HOME
RENUNGAN HARI KAMIS PUTIH PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Sunday, 09 March 2008

RENUNGAN KAMIS 20 MARET 2008
TAHUN A: Kamis Putih

SALING MEMBASUH DAN MELAYANI
Kel. 12:1-14; Mzm. 116:1-9; I Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-17

 Pernahkah kita menghadapi saat-saat yang paling mendebarkan dan begitu menakutkan bagi diri kita? Beberapa orang menyatakan bahwa saat yang paling mendebarkan dan menakutkan adalah ketika dia menghadapi vonis dari pengadilan atas kasusnya. Beberapa orang menyatakan bahwa saat yang paling mendebarkan dan menakutkan adalah ketika mereka menghadapi peristiwa menanti proses kelahiraran anak yang telah cukup lama dinantikan. Beberapa orang menyatakan bahwa saat yang paling mendebarkan dan menakutkan adalah ketika mendampingi kematian seorang yang mereka cintai. Semua pernyataan tersebut mengandung kebenarannya masing-masing. Namun tidak ada yang menyangkal bahwa saat yang paling mendebarkan dan menakutkan adalah ketika seseorang sedang menghadapi saat ajalnya yang makin mendekat. Sebab siapakah di antara kita yang siap untuk menghadapi ajalnya? Apalagi bila seseorang tahu kapan dia akan dieksekusi mati, maka sejak saat itu dia sepertinya menghadapi hari-hari yang sangat panjang, menyakitkan dan menakutkan hatinya. Yoh. 13 membuka kesaksikannya demikian: “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa” (Yoh. 13:1). Kesaksian Injil Yohanes mau menyatakan bahwa Tuhan Yesus waktu itu telah mengetahui dengan persis bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih meninggalkan dunia ini. Tuhan Yesus sadar bahwa mulai saat itu kematianNya telah makin mendekat. Sebentar lagi Dia akan menghadapi suatu kematian yang paling menyakitkan yaitu hukuman salib, dan Dia juga akan segera meninggalkan para muridNya secara jasmaniah.

 

                Selain itu Tuhan Yesus saat itu sedang menghadapi suatu kenyataan yang sangat melukai hatiNya. Sebab saat Tuhan Yesus dan para  muridNya makan bersama yang terakhir (the last supper) dengan para muridNya, disebutkan: “Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon untuk mengkhianati Dia. Yesus tahu, bahwa BapaNya telah menyerahkan segala sesuatu kepadaNya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah” (Yoh. 13:2-3). Di Yoh. 13:1-3, kita menjumpai 2 kali pernyataan bahwa “Yesus tahu”. Kata kerja “tahu” di sini dipergunakan perkataan “eidos” yang mengandung arti: “bentuk yang kelihatan” (visible form), “suatu bentuk” (shape), “sesuatu yang kelihatan” (appearance).  Jadi Injil Yohanes mau menyatakan bahwa Yesus tahu secara jelas, begitu nyata dan terang-benderang bahwa sebentar lagi Dia akan mengalami kematian, dan Dia juga  tahu bahwa Iblis berada di balik  rencana jahat Yudas untuk mengkhianatiNya sehingga Dia akan kembali kepada Allah. Kemampuan untuk tahu akan apa yang terjadi yaitu bentuk penderitaan dan kematian yang akan dialami, dan juga mengetahui dengan jelas tentang siapa pelaku di balik kematian yang dialami oleh seseorang sesungguhnya suatu peristiwa yang paling menyakitkan hati, apalagi pelakunya adalah orang yang sebenarnya sangat kita kasihi. Dalam hal ini Tuhan Yesus telah mengetahui secara persis bahwa Iblis telah membisikkan rencana jahat dalam hati Yudas untuk mengkhianatiNya. Tuhan Yesus tahu bahwa Yudas telah menjadi alat yang paling efektif bagi Iblis untuk merealisasikan rencana dan siasatnya agar Dia terputus mati dari kehidupan ini. Seandainya kita berada di posisi Tuhan Yesus, apakah yang akan kita lakukan? Umumnya kita akan lebih cenderung larut dalam kesedihan, rasa gelisah dan putus-asa yang mendalam karena saat kematian kita telah makin mendekat dan juga karena hati kita sangat terluka oleh pengkhianatan dari orang yang kita yang kita kasihi. Dalam situasi semacam itu kita tidak lagi sempat memikirkan, peduli dan memperhatikan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Sebab yang kita pikirkan dan rasakan hanyalah seluruh penderitaan, rasa sedih dan terluka yang sedang kita alami.

 

                Namun sungguh menyentak hati, karena pada saat yang sangat menakutkan dan mendebarkan hati itu; Tuhan Yesus mengungkapkan kasihNya, yaitu: “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangNya itu” (Yoh. 13:5). Menjelang saat kematian yang telah diketahuiNya dan juga Dia mengetahui siapa orang yang akan mengkhianatiNya, Tuhan Yesus justru memberikan ungkapan kasih dengan cara yang spektakuler. Tuhan Yesus bersedia memposisikan diriNya sebagai seorang hamba yang pada zaman itu harus membersihkan kaki dari tuan dan para tamunya dengan cara membasuh dengan air lalu menyeka dengan kain di pinggangnya. Untuk melakukan tugas itu berarti Tuhan Yesus harus bersedia berlutut, menempatkan diriNya di bawah kaki para muridNya dan Dia membasuh kaki dengan air serta menyekanya dengan kain yang terikat di pinggangNya. Jadi menurut Injil Yohanes, peristiwa perjamuan malam terakhir diawali dengan tindakan Tuhan Yesus dengan terlebih dahulu merendahkan diriNya dengan cara membasuh kaki para muridNya. Dia yang adalah Tuhan dan Guru bersedia memposisikan diriNya sebagai seorang hamba. Setelah Tuhan Yesus membasuh kaki para muridNya, Tuhan Yesus berkata: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”(Yoh. 13:13). Namun sangat menarik gelar Yesus sebagai Guru dan Tuhan dikaitkan dengan tindakan merendahkan diri dan kesediaan untuk melayani sebagai seorang hamba. Di Yoh. 13:14, Tuhan Yesus berkata: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu”.  Kepemimpinan yang diteladankan oleh Tuhan Yesus adalah pola kepemimpinan yang menghamba (the servant-leadership). Makna sebagai “Guru” dan “Tuhanr” ditempatkan oleh Tuhan Yesus sebagai suatu jabatan yang sifatnya fungsional, bukan sekedar suatu status atau kedudukan belaka. Bahkan makna yang fungsional sebagai pemimpin tersebut akan menjadi efektif manakala seorang pemimpin sungguh-sungguh secara tulus mempraktekkan karakter seorang yang bersedia menghamba dan melayani sesamanya. Sayangnya sikap keteladanan dari Tuhan Yesus tersebut sering hanya dihayati sebagai suatu peristiwa ritual liturgis belaka. Umumnya pada hari Kamis Putih beberapa gereja melaksanakan upacara pembasuhan kaki; tetapi dalam kehidupan sehari-hari anggota jemaat tersebut kembali menampakkan sikap superioritas/merasa diri sangat penting atau arogan, yaitu dengan cara berlaku sewenang-wenang, menindas dan bersikap kasar kepada sesama yang dianggap lebih lemah.

 

                Dengan demikian makna “saling membasuh kaki” bukanlah suatu tindakan yang terjadi sekali-kali atau minimal setahun sekali menjelang hari Jumat Agung dan Paskah; tetapi seharusnya makna “saling membasuh kaki” merupakan suatu spiritualitas dan pola hidup dalam kehidupan umat percaya. Makna “saling membasuh kaki” merupakan ekspresi dari spiritualitas yang mengosongkan diri (kenosis spirituality). Sehingga dengan spiritualitas yang mengosongkan diri, kita akan selalu berusaha melayani orang lain dengan rasa hormat, penuh penghargaan dan kasih sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Spiritualitas yang mengosongkan diri kita lakukan karena Kristus telah terlebih dahulu membasuh, menguduskan dan memurnikan hati kita; sehingga kita dimampukan untuk melakukan  kasih yang mau melayani dan berkorban bagi orang lain. Tuhan Yesus berkata: “Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua” (Yoh. 13:10b). Manakala kita menyambut karya keselamatan dan penebusan Kristus, maka kita akan dikuduskan oleh kuasa darahNya. Namun karya penebusan Kristus tersebut tidak bekerja secara otomatis, tetapi juga membutuhkan respon/jawaban dari umat manusia. Itu sebabnya tidak setiap orang Kristen secara otomatis telah bersih hatinya. Dalam konteks Yoh. 13, yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus “tidak semua kamu bersih” karena Tuhan Yesus  mengetahui seorang murid akan mengkhianatiNya. Itu sebabnya Yoh. 13:11 menyatakan: “Sebab ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: Tidak semua kamu bersih”. Spiritualitas yang mengosongkan diri berarti suatu kekuatan iman  yang telah dianugerahkan Tuhan sehingga kita dimampukan untuk menaklukkan segala keinginan terhadap kepentingan diri, ambisi, sikap serakah dan haus sanjungan serta perasaan diri sebagai orang yang penting. Itu sebabnya dalam spiritualitas yang mengosongkan diri tidak pernah memberi tempat/celah kepada setiap kita untuk merasa diri lebih berjasa, lebih senior,  dan lebih penting. Semua anggapan dan perasaan tersebut harus dibuktikan secara fungsional dan konkret dalam sikap yang mau menghamba. Mungkin dahulu kita pernah berjasa, tetapi apakah kini kita tetap mau mengabdikan diri dengan segenap hati dan makin tulus? Mungkin kita sekarang seorang senior, tetapi apakah saat ini kita mampu memperlihatkan kedewasaan, kematangan dan kebijaksanaan sebagai seorang senior? Mungkin kita dianggap penting oleh banyak orang, tetapi apakah saat ini perasaan penting kita tersebut telah kita nyatakan secara lebih produktif dengan memberi nilai manfaat kepada lingkup yang lebih luas?

 

                Itu sebabnya saat kita menyambut roti dan air anggur sebagai tubuh dan darah Tuhan, kita bukan hanya dipersekutukan dengan diri Kristus secara “sakramental”.  Saat kita menyambut tubuh dan darah Kristus, kita juga  dipersekutukan secara fungsional dengan karya Kristus yang mau melayani dan mengorbankan diriNya. Sehingga saat kita makan roti dan air anggur sebagai tubuh dan darah Tuhan, sesungguhnya kita selaku umat Tuhan diingatkan akan karya Kristus yang bersedia untuk menghamba. Sebab bukankah tubuh Kristus yang dicabik-cabik dan darahNya dicurahkan di atas kayu salib bagi umat manusia dapat terjadi karena Dia terlebih dahulu “telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati” (Fil. 2:8)?  Seandainya Kristus menderita dan mati di atas kayu salib tanpa perendahan diri dan taat kepada kehendak Allah BapaNya, pastilah penderitaan dan kematianNya sama sekali tidak bermakna apa-apa. Dalam pengertian itu penderitaan dan kematian Kristus tidak berbeda jauh dengan kematian umat manusia pada umumnya yang masih hidup dalam kuasa dosa. Tetapi penderitaan dan kematian Kristus menjadi sangat bermakna dan berpengaruh secara luas serta kekal sepanjang abad karena Dia sebagai Anak Allah telah bersedia merendahkan dan mengosongkan diri dalam ketaatan yang total kepada kehendak Allah. Penderitaan dan kematian Kristus telah memberikan inspirasi dan motivasi yang transformatif kepada umat manusia dari berbagai lapisan, keyakinan dan agama. Penderitaan dan kematian Kristus mendorong sejarah umat manusia untuk  memasuki suatu babak yang baru dalam menyikapi makna dan tujuan kehidupan ini. Melalui penderitaan dan kematian Kristus, sejarah umat manusia juga didorong untuk berani menata ulang seluruh konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan palsu agar dapat memperoleh suatu pembebasan yang transformatif dan konstruktif bagi keselamatan umat manusia. Bukankah seluruh penderitaan dan kuasa maut yang telah ditanggung umat manusia berabad-abad lamanya, pada hakikatnya telah terwujud dalam realitas penderitaan dan kematian Kristus? Melalui Kristus, Allah bersedia menyatakan solidaritas, bela-rasa dan kasihNya yang menyeluruh. Itu sebabnya melalui tubuh dan darah Kristus yang dinyatakan dalam roti dan air anggur, selaku gerejaNya kita  dipersekutukan pula dengan seluruh penderitaan umat manusia agar kita dapat menjadi “agen-agen pembaharuan”. Peran sebagai agen-agen pembaharuan hanya dapat terjadi apabila kita dapat menjadi pemimpin  yang menghamba (servant-leadership) sebagai suatu spiritualitas kita. Artinya tanpa spiritualitas yang mengosongkan diri seperti Kristus, kita tidak akan mungkin dapat menjadi agen-agen pembaharuan; sebaliknya kita akan menjadi “agen-agen keonaran”. Sebab di mana kita hadir di situlah masalah timbul. Itu sebabnya orang-orang di sekitar kita menyebut diri kita sebagai “biang kerok” (trouble maker).

 

                Makna spiritualitas saling membasuh kaki jelas membutuhkan pelaku yang mau lebih dahulu berinisiatif. Pada waktu perjamuan malam terakhir, para murid Tuhan Yesus hanya duduk saling menunggu. Mereka mengharap teman-teman yang lain mau membasuh kakinya. Mungkin di dalam hati mereka bertanya: “Siapa ya yang mau mencuci kakiku?” Karena itu mereka tidak dapat memulai perjamuan malam menjelang Paskah dengan keadaan bersih sesuai dengan hukum Taurat.  Itu sebabnya Tuhan Yesus yang memulai inisiatif untuk membasuh kaki para  muridNya. Ini berarti pada hari Kamis Putih ini juga dibutuhkan orang-orang beriman yang mau berinisiatiaf lebih dahulu merendahkan diri untuk mendatangi setiap musuhnya. Mereka mau datang dengan inisiatif untuk berdamai lebih dahulu. Atau yang lain juga bersedia datang dengan inisiatif lebih dahulu untuk menolong sesama yang sedang menderita. Dalam hal ini kita sering enggan memberi pertolongan secara langsung kepada anggota jemaat yang sedang kekurangan. Makna inisiatif untuk “saling membasuh kaki” sering diartikan sekedar suatu upaya untuk memberi laporan kepada Majelis Jemaat agar gereja segera memberi pertolongan kepada anggota jemaat tersebut, tetapi dia sendiri enggan untuk menolong. Padahal kalau kita sendiri dapat menolong sesama yang sedang kekurangan atau menderita, mengapa kita harus “cuci tangan” dengan hanya menyerahkan kepada Majelis Jemaat untuk menanganinya? Program pelayanan yang dibentuk oleh gereja, sama sekali tidak dimaksudkan bahwa gereja sebagai institusi harus mengambil alih dan menangani semua permasalahan jemaat. Sebab program pelayanan gerejawi tersebut hanyalah salah satu bagian dari panggilan dari kehidupan jemaat. Sebab setiap anggota jemaat tanpa terkecuali pada hakikatnya tetap memiliki panggilan, tanggungjawab moral  dan kasih kepada setiap orang yang sedang menderita.

 

                Jika demikian, tidaklah cukup pada hari Kamis Putih ini kita hanya sekedar melakukan upara “saling membasuh kaki” secara liturgis. Lebih penting dan utama lagi apabila kita memberlakukan makna “saling membasuh kaki” dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan sikap yang mau terlebih dahulu berinisiatif untuk melayani dan memberdayakan setiap orang yang berada di sekitar kita. Jika demikian, apakah spiritualitas “servant-leadership” (kepemimpinan yang menghamba) telah menjadi pola hidup kita setiap hari? Apakah spiritualitas yang mengosongkan diri telah tercermin dalam tutur-kata dan sikap kita, sehingga kehadiran kita senantiasa membawa berkat keselamatan? Ataukah sebaliknya kehadiran kita selalu meresahkan, menakutkan, dan kontra-produktif bagi orang lain? Dalam hal ini Tuhan Yesus telah memberi nasihat, yaitu: “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:15). Amin.

 

 

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Last Updated ( Thursday, 13 March 2008 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2175
mod_vvisit_counterYesterday2599
mod_vvisit_counterThis week10146
mod_vvisit_counterThis month78127
mod_vvisit_counterAll2435914

Login Form

Who's Online

We have 2 guests online

Weblinks

Yohanes B.M.   (2552 hits)
Firman Hidup 50   (2439 hits)
Firman Hidup 55   (2410 hits)
Cyber GKI   (2203 hits)
The Meaning of Worship   (2008 hits)
TextWeek   (1921 hits)
Contact YBM   (1870 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::