HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun B arrow KHOTBAH KENAIKAN TUHAN YESUS, 21 MEI 2009
KHOTBAH KENAIKAN TUHAN YESUS, 21 MEI 2009 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Friday, 24 April 2009
Renungan Kamis, 21 Mei 2009
Tahun B: Kenaikan Tuhan Yesus
Warna: Putih

MELAKSANAKAN PANGGILAN DARI KRISTUS YANG MULIA
Kis. 1:1-11; Mzm. 47; Ef. 1:15-23; Luk. 24:44-53

Pengantar
    Pernah dimunculkan pertanyaan demikian, yaitu: berapa kalikah para murid Yesus mengalami dukacita dan berapa kalikah mereka  bersukacita? Apabila Yesus tidak bangkit dan tidak naik ke surga maka  para murid Yesus mengalami dukacita hanya 1 kali saja. Sikap kedukaan para murid tersebut sama seperti yang dialami oleh setiap orang. Kita semua akan berdukacita yang mendalam ketika seorang yang kita kasihi meninggal dunia. Di beberapa suku Irian Jaya umumnya mengungkapkan kedukaan mereka dengan cara memotong setiap ruas jari tangan dan kaki. Jadi bilamana yang meninggal selama hidup mereka terdapat 20 orang yang mereka cintai, maka seluruh jari tangan dan kaki mereka akan terpotong semua.  Saya tidak dapat membayangkan kalau yang meninggal lebih dari 20 orang-orang yang mereka kasihi. Tetapi manifestasi tersebut mau mengungkapkan betapa dalam kedukaan seseorang ketika mereka ditinggal pergi oleh orang yang mereka cintai. Tentunya para murid Yesus sangat berduka saat mereka menyaksikan Yesus disalibkan dan wafat di atas kayu salib. Bedanya kedukaan mereka tidak harus ditandai dengan pemotongan ruang jari tangan atau kaki. Ungkapan kedukaan tidak harus disikapi secara destruktif. Sebab peristiwa kematian merupakan sesuatu yang alamiah.

    Pada sisi lain secara manusiawi para murid sebenarnya berdukacita saat mereka ditinggal pergi saat Tuhan Yesus naik ke surga. Sebab mereka tahu bahwa kepergian Tuhan Yesus yang naik ke surga pada hakikatnya merupakan perpisahan final. Peristiwa kenaikan Yesus ke surga merupakan perpisahan selama-lamanya dengan tubuh fisik Yesus.  Tetapi kapankah para murid Yesus  bersukacita? Para murid  sangat bersukacita saat mereka menyaksikan Yesus yang telah wafat dapat bangkit dari kematian dengan menampakkan diri kepada mereka. Tetapi juga para murid juga bersukacita saat Tuhan Yesus yang bangkit itu dipermuliakan Allah dengan naik ke surga. Karena itu tatapan mata para murid yang terus melihat ke langit mengiringi tubuh Tuhan Yesus yang naik ke surga memiliki arti yang beraneka-ragam. Para murid Yesus saat itu diliputi oleh perasaan sedih sekaligus sukacita. Mereka berdukacita sekaligus terpesona saat tubuh Yesus akhirnya lenyap ditelan oleh awan-awan. Dengan kata lain para murid Yesus saat menyaksikan Kristus naik ke surga diliputi oleh perasaan yang campuk-aduk. Itu sebabnya mereka tidak mengetahui apa yang harus diperbuat setelah peristiwa kenaikan Tuhan Yesus.

Mengapa Memandang Ke Langit?
    Saat perasaan berkecamuk menguasai kehidupan kita,  umumnya kita tidak akan mampu berpikir secara jernih. Pandangan mata para murid Yesus yang terus menatap ke langit, bukan karena mereka dipenuhi oleh suatu pemikiran atau gagasan yang cemerlang. Tetapi tampaknya para murid saat itu dipenuhi oleh lamunan pikiran. Walaupun saat itu tubuh Kristus telah lenyap ditelan oleh awan,  tetapi mata mereka masih terus menatap ke langit. Para murid Yesus terbenam dalam imaginasi mereka sendiri. Itu sebabnya para murid Yesus segera ditegur oleh 2 orang malaikat Tuhan yang berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga" (Kis. 1:11).  Karena mereka terbenam dalam imaginasi dan lamunan, maka para murid Yesus melupakan satu hal yang utama yaitu berkarya dalam kehidupan nyata. Padahal sebelum Tuhan Yesus naik ke surga, Dia telah menyampakan 3 pesan utama kepada para murid Yesus yaitu: agar mereka menantikan janji Allah (Kis. 1:4) dan kesediaan untuk menerima kuasa ketika Roh Kudus turun ke atas mereka (Kis. 1:8a); serta mereka akan diutus menjadi saksi Kristus di Yerusalem, di seluruh Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8b). Penantian janji Allah dan kesediaan untuk menerima kuasa dari Roh Kudus dan menjadi saksi Kristus tidak akan dapat terwujud manakala para murid Yesus masih sibuk dengan berbagai pikiran, imaginasi dan lamunannya mereka sendiri.

    Manakala kita mencermati pemahaman teologis dari kitab Kisah Para Rasul pada satu pihak dinyatakan bahwa Tuhan Yesus yang bangkit berulangkali menampakkan diri kepada para murid. Kristus  yang bangkit elama 40 hari terus-menerus aktif menyatakan diriNya kepada para muridNya untuk  membuktikan Dia hidup dan berkuasa. Tetapi pada pihak lain ternyata kitab Kisah Para Rasul tidak pernah menyatakan bahwa Tuhan Yesus yang bangkit selalu berbicara mengenai keadaan diriNya, bahkan Dia jarang  berbicara mengenai kebangkitanNya dan perjalanan gereja ke depan. Tetapi selama 40 hari setelah kebangkitanNya, Kristus berbicara secara intensif tentang satu tema sentral yaitu: “Kerajaan Allah” (Kis. 1:3). Tema sentral dari kitab Kisah Para Rasul tidak pernah berubah. Itu sebabnya berulangkali tema “Kerajaan Allah” mewarnai pemberitaan para murid Yesus (lihat  8:12; 14:22; 19:8; 20:25; 28:23, 31). Ini berarti para murid Yesus akan dapat efektif memberitakan Injil Kerajaan Allah apabila mereka bersikap seperti Tuhan Yesus yang tidak mau terus bergelut dengan keadaan diriNya.  Walaupun Yesus telah mengalami kebangkitan, tetapi tema dan tujuan utama dari penampakanNya adalah agar para murid makin memahami makna Kerajaan Allah yang telah dimulai dari Kristus yang telah wafat dan bangkit. Demikian pula para murid Yesus akan dapat berperan menjadi saksi Kerajaan Allah apabila mereka berhasil melepaskan diri dari jeratan imaginasi dan lamunan manusiawi mereka. Tepatnya setelah para murid Yesus menyaksikan Kristus naik ke surga, seharusnya pandangan mata mereka tidak lagi ke langit tetapi ke bumi di mana pemerintahan Kerajaan Allah harus dihadirkan. Lebih utama lagi jika setiap umat percaya  mampu membebaskan diri dari khayalan rohani untuk menghadirkan realita Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Sebab saat kita mampu melihat kenyataan dengan pikiran yang jernih, maka kita akan dimampukan untuk mendengar panggilan dari Kristus dalam kehidupan kita.

Roh Hikmat Dan Wahyu Untuk Mengenal Kristus
    Secara fisik/jasmaniah, Kristus tidak lagi hadir dalam kehidupan para murid dan umatNya. Tetapi Kristus yang bangkit dan naik ke surga adalah Kristus yang tetap berkarya dengan kuasaNya. Bahkan kini kuasa dan karyaNya tidak terbatas oleh waktu dan tempat.  Kristus dapat menganugerahkan karunia dan kasihNya kepada setiap umat. Bahkan Kristus dapat memanggil dan menjadikan setiap umatNya untuk semakin efektif dalam melaksanakan karya keselamatan Allah. Di Ef. 1:17, rasul Paulus menaikkan doa untuk jemaat di Efesus demikian: “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar”. Dalam isi doa yang dikemukakan oleh rasul Paulus tersebut sebenarnya mengandung janji bahwa Kristus yang adalah Tuhan berkenan mengaruniakan roh hikmat dan wahyu kepada umat percaya. Yang mana roh hikmat dan wahyu tersebut sangat diperlukan agar umat percaya dimampukan untuk mengenal Kristus dengan benar. Dalam teks Vulgata, istilah roh hikmat dipilih kata “ spiritum sapientiae” dan untuk  istilah wahyu dipilih kata “revelationis”. Makna pengertian “sapientiae” menunjuk kepada pengertian: wisdom (hikmat), charity (kasih, kebaikan hati), dan prudence (bersikap arif sebelum bertindak). Sedang pengertian “wahyu” (revelationis) menunjuk kepada penyingkapan kehendak dan diri Allah sehingga manusia dapat mengenal rahasia Allah. Dengan demikian pengenalan akan Kristus secara benar tidak dapat ditempuh dengan mengandalkan akal budi dan persepsi manusia. Pengenalan akan Kristus secara benar ditentukan oleh sejauh mana umat percaya menjalin relasi dengan Dia berdasarkan iman. Jika mereka memiliki relasi yang dilandasi oleh iman, maka Kristus akan menganugerahkan roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia (“gloriae det vobis spiritum sapientiae et revelationis in agnitione eius”).  Jadi tugas panggilan untuk menghadirkan Kerajaan Allah di atas muka bumi ini ditentukan oleh kualitas relasi umat dengan Kristus.
    
    Tugas utama setiap umat adalah menyaksikan karya keselamatan Kristus agar sesama yang mendengar  berita Injil dapat percaya dan menjalin relasi dengan Kristus yang hidup. Itu sebabnya tugas panggilan tersebut akan dapat terwujud jikalau setiap umat senantiasa menjalin relasi dengan Kristus, sehingga mereka dikaruniai roh hikmat dan wahyu. Namun seberapa dalam dan berkualitas relasi kita dengan Kristus? Apakah seluruh kehidupan kekristenan dan pelayanan kita ditentukan oleh relasi kita dengan Kristus? Dalam realitanya kita justru kurang berhasil menjalin relasi yang dilandasi oleh iman dan kasih kepada Kristus.  Penyebabnya karena kita terlalu sibuk dengan lamunan dan imaginasi diri kita. Akibatnya “firman” yang kita beritakan dan saksikan dalam kehidupan atau pelayanan kita sering bersumber kepada hasil persepsi subyektivitas kita tentang Kristus. Tepatnya Kristus yang kita hadirkan dan saksikan dalam perilaku sehari-hari sering merupakan “Kristus hasil proyeksi/pantulan pikiran” kita, bukan Kristus yang diberitakan oleh Alkitab. Kristus hasil proyeksi/pantulan pemikiran manusia tentu merupakan Kristus hasil rekaan kita. Karena itu “Kristus” hasil proyeksi  pemikiran manusia dan rekaan kita tersebut bukanlah Kristus yang hidup dan berkuasa. Kristus yang demikian tidak berkuasa untuk mengaruniakan roh hikmat dan wahyu. Dia juga tidak berkuasa untuk mengaruniakan keselamatan dan damai-sejahtera. Sehingga manakala kita mengimani “Kristus hasil rekaan” manusia maka kehidupan kita tetap terasa hampa. Bukankah begitu banyak orang Kristen yang masih merasa kosong dan kehilangan tujuan hidupnya? Penyebabnya karena mereka tidak menjalin relasi dengan Kristus yang hidup, tetapi menjalin relasi dengan “Kristus” hasil rekaannya sendiri. Mereka sebenarnya hanya sibuk menjalin relasi dengan  pemikiran dan perasaan mereka sendiri, tetapi tidak bergumul dengan Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga. Sebaliknya ketika kita sungguh-sungguh mau menjalin relasi dan bergumul dengan Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga maka pikiran dan hati kita segera disingkapkan. Pada saat Kristus bangkit, Dia menampakkan diriNya kepada para murid. Lalu yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah “Dia membuka pikiran mereka sehingga mereka dapat mengerti Kitab Suci” (Luk. 24:45).
    
Memilliki Mata Hati Yang Terang
    Sebenarnya realita hidup yang dialami oleh setiap orang secara garis besar tidak terlalu berbeda. Setiap orang pasti mengalami pengalaman suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, penderitaan dan kebahagiaan, kelahiran dan kematian. Tetapi yang membedakan setiap orang dalam menyikapi setiap peristiwa dan pengalaman hidup tersebut adalah apakah dilihat dengan mata hati  yang terang ataukah dengan mata hati yang gelap. Begitu banyak kepahitan dan penderitaan dialami oleh banyak orang yang sebenarnya disebabkan karena cara pandangnya yang salah. Mereka cenderung memandang berbagai kesulitan dan kegagalan yang dialaminya dengan mata hati yang gelap. Akibatnya hidup mereka makin terpuruk dalam permasalahan yang lebih kompleks. Tetapi manakala kita mampu memandang segala peristiwa dan pengalaman yang terjadi selalu dengan mata hati yang terang, maka kita akan memiliki sudut pandang yang sama sekali berbeda. Kita dimampukan untuk melihat berbagai peluang yang besar dalam permasalahan yang besar. Kita juga dimampukan untuk melihat suatu harapan di tengah-tengah keadaan yang telah benar-benar menyedihkan. Bahkan kita juga dimampukan untuk bersikap positif dan kreatif di tengah-tengah situasi yang terpuruk.  Film “Life is Beautiful” yang disutradarai oleh Roberto Benigni dan dirilis pada tanggal 23 Oktober 1998 mengisahkan bagaimana seorang pria Yahudi bernama Guido Orefice berhasil menghibur dan mengajar anaknya di tengah situasi ancaman eksekusi Hitler. Guido mengajak anaknya yakni Giosué untuk melihat situasi perang dan kamp konsentrasi Jerman dengan cara pandang yang positif dan kreatif. Dia menyebut keadaan yang sebenarnya sangat mengerikan sebagai suatu kesempatan “permainan” (game). Tujuannya agar Giosué putranya selalu berhati-hati dan tidak boleh tertangkap oleh tentara Nazi. Apabila Giosué berhasil, maka kelak dia akan memperoleh sebuah hadiah utama yaitu  sebuah tank.  Film tersebut sangat menyentuh, penuh humor tetapi juga mengungkapkan bagaimana seorang beriman menyikapi keadaan yang sangat mengerikan dengan mata hati yang terang.

    Karya Roh Kudus yang membaharui dan mengutus kita pada hakikatnya bertujuan agar kita selalu mampu melihat kenyataan hidup dengan mata rohani yang terang. Karena itu kita tidak perlu berupaya melarikan diri dari kenyataan hidup yang pahit dan penuh derita. Sebab yang dikehendaki oleh Kristus adalah agar kita selalu bersedia untuk melihat setiap hal yang terjadi dalam  kehidupan kita dengan mata hati yang telah dicerahkan oleh Roh Kudus. Sebab dengan hati dan pikiran yang dicerahkan, kita akan dimampukan untuk selalu bertindak benar di hadapan Allah. Jadi tugas panggilan untuk mewujudkan pemerintahan Kerajaan Allah di atas bumi bukan dilakukan dengan cara merombak seluruh kekacauan dan  penderitaan dalam kehidupan ini. Tetapi yang lebih utama lagi adalah bagaimana kita dapat membawa setiap orang untuk berjumpa dengan Kristus yang telah bangkit agar kehidupan mereka diperbaharui.  Bilamana kehidupan seseorang diperbaharui oleh Kristus, maka dia akan dimampukan untuk melihat setiap peristiwa dan pengalaman yang paling buruk dengan cara pandang yang baru (new paradigm). Hasil dari cara pandang yang telah diperbaharui adalah kita dimampukan untuk menyelesaikan setiap perkara dengan cara yang baru dan kreatif. Karena itu setiap solusi yang didasari oleh cara pandang atau mata hati yang terang senantiasa menghasilkan transformasi hidup yang semakin meluas.

    Makna dari “transformasi hidup” adalah tidak sekedar mengubah penampilan (performance) atau bentuk lahiriah yang hanya kelihatan  di bagian luar, tetapi sungguh-sungguh mampu mengubah seluruh bagian interior spiritualitas kita. Transformasi hidup yang telah dikerjakan oleh Kristus pada hakikatnya untuk membaharui esensi hidup kita, sehingga seluruh orientasi dan tujuan hidup kita juga diubahkan menurut rencanaNya. Karena itu panggilan untuk menghadirkan realita Kerajaan Allah berarti mentransformasi seluruh interior spiritualitas umat manusia, sehingga kehidupan umat manusia dapat mengalami pemerintahan kerajaan Kristus yang  dilandasi oleh kasih, keadilan dan pengampunan. Namun sayang sekali tugas panggilan sebagai saksi Kristus tersebut sering dipahami secara sempit. Seakan-akan setiap umat percaya harus menjadi pemberita Injil secara verbal. Perintah Tuhan Yesus yang berkata: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8) dipahami sekedar ber-”PI” secara dangkal, yakni “mengkristenkan” sesama. Padahal dalam perintah Tuhan Yesus di Kis. 1:8 sebenarnya dimaksudkan agar umat  percaya yang menjadi saksi Kristus bersedia menyaksikan bagaimana kehidupan mereka telah diubahkan oleh Roh Kudus. Jadi kehidupan yang telah diubahkan/diperbaharui oleh kuasa Roh Kudus itulah yang disaksikan dari tingkat lokal sampai pada tingkat yang paling luas (global). Sebab kehidupan yang telah diubahkan (transformed of life) akan menjadi seperti ragi yang sedikit demi sedikit mengkhamirkan seluruh adonan. Sebaliknya kesaksian yang dilandasi oleh kehidupan yang belum diubahkan hanya akan menjadi sekedar tontonan (entertainment). Dengan demikian kesaksian Injil yang seharusnya penuh kuasa untuk membaharui hidup manusia menjadi  verbalisme yang kosong.

Pengharapan Dalam PanggilanNya
    Dalam melaksanakan panggilannya gereja berada di tengah-tengah 2 kutub, yaitu hidup di antara eskatologi yang telah terwujud (realized eschatology) di dalam Kristus yang historis dan eskatologi yang sedang berproses dalam kedatangan Kristus kembali (eschatology in the process of being realized). Dengan demikian para murid dan gereja Tuhan pada masa kini hidup di tengah masa  antara (masa transisi). Mereka hidup di antara Kerajaan Allah yang telah terwujud di dalam kehidupan Kristus dan Kerajaan Allah yang kelak terwujud dalam kedatangan Kristus kembali. Itu sebabnya saat para murid terus menatap ke langit, malaikat Tuhan berkata: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga" (Kis. 1:8). Kristus yang telah ditinggikan oleh Allah kelak akan datang dengan cara yang sama. Dia akan datang dalam kemuliaanNya sebagai Raja dan Hakim bagi umat manusia. Jika demikian, gereja Tuhan yang hidup di antara 2 masa antara yaitu masa kini dan masa mendatang adalah gereja yang sedang hidup dalam sikap penantian akan kedatangan Kristus kembali. Untuk itu respon gereja Tuhan yaitu umat percaya perlu senantiasa hidup dalam sikap pengharapan. Sebagai umat percaya kita tidak boleh terlalu cenderung berefleksi ke masa lalu saja, tetapi kita juga harus mampu memaknai kehidupan di masa kini secara penuh.  Yang mana pemaknaan dan pergumulan hidup di masa kini perlu ditempatkan dalam sikap pengharapan akan kedatangan Kristus kembali. Dengan demikian gerak dan arah dari gereja Tuhan sepanjang zaman harus selalu tertuju ke arah masa depan. Asalkan gerak dan arah ke masa depan tersebut tidak mengabaikan pijakan iman yang eksistensial di masa kini, pastilah gereja Tuhan akan selalu siap menyambut kedatangan Kristus. Dengan spiritualitas yang demikian gereja yaitu umat percaya akan selalu menggunakan waktu yang tersedia secara bermutu yaitu melaksanakan tugas panggilannya untuk bersaksi dan melayani dengan segenap hati.

    Karena dasar pijakan iman dan pengharapan gereja Tuhan adalah Kristus, maka umat percaya tidak pernah boleh digoyahkan oleh sikap dunia yang sering memusuhi gereja. Sebagaimana doa rasul Paulus yaitu: “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya (Ef. 1:18-19).  Selama kita memiliki mata hati yang terang dan tetap bersandar kepada Kristus, maka kita tidak akan dapat dipengaruhi dan ditaklukkan oleh kuasa dunia ini. Karena itu sangat memprihatinkan jikalau gereja dalam melaksanakan tugas panggilannya berusaha memperoleh dukungan politis dari para pejabat. Atau para pemimpin gereja yang tidak malu menggunakan “dukungan finansial” kepada para pejabat pemerintah untuk memuluskan program pelayanannya. Saya pernah mendengar ungkapan: “Demi kemuliaan Allah, kita harus bersedia membayar dengan harga yang mahal”. Padahal harga yang mahal tersebut ternyata identik dengan suap dalam jumlah yang cukup besar. Sikap dan tindakan gereja seringkali tidak sesuai dengan pengakuan imannya. Tentunya sikap dan perilaku gereja yang demikian bukanlah gereja yang setia melaksanakan panggilan dari Kristus yang mulia. Mereka sebenarnya hanya sekumpulan orang-orang yang menyebut dirinya sebagai gereja, tetapi tindakan dan perilaku mereka tetap duniawi. Sehingga tidak mengherankan jikalau dengan “kerohanian” yang demikian mereka tidak  pernah segan menyebut segala sesuatu yang duniawi dengan nama “kemuliaan Allah”. Bagaimana mungkin realita Kerajaan Allah yang mulia dapat dikawinkan dengan hal yang kotor dan duniawi? Bagaimana mungkin menghadirkan realita Kerajaan Allah dengan  dilandasi oleh praktek amoral dari kerajaan duniawi?

    Jikalau dasar panggilan kita adalah pengharapan dan iman kepada Kristus, maka  seluruh tugas pelayanan kita adalah  semata-mata untuk kemuliaan Kristus. Ef. 1:2 menyatakan: “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia  telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada”.  Tujuan utama dari panggilan pelayanan kita bukanlah  untuk kemuliaan diri kita sendiri, tetapi untuk kemuliaan Kristus agar segala sesuatu di dalam kehidupan ini diletakkan di bawah kakiNya. Kristus harus menjadi yang paling utama dan dasar dari segala sesuatu. Apabila harapan tersebut dapat terwujud dalam kenyataan hidup, maka pastilah saat itu terwujudlah realita Kerajaan Allah. Sebab realita Kerajaan Allah pada hakikatnya berpusat kepada Kristus yang hidup dan berkuasa.

Panggilan

    Kehidupan kita selaku umat percaya didasarkan pada karya penebusan Kristus di masa lalu dan penantian akan kedatanganNya kembali. Dengan demikian, kita berada di masa antara agar kita pada masa kini dimampukan untuk memaknai panggilan kita sebagai saksi Kristus. Walaupun kita tidak didampingi secara jasmaniah oleh Kristus yang telah naik ke surga, tetapi kita senantiasa disertai oleh RohNya. Dengan demikian kita selaku umat percaya tidak pernah berjalan sendirian. Kristus selalu menyertai kita. Itulah janjiNya (Mat. 28:20). Karena itu apakah kehidupan kita selalu mempermuliakan Kristus sebagai tujuan yang utama? Ataukah kita masih berupaya dengan segala macam cara untuk mencari kemuliaan diri sendiri? Kita diingatkan untuk tidak terus menatap ke langit “impian” kita, tetapi kita dipanggil untuk selalu jeli menatap realita kehidupan sehari-hari sehingga kita dapat berkarya dan menghadirkan realita Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Jadi, apa makna peristiwa kenaikan Tuhan Yesus dalam kehidupan saudara saat ini? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
Last Updated ( Friday, 24 April 2009 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday235
mod_vvisit_counterYesterday2987
mod_vvisit_counterThis week11193
mod_vvisit_counterThis month235
mod_vvisit_counterAll2436961

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2553 hits)
Firman Hidup 50   (2439 hits)
Firman Hidup 55   (2410 hits)
Cyber GKI   (2203 hits)
The Meaning of Worship   (2008 hits)
TextWeek   (1921 hits)
Contact YBM   (1870 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::