, agar orang mengira bahwa dialah Yesus, padahal Yesus memakai rupa Simon, berdiri di dekat situ sambil mentertawakan mereka.” Apabila Allah sebagai pelaku yang menimbulkan kekeliruan dengan menyerupakan (dissimulasi) wajah Yesus sehingga yang ditangkap dan disalibkan adalah Simon Kirene, maka Allah tersebut memiliki karakter yang tidak layak diteladani. Timbul pertanyaan yang serius perihal moralitas Allah yang melakukan rekayasa dan manipulasi, yaitu:

  • Mengapa Allah mengorbankan salah seorang murid Yesus yang dalam kondisi tidak bersalah?
  • Dari sudut keadilan, bukankah Allah seperti itu sewenang-wenang? Kuasa-Nya dipakai secara tidak bertanggungjawab dan amoral.
  • Yesus selaku Mesias, bukankah seharusnya berperan dengan mengutamakan menyelamatkan murid-Nya, dan bukan membiarkan seorang murid-Nya yang mengalami penderitaan dan kematian yang tidak adil?
  • Dalam konteks ini menurut Basilides, Yesus justru tertawa melihat para prajurit telah salah tangkap. Yesus dalam “Teologi Dissimulasi” (penyerupaan wajah) bukanlah Yesus yang diberitakan oleh Alkitab. Yesus dalam “Teologi Diisimulasi” tampil sosok Yesus yang “berdarah dingin” sebab bisa tertawa saat seseorang menjadi korban kekeliruan.
  • Bagaimana seandainya moralitas Allah seperti itu dijadikan model dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari? Misalnya: seseorang diizinkan menyelamatkan orang yang kita kasihi dengan cara mengorbankan dan memanipulasi orang lain yang tidak terlalu kita kasihi?

Tindakan Allah yang mengubah wajah Simon Kirene atau Yudas Iskariot mirip atau serupa dengan wajah Yesus adalah Allah yang manipulatif. Dia menyalahgunakan kuasa ilahi-Nya untuk memperdaya prajurit Romawi dan mengorbankan orang yang tidak bersalah. Lebih mendasar lagi Ia adalah Allah yang kejam sebab membiarkan orang yang tidak bersalah terbunuh. Dalam kehidupan sehari-hari apabila seorang dokter ahli operasi plastik sengaja mengubah wajah pasiennya mirip seperti temannya agar ditangkap oleh polisi untuk melindungi kejahatan temannya, maka ia bertindak kriminal. Dalam konteks ini kita dapat melihat bahwa karakter Allah yang menyerupakan wajah Yesus bukanlah Allah yang kudus, adil, pengasih dan penyayang. Ia bukan Allah yang hidup, tetapi illah duniawi yang menyamar sebagai “Allah.”

Yesus Wafat atau Diwafatkan?
Pada saat Yesus disalibkan, pertanyaan mendasar adalah apakah Ia wafat karena luka-luka yang dialami-Nya. Karena Yesus mengalami siksaan berupa cambukan ke seluruh tubuh-Nya dan eksekusi salib menyebabkan pendarahan yang hebat serta rasa sakit yang tidak tertahankan. Bukankah logis jikalau penyebab kematian Yesus karena luka-luka yang dialami dalam eksekusi salib? Dalam konteks ini Yesus dianggap mengalami kematian sebagai korban (victim) ketidakadilan sebab Ia justru membela keadilan. Yesus juga menjadi korban kejahatan walau Ia sendiri hidup benar dan kudus di hadapan Allah dan manusia. Tetapi apakah Yesus wafat sebagai korban (victim)? Jikalau Yesus wafat sebagai korban (victim), maka Ia tidak memiliki kuasa untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia. Sebab bagaimana mungkin seorang korban (victim) bisa menolong orang lain? Posisi korban (victim) sangat lemah, tidak berdaya dan karena itu membutuhkan pertolongan orang lain.  

Iman Kristen menegaskan bahwa dalam inkarnasi-Nya sebagai manusia, Yesus sungguh-sungguh manusia, sehingga Ia benar-benar mengalami penderitaan yang tak terperikan saat disalibkan. Tetapi apakah iman Kristen menurut kesaksian Alkitab menyetujui bahwa penyebab kematian Yesus merupakan hasil upaya manusia yang berhasil membunuh Dia dengan hukuman salib?

Di Yohanes 10:17-18, Yesus berkata: “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.” Melalui ucapan-Nya ini Yesus menegaskan bahwa “kematian-Nya” bukan karena manusia berhasil membunuh atau mencabut nyawa-Nya. Kata “Aku memberikan nyawa-Ku” (ego tithemi ten psyche mou) menunjuk tindakan proaktif dan inisiatif dari diri Yesus. Kata “memberikan” (tithemi) merupakan kata kerja present indicative aktif sehingga menunjuk bentuk tindakan aktual yang sedang terjadi. Dalam konteks ini Yesus hendak menegaskan bahwa Ia memiliki kedaulatan penuh atas eksistensi-Nya selaku Anak Allah. Karena itu Ia berkuasa memberikan dan mengambil kembali nyawa-Nya. Argumentasi ini didukung dengan makna kata “berkuasa” (exousia). Kata “berkuasa (exousia) menunjuk pada hak khusus (privilege) dalam kapasitas atau otoritas-Nya dan hak yang dimiliki Yesus selaku Anak Allah.

Yesus wafat di atas kayu salib bukan karena keberhasilan Iblis yang mencabut nyawa-Nya. Yesus wafat di atas kayu salib juga bukan karena Dia tidak memiliki pilihan lain untuk membayar hutang-hutang dosa manusia. Yesus wafat di atas kayu salib juga bukan karena hasil rekayasa dan keberhasilan para pemimpin agama Yahudi. Yesus wafat juga bukan karena Dia kehilangan banyak darah dan tidak tahan menanggung penderitaan. Tetapi utamanya Yesus wafat di atas kayu salib karena Dia dengan kasih-Nya yang berinisiatif dan rela memberikan nyawa-Nya. Itu sebabnya di Yohanes 19:30, Injil Yohanes menyaksikan: “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: Sudah selesai. Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” Kata “menyerahkan” yang dipakai dalam konteks ini adalah paredooken yang memiliki arti: to surrender (menundukkan), to give (memberikan), dan to deliver (mengantarkan).

 Jadi Yesus wafat karena Dia menyerahkan nyawa-Nya. Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk suatu tujuan yang utama yaitu penebusan dosa bagi umat manusia. Karya penebusan Kristus menjadi efektif dan sempurna, karena Yesus secara proaktif dan penuh kasih memberikan nyawa-Nya bagi kita, sehingga seluruh hutang dosa kita dibayar lunas. Karena itu kematian Yesus di atas kayu salib merupakan karya pendamaian sebab Ia menggantikan hukuman dan kutukan Allah atas dosa manusia. Sebagai karya pendamaian, Yesus wafat dilandasi oleh cinta-kasih Allah yang begitu besar sehingga kematian Yesus bukan sebagai korban (victim), tetapi melakukan pengurbanan atau berkurban (sacrifice).

Perbedaan makna “korban” (victim) dengan “berkurban” (sacrifice) adalah korban senantiasa berada dalam posisi lemah dan tidak berdaya. Seorang yang menjadi korban tidak pernah menghendaki penderitaan dan kematian yang dialaminya. Sebaliknya makna berkurban senantiasa dilandasi oleh kerelaan, cinta-kasih dan kesediaan memberikan diri untuk keselamatan orang lain. Jikalau Yesus wafat sebagai seseorang yang menjadi korban (victim), maka kematian-Nya tidak akan membawa dampak keselamatan bagi manusia. Di Markus 10:45 Yesus berkata: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Penggunaan kata “memberikan nyawa-Nya” (dounai ten psyche autou) di Markus 10:45 sejajar dengan kata “Aku memberikan nyawa-Ku” (ego tithemi ten psyche mou) di Yohanes 10:17.  

Kesimpulan
Peristiwa kematian Yesus terbukti faktual. Ia sungguh-sungguh wafat. Peristiwanya bukan ilusif. Kebenarannya valid, teruji oleh dokumen-dokumen sejarah dan para saksi mata yang kredibel. Lebih utama lagi kematian-Nya membawa dampak yang transformatif sepanjang sejarah. Teori dissimulasi tentang penyerupaan wajah Yesus tidak terbukti. Sebab di atas kayu salib itu Yesus menyatakan keagungan-Nya selaku Anak Allah yang penuh dengan kerahiman ilahi. Ia mengenali Maria, ibu-Nya. Maria selaku ibu-Nya juga mengenali dengan baik diri Yesus saat disalibkan. Dengan demikian, misteri kematian Yesus yang utama bukanlah masalah teori dissimulasi, tetapi kuasa-Nya sebagai penebus dosa. Kematian-Nya secara efektif mendamaikan umat manusia dengan Allah. Sebab Yesus wafat sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Karena itu kematian-Nya merupakan tindakan berkurban (sacrifice). Yesus wafat bukan sebagai korban (victim) yang lemah dan tak berdaya.

Kematian yang dialami oleh Yesus merupakan penggenapan nubuat nabi Yesaya yang hidup sekitar tahun 745-680 sM, yaitu: “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:4-5). Karena itu saat menjelang Yesus wafat, Ia berkata: “Sudah selesai” (Yoh. 19:30). Nubuat nabi-nabi telah tergenapi dengan sempurna di dalam diri Yesus. Ia sungguh-sungguh Allah, dan sungguh-sungguh manusia. Pengajaran Ahmadiyah sengaja menghilangkan atau menolak tanpa dasar keilahian Yesus selaku Sang Firman yang adalah Allah.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono