HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun B arrow KHOTBAH MINGGU TRINITAS, 7 JUNI 2009
KHOTBAH MINGGU TRINITAS, 7 JUNI 2009 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 13 May 2009

Renungan Minggu, 7 Juni 2009
Tahun B: Minggu Trinitas
Warna: Putih

MENJADI ANAK BAPA YANG KUDUS
Yes. 6:1-8; Mzm. 29; Rom. 8:12-17; Yoh. 3:1-17

Pengantar
    Gagasan mengenai Allah dapat ditempuh 2 cara utama. Yaitu:  manusia yang mencari Allah melalui berbagai upaya baik secara  filosofis maupun secara spiritualitas (pengalaman rohaniah); ataukah karena Allah yang berkenan menyatakan diriNya. Teologi iman Kristen jelas menolak cara pertama, sebab manusia tidak mampu  mencari Allah dengan kekuatan dan pengertiannya sendiri. Kalau upaya tersebut dilakukan, maka yang diperoleh oleh manusia hanyalah “penyataan Allah yang bersifat umum dan subyektif”. Karena itu teologi iman Kristen senantiasa mendasarkan kepada anugerah Allah yang berkenan menyatakan diriNya kepada para hambaNya. Dengan demikian manusia diperkenan mengenal diri Allah karena Allah menyingkapkan hakikat diriNya. Allah yang berinisiatif menyatakan diriNya untuk dikenal oleh umat. Sehingga sebagian rahasia diri dan kehendak Allah dikenal oleh umat yang percaya. Dalam konteks itulah manusia mengalami “penyataan Allah secara khusus”. Di Yes. 6:1 menyaksikan: “Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci”. Nabi Yesaya mengalami pengalaman iman yang dahsyat, yaitu dia melihat Tuhan duduk di atas takhtaNya yang tinggi dan penuh kemuliaan. Seperti pengalaman Musa, nabi Yesaya juga diperkenankan melihat Allah. Mereka semua terkejut dan gentar saat diperkenan melihat diri Allah. Sebab teologi iman umat Israel menegaskan bahwa barangsiapa melihat Tuhan, maka mereka akan mati (Kel. 20:19; Bil. 17:13). Allah yang kudus adalah Allah yang akan membakar semua yang najis dan berdosa. Jadi siapa yang mampu bertahan di hadapan Allah yang kudus?

Penyataan Allah Dalam Sejarah
    Pengajaran gereja tentang misteri Allah Trinitas perlu dipahami sebagai penyataan Allah dalam sejarah umatNya. Secara eksplisit Allah tidak pernah menyatakan diriNya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Karena itu di dalam kesaksian Alkitab tidak ada istilah “Trinitas”. Tetapi melalui berbagai peristiwa yang telah dialami oleh umatNya, Allah menyatakan diriNya sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kalau kita memperhatikan secara jeli maka kita dapat melihat bahwa penyataan Allah yang dialami oleh nabi Yesaya juga  terjadi dalam konteks sejarah tertentu. Karena itu di Yes. 6:1, disebutkan nabi Yesaya menyaksikan kehadiran Allah dalam konteks peristiwa, yaitu: “dalam tahun matinya raja Uzia”. Dalam pengalaman tersebut nabi Yesaya disadarkan bahwa penguasa dan pemerintah kerajaan dunia selalu datang silih berganti. Kematian raja Uzia makin membuka mata rohani nabi Yesaya, bahwa kekuasaan para raja dunia tidak pernah kekal. Sebaliknya Allah adalah Tuhan yang berkuasa secara kekal memerintah kehidupan manusia. Hakikat Allah tidak pernah nampak secara inderawi, tetapi justru Dialah yang menganugerahkan kekuasaan kepada para raja untuk memerintah umat atas namaNya. Demikian pula pemahaman teologis gereja tentang Allah Trinitas. Seluruh penguasa dan raja-raja dunia tidak pernah bertahan lama. Kuasa dan pengaruh mereka segera lenyap setelah kematiannya. Tetapi tidaklah demikian halnya dengan kuasa Kristus. Kuasa dan pengaruh Kristus tetap kekal selama-lamanya. Bahkan melalui kehidupan dan pelayanan Kristus, mereka dapat melihat kehadiran Allah yang penuh kuasa. Mereka juga melihat bahwa melalui Kristus, mereka melihat sifat-sifat dan karakter Allah yang kudus namun penuh penuh dengan kasih dan pengampunan. Kol. 2:9 berkata: “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (lihat pula Kol. 1:19). Karena itu perumusan doktrin Allah Trinitas yang menempatkan Kristus sebagai wujud Firman Allah yang setara dengan Allah dan Roh Kudus merupakan bagian dari penyataan dan karya Allah dalam sejarah kehidupan umatNya.

    Untuk memahami penyataan Allah di dalam Kristus, gereja atau umat perdana waktu itu harus mengalami pergumulan yang sangat berat. Pada satu pihak mereka memiliki latar-belakang Yudaisme yang tidak  pernah mungkin menyamakan seorang pribadi yang paling hebat sekalipun dengan diri Allah. Umat perdana juga harus bergumul dengan latar-belakang Yesus yang secara sosial- ekonomi sama sekali tidak menonjol. Yesus juga mereka pahami tidak pernah belajar hukum Taurat dan kitab-kitab para nabi sebagaimana lazimnya ditempuh oleh para rabi. Namun pada pihak lain umat perdana melihat bagaimana kuasa Yesus melampaui para rabi dan nabi. Mereka tidak hanya berjumpa dengan sosok pribadi yang penuh kuasa mukjizat dari Nazaret, tetapi melalui diri Yesus mereka dimampukan untuk mengalami perjumpaan dan penyataan yang langsung dengan Allah. Di Yoh. 14:7, Tuhan Yesus berkata: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia”. Umat perdana tidak hanya diajar oleh Tuhan Yesus tentang hikmat dan pengajaran Allah, tetapi juga dibawa oleh Yesus dalam kehidupan yang baru. Mereka mengalami anugerah kasih Allah yang mampu mengubah esensi hidup untuk menjadi anak-anak Allah.  Jadi pengalaman iman kepada Kristus tidak hanya membuka perspektif rohaniah terhadap kekayaan dari penyataan Allah, tetapi juga mendorong dan memampukan mereka untuk hidup dalam pertobatan yakni hidup kudus. Karena itu makna dan esensi kebenaran Trinitas Allah dipahami oleh gereja Tuhan sepanjang masa selalu terkait erat dengan pengaruh atau dampaknya dalam kehidupan manusia. Dampaknya adalah setiap orang yang hidup dalam iman kepada Bapa, Anak dan Roh Kudus terbukti mampu menjadi anak-anak Allah yang kudus.

Manifestasi Allah Dalam Diri Kristus
     Nikodemus, seorang Farisi di Yoh. 3 disaksikan datang menjumpai Tuhan Yesus pada waktu malam. Sikap Nikodemus tersebut pada satu pihak menunjukkan bahwa dia sengaja datang pada waktu malam untuk menghindari komentar atau celaan dari para koleganya. Namun pada pihak lain sikap Nikodemus yang datang menjumpai Yesus karena dia menyadari bahwa Yesus adalah  “Messias”. Melalui tanda-tanda mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, Nikodemus menyadari bahwa Allah sedang menyatakan diriNya di dalam diri Yesus. Namun kesadaran rohaniah Nikodemus saat itu masih di tahap awal. Di Yoh. 3:2, Nikodemus berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya”.  Nikodemus saat itu belum mampu melihat jati-diri Yesus secara keseluruhan. Pandangan rohaniah Nikodemus masih dibatasi atau terhalang oleh konsep dan latar-belakangnya sebagai seorang Farisi. Sebab untuk mengenal jati-diri Yesus yang sesungguhnya, seseorang harus dilahirkan kembali. Bilamana Nikodemus menyebut Yesus sebagai seorang Rabi, maka sebaliknya Yesus menyebut diriNya secara implisit sebagai Kerajaan Allah. Di Yoh. 3:3, Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah”. Dengan perkataan lain, Tuhan Yesus sedikit demi sedikit membuka mata iman Nikodemus yang hanya melihat diriNya sebagai “Guru”. Tepatnya Tuhan Yesus mau menyingkapkan diriNya bahwa sesungguhnya Dia adalah realitas Kerajaan Allah yang telah datang. Kalau memang Yesus adalah Rabi (Guru), maka Nikodemus tidak perlu bertobat dan dilahirkan kembali oleh kuasa Roh. Cukuplah jika Nikodemus mau belajar dan memposisikan diri sebagai seorang murid yang taat mempelajari pengajaran Yesus. Tetapi karena Tuhan Yesus adalah manifestasi dari realitas Kerajaan Allah, maka Nikodemus dan setiap orang yang mau masuk ke dalam Kerajaan Allah harus dilahirkan kembali.

    Manifestasi Allah di dalam diri Yesus sering menjadi persoalan. Penyebabnya karena tidak setiap orang telah dilahirkan kembali oleh kuasa Roh. Mereka mungkin mengetahui banyak hal tentang pemikiran dan perjalanan hidup Tuhan Yesus secara mendetil. Tetapi semua pengetahuan tersebut masih sebatas pemahaman teologis, dan belum menjadi pengalaman iman. Karena mereka hanya diperkaya oleh pemahaman teologis belaka, maka bagian kognitif mereka yang berfungsi. Tetapi pusat hidup mereka yaitu hati masih tertutup rapat dan belum memperoleh pembaharuan. Manifestasi Allah di dalam Kristus tidaklah cukup hanya direspon dengan  pengetahuan dan analisis kognitif. Tetapi perlu direspon dengan hati yang hancur dan jiwa yang remuk sebab dia menyadari betapa besarnya dosa atau ketidaklayakan dirinya di hadapan Allah. Sebab pengetahuan yang semakin banyak sering mendorong seseorang kepada kesombongan dan sikap yang bermegah diri. Tetapi kesadaran akan kehadiran Allah yang kudus justru meruntuhkan semua kebanggaan dan pembenaran diri. Di hadapan kekudusan Allah, justru mendorong mereka untuk melihat kenajisan dirinya. Sebagaimana sikap nabi Yesaya saat dia melihat penyataan diri Allah, yaitu: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam" (Yes. 6:5). Demikian pula seharusnya sikap manusia terhadap penyataan Allah di dalam diri Yesus Kristus. Di hadapan Kristus, manusia tidak cukup hanya mengagumi kecerdasan, hikmat dan kuasa mukjizatNya. Tetapi lebih dari pada itu manusia harus menyadari betapa tidak layak dan cemar dirinya saat berada di hadapan Kristus. Dengan perkataan lain, manifestasi Allah di dalam diri Yesus Kristus sering menjadi persoalan karena kita belum sepenuhnya mau merendahkan diri dan mengakui seluruh kelemahan, kecemaran atau dosa-dosa kita di hadapan Kristus. Sebab manifestasi Allah di dalam diri Kristus pada hakikatnya bertujuan untuk membuka pintu anugerah keselamatan dan pengampunanNya.

Kelahiran Baru Dan Pengudusan
    Proses persalinan atau kelahiran senantiasa menyakitkan baik bagi ibu yang melahirkan maupun bagi bayinya. Bagi si ibu, dia harus berjuang sekuat tenaga untuk mendorong sang bayi untuk segera keluar dari rahimnya. Dia ingin bayinya dapat lahir dengan selamat dalam realitas dunia ini dan mengalami kehidupan yang bermakna serta bermartabat sebagai manusia. Sedang bagi si bayi,  dia harus bersedia melepaskan diri dari perasaan aman dan terlindung dalam rahim ibunya. Sehingga saat dia didorong lepas dari rahim sang ibu dan kemudian keluar, maka si bayi mengalami saat yang menyakitkan. Si bayi merasa seluruh tubuhnya terjepit dan ketika keluar si bayi mendengar berbagai suara yang begitu mengejutkan. Gelombang suara di dalam rahim sangat berbeda dengan gelombang suara di luar rahim. Dia telah memasuki suatu realitas kehidupan yang sama sekali berbeda dengan realitas di dalam rahim. Demikian pula dengan proses kelahiran kembali. Semula kita menikmati rasa serba aman dalam rahim dunia. Saat itu sebagai bayi kita belum memiliki nilai-nilai etis, moral dan iman. Sebab hidup di dalam “rahim” dunia dijalani dalam proses yang serba instinktif. Tetapi karena dorongan kuasa Roh, kita akhirnya terdorong keluar dari rahim dunia untuk menjadi ciptaan baru. Saat itulah kita tidak lagi berstatus sebagai “janin dunia”, tetapi sebagai “bayi ilahi” yang baru lahir. Proses metamorfosis ini akan terwujud ketika kita mau meletakkan seluruh kecemaran dan dosa kita di hadapan sang Kristus “yang melahirkan” kita sebagai anak-anak Allah. Namun proses metamorfosis ini akan terhambat ketika kita selalu menolak untuk mengakui seluruh dosa kita. Tepatnya proses metamorfosis tidak akan terwujud manakala kita selalu mengabaikan tindakan pengudusan dan pengampunan Allah.

    Ketika nabi Yesaya mengakui kecemaran diri dan dosa-dosanya, disaksikan seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan dirinya; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah (Yes. 6:6). Lalu Serafim tersebut menyentuhkannya kepada mulut nabi Yesaya serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah  diampuni” (Yes. 6:7). Kelahiran baru akan terwujud ketika kita mau ditahirkan dan dikuduskan oleh Allah. Jadi proses kelahiran baru pada hakikatnya dimulai dari tindakan Allah yang merespon sikap manusia yang mau merendahkan diri dan mengakui seluruh dosanya. Makna kelahiran baru bukanlah merupakan hasil upaya dan prestasi rohaniah manusa. Sebaliknya peristiwa kelahiran baru harus dimulai oleh pengakuan diri yang telah bangkrut dan gagal secara total di hadapan Allah. Barulah pada saat itu Roh Kudus berkenan menyentuhkan “api baraNya” untuk membakar dan memurnikan seluruh kenajisan kita. Mungkin tubuh/jasmaniah kita tidak senantiasa mengalami rasa sakit karena dibakar oleh api bara Roh Kudus. Tetapi roh dan spiritualitas kita sungguh-sungguh sedang diuji, yaitu dengan dimurnikan  oleh rasa sakit yang begitu dalam, sekaligus suatu pengalaman sukacita yang tidak terperikan. Dalam proses kelahiran baru senantiasa timbul perasaan sakit karena kita harus melepaskan secara total dari rahim dunia; tetapi juga timbul harapan dan perspektif yang baru karena kini kita dapat hidup dalam janji dan anugerah keselamatan Allah.  Peristiwa pengudusan senantiasa menempatkan kita dalam situasi krisis sekaligus berpengharapan dengan pola hidup yang baru. Situasi krisis karena kita sedang berhadapan dengan kekudusan Allah yang akan membakar setiap yang cemar dan kotor; tetapi juga harapan karena kita berhadapan dengan Allah yang penuh anugerah dan berbelas-kasihan.

    Proses peristiwa pengudusan seperti pengalaman umat Israel yang telah berdosa. Karena dosa-dosanya umat Israel harus terluka dan berada dalam bahaya maut karena telah dipagut oleh ular yang berbisa. Namun pada sisi lain tampaklah anugerah Allah yang memulihkan. Kepada umat yang terluka dan berada dalam bahaya maut akan dipulihkan manakala mereka bersedia memandang  ular tembaga yang diperintahkan oleh Allah. Saat umat Israel dipagut oleh kuasa maut, mereka tidak mampu menyelamatkan dan menyembuhkan diri dengan kekuatannya sendiri. Namun pada saat yang sangat kritis itulah Allah menunjukkan belas-kasihan dan kemurahan hatiNya, sehingga Dia menyuruh Musa untuk mendirikan ular yang terbuat dari tembaga. Bukankah kisah itu mengandung suatu metafor atau simbolisasi dari kehidupan umat manusia yang telah digigit oleh kuasa dosa sehingga mereka harus berhadapan dengan bahaya maut? Umat manusia tidak mampu menyelamatkan diri dari bahaya maut yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka. Namun pada saat yang tepat, Allah berkenan mengaruniakan Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia. Tujuannya adalah: barangsiapa yang melihat dan mau percaya kepadaNya, mereka tidak mati binasa tetapi beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Dengan demikian Kristus telah ditentukan oleh Allah untuk berperan seperti penawar racun dosa yakni kematian kekal. Di dalam diri Kristus tersedia keselamatan dan hidup yang kekal. Jika demikian, kedudukan Kristus bukan sekedar seorang Rabi (Guru) sebagaimana yang dikatakan oleh Nikodemus. Dia juga bukan sekedar nabi atau orang yang telah mendapat pencerahan (“Budha”). Kristus adalah sang Firman yang telah turun dari sorga karena Dia esa dengan Allah.

Pengudusan Dalam Iman Trinitas
    Umumnya kegagalan kita untuk hidup kudus karena lemahnya daya integritas dalam spiritualitas kita. Tepatnya saat kita hidup dalam kondisi disintegritas, maka arah dan orientasi roh kita akan terpecah belah. Sebab hidup rohani kita tidak mampu fokus kepada Allah yang esa. Tetapi bukankah dengan penghayatan iman yang “trinitas” kita justru akan didorong ke arah disintegritas diri?  Bukankah rohani kita  akan selalu berada dalam daya tarik-menarik antara iman kepada Allah Bapa ataukah kepada Kristus, atau kepada Roh Kudus? Disintegritas rohani tersebut akan terjadi jikalau Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus dipahami sebagai wujud dari “ketiga allah” (tri-theis). Tetapi pemahaman teologis iman Kristen tentang “Trinitas Allah” tidaklah identik dengan “Tri-Theis”. Kita tidak pernah menyembah dan beriman kepada “Tri-Theis” yaitu: Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus secara terpisah dan menganggapnya sebagai “Tiga Allah”. Sebaliknya kita menyembah Allah Trinitas yang menyatakan diri sebagai Bapa, dan di dalam Yesus Kristus sebagai Anak, serta kepada Roh Kudus yang adalah wujud kuasa Allah. Ketiganya adalah esa. Dengan demikian selaku umat percaya kita menolak pemahaman teologis “keesaan Allah secara bilangan” (wahdat bi’l adat) sebagaimana yang sering dituduhkan umat Muslim. Pemahaman Trinitas Allah lebih dipahami oleh umat Kristen sebagai “keesaan diri Allah yang relasional” (wahdat bi’l nisba). Sehingga Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah esa secara relasional namun ketigaNya memiliki ke-Diri-an yang unik dan personal. Itu sebabnya karya Allah Bapa adalah karya Kristus sekaligus karya Roh Kudus. Sebaliknya karya Kristus adalah karya Allah Bapa dan karya Roh Kudus. Dengan demikian karya Allah Trinitas adalah karya Allah yang esa, yang memampukan umat percaya untuk menghayati integritas imannya secara seimbang. Sehingga kita dimampukan untuk beriman yang fokus kepada Allah yang esa namun dengan dimensi dan perspektif ilahi yang lebih kaya, komprehensif dan transformatif.

    Jikalau demikian karya pengudusan dan kelahiran baru dalam iman Kristen adalah karya Allah Trinitas. Pengudusan dalam hidup umat percaya bukan hanya karya Roh Kudus semata, sebab karya Roh Kudus adalah juga karya Allah dan karya Kristus. Kita dikuduskan oleh keseluruhan diri Allah yang telah menyatakan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dengan demikian makna  pengudusan kita ditempatkan dalam dimensi ilahi yang terkait langsung dengan keseluruhan jati-diri Allah. Jadi jikalau pengudusan kita terkait dan termeterai dengan keseluruhan jati-diri Allah, maka seharusnya pula makna pengudusan hidup kita senantiasa bersifat total. Sehingga di dalam kehidupan umat percaya tidak boleh ada satu bagian, elemen atau dimensi hidup yang terpecah-pecah di antara kekudusan dan kenajisan. Bukankah kita sering bersikap kudus hanya saat berada di depan banyak orang, tetapi menjadi sangat cemar ketika tidak ada orang yang melihat kita? Atau kita bersikap kudus ketika beribadah dan melayani, tetapi saat berada di tempat pekerjaan kita sering menampakkan sikap yang tidak bertanggungjawab. Mungkin kita seorang pribadi yang sangat memegang teguh kejujuran dalam bidang finansial, tetapi kita sering tidak jujur dalam hidup pernikahan kita. Anti korupsi, tetapi ternyata kita bukanlah tipe suami atau isteri yang setia. Mungkin kita seorang pribadi yang pemurah, tetapi juga pemarah. Dengan kondisi rohani yang demikian, kita akan mengalami kegagalan untuk memberlakukan integritas diri secara konsisten. Tepatnya saat kehidupan kita ditandai oleh “keterpecahan batin “ atau disintegritas diri, maka kita juga akan gagal mengkomunikasikan dan menyaksikan keesaan dalam Trinitas Allah. Bagaimana mungkin sesama dan dunia dapat menghargai rahasia kekuatan iman kepada Trinitas Allah yang esa, ketika pola hidup kita ditandai oleh sikap yang tidak konsisten dalam memberlakukan nilai-nilai iman?

    Namun ketika kita mampu menghayati makna pengudusan dalam misteri Trinitas Allah, maka kita dimampukan untuk menjadi saksi yang efektif. Sehingga saat Allah bertanya: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" (Yes. 6:8a), maka dengan sikap iman yang benar kita dapat memberi jawaban: "Ini aku, utuslah aku!" (Yes. 6:8b). Ini berarti makna pengudusan dalam iman Kristen tidak pernah boleh berhenti hanya pada umat yang mengalaminya. Tetapi makna pengudusan senantiasa merupakan panggilan hidup untuk disaksikan dan diberitakan kepada sesama. Tentunya yang kita saksikan bukanlah tentang kekudusan atau kesalehan-kesalehan diri kita. Sebaliknya kita menyaksikan Allah Trinitas yang telah menguduskan kita di dalam Kristus. Sehingga sesama yang mendengar kesaksian kita akan terdorong pula untuk menyambut Kristus selaku Juru-selamat yang mana Allah telah menyatakan diriNya.

Panggilan
    Karya Roh Kudus seperti angin yang bertiup ke arah yang Dia kehendaki. Tetapi juga karya Roh Kudus memberi kita karunia untuk hidup di dalam kehendakNya. Itu sebabnya karya Roh Kudus berkenan mengaruniakan iman kepada umat percaya agar mereka menerima Kristus sebagai Juru-selamatNya. Tujuannya adalah agar umat percaya dapat hidup kudus sebagai anak-anak Allah. Di  Rom. 8:15 rasul Paulus berkata: Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Kalau kita telah menjadi anak-anak Allah, maka kita tidak akan hidup dalam roh perbudakan yaitu hawa-nafsu daging dan keinginan dunia. Jika demikian, apakah kehidupan kita secara total telah dikuduskan dalam iman kepada Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus? Ataukah masih terdapat sebagian dari kehidupan kita yang menjadi budak dosa, sehingga kita sering tidak berdaya melawannya? Untuk itu bukalah hati saudara untuk rela dikuduskan dan dimurnikan dengan “api bara” Roh Kudus sebagaimana yang telah dialami oleh nabi Yesaya. Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
   
Last Updated ( Wednesday, 13 May 2009 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday3695
mod_vvisit_counterYesterday3788
mod_vvisit_counterThis week26546
mod_vvisit_counterThis month83847
mod_vvisit_counterAll2885791

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2631 hits)
Firman Hidup 50   (2528 hits)
Firman Hidup 55   (2495 hits)
Cyber GKI   (2270 hits)
The Meaning of Worship   (2173 hits)
TextWeek   (1965 hits)
Contact YBM   (1925 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::