Latest Article
Bersyukur dan Berterima-kasih (2Raj. 5:1-3, 7-15c; Mzm. 111; 2Tim. 2:8-15; Luk. 17:11-19)

Bersyukur dan Berterima-kasih (2Raj. 5:1-3, 7-15c; Mzm. 111; 2Tim. 2:8-15; Luk. 17:11-19)

Pengantar

Hakikat ungkapan terima kasih bersifat universal. Setiap budaya, adat, filsafat, agama dan teologi selalu mengajar kepada setiap orang untuk berterima-kasih saat mereka memperoleh sesuatu. Dengan demikian seharusnya ucapan terima-kasih telah mendarah-daging dalam kehidupan umat manusia. Itu sebabnya ucapan terima kasih seharusnya selalu muncul secara spontan dan tulus saat seseorang memperoleh sesuatu atau pertolongan. Namun dalam praktek hidup ternyata tidaklah demikian. Kita sering menghadapi kendala untuk menyampaikan terima kasih dengan tulus kepada seseorang yang telah membantu dan memberikan sesuatu. Kendala tersebut disebabkan karena kita menganggap bahwa apa yang dilakukan atau diberikan seseorang kepada kita sebagai sesuatu yang seharusnya. Kita sering merasa bahwa kita layak untuk memperoleh sesuatu atau bantuan tertentu dari orang lain. Persepsi tersebut terbentuk karena mungkin kita sejak masih anak-anak sampai dewasa selalu dilayani dan memperoleh apa yang kita inginkan. Sangat berbeda dengan seseorang yang sejak masih kanak-kanak sampai dewasa mengalami hal yang sebaliknya. Dalam perjuangan hidup yang sangat berat, dia beberapa kali telah mengalami bantuan dan pertolongan dari sesama di luar dugaannya. Dia juga mengingat bagaimana di saat yang sulit dan kritis, tiba-tiba dia memperoleh bantuan sehingga mampu keluar dengan selamat. Pengalaman hidup yang demikian telah mengajar dia untuk selalu mampu menghargai dan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang di sekelilingnya. Tipe orang yang pertama adalah menghayati hidup secara konsumtif, dan tipe orang yang kedua adalah menghayati hidup secara produktif. Tipe konsumtif adalah sikap yang menghayati bahwa realitas kehidupan sebagai sesuatu yang ditujukan untuk melayani kepentingan dirinya. Sedang tipe produktif adalah sikap yang menghayati bahwa realitas kehidupan harus diolah dan diperjuangkan bersama dengan sesama. Karena itu dalam tipe produktif, seseorang selalu menghargai setiap hal yang dialami sebagai suatu berkat atau karunia. Sikap penghargaan tersebut dinyatakan dalam ungkapan terima kasih dan ucapan syukur.

Kesepuluh Orang Kusta

Injil Lukas menyaksikan bagaimana saat Tuhan Yesus dalam perjalananNya ke Yerusalem, Dia didatangi oleh sepuluh orang kusta yang berseru: “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (Luk. 17:13). Sebagai orang-orang yang berpenyakit kusta pada zaman itu, maka kesepuluh orang kusta tersebut tidak diperkenankan untuk mendekat kepada orang-orang yang sehat. Hukum Taurat menyatakan bahwa seseorang yang terkena penyakit kusta akan dinyatakan sebagai najis: “Imam haruslah memeriksa penyakit pada kulit itu, dan kalau bulu di tempat penyakit itu sudah berubah menjadi putih, dan penyakit itu kelihatan lebih dalam dari kulit, maka itu penyakit kusta; kalau imam melihat hal itu, haruslah ia menyatakan orang itu najis” (Im. 13:3). Padahal kondisi najis dianggap dapat menular kepada orang lain yang menyentuhnya. Itu sebabnya Im. 5:3 menyatakan: “Atau apabila ia kena kepada kenajisan berasal dari manusia, dengan kenajisan apapun juga ia menjadi najis, tanpa menyadari hal itu, tetapi kemudian ia mengetahuinya, maka ia bersalah”. Untuk memenuhi hukum Musa itu, orang-orang kusta pada zaman itu harus memberi tanda saat mereka lewat dengan perkataan: “Najis, najis”. Tujuannya adalah agar orang-orang di sekitar dapat segera menghindar dari kemungkinan untuk tersentuh anggota tubuh dari orang yang berpenyakit kusta. Dengan demikian kesepuluh orang kusta tersebut harus berdiri cukup jauh dari Yesus dan para muridNya.

Bukankah sangat menarik, kebiasaan orang-orang yang berpenyakit kusta harus mengucapkan yang memberi tanda, yaitu: “Najis, najis” tiba-tiba berubah saat mereka berjumpa dengan Tuhan Yesus. Kesepuluh orang kusta tersebut tidak lagi mengucapkan kata-kata “Najis-najis” kepada Tuhan Yesus, tetapi mereka mengucapkan permohonan: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Makna ungkapan “najis, najis” yang diucapkan oleh orang-orang kusta selain memberi tanda kepada orang-orang di sekitarnya untuk menjauh, juga merupakan ungkapan yang menyakiti diri mereka sendiri. Sebab ungkapan “najis” tersebut menunjuk kepada keadaan tubuhnya yang sedang mengidap penyakit kusta. Keadaan tubuhnya dianggap mereka sebagai sumber atau asal dari kenajisan yang dapat membahayakan dan menajiskan orang-orang di sekitarnya. Para penderita penyakit kusta selalu menderita secara fisik, tetapi juga secara emosional dan sosial. Secara fisik, penyakit kusta menyebabkan kulit dan beberapa dari organ-organ tubuh dapat terlepas. Secara emosional, mereka menderita dengan kondisi tubuh yang cacat dan tampak mengerikan. Secara sosial, orang-orang berpenyakit kusta selalu dijauhi dan disingkirkan dalam pergaulan. Bahkan mereka juga harus dipisahkan dari keluarga dan tempat tinggalnya. Karena itu tidak mengherankan jikalau para penderita kusta selalu menganggap penyakit tersebut sebagai suatu hukuman dari Allah (bdk. Bil. 12:10). Karena dianggap sebagai bentuk dari hukuman Allah, maka kesembuhan dari penyakit kusta harus melalui proses ritual pentahiran: “Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya: ia harus dibawa kepada imam” (Im. 14:2).

Firman Yang Memulihkan

Respon Tuhan Yesus terhadap permohonan kesepuluh orang kusta tersebut adalah: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam” (Luk. 17:14). Ternyata saat mereka di perjalanan menuju ke tempat imam, kesepuluh orang kusta tersebut menyadari bahwa mereka telah sembuh. Tampaknya kesepuluh orang kusta tersebut mengalami kesembuhan saat Tuhan Yesus berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam”. Mereka baru menyadari pemulihan dari penyakit kusta setelah mereka berjalan beberapa saat. Perkataan Tuhan Yesus memiliki daya penyembuh saat kesepuluh orang kusta tersebut percaya dengan pergi ke rumah imam. Dengan demikian, kita dapat melihat kuasa firman dari Kristus dan sikap iman dari kesepuluh orang kusta tersebut. Walaupun Tuhan Yesus tidak menyentuh tubuh kesepuluh orang kusta tersebut, firmanNya mampu memulihkan. Kini kita mengetahui bahwa penyakit kusta disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Bakteri lepra ini termasuk dalam tipe penyakit granulomatosa pada saraf tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada kulit. Karena itu penyembuhan kesepuluh orang kusta tersebut memperlihatkan kuasa mukjizat dari Kristus. SabdaNya berkuasa dan mampu menjadikan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Bacaan leksionari memperlihatkan bagaimana terdapat perbedaan pola kerja Tuhan Yesus dengan pola kerja yang dilakukan oleh nabi Elisa. Naaman, panglima dari kerajaan Aram sakit kusta. Namun karena Naaman seorang abdi kerajaan yang setia dan mampu melakukan tugasnya dengan baik, dia sangat disayang oleh raja Aram. Itu sebabnya raja Aram mengabulkan permintaan Naaman untuk pergi ke Israel karena dia mendengar dari abdi di rumahnya seorang gadis Israel, bahwa di Israel terdapat seorang nabi yang akan mampu menyembuhkan penyakit kusta. Saat Naaman pergi ke rumah nabi Elisa, ternyata Elisa tidak menemui dia. Melalui pembantunya, nabi Elisa berpesan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir” (II Raj. 5:10). Semula Naaman ragu dan kecewa dengan sikap nabi Elisa. Namun akhirnya Naaman melaksanakan perintah nabi Elisa, yaitu dengan mandi 7 kali di sungai Yordan. Setelah Naaman mandi, dia melihat seluruh penyakit kustanya telah sembuh. Pemulihan penyakit kusta dari Naaman yang dinyatakan Allah melalui nabi Elisa membutuhkan media, yaitu mandi 7 kali di sungai Yordan. Tetapi pemulihan kesepuluh orang kusta yang dinyatakan Allah melalui Kristus terjadi melalui sabdaNya. Bahkan sangat menarik, karena ternyata Tuhan Yesus tidak pernah mengucapkan perkataan “sembuh atau tahir”. Tetapi Dia menyuruh kesepuluh orang kusta tersebut menghadap imam. Padahal orang kusta yang berani menghadap seorang imam umumnya sangat yakin bahwa dia telah sembuh. Keyakinan seseorang bahwa dia telah sembuh dari sakit kusta itu harus diuji dan dibuktikan kebenarannya oleh seorang imam.   Jadi inti pesan dari Injil Lukas dalam kisah penyembuhan Kristus terhadap sepuluh orang kusta sangat jelas, yaitu Kristus adalah Tuhan dan Anak Allah Yang Maha-tinggi (bdk. Luk. 2:11; 1:32). Konkretnya, melalui kehidupan dan karya Kristus, Allah berkenan menyatakan keselamatanNya secara penuh dalam sejarah kehidupan umat manusia (bdk. Luk. 2:30-32).

Ucapan Syukur Terhadap Karya Keselamatan Allah

Kesepuluh orang kusta tersebut tidak jadi meneruskan perjalanan ke rumah imam untuk membuktikan bahwa mereka telah tahir dari sakit kusta. Mereka mengetahui dengan persis bahwa mereka kini telah sembuh setelah berjumpa dan percaya kepada perkataan Tuhan Yesus. Namun salah seorang dari kesepuluh orang kusta tersebut segera kembali menemui Tuhan Yesus untuk mengucap syukur atas pertolonganNya. Luk. 17:15-16 menyaksikan: “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria”. Salah seorang dari kesepuluh orang sakit kusta tersebut mengungkapkan rasa syukur dan mempermuliakan Allah dengan tersungkur di dkepan kaki Tuhan Yesus. Orang kusta tersebut bukan hanya sekedar berterima-kasih. Dia mempermuliakan Allah yang telah berkarya di dalam diri Kristus. Tindakan orang kusta yang tersungkur di depan kaki Tuhan Yesus hendak menyatakan bahwa dia mengakui dengan iman ke-Tuhan-an Yesus. Penyembuhannya dari penyakit kusta juga menjadi momen yang membukakan mata-rohaninya terhadap identitas Kristus sebagai Tuhan dan Anak Allah yang maha-tinggi.

Namun sikap iman tersebut tidak dinyatakan oleh sembilan orang kusta lainnya yang telah disembuhkan oleh Tuhan Yesus. Mereka pergi begitu saja, tanpa sikap bersyukur dan mempermuliakan Allah. Padahal kesembilan orang kusta tersebut adalah umat Israel. Sebab orang kusta yang datang menemui Tuhan Yesus dengan bersyukur dan mempermuliakan Allah dengan sangat jelas disebut: “Orang itu adalah seorang Samaria” (Luk. 17:16). Kita mengetahui bahwa orang-orang Samaria sering dianggap sebagai bangsa yang najis sebab kepercayaan mereka telah bercampur dengan kekafiran bangsa Asyria. Pada pihak lain umat Israel di bagian selatan yakni Yudea menganggap diri mereka sebagai umat kepunyaan Allah dan hidup berdasarkan kemurnian hukum Taurat. Tetapi kini kesembilan orang kusta yang adalah umat Israel di Yudea itu tidak menampakkan rasa syukur dan memuliakan Allah dengan menjumpai Kristus. Sebaliknya orang Samaria yang dianggap kafir dan najis itu justru peka dengan panggilan imannya untuk mempermuliakan Allah di dalam diri Kristus.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Leave a Reply