HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun B arrow KHOTBAH MINGGU, 11 JANUARI 2009
KHOTBAH MINGGU, 11 JANUARI 2009 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Monday, 29 December 2008

Renungan Minggu, 11 Januari 2009
Tahun B: Kristus Dibaptis
Warna: Putih

TEGUH DAN TIDAK TEROMBANG-AMBING MENGENAI SAKRAMEN BAPTIS
Kej. 1:1-5; Mzm. 29; Kis. 19:1-7; Mark. 1:4-11

Pengantar
 Pada hari Minggu ini gereja-gereja Tuhan merayakan peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan. Melalui baptisan Yesus tersebut, Dia memperoleh predikat dan jabatan sebagai “Kristus”, atau “Messias” yaitu: “yang diurapi oleh Allah”. Dengan demikian, baptisan Yesus secara khusus berfungsi pula sebagai peristiwa penahbisanNya sebagai Kristus. Itu sebabnya Injil-Injil kemudian menyapa Yesus dengan sang Kristus. Bahkan nama “Kristus” dalam surat-surat para rasul dipakai untuk nama diri dari Yesus.

Dasar teologisnya adalah karena di hadapan publik, Allah telah menyatakan bahwa diri Yesus sebagai Messias yang dijanjikan dengan ucapan: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan” (Mark. 1:11).  Dengan demikian, peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis merupakan suatu peristiwa yang unik dan istimewa karena Allah telah memproklamirkan Yesus sebagai Messias untuk mewujudkan keselamatan yang dijanjikanNya.  Dalam ke-Messias-an Yesus, Allah telah menunjukkan rahmat dan kasihNya yang merangkul setiap umat manusia sehingga mampu menembus batas-batas primordialisme, suku, budaya dan bangsa. Itu sebabnya peristiwa baptisan Yesus secara bersengaja ditempatkan dalam masa Epifani; yang mana pada masa Epifani telah ditunjukkan bahwa Allah berkenan memanggil dan mengundang orang-orang Majus dari Timur ke Betlehem. Kedatangan orang-orang Majus dalam peristiwa kelahiran Yesus mau menyatakan bahwa Allah telah berencana memanggil setiap umat, tanpa terkecuali termasuk bangsa-bangsa kafir untuk menyambut keselamatanNya yang telah dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Sehingga dengan konteks penempatan peristiwa baptisan Yesus dalam masa Epifani, kita diajak untuk memahami secara lebih mendalam bahwa kemuliaan dan kuasa Allah kini telah diproklamirkan di hadapan umat manusia. Yesus Kristus datang bukan hanya untuk umat Israel saja, tetapi untuk seluruh umat. Yesus Kristus adalah: “Anak yang dikasihi Allah dan hanya kepadaNya Allah berkenan”. Injil Yohanes mengungkapkan dengan kesaksian: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh. 1:18). Ini berarti Yesus sebagai Anak Allah sekaligus berperan sebagai satu-satunya sang Penyata-diri-Allah.          

                Karena Yesus Kristus adalah Anak Allah yang ditentukan menjadi satu-satunya sang Penyata-diri-Allah, maka dalam namaNya tersedia keselamatan dan hidup  kekal. Tanpa melalui Dia yang adalah Anak Allah yang dikasihi, maka tak mungkin kita dapat menjadi “anak-anak yang dikasihi Allah”. Kita tidak dapat mengambil atau merebut rahmat Allah dengan kesalehan atau amal-ibadah kita. Sebaliknya kita hanya dipanggil untuk menyambut dan menerima rahmat Allah yang  tersedia dalam nama dan kehidupan Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita dipanggil untuk dibaptis dalam namaNya. Agar dengan meterai nama “Yesus Kristus” yang  kita sambut karena iman kepadaNya, kita dijadikan sebagai “anak-anak Allah”. Sebab dalam nama Yesus Kristus telah terangkum secara utuh seluruh ke-diri-an Allah. Sehingga tidak mengherankan jikalau gereja perdana  cukup membaptis seseorang dengan nama “Yesus”, sebab dalam nama Yesus telah terangkum seluruh hakikat Allah yang menyelamatkan umatNya. Dalam nama Yesus, kita dimeteraikan dengan nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.  Namun dalam perjalanan sejarah selanjutnya seringkali umat percaya memisahkan antara baptisan dalam nama Yesus dengan baptisan Roh Kudus. Mereka beranggapan bahwa baptisan dalam nama “Yesus” yang dinyatakan melalui baptisan air tidaklah identik dengan “baptisan Roh Kudus”. Itu sebabnya mereka mengajarkan agar kita dapat dibaptis secara “utuh” maka tidaklah cukup hanya dibaptis dengan air saja. Kita juga harus dibaptis oleh Roh Kudus sehingga kita mengalami pembaharuan hidup yang ditandai oleh karunia berbahasa lidah dan berbagai karunia Roh. Dengan pemahaman teologis demikian tidaklah terelakkan apabila kemudian sekelompok orang terus-menerus mengajarkan tentang perlunya baptisan ulang. Tetapi benarkah pemahaman teologis mereka tersebut?

Kasus Para Murid Di Efesus
Ajaran baptisan ulang sering didasarkan kepada Kis. 19, karena disaksikan: “Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat” (Kis. 19:6). Mereka menafsirkan bahwa baptisan Roh Kudus yang dialami oleh para murid di Efesus dapat terjadi ketika rasul Paulus   menumpangkan tangan di atas mereka. Tanda yang kelihatan dari baptisan Roh Kudus adalah para murid kemudian dapat berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. Padahal walau sebelumnya para murid di Efesus sudah dibaptis, mereka tidak dapat berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. Itu sebabnya baptisan Roh Kudus dianggap oleh mereka harus senantiasa disertai  dengan tanda-tanda berbahasa lidah dan bernubuat.

                Di Kis. 19 disebutkan bahwa para murid di Efesus yang berjumlah 12 orang ternyata belum mengetahui tentang Roh Kudus. Ketika rasul Paulus bertanya, apakah mereka telah menerima Roh Kudus ketika mereka menjadi percaya? Jawaban mereka adalah: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus" (Kis. 19:2). Bukankah jawaban mereka sangat aneh, yaitu ternyata mereka belum pernah mendengar tentang Roh Kudus bahkan sama sekali tidak mengetahui kalau Roh Kudus itu ada? Tetapi sebenarnya ketidaktahuan atau ketidakmengertian mereka dapatlah dipahami. Karena para murid yang dijumpai oleh rasul Paulus di Efesus sebenarnya bukanlah umat yang percaya kepada Kristus. Mereka sebenarnya adalah para murid dari Yohanes Pembaptis.  Itu sebabnya yang mereka kenal dan terima hanyalah “baptisan Yohanes Pembaptis” (Kis. 19:3).  Padahal telah diketahui secara luas bahwa baptisan Yohanes Pembaptis pada hakikatnya merupakan baptisan yang menandai kehidupan seseorang yang telah bertobat agar mereka dapat lebih siap menyambut kedatangan Yesus sebagai sang Messias Allah. Karena itu rasul Paulus kemudian berkata kepada para murid tersebut, yaitu: "Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus" (Kis. 19:4).  Mendengar jawaban dan penjelasan dari rasul Paulus tersebut, maka mereka kemudian memberi diri untuk dibaptis dalam nama Tuhan Yesus (Kis. 19:5). Saat mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus tersebut, maka para murid di Efesus yang berjumlah 12 orang tersebut memperoleh karunia Roh berupa karunia berbahasa lidah dan bernubuat (Kis. 19:6). Dengan demikian kita dapat melihat bahwa baptisan dalam nama Tuhan Yesus telah mencakup seluruh ke-diri-an Allah. Sehingga karunia Roh terkait langsung dengan nama Tuhan Yesus. Tepatnya dengan meterai “nama” Yesus Kristus, Allah berkenan mengaruniakan karunia RohNya sehingga mereka dapat berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.  Jadi kesaksian Kis. 19 secara eksplisit dan implisit tidak pernah membuat pemisahan antara baptisan dalam nama Yesus dengan baptisan Roh Kudus. Sebaliknya kitab Kis. 19 mau menyatakan bahwa terdapat relasi yang sangat intim dan khusus antara diri Yesus Kristus dengan Roh Kudus. Sebab karya dan karunia Roh hanya dimungkinkan dalam sikap percaya kepada Yesus Kristus.

                Apabila dihayati bahwa karya dan karunia Roh hanya dimungkinkan dalam sikap percaya kepada Yesus Kristus, maka karya dan karunia Roh pada hakikatnya merupakan perluasan dari karya keselamatan Kristus. Namun dalam praktek hidup kita sering berupaya untuk mempersempit karya keselamatan Kristus dengan membuat pemisahan seakan-akan karya Roh Kudus bersifat sangat istimewa. Karena dianggap sangat istimewa, maka karya dan karunia Roh Kudus dianggap melebihi dan melampaui karya penebusan Kristus. Umat tidaklah cukup ditebus dosa-dosanya oleh Kristus, tetapi mereka harus memperoleh Roh Kudus agar dapat hidup baru yang ditandai oleh berbagai karunia yang supra-natural. Kalau kita  cermati dengan jernih, maka sebenarnya teologi ini telah menjungkirbalikkan hakikat Allah Trinitas yang saling setara dan sehakikat, sebab teologi ini hanya menempatkan Kristus di bawah diri Roh Kudus. Tepatnya teologi ini telah menempatkan Yesus Kristus sang Anak Allah hanya sebagai bagian dari subordinasi Roh Kudus. Sebab Roh Kudus dan karunia-karuniaNya dianggap oleh mereka sebagai puncak atau yang paling utama dari karya keselamatan Allah.  Kesaksian Alkitab justru mau menegaskan bahwa karya dan karunia-karunia Roh Kudus merupakan perluasan dari dari karya penebusan Kristus, sebagaimana karya penebusan dan keselamatan Kristus juga merupakan perluasan dari karya keselamatan Allah.  Tetapi tidak berarti Roh Kudus lebih besar dari Kristus, dan Kristus lebih besar dari pada Allah. Sebab ketiga subyek ilahi tersebut yaitu: Bapa-Anak-Roh Kudus tetaplah esa secara relasional.

Pembaharuan Di Tengah-Tengah Gejolak Dunia

Suara Allah dari langit di atas sungai Yordan yang berfirman: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan” (Mark. 1:11) mengingatkan kita akan karya penciptaan Allah di kitab Kej. 1. Sebab di kitab Kejadian menyatakan: Bumi  belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi (Kej. 1:2-3).  Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air yang mana bumi pada waktu itu berada dalam keadaan tanpa bentuk dan kacau-balau. Lingkup kehadiran Allah tidak hanya terbatas dalam suatu ruang atau wilayah yang serba aman, serasi, tenteram dan nyaman; tetapi juga Dia berkenan hadir dalam realitas kehidupan yang penuh gejolak dan kelam. Sebab kehadiran Allah pada prinsipnya untuk menciptakan pembaharuan, keteraturan dan terwujudnya keutuhan ciptaan. Itu sebabnya Catherine Keller dalam “On the Mystery: Discerning God in Process and Face of the Deep: A Theology of Becoming” berkata: “God creates within the chaos— “the turbulence, the uncertainty, the storms, and the depths of our actual life process” (Allah mencipta di tengah-tengah kekacauan – “pergolakan, ketidaktentuan, badai dan kedalaman dari proses kehidupan sehari-hari kita”). Sehingga tujuan utama dari karya penciptaan Allah adalah mengubah kekelaman atau kegelapan menjadi terang. Allah berfirman: “Jadilah terang” dan terang itu jadi (Kej.1:3). Demikian pula halnya dengan peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan. BaptisanNya adalah untuk menciptakan pembaharuan (penataan ulang) dalam kehidupan umat manusia. Air sungai Yordan melambangkan situasi dunia yang penuh dengan badai, kerusuhan, ketidaktentuan, berbagai permasalahan dan tragedi yang begitu kelam. Sebab “air” dalam pemikiran Israel merupakan lambang sebagai tempat munculnya kuasa kegelapan (bdk. Why. 13:1).  Tetapi esensi kekelaman dan keterbelengguan dunia ini kemudian diubah secara transformatif oleh Allah ketika Yesus masuk ke dalam “air dunia” di sungai Yordan. Saat Yesus Kristus dibaptis dari dalam kegelapan dan ketidaktentuan realitas dunia, terdengarlah suara firman Allah: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan” (Mark. 1:11). Di atas realitas kekacauan dan kerusakan dalam kehidupan ini terdengarlah firman Allah yang penuh kuasa, memberi pengharapan dan keselamatan. Sebab Kristus sang Anak Allah telah hadir di tengah-tengah realitas kehidupan ini.

Dengan demikian makna peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan menunjuk kepada karya Allah yang menyucikan, memulihkan dan membaharui realitas kehidupan yang telah dirusak oleh kuasa dosa. Dalam hal ini Allah tidak  memilih proses penciptaan dan penataan ulang kehidupan yang telah dirusak oleh kuasa dosa dengan hukuman atau murkaNya yang dahsyat. Tetapi Allah memulihkan dan menguduskan kehidupan ini dengan cara memilih “masuk ke dalam” realitas sejarah umat manusia. Sehingga jarak relasi Allah yang semula begitu jauh, berubah menjadi relasi yang sangat dekat dan begitu menyentuh. Di dalam Kristus, Allah yang transenden menjadi imanen; yang Mahatinggi menjadi dekat (”Immanuel”: Allah beserta kita). Jadi tepatlah peristiwa baptisan Yesus pada hakikatnya telah menciptakan suatu “tempat yang tipis” (thin place) sebab Allah “yang serba tidak terkatakan” berkenan hadir begitu transparan dan nyata dalam kehidupan umat manusia. Jika demikian di dalam peristiwa baptisan Kristus, kita memperoleh peneguhan (afirmasi) dari Allah bahwa di tengah-tengah kehidupan yang serba tidak menentu dan penuh dengan tragedi ini kita selaku umatNya tidak berjalan dan berjuang sendirian. Sebab bersama Kristus, kita dipanggil untuk menjadi kawan-sekerjaNya. Kita dipanggil untuk membaharui dan memulihkan bersama Dia. Karena itu baptisan yang kita terima dalam meterai namaNya bertujuan meneguhkan kita agar kita bersedia diutus dan masuk ke dalam realitas hidup ini dengan pola kerja yang dipakai oleh Allah (“the Order of God”).  

Pemberlakuan Pola Kerja Allah

Makna pembaptisan di dalam nama Allah Bapa-Anak-Roh Kudus adalah agar kita mau menguburkan seluruh pola kehidupan lama dan digantikan dengan pola kehidupan baru sebagai para ahli waris Kerajaan Allah. Sehingga seharusnya prioritas kita yang utama adalah terus-menerus diperbaharui oleh pola kerja Allah, yaitu pembaharuan rohaniah dalam seluruh aspek kehidupan kita. Tepatnya kehidupan kita seharusnya disusun, ditata dan diciptakan ulang berdasarkan pola kerja Allah dan bukan pola kerja manusiawi kita. Apabila kehidupan kita terus-menerus disusun, ditata dan diciptakan ulang berdasarkan   pola  kerja Allah maka yang seharusnya diberlakukan bukanlah kehendak dan rencana manusia, tetapi kehendak dan rencana Allah. Bukankah kegagalan kita untuk menjadi kawan-sekerja Allah untuk melakukan pembaharuan dalam kehidupan ini karena kita sering masih memaksakan diri untuk menggunakan pola kerja manusiawi kita seperti: pola pikir bisnis, mengandalkan keahlian, pengalaman, kekuatan massa, organisasi dan kemampuan diri sendiri?  Tetapi kita sering menyembunyikan persoalan-persoalan laten ini dengan menganggap karena kita belum menerima baptisan Roh Kudus dan baptisan selam. Seakan-akan ketika seseorang menerima “baptisan selam dan baptisan Roh Kudus” secara otomatis kehidupan dia akan didasarkan kepada pola kerja Allah. Padahal pembaharuan hidup yang didasarkan kepada pola kerja Allah sama sekali tidak ditentukan oleh metode atau cara kita dibaptis. Juga tidak ditentukan oleh seberapa intensifnya tanda-tanda supra-natural seperti berbahasa roh dan nubuat  tersebut dinyatakan. Sebab yang utama adalah bagaimana sikap iman dan respon kasih kita ketika dibaptis dalam nama Allah Bapa-Anak-Roh Kudus.

Melalui sakramen baptis yang telah kita terima dalam meterai nama Allah, kita disadarkan bahwa seluruh kehidupan ini secara hakiki perlu disikapi sebagai sakramen. Maksudnya karena Allah di dalam Kristus hadir dan masuk ke dalam dunia ini, maka seluruh aspek kehidupan ini telah dikuduskan. Dengan demikian seluruh kehidupan ini juga merupakan “sakramen”, sehingga perlu disikapi dengan pola kerja Allah. Bruce G. Epperly dalam  komentarnya tentang makna peristiwa baptisan Yesus di Process & Faith menyatakan: “All life is sacramental, but some moments and practices awaken us to the  holiness of the world and the blessedness of our lives” (seluruh kehidupan adalah sakramental, tetapi beberapa momen dan praktek hidup menyadarkan kita kepada kekudusan dunia dan berkat  bagi kehidupan kita). Jadi maksud dari ungkapan ini bukan mau menyatakan kehidupan pada dirinya bersifat kudus. Tidak! Kehidupan pada dirinya telah jatuh dalam kuasa dosa sehingga berada dalam kekelaman dan kekacauan. Tetapi di dalam Kristus, Allah berkenan memanggil kita untuk menguduskan dan memulihkannya. Itu sebabnya selaku orang-orang yang telah dibaptiskan, kita tidak lagi membuat pemisahan antara yang “rohani” dan “sekuler”. Di Mzm. 29 dilukiskan secara hidup bagaimana suara firman Allah berkarya dalam seluruh aspek, yaitu: di atas air, mematahkan pohon aras Libanon, di padang-gurun, di hutan, di BaitNya, dan dalam kehidupan rusa betina mengandung. Intinya suara firman Allah hadir dalam realitas kehidupan ini, dan terus-menerus melakukan pembaharuan demi pembaharuan. Allah adalah Tuhan yang tidak pernah berhenti dalam mencipta, menata, memelihara dan membaharui kehidupan ini. Dengan demikian baptisan dalam nama Kristus adalah bertujuan agar umat ciptaanNya senantiasa hidup dalam proses pembaharuan menurut pola kerja Allah. Sehingga sakramen baptisan menjadi sangat tidak berarti ketika kita hanya menjadikan sekedar simbolisasi formal untuk menjadi anggota gereja.  Atau sakramen baptisan menjadi sangat dangkal maknanya, ketika kita gunakan sekedar alat agar memperoleh “tiket” untuk masuk kerajaan sorga. Bukankah atas dasar pemahaman “teologis” demikian, beberapa orang lebih memilih dibaptiskan saat dia mendekati ajal? Beberapa kelompok lain ingin dibaptiskan agar mereka dapat memperoleh karunia-karunia Roh. Makna baptisan dalam konteks ini dipahami sebagai media untuk memperoleh kekuatan tambahan atau “kesaktian” tertentu. Bahkan yang memprihatinkan tidak jarang orang minta dibaptiskan agar mereka kelak dapat diurus oleh gereja saat sakit dan meninggal. Semua alasan atau motif baptisan tersebut sama sekali tidak mencerminkan tujuan yang dikehendaki oleh Allah, yaitu menjadi kawan sekerja Kristus untuk membaharui kehidupan ini dengan kuasa kasihNya.

Panggilan
Melalui peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan, Allah telah mengungkapkan dan menyingkapkan jati-diri Kristus sebagai sang Penyata-diri-Allah untuk membaharui dan mencipta ulang kehidupan ini. Demikian pula dengan baptisan yang telah kita terima dalam nama Allah. Kita dipanggil oleh Allah menjadi kawan sekerjaNya. Jika demikian, seberapa efektif peran kita dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita senantiasa mengikutsertakan Kristus dalam seluruh upaya perjuangan dan pelayanan kita? Apabila kehidupan kita disusun, ditata dan diciptakan ulang berdasarkan pola kerja Allah; maka pastilah kehidupan kita akan senantiasa menyuarakan suara Allah yang membaharui dan menyelamatkan. Amin.  

 

Last Updated ( Monday, 29 December 2008 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1128
mod_vvisit_counterYesterday2944
mod_vvisit_counterThis week19151
mod_vvisit_counterThis month76114
mod_vvisit_counterAll2646871

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2587 hits)
Firman Hidup 50   (2479 hits)
Firman Hidup 55   (2450 hits)
Cyber GKI   (2234 hits)
The Meaning of Worship   (2075 hits)
TextWeek   (1944 hits)
Contact YBM   (1891 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::