Hidup Dalam Perdamaian (22 Februari 2011) PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Sunday, 20 February 2011

22 Februari 2011

Hidup Dalam Perdamaian
Kej. 31:1-3, 17-50; Ibr. 12:14-16

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab

 tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (Ibr. 12:14).

 

                 Yakub dan Laban telah bekerja sama selama 20 tahun. Tetapi hubungan mereka ditandai oleh luka-luka batin sehingga mereka tidak pernah mampu bersahabat dan saling mengasihi. Yakub menganggap Laban tidak menghargai seluruh pekerjaan yang telah dilakukan dengan segenap hatinya.  Laban telah mengganti upah sebanyak 10 kali dari upah yang seharusnya diberikan kepada Yakub.  

Padahal Yakub berupaya agar domba dan kambing betina dari Laban tidak mengalami keguguran. Kambing dan domba yang dipercayakan kepadanya selalu beranak dengan selamat. Yakub juga  tidak pernah makan daging domba jantan Laban untuk kebutuhannya sehari-hari. Apabila kambing dan domba Laban diterkam binatang buas atau dicuri orang, Yakub selalu mengganti agar Laban tidak mengalami kerugian. Dengan kata lain Yakub telah berupaya sekuat tenaga untuk mengembangkan bisnis ternak milik Laban walau dia sampai sering kurang tidur. Yakub sering mengalami kedinginan dan kepanasan selama bekerja bagi Laban. Demikian pula untuk mendapatkan Rahel yang dicintainya, Yakub harus bekerja keras kepada Laban selama 7 tahun. Tetapi ternyata Laban ingkar janji. Dia memberikan Lea, kakak Rahel sebagai istrinya. Tetapi demi cintanya kepada Rahel, Yakub bersedia bekerja kembali selama 7 tahun. Dengan berbagai pengalaman pahit tersebut, Yakub kemudian tidak merasa perlu memberitahu dan meminta izin pergi bersama dengan istri-istri, anak-anak dan segala harta milik yang berhasil dia kumpulkan. Karena Yakub ingin mandiri membangun keluarganya. Apalagi Allah menyatakan diriNya agar Yakub kembali ke tanah Kanaan.

 

                Pengalaman terluka yang kronis sulit dipulihkan. Dalam situasi yang demikian, perdamaian akan menjadi sesuatu yang mustahil. Saat Laban mendengar Yakub lari membawa keluarga dan harta miliknya, dia segera mengejar Yakub dengan penuh kemarahan. Tetapi di tengah jalan saat Laban tertidur, Allah menyatakan diri dengan nasihat: “Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah katapun" (Kej. 31:24). Untuk menyelesaikan masalah kemarahan Laban, Allah berkenan campur-tangan agar Laban tidak mengucapkan satu katapun ucapan yang melukai hati Yakub. Karena satu ucapan dari Laban yang menyakiti hati Yakub, pastilah akan membawa suatu akibat yang sangat buruk bagi keduanya. Mereka dapat saling melukai dan membunuh. Itu sebabnya penyataan Allah merupakan suatu rekonsiliasi, sehingga Yakub dan Laban dapat berdamai.  Karena itu pertemuan Yakub dengan Laban dapat berakhir dengan sebuah kesepakatan damai. Mereka mengadakan perjanjian dengan mendirikan tugu yang disebut Yakub dengan nama “Galed”, dan Laban menamai tugu tersebut “Yegar-Sahaduta”. Perjanjian damai tersebut melibatkan Allah sebagai saksi mereka, yang akan memberi sanksi kepada pihak yang melanggarnya. Dengan demikian Allah campur-tangan dalam upaya rekonsiliasi kepada orang-orang yang saling bermusuhan, dan berkenan menjadi saksi untuk menjaga perjanjian perdamaian tersebut.  Karena hakikat perdamaian merupakan wujud dari syalom Allah. Melalui perdamaian, karya keselamatan Allah kepada Yakub dan keturunannya akan dinyatakan.  

 

                Nilai perdamaian baru dapat kita rasakan setelah kita melihat begitu dahsyatnya akibat suatu permusuhan atau konflik. Karena permusuhan dan konflik senantiasa menghasilkan pertumpahan darah dan luka-luka batin yang sulit tersembuhkan dari generasi ke generasi. Tetapi mengapa kita baru sadar akan makna dan nilai perdamaian setelah melewati peristiwa pertumpahan darah. Bukankah lebih baik kita selalu mengupayakan dan memperjuangkan perdamaian dalam berbagai aras kehidupan? Untuk mewujudkan perdamaian, kita harus menjaga agar dalam pergaulan dan komunitas tidak tersemai benih-benih  akar pahit. Akar pahit menunjuk kepada pondasi dan sumber spiritualitas umat yang telah digerogoti oleh racun atau sesuatu yang merusak sehingga tersalurkan ke seluruh batang tubuh kehidupan dan menghasilkan buah yang pahit. Apabila akar pahit tumbuh dalam hati kita, maka seluruh aspek kepribadian kita juga akan dipenuhi oleh kepahitan: pikiran, ucapan dan tindakan kita akan melukai hati orang-orang di sekitar kita. Dengan demikian masalah perdamaian tidak dapat diselesaikan secara dangkal, asal yang lahiriah tampak telah pulih. Penyelesaian perdamaian harus sampai ke akar yang terdalam dan sumber dari kepahitan itu. Untuk itu tidak ada cara lain, selain kekayaan rohani untuk mengampuni dengan hati yang tulus dan penuh kasih terhadap orang-orang yang pernah melukai dan menyakiti hati kita. Karena akar pahit tidak dapat dibalas dengan kepahitan dan kemarahan. Kepahitan hanya dapat dinetralisir oleh sesuatu yang manis, yaitu kasih Allah yang telah mengampuni dan menguduskan kita. Itu sebabnya di Ibr. 12:14, memberi nasihat:   Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan”. Perdamaian hanya tercipta melalui kasih yang kudus. Tanpa kasih yang kudus, perdamaian hanya menjadi suatu sandiwara belaka. Tetapi kasih yang kudus akan mampu membersihkan setiap noda dan kepahitan yang merusak roh perdamaian.

 

                Namun kita tahu bahwa kasih yang kudus tidak dapat diciptakan oleh ilmu pengetahuan, filsafat, agama dan kebijaksanaan manusia. Kasih yang kudus pada hakikatnya dikaruniakan Allah. Melalui Kristus, Allah menganugerahkan kasihNya yang kudus kepada umat percaya. Karena itu melalui kasih Kristus, kita memperoleh berkat berupa anugerah pengampunan Allah sehingga kita dimampukan untuk menyalurkan pengampunan Allah tersebut kepada lawan dan orang-orang yang telah menyakiti hati kita. Itu sebabnya kita dipanggil untuk memelihara kasih-karunia Allah agar tidak padam. Kasih-karunia yang dianugerahkan Allah tersebut perlu terus ditumbuhkan agar menghasilkan buah keselamatan. Sebaliknya bila kasih-karunia Allah tersebut padam, maka yang tumbuh dalam hati kita adalah akar  pahit. Buah dari akar pahit kerusuhan dan berbagai hal yang mencemarkan banyak orang. Surat Ibrani berkata: “supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (Ibr. 12:15). Jika demikian, kita akan dapat menghadirkan perdamaian bagi banyak orang dengan menyambut dan memelihara kasih-karunia Allah yang telah dianugerahkan di dalam Kristus.

 

Doa:

Ya Tuhan, Engkau Allah yang pengasih dan penyayang. Karena itu yang Engkau kehendaki adalah perdamaian bagi semua orang. Ajarilah kami membangun perdamaian tanpa merelatifkan kebenaranMu. Berikanlah anugerahMu yang memulihkan sehingga hidup kami tidak dikuasai oleh akar pahit yaitu kebencian dan permusuhan. Dalam nama Kristus, kami berdoa. Amin.


 

 

 

 

Last Updated ( Sunday, 20 February 2011 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1934
mod_vvisit_counterYesterday2852
mod_vvisit_counterThis week12022
mod_vvisit_counterThis month90635
mod_vvisit_counterAll2774375

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2614 hits)
Firman Hidup 50   (2503 hits)
Firman Hidup 55   (2471 hits)
Cyber GKI   (2252 hits)
The Meaning of Worship   (2124 hits)
TextWeek   (1953 hits)
Contact YBM   (1905 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::